KAJIMA – SLICE #10 — IRISH`s Story

irish-kajima-2

KAJIMA

With EXO’s Oh Sehun & Xi Luhan; OC’s Lee Injung & Kim Ahri

Supported by EXO Members, Rainbow‘s Kim Jaekyung & Cho Hyunyoung, OCs

fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Previous Chapter

Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || [NOW] Chapter 10

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku melangkah ke kamar Sehun. Kamar itu tampak terbuka lebar.

“Kau mau mengancam apa lagi?” ucapnya dengan nada dingin, Ia tentu menyadari keberadaanku.

“Kau marah?” tanyaku hati-hati

“Pergilah.”

BRAK!

Aku menghela nafas panjang. Lalu bersandar di pintu kamar Sehun.

“Bukankah seharusnya aku yang marah?” ucapku, aku tahu Sehun mendengarku.

“Malam itu… Aku datang untuk mengambil pakaianku yang tertinggal, aku sengaja lewat ruangan rahasia itu… karena takut bagian depan rumahmu di awasi. Dan saat sampai di kamarmu… kau sedang bicara… dengan Ahri…”

Aku kembali terdiam.

Mengingat kejadian itu kembali membuat ku merasa sedih, kecewa. Sehun hanya memanfaatkanku tanpa peduli padaku. Ia bahkan tak peduli bahwa aku benar-benar melindungi Jiwanya, kehidupannya.

“Aku rasa kau bicara dengan sangat serius, sampai kau tidak mendengar pikiranku… dan aku mendengar semuanya…”

Sehun tidak menyahut.

“Tidak ada alasan bagimu untuk khawatir pada keselamatanku kan? Aku mendengarnya. Di Incheon, aku sangat marah, sangat benci padamu… Tapi kemudian aku sadar. Bukan hanya Jiwa mu yang harus ku jaga… Ada dua Jiwa lain… yang sama berartinya untukku…”

Aku diam, menunggu reaksi dari dalam. Tapi hening.

“Ku kira pikiran picikmu hanya sebatas kecemburuanmu pada Chanyeol saja… ternyata. Aku salah. Saat itu lah aku tahu, Jiwa bisa di lepaskan oleh orang yang di sisipinya. Sedangkan kau, pemilik Jiwa itu, tidak bisa melepasnya. Benar kan?”

Sehun masih tidak menyahutiku.

“Bagimu mungkin… hanya keselamatanmu dan Ahri yang terpenting. Selain itu, kau tidak peduli. Kau bisa berpikir begitu, tapi aku tidak bisa…”

“Lalu, apa yang kau pikirkan?”

Aku memandang Sehun yang sudah berada di depanku. Berdiri. Memandangku dingin. Tatapan yang sudah sangat biasa baginya.

“Sebelum pergi, Appa ku berpesan agar aku melindungi orang-orang yang membutuhkan pertolonganku. Dan aku sedang berusaha melakukan nya…” ucapku

“Dengan melindungi Jiwa itu? Kau pikir aku membutuhkan pertolonganmu?” ucapnya masih dengan nada dingin

Aku menggeleng.

“Tidak. Aku yakin kau kuat. Kau bahkan satu-satunya orang yang bisa membuatku terjatuh hanya dengan sekali banting. Aku tidak memikirkanmu sebagai sosok yang membutuhkan pertolonganku, tapi benda ini…” aku menyentuh kalung Sehun, benda itu bercahaya menyilaukan, membuat Sehun terkesiap.

“Sudahkah kau tahu bahwa Jiwa ini mendengar apa yang ku pikirkan dan ku ucapkan? Apa bahaya yang mendekatiku? Kau memilihku untuk menjaga Jiwa ini, dan Jiwa inilah… yang membutuhkan pertolonganku.” ucapku

“Kau bercanda?” Ia tampak memandangku tak percaya

Aku menggeleng.

“Saat Luhan mengawasiku, aku bisa tahu. Karena ada insting aneh yang ku rasakan. Dan tadi, saat A-VG lain berusaha menyerangku, badanku bergerak tanpa seizinku, menyerang A-VG itu dan membuatnya jatuh… Jiwa ini melindungiku. Dan aku harus melindunginya juga.” ucapku

Sehun terdiam.

“Sudah seharusnya aku menghapus ingatanmu saat itu.” ucap Sehun akhirnya

“Lalu kenapa waktu itu kau tidak melakukan nya?” tanyaku

“Karena—”

Aku menunggu. Sehun tampak berpikir. Sampai akhirnya Ia kembali menatapku.

“Bukan alasan yang harus kau tahu.” tandasnya

Aku tersenyum tipis.

“Tolong jaga temanku. Karena aku juga menjaga Jiwa mu dengan baik. Kita akan impas kan?” kataku

Sehun diam. Tampak berkecamuk dengan pikiran nya.

“Oh, ayolah… Mereka tidak akan membuat masalah apapun… Sungguh…” ucapku, berusaha meyakinkan Sehun.

Sehun memandangku.

“Aku tidak memikirkan soal itu.” ucapnya

“Lalu?” aku menyernyit

Sehun diam lagi. Beberapa saat. Dan aku menunggunya.

“Ahri juga bilang bahwa Jiwa Chanyeol melindunginya.” ucap Sehun akhirnya

“Benarkah?” aku memandangnya tak percaya

Sehun mengulurkan tangan nya.

“Berdirilah. Kita bicara baik-baik.”

Aku meraih tangan Sehun, lalu berdiri. Sehun masih tampak dingin. Tapi kemudian Ia membuka pintu kamarnya. Aku mengikuti Sehun, dan Ia kemudian memandangku.

“Sudahlah. Aku tak ingin berdebat lagi denganmu.” ucap Sehun sambil duduk ditepi tempat tidurnya.

“Jangan buat masalah disekolah. Dan jangan coba mengancamku dengan menyebut Luhan.” katanya lagi

Aku mengangguk.

“Kau tahu aku tidak benar-benar berniat seperti itu.” kataku

Sehun menatapku.

“Benarkah? Kukira kau sangat marah karena pembicaraanku dan Ahri.” ucapnya kembali mengingatkanku pada pembicaraan itu.

“Aku sangat marah.” kataku, “tapi apa lagi yang harus kulakukan? Aku hanya manusia biasa, dan bahkan jika aku mati karena menjaga jiwa ini, aku tidak begitu memikirkannya. Semua manusia akan mati pada akhirnya.” sambungku

Sehun menyernyit.

“Aku juga tak pernah benar-benar membayangkan kau mati karena Jiwaku Injung. Aku akan melindungimu. Bukan hanya karena Jiwa ku ada padamu.” ucapan Sehun membuatku menatapnya.

“Lalu karena alasan apa lagi?”

Sehun tersenyum kecil.

“Karena kau gadis kedua yang membuatku tertarik.”

Jantungku berdegup beberapa hentakan lebih kencang karena ucapannya. Tertarik? Apa yang sekarang Ia bicarakan?

“Oh, kau meninggalkan pakaianmu disini sebelumnya. Mau mengambilnya sekrang Injung?” tanyanya

Aku tersenyum, dan mengangguk.

“Aku sangat membutuhkan jaketku. Jaket itu jaket keberuntunganku.” ucapku

Sehun mengambil pakaianku yang Ia letakkan disebuah meja yang ada dikamarnya. Lalu Ia menatapku.

“Ahri bertanya soal pakaianmu. Dia sampai merengek-rengek karena Ia bilang bahwa jaket mu mirip dengan milik Eomma nya.”

“Apa?” aku terkesiap mendengar ucapannya.

“Aku juga tidak mengerti. Dia hanya bilang begitu. Mungkin jaket semacam ini sudah banyak di pasaran.” ucap Sehun ringan

Bukan… Bukan itu yang ku pikirkan…

“Aku akan mengambil pakaianku besok. Ada urusan yang harus kuselesaikan sekarang.” ucapku sambil melangkah cepat keluar dari kamar Sehun.

Ya!”

“Oh! Jangan bersikap jahat pada Kyungsoo, dia butuh teman. Temani dia oh? Aku tahu kau juga kesepian karena sendirian di rumah! Annyeong!”

Aku segera berlari ke halaman depan, menjentikkan jariku, memberi celah kecil di gerbang dan keluar dari rumah Sehun.

“Sial… Aku tidak tahu dimana rumah Ahri…” ucapku pelan

“Dari sini kau jalan lurus ke sana. Belok kanan. Rumah Ahri rumah dengan pagar putih dan cat rumahnya cream.”

Ya!” aku terkesiap saat Sehun berlari di sampingku

“Kau bodoh sekali…” gerutunya

Mwo!?” aku langsung menghentikan langkahku

“Kau menjatuhkan ponselmu. Aku tahu kau akan ke rumah Ahri. Hati-hati di jalan. Aku akan menjaga temanmu itu.” ucap Sehun sesaat sebelum Ia kembali melesat dengan cepat dan menghilang.

Baiklah. Aku sudah tahu rumahnya.

Aku berlari ke arah rumah Ahri seperti yang Sehun arahkan padaku tadi. Tidak begitu sulit menemukan rumahnya, tapi aku sekarang berdiri dengan kaku di depan rumahnya. Aku memencet bel beberapa kali, dan seorang ahjumma membukakan pintu untukku.

“Mencari siapa agassi?” tanyanya

“Benarkah ini… rumah Kim Ahri? Saya teman sekelasnya.” ucap ku

“Ah, silahkan masuk nona. Nona Ahri ada di dalam…”

Aku melangkah masuk, dan sedikit kaget karena di ruang tamu rumah Ahri ada Chanyeol. Bersama dengan Ahri tentunya.

“Oh, Injung, kau tahu rumahku dari mana?” tanya Ahri bersemangat

Benarkah dia…

“Ahri-ah, apa Eomma mu ada di rumah?” tanyaku

“Eh? Eommaku?” Ahri menyernyit bingung

Memang terlalu aneh jika aku datang mencari Eomma nya. Aku kan teman sekelasnya. Ah. Sudahlah! Aku tak lagi harus mempedulikan apa yang Ia pikirkan tentang kedatanganku.

“Panggilkan saja Eomma mu.” ucap Chanyeol muncul dari ruangan lain

“Ah… Arraseo. Tunggu sebentar…”

“Duduklah Injung,” ucap Chanyeol, tersenyum.

Aku menggeleng pelan.

“Aku hanya sebentar disini…” ucapku

Aigoo, Ahri-ah, memangnya ada siapa nak?”

Aku menoleh. Memandang seorang gadis paruh baya yang turun bersama Ahri. Eomma nya. Beliau memandangku, menyernyit.

Ahjumma… Kita bertemu lagi…” ucapku, membungkuk dengan sopan

Ia tampak sangat kaget. Bertemu lagi? Tentu saja… Dia adalah ahjumma yang bicara padaku saat aku berada di pemakaman Appa.

“AAh… Kau gadis yang ada di Incheon waktu itu.” ucap nya kaku, berusaha tersenyum padaku.

Aku menatapnya nanar. Walaupun banyak yang berubah… Walaupun aku hanya pernah melihatnya sebentar… Dia tetap saja…

Aku tersenyum.

“Aku sebenarnya bertanya-tanya kenapa Ahjumma bilang mataku mirip dengan milik seseorang… Dan ahjumma bilang bahwa Ahjumma pernah mengenal almarhum Appaku… Ah, aku bicara sangat banyak padahal Ahjumma tidak tahu siapa aku,” ucapku, tertawa pelan, lalu menatapnya

“…Lee Injung imnida…” ucapku

“I-Injung…”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tidak keberatan untuk memanggil Anda dengan sebutan Ahjumma. Dulu, bukankah aku di tinggalkan dalam keadaan buta karena kau membenciku dan mendorongku, Eomma?” ucapku, memandangnya.

Geurae… Dia… Eomma ku. Seseorang yang sudah merenggut kebahagiaanku dan membuatku tak bisa melihat indahnya dunia selama beberapa tahun.

“Injung-ah… Apa yang kau bicarakan?” Ahri menatapku bingung

Ia diam. Menatapku nanar. Aku adalah masa lalu yang kelam baginya bukan?

“Ahri, Chanyeol, bisa kalian masuk sebentar?” ucap Eomma

Dua orang itu menurut, mereka bergerak meninggalkan ruang tamu dengan cepat.

“Duduklah dulu nak, kurasa ada kesalah pahaman disini,”

Kesalah pahaman? Hah… Eomma… Kau tidak berubah. Masih pintar berakting, seperti yang dulu selalu kau lakukan.

Aku duduk, diam. Sementara Ia duduk di bangku sampingku.

“Salah paham? Apa kau pikir seorang anak akan bisa melupakan sosok Eomma nya? Apa kau pikir aku mendapatkan sifat seperti ini bukan dari Eomma ku?” ucapku menatapnya.

Ia diam. Menungguku bicara lagi.

“Lolos dari penjara dan meninggalkan anak yang buta, lalu menikah dengan selingkuhanmu… Menyenangkan bukan?”

Ia menatapku, tampak berpikir. Tapi aku tahu, Ia tengah berusaha mengatakan kebohongan lainnya karena tak percaya aku akan mengenalinya.

“Nak, kurasa kau sedang teringat pada orang tua mu… Tapi seperti yang aku bilang, aku hanya kenalan nya saja,” ucap nya sambil tertawa pelan

“Lalu kenapa kau sangat tahu bahwa mataku mirip dengan mata Appa? Kenapa kau kaget saat mendengar namaku? Kenapa? Karena bayangan masa lalumu kembali lagi… dan tidak berhasil kau lenyapkan?”

PLAK!

“Jangan bicara sembarangan Lee Injung!”

Aku diam.

“Kau bahkan masih sama pemarahnya seperti dulu. Sering memukulku… Mendorongku. Seperti di malam itu. Mendorongku sampai aku tergelincir jatuh dari salju… dan tertabrak mobil… Kau sangat berharap aku mati di saat itu bukan?”

PLAK!

“Kenapa? Kenapa hanya menamparku tanpa bicara apapun? Semua yang aku ucapkan benar kan? Dan sekarang… apa kau mau mencoba membunuhku seperti saat itu lagi?”

“AKU TIDAK MENCOBA UNTUK MEMBUNUHMU! SEMUA ITU KECELAKAAN!”

Aku diam mendengar teriakannya.

“Kecelakaan? Tadi kau bilang kau hanya kenalan Appa… Sekarang kau mengakui bahwa kau tidak mencoba membunuhku? Ahjumma… Berhentilah berbohong…”

PLAK!

“Inikah yang di ajarkan oleh Appa mu!?” teriak nya marah

“Aku belajar ini semua dari sikapmu! Meninggalkanku saat aku masih kecil! Memusuhiku! Membuatku menjadi buta! Semua masa lalu kelam itu yang membuatku tumbuh jadi seperti ini!” balasku, aku tidak bisa lagi membendung emosiku.

Ia terdiam, badan nya bergetar pelan.

“Kenapa? Kau pasti sangat benci padaku karena aku masih hidup kan?” ucapku

“Kau…” hanya itu yang keluar dari mulutnya

Aku berdiri, memandang ke arah Ahri dan Chanyeol yang mengintip dari balik tirai ruang tamu, tersenyum pada mereka.

“Aku pamit dulu. Maaf mengganggu kalian berdua. Ahri-ah, Chanyeol-ahAnnyeong…” ucapku

“Tunggu sebentar…”

Aku memandangnya. Sosok yang selama ini sangat aku benci sekaligus aku rindukan. Sosok yang membuatku bertahan hidup karena yakin aku akan bisa bertemu dengan nya…

“Aku akan bersikap pura-pura tidak mengenalmu. Aku juga sudah punya kehidupan sendiri. Begitu juga denganmu. Aku tidak keberatan memanggilmu Ahjumma. Tapi… Ada satu hal yang selama 16 tahun ini ingin aku ucapkan…” kataku pelan, tidak bisa ku bohongi, air mataku menerobos keluar.

Ia memandangku. Dan ku beranikan diriku untuk bicara.

“…bogoshipeo Eomma…”

Ia terisak pelan, tapi… Ia tidak menginginkanku bukan? Gwenchana… Aku sudah bertemu dengan nya… Aku sudah melihatnya.

Uljimayo Ahjumma, Ahjumma akan terlihat lebih muda jika tersenyum. Aku pamit dulu Ahjumma, annyeong.”

Aku membungkuk dengan sopan padanya, lalu melangkah keluar rumah. Ku tutupi mulutku dengan punggung tangan, berharap tidak ada seorangpun yang bisa mendengar isakan menyedihkanku.

Sakit… Fakta ini fakta yang sangat menyakitkan…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Eomma… Apa maksud semua ini…”

Gadis paruh baya itu menatap sendu pada anak bungsunya. Lalu terisak pelan.

“Tidak… Tidak ada apa-apa nak…”

Eomma… Kenapa Injung bicara begitu? Siapa dia?” ucap Ahri lagi

“Dia… Dia saudaramu…”

Ahri mematung.

“Saudaraku? Tapi… Bagaimana bisa?”

Wanita paruh baya itu terisak. Terdengar sangat menyedihkan.

“Dia… Dia Eomma tinggalkan sewaktu kecil dalam keadaan buta…”

DEG!

Chanyeol kali ini terkesiap.

“D-Dia… Injung…”

“Kau mengingatnya?” gadis paruh baya itu menatap Chanyeol, sedih.

“Di pengadilan itu… Jadi sebenarnya… Ahjumma—”

Geurae…” gadis paruh baya itu bersedekap, menangis sejadi-jadinya. “…aku mendorongnya di waktu itu… berharap dia bisa diam… aku tidak tahu jika ada mobil di bawah… membuatnya tertabrak dan menjadi buta…”

Kali ini Ahri yang mematung. Ia menatap Eomma nya dan Chanyeol bergiliran.

“Kau tahu soal ini juga Chanyeol-ah? Kenapa… Kenapa kalian semua merahasiakan nya dariku?!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Injung berjalan dengan masih menangis tersedu-sedu. Gadis itu terhenti di depan sebuah toko yang sudah tutup. Menangis terisak disana.

“Injung-ah…”

Injung tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu. Luhan. Dan Injung juga tidak akan bertanya bagaimana namja itu bisa ada disana. Luhan bukan manusia sepertinya. Dia seorang A-VG. Sudah wajar jika Ia bisa berada di banyak tempat, mencari tujuan nya.

“Injung-ah… Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” Luhan segera duduk di sebelah gadis itu, mengusap pelan punggung gadis itu.

“Luhan-ah… Aku… Aku…” Injung tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya, gadis itu masih menangis keras.

Dengan lembut Luhan menarik Injung ke dalam pelukan nya, membiarkan Injung menangis terisak di dadanya. Luhan mengusap puncak kepala gadis itu, berharap bisa menenangkan Injung.

GwenchanaGwenchana… Menangislah Injung-ah… Jika menangis bisa membuatmu merasa lebih baik…” Luhan berucap lembut.

Namja itu sebenarnya juga masih bingung. Bagaimana bisa Ia melihat Injung berjalan dan menangis sendirian. Apalagi tempat Injung berhenti sekarang ini jauh dari rumahnya. Gadis itu sudah berjalan tanpa tujuan.

“Disini dingin Injung-ahKajja… Ku antar kau pulang…” ucap Luhan lembut saat Ia tidak lagi mendengar isakan Injung.

Luhan terkesiap saat nyatanya Injung tertidur. Mata gadis itu tampak bengkak karena menangis begitu lama, dan wajahnya masih basah karena air mata. Luhan tersenyum tipis, lalu namja itu dengan lembut bergerak untuk menggendong Injung.

Dengan langkah yang hati-hati, Luhan membawa Injung pulang. Berharap gadis itu akan baik-baik saja di keesokan hari.

Noona…” panggil Luhan pelan di depan rumah Injung.

CKLEK.

Omona! Apa yang—”

“Sstt… Injung tidur.” potong Luhan pelan

Dengan tanggap Jaekyung memberikan celah bagi Luhan untuk masuk. Luhan masuk, membawa Injung ke kamarnya. Dan membaringkan gadis itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Jaekyung

“Aku juga tidak tahu. Noona tanyakan saja pada Injung saat Ia terbangun. Ah, noona, bisa buatkan kompresan untuk Injung? Badan nya sedikit panas…” ucap Luhan

“Ah, arraseo.” Jaekyung kemudian beranjak pergi

Luhan menyalakan lampu kamar Injung, memandang keliling di kamar mungil milik gadis itu yang tampak berantakan. Tatapan Luhan terhenti pada sebuah foto. Di foto itu tampak dirinya dan Injung saat masih kecil.

Luhan merangkul Injung, menghadapkan wajah Injung ke kamera. Mereka tampak tersenyum senang dengan memegang sebuah bola.

Luhan kemudian mendekati Injung. Gadis itu tampak tertidur pulas. Luhan duduk di tepi tempat tidur Injung, mengusap rambut gadis itu, lembut.

“Tahukah kau Injung-ah… Sejak kau kecil, aku sangat menyukaimu…” ucap Luhan pelan, berharap Injung bisa mendengarnya.

Luhan kemudian membungkukkan badan nya, mendekatkan wajahnya ke wajah Injung. Dan mendaratkan satu ciuman lembut di bibir gadis itu.

“Apa ini yang pertama buatmu Injung-ah? Ini… Ciuman pertamaku. Dan ku berikan untukmu, Lee Injung… Gadis yang aku sayangi…” Luhan berucap pelan, kemudian Ia beranjak ke jendela, menutup jendela kamar Injung, menghalangi udara malam masuk ke dalam kamar gadis itu.

“Maaf membuatmu menunggu Luhan-ah,” ucap Jaekyung datang dengan membawa baskom dan handuk kecil.

“Ah, gwenchana noona.” ucap Luhan sambil tersenyum

Jaekyung memandang namja itu lembut, tersenyum.

“Sejak kecil kau selalu jadi pelindung bagi Injung… Aku yakin, kau salah satu orang yang sangat berarti bagi Injung… Jeongmal gomawo… Sudah menjaga Injung selama ini…” ucap Jaekyung membuat Luhan tertawa pelan.

Gwenchana. Bukankah sudah jadi tugas seorang namja untuk melindungi gadis yang di sayanginya?” kata Luhan, mengedipkan sebelah matanya.

“Eh? Kau…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku berusaha membuka mataku. Sesuatu yang lembap terasa di dahiku. Ah… Kepalaku terasa sangat pening sekarang.

“Kau bangun Injung-ah?”

Seolah suaranya adalah alarm yang memekakkan, mataku membuka dengan sempurna ketika mendengar suara itu.

“Luhan!?” ucapku hampir terpekik

“Kau benar-benar sakit Injung-ah, aku sampai membolos sekolah dua hari untuk menemanimu disini,” ucap Luhan tenang, sementara Ia mengambil kain yang ada didahiku, membasahinya, dan kembali meletakkan kain itu didahiku.

Mwo!?” aku semakin terbelalak

Luhan menutupi telinganya.

“Ish… Jangan berteriak seperti ini. Beberapa hari lalu kau menangis sendirian dan aku tidak—”

Aku segera mengisyaratkan Luhan untuk diam. Dan Ia mengerti.

“Kenapa?” tanyanya walaupun ekspresinya menunjukkan bahwa Ia paham akan isyarat yang kuberikan.

“Apa Jaekyung Unnie masih di rumah?” tanyaku pelan

“Ani… Jaekyung noona sudah ke rumah sakit, menjaga Halmeoni dan bekerja…” ucap Luhan sambil tersenyum lembut padaku.

“Ah, syukurlah… Eh? Tunggu. Jadi… Kau… Kau…”

Kenapa Luhan ada disini sementara tidak ada orang lain di rumah ini!?

“Aku sudah bilang kan kalau aku membolos dua hari untuk menjagamu disini sampai siuman.” ucap Luhan, tersenyum lembut.

Dia… Namja ini…

“Benarkah?” aku menatapnya tak percaya

“Daripada mengomel begitu lebih baik kau mandi Injung-ah. Kau tidak mandi dua hari.” Luhan terkekeh pelan, membuatku langsung menatapnya kesal.

“Ish kau ini… Ya sudah lah. Kau sebaiknya pulang Luhan-ah, kau juga butuh istirahat. Aku sudah baik-baik saja,”

Luhan mengangguk.

“Jaga diri baik-baik arraseo? Kau bisa cerita padaku alasan menangismu malam itu, tidak harus sekarang… Aku akan menunggu.” ucapnya

Aku mengangguk.

“Aku akan cerita padamu lain hari.” kataku meyakinkan nya

“Aku pulang dulu, kau besok masuk sekolah kan?” tanyanya lagi

“Ya. Aku akan masuk sekolah.” jawabku

Luhan tersenyum senang.

“Nah. Annyeong, Injung-ah.” ucap Luhan sambil mengusap pipiku lembut, lalu Ia beranjak keluar dari kamarku.

Tanpa bisa ku kontrol jantungku berdegup kencang. Seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Dan bisa ku rasakan wajahku memanas.

Aish… Semua tindakan Luhan… membayangkan wajahnya… Tapi Ia… A-VG dan Ia—Ah! Aku sungguh bisa gila karenanya!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Luhan melangkah cepat ke dalam gudang, tempat lima teman nya yang lain menunggunya sedari tadi. Tempat itu memang menjadi tempat persembunyian rahasia mereka.

Aish, kau dari mana saja hyung, kenapa baru muncul?”

“Ah, mianhae. Injung sedang sakit. Dan aku menjaganya di rumah.” jawab Luhan

Terdengar suara tawa pelan.

Aigoo… Ya ya. Kami tidak bisa mencegah mu jika ini soal Injung. Lalu bagaimana sekarang hyung? Target kedua kita menghilang…”

Mwo? Kemana dia?” ucap Luhan terkejut

“Sejak kemarin Ia tidak ada di kelasnya. Dan teman sebangkunya, Jongin, juga masih tidak tampak. Target pertama kita juga menghilang.”

“Apa mungkin… mereka tahu tentang keberadaan kita?” ucap Yixing kemudian

“Tidak. Ingat, mereka tidak dibekali pengetahuan untuk mengetahui tentang kita. Jika mereka menghilang… Akan semakin sedikit VPGN yang tersisa di sekolah. Cepat selesaikan tiga VPGN yang tersisa itu.” Luhan berucap

“Tapi…”

“Kenapa Chen?” kata Yixing

“Soal Junmyeon. Pagi ini dia pergi ke Busan. Kurasa urusan sekolah. Dan mungkin akan menyita waktu beberapa hari.” ucap Jongdae

“Dua orang tersisa. Namja di kelas 3-5 bernama Baekhyun, dan di kelas 2-2 bernama Chanyeol. Kalian selesaikan mereka berdua dalam satu hari, bisa?” kata Luhan memutuskan

“Apa?”

Hyung. Jelas tidak bisa. Kita belum tahu dimana Jiwa mereka.”

“Aku tidak suka berlama-lama di tempat ini. Benar-benar memuakkan.” ucap Luhan kemudian

Hyung, beri kami waktu. Kali ini kami akan selesaikan dua orang itu orang dalam waktu satu minggu.” ucap Yixing

Luhan tampak berpikir, kemudian Ia mengangguk.

“Baiklah… Lakukan semuanya dengan baik dan rapi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Injung masuk ke kelasnya, dan Ia melemparkan pandangan nya ke arah Ahri. Ahri segera mengalihkan pandangan nya, masih tidak menerima fakta bahwa Injung adalah kakak nya. Dan juga, gadis itu masih tidak ingin menerima fakta bahwa selama ini Ia di bohongi oleh Chanyeol dan Eomma nya.

Injung duduk di tempatnya, kursi Luhan masih tampak kosong. Dan Injung melemparkan pandangan nya ke kursi di sampingnya. Dua-dua nya kosong.

Apa mereka baik-baik saja?

Injung bergerak gelisah. Gadis itu hampir tidak bisa diam di tempatnya. Apa banyak hal berubah dalam tiga hari absen nya?

Injung kemudian menghela nafas. Menyadari ada satu kesalahan fatal yang Ia ciptakan dalam rencananya yang sudah tersusun rapi.

Mengungkap tentang dirinya. Benar. Awalnya Injung berniat untuk meminta bantuan Ahri untuk melindungi dua Jiwa lain. Tapi dengan keadaan canggung seperti ini… akan sangat tidak mungkin bagi mereka berdua untuk bisa berkomunikasi dengan baik.

Injung melemparkan pandangan nya ke penjuru kelas, mencari keberadaan Yixing. Namja itu duduk sendirian di pojok lain kelas. Injung bergerak untuk berdiri, ingin menanyakan keberadaan Luhan pada Yixing, karena Ia sangat mengkhawatirkan Luhan.

Tapi kemudian perhatian gadis itu teralihkan kembali dengan fakta bahwa Ia masih harus menyelesaikan misi rahasia nya.

Melindungi Jiwa.

Sehun tidak disini. Jika Ia baik-baik saja… Itu artinya… Hanya tinggal tiga orang yang ada disini… Baekhyun… Chanyeol… Junmyeon itu… Ah… Bagaimana ini?

Injung akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar kelasnya, berusaha menyusun kembali rencana di dalam otak nya yang sudah mulai acak-acakkan karena absen nya gadis itu dan fakta menyakitkan yang gadis itu dapatkan.

Injung melangkah ke dalam perpustakaan, berharap bisa menemukan Baekhyun. Nihil. Namja itu tidak ada di tempat Ia biasa berada. Membuat Injung menjadi semakin khawatir jika saja ada sesuatu yang buruk terjadi.

Injung berjalan cepat keluar dari perpustakaan, dan bergerak menuruni tangga dengan cepat. Keadaan tangga yang sepi membuat langkah tergesa-gesa gadis itu terdengar begitu jelas menggema di dinding sekitar tangga.

KRIEEETTT!

Injung menghentikan langkahnya saat mendengar pintu balkon di dekat tangga berbunyi. Pintu tua itu tampak terbuka sedikit. Membuat Injung melangkahkan kakinya dengan rasa penasaran ke dalam ruangan itu.

Gadis itu terdiam melihat kelopak mawar merah ada di lantai. Berjajar membentuk garis lurus, Injung mengikuti alur yang di buat bunga mawar itu, dan terhenti saat melihat seorang gadis dengan seragam lengkap seperti mereka, berdiri diam di balkon. Rambut panjang gadis itu tertiup angin, membuatnya tampak misterius.

“Pasti aneh kan, melihat seseorang berada di balkon yang biasanya terkunci ini?”

Injung terkesiap. Ia menoleh ke belakang tanpa sadar, memastikan bahwa Ia lah yang di ajak bicara oleh gadis aneh di hadapan nya.

“Aku heran kenapa mereka memilihmu… Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa kau gunakan untuk melindungi mereka…”

DEG!

Injung segera terkesiap.

Neonuguya?” ucap Injung

Gadis itu berbalik, tersenyum tipis pada Injung. Tatapan nya dingin, membuat Injung sedikit tergeragap.

“Lee Jangmi imnida. Aku siswi kelas 1-3.” ucapnya

“A-Apa yang kau bicarakan tadi?” ucap Injung, memandang penasaran.

Gadis bernama Jangmi itu tersenyum. Menatap remeh Injung.

“Tentu saja tentang kau, dan tiga Jiwa yang kau sembunyikan.” ucapan Jangmi berhasil membuat Injung terkesiap.

Jangmi tertawa pelan.

Unnie… Seharusnya kau bisa menunjukkan poker face yang bagus saat kau ketahuan seperti ini,” ucap Jangmi

“Apa sebenarnya tujuanmu?” ucap Injung dingin

Jangmi melangkah pelan, mendekati Injung, membuat Injung bergerak untuk menjaga jarak di antara mereka.

“Kau pikir apa?” ucapnya

“Kau… Seperti mereka juga?” kata Injung akhirnya

Jangmi menggeleng.

“Aku hanya seorang gadis biasa yang sedikit beruntung…” jawabnya lembut membuat Injung semakin frustasi dalam kebingungan dan kepanikan nya.

“Lalu, tujuanmu bicara seperti itu padaku, apa?” kata Injung

Jangmi menatap gadis itu. Tinggi mereka hampir sama, Injung dapat menatap lurus gadis itu tepat dikedua manik matanya.

“Kau akan tahu itu nanti…” kata Jangmi pelan sambil kemudian melangkah meninggalkan Injung sendirian di balkon itu.

Injung terdiam. Tidak menyangka bahwa akan muncul seorang seperti Jangmi yang tahu tentang kebenaran nya. Dan juga, Injung tidak tahu dimana gadis bernama Jangmi itu berpihak.

Apakah di pihak VPGN itu… atau A-VG…

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Keadaanku sedikit kacau beberapa hari ini. Absen nya Sehun dan Kai. Juga diamnya Ahri… Lalu kemunculan seorang bernama Lee Jangmi itu… Semuanya terlalu memusingkan dan tiba-tiba. Semua ini… diluar perkiraanku.

Aish… Seharusnya aku tahu, tidak akan ada rencana yang bisa berjalan dengan mulus, terutama, hilangnya Sehun membuat—tidak. Bagaimana keadaan Kyungsoo?

Aku—yang tadinya hanya berjalan gontai ke rumah—segera membelokkan langkahku, ke arah rumah Sehun. Dan juga, aku perlu memikirkan rencana baru. Aku sadar… Aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian… Aku butuh partner.

Dan VPGN yang menjadi sumber semua masalah yang ikut kutanggung ini sudah seharusnya ikut andil dalam rencanaku. Entah bagaimana cara mereka melindungi pemikiran mereka dari Luhan dan yang lain.

Langkahku terhenti saat melihat Ahri berdiri di depan gerbang rumah Sehun. Ahri tampak mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya, menunduk.

Sejak kapan Ia disana? Aku melangkah ke hadapan Ahri, dan Ia mendongak menatapku. Mengerjap kaget.

“Apa yang kau lakukan disini Injung-ah?” tanyanya

“Kau sendiri?” tanyaku balik

Ahri terdiam.

“Aku… khawatir pada keadaan Sehun…”

Aku menatap Ahri. Aku juga merasakan hal yang sama padanya. Khawatir pada keadaan Sehun. Tapi aku tidak mengerti.

Kenapa aku harus merasa khawatir? Padahal Jiwa Sehun masih aman padaku.

“Bisa kita bicara? Di tempat lain,” kataku pada Ahri

Ia mengangguk. Kami kemudian berjalan dalam diam menjauhi rumah Sehun. Kami berjalan ke aliran sungai kecil tak jauh dari perumahan itu.

Aku dan Ahri duduk bersandar di bawah sebuah pohon, mendengar aliran air sungai yang setidaknya membuat kami bisa sedikit tenang.

“Sejak kapan kau tahu rumah Sehun?” tanya Ahri

“Sejak Ia mengancamku.” jawabku

Nde?” Ahri terdengar terkesiap

“Kau cemburu? Oh, ngomong-ngomong. Aku mendengar pembicaraan mu dengan Sehun di malam itu. Saat kalian bicara soalku, dan soal Jiwa.” kataku berhasil membuat Ahri kembali diam.

“Lalu…” Ia tampak tak yakin untuk meneruskan kalimatnya.

“Lalu apa?” aku berbalik, memandangnya.

Ahri menatapku, ada raut sedih disana.

“Aku tidak ingin menyakiti Jiwa Chanyeol… Tapi… Sehun…”

Aku menghela nafas panjang, lalu membuka mulutku.

“Siapa yang sebenarnya kau sukai huh?” tanyaku

“Apa?”

“Sehun… Atau Chanyeol?” ucapku dengan nada lebih pelan

Ahri terdiam. Begitu juga denganku.

“Apa kau menyukai Sehun?” ucapnya membuatku tergeragap. Aku? Menyukai Oh Sehun? Tidak. Aku hanya merasa khawatir pada—

“Kurasa Sehun juga menyukaimu. Ia selalu mengabaikanku sejak ada kau.” ucap Ahri membuatku menatapnya.

“Lalu bagaimana denganmu sendiri? Bukankah kau juga menyukai Chanyeol?” tanyaku disahuti dengan senyuman oleh Ahri.

“Ya. Aku menyukainya.”

Aku terdiam beberapa saat.

“Ahri-ah, menurutmu apakah masuk akal jika dua bersaudara… menyukai satu namja yang sama?” tanyaku

Ahri mendongak. Memandangku. Bagaimanapun, Ia adalah saudaraku bukan?

“Bahkan saudara kembar pun tidak akan menyukai orang yang sama…” Ia berucap, kemudian Ia terdiam lagi, tampak berpikir.

“K-Kau… menyukai Chanyeol?” tanya Ahri

Aku berbalik, memunggunginya. Kemudian melemparkan kerikil di dekatku ke sungai. Menciptakan bunyi gemerisik lain di aliran sungai itu.

“Aku tidak bicara tentang Chanyeol. Tapi Sehun.”

“Jadi… Kau benar-benar menyukai Sehun, Injung-ah?” tanya Ahri

“Kurasa…” jawabku pelan

Tidak ada satupun dari kami yang bicara. Sampai beberapa lama, aku tetap melemparkan kerikil kecil ke dalam sungai. Aku terhenti saat mendengar isakan tangis pelan di dekatku.

Ahri… menangis?

“Kenapa kau menangis?” tanyaku padanya

“K-Karena kau…”

“Aku hanya mengatakan padamu tentang perasaanku yang sejujurnya. Salahkah jika seorang kakak yang tidak pernah bertemu adiknya… untuk tidak mengatakan hal seperti itu?” tanyaku

Ahri menggeleng.

“Aku… Aku—”

“Mana yang lebih berat bagimu, melepaskan Sehun… atau Chanyeol?” tanyaku pada Ahri berhasil membuatnya bungkam.

Ia tertunduk, masih terisak pelan.

“Aku menyukai mereka berdua. Aku menyukai Sehun sejak pertama kali masuk ke sekolah… Tapi… Chanyeol… Dia selalu ada di saat aku sedih, selalu menemaniku sejak aku dan Eomma ku—ani, maksudku, sejak aku dan Eomma pindah ke Mokpo… Chanyeol… Aku tidak bisa hidup tanpa—Ah… Aku mengerti…”

Aku tersenyum tipis. Akhirnya Ahri mengerti bukan?

“Lalu… kita harus bagaimana sekarang?” tanyanya membuatku langsung mendapatkan ide brilian.

Partner. Yang ku butuhkan adalah partner. Bukan hanya VPGN yang kubutuhkan. Tapi seorang partner yang sama-sama mengemban tugas yang sama denganku. Menjaga Jiwa. Dan orang itu… Ahri.

“Keberadaan VPGN di sekolah, sudah di ketahui oleh A-VG.” ucapku

“B-Benarkah? Apa mereka tahu soal Chanyeol yang—”

“Ya. Mereka sudah tahu. Dan mereka pasti juga mengincar Chanyeol. Dan aku punya satu masalah…” ucapku

“Apa itu?” Ahri menatapku

“Dua Jiwa yang lain, milik Kai, dan Junmyeon. Jiwa mereka berada di tempat yang tidak aman…” kataku

Ahri diam. Tidak mengerti.

“Aku menyimpan tiga Jiwa bersamaku, termasuk milik Sehun. Dan kau… Kau hanya menyimpan milik Chanyeol bukan?”

Ahri tersentak. Tersadar.

“Apa kau memintaku untuk menyimpan dua Jiwa yang lain?” katanya

“Jika kau tidak keberatan…” ujarku

“Tapi… Aku tidak ingin… Mereka bisa saja mengincarku…”

“Mereka akan tetap mengincarmu bahkan jika kau hanya menyimpan Jiwa Chanyeol.” terangku membuat Ahri terdiam

“Sehun akan—”

“Apa kau mau melihat mereka semua lenyap?” tanyaku, aku tahu benar Ahri punya ikatan lebih erat dengan VPGN itu. Tentu saja. Ahri mengenal mereka jauh lebih lama daripada aku, terutama Ia sangat mengenal Sehun dan Chanyeol.

“Bagaimana caranya Injung-ah?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Ahri’s Eyes…

Aku tidak yakin dengan rencana yang Injung pikirkan… Tapi entah mengapa aku tidka bisa untuk tidak mempercayainya. Injung punya kemampuan bicara yang sangat hebat. Ia bahkan bisa membuatku setuju tanpa harus merayuku.

“Apa rasa sakitnya sudah hilang?” ucap Injung membuatku tersadar

Aku terdiam, kepalaku masih terasa sedikit pening karena memindahkan Jiwa milik Kai dan Junmyeon—Injung menemukan Jiwa itu ada di ujung pemancar, tersembunyi dalam dua buah gembok kecil.

Ia memanjat ke atas untuk mendapatkan dua Jiwa itu dan memindahkannya menjadi kalung kecil, juga gelang untukku. Jiwa Chanyeol Ia titipkan padaku dalam bentuk anting-anting. Cara ini seharusnya bekerja.

Aku tak tahu bagaimana Ia bisa tahu Jiwa itu ada didalam gembok, tapi aku cukup yakin Injung tidak salah tentang keputusannya.

“Dua benda itu sudah hilang…” ucap Injung

Aku menyentuh gembok kecil itu. Benar. Injung tidak akan bisa melihatnya. Hanya aku, dan pemilik Jiwa itu yang bisa.

“Apa kau yakin mereka berdua tidak akan marah? Bagaimana jika—”

“Aku akan melindungimu.” potong Injung cepat

“Tapi… Jika A-VG itu tahu…”

“Ahri-ah… Apa kau pikir aku akan membiarkan seseorang melukaimu walau sedikitpun?” katanya membuat ku terdiam.

“Aku berjanji aku akan melindungimu. Kajja.” Injung menarik lenganku untuk berjalan menjauh dari tempat itu.

“Apa kau berjanji? Kau tidak akan membuatku terjebak dalam bahaya kan?” tanyaku masih ragu, aku dan Injung tidak lah terlalu dekat.

“Aku janji.” ucap Injung, Ia menarikku untuk naik ke dalam sebuah motor boks yang akan berangkat ke pasar.

Aku dan Injung pergi ke pemancar ini di dini hari, dan tentu saja kami akan sampai pagi hari di rumah. Tapi…

“Kenapa kau berani berjanji seperti itu? Kenapa… Kau mau melindungiku?” tanyaku pelan, masih bingung pada sikap Injung.

“Karena aku saudara mu.”

Aku tersentak. Ucapan Injung benar-benar tidak ku percaya. Apakah Ia bersungguh-sungguh? Entahlah… Aku… Aku percaya padanya…

Gomawo…” ucapku

“Hah?” bisa ku dengar nada bingung dalam suara Injung

Gomawo karena menganggapku sebagai saudara mu…”

Injung tidak menjawab. Ia bersandar diam di pojok lain boks kecil tempat kami menyelinap. Tampak sibuk dengan pikiran nya.

“Jangan pernah memikirkan kejadian malam ini di depan VPGN itu. A-VG bisa membaca pikiran mereka.” ucap Injung

Arraseo.”

Injung kembali diam. Aku terkadang tidak mengerti, kenapa Injung bisa mengubah-ubah sikap nya dalam waktu singkat.

Terkadang Ia tampak sangat baik, terkadang Ia bisa menjadi seseorang yang tidak ku kenal sama sekali… dan saat ini… Ia jadi sosok yang ku rindukan… saudaraku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Injung kembali bersikap dingin saat kami berada di sekolah. Benar. Tidak boleh ada yang curiga pada ku… ataupun Injung. Jongin masuk sekolah hari ini, walaupun sebenarnya Ia tampak terlalu pucat. Apa Ia baik-baik saja?

Ia sempat memandangku terkejut saat melihat Jiwa nya yang ada padaku. Tapi Ia tidak berkomentar apapun dan memilih untuk menyibukkan dirinya bersama Sehun.

Tapi aku merasa aku seharusnya mengkhwatirkannya. Kenapa? Aku selama ini tak pernah begitu khawatir. Apa… karena Jiwa ini?

“Jongin-ssi…” ucapku padanya

Aku bisa mengenali tatapan Injung yang diam-diam mengawasi kami.

“Ya?” jawab Jongin, menatapku, Ia tidak menatapku marah karena aku menyebut nya ‘Jongin’.

“Apa kau baik-baik saja? Kau sakit?” tanyaku

Jongin menggeleng pelan, dan tersenyum padaku.

“Kembalilah ke bangkumu.” pintanya

Aku menghembuskan nafas panjang, dan akhirnya kembali ke tempatku, sekilas melemparkan pandangan ke arah Injung.

Ia tampak menyernyit. Kurasa Ia menyadari kejanggalan pada Jongin.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Kau mau pulang bersama, Injung-ah?” tanya Luhan saat melihat Injung membereskan bukunya dengan tergesa-gesa

Gadis itu segera menggeleng.

“Aku ada sedikit keperluan.” jawab Injung tanpa memandangnya

Benar. Gadis itu ingin menemui Kyungsoo. Memastikan apa Ia baik-baik saja. Hari ini Sehun masuk sekolah. Hari ini juga adalah hari ke empat Kai masuk sekolah. Dan keadaan namja itu juga aneh.

Sehun tampak pucat, sangat pucat. Seperti keadaan Kai.

“Ah… Arraseo…”

Injung menghentikan aktifitasnya, terdiam saat menatap Luhan, Ia tampak kecewa. Membuat Injung menyernyit bingung.

“Memangnya ada apa?” tanya gadis itu penasaran

Luhan menggeleng.

“Aku ingin bicara.” ucapnya sambil tersenyum tipis, “tapi kau sepertinya tergesa-gesa, kita bisa bicara lain hari.” sambungnya.

Injung memasukkan buku terakhirnya, lalu menutup tasnya, masih menyernyit memandang namja itu. Terbesit pikiran bahwa Luhan benar-benar ingin bicara tentang suatu hal yang penting pada gadis itu.

Bukan tentang VPGN atau yang lainnya. Tapi tentang mereka berdua.

“Kita bisa bicara dulu.” ucap Injung pada Luhan

Ia segera tampak senang. Luhan lalu menarik lengan gadis itu dengan cepat.

Ya! Pelan-pelan!” ucap Injung kesal pada tindakan kekanak-kanakan Luhan

Ia menarik Injung ke perpustakaan. Gadis itu bisa melihat sekilas keberadaan Jangmi saat Ia dan Luhan melewati balkon kosong itu. Dan juga, Injung yakin Ia mendengar langkah lain mengikutinya sepanjang jalan.

“Perpustakaan?” Injung segera menatap Luhan dengan kening yang hampir keriting karena rasa bingungnya.

Luhan tersenyum, lalu Ia menarik Injung masuk. Perpustakaan tampak kosong, dan Injung sudah terlampau bingung untuk sadar saat Luhan membawanya ke pojok perpustakaan. Luhan berdiri di hadapan Injung, menyandarkan gadis itu di tembok.

“Sebenarnya kau mau bicara apa?”

“Sebenarnya kau mau bicara apa?” tanya Injung bingung sekaligus curiga pada tindakan Luhan sekarang.

“Injung-ah…” ucap Luhan lembut

“Ya?”

Tepat saat Injung membuka mulutnya dan bicara. Luhan mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Mengunci rapat bibir gadis itu.

Injung terpaku. Tidak percaya pada tindakan Luhan yang begitu tiba-tiba. Sesaat setelah Ia merasakan Luhan melumat bibirnya, Injung menutup matanya. Membuat Luhan leluasa untuk memiliki bibir gadis itu.

Luhan mengunci Injung di dalam pelukan nya, masih melumat bibir gadis itu, lembut. Penuh dengan perasaan. Hampir tidak menyadari bahwa sepasang mata tengah merekam kejadian itu dengan rasa marah.

“Luhan-ah…” Injung berusaha bicara di tengah kelelahan nya karena Luhan tidak memberi gadis itu sedikitpun kesempatan untuk bernafas.

Luhan melepaskan ciuman nya, lalu menatap gadis itu penuh sayang.

DEG!

Injung terkesiap saat Ia merasakan sesak luar biasa. Ia berusaha menahan rasa sakit itu. Terutama karena jantungnya masih melompat tidak karuan akibat tindakan Luhan.

Luhan mengusap lengan Injung lembut, membuat gadis itu merasa lengan nya terbakar. Dan membuat jantung Injung melompat semakin tidak karuan, senada dengan rasa sakit luar biasa yang di rasakan nya.

Luhan kembali menarik lembut wajah gadis itu. Mendaratkan ciuman nya lagi. Dan kali ini, Injung membalas ciuman namja itu. Membuat keduanya larut dalam perasaan begitu dalam. Dan membuat pemilik sepasang mata yang mengawasi mereka itu semakin terbakar oleh rasa marah.

Injung menahan Luhan saat namja itu tampak tak ingin mengakhiri tindakannya. Sementara Injung sudah menemukan dirinya, kesadarannya, kesadaran bahwa Ia tak seharusnya terlarut-larut dalam perasaan ini.

“Luhan-ah. Kumohon…”

Luhan tersenyum. Segera mengerti.

“K-Kau tidak bicara apapun.” ucap Injung kaku

“Haruskah?” tanya Luhan, “aku sudah mengatakannya lewat tindakanku. Aku menyukaimu, Injung-ah…”

Ucapan Luhan membuat Injung kembali terbakar. Jantung gadis itu sudah tak lagi bisa dikendalikannya. Sementara gadis itu hanya menatap Luhan dalam diam. Tak sanggup berkata-kata.

“Aku… sangat menyukaimu, Lee Injung,” ucap Luhan dengan senyumannya yang sanggup meluluh lantakkan pertahanan Injung.

Gadis itu sungguh tidak tahu harus berucap apa lagi menanggapi perkataan Luhan. Sejenak Ia berpikir Ia seharusnya mengungkapkan pada Luhan bahwa Ia juga merasakan hal yang sama pada namja itu.

Tapi Injung menahan dirinya. Ia ingat pada janji yang sudah Ia ucapkan. Ia harus menekan perasaannya yang begitu meledak-ledak pada Luhan.

“A-Aku mau pulang.” ucap Injung salah tingkah

Luhan tertawa geli melihat ekspresi kaku Injung. Namja itu lalu mengusap lembut puncak kepala Injung.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang, aku akan menunggu jawabanmu, seperti kau yang selalu menungguku,” ucap Luhan lembut, Ia menarik tangan Injung, menggenggam erat tangan gadis itu, lalu membawa Injung keluar dari perpustakaan.

“L-Luhan-ah. Aku akan pulang sendiri.” ucap Injung sambil dengan cepat menarik tangan nya dari Luhan, walaupun tanpa gadis itu sadari Ia ingin meraih tangan Luhan lagi, merasakan sentuhan namja itu.

“Aku akan menemuimu dirumah.” ucap Luhan akhirnya

Injung tersenyum, dan mengangguk pelan.

Arraseo.”

Tanpa menunggu ucapan apapun dari Luhan, Injung segera melangkah cepat. Kikuk. Dan Luhan hanya bisa tertawa geli melihat tingkah laku Injung.

“Sepertinya mood mu sedang sangat baik…”

Luhan menoleh. Melihat Xiumin yang berdiri tak jauh darinya.

GeuraeMood ku sedang sangat baik.” ucap Luhan membenarkan

Xiumin tertawa pelan.

“Aku sebenarnya tidak mau merusak kesenanganmu, tapi aku harus menyampaikan kabar ini.” kata Xiumin

“Kabar apa?” ucap Luhan, tersadar pada realita bahwa Ia masih harus melenyapkan beberapa orang VPGN walaupun perasaannya tentang dirinya dan Injung masih tak bisa dikendalikannya.

“Jiwa yang ada di pemancar…” kata Xiumin memulai

“Apa yang terjadi?” ucap Luhan mulai tegang

“Aku dan Kris ke sana, dan Jiwa itu sudah lenyap.” ucap Xiumin

“Apa!?”

“Tenanglah… Aku sudah menyuruh Chen dan Yixing untuk mencari informasi di sekitar sana. Aku tidak merasakan aura Virus itu disana… Kurasa, ada manusia yang tahu tentang keberadaan kita, juga Virus itu.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

BIARKAN AKU BERCUAP-CUAP SEKARANG.

Aku frustasi. Apa tulisanku makin kesini makin jelek? Apa cerita ini makin ngebosenin? Apa chapter 10 ini udah kebanyakan? Apa kalian udah jenuh sama cerita ini? Apa update ku kelamaan? Apa 6000 words kurang panjang?

Entahlah…

Aku sedang dalam tahap down sekali karena statistik Kajima terus naik tapi kalian…semakin menghilang… Rasanya sesakit nonton bias jadi main cast di blue film, tau gak sih…

Aku tau ini semacem gapantes banget ya ngomel lewat cuap-cuap… Tapi… ini udah kejam… Aku merasa dianiaya… Aku merasa kalian gak sayang Injung lagi /kemudian ditendang/

Ayolah~ kalian tau butuh perjuangan buatku bikin fanfict ini terus bertahan~ karena kalian yang sebenernya buat aku bertahan~

Biarlah~ nanti kalau aku males juga ini update semakin molor dengan sendirinya~ karena Irish ngambek mode~~ Aku merasa seolah cintaku bertepuk sebelah tangan~~

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

246 tanggapan untuk “KAJIMA – SLICE #10 — IRISH`s Story”

  1. Duhduh, mau sampe kapanpun ka Irish bkin ff,aku selalu setia ngeklik kolom komentar ❤ jadi cupcup jgn ngambek yak ❤ wlpn ngambeknya udah bertahun" lalu ;v

  2. Iisshhhh trnyata othor bisa ngambek jg
    Hehehe thor saya masih setia kok ma hunnieee
    Tp d sni kesel jg ahh ma dy
    Huhuhu best buat injung
    Next chap

  3. siapa itu yg cemburu ? Ah, aku seneng Injung dibalik sikap kasarnya dia dewasa banget. Pnya Ibu yg gak mengakui keberadaanya tp dia ngakuin adiknya 😥

  4. Smg para siders segera mendapat pencerahan & mau memunculkan diri u/ Irish. Saya slalu meninggalkan jejak tiap bis slese bc crita bgs & sneng bgt klo sang author mo ngreply my review. Nangis pas Injung blng 엄마 bogoshipo 😢 mlh di tampar bolak balik gt 😓 tega bgt 엄마ny! Pnasaran dulu 찬열 nolongin 엄마ny Ahri di kasus pembunuhan tu ky gmn ya, itu kasus yg sm yg 아빠ny Injung di hkm mati kan? Waduh, kissing scene di perpus 😘 kshn 세훈 nahan emosi dr jauh. Wlw Kris udah nongol tp msh blm jelas dialog/lines dy 😟

  5. Ayolaahh injung pilih sehun Ajaa Jgn pilih luhan… Itu sehun sama jongin kenapa jadi pucet gitu btw… Serius ka Irish.. Fanfic nya seru bangett 💜💜

  6. Wahh injung suka sehun juga? Pilihan yang sulit buat injung kalau gini. Injung bakala pilih sehun apa luhan? Huahh makin keren aja unnie😂

  7. ya ampun jangan sampai cinta segitiga antara luhan injung dan sehun, aku gk relaaa merekaa biasskuu, tpi aku percaya kepada injung , injung kamu harus pilihh yang terbaikk untuk hidupmu…thorr kerennn , makin kesini ini ff makin gregett👏

  8. Akhirnya kedua saudara bertemu terhura aku 😄, first kissnya Injung kenapa gak sama Sehun? Aduh.. ini makin buat aku deg-degan aja :v aduh.. Sehun kenapa lu bang? Kok pucat? Sini adek peluk 😂

    1. XD EEHHHH SHIRAAA ~~ KULUPA BILANG IH, KALAU DUA ORANG YANG JADI AVA ENTE SAMA SI EKI JADI PERAN PENTING DI CERITA INI SEASON DUA :V

    2. Ava kak? Apatuh? Peran penting? Duh aku gak ngeh kak Irish, ajarin adek dong kak /dilempar ke sungai Ciliwung/ 😄😄

  9. ini komen keduaku di ff kajima ini, hihi
    seharian ini duduk tiduran baca ini mulu, sekali baca bikin gak mau berhenti bacanya,

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s