Dating After Marriage [Chapter 2] – Namsan Tower

Dating After Marriage Poster

Dating After Marriage [Chapter 2] – Namsan Tower

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and 15+ can read because it’s labeled as PG15 ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you!

Previous Chapters 

1 – Hongdae

©nokaav3896 – 2016

“Aku pernah berpikir untuk menolak –kalau kamu mau tahu.”

Fakta bahwa Irene pernah berpikiran untuk menolaknya adalah hal yang cukup mengejutkan untuk membuka pagi kedua sebagai seorang suami –setidaknya setelah satu piring nasi goreng keju yang tersaji di meja makan– bagi Sehun. Perempuan itu selalu menyuguhkan senyum sejak pertemuan yang pertama dan mengiyakan perjodohan itu dengan mantap; membuatnya sulit untuk percaya.

“Aku nggak bercanda ih, jangan pasang tampang meragukan dong. Aku benar-benar pernah memikirkan untuk menolak perjodohan ini.”

“Kenapa?” Sehun meletakkan sendoknya, menyangga dagu dengan tangan kanan sembari menunggu jawaban Irene. “Aku kurang tampan ‘kan jelas nggak mungkin.”

“Karena aku belum sepenuhnya move on, Sehun.” Irene tersenyum. “Kamu sudah dengar soal Kim Junmyeon ‘kan? Laki-laki itu sudah meninggalkan banyak kenangan. Bukan aku masih mencintai Junmyeon. Aku cuma khawatir kenangan itu bisa menyakitimu nantinya.”

Sehun tertawa pelan. Dia sudah mendengar soal Kim Junmyeon; mantan tunangan Irene sebelum perempuan itu menikah dengannya. Mereka pacaran sejak sekolah menengah atas dan sudah akan menikah saat tiba-tiba saja Junmyeon memutuskan pertunangan mereka. Alasan? Sudah menghamili perempuan lain.

“Sehun?”

Sehun mengangkat gelas di sebelah kanan dan menghabiskannya dalam sekali teguk sebelum mengerling pada Irene, “Aku paham.”

.

.

Nggak buruk. Kukira kamu pernah bilang kalau nggak bisa memasak sama sekali dan mau ikut kursus memasak.”

“Aku lihat di internet tadi.” Irene tertawa, memasukkan satu buah kue kering ke dalam mulutnya tanpa mengalihkan perhatian dari film twilight yang tengah mereka tonton. “Kamu kenapa malah bahas sarapan sih. ‘Kan kita lagi nonton film.”

“Aku bingung.” Nggak lagi bersandar pada kaki sofa, Sehun memilih untuk melompat ke atas dan merebahkan tubuhnya di sofa. “Aku nggak paham sama film ini. Kamu percaya vampir?”

Enggak.” Irene menjawab singkat. Matanya menyipit, sedikit jijik saat melihat Isabella Swan hanya mengenakan underwear padahal Edward Cullen datang untuk apel. “Aku suka romance-nya aja.”

“Awas habis ini ciuman.” Celetuk Sehun santai yang justru membuat Irene menoleh dengan cepat –menemukan suaminya tengah tertawa tanpa suara sebelum menambahkan, “Aku benar ‘kan.”

Sebenarnya, agak awkward bagi Irene untuk menonton scene seperti ini dengan Sehun di sekitarnya. Mereka sudah dua hari menikah, tapi hal seperti ini kelihatannya masih agak tabu mengingat cinta yang –katanya– belum tumbuh diantara mereka. Ciuman di altar saat pernikahan –yah, kelihatannya nggak ada yang tahu kalau Sehun hanya mencium sudut bibirnya alih-alih tepat di bibirnya.

“Irene, aku bosan.” Ujar Sehun pelan sementara tangannya sibuk  memelintir rambut Irene, berniat membuat kepangan tapi dia sendiri juga nggak pernah belajar bagaimana caranya dan hanya berakhir dengan rambut cantik Irene yang berantakan.

“Aku juga.”

“Ayo jalan-jalan lagi seperti kemarin.”

“Ke Hongdae?”

“Ya bukan.” Sehun tertawa. “Aku mau ke Namsan Tower. Mungkin saja kita bisa menumbuhkan cinta disana. Ada kereta gantung. Kamu nonton Boys Over Flower ‘kan? Tempat Gu Jun Pyo mencium–“

Uhuk!

Irene tersedak kukisnya saat Sehun mulai lagi membahas masalah ciuman. Buru-buru dia mengambil satu gelas air putih yang untung saja masih berada dalam jangkauan, meminumnya sampai habis sebelum menarik napas panjang dan siap memukul Sehun dengan bantal sofa.

“Katanya udah tujuh persen.” Cibir Sehun lucu. “Tujuh persen kok ngomongin masalah ciuman aja batuk-batuk.”

“Diam deh. Kamu nggak tahu betapa awkward ngomongin masalah seperti itu untuk para perempuan, Sehun-ah.” Irene memprotes sembari menutup toples kukisnya. “Ayo keluar aja. Daripada di apartemen yang dibahas ini terus.”

Sehun tertawa lagi sebelum mengacak rambut Irene gemas dan mengambil handphone-nya. “Sebentar, aku mau telepon Kak Rion dulu.”

.

.

Double date?”

Sehun mengangguk tepat sebelum melepas sabuk pengaman dengan cekatan. “Namsan Tower sebenarnya ide kak Rion.”

“Kak Rion yang tampan.” Canda Irene sembari melepas sabuk pengaman, mengabaikan tatapan galak Sehun yang seolah hendak memakannya mentah-mentah. “Aku nggak bilang kamu jelek, tahu. Aku cuma nggak mau orang lain cemburu dengan ketampananmu. Makanya aku juga bilang semua lelaki itu tampan.”

“Alasanmu nggak bisa diterima.” Protes Sehun. “Kalau aku bilang semua perempuan cantik, kamu nggak cemburu?”

Nggak.” Irene menggeleng. “Karena aku tahu kalau aku adalah perempuan paling cantik di Korea Selatan. Minimal.

Demi mendengar jawaban kelewat percaya diri yang terlontar dari bibir istrinya, Sehun tertawa keras sampai matanya tinggal satu garis dan pipinya berubah menjadi chubby. “Terlalu percaya diri.”

“Aku hanya membicarakan kenyataan.”

“Kalau kamu adalah perempuan paling cantik, seharusnya kamu bisa mendapatkan kekasih dengan mudah, Irene. Kenapa pernikahanmu adalah hasil dari sebuah perjodohan?”

Kemudian hening.

Irene nampak syok karena pertanyaan Sehun yang tiba-tiba, dia benar-benar merasa tertohok dengan pertanyaan yang satu ini –namun merasa aneh juga kalau harus marah pada Sehun karena memang seperti itulah kenyataannya.

Sementara itu, Sehun baru sadar dirinya sudah keceplosan. Kelewat batas. Karena faktanya, dia tahu benar alasan Irene dijodohkan adalah karena istrinya itu memiliki trauma akibat ditinggalkan oleh Kim Junmyeon padahal pernikahan mereka sudah di depan mata. Bodoh.

“Irene–“

“Aku nggak apa-apa.” Irene tersenyum. “Ayo jalan. Kupikir Kak Rion sudah ada di dalam sekarang.”

.

.

Hahaha.

Sehun bodoh. Karena pertanyaan bodohnya di mobil beberapa menit yang lalu, sekarang ia dan Irene terjebak dalam situasi aneh dimana nggak ada satupun yang membuka mulut untuk memulai percakapan. Oh Rion dan pacarnya ternyata belum sampai dan mereka harus menunggu di dekat antrean kereta gantung dalam diam.

“Irene,” Sehun menyenggol perempuan itu pelan, “aku minta maaf dong.”

“’Kan sudah kumaafkan.”

“Tapi kamu nggak ajak aku ngomong apapun sejak turun dari mobil.”

“Itu, sebenarnya aku nggak tahu harus ngomong apa, Sehun-ah.” Irene tertawa kecil. “Aku bosan. Kakakmu sudah sampai mana sih. Kok lama.”

“Aku telepon seb–“

Belum sampai lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, notifikasi pesan masuk memotong ucapannya. Sehun merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan ponsel hitam berukuran lima inch yang layarnya sudah menyala.

“Astaga,” Sehun nyaris mengumpat sebelum ingat ada Irene di samping kanannya, “dia nggak jadi datang.”

“Kenapa?”

Pacarnya nggak mau diajak jalan-jalan. Menurutku mereka lagi bertengkar.”

Irene tertawa. “Untunglah kita nggak melewati masa-masa pacaran ya. Sehun, ayo kita naik yang habis ini. Aku sudah nggak sabar lihat gembok cinta. Kita juga harus beli, supaya cinta kita abadi.”

“Kamu kok alay.” Ujar Sehun pelan yang segera mendapat balasan satu jitakan keras di jidat lapangnya.

.

.

Gembok cinta memang wajib dipasang untuk setiap pasangan yang datang ke Namsan Tower atau juga akrab disebut N Seoul Tower. Yang harus dilakukan pertama kali adalah datang ke sebuah toko di N Seoul Tower untuk membeli gembok beserta kuncinya dan menuliskan nama atau sekedar inisial disana sebelum dipasang di tempat yang sudah disediakan dan melempar kuncinya jauh-jauh.

“Biru aja. Kamu yang biru nanti aku ambil yang merah muda. Okay?” Irene mengacungkan dua buah gembok berbentuk hati yang berwarna biru muda dan merah muda. “Ini lucu.”

“Iya, okay. Tapi kusarankan ambil yang bentuknya persegi, please. Jangan ini. Ini alay.” Sehun menyingkirkan tangan Irene dari hadapannya sembari tersenyum kecil. “Persegi ya?”

“Kamu daritadi kok ngatain aku alay terus sih. Kesel.” Irene meletakkan gemboknya kembali sembari mempoutkan bibirnya lucu, membuat Sehun gemas dan mengacak rambutnya dengan lembut.

Enggak, Irene cantik kok. Asalkan nggak pilih gembok yang bentuk hati. Okay?

Okay.” Irene tersenyum kembali sebelum berbalik kepada perempuan manis yang sedari tadi melayani ‘penjualan gembok’ dan meminta sepasang gembok persegi dengan warna biru muda dan merah muda. Setelah menerima sepasang gembok dan Sehun membayarnya dengan uang cash, pasangan muda itu memilih sebuah tempat di luar toko untuk mulai menulis.

“Aku tulis namamu di gembokku?” Sehun mendongak, bertanya pada Irene yang sibuk membuat ukiran di gemboknya. Saking sibuknya, perempuan itu hanya memberi anggukan sebagai jawaban.

“Apa yang harus kutulis disini? Nama Korea atau nama Inggrismu? Irene Bae? Bae Joohyun? Irene Oh? Cantik semua sih namanya tapi ‘kan nggak muat kalau aku ha–“

“Tulis apapun yang kamu mau deh. Jangan banyak protes, uh.” Irene menutup spidolnya sembari menatap Sehun galak. “Irene aja. Pakai alfabet romawi.”

Sehun mendongak, menatap Irene memelas sebelum berujar pelan, “aku nggak bisa.”

Irene tertawa geli. Raut wajah memelas Sehun cukup lucu baginya. “Ya udah. Maumu aja mau ditulis apa. Yang jelas jangan tulis nama perempuan lain ya.”

Okay.

Sehun mulai menulis nama Irene menggunakan huruf Hangeul dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Setelah berkencan dengan banyak perempuan, dia tahu benar Irene adalah satu-satunya yang mampu membuat hatinya merasa hangat saat sedang tersenyum.

Udah?”

“Yep.” Sehun menutup spidolnya sembari tersenyum. Irene sudah lebih dulu berdiri dan membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan. “Dimana kita pasang ini?”

“Tadi aku lihat beberapa spot kosong di sana.” Irene menunjuk posisi seberang mereka. “Mau disana?”

“Terserah padamu sih.” Sehun merangkul Irene dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk perempuan itu beberapa saat lalu. Sesekali melirik pasangan lain yang juga sedang menikmati romantisme N Seoul Tower.

“Disini.” Irene menunjuk spot kosong diantara entah berapa puluh ribu gembok cinta. “Ini kurasa sih cukup untuk punya kita.”

Sehun mengangguk setuju dan langsung memasang gemboknya, diikuti tangan mungil Irene yang juga memasang gembok berwarna merah muda tepat di sebelah kanannya.

“Kuncinya dibuang?” Sehun bertanya sambil mengamati kunci berukuran super kecil di tangannya. “Aku simpan aja boleh nggak sih?”

Kok disimpan? Biar bisa kamu lepas lagi kalau mau ganti perempuan?” Lagi-lagi Irene mempoutkan bibirnya yang membuat Sehun gemas dan tanpa sadar–

Cup.

–mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir manis Irene.

Hening.

Irene terlalu shocked untuk sekedar membuka mulut hendak memprotes. Untungnya, Sehun cepat menguasai keadaan dengan melontarkan candaan ringan yang langsung membuat Irene kembali merasa nyaman.

“Jangan kaget, mulai hari ini mungkin itu akan lebih sering.” Ujar Sehun setengah bercanda.

“Mulai hari ini?” Irene memicingkan matanya menatap Sehun yang sudah bersiap melempar kuncinya. “Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku sudah mengharap itu sejak kamu bilang ‘aku bersedia’ di altar pernikahan dua hari lalu.”

.

.

Setelah perdebatan kecil masalah kapan-seharusnya-ciuman-pertama-mereka-dilakukan, Sehun dan Irene sepakat berdamai dan melanjutkan kencan-pasca-pernikahan di Namsan Tower dengan membeli potato and sausage twister dan berjalan-jalan menikmati pemandangan. Sehun dan Rion sering menghabiskan waktu berdua di tempat ini sejak remaja. Sementara Irene hanya pernah sekali ke Namsan Tower dengan Suzy –adik perempuannya. Sungguh, Irene memang perempuan yang kurang piknik.

“Sehun-ah, aku mau tulis surat ah.” Irene melempar batang twisternya dan berlari kecil menuju kotak surat berwarna merah di salah satu sudut Namsan Tower. Sehun mengikuti perempuan itu dengan santai, masih memakan twisternya yang sisa separuh. “Kalau aku tulis surat sekarang, sampainya satu tahun lagi. Romantis ‘kan?”

“Dimana romantisnya? Satu tahun itu lama. Memangnya aku dan kamu masih jadi pasangan setahun kemudian?”

Kok gitu? Kamu mau pisah dari aku?”

Sehun tertawa geli melihat Irene yang langsung berbalik dan cemberut diikuti ucapannya barusan. “Aku bercanda, Irene.”

“Candaanmu kadang-kadang menyeramkan,” Irene menggumam pelan, “kemarin tentang dua cincin, sekarang tentang perpisahan. Kenapa kamu nggak memilih candaan yang lucu sih? Tentang suaramu yang mirip anak laki-laki mau beranjak dewasa, misalnya.”

“Candaanmu juga mengerikan.”

Irene tertawa. “Kebetulan aku punya kertas surat dan juga amplop di dalam tasku. Kamu mau tulis juga? Aku bawa dua, udah jaga-jaga sih.

Lho, rencana ke Namsan ‘kan baru tadi pagi meluncur. Kok kamu udah siap-siap?”

“Tambahan kelakuan rahasia Irene Bae yang harus diketahui Oh Sehun adalah bahwa perempuan cantik berkulit cerah ini suka menulis surat!” Irene berujar dengan nada ceria ala pembawa berita infotainment yang membuat Sehun langsung mundur selangkah –sempat berpikir istrinya agak kurang waras sebelum akhirnya mengumbar senyum.

Okay. Irene-ku suka menulis surat.” Sehun bergumam pelan. “Kalau hadiah valentine untukmu nanti adalah satu kotak kertas surat, kamu keberatan?”

“Itu romantis kalau seluruh kertas suratnya berisi tulisan tanganmu.” Irene menjawab asal sembari merogoh tasnya untuk mengambil dua buah kertas surat dan pulpen. “Kamu bisa bikin puisi?”

Sehun tertawa, tangannya terulur untuk mengambil satu dari dua lembar kertas surat yang berwarna soft blue. “Di kantor, kerjaanku tanda tangan surat sama cek laporan keuangan. Bukan bikin puisi.”

Ah, whatever.” Irene memilih salah satu tembok rendah di dekat kotak surat setinggi satu meter dan mulai menulis entah apa, bibirnya beberapa kali menggumamkan kata-kata random seperti ‘terima kasih’ ‘menikah’ ‘pernikahan’ ‘cinta’ dan Sehun sempat mendengar kata ‘ciuman’ sebelum tersenyum simpul dan mulai menulis. Surat cinta pertama yang dia tulis untuk seorang perempuan –yang adalah istrinya.

.

.

“Dimana mobilmu?”

Irene menggamit lengan Sehun, sesekali berjinjit untuk melihat dimana mobil sedan hitam mewah milik suaminya. Sehun yang sudah melihat mobilnya –beberapa meter di sebelah kanan depan– hanya tersenyum.

“Sehun, dimana sih? Aku belum hapal nomor mobilmu.”

“Di sebelah kanan, Sayang.”

Demi mendengar panggilan sayang yang tertuju padanya, Irene terbahak. “Jangan sering-sering panggil ‘sayang’ dong. Kok rasanya masih awkward ya.”

“Harus dibiasakan.” Sehun tertawa. “Atau kamu mau panggilan yang lain? Kim Junmyeon memanggilmu apa kemarin dulu? Aku harus punya panggilan yang beda dengannya.”

“Kenapa tiba-tiba membahas Kim Junmyeon, Sehun-ah?” Irene maju selangkah dan berhenti tepat di hadapan Sehun. Mendongak untuk menatap suaminya yang baru saja memulai membuka percakapan tentang luka lama. Sehun ini kenapa sih?

“Cuma ingin tahu.”

“Aku belum berminat memberitahumu sih,” ujar Irene pelan. “Aku nggak ingin membahas ini, Sehun. Sungguh. Bisa kita pulang sekarang? Tiba-tiba mood-ku menurun drastis.”

Sehun mengulas senyum kecil sebelum menarik pergelangan tangan kanan Irene dan menggandeng perempuan itu menuju mobil. “Aku ingin tahu. Kamu harus mau menceritakan perihal itu padaku.”

“Sehun, cepat buka pintunya dan pulang. Aku mengantuk.”

Tak lagi mendebat, laki-laki itu beralih ke sisi kiri mobil dan membuka pintu pengemudi, disusul Irene yang menjatuhkan tubuhnya di kursi belakang.

Kok di belakang? Aku bukan supir, Irene. Keluarlah dan duduk di sebelah kananku.”

“Aku mau tidur,” ujar Irene pelan, “benar-benar tidur.”

“Jangan mendebat,” Sehun berujar lirih, “ini baru hari kedua pernikahan kita dan aku benar-benar nggak ingin bertengkar denganmu. Aku tahu suasana hatimu memburuk karena aku membuka topik tentang Kim Junmyeon. Tapi aku pasanganmu sekarang, aku benar-benar harus tahu tentang itu agar kesalahan yang sama nggak mungkin terulang.”

Irene menghela napas berat dan bukannya membuka pintu belakang, perempuan itu melompat untuk bisa sampai di kursi depan membuat Sehun sedikit kaget.

“Kesalahan yang sama, yang diperbuat Kim Junmyeon, nggak akan terulang kalau kamu benar-benar mencintaiku. Itu aja.

“Kamu menuntutku untuk bisa mencintaimu?” Sehun mengerutkan kening, menatap Irene yang tengah menarik tuas jok agar bisa tidur dengan sedikit lebih nyaman. “Seharusnya kamu lihat dirimu sendiri sebelum bisa menuntut hal-hal seperti itu.”

“Aku kenapa?” Irene menunda niatannya untuk tidur karena merasa harus menyelesaikan perdebatan ini sekarang juga. Mulai sakit kepala menyadari bahasa obrolan mereka yang perlahan berubah menjadi lebih formal. “Apa yang harus kulihat dari diriku sendiri? Aku sudah mencoba untuk mencintaimu.”

“Kamu masih merasa sedih ketika memikirkan lelaki itu, Rene. Kalau kamu menikah denganku, kamu harus punya niat untuk move on dan terbiasa saat namanya disebut.

“Aku punya niat untuk melakukan itu, Sehun,” ujar Irene pelan. Matanya mulai berair, siap menangis. “Tolong bantu aku.”

.

.

Note:

Sorry for super-late update! 😀 Habis ganti provider dan ternyata susah banget buat tethering pakai provider ini. Jadinya ketunda terus deh.

Un-betaed –as usual, dan anggap saja ‘alay’ itu kata yang biasa diucapkan juga di Korea Selatan. Hahahaha 😀 Konflik sudah mulai dimunculkan; tapi masih rahasia konflik tepatnya itu kenapa (?)

Kritik dan saran diterima dengan senang hati di kolom komentar loh! Visit personal wordpress juga boleeeh :p

With loveeee,

n o k a a v

44 tanggapan untuk “Dating After Marriage [Chapter 2] – Namsan Tower”

  1. Haish, suka banget deh
    Udah mulai ada konflik nih? Seruu

    Btw, bahasa diubah agak formal dong biar makin gereget..
    Next Quickly!!

  2. Pengantin baru tadi sayang sayangan kok ini malah ribut sihh😀
    Duh ternyata mbak iren gragas juga ya 😂 ati ati lo mbak dikamar.. mas sehun udah mulai nyium nyium tuhh😝😗😆

  3. aduh aku gakuat mereka manis banget. baca perdebatan yg ini aja aku gatega, gimana konfliknya nanti yah hihihihi di tunggu bgt next chap nya duh:’D

  4. Nah udah mulai nih ada ribut benerannya wkwk tapi karena konflik utamanya masih rahasia aku jadi kepo
    Masa lalu Irene pun udah sedikit terungkap
    Btw, mereka makin bikin greget ih di chapter ini:3

    Kutunggu chapter 3-nya^o^

  5. owh!!!!pasangan yang menggemaskan so weet apalagi ad berantem” kecil gitu .jadi lucu bayangin nya….
    Di tunggu chapter lanjut nya.semangat menulis nya!!!!

  6. Wahh, sehun udah mulai bisa cinta sama irene. Tapi irenenya kok kayak blm bisa move on sama si junmyeon?haiis seru nih kelanjutnyaaaaaa. Nexxt thor!!!!!!

  7. aku suka FF ini, manis banget kaya gula >.<
    bahasanya aja yang kadang suka bingungin buat aku, dibilang formal enggak, dibilang gak formal juga enggak, makanya bingung, tapi udah bagus kok ceritanya, tinggal tingkatin bahasanya aja ya, kalau mau formal, formal sekalian aja dan begitu sebaliknya
    keep writing!

  8. Setelah baca Chapter 1 langsung meluncur kesini. Sehun juga kurang piknik kayanya, perasaan perempuan yang belum moveon itu nyeremin lo kak sehun. dari pada ditanyain terus mending dibantuin yok kak sehun. hohoho
    good story, semangat untuk chap selanjutnya ‘-‘9

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s