DECISION [EPISODE 1] – by GECEE

req-grace-decision

 

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“You came to me by coincidence and embraced me. And as we blankly stared at each other, you said goodbye.”
–Hello Goodbye (Hyorin)

==HAPPY READING==


JANE HAN berkali-kali melirik jam tangan putih yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Kakinya ia hentak-hentakkan di lantai. Kepalanya berkali-kali menatap keadaan di sekitarnya, mengharapkan ada suatu pemandangan yang berbeda. Di sekelilingnya terlihat orang-orang sedang bercengkrama satu sama lain, terlihat akrab, memakai seragam yang sama dengan yang Jane  kenakan sekarang. Tak satupun dari mereka yang ia kenal. Jane mendesah kesal. Perasaan gugup dan gelisah menghampirinya, seperti yang selalu dirasakannya begitu berada di tempat yang asing baginya.

Hari ini adalah hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah. Setahunya, acara di hari pertama ini akan dimulai pukul delapan pagi. Dimulai dengan pembagian kelas lalu upacara pembukaan. Namun sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Setahu Jane, orang korea bukanlah orang yang menyukai keterlambatan. Namun entah mengapa sepertinya hal tersebut menjadi pengecualian pada hari ini.

Jane memutuskan untuk melanjutkan masa SMA-nya di Korea. Berhubung keluarga dari pihak ayahnya adalah orang Korea, Jane tidak mengalami kesulitan yang berarti. Ia bisa dibilang fasih berbicara dengan bahasa Korea. Untuk tempat tinggal, Jane tinggal di apartment milik tantenya yang memang senang berinvestasi dengan apartment. Dan di sinilah ia, Seung-Ri High School, sebuah sekolah yang cukup ternama di Seoul.

“Annyeonghaseyo….” Sebuah suara terdengar menyapanya. Jane menoleh, dan di hadapannya tampak seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang menyunggingkan senyumnya lebar. Kedua orang tersebut terlihat mirip, jadi Jane mengambil kesimpulan bahwa kedua orang itu adalah kakak-beradik kembar.

My name is Byun Baekhyun, and this is my twin sister Byun Baekhee.” Anak lelaki itu memperkenalkan diri, dan kemudian kakak beradik itu membungkukkan badan mereka. Alicia juga melakukan hal yang sama.

We’re from the United States. That’s why we speak in English. But because our mother is Korean, so we still have Korean names.” Kali ini gilliran si adik yang berbicara. “Can you speak English, too?

Jane mengangguk cepat. “Of course!

Well, that’s good to hear.” Baekhyun tersenyum. “Geureonde… What’s your name?

Jane balas tersenyum. “Well, my real name is Jane. But my Korean name is Han Jaein.”

Baekhee menyunggingkan senyum lebar. “Mannaseo bangawoyo..”

Kedua saudara kembar itu berlalu daripadanya setelah memberikan salam. Jane tersenyum. Kedua orang itu adalah teman pertamanya di sekolah ini. Jane bisa memastikan bahwa dirinya tidak akan melupakan dua saudara kembar tersebut, Baekhyun dan Baekhee.

Terdengar suara sirene dari sebuah megaphone, asalnya berasal dari ujung ruangan tempat mereka berkumpul. Bersamaan dengan itu, sekumpulan kakak-kakak kelas masuk ke ruangan tersebut. Mendadak suasana menjadi hening. Seluruh siswa baru terdiam dan terlihat takut melihat kedatangan senior mereka.

“Pembagian kelas akan dibacakan. Saya harap semua mendengarkan baik-baik karena pembacaan tidak akan diulang,” ujar Ketua panitia pengenalan lingkungan sekolah, Kim Joonmyun.

Jane masuk di kelas X-B bersama Baekhee. Kakak kelas yang menjaga kelas mereka adalah Kim Jongin dan Jung Soojung. Baekhyun sendiri ternyata masuk di kelas X-C, dengan kakak senior Kim Minseok dan Kim Soeun.

Acara dimulai dengan upacara pembukaan dengan pidato oleh kepala sekolah Kang Minhyuk. Beliau menghimbau para murid baru untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh senior mereka dengan baik. “Tugas yang diberikan bukanlah untuk menyulitkan kalian, tapi untuk melatih kedisiplinan kalian selama bersekolah di sini,” demikian pesan beliau.

***

Park Chanyeol menatap lapangan upacara yang didominasi oleh para siswa baru. Hari ketiga masa pengenalan lingkungan sekolah ini para siswa baru diminta untuk mengenakan name tag besar yang terbuat dari kardus yang diletakkan di depan dada. Siswa perempuan juga diminta untuk mengikat dua rambutnya dan menjepit poninya ke atas. Chanyeol tersenyum simpul. Ia selalu suka saat-saat masa pengenalan lingkungan sekolah seperti ini. Ia bisa menggunakan senioritasnya untuk mendekati siswa baru. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri melihat wajah-wajah adik kelas yang menegang setiap melihatnya.

“Chanyeol-ie!”

Chanyeol menoleh, dan begitu ia melihat siapa yang memanggil namanya dengan panggilan imut seperti itu, senyumnya memudar. Seorang perempuan sedang berjalan ke arahnya dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku blazer seragamnya. Nama perempuan itu adalah Choi Seolri. Mantan kekasihnya.

Chanyeol memasang postur tubuh tidak nyaman dan ekspresi wajah tidak senang, namun itu tetap tidak menghilangkan senyum manis yang terukir di bibir Seolri. “Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau berada di kelas?” tanya Chanyeol dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah.

Seolri masih menyunggingkan senyum manisnya. “Bosan. Tidak ada guru di kelas. Aku datang untuk mengunjungimu.”

Chanyeol mendengus. Ia sudah putus dengan Seolri dari lima bulan yang lalu, karena Seolri berselingkuh dengan sahabatnya, Choi Minho. Namun ternyata hubungan Minho dan Seolri tidak bertahan lama, dan sepertinya gadis itu sedang berusaha untuk kembali menarik hati Chanyeol. Tapi Chanyeol sama sekali tidak berminat untuk kembali menjalani hubungan dengan gadis itu.

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku baik-baik saja, kalau itu yang kau tanyakan. Kau bisa kembali ke kelas sekarang,” ujar Chanyeol.

“Kau mengusirku?” tanya Seolri.

Ya.    “Tidak.”

“Baiklah,” Seolri menghela napas. “Aku akan kembali ke kelas. Asal kau tahu, aku ingin masa pengenalan lingkungan sekolah ini cepat berakhir agar kau cepat kembali ke kelas. Aku merindukanmu.”

“…”

“Saranghae…”

Chanyeol menghembuskan napas perlahan. Seolri sudah beberapa kali memberikan tanda-tanda ingin kembali menjalani hubungan dengannya, tetapi ia tidak ingin. Tepatnya, ia sudah tidak bisa lagi mempercayai Seolri seperti dulu, seperti sebelum saat gadis itu mengkhianatinya. Ia tidak bisa lagi memandang gadis itu dengan cara yang sama. Mengingat bagaimana gadis itu lebih memilih Minho dibandingkan dirinya membuat hati Chanyeol terasa perih.

Sejak saat itu, ia sulit mempercayai orang. Dan juga cinta.

“Sunbae…”

Sebuah suara menyadarkannya dari lamunannya. Seorang anak gadis dengan pita biru di kedua ujung rambutnya yang diikat dua menatapnya dengan takut-takut. Di tangannya terdapat buku acara yang terbuka dan sebuah bolpoin hitam. “Bolehkah saya meminta tanda tangan?” tanya gadis itu takut-takut.

Chanyeol terkekeh dalam hati. Inilah yang paling ia senangi dari acara masa pengenalan lingkungan sekolah. Ketika adik kelas menganggap dia menyeramkan dan tak ada yang berani berbuat macam-macam dengannya. Ketika ia memainkan senioritas yang ia punya untuk menakut-nakuti adik kelas, dan semua memandang segan terhadapnya.

“Kau pikir… Kau pikir apakah saya akan memberikannya padamu?” balas Chanyeol dengan tatapan sinis.

Gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatapnya dengan bingung. “Ne?”

Chanyeol memutar bola matanya. “Kau pikir apakah saya akan memberikan tanda tangan saya padamu?”

Gadis itu menundukkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaannya. Lagi-lagi Chanyeol tertawa dalam hati. Ia tertawa sinis pada gadis itu. “Tentu saja tidak,” lalu berjalan melewatinya.

***

Jane berjalan ke arah gerbang sekolahnya dengan perasaan lega sekaligus takut. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam sambil diam-diam ia memasang radar untuk melacak keberadaan kakak-kakak senior di sekitarnya. Dalam hati ia sangat berharap agar ia tidak menemukan satupun kakak senior. Ia sudah cukup lelah mendengar semua bentakan mereka hari ini, dan tambah lebih lelah lagi begitu teringat kejadian dimana ia dipermalukan oleh seorang senior di hadapan teman-teman seangkatannya.

Bukan salahnya kalau ia salah membawa menu makan siang yang dimaksud. Mereka memberinya klu yang sangat membingungkan. Ular panjang dalam genangan darah. Siapa yang tahu bahwa arti sebenarnya adalah ramen dengan kuah pedas? Karena salah membawa menu makan siang, Jane dipermalukan di depan teman-teman seangkatannya. Ia dibentak-bentak, disindir-sindir, dan mendapat pengurangan nilai sikap. Untung saja Baekhee mau membagi sedikit dari makan siangnya untuknya, kalau tidak mungkin dirinya sudah mati kelaparan sekarang.

Jane menggeram. Kedua tangannya mengepal. Park Chanyeol. Ia tidak akan melupakan nama senior yang begitu mempermalukannya hari ini.

“Ya!”

Kepala Jane terangkat seketika. Ia belum mempunyai teman yang cukup dekat di Korea, yang mampu memanggilnya dengan panggilan informal seperti itu. Temannya di Korea hanyalah pasangan kembar Baekhyun dan Baekhee, itu pun hanya sebatas kenalan. Jane tidak yakin dua orang itu akan memanggilnya dengan panggilan informal seperti itu.

Kewaspadaan jane meningkat. Jangan-jangan firasat buruknya benar. Apakah… ada kakak senior di sekitar sini?

“Kau.. Kau anak baru, bukan?”

Sebuah sosok menghalangi arah jalannya, memaksa Jane untuk berhenti. Jane mendongak dan mendapati Park Chanyeol sedang menatap sinis ke arahnya. Dalam hati Jane menggeram. Mengapa ia harus berurusan dengan senior menyebalkan itu sekarang? Apa mereka memang ditakdirkan untuk bertemu?

“Apa kau lupa peraturan masa pengenalan lingkungan sekolah?” tanya kakak kelas itu.

“Ne?” Jane hanya bisa menggumam. Entah mengapa di hadapannya Jane tidak bisa berkutik.

“Kau harus memberi salam pada kakak-kakak senior dimanapun kau bertemu mereka. Ingat?”

Jane kembali menunduk. Oh, ayolah. Pikiran dan perasaannya sudah cukup lelah setelah dipermalukan oleh sosok di hadapannya ini. Ia tidak ingin berdebat sekarang. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi jika harus mendengarkan omelan dan kata-kata sinis dari bibir Park Chanyeol sunbae. Ia hanya ingin pulang.

“Joesonghabnida…” gumam Jane lirih.

“Siapa namamu?” tanya Chanyeol dengan nada yang tidak ramah.

“Han Jaein imnida.”

Ia mendengar Park Chanyeol mendengus. “Baiklah,” ucap kakak kelas itu. “Kau boleh bebas sekarang. Tapi lain kali kalau kau masih melakukan hal yang sama, nilai sikapmu akan aku kurangi.”

Sepeninggalnya Chanyeol, Jane melanjutkan perjalanan pulangnya dengan langkah lunglai.

***

Sedikit lagi… Sebentar lagi kau akan sampai di rumah…  Berkali-kali Jane berusaha menyemangati dirinya sendiri. Entah mengapa hari ini ia benar-benar lelah, baik tubuhnya, pikirannya, dan juga perasaannya. Rasanya ia ingin cepat-cepat sampai di apartment-nya dan tidur, melupakan semua tugasnya sejenak.

Dengan gontai ia menyeret kakinya melangkah menuju pintu apartment-nya. Ketika ia hendak menekan password pintu rumahnya, entah mengapa tangannya terasa berat. Lalu matanya terasa berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening.

Dua detik kemudian, semuanya menjadi gelap.

***

Hal pertama yang Chanyeol rasakan begitu melihat gadis bernama Han Jaein itu di seberang apartment-nya adalah kaget. Jujur, ia merasa terkejut dengan fakta bahwa gadis itu ternyata adalah tetangganya. Sejak kapan? tanyanya dalam hati. Pasti belum lama. Chanyeol ingat beberapa bulan lalu unit seberang apartment-nya itu masih kosong. Berarti gadis itu adalah penghuni baru.

Gadis itu terlihat lelah. Langkahnya yang gontai memperjelas semua itu. Chanyeol tidak ingin membuat gadis itu menjadi lebih kaget dengan menampakkan dirinya dan membuat gadis itu kembali ketakutan. Gadis itu bisa dipastikan sudah cukup tertekan menghadapi dirinya hari ini. Dan Chanyeol tidak ingin menambah perasaan tertekan gadis itu. Jadi, ia hanya menunggu di ujung koridor tempatnya berdiri sekarang, menunggu gadis itu masuk ke apartment-nya, baru Chanyeol akan masuk.

Hal kedua yang membuatnya kaget adalah ketika tiba-tiba badan gadis itu terjatuh ke belakang. Lebih tepatnya, Chanyeol panik. Sesegera mungkin Chanyeol berlari ke arah gadis itu. Terlambat, kepala gadis itu sudah membentur lantai. Untung saja lantai ini dilapisi oleh karpet, sehingga benturannya tidak terlalu keras.

“Ya!” Chanyeol mengguncang tubuh gadis itu. Tidak ada respon.

Chanyeol meletakkan punggung tangannya di dahi gadis itu. Rasa panas menjalar di tangannya. Astaga, gadis ini demam, pikir Chanyeol. Ia tidak mungkin meninggalkan gadis ini begitu saja di koridor. Akhirnya, dengan sedikit gerutuan di hati, Chanyeol membuka pintu apartment-nya, membawa gadis itu ke dalam gendongannya, lalu masuk ke dalam apartment-nya.

Dengan hati-hati Chanyeol meletakkan gadis itu di tempat tidurnya. Chanyeol mengamati wajah gadis yang terlihat lelah dan pucat itu. Wajahnya penuh dengan keringat. Kenapa bisa sampai sakit? Apakah ia tidak tidur semalaman karena mengerjakan tugas-tugas?

***

Perlahan, Jane merasakan kesadarannya kembali. Pelan-pelan ia membuka matanya. Kepalanya ia coba gerakkan untuk mengenali keadaan di sekelilingnya, walaupun setiap kali ia menggerakkan kepala, rasa pening langsung menyerangnya. Samar-samar ia melihat lemari baju, meja belajar, sebuah laptop, dan gitar. Gitar? Jane memekik tertahan. Ia tidak punya gitar di kamarnya. Berarti ia bukan berada di kamarnya saat ini. Jane segera terduduk. Ada dimana ia sekarang?

Ia mencoba mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia hendak memasukkan password unit apartment-nya, dan kemudian semuanya menjadi gelap. Jane makin ketakutan. Dimana ia sekarang? Apakah ia diculik? Apakah ia dibawa lari? Apakah ia…

Belum selesai kebingungan Jane, pintu kamar itu terbuka, kemudian seorang laki-laki masuk dan berjalan ke arahnya. Ia terkesiap. Ketakutannya memuncak. Dengan gerakan cepat ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang ia pegang dan berteriak.

“NUGUYA?!!”

“Naya,” jawab laki-laki itu. “Park Chanyeol.”

Cengkeramannya pada selimut biru itu melonggar, tetapi tubuhnya menegang. Perlahan, ia menurunkan selimut itu sebatas kepalanya, dan matanya terbelalak begitu melihat sosok Park Chanyeol di hadapannya. “Sunbae-nim?” tanyanya ragu-ragu.

Chanyeol meletakkan gelas berisi air di meja kecil yang ada di samping tempat tidur itu. Jane tidak langsung meminumnya. Entah mengapa ia masih belum merasa aman dengan lelaki di hadapannya ini. Tetapi ketika Chanyeol memberi isyarat untuk minum, Jane meraih gelas itu dan menegaknya.

“Eotteohge…”

“Kau jatuh pingsan di depan unitmu. Karena aku tidak tahu password unitmu, jadi aku membawamu ke sini. Tenang saja, tidak ada hal lain yang aneh yang kulakukan padamu,” jawab Chanyeol seolah tahu arah pertanyaan Jane. “Dan aku juga baru tahu kalau kita bertetangga,” tambah laki-laki itu.

“Oh?” Jane mengerjap.

“Aku juga cukup kaget ketika mengetahui bahwa ternyata kita bertetangga. Unit kita saling berhadap-hadapan.”

Jane mengangguk sopan. Ketika ia merasa sudah cukup kuat untuk pulang, Jane turun dari tempat tidur. Namun tangannya ditahan oleh Chanyeol.

“Eodiga?” tanya lelaki itu.

Jane menatap tangannya yang masih ada dalam genggaman Chanyeol. Lelaki itu sepertinya mengerti maksud tatapan Jane, lalu buru-buru melepas genggamannya. Jane tersenyum kecil. “Pulang. Aku harus mengerjakan tugas untuk besok.” Jane membungkukkan badannya. “Terima kasih atas bantuannya.”

Jane berjalan keluar dari kamar tersebut, namun tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya. “Aku tidak bisa membiarkanmu pulang.”

Jane berbalik dan menatap kakak kelasnya itu dengan pandangan heran. “Ne?”

Lelaki itu berjalan ke arahnya. “Apakah kau yakin kau baik-baik saja? Suhu tubuhmu saja tinggi! Bukankah lebih baik kau istirahat dulu? Kau masih belum sehat! Aku tidak bisa membiarkanmu pulang begitu saja! Sebagai salah satu panitia masa pengenalan lingkungan sekolah, aku tidak bisa membiarkan salah satu peserta acara jatuh sakit karena mengikuti acara ini. Apalagi, kau adalah tetanggaku.”

Jujur, Jane heran mendengar perkataan Park Chanyeol barusan. Seolah-olah lelaki itu betul-betul peduli pada dirinya. Benarkah demikian? Bukankah beberapa jam yang lalu orang yang sama juga mempermalukan dirinya di depan umum hanya gara-gara masalah ramen kuah pedas?

“Tapi…” gumam Jane. “Aku harus mengerjakan tugasku, sunbae. Terima kasih untuk tawarannya.”

Ia mendengar Chanyeol menghela nafas, sebelum akhirnya berkata, “Kita kerjakan saja bersama. Di sini.”

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 2

“Kau sedang jatuh cinta, kan?”

“Darimana kau tahu?”

“Astaga.. kau lupa kalau aku ini adalah adikmu?”

***

“Setelah ini kau mau kemana?”

“Hmm…. pulang.”

“Boleh aku ikut makan di rumahmu?”

***

“Han Jaein-ssi. Gomawo.”

***

“Apa kau takut padaku?”

A/N
So.. here the project begin 😀 Maafkan untuk semua typo dan sejenisnya
Don’t forget to RCL 😀
(Vote : episode terakhir mau di password apa nggak? XD)

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

51 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 1] – by GECEE”

  1. hai, aku reader baru nih. okay, ceritanya menarik, sejauh ini tapi bagian baekhyunnya sedikit bngt, mungkin baru perkenalan ya? sepertinya chanyeol lama2 suka deh sama jane. oke, lanjut ya….

    1. karena…
      entahlah, mungkin chanyeol nggak ingin diketahui perasaannya secara langsung pas dia di sekolah?

      hehehe.. terima kasih utk apresiasinya, salfa 🙂

    1. wakakakak gapapa lebih baik telat baca daripada ga baca sama sekali….
      quote macam apa ini ceee….
      okeeee.. lanjut terus yaa 😀

  2. waaaaaaaaaaaa apaaaa baekyunnnnn jatuhh cintaa sama janeeee””’?????

    Episode trakhirrrrrr jangnnn di pwwww yaaaaaaaa,,,,,,, kok cepet mau endnyaaaa??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s