[Chaptered] Heart Attack (2nd Chapt) | by L.Kyo

3. heart-attack

Title: Heart Attack | Author: L.Kyo♪ [ @ireneagatha ] | Artwoker: Keyunge Art | Cast: Jung Hyerim (APink), Byun Baekhyun (EXO), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Drama, Romance, Comedy | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

Prev : [ 1st-Chap ]

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]


.
—oOo—

H A P P Y R E A D I N G

Telinga kanan Baekhyun masih tetap memerah. Ia berulang kali mendinginkan telinganya dengan air dingin yang baru saja ia beli. Baekhyun mengerjap saat gadis itu berulang kali menendang mesin minuman dimana tak keluar apapun sedari tadi. Hyerim mengumpat dan melayangkan tinju seraya ingin memecahkannya. Ia mendengus dan mengambil ranselnya kasar. Mata mereka bertemu dan saat itu lah Baekhyun menyunggingkan senyumannya saat meletakkan minuman dinginnya dari telinganya.

“Tck! Tck! Kau memang pantas disebut ratunya mengumpat. Sungguh, aku tidak percaya jika kau adalah adik Yura noona. Sungguh tidak terduga”. BRAK!! Untuk kesekian kalinya Baekhyun terkaget saat ransel Hyerim dilemparkan begitu saja didepan mejanya. “Ya! Hah, baiklah”. Hyerim mengambil nafas dalam dan menghembuskan nafasnya pelan. Matanya terpejam dan kemudian mengambil ranselnya yang sebelumnya ia lemparkan. “Terimakasih. Sudah bukan sekali dua kali orang-orang mengatakan itu”. Lanjutnya. Tampak senyuman Hyerim terkesan dipaksakan, mengartikan bahwa ia sedikit tidak nyaman dengan pernyataan itu yang sudah cukup sering dilontarkan padanya.

“Kenapa? Kau tidak suka? Baiklah aku akan diam jika kau membantuku!” Baekhyun tak mempedulikan pandangan murka Hyerim, justru pria itu mengunyah snacknya yang sudah terbuka. “Tidak ada untungnya jika aku membantumu. Itu adalah urusan pribadimu, kenapa aku harus ikut campur?” Hyerim merebut snack Baekhyun dari tangannya, menyisakan tangan kosong Baekhyun yang hendak mengambilnya kembali.

“Karena kau adalah adiknya. Baiklah, aku akan memberikan apapun padamu. Bahkan, aku sudah diam dan tenang saat kau mengambil snack ku”. Kedua alis Baekhyun bergerak secara bersamaan, membuat Hyerim bergidik ngeri. Ia melempar snacknya asal sehingga jajanan renyah itu berserekan diatas meja. “Lihat! Kau benar-benar sangat jelek. Lebih baik kau pulang dan cuci mukamu. Dan lihat dengan seksama pantulan wajahmu dalam cermin. Kau sama persis seperti monyet. Aku pergi!”

Hyerim berjalan melewati Baekhyun yang masih terduduk. Meninggalkan rasa kekesalan yang teramat besar pada Hyerim. Ekor matanya memandang punggung mungil Hyerim yang sudah hilang di belokan. Walaupun begitu, Baekhyun bukan seorang yang pantang menyerah. Semenjak ia menyukai kakak tingkatnya sejak 3 tahun lalu, membuatnya mau melakukan sesuatu untuk membuatnya dekat dengan wanita pujaannya.

Sekalipun dengan cara mengemis pada Jung Hyerim untuk membantunya. Jika ia bisa akrab dengan adik sang Jung Yura, maka point terbesarnya adalah ia bisa dengan mudah berkunjung ke rumah mereka. Salah satu awal rencana Baekhyun untuk memulainya. Ya, ia harus melakukannya.

***

Jung Yura, gadis berumur 23 tahun itu saat ini sedang duduk di bangku tengah dalam kelas khusus perkuliahan bersama 9 orang anak lainnya, termasuk Jung Hyerim. Ekor mata Hyerim memandang seksama penampilan kakaknya dalam balutan dress krem dan bandana lembut berpita mungil. Sungguh, dia sangat cantik. Ia adalah gadis yang sangat cerdas dan bertalenta, mempunyai banyak penggemar karena keramahannya.

Merupakan mahasiswi yang banyak dikenal oleh banyak dosen, mahasiswi kebanggaan di Seoul University. Sebelumnya dia sudah 3 tahun berturut-turut masuk dalam jajaran 10 perfect student. Tidak ada yang bisa merebut peringkat pertama Jung Yura dalam 3 tahun berturut-turut. Masih dikatakan dalam tahun pertama Hyerim bisa masuk dalam jajaran itu, walaupun ia berada diperingkat terakhir, bisa saja tahun depan ia bergeser seiring dengan mahasiswa baru nanti.

Walaupun jarak mereka hanya berkisar 2 tahun, sifat Yura benar-benar sangat keibuan. Disaat seumur 20 an merupakan umur dimana seseorang menemukan cintanya dan bersenang-senang, Yura lebih memilih bergelut dengan buku dan bernyanyi. Sedangkan Hyerim, ia memang mempunyai bakat bernyanyi, tapi ia tidak terlalu mengasahnya. Baginya, bagaimana hidup dengan kebebasan dan tanpa ada satu orang pun yang ikut campur didunianya. Sebenarnya, dunia terindahnya adalah bertemu Kyungsoo dan tidur.

2 hal yang mungkin tidak akan pernah dilakukan Jung Yura. Tanpa melakukan apapun, keberuntungan akan berpihak padanya. Lamunan Hyerim buyar saat slide terakhir tertulis “Terimakasih” yang merupakan slide yang ditunggu Hyerim. Ia segera memasukkan buku-bukunya dengan tergesa-gesa, meninggalkan kesan tanda tanya Yura yang duduk disampingnya.

“Hyerim-ah, kau mau kemana? Kau tidak langsung pulang? Pulang malam lagi?” Hyerim menghentikan langkahnya dan mendapati Kakaknya menatapnya curiga. “Aku ingin pergi sebentar. Tenang saja, aku tidak akan meminum soju sendirian”. Yura mengedikkan bahu dan melanjutkan memasukkan bukunya. Sebelum Hyerim keluar, gadis itu berlari kecil dan menepuk bahu sang Kakak. “Apa?”

Telunjuk Hyerim mengarah pada syal Yura yang melekat pada lehernya. Tak sadar, diujung kelas ekor mata Baekhyun menatap mereka berdua. Terutama Hyerim yang saat ini menunjuk pada syal Yura. Secercah sunggingan bibir Baekhyun merekah. “Ini? Untuk apa? Kau sedang flu?” Yura melepaskan syal dan disambut dengan tarikan Hyerim hingga Yura hampir terhuyung. “Ya!” Hyerim tersenyum penuh arti dan meninggalkan Yura begitu saja.

Setelah Hyerim keluar, tentu saja Baekhyun segera berlari mengejarnya. Setelah beberapa lama mengikuti Hyerim sampai di penghujung belokan, gadis itu berhenti dan berbalik, menatap Baekhyun dengan tatapan tak suka. Hyerim melempar asal syal itu tepat didepan kaki Baekyun. “Ya! Apa yang kau lakukan?” Teriakan amarah Baekhyun tak membuat Hyerim luput mengubah ekspresi kesalnya.

“Tck, tck. Menyedihkan. Benar-benar tidak ada harapan bagi sasaeng sepertimu. Kau harus memperbaiki hidupmu tuan monyet! Mengemis hanya karena sehelai syal? Kenapa kau tidak makan pisang saja?” Tentu saja Hyerim kesal, pasalnya berulang-ulang kali ponselnya bergetar karena permintaan Baekhyun yang menurutnya sangat tak masuk akal. Ia harus melakukannya sebelum ia merasa berhalunisinasi dengan suara Baekhyun.

“Terserah kau saja. Ah ya, karena sebelumnya aku berjanji padamu untuk mengabulkan keinginanmu, sebagai awalnya aku akan mentraktirmu Jjangmyeon. Bukankah itu menyenangkan?” Hyerim berpikir sejenak. Ia memang tak suka Baekhyun, tapi jika menyangkut dengan makanan, sungguh Hyerim sulit menolaknya. “O.. Oke”.

Hyerim berbalik, meninggalkan Baekhyun yang masih menikmati aroma syal Yura digenggamannya. Lalu pria itu mendongak, mendapati Hyerim sudah berjalan meninggalkannya. “Ya! Saat jam malam datang di kedai depan kampus. Aku akan menunggu disana!” Dengusan Hyerim masih kentara saat kepulan embun dingin keluar dari mulutnya. Ia menggelengkan sejenak. “Dasar orang gila”. Tukasnya dalam hati.

***

Bukannya pulang ke rumah, Hyerim menuju balkon atas untuk sekedar menikmati angin sore. Bukan hal baru baginya jika tempat ini merupakan persinggahan ternyaman baginya. Membaca buku, mendengarkan musik, melamun, makan siang, membolos jam kuliah. Semuanya dilakukan ditempat ini selama 1 tahun.

Ia meregangkan tubuhnya sekedar memberikan kenyaman pada tulang-tulang yang ia rasa akan berjatuhan. Hawa dingin seakan menusuk kaos tipisnya yang seakan memintanya untuk segera menghangatkan dirinya. “Kenapa dingin sekali. Lagipula ini masih tidak terlalu sore. Aku…”

Hyerim terdiam. Kedua telinganya menangkap suara dengkuran lembut tak jauh dari pijakannya. Ekor matanya aktif menelusuri tiap sudut balkon. Bisa jadi jika ada seseorang berada disini. Ia mendongak tatkala kepala menyembul dibalik kursi panjang, kursi yang ia yakini sebagai tempat keramatnya ketika ia bersantai.

“Siapa dia? Beraninya dia merebut tempatku?” Hyerim menutup ranselnya kasar lalu tergopoh-gopoh menuju bangku. Tentu saja mengusir ‘dia’ yang berani merebut kursi emasnya. Ia tak ingin tempat keramatnya ini menjadi tempat tongkrongan asyik selain dirinya. Tidak akan pernah. Nafasnya memburu Hyerim seakan bersiap untuk disemburkan. “Ya! Kau! Kau ti..”

Seakan detik waktu berhenti mendadak, lidah Hyerim terasa kelu detik itu juga. Ia menelan salivanya lalu menutup mulutnya rapat. “Do.. Do Kyungsoo?” Lirih Hyerim. Mata kakinya mengendap seakan tak ingin suara sepatunya terdengar menganggu tidur pria pujiaannya.

Tanpa disadari, bibirnya tersungging senyuman. Rasa pipi memanas ketika melihat pemandangan yang benar-benar tak ingin hilang kesempatan begitu saja. Pahatan indah itu terlihat sempurna ketika cahaya sore membiaskan sinarnya, menerpa wajah tampan sang Do Kyungsoo ketika pria itu bersandar pada bangku dengan dengkuran lembut layaknya suara merdu.

Hyerim terus menjijitkan kakinya, mendekat ingin lebih seksama melihat wajah Kyungsoo. Bagaikan Surga pikir Hyerim. Tidur pun pria itu sangat sangat tampan. Kikikan lirih Hyerim membuatnya kembali menutup mulut, saat pikiran kotornya untuk mencium bibir tebal Kyungsoo layaknya cerita dongeng yang ia baca. Perasaan jantung berdebar yang disukai Hyerim. Sungguh, ia ingin waktu berhenti saat ini juga.

Ia duduk disisi Kyungsoo. Lebih memperhatikan wajah Kyungsoo lebih dekat. Tangan lainnya seraya melayang ingin menyentuh pipi Kyungsoo. Sungguh ia ingin, tapi Hyerim hanya mengigit bibirnya gemas untuk melawan rasa kekagumannya. “Tck, tck. Kyungsoo-ya, kenapa kau sangat tampan?” Hyerim memundurkan badannya dan bersandar, membuat tumpuan Kyungsoo sedikit bergoyang.

Alhasil, pria ber-title tampan, lembut, baik, suara indah dimana pujian itu terlontar terus dipikiran Hyerim kini terdengar erangan dari mulutnya. Pertanda bahwa ia terbangun, tentu saja Hyerim segera beranjak dan berusaha tak menampakkan kegugupannya. Apalagi jika ia berpura-pura membaca buku yang ia ambil tergesa-gesa dari ranselnya dan berjalan menuju sisi pojok balkon lainnya.

“Jung Hyerim?” Skak Mat! Hyerim menutup buku dan membalikkan tubuhnya dengan perasaan gugup bukan main. Ia berusaha memasang wajah termanisnya untuk Kyungsoo. “I.. Iya? Kau sudah bangun?” Tawa yang terkesan terpaksa membuatnya berusaha mencairkan suasana. Pria itu tersenyum bersamaan dengan gerakan tangan mengucek matanya. Sungguh, Kyungsoo begitu sangat lucu.

“Kau sudah lama disini?” Hyerim menggoyangkan tangannya penuh antusias. “Ti.. Tidak. Aku baru saja datang dan membaca bukuku. Aku tidak tahu kau ada disini”. Bohong. Tentu saja untuk menutupi keserakahannya menatap Kyungsoo beberapa menit lalu. Baru saja? Hyerim memang ratu dari segala ratu membalikkan keadaan. Konyol saja jika ia berkata ‘Aku sudah datang sedari tadi. Aku melihatmu tertidur, kau sangat tampan’. Rasanya ia sangat muntah jika ia mengatakan itu, benar-benar bukan dirinya. Walaupun pernyataan itu merupakan 100% fakta.

“Benarkah? Maaf sudah mengambil tempatmu. Terakhir aku datang kesini, aku menyadari bahwa tempat ini sangat nyaman. Kau tidak keberatan kan aku memakai tempat persembunyianmu?” Demi dewi fortuna yang saat ini sedang menikmati debaran Hyerim, tentu saja ia ingin berteriak sekencangnya. Jika itu Kyungsoo, Hyerim tidak akan bisa berkata ‘tidak boleh’ .

Anggukan Hyerim antusias membuat Kyungsoo tertawa puas. Kemudian ia menepuk sisi bangku, meminta Hyerim untuk duduk disisinya. “Duduklah. Sangat bagus jika kita menikmati matahari terbenam bersama”. Bagaikan kupu-kupu keluar dari perutnya, sungguh ia sangat bahagia. Moment langka dimana Hyerim bisa duduk berdampingan dengan Kyungsoo. Hyerim mengangguk senang dan sedikit berlari menuju bangku, tapi tak lama.

“Kyaaaaa!!” Jika waktu berjalan berputar cepat, mungkin wajah Hyerim sudah bertemu dengan badan bangku. Karena saat ini hanya berjarak 5cm antara mata dan badan bangku. Sungguh, bisa saja hidungnya patah karena ia melakukan ceroboh didepan Kyungsoo. Siapa lagi jika kejadian itu tidak terjadi? Tangan Kyungsoo sudah menahan lengan Hyerim kuat.

“Ya! Hati-hati, kau bisa terluka”. Kyungsoo melepas pegangannya bersamaan dengan Hyerim memundurkan langkah malu. “Te.. Terimakasih Kyungsoo-ya”. Pria itu tersenyum dan menatap setiap sisi tubuh Hyerim, berharap tak ada luka yang mengenai tubuhnya. Pandangannya berhenti kebawah, sepasang sepatu sneakers yang dipakai Hyerim dengan masing-masing tali terjuntai. Tentu saja Hyerim menyadari akan hal itu dan segera akan mengikatnya namun Kyungsoo menahannya.

“Kenapa kau bisa ceroboh sekali?” Kyungsoo berjongkok lalu memulai menalikan sepatu Hyerim, begitu juga dengan sisi lainnya. Dan bisa dipastikan bahwa pipi Hyerim memerah, rasa panas menjalar seakan berkumpul di kepalanya. Sungguh, antara senang dan malu. Perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. “Tck, kau sudah berumur 21 tahun. Apa kau tidak bisa menalikan dengan benar? Masukkan talinya ke dalam sepatu setelah diikat, itu tidak akan membuatmu terjatuh jika lepas”.

Penjelasan panjang lebar Kyungsoo didengarkan dengan baik, seolah itu adalah petuah penting baginya. Nasihat yang ia rasa seperti perhatian padanya. Mungkin dugaanya terlalu berharap tapi dia ingin seperti itu, seterusnya. Melakukan hal sekecil ini membuatnya seraya begitu manis. Suara kicauan burung menyadarkan Kyungsoo melebarkan pandangannya.

Langit semakin gelap dengan sedikit goresan emas di ujung sana. “Ahh, sudah hampir malam. Kau tidak pulang?” Hyerim mengerjap saat pandangan mereka bertemu. Rasa kelu dalam lidahnya berusaha ia tahan semampunya. “Sebentar lagi aku akan pulang. Kau bisa pulang terlebih dahulu Kyungsoo-ya”. Kyungsoo mengangguk dan mengambil ranselnya yang sempat menjadi bantalnya.

“Baiklah. Cepatlah pulang. Sebentar lagi makan malam. Lain kali kita bisa bertemu ditempat ini kan? Akan sangat menyenangkan jika kita bisa mengobrol lebih banyak lagi”. Tanpa sadar, pandangan mereka saling menusuk diantara 4 bola mata saling bertautan, seakan enggan untuk sekedar berhenti saling pandang. Senyuman lembut begitu kentara tampak jelas di sudut bibir Kyungsoo, sedangkan Hyerim hanya terdiam dengan ajakan Kyungsoo baru saja.

Degupan kencang yang susah dikontrol membuatnya tak bisa menjawab. Tahu Hyerim hanya terdiam membuat Kyungsoo menepuk kepala Hyerim lembut. Membuat kesadaran Hyerim kembali seperti semula. Hyerim mengangguk dan menatap punggung Kyungsoo yang sudah berbalik, menepuk kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun, tapi didalam mata Kyungsoo sangat tampak bahwa pria itu sangat nyaman berada disisinya.

Setelah tubuh Kyungsoo tak tampak di balkon gedung, kedua tangan Hyerim tergenggam kuat. Pipinya seakan tertarik kebelakang berusaha menahan senyumannya. Tapi sudah tak bisa ia membendungnya lebih lama. “KYAAAAAAAA!!!!!!!!!!” Gadis itu berteriak sekuat tenaga, membiarkan suaranya menggema diatas langit. Ia bahagia, sangat bahagia. Hari ini merupakan obrolan terpanjang yang ia alami.

”Kyungsoo! Kyungsoo! Kyungsoo! Kau tampan!!!” Hyerim berteriak sembari meloncat kecil untuk mengeluarkan kebahagiannya. Ia berlari kecil menuju bangku dan memeluk ranselnya erat-erat. Menatap guratan sinar keemasan yang sudah semakin tenggelam. “Hah, apa yang aku lakukan nanti malam untuk merayakan hal ini? Ke toko buku? Karaoke? Membeli DVD? Berbelanja? Ahh..” Hyerim menjentikkan jarinya, mengingat suatu hal yang sempat ia lupakan.

“Tck, aku lupa. Aku pergi makan malam dengan bocah tengik itu. Heol, aku akan membunuhnya jika sudah merusak mood baikku”. Hyerim mengambil ranselnya dengan langkah malas. Tentu saja, perayaan manisnya seakan hancur jika ia akan bertemu Baekhyun. Ia harus was-was sebelum suasana hati nya kembali buruk.

***

“Ya! Badak! Apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak suka menunggu! Ah ya, sebagai hukumannya, sebelum kau masuk bisakah kau membelikanku ice cream didepan sana? ” Baekhyun menjauhkan teleponnya, seakan tak ingin membuat gendang telinganya pecah jika mendengarkan suara teriakan di ujung sana.

“Aku tahu, aku akan membelikanmu lebih mahal lagi dari itu. Rasa Strawberry”. Baekhyun menutup teleponnya kasar dan merebahkan tubuhnya disisi pohon. Ia berulang kali menatap arlojinya yang sudah lewat beberapa menit yang lalu. “Gadis bodoh itu. Menunggu benar-benar bukan style ku. Tck, merepotkan”.

Berselang beberapa menit kemudian, perhatian Baekhyun yang awalnya tertuju pada ponsel kini mendongak. Tampak gadis didepannya sedang mengatur nafas sambil membawa ice cream di kedua tangannya. Ia mengacungkan ice cream strawberry pada Baekhyun, menampakkan senyum kemenangan. “Kuakui kau lambat, tapi kau akan aku maafkan”.

Hyerim, gadis itu meniup poninya kesal dan duduk di kursi tak jauh darinya dengan kasar. “Tck, kenapa kau harus memaafkanku? Ya! Jangan terlalu percaya diri. Tck, apa bagusnya ice cream? Strawberry? Heol, kau benar-benar sangat cantik”. Pelototan Baekhyun sama sekali tak membuat Hyerim jera untuk kesekian kalinya, justru semakin menjilat ice cream chocholate penuh nafsu, seakan amarah Baekhyun tak sebanding dengan nikmat ice cream nya.

Tanpa disadari pun, tatapan mereka tergolong jangka waktu yang cukup lama. Bagi Hyerim, jika ditelisik dan menelusuri lebih dalam bola mata Baekhyun, pria itu mempunyai selera humor yang tinggi walaupun menyebalkan. Disisi lain, Baekhyun menganggap bahwa Hyerim mungkin adalah gadis keras kepala dan kasar namun gadis itu mempunyai sisi lembut.

Sebanyak makian yang dilontarkannya, Hyerim masih membantunya. Sadar akan suasana yang sedikit canggung, Baekhyun menghentikan mengkulum ice cream nya. “Ya! Kenapa kau menatapku? Kau jatuh cinta pada pandangan pertama?” Justru Hyerim tertawa dengan nada seakan horor. “Ya! Kenapa aku harus menyukai monyet sepertimu? Kau bukan tipeku”. Hyerim kembali mengulum ice cream chocolate nya dengan santai.

“Tcih! Kau kira aku menyukai badak kasar sepertimu? Bukan hanya aku saja, pria lain pun tidak akan menyukai wanita berdada kecil sepertimu”. Hyerim mendelik dan menatap Baekhyun penuh murka. “Apa katamu!? Coba kau katakan lagi!!” Baekhyun bergeming kemudian tersenyum smirk, merasa menang dengan perdebatannya. “Ber – da – da – ke – cil”. Pria itu seakan menekan tiap kalimatnya membuat Hyerim beranjak dari kursinya, bersiap untuk menendang. “BYUN BAEKHYUN!!!!”

***

BRAK!! Hyerim melepas sepatunya dengan menganyunkan asal sehingga sepatunya jatuh tak beraturan. Ia menghempaskan tubuhnya kasar di sofa depan televisi. “Persetan dengan jjangmyeon. Penipu itu benar-benar membuatku ingin merobek mulut besarnya!” Mendengar adiknya mengomel di ruang tengah, membuat Yura yang berada di pantry mendekatinya. Dengan sebuah gelas juice anggur ia tawarkan pada Hyerim. Tapi Hyerim pun seakan malas untuk sekedar menatapnya. Yura menatap plastik hitam yang berada dipangkuan Hyerim.

“Ya! Hyerim-ah, kenapa? Tidak mengucapkan salam justru marah-marah seperti itu? Dan apa yang kau bawa?” Hyerim melirik sekilas bawaanya dan kembali menatap layar televisi didepannya. “Unnie, kau sudah makan malam?” Yura mengeryitkan dahi, merasa bahwa pertanyaannya tak dijawab. “Sudah. Kau bilang aku tidak perlu menunggumu makan malam, maka dari itu aku memasak sendiri. Kenapa? Kau belum makan malam?”

Hyerim menelan salivanya samar. Benar, dia tidak makan malam. Ia semakin erat memeluk plastik hitamnya. “Ah, masa bodoh!” Hyerim beranjak dan bergegas menuju ke lantai 2, meninggalkan Yura yang menatapnya kesal. “Ya! Kau mengatakan Unnie mu bodoh? Kau sekarang mengumpat lagi!?”

Suara pintu kamar terbanting, mengabaikan teriakan Yura yang berteriak padanya. Ia meletakkan plastik hitam diatas meja belajarnya dan menatapnya. “Byun Baekhyun, monyet bodoh itu”. Sekilas kejadian beberapa menit lalu terputar sempurna melewati sistem otaknya.

“Ya! Kau berjanji akan membelikanku jjangmyeon? Sampai kapan kau hanya mengajakku berkeliling seperti ini? Ya!” Merasa keluhannya tak dihiraukan, Hyerim menarik kerah jaket Baekhyun dan berhasil membuat pria itu menatapnya. “Apa?” Justru pria itu kembali bertanya, seolah janji yang dibuat beberapa jam lalu hilang dalam daftar perjanjiannya.

“Ya! Kau ingin mati!?” Hyerim semakin murka, merasa bahwa ia dipermainkan. Baekhyun tertawa dan mengangguk paham akan maksudnya. “Ahh, jjangmyeon?” Tentu saja Hyerim mengiyakan dengan antusias, karena cacing dalam perutnya sudah lapar meminta diberi makan. “Aku sudah membelinya”. Baekhyun menunjuk plastik hitam yang berada disepada yang selalu ia tuntun sedari tadi.

Bibir Hyerim mengerucut kemudian tersenyum penuh harapan. “Ya! Kenapa kau tidak bilang sedari tadi? Aku kan sangat lapar”. Hyerim segera mengambil plastik hitam itu dan bersiap untuk membukanya tapi Baekhyun mencegahnya. Ia menggelengkan kepalanya dan mengambil kembali dari tangan Hyerim. “Aku tidak pernah mengatakan jjangmyeon padamu. Ah, aku memintamu kesini untuk memberikan ini pada Yura noona. Aku dengar jjangmyeon disana enak, jadi aku membelikannya. Aku hanya bisa membeli satu. Dan jangan kau buka atau kau makan. Aku akan membelikanmu lain waktu. Jika kau, AGH!!! YA!! JUNG HYERIM!!!”

Hyerim menendang kaki Baekhyun berulang kali, membuat Baekhyun berusaha menghindar dan melindungi makanannya dari serangan gadis itu. “BOCAH TENGIK!! Aku akan menghajarmu!!!” Tanpa basa basi, Hyerim mengambil kasar plastik hitam dari tangan Baekhyun dan meninggalkannya. “Ya! Hyerim-ah! YA! Kembalikan! Badak bodoh! Ya!!!”

Hyerim mengacak rambutnya frustasi saat akan mengingat hal itu. Ia lapar, sangat. Ia tidak makan siang tadi. Ekor matanya menatap plastik hitam yang sudah terbuka setengah. Tanpa berpikir panjang ia membukanya lalu sebelum membuka pembungkusnya, ia mengocoknya. Memastikan bahwa bumbu dalam jjangmyeon sudah tercampur sempurna. “Masa bodoh ini darinya. Aku lapar. Aku akan membuat perhitungan dengannya besok! Ash! Kenapa aku ditakdirkan bertemu dengannya?”

Gadis itu terus memaki Baekhyun hingga santapan terakhirnya. Ya, ia jengkel. Selama hidupnya, ia tidak pernah bertemu dengan pria maniak atau sejenisnya. Orang yang sangat berisik, keras kepala dan banyak hal rasanya ia ungkapkan dalam satu kata. Monyet Byun, panggilan yang sangat cocok untuk seorang Byun Baekhyun. Hyerim merebahkan tubuhnya, mendinginkan sejenak pikirannya yang sempat memanas. Ia bersiap untuk melakukan suatu hal menyenangkan yang ia tunggu, apa lagi jika menendang Baekhyun – lagi.

 

NEXT?

 

Simple~ Jangan lupa kasi RCL. Jadilah reader yang baik. AKu usahakan seminggu sekali aku share disini ^^

 

by. L.Kyo

62 tanggapan untuk “[Chaptered] Heart Attack (2nd Chapt) | by L.Kyo”

  1. Banyak perubahan alur ya.. Di sini juga Hyerim kayanya lebih tomboy deh. Di banding H.A yang dulu pernah di post #gagal #MoveOn dari ff yg lalu 😀

  2. hyerim seneng banget karena bertemu sama kyungsoo, apa pikiran hyerim hanya di penuhi dengan bagaimana cara menendang baekhyun….next….chapter

  3. Thor, kyungsoo suka hyerimkan? Iyakaan?? Aku shipper mereka nih wkwkwk
    Aaaaakkk, hyerim baek lucu banget suka part mereka hahaha!:D aku jugs shipper mereka:) nah looo jd aku shipper sapa? Wkwkwk
    Keren thor!! Next chap jangan lama2 ya thorr!!^^ keep writing, ditunggu nih:3

    1. Aku juga shipperin mereka. Apalagi orang gesrek kek baek eunji gimana?? Akkk.. wakakakakak… eunji ama ungcoo berubah jadi kalem ^^~♡ oke. Ditunggu aja yah^^

  4. tingkah mereka itu loh.. gemesin… *jadi pingin aku tendang.. 😀 *#PeaceDamai #HanyaGurauan
    ditunggu NextChap’nya kak.. Hwaiting..

  5. menarik kak ff ny padhal aku bacanya baru di chap 2. Wah si hyerim baekki kayak tom and jerry. Lucu banget mereka.. Oke dech see u next chap.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s