[EXOFFI FREELANCE] Someone Like “You” (Chapter 3)

1454045374381

Title : Someone Like “You”

Author : pleuvoirbi

Main Cast : EXO’s Park Chanyeol || OC’s Nayla

Genre : Romance Comedy

Length : Chapter

Disclaimer : It also posted on my wattpad @pleuvoirbi

Summary : Ketika kau bertemu dengan idolamu tapi kau justru tak mengenalinya.

Chapter III

“Kau juga pasti akan merasa sangat senang kalau tahu siapa aku sebenarnya.” Lanjutnya lagi dengan tatapan yang sulit untuk kuartikan. “Kau masih belum mengenaliku?”

 

“Aku mengenalmu sekarang. Tentu saja.” Kataku yakin.

 

“Are you serious?” Dia nampak antusias. Bahkan matanya membulat sekarang.

 

Aku mengangguk yakin. “Kalau begitu siapa aku? Sebutkan!” Tuntutnya.

 

“Kau… adalah…” Aku menggantung kalimatku hanya karena tak tahan melihat ekspresinya saat ini. Untungnya aku bisa menahan tawaku untuk tidak keluar tapi ‘ku rasa bibirku melengkung ke atas sekarang.

 

“Why do you smile?” Dia bertanya sinis. Aku jadi mengulum bibirku ke dalam.

 

“Your expression, make me wanna laugh.” Aku tertawa dengan mulut tertutup.

 

“Are you kidding me? Cepat jawab. Apa kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?” Ucapnya tak sabaran.

 

“Tentu saja aku mengenalmu sekarang. Tadi kita baru saja berkenalan. Namamu Park Chan, kau sendiri yang bilang ‘kan?” Aku kembali dengan posisi duduk menghadap depan setelah sejak beberapa menit tadi kami duduk berhadapan.

 

Aku juga melihatnya melakukan hal yang sama denganku. Setelahnya aku mendengarnya menghela napas panjang.

 

“You said that you like EXO.” Uh… kenapa suara itu terdengar sangat familiar di telingaku.

 

“Yeah. I like them.” Akuku.

 

“So who do you like the most among them?” Dia bertanya dengan nada menyelidik.

 

“Chanyeol. I think I like him the most.” Sekon berikutnya dia menoleh ke arahku. Sontak aku juga melihat ke arahnya. Dan lagi, mata kami bertemu. Kembali desiran aneh itu kurasakan di sekujur tubuhku apa aku terlalu berlebihan a.k.a lebay?

 

“Kalian memiliki nama yang mirip.” Aku berucap dengan tetap melihat matanya.

 

Dia tak membalas kata-kataku. Dia malah melihat arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya.

 

“It has been midninght. We must go home.” Ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Membuat tubuh tingginya terlihat jelas.

 

“Baiklah. Aku akan kembali ke hotel. Bye…” Kami tak akan bertemu lagi ‘kan setelah ini. Jadi aku sekalian mengucapkan salam perpisahan. Aku melambaikan tanganku. Namun aku melihat tatapan sendu dari matanya, yang aku  tak tahu apa maksudnya itu. Aku pun  berbalik, melangkahkan kakiku yang entah kenapa menjadi sangat berat ini.

 

***

 

Di tanganku sudah ada tiket seharga 25.000 won. Dengan tiket ini aku hanya bisa sekedar menikmati pertunjukan yang ditampilkan di sini. Ya! aku sedang berada di Lotte World sekarang. Akhirnya aku bisa menginjakan kakiku di taman hiburan terluas ini.

 

Aku memutuskan untuk tidak menaiki wahana apapun. Karena tidak akan seru jika menaiki wahana seorang diri. Aku sangat beruntung berkunjung di waktu ini. Karena malam ini akan diadakan pertunjukan sinar laser.

 

Kini aku sudah berada di area magic island menunngu pertunjukan sinar laser yang akan dimulai sekitar 10 menit lagi. Tak lama pertunjukan pun dimulai.

 

Aku  tak henti-hentinya mengeluarkan suara seperti “woaaahh…” selama pertunjukan berlangsung. Ini pertunjukan yang sangat hebat. 25.000 won bukanlah uang yang sia-sia jika aku bisa menikmati semua pertunjukan dan berbagai parade unik di sini.

 

Berakhirnya pertunjukan ini menandakan berkahirnya juga petualangan singkatku di Seoul. Setelah ini aku akan langsung ke bandara untuk terbang ke Jeju.

 

***

 

Setelah satu jam perjalanan menggunakan pesawat akhirnya aku sampai di pulau Jeju. Kesan pertama yang aku rasakan saat keluar dari bandara adalah udaranya yang lumayan hangat, padahal ini sudah malam.

 

Dengan menenteng sebuah koper yang lumayan besar aku berjalan menuju seseorang yang menunjukan kertas putih bertuliskan namaku. Itu pasti pegawai hotel yang menjemputku, mengingat aku sudah memesan hotel sebelumnya.

 

“Nayla B… Bramantyo?” Tanyanya susah payah saat aku menghampirinya.

 

Nde… That’s my name.” Dia tersenyum. Dan mempersilahkan’ku masuk ke dalam mobil seraya memasukan koper ke bagasi.

 

Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya melihat ke luar jendela. Tak begitu banyak yang bisa dilihat saat malam seperti ini. Aku menurunkan kaca jendela ini, mencondongkan wajahku sedikit keluar. Menikmati angin malam Jeju yang menerpa wajahku. Sungguh aku merasa semua kesedihanku saat ini ikut terbang bersama angin yang terus melaluiku.

 

Entah sudah berapa menit perjalanan dari bandara, tapi sekarang aku sudah berada tepat di depan hotel. Aku menuju ke resepsionis.

 

“Reservation on behalf Nayla Bramantyo.” Ucapku segera setelah berdiri tepat di depan resepsionis wanita itu.

 

“Just a minute, I have to chaeck it.” Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.

 

Di saat resepsionis itu berkutat dengan komputernya, seorang pria tinggi dengan menggunakan masker menghampiri meja ini. Dia berbicara pada resepsionis itu dengan menggunakan bahasa Korea. Tunggu dulu suara itu sangat aku kenal. Kulihat lagi wajahnya yang masih tertutup masker itu, dia seperti tak menyadari keberadaanku disini. Apa aku terlalu kecil hingga orang ini tak dapat melihatku?

 

Tidak mungkin itu dia ‘kan? “Mworagu-yeo?” Aku mendengar satu kata itu keluar dari mulutnya. Setelahnya dia sedikit menunduk untuk melihatku. “You?” Ucapnya seraya menurunkan maskernya.

 

Ternyata benar dia. Si artis tak berduit itu. Aku memutar bola mataku malas setelah menyadarinya.

 

“Maaf nona, kami telah melakukan kesalahan. Kami benar-benar minta maaf.” Penuturan resepsionis itu membuat fokusku teralih padanya.

 

“What Happen?” Tanyaku padanya.

 

“Kamar yang anda pesan sudah dipesan sebelumnya oleh tuan ini. Sementara itu adalah satu-satunya kamar kosong yang masih tersedia. Kami benar-benar minta maaf nona.”

 

Aku menghela napas panjang. Kenapa aku harus terlibat masalah dengan orang ini lagi.

 

“Ya sudah aku akan mencari hotel lain saja.” Ya itulah keputusanku. “Uangku akan kembali ‘kan?” Lanjutku lagi.

 

“Yaa! Ini sudah malam. Tak ada taksi apa lagi bis yang akan lewat.” Kudengar suara berat nan datar itu.

 

“Tuan ini benar nona. Lagi pula sangat bahaya jika wanita di luar sendiri malam-malam begini. Untuk malam ini saja menginap lah dulu di sini.” Saran resepsionis yang cukup masuk akal. Aku hanya turis, sendirian dan wanita pula.

 

“Dia benar. Aku tak akan melakukan apa pun. Aku terlalu lelah bahkan hanya untuk berbicara dengan seseorang sekarang.” Chan berucap meyakinkanku.

 

***

 

Apa-apaan ini? Kenapa malah aku yang tidur di sofa sementara ia enak-enakan tibur di kasur king size yang harusnya aku tiduri dengan nyaman sekarang.

 

Aku tak bisa menutup mataku sekarang. Sementara dia sudah mendengkur. Memang aku yang mengalah melihat betapa lelahnya dia. Lihat dia sekarang benar-benar tertidur dengan sangat pulas.

 

Aku teringat dengan perkataan resepsionis tadi yang berbicara dengan temannya. Samar-samar aku mendengar mereka menyebut Park Chanyeol dan EXO. Aku tak mendengar semuanya. Tentu saja karena mereka bicara dengan menggunakan bahasa Korea.

 

“Hhh…” Aku menghembuskan napasku perlahan. Kenapa aku tak mengantuk sama sekali? Aku pun mengambil benda kotak tipis berwarna putih yang ada di dalam tasku. Tak ada niat tertentu aku hanya bosan.

 

Otakku menuntun ibu jariku untuk membuka galeri. Terlihat beberapa fotoku bersama keluargaku, Fani, dan Ryan. Di sana juga ada beberapa koleksi foto EXO. Aku pun membuka folder itu.

 

Foto pertama yang terlihat adalah semua member EXO-K. Begitu juga dengan foto yang kedua dan ketiga. Sampai di foto keempat menunjukan foto bias ku. Ya, Park Chanyeol.

 

Seketika aku membulatkan mataku. Sungguh aku sangat terkejut samapai jantungku rasanya akan keluar dari tempatnya. Aku memandangi foto ini dan orang yang sedang mendengakur itu bergantian.

 

“So why don’t you know me?”

 

“Kau juga pasti akan merasa sangat senang kalau tahu siapa aku sebenarnya.”

 

“Kau masih belum mengenaliku?”

 

Aku menutup mulutku mengingat semua perkataannya padaku saat itu.

 

Aku bangkit dari sofa dan menghampiri orang yang sedang tertidur pulas ini. Aku membandingkan foto ini dengan wajahnya. Lagi aku menutup mulutku dengan sebelah tanganku.

 

Sungguh rasanya aku ingin berteriak saat ini juga. Aku… satu kamar dengan… Park… Chan… Yeol…

 

Aku terus memandangi wajah tidur itu dengan masih menutup mulutku dengan telapak tanganku. Aku tak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaanku kali ini. Aku lebih dari sekedar senang tentu saja.

 

Aku bahkan tak bisa menghadiri konsernya. Tapi sekarang dia malah tepat berada di depanku dengan wajah tidur polos tak berdosa itu.

 

Aku menyentuh pipinya dengan ujung telunjukku. Sekedar memastikan dia nyata bukannya delusi semata.

 

Astaga! Ini nyata. Dia nyata! Orang yang hanya bisa kulihat dari video atau foto saja itu, sekarang ada di kamar yang sama denganku. Dia pasti menganggapku sangat bodoh selama ini. Bagaimana mungkin aku mengaku sebagai penggemarnya sementara aku tak mengenalinya.

 

***

 

“Eungh…” Suara berat itu memenuhi telingaku. Dia mulai menggerakan badanya ke sana-ke mari. Kulihat dia mengerjapkan matanya seraya meregangkan ototnya.

 

Aku memerhatikan itu semua dari kursi yang kududuki tepat di sebelah kasur ini. Dia berbalik dan kini menghadapku dengan mata yang masih sayu itu. Dia mengerjapakan matanya berkali-kali saat melihatku.

 

“Good morning…” Sapaku sambil menopang dagu dengan kedua tanganku.

 

Tiba-tiba dia terlonjak dari baringnya dengan ekspresi kaget yang sangat lucu. “Hahahaha…” Aku melepaskan tawaku saat itu juga.

 

“YA! Kau ingin membuatku terkena serangan jantung pagi-pagi  seperti ini? Kenapa juga matamu menghitam seperti itu? membuatmu terlihat sangat mengerikan!”

 

Aku hanya tersenyum ringan mendengar celotehannya. Dia bahkan terlihat sangat tampan dengan rambut acak-acakan seperti itu. Mataku menghitam? Tentu saja. Aku bahkan tak bisa tidur semalaman setelah mengetahui fakta ini.

 

“Kau benar. Aku sangat senang begitu tahu siapa kau sebenarnya.” Aku membenarkan perkataannya beberapa waktu lalu. Dan ‘ku rasa aku tak bisa berhenti tersenyum saat ini.

 

Dia menyipitkan mata bulatnya. “Kau sudah mengenaliku?”

 

Aku mengangguk.

 

Ya Tuhan… tolong aku. Dia bergerak mendekat ke arah ku. ‘Ku harap aku dapat menahan reaksi yang tertahan dalam tubuhku.

 

“Kau baru mengetahuinya sekarang?”

 

“Semalam lebih tepatnya.” Syukurlah aku bisa menahan diriku untuk tidak bereaksi secara berlebihan.

 

“How?”

 

“Aku menyadarinya setelah melihat lagi fotomu.”

 

Dia terdiam. Mungkin dia bingung. Baiklah akan aku jelaskan.

 

“Begini, aku tak bisa mengingat wajah seseorang yang belum pernah ‘ku lihat secara langsung. Jadi aku tak akan bisa mengingat wajahmu walau seberapa sering aku melihat fotomu.”

 

“Jadi kenapa kau bisa begitu yakin akan mengenaliku saat pertama kali kita bertemu?”

 

“Aku memiliki ingatan yang sangat payah. Sehingga aku bisa melupakan perkara memoriku yang tak bisa menyimpan sesuatu jika hanya dengan media foto ataupun video.” Jelasku lagi. “Kau pasti menganggapku bodoh ‘kan selama ini?”

 

“Ya. tentu saja. Tapi aku senang, Karena bisa dekat dengan seorang fan karena dia tak mengenaliku.” Dia lalu bangkit dari tempat tidur.

 

“Bersiaplah.” Katanya memerintah.

 

“Untuk apa?”

 

“Tentu saja untuk berlibur. Itu alasan kita kesini.” Ucapnya berkacak pinggang.

 

“Maksudmu?” Sungguh aku tak mengerti apa maksudnya.

 

“Habiskan waktu liburanmu bersamaku.” Dia melangkah menuju kamar mandi. “Ah satu lagi. Hilangkan lingkaran hitam di matamu itu.”

 

To Be Continued…

 

Hiii… akhirnya chapter 3 selesai. Gimana part ini? flat? Gaje? Kadar ngayal nya ketinggian? Aku tunggu respon kalian ya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Someone Like “You” (Chapter 3)”

    1. Huhu… maaf banget ceritanya emang super absurd bin gaje. Tapi aku dah jelasin kan kenapa dia sampe gak ngenail si cy… sekali lagi neomu mian kalo ceritanya gak masuk akal huhu…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s