[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 3)

ShadowedCov

Title: Shadowed

Author: kirishou

Length: Chaptered

Genre: Dark Romance, Slight!Angst, Mystery, Psychological

Rating: PG-15

Cast: Kim Jongin | Rena Hwang | Other cast will be unveiled
Dislaimer: I just claim the plot. Cast’ are forever God’s and their families’. Posted on my FB acc under the same title.

*****

Summary:

Saat Rena harus memilih antara kekasihnya, Kim Jongin atau lelaki di balik bayangan yang hampir setiap malam mengabiskan waktu dengannya.

***

CHAPTER 1 | CHAPTER 2

 

 

***

Chapter 3

*****

 

Hampir tiga tahun Yoonji bersahabat dengan Rena. Mereka bertemu setelah kejadian pemerkosaan itu, namun Rena menceritakan peristiwa itu pada Yoonji. Yoonji mengerti kepribadian Rena dan seluruh luka batin yang ditanggungnya. Ia mengetahui kejadian tiga tahun lalu itu lebih baik dari siapapun, disamping Kris tentu saja. Soal Jongin, toh lelaki itu tak mengingat apapun soal kejadian tiga tahun tersebut, jadi mungkin dia diluar daftar.

Rena sangat bersyukur dapat mengenal Yoonji yang begitu mengertinya. Namun untuk saat ini, sebagaimanapun Yoonji berusaha meyakinkan Rena bahwa ia tak seburuk yang dipikirkannya, tidaklah berarti. Rena terlanjur mengenal dosa-dosanya, kesalahannya, sehingga tak mudah untuk memaafkan dirinya sendiri.

Bell yang terpasang di pintu masuk berdering, menandakan seseorang telah membuka pintu kafe itu.

“Selamat datang di—“ Yoonji memotong sapaannya dan memutar bola matanya melihat siapa yang datang. “Ternyata cuma kau,” cibirnya.

“Hai semua,” sapa Kris dengan senyum lebar. Baik Rena maupun Yoonji kembali sibuk ke pekerjaannya, mengabaikan Kris, membuat lelaki itu cemberut. Kris akhirnya berjalan ke kasir, dimana Yoonji berdiri. “Aku mau americano,” pinta Kris dengan wajah masam yang dibuat-buat. “Oh iya… Yoonji saja yang membuatnya, aku ada perlu dengan Rena. Penting,” tambahnya.

Jika saja Kris tak menambahkan kata ‘penting’ di ujung kalimatnya tadi, mungkin Yoonji akan melempar tatapan mematikan kepada lelaki jangkung itu. Namun bukan tatapan membunuh, kini Yoonji menatap Kris kemudian Rena penasaran.

Rena mengikuti langkah Kris yang akhirnya mengambil meja dekat jendela yang cukup jauh dari kasir, memungkinkan Yoonji tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Rena dalam kesamaran meneliti wajah Kris, dan hal itu membuatnya gugup. Bukan apa-apa, hanya saja garis tegang yang muncul di wajah Kris benar-benar membuatnya tak nyaman. Rena sudah terlalu terbiasa dengan ekspresi datar lelaki itu.

“Ada apa?” tanya Rena penuh rasa penasaran, juga kecemasan.

“Peraturan limitasi penyelidikan untuk kasusmu akan segera disudahi, Ren. Kita perlu menemukan pelakunya. Jadi aku mohon katakan padaku segala yang kau ketahui. Segalanya,” ujar Kris tanpa basa-basi.

Rena diam, tatapannya mengambang, wajahnya mulai memucat.

“Rena, kumohon. Ini demi kau juga.”

Hening.

“Aku tidak tahu apa-apa lagi,” jawab Rena lemah pada akhirnya.

“Kau pasti tahu sesuatu. Dan kau tak mengatakannya saat investigasi tiga tahun silam.”

“Tidak. Hanya itu yang aku tahu,” balas Rena datar.

Udara tiba-tiba terasa begitu dingin dan Rena ingin lari dari situ sekarang juga. Ini bukan yang Rena inginkan. Rena tidak bisa menatap Kris karena lelaki itu pasti akan menyadari kejanggalan yang Rena usahakan untuk tetap tersembunyi.

“Omong kosong! Aku tahu kau tidak mengatakan segalanya saat kami menanyaimu setelah kejadian,” sergah Kris tajam.

Kris mulai frustasi. Tiga tahun dan Rena masih belum berniat untuk membuka mulutnya. Kris lelah hanya menunggu Rena mengakui segalanya, karena Kris tahu batapa keras kepalanya wanita itu. Tapi hanya Rena lah satu-satunya sumber informasi mereka. Hanya Rena yang tahu segala yang terjadi. Tentang pemerkosaan atas dirinya, juga tentang pembunuhan terhadap Jinho.

“Aku sudah mengatakan segalanya, Kris,” aku Rena, mencoba meyakinkan Kris.

“Kau pikir aku percaya saat kau bilang kau diperkosa oleh orang asing yang kebetulan kau lewati malam itu?!” balas Kris sama tajamnya.

Rena mengerjap kemudian menatap Kris. “Kenapa kau tidak mempercayaiku?” tanya Rena, nada di suaranya terdenggar benar-benar terluka.

Rena berusaha terlihat yakin. Ia menggigit lidahnya sendiri, ia ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Tapi sungguh, hatinya sakit setiap kali harus berbohong kepada Kris. Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu menyembunyikan apa yang ia rasakan kepada sahabatnya itu.

Tapi Rena tak memiliki banyak pilihan. Mengatakan kejujuran sama seperti mencoba membunuh dirinya sendiri, juga membahayakan orang-orang terdekatnya. Dan Kris bukanlah pengecualian.

Kris memijit ringan pelipisnya, mencoba mengontrol emosi. “Maaf,” ujarnya pendek. “Maaf, Rena. Tapi jika kau ingat yang lainnya, berjanjilah untuk mengatakannya padaku.”

Dan Rena mengangguk. Mengiyakan hal yang akan selalu ia ingkari.

Kris menarik nafas panjang, wajahnya terlihat lelah. Rena ingin menenangkan sahabatnya itu, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Atau mungkin mengatakan kejujuran kepadanya. Tapi tidak bisa, setidaknya tidak sekarang.

Rena akan menunggu kasusnya benar-benar ditutup dan mungkin ia akan menceritakan segalanya kepada Kris. Ia akan menunggu saat yang tepat karena ia hanya tak ingin hukum mengancam ‘dia’.

 

*****

-Flashback-

“Pagi, Ren,” sapa Jongin dengan senyum penuhnya.

Rena buru-buru menutup buku catatannya, menghentikan aktivitas apapun terhadap lembaran-lembaran disana.

“Oh… pagi, uhh, Jongin,” Rena balas tersenyum sembari jiwanya mencoba menenangkan detak jantungnya yang meliar.

“Kau sedang apa?” mata Jongin melirik buku catatan bersampul biru di atas meja dan mencoba meraihnya.

“Tidak!” reflek Rena, meraih terlebih dahulu buku itu dan mendekapnya erat. Wajah putihnya kini diwarnai rona merah yang samar. “Maksudku ini… ini semacam buku harian,” ujar Rena tanpa menatap mata Jongin.

“Kau menulis buku harian?” tanya Jongin, alisnya meninggi.

Rena mengangguk pelan. Jongin memiringkan kepalanya dan menatap Rena dengan tatapan merajuk, bibirnya mengerucut. Oh ya Tuhan! Jika saja lelaki itu tahu bagaimana ekspresinya saat itu hampir membius Rena.

“Aku boleh lihat, ya? Kumohon,” pinta Jongin memelas.

Rena menatap Jongin dengan tatapan tak percaya, tangannya semakin erat memeluk buku catatan itu. Gila! Mana mungkin Rena akan menunjukkan muntahan pelangi dari hatinya yang ia tuturkan di catatan itu kepada lelaki yang menjadi alasan kegilaannya itu.

“Selamat pagi, Rena, Jongin,” suara berat itu membuat keduanya berhenti melakoni drama pendek tanpa arti mereka. Keduanya memutar kepala dan menghadap ke lelaki yang menyapa mereka yang tak lain adalah dosen mereka.

“Selamat pagi, Mr. Jinho,” jawab keduanya bersamaan.

“Apa yang kau pegang itu, Rena?” tanya si dosen, matanya jatuh ke buku catatan yang masih dalam perlindungan Rena.

“Bukan apa-apa,” jawab Rena sembari tersenyum, tangannya yang menggengam buku itu turun untuk memasukkan buku itu ke laci mejanya.

Mr. Jinho mengangguk santai kemudian berlalu.

*

Jongin mengajak Rena ke kantin pada jam istirahat hari itu. Rena tak memerlukan banyak waktu untuk menerima ajakan Jongin. Ia mengemas barang-barangnya yang berserakan di atas meja ke dalam tas sebelum keluar kelas. Tak menyadari meninggalkan sesuatu di sana.

Rena baru menyadari ada sesuatu yang hilang setelah makan siang saat ia berusaha mencari dompetnya di dalam tas. Buku catatan Rena. Ia meninggalkannya di laci kelas Sejarah. Rena ingin menepuk keningnya, merutuki kecerobohannya.

Rena segera kembali ke kelas, bergerak langsung ke mejanya dan memeriksa apakah buku biru itu masih disana. Ia menghela nafas menemukan benda itu masih tergeletak di laci mejanya. Reflek Rena membuka-buka kembali buku itu, sekedar memastikan itu miliknya.

Dan itu memang miliknya. Hanya saja ada yang berbeda. Mata Rena melebar heran dengan perbedaan yang ia temukan. Buku itu cacat di beberapa lembarnya, dan dari kecacatannya Rena tahu seseorang telah merobeknya. Dan yang makin membuat Rena berkerut heran adalah… bahwa hanya lembaran yang berisikan tentang Jongin yang disobek dari sana.

-Flashback End-

 

*****

 

“Hari ini tidak seberapa. Kemarin malam aku hampir membeku gara-gara pemanas ruangannya mati karena pemadaman bergilir,” oceh Rena mengomentari cuaca hari ini yang begitu tak bersahabat baginya.

Jongin hanya tertawa kecil. Awalnya Rena berpikir Jongin akan cepat bosan mendengarkan setiap komentar tak pentingnya akan segala hal kecil yang mengganggunya. Tapi ternyata tidak, Jongin malah mengatakan ia sependapat dengan Yoonji dan Kris bahwa ocehannya itu membuatnya terlihat lucu.

“Kalau begitu sebaiknya kau menyingkirkan selimut lamamu dan beli selimut baru yang lebih tebal,” balas Jongin ringan.

Mata Rena memicing ke arah Jongin dnegan tatapan tak suka yang dipaksakan. “Aku sudah bilang kan, selimut ini akan selalu menemaniku,” tangan Rena menyeret selimut rilakkuma biru ke dalam dekapannya.

Jongin memutar bola matanya setelah melihat betapa posesifnya Rena terhadap selimut kesayangannya itu. Well, itu tidak menjadi sebuah kejutan mengingat betapa Rena mengagumi apapun yang berbau rilakkuma.

“Baiklah, terserah,” jawab Jongin.

Rena tersenyum , matanya meneliti mata Jongin dalam remang. Dan ia begitu mengagumi sinar mata Jongin yang terlihat berbinar meski berada dalam keadaan remang seperti saat ini. Rasanya Rena ingin menatap mata itu selamanya, tenggelam di dalamnya.

Jongin yang semula hanya membiarkan Rena menatap matanya mulai menggerakkan tangan. Menelisikkan jemarinya ke tengkuk Rena dan membuat jarak wajah keduanya semakin tipis. Rena menutup matanya ketika ia merasa angin hangat menerpa wajahnya, menunggu apapun yang nantinya terjadi.

Dan bibir Jongin bertemu bibirnya. Ringan, lembut, tanpa tekanan, membuat kepala Rena seakan ingin terpisah dari tubuhnya dan melayang. Rena membiarkan sentuhan Jongin membuatnya kehilangan kendali dirinya sendiri hingga ia tak begitu menyadari ciuman yang awalnya ringan itu mulai memercikkan api.

Rena membuka matanya perlahan dan baru menyadari beberapa hal. Pertama, ia telah berbaring di ranjang. Kedua, Jongin di atasnya, masih menciumnya dengan intensitas dan level yang lebih menantang.

Tubuh Rena seakan terbakar. Ia begitu mencintai Jongin dan ia tahu ia akan melakukan apapun untuk Jongin. Apapun untuk mengobati setiap luka yang dibuatnya pada hati malang Jongin.

Rena merasakan satu tangan menyusup masuk ke dalam kaosnya dan mengusap ringan punggungnya. Membuat sensasi merinding yang hampir membuatnya gila. Namun kemudian semua itu terhenti.

Rena membuka matanya karena kaget, tak siap saat sentuhan hangat Jongin lepas dari dirinya. Kamar itu sekarang diselimuti keheningan yang terusik oleh dera nafas terengah dari keduanya. Rena menatap penuh tanya kepada Jongin yang kini duduk di ujung ranjang sambil menundukkan kepalanya.

Jongin kemudian mengangkat kepalanya perlahan, namun matanya tak lantas menemui mata Rena. Tatapan Jongin berhenti di satu titik, seakan titik itu menghentikan Jongin untuk menatap wanita di hadapannya. Jongin menatap ke arah leher Rena dengan tatapan sendu, ragu dan… terluka.

Rena menyadari isi tatapan Jongin dan barulah ia menyadari bahwa apa yang benar-benar ditatap Jongin bukan sekedar lehernya. Jongin menatap bekas-bekas yang ‘lelaki itu’ tinggalkan di lehernya. Wajah Rena memucat. Jongin kembali tersakiti, dan lagi-lagi karenanya.

“Jongin…” panggil Rena lemah, jantungnya berdebar keras, membuat rasanya sesak untuk bernapas.

“Ma-maaf,” gumam Jongin. “Aku… maafkan aku,” tambah Jongin lemah, tatapannya ia rendahkan kembali sebelum berdiri dari ranjang.

Rena menggigit bibirnya, jantungnya berasa ingin meledak mendengar Jongin mengucapkan kata maaf. Kenapa Jongin meminta maaf kepadanya? Jongin tak melakukan kesalahan apapun. Jikapun harus ada kata maaf, seharusnya itu keluar dari mulut Rena, bukan Jongin. “Jongin, aku—“

“Tidak, Rena,” potong Jongin. “Aku… kurasa aku harus pergi,” gumam Jongin sedetik sebelum meraih tasnya dan keluar dari apartemen Rena.

Tinggal Rena disana. Masih pada posisinya, duduk di atas ranjang menatap kepergian Jongin bahkan setelah lelaki itu sudah tak masuk dalam jangkauan pengelihatannya.

Tanpa sadar air mata menetes dari mata kiri Rena. Dan Rena membiarkannya terus menetes hingga membuat aliran di pipinya. Isakan di tenggorokannya pun tak ia coba tahan. Ia memeluk dirinya sendiri, menahan kesepian dan keheningan tanpa kehangatan yang melingkupi apartemennya.

Rena benci semua ini. Ia benci dirinya sendir. Dari semua orang di dunia, kenapa harus dirinya? Kenapa takdir tak memilih orang lain untuk dipermainkan? Untuk dihancurkan hidupnya?

 

*****

Kapanpun Rena merasa tak tenang, tak tenang dalam artian yang benar-benar berat hingga ia akan terganggu bahkan oleh satu sentuhan kecil, ia akan pergi ke taman dekat komplek perumahan tempat tinggal Kris dengan membawa satu kotak susu coklat kesukaannya.

Ada satu titik di tempat itu yang jarang terjamah orang karena letaknya yang memang agak tersembunyi dan akses jalan yang cukup sulit. Disanalah tempat persembunyian Rena, dan selama ini, hanya Kris yang mengetahuinya. Well, itupun karena mereka berdualah yang menemukan jalan ke tempat itu saat mereka kecil.

Rena sadar saat itu sudah mendekati jam kerjanya, namun ia tetap duduk di sana, bersandar di salah satu pohon yang begitu dikenalnya sejak lama. Rena dapat merasakan getar ponselnya namun tak berniat untuk mengindahkannya. Ia sedang tak ingin mendengar omelan Yoonji tentang keterlambatannya lagi.

Langkah kaki di atas rumput terdengar jelas mengingat saat itu suasana masih cukup damai. Rena tetap diam bahkan saat seseorang muncul dan mendudukkan diri di sampingnya, bersender pada pohon yang sama dengannya.

Sebuah tangan besar menepuk pundaknya. Hangat hingga membuat Rena ingin memejamkan matanya. Tangan itu bertengger di pundak Rena, namun ibu jarinya tak diam, mengusap ringan area yang dihinggapinya. Rena dapat mendengar orang di sebelahnya itu menghela nafas.

“Hei,” sapa Kris lembut. Rena tak menjawab, masih memejamkan matanya. “Kau ingat, ibumu pernah mengomel soal selimutnya yang hilang. Dan aku kena semprotannya juga,” ujar Kris dengan senyum ringan. Rena pun sama, tersenyum kecil mengingat kenangan itu. “Tapi memang aku juga nakal, sih. Aku yang membawa selimut itu kesini untuk menjadi alas piknik dadakan kita,” lanjut Kris.

Rena tertawa kecil, merasa beban di pundaknya terangkat sedikit. “Aku ingat duduk disini dan terus mendengarkan curhatanmu tentang orang yang kau sukai saat SMA,” respon Rena.

Rena terkadang merasa takjub dengan Kris, ia mengagumi bagaimana Kris bisa membuatnya tenang dan kembali merasakan kebahagiaan dengan kedewasaannya, dapat membuat Rena jengkel setengah mati dengan menjadi tipe manusia menyebalkan dengan kebodohannya sedang di lain waktu ia dapat memojokkan Rena dengan keseriusannya.

“Oh ya tentu, kau juga sering mencibir tentang impianku masuk akademi polisi,” balas Kris lagi, suaranya terdengar kesal namun senyum tak menghilang dari wajahnya.

Rena kembali terkekeh. “Tapi sungguh, saat itu aku tak bisa menahan tawa membayangkanmu memegang senjata api dengan tangan bergetar dan keringat dingin bercucuran,” Rena masih tersenyum, bukan senyum lebar, namun siapapun dapat melihat keaslian dari senyum itu, seakan terukir tanpa paksaan tanpa beban.

Kalau dipikir-pikir kembali, Rena menyadari bahwa dua tahun terakhir ini ia hanya bisa tersenyum seperti itu ketika bersama Kris, Yoonji atau Jongin. Di samping memang siapa lagi yang dekat dengannya, hanya mereka.

Dan bicara tentang Jongin. Hal seperti kemarin malam bukan pertama kalinya terjadi. Sebelumnya pernah begitu, namun Rena tetap merasa hatinya hancur setiap kali kejadian seperti semalam itu terjadi. Oh bagaimana hatinya tak hancur melihat binar mata Jongin yang penuh luka?

“Yoonji mencarimu,” ujar Kris mengubah topik. Ia tak menanyakan alasan kenapa Rena berdiam di tempat itu, ia hanya ingin Rena merasa bahwa ia tak sendirian setiap kali sesuatu menimpanya. “Dan dia malah menghubungiku, memaksaku untuk menemukanmu,” tambah Kris sebelum berdiri. “Ayolah… kau punya kehidupan untuk diurus, Ren,” Kris mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk Rena berdiri. “Ayo pergi sebelum Si Pirang Blasteran itu mengamuk dan memutuskan untuk meledakkan apartemenmu.”

Rena meraih tangan Kris, bibirnya kembali mengeluarkan tawa kecil atas apa yang Kris katakan tentang Yoonji.

 

*****

“Selamat datang di Quadri Caffe,” Yoonji terdengar menyapa salah satu pelanggan yang baru memasuki kafenya. Ia berusaha menahan matanya untuk tak meneliti pelanggan yang satu ini.

Yoonji memang tak begitu menelitinya, namun figur yang baru masuk itu cukup jelas terlihat dalam tiga detik tatapannya. Mata besar dan telinga lebarnya menjadi hiasan paling menonjol di wajahnya yang terbilang tampan. Dan tingginya yang tak normal itu, cukup mengingatkannya kepada Kris. Tapi yang satu ini kelihatannya masih duduk di bangku kuliah.

Pemuda itu berhenti tepat di depan meja kasir. “Aku pesan french vanilla dan blueberry cheesecake,” ujarnya dengan senyum lebar, memamerkan deret rapih giginya.

Yoonji membalas dengan senyum sopan. “Totalnya 12000 Won, ada tambahan?” tanyanya.

“Tidak, terima kasih.”

“Baik, silahkan duduk dan mohon tunggu sebentar.”

Pemuda itu berjalan ke salah satu bangku di samping pintu masuk sedangkan Yoonji bergegas ke dapur untuk menyiapkan pesanannya.

Ia mendekati Rena yang tengah sibuk mengelompokkan cake yang akan dipajang di etalase kafe kemudian menyenggol pelan lengannya. Melihat tak ada respon berarti atas senggolannya itu, Yoonji memanggil namanya.

“Ren,”

“Hmmm?”

“Kau tahu, ada pelanggan baru disini, ini sudah kunjungan hari keempatnya berturut-turut,” bisik Yoonji meski ia tahu siapapun di luar sana takkan mendengar percakapan mereka.

“Lalu? Bukankah itu bagus, satu lagi pelanggan tetap,” balas Rena enteng.

“Masalahnya aku tidak terlalu yakin dengannya,” komentar Yoonji. “Orang itu… selalu tersenyum.”

“Ya Tuhan, Eonnie. Kau mempermasalahkan orang itu murah senyum?”

“Bukan begitu… hanya saja… senyumannya terlihat aneh, apalagi dengan mata besar dan telinga lebarnya. Ya ampun, dia sudah mirip alien di serial yang sering kakakku tonton,” racau Yoonji mulai melantur.

“Sungguh, Eonnie?” Rena memutar bola matanya malas.

“Bukan hanya itu! Saat aku berjaga, aku beberapa kali melihatnya melirik ke kasir.”

Akhirnya Rena menghadapkan badannya ke arah Yoonji, memberikan wnita itu sedikit perhatian. Namun bukan merespon kecurigaan Yoonji, Rena malah mengatakan hal lain. “Kau masih mau menjelek-jelekan pelanggan itu di sini atau mulai mengantarkan pesanannya?”

Yoonji reflek menepuk keningnya kemudian bergegas menyiapkan pesanan pemuda itu. Setelah pesanannya ia susun di nampan lengkap dengan garpu dan tisu, ia berjalan cepat keluar mengantar pesanan itu.

Rena menggeleng ringan atas tingkah Yoonji. Ia baru saja ingin melanjutkan pekerjaannya sebelum niatan itu ia urungkan kembali karena getar ponsel yang ia rasakan di saku celananya. Keningnya mengernyit, wajahnya menegang melihat nomor tanpa nama yang sudah begitu ia hafal muncul di layar ponselnya.

Ia melirik ke luar dan memastikan Yoonji masih sibuk di bagian kasir sebelum mengangkat panggilan itu.

“Halo,” sapa Rena, berusaha terdengar biasa.

“Kau tahu kan kenapa aku menghubungimu?” suara berat seorang lelaki dari si penelpon terdengar.

“Ya,” jawab Rena ringan.

Well, hanya memastikan,” suara itu berhenti sesaat. “Dimana kau sekarang?”

“Masih di kafe.”

“Hmm… baiklah. Hanya, jangan terlambat,” suara itu kembali mengingatkan.

“Tidak akan,” jawab Rena.

Rena menutup sambungan teleponnya dan baru menyadari Yoonji yang berdiri tan jauh darinya dnegan tatapan aneh ditujukan ke arahnya.

“Siapa?” tanya Yoonji, mulai memiliki firasat tak enak.

Rena menghela nafas sebelum menjawab. “Dia.

Rena dapat melihat wajah Yoonji seketika terlipat tak suka. Yoonji menatapnya menuntut penjelasan lain. Namun beruntungnya, bell pintu kembali berbunyi, membuat Yoonji bergegas kembali ke pos jaganya di kasir.

Rena menghela nafas lega karena kali ini ia terselamatkan oleh kesibukan Yoonji. Ia mengangkat kembali ponselnya, memainkan jemarinya hingga layar datar ponsel itu menampakkan catatan panggilan masuk terbaru. Ia mengetuk ringan nomor paling atas yang muncul dan menghapusnya dari deretan nomor yang menghubunginya. Tidak akan jadi hal yang bagus jika Kris menemukan nomor itu dan mempertanyakannya.

 

 

 

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 3)”

  1. Siapa coba “dia” dri chap 1 smpai chap 3 blum jga trungkap, penasaran bngt. Itu Chanyeol ya yg jdi pelanggan baru di cafenya Yoon ji, ciri2 nya kaya iya deh. Next chapter nya thor ditunggu, fighting!!!

    1. Pensarannya tahan dulu dehh, soalnya masih ada karakter yang belum muncul.
      Hmm, mungkin emang chanyeol… tapi dia kesitu ngapain emang *lho kok saya yang tanya*
      Btw makasih udah baca+komen ^^

  2. kayaknya cowok yang jd pelanggan baru itu chanyeol deh, aku bener nggak thor?? soalny ciri-ciriny itu, tapi yah sdhlahh, kita lihat di cerita berikutnya saja. Next yah tor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s