[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 2)

cfs

Title : Confession

Author : pleuvoirbi

Main Cast : EXO’s Kai || OC’s Song Jaerin

Genre : friendship | romance | comedy(failed) | school life

Length : Chaptered

DC : It’s just a fiction. I own the plot and OC. Don’t plagiarism. Hope you like it…

Author’s Note : Jangan heran kalau liat nama authornya beda. Well it’s the same person anyway. Author yang satu ini emang suka ganti2 pen name. Selamat membaca… semoga pada suka.

Chapter II

Dengan setia Kai duduk di bangku panjang itu-menunggu Jini yang tengah rapat mendiskusikan sesuatu dengan Kyungsoo dan beberapa anggota lain.

 

Ya, ini akan menjadi salah satu kegiatan Kai setelah ia resmi berpacaran dengan Jini. Kai adalah tipe pacar yang protective sebenarnya. Lihat saja, dia tetap kekeuh menunggu Jini dan mengantarnya pulang, walau Jini sudah bilang ia akan pulang sendiri karena tak ingin membuat Kai bosan menunggu.

 

Sudah hampir setengah jam ia menunggu dan tak ada tanda-tanda rapat itu akan segera berakhir. Handphone-nya yang sedari tadi mengoperasikan game pun sudah kehabisan baterainya. Jadilah ia semakin bosan. Ia menepuk jidatnya. “Kenapa tak terpikir dari tadi?” Gumamnya.

 

Dengan semangat ia berjalan menuju ke arah selatan dimana lapangan basket indoor berada. Pendengarannya menangkap suara pantulan bola yang berbenturan dengan lantai saat ia mulai mendekati ruangan yang luas itu. Seingatnya hari ini bukanlah jadwal latihan basket. Kai mempercepat langkahnya untuk memastikan siapa sang pemantul bola itu.

 

Kai mengerutkan keningnya begitu mendapati siapa yang tengah asyik memantul-mantulkan benda bundar itu.

 

Seorang siswi dengan rambut yang diikat tinggi. Menggunakan atasan seragam sekolahnya dan celana training yang menutupi hanya sampai lututnya sedang men-drible bola itu. Kini ia bersiap untuk melakukan Shooting dari jarak yang cukup jauh dari ring. Dan bingo! Dengan mulus bola itu masuk melewati ring.

 

Kai bertepuk tangan menyaksikan itu. Refleks gadis itu berbalik menghadap gerbang masuk yang sedari tadi dibelakanginya. Dia tak menunjukan perubahan ekspresi pada wajahnya. Dia malah melipat tangannya di bawah dada.

 

“Ada apa kau ke sini? Hari ini tak ada jadwal latihan basket.” Tutur gadis itu sinis. Dan jangan lupakan tatapan mematikannya itu.

 

“Aku tahu. Tapi bukan berarti aku tak boleh ke sini ‘kan?” Kai berjalan mendekati gadis itu.

 

Gadis itu membuang napasnya kasar. Lalu mengoper bola itu pada Kai dan berjalan menuju tasnya yang tergeletak di pinggir lapangan.

 

“Ya! Song Jaerin! Apa kau masih kesal dengan hal itu?” Teriakan Kai menggema di ruangan itu.

 

“Bukan urusanmu!” Jawab Jaerin ketus tanpa melihat ke arah Kai. Kini Jaerin sudah menggendong ransel hitam pekatnya dan bersiap untuk melangkahkan tungkai jenjangnya keluar dari tempat itu.

 

“Kau begitu mencintai basket rupanya.” Ucapan Kai menghentikan langkah Jaerin.

 

“Urus saja urusanmu sendiri!” Jaerin mulai kesal dan kembali melanjutkan langkahnya.

 

Jaerin mendengus kesal kenapa di saat seperti ini perutnya malah meronta minta diisi. Chicken. Satu kata terlintas di benaknya.

 

“Chicken, ttobeokki, 1 bulan!”  Kata-kata Hanna kemarin terngiang di kepalanya. Langkahnya kembali terhenti tepat di depan gerbang. Seketika ia teringat dengan janji konyolnya pada Hanna.

 

Sungguh dua makanan itu telah melumpuhkan pikiran Jaerin. Hingga ia mau berurusan dengan salah satu orang yang paling dibencinya.

 

Jaerin nampak mengulum bibirnya ke dalam sebelum akhirnya ia berbalik dan melihat Kai yang bersiap memasukan bola ke dalam keranjang. Kai sudah memasang posisi sebaik mungkin dan akan melemaparkan benda bundar itu, namun­_

 

“Kai!” Jaerin menyerukan nama Kai, membuat sang empunya membatalkan niat awalnya.

 

Kai mendengus kesal dan berbalik. “Wae?” Tanyanya dengan ekspresi sedatar mungkin.

 

“Aku… kau tahu ‘kan aku begitu menyukai basket. Tapi karena tak ada tim basket wanita, aku tak bisa diterima ke dalam tim.”

 

Hening tak ada jawaban apapun dari Kai.

 

“Aku juga ingin meningkatkan kemampuanku. Tapi pelatih tak mengijinkanku bergabung. Jadi…” Perkataan Jaerin tergantung. Ia menggigit bibir bawahnya. ‘Chicken, ttobeokki, 1 bulan!’  Batin Jaerin terus meneriakan kata-kata itu.

 

Jaerin benar-benar dibutakan oleh dua makanan favoritnya itu kalau dia sampai mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.

 

“Jadi apa?!” Tanya kai menuntut.

 

“Ajari aku semua yang telah kau pelajari!” Jaerin menjawab dengan lantang. Kai nampak berpikir sebentar. Sebenarnya ia merasa kasihan dengan Jaerin yang tak bisa bergabung dengan tim basket hanya karena masalah gender.

 

“Ok. Tapi waktunya aku yang tentukan.” Jaerin mengangguk girang mendengar persetujuan dari Kai.

 

|||

 

Tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Kelas ini begitu tenang walau bel masuk belum berbunyi. Bagaimana tidak, hari ini akan diadakan ulangan matematika sesuai dengan apa yang diumumkan Kim saem.

 

Semua murid di dalam kelas itu tengah berkutat dengan buku mereka masing-masing. Semua kecuali satu murid pria yang duduk di kursi paling belakang di samping jendela.

 

Dia adalah Kai. Entah dia telah melakukan apa di kehidupan sebelumnya, sehingga ia memiliki otak seencer sekarang.

 

Ya, Kai tak perlu mengulang semua pelajaran yang telah disampaikan guru ataupun membaca berkali-kali buku pelajarannya. Karena otaknya akan merekam itu semua dan menyimpannya dengan sangat baik. Semua pelajaran itu layaknya film yang diputar di dalam kepalanya.

 

Bel untuk jam pelajaran pertama terdengar. Hal itu membuat keheningan yang sedari tadi pecah seketika menjadi keributan yang berasal dari racauan tak jelas dari murid-murid di dalam kelas itu.

 

Seorang pria muda dengan setelan rapi  memasuki kelas itu. Dan mengambil posisi di meja guru. Kedatangannya semakin membuat para murid di dalam kelas itu ricuh.

Saem… apa tak bisa sekali saja kau datang terlambat…” Racau murid yang duduk di kursi urutan nomor dua itu.

 

“Bagaimana denganmu, Byun Baekhyun? Apa tak bisa sekali saja kau tepat waktu untuk mengumpulkan tugasmu? Kau selalu menjadi yang terakhir dalam mengumpulkan tugas.” Ucap Kim saem santai yang diiringi gelak tawa teman-teman sekelas Baekhyun.

 

Cha… seperti yang sudah  bapak umumkan seminggu yang lalu. Kita akan mengadakan ulangan hari ini. ketua kelas bagikan soal ini pada semuanya.”

 

|||

 

Dengan lahap Jaerin mengunyah setiap sendok makanan yang disupakannya ke dalam mulutnya. Sesekali mulutnya terlihat sangat penuh, karena belum sempat makanan yang tengah dikunyahnya habis ia sudah memasukan lagi sesendok nasi ke dalam mulutnya.

 

Ya! Jaerin-a… kapan kau akan menghilangkan kebiasaan burukmu itu? kau selalu makan seperti orang yang tidak makan selama berhati-hari!” Celoteh Hanna yang mendapat cengiran dari Jaerin.

 

Jaerin menghentikan aktifitas makannya sejenak untuk meneguk segelas air guna melicinkan tenggorokannya. “Aku tak bisa menghilangkan kebiasaan itu. Kau itu ‘kan temanku. Jadi terima aku apa adanya. Mengerti?” Kembali Jaerin melanjutkan makannya.

 

Hanna menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. “Untung saja kau cantik.”

 

Ya! berhenti mengatakan itu!” Jaerin berucap dengan mulut penuh.

 

Ya! Tak boleh bicara saat mulutmu penuh seperti itu!” Hanna memukul kening Jaerin dengan sendoknya. Jaerin hanya memamerkan cengiran khasnya.

 

“Jaerin-a?”

 

Wae?”

 

“Bagaimana dengan misi kita itu?” Bisik Hanna pada Jaerin.

 

“Tenang saja. Aku sudah memulainya. Serahkan semuanya pada temanmu ini.” Jaerin menunjukan smirk-nya. Hanna hanya mengangguk mengerti.

 

Hanna cukup percaya pada Jaerin untuk menjalankan misi itu. Tentu saja mengingat Jaerin cukup “berpengalaman” dalam bidang ini.

 

|||

 

“Kai hari ini akan ada rapat. Dan sepertinya akan lebih lama. Sebaiknya kau pulang duluan saja.” Jini berucap setengah memohon.

 

“Tidak. Aku akan menunggumu dan mengantarmu pulang.” Tegas Kai.

 

“Kau akan mati bosan. Aku bisa pulang sendiri Kai…” Lagi, Jini membujuk Kai. Kai diam tak membalas perkataan Jini. “Untuk hari ini saja…”

 

Kai menghela napas panjang dan akhirnya menganggukan kepalanya. “Kabari aku kalau kau sudah sampai di rumah.” Ucap Kai lembut sambil mengelus surai kecoklatan Jini.

 

Jini mengangguk seraya tersenyum senang.

 

Tanpa mereka ketahui dari kejauhan ada dua orang gadis menyaksikan mereka secara diam-diam (ngintip).  Begitu Kai dan Jini pergi dari tempat itu, dua orang gadis itu pun juga ikut pergi.

 

“Aku lupa dia sedang berkencang dengan Jini. Sekarang bagaimana?” Ucap salah satu dari gadis tadi yang sekarang sedang duduk di bangku taman.

 

“Lanjutkan sesuai rencana.” Ucap gadis satunya tegas.

 

“Hanna-ya… Kau tetap ingin membalaskan dendam konyol itu dan membiarkan seseorang akan merasakan sakit yang sama sepertimu? Pikirkanlah lagi Lee Hanna.” Jaerin mendaratkan tanganya di bahu Hanna.

 

“Jaerin-a… tapi aku sangat ingin melihat Kai mendapatkan karma.”

 

To Be Continued…

 

Hallu… para readers tercintah… akhirnya chapt.2 nya selesai nih… gimana? datar ya? gak menarik lagi? Atau justru makin penasaran? Tuangkan pendapat kalian di kolom komen ya… Komen dari para readers adalah semangat buatku… Thank you 🙂  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Confession (Chapter 2)”

  1. Seru. .
    Tapi tiba tiba udah TBC aja. Besok panjangin lagi ceritanya ya thor. Ini mungkin akan jadi misi konyol buat jaerin. Demi chicken dan tteokbokki lucu deh.

Tinggalkan Balasan ke kkamjong Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s