[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 1)

tsoidk_resized_1

The Story Only I Didn’t Know

MAIN CAST        :

  • Kim Hye Mi (OC)
  • Park Chan Yeol
  • Oh Sehun
  • Kim Seohyun (OC)
  • Jung Krystal

SUPORT CAST     :

  • All Member Exo-K
  • Park Song Yi (OC)

GENRE                        : Romance, Friendship, School  Life.

AUTHOR                    : @Aichan

RATING                     : PG-15

LEGHT                        : Chapter

DISCLAIMER                        : Hi! Ini FF murni buatan aku. Semua alur, latar, karakter ini hanya fiksi belaka yaa. Saran dan kritik aku tunggu. Maaf jika banyak typo dan ada bahasa yang aneh. Masih dalam tahap pembelajaran. Heehee.. Oh, ya, alur di FF ini maju mundur, semoga ajah kalian gak bingung yaa. Heehee..  Happy reading.. ^^

***

PART 1

Dibawah langit ini….,dimana kau sekarang.?? Siapa yang kau temui hari ini.?? Apa yang kau bicarakan.?? Kemana kau pergi.??….

Apa yang terakhir kau pikirkan tentangku.?? Dan, siapa orang yang kau cintai saat ini.??….

Berbagai pertanyaan muncul di benakku..

Saat itu, dia masih berumur 17 tahun. Tapi, realita yang harus ia hadapi jauh lebih besar darinya.

 

May , Monday 2012

 

Hari mulai gelap. Seperti biasa, aku selalu pulang sendiri kerumah. Tapi, kali ini ada yang berbeda. Aku pulang dengan kondisi yang sungguh berantakan. Aku menangis. Yak, kenapa aku menangis? Aku tidak mengerti?

“Yaa! Kim Hyemi!”  teriak seorang namja. “Bisa kau dengarkan penjelasanku dulu. Aku mohon, dengarkan aku.”

Tanpa harus menoleh kebelakang, aku sudah mengetahui siapa orang itu. Huh..!! namja itu, dia benar-benar menyebalkan. Park Chanyeol! Kenapa kau berbuat hal yang menyebalkan. Kenapa kau menciumku didepan Sehun. Aih, ini menyebalkan!

“Hyemi, tunggu sebentar,” ucap Chanyeol yang seketika menarik tanganku paksa.

Mwo? Kau ingin melakukan apa?” tanyaku dengan nada yang sama sekali tidak ramah. “Apa kau ingin menciumku lagi?”

Chanyeol terlihat gugup. Dia nampak tidak bisa bicara. Wae? Apa yang ku katakan salah?

“Mengapa kau diam?” tanyaku lagi. “Bukankah kau bilang ingin menjelaskan sesuatu padaku. Coba jelaskan, aku mau dengar.”

Dia mulai bicara, “Eehm, aku cuma ingin mengatakan kalau ciuman tadi itu,” ucap Chanyeol ragu.

Mwo?” tanyaku sinis.

“Ciuman tadi itu, hanya sebuah lelucon,” ucap Baekho dengan kembali memamerkan gaya cool-nya. “Ya, tadi hanya sebuah lelucon. Jadi, lupakan saja.”

“Apa kau sedang mempermainkanku?” tanyaku dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. Entahlah, aku merasa sedikit kecewa. Ya, hanya sedikit.

Aniya, hanya saja,”

“Sudahlah, kau memang benar-benar namja jahat Chanyeol. Harusnya aku sudah mengetahui itu sejak awal. Tapi aku terlalu bodoh untuk menyadarinya,” ucapku ketus. Akupun mencoba memejamkan mata untuk menahan emosiku. Tapi, itu nihil. Ini benar-benar sulit buatku.

Seketika, aku pun langsung pergi berlari meninggalkan Chanyeol. Dia memang namja yang menyebalkan. Mana bisa dia merebut ciuman pertamaku. Aih, padahal aku berharap bahwa ciuman pertamaku jatuh pada Sehun. Tapi Chanyeol, dia menghancurkannya. Aaah, aku kesal, sangat kesal. Terlebih lagi dia menciumku hanya untuk mempermainkanku. Memangnya dia siapa? Kenapa memperlakukan aku seperti itu?

 

***

 

“Aku pulang,” ucapku begitu sampai didepan pintu rumah yang menjadi tempat naungan hidupku.  Aku pun segera masuk ke rumah tersebut. Aku langsung buru-buru mengambil minum di dapur. Setelah itu, aku segera berbaring disofa dan tanpa ku sadari, air mata mengalir deras dari kedua mataku.

“Hyemi, ada apa?” aku mendengar seseorang sedang bertanya padaku. Aku benar-benar mengenal suaranya. Dia sekarang duduk disebelahku. “Mengapa kau menangis? Apa ada masalah?”

“Soohyun-ah, aku sangat kesal.”

Soohyun adalah saudara tiriku. Park Soohyun sekarang sudah berubah nama menjadi Kim Soohyun. Saat umurku 7 tahun, eoma meninggal karena kecelakaan. Beberapa tahun kemudian, appa memutuskan untuk menikah lagi. Calon istrinya adalah eoma Soohyun. Awalnya, aku menolak pernikahan ini. Karena jujur saja, saat itu aku benar-benar belum bisa melupakan sosok eoma kandung didalam hidupku. Tapi, kenapa harus ada eoma baru.

Awalnya aku sempat berpikir, bahwa appa sepertinya sudah tidak mencintai eoma-ku lagi. Namun, ternyata dugaanku salah. Appa sangat mencintai eoma lebih dari apa yang aku tau. Jadi, aku berusaha untuk menerima segala keputusaannya. Termasuk memiliki eoma dan saudara baru. Itu benar-benar pilihan yang menyulitkan untukku. Namun, seiring berjalannya waktu aku sudah mulai bisa menerima keluarga Soohyun. Mereka orang baik, benar-benar baik, jadi aku bisa sangat mudah beradaptasi. Terlebih lagi usiaku dan Soohyun yang hanya terpaut 2 bulan saja. Dengan Soohyun sebagai kakak perempuanku.

Aah, sekarang aku mengerti alasan appa untuk menikah lagi. Itu semua karena aku. Kurasa dia ingin melihatku berjalan tegak tanpa harus menoleh ke belakang.

“Ada apa?” tanya Soohyun ingin tau. Wajahnya lucu ketika ia sedang penasaran. Dia terlihat sangat imut. Benar-benar seperti anak kecil yang sedang menunggu untuk dibacakan cerita dongeng sebelum tidur. “Ceritakan padaku!”

Aku membenarkan posisi dudukku. Aah, haruskah aku bercerita padanya? Tentu saja, dia itu saudaraku. “Ehm, begini Soohyun. Kau tau, hari ini ada namja menyebalkan yang berani menciumku. Dia merebut ciuman pertamaku. Aish, menyebalkan,” ucapku sambil memanyunkan bibirku.

Mwo? Jeongmal? Nuguya? Siapa yang menciummu? Apakah namja yang menciummu itu adalah namja yang selalu kau ceritakan?” berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Soohyun. Aah, kurasa dia memang benar-benar penasaran. “Aah, katakan semua padaku. Kau membuatku penasaran, Hyemi.”

Aku tersenyum mendengar ucapan Soohyun. Ternyata dugaanku benar. “ Soohyun, dengarkan aku. Namja ini berbeda. Itu bukan dia. Namja yang selalu kuceritakan itu Sehun. Tapi, namja yang menciumku bukan Sehun. Dia, Chanyeol, Park Chanyeol. Aah, ini menyebalkan. Lalu, baginya ciuman itu hanya sebuah lelucon. Dia hanya mempermainkanku. Lebih parahnya lagi, Chanyeol menciumku didepan Sehun,”  ucapku sambil mengingat-ngingat kejadian yang menimpaku hari ini. Aah, hari ini benar-benar hari yang menyebalkan. “Aniya, kurasa bukan hanya Sehun. Dia menciumku didepan semua orang. Aish, apa yang harus kulakukan? Jika seperti ini, bagaimana aku bisa berangkat ke sekolah besok!”

Naneun molla,” ucap Soohyun pasrah sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Bukankah sudah kuperingatkan. Jangan pernah mendekati para namja yang terkenal. Jika berani mendekatinya, kau akan mendapat masalah nantinya. Tapi, kau malah tidak mau mendengarkan nasihatku. Kau sekarang jadi dekat dengan para namja terkenal itu. Yak, Hyemi. Bagaimana caramu untuk menghadapi fans mereka?”

Oke, aku akui ini memang salahku. Mendekati para idol sekolah. Yah, aku tidak tau akan seperti ini. Ehm, sebagai catatan, idol sekolah yang kubicarakan disini adalah Exo. Mereka adalah sekelompok namja tampan dan berbakat yang berhasil merebut hati hampir semua gadis di sekolahku. Ya, termasuk aku. Mereka punya pesona yang sulit untuk dijelaskan. Yang jelas, mereka benar-benar memukau.

“Aah, aku tidak menyangka akan sejauh ini. Aku hanya berharap bisa dekat dengan Sehun. Tapi kenapa malah jadi seperti ini,” ucapku sambil memukul kepalaku pelan. Aku benar-benar menyesal. “Hah, aku bingung.”

Soohyun yang melihat tingkahku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Aah, setidaknya dia mau mendengarkan ceritaku. Andaikan waktu bisa diulang. Aku akan merubah kejadian itu. Tapi itu tak akan mungkin terjadi. Ini itu dunia nyata. Tak ada istilah untuk dimensi ruang waktu.

Saat itu…

Semua kejadian itu, di mulai saat awal semester pertama….

 

***

 

 

 

Maret, Monday 2012

 

Selalu sibuk seperti ini diawal semester. Pindah kelas, buku baru, teman baru, ehm, bahkan kisah cinta baru. Aih, aku hanya bercanda. Sebenarnya, ini sangat melelahkan. Tapi, ini juga sangat menyenangkan. Sayangnya, kali ini, aku tidak bisa satu sekolah lagi dengan Soohyun. Ia lebih memilih bersekolah di sekolah seni dibandingkan dengan sekolah umum bersamaku. Mungkin, ia ingin menjadi penyanyi. Dia memiliki suara yang  kurasa cukup indah. Ia juga pandai memainkan gitar. Itu memang benar, sekolah seni memang pantas untuknya.

“Hey, kalian tau. Exo  akhirnya bisa bergabung. Apakah sudah ada yang pernah berbicara dengan mereka.”

“Aniya, bahkan aku belum pernah melihat mereka secara bersamaan. Bagaimana denganmu, apakah kau sudah pernah mengobrol dengan salah satu diantara mereka?”

“Belum juga. Aah, aku berharap bisa dekat dengan mereka semua.”

“Harapanku juga sama.”

Para yeoja begitu senang membicarakan tentang sekelompok namja dari kelasku. Nama kelompok itu adalah ‘Exo’. Ehm, ku rasa ada enam orang yang tergabung. Mereka memang tampan, pantas saja para yeoja sangat memikirkan mereka. Tapi, aku tidak terlalu memperdulikannya. Karena, yang paling aku pikirkan saat itu adalah…

“Ini masih angka 8. Bagaimana pun aku melihatnya.” ucapku sambil terus membolak balikkan kertas ulanganku.

Ya, aku tidak menyangka akan seperti ini. Diulangan harian pertamaku, aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Padahal itu adalah ulangan dadakan pertamaku dimasa SMA. Aah, aku sangat senang. Bahkan sekarang, aku sedang berada diatap sambil terus memandangi nilai ulanganku dengan penuh kebanggaan. Aku tak habis pikir, ternyata aku ini pintar juga.

Tiba-tiba, aku melihat sebuah gulungan kertas yang melayang dihadapanku. Salah, kurasa ini bukan sebuah gulangan. Ini lebih mirip seperti, ya, kertas yang diremuk dan dibentuk menyerupai sebuah bola. Ya, kurasa seperti itu. Aku pun memungut kertas itu. Dari warna kertasnya, ini… kertas ulangan yang sama denganku. Ya, tidak salah lagi. Tapi, siapa yang membuang kertas ini?

Karena penasaran, aku membuka lipatannya. Tapi, tidak sepenuhnya terbuka. Aku hanya mengintip bagian kecilnya saja. Aah, aku melihat sesuatu yang menarik dan mungkin karena melihat itu aku jadi mengetahui alasan kenapa kertas ini dibuang oleh pemiliknya. Ehm, ada angka dikertas ini. Ya, tidak salah lagi. Nilai yang ada di kertas itu 0. Pantas saja kertas ini dibuang. Aku jadi berfikir, apakah ada orang lain diatap ini selain aku?

Aku pun mulai memperhatikan sekitar. Dan benar saja, ada seorang namja yang sedang duduk memandang langit didepan gudang atap sekolah. Aku pun mulai menghampirinya.

“Hai,” ucapku memberi salam sambil tersenyum.

“Ada apa.?”

“Oh, itu. Nah ini,” ucapku sambil memberikan remukan kertas berbentuk bola temuanku yang kurasa itu miliknya. “Kau seharusnya tak begitu memikirkannya.”

Dia pun mengambil remukan kertas berbentuk bola itu.

“Lihat,” akupun memamerkan kertas ulanganku yang masih terlihat rapih. Aah, apa ini? Apa aku ingin pamer? Kurasa itu benar. Aku sangat percaya diri dengan nilaiku. Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan disemester pertama. Aah, aniya, nilai ini benar-benar memuaskan. “Ini hanya semester pertama.”

Dia tersenyum mendengarkan ucapanku. Setelah itu, ia membuka remukan kertasnya, lalu ditunjukkan kertas itu ke arahku. Aah, aku terkejut melihatnya. Ini memang benar. Kertas itu memang kertas yang sama dengan milikku. Juga, aku tidak salah lihat. Memang ada angka nol dikertas itu. Tapi, pemikiranku tentang angka nol itu jauh berbeda dengan apa yang ada dikertas ulangannya.

Angka nol yang ku kira adalah angka nol satu-satunya tanpa ada anka lain. Tapi, dalam kertas itu malah berbeda. Ada angka satu yang menyertai nol didepannya. Aah, apa ini!! Ternyata, nilai yang ada di kertas itu sepuluh, bukan nol. Itu nilai sempurna. Aku hanya melihat angka terakhir nilainya saja. Huft, aku benar-benar malu saat itu. Harusnya tadi, aku memeriksanya terlebih dahulu. Aih, aku pun hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan berharap semoga pipiku tidak merah karena rasa maluku ini.

Mianhae,” ucapku sedikit membungkuk, “Kupikir kau hanya sepertiku.”

Aku pun segera pergi meninggalkannya. Aku benar-benar malu saat itu. Aih, apa yang telah kulakukan. Namun,..

“Duduklah,” ucap namja itu sambil menepuk-nepuk lantai disampingnya.

Mwo?” ucapku heran.

Aku tak melihat namanya dikertas ulangan. Aku juga tak melihat namanya dinametag-nya. Tapi, aku tau siapa dia. “Kau Sehun bukan?” ucapku yang mulai duduk disampingnya.

Ya, pria itu Sehun, Park Sehun. Salah satu anggota dari Exo. Ehm, menurutku dari semua anggota Exo dia yang paling menarik. Entahlah, kupikir dia benar-benar seperti tipe namja idamanku. Eh? Tunggu, kenapa aku seperti ini? Ayolah, Sehun memang tampan, tingginya sekitar 180 cm. Kulitnya juga sangat putih, dan entahlah aku merasa dia namja yang cute tapi juga manly. Tapi, aku seharusnya tidak boleh menempatkan Sehun sebagai namja idamanku. Aku kan tidak mengenalnya.

“Ternyata kau pintar,huh? Hebat sekali.”

“Setidaknya aku tidak mendapatkan nilai 8 disemester pertama,” ucap Sehun sambil tersenyum. Senyumannya benar-benar menawan. Aah, ada apa denganku?

“Jadi, kau sangat bagus dalam segala hal,” ucapku sambil menganggukkan kepalaku pelan. Untuk saat ini, itulah yang aku pikirkan tentangnya.

“Aku?” ucap Sehun bingung. “Itu tidak benar.”

“Tidak mungkin,” ucapku sambil menggeleng gelengkan kepalaku pelan. “Kurasa kau memiliki segalanya. Mengingat tingkat popularitas dan prestasimu. Itu hal yang hebat.”

“Sebenarnya, “ ucap Sehun sambil tetap memandang langit. “Aku benci dengan itu.”

Mwo?”

“Aku tidak begitu menyukai keadaanku yang seperti ini,” ucap Sehun yang kembali menatapku. “Mereka hanya menyukaiku karena penampilanku. Itu membuatku merasa terganggu. Aku lebih menyukai yeoja yang setia, yang menyukaiku tanpa alasan.”

“Hah?” ucapku bingung. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu? Aku benar-benar heran.  “Lihat siapa yang bicara. Bukankah kau punya banyak yeoja? Ya, maksudku fansmu. Kau kan anggota Exo.”

“Aku bukanlah orang yang seperti itu,” ucap Sehun sambil tersenyum. “Aku hanya akan menyukai satu yeoja. Cukup satu orang untukku.”

Akupun menaikan kedua alisku. “Kau mulai lagi. Oke. Ehm, bagaimana jika nanti yeoja-mu itu menyukai orang lain. Apa yang akan kau lakukan?”

Aku kaget melihat reaksi Sehun atas pertanyaanku. Dia tersenyum sinis. Senyumannya itu benar-benar menakutkan. Seperti senyuman seorang pembunuh bayaran yang aku lihat disebuah film Jepang tadi malam.

“Aku akan senang membunuhnya,” ucap Sehun sambil menunjukkan senyuman menyeramkannya lagi.

Eh? Aku menelan ludah. Ini benar-benar mengagetkanku. Melihat reaksiku, Sehun kemudian mengubah senyumannya. Ia tersenyum hangat.

“Aku hanya bercanda.”

Sehun pun segera pergi meninggalkanku. Saat itu, tak tau kenapa, aku jadi mengatakan hal itu.

“Sehun-sshi,” ucapku memanggil namanya. “Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik.”

“Apa kau mencoba untuk merayuku?”

Eh? apa yang dia bicarakan?

Bye, Hyemi,” ucap Sehun sambil melambaikan tangannya. Ia pun benar-benar pergi meninggalkanku.

Hanya seperti itu. Jika aku tidak menghampirinya saat itu. Perasaan ini tidak akan muncul. Aih, perasaan apa? Entahlah, biar waktu yang akan menjawabnya. Lagipula, tadi dia terlihat sangat kacau. Seperti memiliki banyak masalah, jadi aku senang bisa sedikit menghiburnya.

 

***

Semua murid sudah berkumpul dikelasnya masing-masing. Karena bel masuk telah dibunyikan. Begitupun murid kelas A1, ya itu kelasku. Mereka semua telah berkumpul. Tapi, mereka tidak berkumpul di kelas melainkan di lapangan. Saat ini, adalah pelajaran olahraga.

Kim saengnim sedang tidak ada dilapangan untuk saat ini. Ya, tadi dia bilang dia ingin ke kamar mandi. Tapi, sampai sekarang, aku bahkan tidak melihat tanda-tanda kehadirannya muncul disini. Padahal ini sudah lewat dua puluh menit sejak kepergiannya itu.

Sebelum pergi dia menyuruh kami untuk melakukan pengambilan nilai untuk olahraga lari. Ya, seperti inilah.

“Baek, sudah sampai ronde 10 nya. Tapi kecepatannya belum berkurang. Sehun, juga begitu,” ucap namja yang memiliki mata yang sangat bulat. Ya, itulah pemikiran yang terlintas ketika aku melihat Kyungsoo. Ehm, dia juga termasuk anggota Exo. Dengan wajahnya yang cukup manis, dan postur tubuhnya yang tidak begitu tinggi, dia benar-benar terlihat seperti anak kecil.

“Ne, Kyungsoo-ah.” ucap namja yang memiliki kulit agak kecoklatan dengan nada kelelahan.”Bahkan aku saja sudah sangat kelelahan.”

“Mereka ber-4 sangat semangat. Tapi, ada apa denganmu Jongin. Kenapa kau ada disini, teruslah berlari bersama Baekhyun, Chanyeol, Suho, dan Sehun. Lihatlah, para fansmu sedang memperhatikan. Kau jangan mengecewakan mereka,” ucap Kyungsoo panjang lebar. “Sudah sana berlari lagi. Nanti, jika Kim sonsaengnim melihatmu tidak berlari, kau akan kena hukuman. Cepat lari.”

“Kau juga harusnya ikut berlari. Jika kau sakit, kau seharusnya pergi ke UKS. Kenapa malah disini? Dasar aneh,” ucap Jongin yang kemudian melanjutkan larinya.

Aniya, aku ingin melihat kalian berlari,” ucap Kyungsoo sedikit berteriak. “Ini menyenangkan.”

Kelas A1 sedang melakukan kegiatan olahraga lari dan seperti biasa, jika Exo sudah dapat giliran, para yeoja akan berteriak kegirangan memanggil nama mereka.

“Hye Mi, apakah kau bersorak untuk Exo.?” Tanya seorang yeoja bermata sipit, “Siapa yang kau suka.?”

“Aniya, Song Yi.” ucapku sambil menggelengkan kepala, “Aku tidak sedang menyoraki mereka.”

“Aku tau, itu pasti untuk Sehun atau Chanyeol,” ucap Song Yi sambil menaikkan sebelah alisnya, “Benarkan..??”

“Aniya.., itu semua kekanak-kanakan,” ucapku, “Apa yang mereka lakukan.?? Lihat saja.!! Apakah mereka berkompetisi hanya untuk mendapatkan perhatian dari para yeoja.?? Apa mereka pantas mendapatkan semua perhatian itu. Benarkan Krystal?”

Tak tau kenapa, aku malah bertanya pendapat pada Krystal yang baru saja lewat di hadapanya.

“Aku membenci mereka,” ucap Krystal ketus.

Seketika, Krystal pun pergi meninggalkanku dan Song yi.

“Lihat.!!Lihat.!!” ucapku antusias sambil menunjuk Krystal, “Yeoja seperti dia saja tidak menyukai Exo.”

“Oh, ya?” ucap Song Yi heran.

“Nah, biar adil aku akan memberitahu sedikit kelebihan Exo. Ya, mereka pintar, pandai berolahraga, dan.. tampan,” ucapku sambil menaikkan sebelah alis sambil berpikir. “Mereka punya 3 kriteria ini.? Tidak mungkin..!!”

Song Yi pun menatapku dengan tatapan heran.

“Terkadang aku tidak tau apa yang mereka pikirkan. Mereka terkadang menjadi sedikit arogan, hanya karena mereka populer di kalangan yeoja,” ucapku terus terang dengan apa yang ada dipikiranku saat ini dan tanpa di kusadari semua member Exo sudah ada di belakangku persis, “Aku tak mengerti kenapa mereka memiliki banyak fans. Tapi, kupikir tidak buruk juga menjadi salah satu dari fansnya.”

Tiba-tiba, seseorang mengambil papan catatan nilai olahraga yang ada di tanganku dari belakang. Aku pun segera menoleh.. betapa terkejutnya aku ketika aku tau siapa yang mengambilnya. Omo..?? Bukankah itu Chanyeol..??

“Aah, ara,”  ucap Chanyeol sambil tersenyum. “Apa kau ingin tanda tanganku.?”

Hah.?? Apa yang dia katakan. Apakah mereka semua mendengar ucapanku.??

“ Tulis catatan yang tepat, Chan,” ucap Baekhyun kepada Chanyeol yang sedang menulis nilai di papan, “Ini adalah kemenanganku.”

“Ne, arraseo,” ucap Chanyeol mengerti. “Kau berisik sekali. Seandainya saja, tadi aku tidak terjatuh. Aku pasti sudah menang.”

“Aku juga seharusnya bisa mendapat peluang menang,” ucap Sehun. “Tapi aku lebih memilih menolong Chanyeol di bandingkan harus menang.”

“Yak, tadinya aku juga berencana untuk menolong Chanyeol,” ucap Baekhyun membela diri, “Hanya saja, aku harus mencapai garis finish terlebih dahulu baru aku akan menolongnya.”

Aku pun hanya bisa diam melihat tingkah mereka. Benar-benar kekanak-kanakan.

“Kalian jangan membuat keributan di depan hanjang (ketua kelas) kita,” ucap Suho memberi perintah kepada teman-temanya. Sontak, semua anggota Exo pun diam.

Ehm, hanjang? Ya benar, Sekarang aku ini seorang hanjang. Entahlah, apakah ini sebuah keberuntungan atau kesialan.?? Aku tidak tau. Saat pemilihan lalu, ku pikir aku tidak akan mendapatkan posisi apapun. Mengingat, bahwa ada sekelompok namja terkenal alias Exo ada di kelasku. Aku yakin para yeoja akan memilih salah satu dari mereka. Tapi, dugaanku nihil.

“Benarkah dia hanjang kita?” Tanya Chanyeol sambil menatapku dengan tatapan heran. “Aku tidak mengingatnya.”

Aku benci tatapan itu. Yak, dia menyebalkan. Setidaknya, dia harus mengetahui siapa ketua di kelasnya.

“Aku pernah bicara padanya sekali. Dia nampaknya baik,” ucap Sehun dengan senyuman, “Hye Mi bilang, dia akan mendengarkan semua masalahku.”

Akupun tersenyum mendengar ucapan Sehun.

“Aku pikir dia itu sok asik,” ucap Chanyeol sambil mengembalikan papan nilai kepadaku.

“Aku sok asik..??” tanyaku heran.

“Apa kau hanya akan mendengarkan masalah orang lain.?” tanya Chanyeol sinis. “Kau hanya ingin terlihat baik di depan orang kan?”

“Hentikan itu Chan,” ucap Sehun sambil menoleh ke arah lawan bicaranya itu, “Dia hanya mencoba untuk baik padaku. Ya, kurasa begitu.”

“Jangan pernah bersikap sok baik jika kau tidak bisa membantu apapun,” ucap Chanyeol penuh penekanan diakhir kalimatnya itu.

Isssh.. menyebalkan… benar-benar menyebalkan…

“Yak, kau benar-benar menyebalkan,” ucapku kesal selaras dengan apa yang saat ini kupikirkan. Tanpa sadar aku memukul kepala Chanyeol dengan papan nilai yang saat ini kupegang. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. “Apakah salah jika aku menghawatirkan orang lain? Apakah kebaikan orang lain dianggap sebagai lelucon untukmu.? Semua itu bukan untuk dirimu.. hanya saja saat itu, Sehun terlihat kacau.. itu sebabnya…”

Aish, aku tidak tau apa yang harus ku katakan lagi.

“Huft, aku hanya membenci orang seperti kalian,” ucapku sedikit berteriak.

Aku pun langsung pergi meninggalkan mereka. Entah kenapa, hatiku menjadi sakit saat aku mengingat ucapan yang dikatakan Chanyeol. Sok asik? Apakah aku orang yang seperti itu..??

-TBC-

Ok.. ok.. gimana niih para reader pendapat kalian tentang FF ini di part pertamanya? Semoga memuaskan yaa. Jangan lupa komentarnya.. Bye.. Bye.. See you di part 2. Heehee.. J

 

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s