[EXOFFI FREELANCE] Girls and Diamonds (Chapter 1)

girl-and-diamond

Girls and Diamonds (Chapter 1)

 

~Tittle : Girls and Diamonds

~Author : Allea

~Cast :

EXO’s Xi Luhan
OC’s Cho Yeonyi

~Other Cast :

EXO’s Park Chanyeol
OC’s Jung Nuri
OC’s Park Jinhee
EXO’s Zhang Yixing / Lay
EXO’s Kim Minseok / Xiumin
All EXO’s members And you can find it.

~Genre : Fantasy, Friendship, School life, Romance maybe (?)

~Rating : PG 15

~Length : Chapter

Credit Poster by renovatio @IndoFanfictionsArts

~Disclaimer : Semua cast yang ada disini bukan milikku kecuali Luhan.. hehe.. cerita yang ada disini real berasal dari imajinasiku yang tingkat tinggi. Kalau ada kesamaan cerita, mianhae L, cerita ini Cuma jadi penghibur aja, jadi kalau ada yang sakit hati karna cerita ini, juga Mianhae T_T /nangis berlian/ \he?\ lupakan.. oke langsung aja ya..

Happy Reading, Don’t be Plagiators 😉 jangan lupa comment ya!

Give you Kiss and Hug!! Let’s Make a Fantastic Party!! – From Allea o_O

~[]{}||***||{}[]~

~Yeonyi’s Mind~

Apa yang kau rasakan ketika kau berada di kelas mendengar pelajaran yang tak kau sukai atau kau tak menyukai gurunya? Bosan? Dan itu yang kurasakan saat ini apalagi sekarang jam pelajaran terakhir. Jadi yang kulakukan saat ini hanya menjetikkan jariku.

Tidak mungkin aku akan menjahili temanku –atau mungkin bukan temanku, karena aku tidak pernah bicara pada teman sekelasku kecuali aku memang harus berbicara padanya- yang ada didepanku.

Bukannya teman sekelasku akan menganggapku senang karena aku mulai membuka diri pada mereka, malah mungkin mereka menganggapku aneh atau mungkin gila karena aku menjahili salah satu dari mereka.

Aku hanya mempunyai 2 teman atau sahabat yang untungnya selalu sekelas denganku. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan berbicara pada siapapun. Aku hanya mau berbicara hanya dengan mereka berdua. Dan aku hanya bisa membuka diri pada mereka berdua. Dan perlu kau tahu kami bertiga mempunyai rahasia kecil yang selalu kusimpan. Mereka Jung Nuri dan Park Jinhee, dua sahabatku.

Baiklah kembali ke topik. Aku menjentikkan jariku beberapa kali. Dan kau tahu saat aku menjentikkan jariku, akan ada api yang muncul.

Ya api yang berasal dari tanganku, bukannya dari korek api atau alat yang bisa menyalakan api. Tapi dari tanganku. Jadi sekarang kau tahu apa rahasiaku? Aku mempunyai kekuatan. Aku memainkan apiku hingga guru killer yang sedang menulis rumus itu menyadari sesuatu.

“Siapa yang bermain-main dengan api dikelasku!?” Ucap guru killer dengan tegas. Aku langsung mematikan apiku dan berakting seolah aku bukan pelakunya.

Teman sekelasku menoleh kekanan kirinya mencari siapa yang bermain api. Nuri dan Jinhee langsung menoleh kearahku dan menatapku dengan tatapan “itu kau?”. Memangnya siapa lagi orang dikelas ini yang berkaitan dengan api dan dengan beraninya bermain-main dikelasnya guru killer.

Aku menatap mereka berdua malas dan mengangkat bahuku. Cheon Seonsaengnim kembali menuliskan rumus dipapan. Dan teman sekelasku juga langsung memperhatikannya. Aku kembali seperti semula. Menjentikkan jariku dan membuat api. Lalu bermain-main dengan api.

“Siapapun yang bermain korek api disini, jika aku tahu. Aku akan menyuruhnya keluar sekarang” Ucap Cheon Seonsaeng tegas. Aku langsung mematikan apiku dan bertindak seperti tadi.

Bagaimana bisa Cheon Seonsaeng tahu ada yang bermain dengan api? Padahal tidak ada bunyi api yang kuhasilkan. Apakah dari baunya? Mungkin karena aku mencium bau api. Mereka semua menoleh kearahku, aku hanya menatap mereka malas.

“Apa?” ucapku pada mereka karena mereka terus melihatku dengan tatapan curiga.

“Kau yang bermain dengan korek api kan?” tanya Myungsoo –si ketua kelas – padaku.

“Tidak, untuk apa aku bermain korek api” jawabku enteng. Aku memang tidak bermain dengan korek api kan? Tapi bermain api dari tanganku.

“Tapi tadi aku merasakan ada yang panas di belakangku” ucap Taemin –teman yang ada didepan bangkuku- menyahut.

“Kalau begitu periksalah apakah aku membawa korek api atau tidak” Balasku. Taemin dan Minho langsung memeriksaku dari mulai badan hingga tasku dan mejaku.

“Eobseo” ucap Minho setelah memeriksaku.

“Sudahlah, kita hanya membuang waktu untuk hal yang sepele. Cepat perhatikan rumus ini” Cheon Seonsaeng berucap tegas lagi. Semua teman sekelasku langsung menuruti perintah Cheon seonsaeng.

DING DONG.. It’s Time To Go Home, and Back To School With Spirit Morning Tomorrow. Good Luck Students.

Bunyi bel sekolahku. Aku tersenyum miring mendengar bel itu. Bel yang ingin kudengar dari tadi. Cheon Seonsaeng membereskan bukunya begitu juga dengan teman sekelasku. Cheon seonsaeng berjalan keluar diikuti oleh murid-murid. Dan tinggal aku, Nuri, dan Jinhee yang ada dikelas.

“Tadi itu kau kan?” tanya Nuri to the point padaku.

“Ehm..” jawabku pada mereka.

“Ya.. jangan seperti itu. Kau ingat kan tentang perjanjian kita. “tidak akan mengeluarkan kekuatan kita. Dan hanya dikeluarkan jika keadaan darurat” kau ingat itu kan?” Ucap Jinhee padaku.

“Ya aku ingat. Tapi aku bosan jadi aku hanya membuat api kecil di tanganku” Ucapku.

“Kau tahu aku juga sering bosan. Dan terkadang aku sering berfikir kalau aku ingin bermain dengan esku. Tapi kau tahu aku menahannya demi perjanjian kita” jelas Jinhee padaku.

“Yeonyi-ya kumohon jangan lakukan itu lagi. Jika mereka tahu kau mempunyai kekuatan. Mereka juga akan tahu aku dan Jinhee juga mempunyai kekuatan. Bukankah kita membuat perjanjian untuk menghinadari hal itu?” sahut Nuri.

Aku memikirkan kalimatnya. Ya aku tahu apa yang kulakukan tadi melanggar perjanjian kami. Perjanjian untuk merahasiakan kekuatan kami. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika mereka tahu. Aku mempunyai Api, Nuri mempunyai Healer dan Jinhee mempunyai Es. Apakah mereka akan takut pada kami?

“Ya aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku.. ayo kita pulang” Ucapku dan berjalan mendahului mereka.

~[]{}||***||{}[]~

Aku berangkat pagi sekali hari ini dan duduk dibangku kesayanganku. Bangku paling belakang dan hanya aku yang duduk disitu. Dan tidak ada yang berani duduk di bangkuku. Aku memasang earphoneku dan memandang kosong ke arah depan. Aku suka menggunakan earphone bahkan setiap hari aku selalu menggunakannya –walaupun tidak ada lagu yang kuputar, jadi aku hanya memasang earphone saja- aku melakukan hal itu hanya untuk tidak diganggu orang lain.

Aku memejamkan mataku, membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Hingga aku terusik oleh suara teriakan dari luar kelasku.

“Yaa!! Minah-ya.. ada berita baru!!” suara Seohyun dari luar kelas. Dia terlihat sedikit berlari dan langsung menghampiri Minah dan temannya itu. Gosip apa yang akan dia bicarakan hari ini?

“Mwo?” Minah menjawab Seohyun malas.

“Ku dengar akan ada siswa baru disekolah kita.. katanya dia laki-laki dan tampan” Seohyun terlihat antusias dengan apa yang dibicarakan. Begitu juga dengan Minah dan temannya itu.

“Jinjja!? Dia akan masuk kelas mana?” tanya Minah.

“Mungkin dia akan masuk kelas 2-4. Ahh jadi apa yang harus kita lakukan?” Ucap Seohyun.

“Kelas 2-4?, itu kan kelas dengan anak yang terkenal disekolah.. mengapa kelas itu banyak sekali anak populer?” Suara Sojin.

“Mengapa selalu laki-laki yang harus menjadi anak baru” kalimat itu berasal dari Jinki. Ya aku tahu apa maksudnya.

Dengan bertambah satu lagi anak baru, itu artinya persaingan mereka bertambah untuk mendapatkan gadis terkenal disekolah. Begitu juga dengan para gadis disini, bertambah anak baru, bertambah juga saingan mereka. Dasar anak kelas 2-1, sama saja dengan kelas lainnya. Selalu memikirkan percintaan.

“Memangnya kenapa kalau laki-laki yang jadi anak baru?” Ucap Seohyun sewot dengan Jinki. Dan Jinki hanya membalasnya dengan gelengan kepala dan membaca buku.

Aku melihat Nuri dan Jinhee sudah datang dan berjalan kearahku. Pasti ada yang akan dia bicarakan.

“Yeonyi-ya kau tahu, kudengar kita akan memiliki anak baru lagi” Ucap Jinhee setelah sampai dihadapanku.

“Ehm.. Seohyun tadi berteriak dari luar kelas” Ucapku pada mereka.

“Lalu bagaimana pendapatmu?” tanya Nuri padaku.

“Memangnya apa?” aku balik bertanya padanya.

“Tidakkah kau merasa kesepian, seharusnya kau memiliki banyak teman Yeonyi” Ucap Nuri sedikit tak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Aku sudah punya kalian. Aku tak peduli siapa yang akan jadi anak baru. Apakah ia laki-laki tau perempuan, aku tak peduli” Ucapku dan membuat mereka semakin tak percaya. Aku memang orang yang sangat susah untuk berteman dengan orang.

“Tak bisakah kau sedikit membuka diri? Kau tak merasa kesepian?” Tanya Jinhee.

“Kau mengenalku kan? Aku susah untuk beradaptasi dengan orang baru. Lagian kedengar ia akan masuk 2-4. Dan juga dia tak ada hubungannya denganku.” Ucapku.

“Bagaimana kalau ia masuk kelas kita? Kau tak ingat sebelah bangkumu itu masih kosong” Ucap Nuri padaku.

“Maka bantu aku berdoa kalau ia tidak akan masuk ke kelas kita” ucapku sedikit sinis. Dan itu membuat Nuri dan Jinhee bungkam dan memilih duduk dibangkunya.

Entah mengapa saat ini banyak sekali yang sangat membuatku terusik. Huh terserahlah denga apa yang akan terjadi. Yang ku inginkan hanya sendirian.

~[]{}||***||{}[]~

DING DONG.. It’s Time To Go Home, and Back To School With Spirit Morning Tomorrow. Good Luck Students.

Bel yang sangat ku nantikan telah berbunyi. Aku segera membereskan bukuku yang ada di meja.

“Ayo kita pulang bersama” Nuri berbicara disebelahku.

“Aku harus ke perpustakaan dulu, mengembalikan buku” Ucapku padanya.

“Wah.. rajin sekali kau. Lihatlah buku ini tebal sekali.” Jinhee melihat buku yang ada dimejaku.

“Ini bukan punyaku.. punyaku hanya ini. yang lainnya milik Myungsoo dan Naeun. Mereka menitip” ucapku sambil menunjukan buku yang paling atas. Buku yang kupinjam sangat berbeda dengan buku milik Myungsoo dan Naeun.

Bukuku hanya berisi 300 halaman, sedangkan milik mereka berdua lebih dari 500 dan itu tidak hanya satu buku. Ada lima buku yang seperti itu. Itulah si jenius Myungsoo Naeun.

“Kalau begitu aku akan menemanimu” sahut Jinhee.

“Tidak usah.. aku pasti lama. Kau akan dimarahi Eomma-mu jika pulang terlambat. Dan aku tidak mau kena marah 3 kali hari ini.”

“Oh aku ingat Yeonyi terkena marah 3 kali oleh Eomma kita karena pulang sangat sore.. hehe kalau begitu kami pulang dulu ya.. hati-hati Yeon-ah!” mereka melambaikan tangan padaku dan hanya kubalas dengan senyum tipis.

“Yeonyi baik sekali. Mau dititipi oleh Myungsoo dan Naeun” Ucap Jinhee saat tidak terlalu jauh dariku.

“Sebenarnya Yeonyi sangat baik.. hanya saja ia sulit untuk mengekspresikan dirinya pada orang lain” jelas Nuri. Nuri benar-benar sahabat yang sangat pengertian. Dan aku pun berjalan menuju ke perpustakaan.

~Yeonyi’s Mind End~

~[]{}||***||{}[]~

~Luhan’s Mind~

“Bagaimana perasaanmu?” aku dikagetkan oleh suara yang berasal dari Minseok. Dia duduk disebelahku.

“Biasa saja.” Jawabku.

“Aku tanya padamu bagaimana perasaanmu akan menjadi anak baru besok?” Tanya Minseok sekali lagi.

“Aku akan masuk di kelas 2 SMA lagi. Sekarang umurku sudah 18 tahun. Seharusnya aku masuk dikelas 3. Aku sudah pernah menjalani kelas 2 SMA, jadi perasaanku hanya biasa saja.” Jawabku padanya.

“Tapi itu untuk misi kita. Jika kau masuk kelas 3, kau akan sulit menjalankan misi ini” Balas Minseok.

“Ya aku tahu. Misi ini benar-benar sulit. Kita sudah mencarinya selama ini tapi belum ketemu”

“Bahkan aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak” Ucap Minseok.

“Hyung! Apa yang kalian bicarakan?” Chanyeol ikut bergabung.

“Misi kita.. sangat sulit untuk mencari mereka” jawabku.

“Oh.. mereka ya? Mengapa mereka bertiga harus hilang?.. ani bukan itu. Mengapa dulu harus terjadi perang?” tanya Chanyeol, Sebenarnya misiku sangatlah menyusahkan.

“Itu perbuatan Eroz Clan. Mereka ingin merebut berlian dari pimpinan kita” jawab Minseok.

“Clan pengkhianat.. selalu ingin menguasai semuanya” aku menyahut. Gara-gara clan itu, hidup kami selalu tidak tenang. Bagaimana tidak, Clan itu sangat membahayakan. Bisa-bisa mereka mengajak berperang dengan kami saat ini.

“Dan saat itu adikku hilang. Dia pasti ketakutan saat itu. Dia hilang saat berumur 7 tahun. Dia masih hidup atau tidak, aku tidak tahu. Aku benar-benar seorang Oppa yang sangat buruk.” Minseok terlihat sedikit bersedih.

“Hei jangan seperti itu Hyung. Waktu itu kita juga baru berumur 8 tahun. Jadi kita masih terlalu kecil untuk melindungi.. adikmu pasti akan ditemukan, juga adikku dan adik Yixing. Aku percaya mereka masih hidup dan sebentar lagi kita akan menemukan mereka” Chanyeol adalah orang yang sangat optimis.

“Sangat sulit untuk menemukan mereka. Bahkan aku lupa bagaimana wajahnya jika aku tidak melihat fotonya. Mungkin sekarang adikku sudah menjadi gadis remaja usia 17 tahun” balas Minseok.

“Tapi adik kalian punya kalung yang melambangkan kekuatan masing-masing kan?” aku menyahut pada pembicaraan mereka.

“Aku menukar punyaku dengan punya adikku.. jadi yang sekarang kupakai punya adikku” Chanyeol menjawabku.

“Aku juga menukar punyaku dengan adikku. Kurusa Yixing juga menukarnya. Aku melakukan itu untuk menjaganya”

“Kalung itu pasti sangat membantu… tidak mungkin ada kalung yang seperti milik kita jika orang itu bukan dari golongan Eroz Clan atau Clan kita. Kita bisa menemukannya.” Kalung kami memang sangat berbeda. Kalung kami hidup.

“Oh ya aku ingin pergi dulu. Melihat sekolah baruku. Aku ingin meneliti bagaimana keadaan sekolahku.” aku tersenyum pada mereka dan berlalu berjalan keluar rumah.

Aku kesana menaiki taksi, tidak mungkin aku menggunakan motorku. Jika para siswa yang belum pulang melihatku, mereka pasti berpikir aku orang asing gila yang memasuki sekolah mereka.

Di depan gerbang aku menengok kekanan dan kekiri melihat apakah ada penjaga. Tidak ada penjaga disini, jadi aku langsung masuk saja. Sekolah ini sepi, dan hanya suara dedaunan yang dihembus angin dan suara langkah kakiku yang meramaikan.

Aku melihat ke arah sekitar, bangunannya sama seperti bangunan sekolah biasanya, tapi disini sedikit ada unsur kuno karena sekolah ini sekolah lama. Ruang kelasnya tertata rapi, dan bersih. Aku berjalan di koridor, sepi sekali.

BRUKKK

Sepertinya aku menabrak seseorang, aku melihat ke bawah, buku milik orang itu jatuh berserakan. tarnyata orang yang kutabrak seorang gadis lantas aku melihat kearah wajahnya.

Oh Tuhan ada apa dengan tatapannya. Dia menatapku tajam dan dingin. Apakah ia marah? Belum pernah aku ditatap oleh seseorang dengan tatapan yang menyeramkan seperti ini, apalagi ia seorang gadis. Dia terus menatapku dengan tajam.

Lalu ia berjongkok, secara reflek aku juga ikut berjongkok membantunya membereskan bukunya. Saat aku akan membantunya, gadis itu menatapku tajam. Aku terpaku dengan mata tajamnya itu. Dia benar-benar gadis yang aneh. Apakah ia selalu menatap tajam orang lain? Aku menatap mata coklatnya itu. Sepertinya aku pernah melihat mata yang seperti ini, tapi siapa?

Setelah itu ia kembali membereskan bukunya. Aku penasaran dengan gadis ini. Dia gadis macam apa?

Chanyeol? Aku merasakan ada Chanyeol didekatku, disini ada hawa yang mirip Chanyeol. Apakah gadis itu? Aku merasa hawa itu berasal dari gadis itu. Sekarang aku tahu matanya mirip dengan siapa. Mata gadis itu mirip punya Chanyeol. Tapi bagaimana bisa matanya mirip dengan Chanyeol?

Saat gadis itu sudah membereskan bukunya dan akan pergi, ia menatapku dingin namun tidak tajam seperti tadi. Lalu ia berjalan pergi.

~[]{}||***||{}[]~

Aku masih memikirkan gadis tadi. Yang sangat ingin ku ketahui tentang gadis itu, mengapa aku tiba-tiba merasakan Chanyeol pada gadis itu? Apakah Chanyeol pernah berhubungan dengannya? Ahh tidak mungkin Chanyeol memiliki hubungan dengannya.

Kalau begitu apa? Matanya mirip dengan Chanyeol. Ahh aku tidak tau. Untuk apa aku memikirkannya.

“Lu.. cepat turun, ayo kita makan malam” Suara Eommaku. Mendengar Eommaku memanggilku, aku segera turun. Sebelum Eommaku mulai mengoceh.

Di ruang makan sudah ada Appaku yang duduk dikursinya, Eomma yang mengambilkan makanan, dan sebelas saudaraku. Kau bertanya apakah aku benar-benar memiliki 11 saudara. Jawabannya tidak aku hanya 2 bersaudara. Aku dan Sehun.

Lalu bagaimana yang 10? Mereka adalah anak-anak teman Eomma dan Appa yang meninggal akibat perang dulu, bahkan kau tahu Chanyeol, Minseok dan Yixing kehilangan adik perempuannya. Jadilah mereka tak punya siapa-siapa lagi. Oleh karena itu Eomma dan Appa merawat mereka. Aku sangat menyayangi mereka, aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa mereka.

“Lu.. cepatlah duduk. Dan makan” aku langsung duduk disebelah Jongin dan bersiap memakan masakan Eomma.

Kami semua makan dengan lahap. Tentu, masakan Eomma sangat lezat. Bahkan Jongin selalu menambah lagi jika sudah makan masakan Eomma.

“Hyung, bagaimana sekolahmu? Bagus? kau bertemu seseorang disana?” Tanya Chanyeol padaku disela-sela makannya.

“Kau habis dari sana?” Appa menyahut ketika aku akan menjawab.

“Iya, aku habis dari sana…. bangunannya bagus, sedikit terkesan kuno karena sekolah lama tapi masih bagus. Dan aku bertemu seseorang juga disana” jawabku.

“Nugu? Laki-laki? Perempuan?” Jongin langsung menanyaiku.

“Perempuan. Aku tak sengaja menabraknya saat melihat-lihat koridor” Jelasku.

“Lalu bagaimana? Dia cantik?” Tao juga ikut bertanya.

“Ehm, tapi dia orang yang sangat dingin” ucapku.

“Mwo, dingin? Seperti apa dia?” Eomma mulai rasa penasarannya.

“Saat aku tak sengaja menabraknya. Buku yang dibawanya jatuh. Lalu dia menatapku dengan tatapan sangat dingin dan tajam. Belum pernah aku melihat tatapan sedingin itu.” Jelasku lagi.

“Lalu bagaimana hyung?” tanya Sehun.

“Saat aku akan membantu membereskan bukunya, dia menatapku tajam seolah ia berkata. ‘jangan sentuh apapun!’ lalu saat ia akan pergi, gadis itu menatapku dingin lagi”

“Kurasa gadis itu, seseorang yang misterius” Yifan ikut menambahi.

“Tapi aku merasakan sesuatu saat didekatnya” sahutku.

“Apa itu?”

“Aku merasa ada Chanyeol disana. Dan matanya mirip dengan Chanyeol. Bahkan cara menatapku tadi mirip dengan Chanyeol saat marah.” jelasku.

“Naega?” Chanyeol melototkan matanya sambil menunjuk dirinya.

“Ehm, aku merasakan ada kau disana saat ia menatapku. Dan juga hawa panasmu ada padanya. Kau punya hubungan dengannya?” ungkapku.

“Aku tak mungkin punya hubungan dengannya hyung. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Mungkin hanya perasaanmu saja hyung, dia mirip denganku.” Betul yang dikatakan Chanyeol. Tidak mungkin Chanyeol punya hubungan dengan gadis itu.

“Anak-anak.. ayo makan kita lanjutkan saja pembicaraan ini nanti” Eomma menengahi. Aku pun langsung memakan sisa makananku.

Sebenarnya gadis itu siapa?

~Luhan’s Mind End

~[]{}||***||{}[]~

~Author’s Mind

Seperti biasa, Yeonyi selalu berangkat pagi. Duduk dibangku kesayangannya, tak lupa ia memasang earphone. Yeonyi selalu memejamkan matanya jika ia sedang sendirian dan membayangkan apa yang akan terjadi hari ini.

“Minah-ya!” suara Seohyun yang berasal dari luar kelas.

“Mwo?” Minah menanggapi Seohyun tanpa mengalihkan perhatiannya pada Smartphonennya.

“Anak barunya sudah datang.. kau tidak mau melihat?” Seohyun dengan semangat mengajak Minah.

“Jinjja? Dimana? Ayo kita lihat” Minah berdiri dan langsung ditarik Seohyun keluar kelas. Mereka berdua berlari menuju ke kerumunan siswa. Karena mereka berada di belakang dan banyaknya siswa yang ada disana, Seohyun dan Minah tidak bisa melihat dan mereka berdua berjinjit demi melihat anak baru itu.

DING DONG It’s Time To First Lesson, Sit On Your Chair Students. Open Your Book

Mendengar bel itu, Seohyun dan Minah langsung kembali ke kelas dengan wajah yang kusut. Begitu juga dengan para siswa lainnya.

“Kalian dari mana saja? Aku mencari kalian.. kenapa wajah kalian seperti itu?” Sojin langsung menghujani kata-kata pada Seohyun dan Minah yang tengah berwajah kusut.

“Aku dan Seohyun tadi pergi melihat anak baru” ucap Minah dengan nada tak bersemangat.

“Benarkah? Lalu kenapa wajahmu seperti itu? Dia laki-laki atau perempuan?” Sojin langsung memberikan pertanyaan.

“Dia laki-laki, tapi kami tidak bisa melihat karena banyak siswa yang disana” Seohyun menjawab. Lalu seohyun duduk dibangkunya.

Suara langkah kaki dari high heels terdengar dari luar kelas. Para siswa kelas 2-1 langsung duduk tenang, karena wali kelas mereka sudah datang. Jung Seonsaeng masuk dengan senyuman khasnya. Dan itulah mengapa banyak siswa sekolah ini yang suka dengan Jung Seonsaeng karena keramahannya.

“Annyeonghaseyo.. Jung Seonsaengnim” semua siswa langsung memberi salam pada Jung Seonsaeng.

“Selamat pagi.. sebelum kita memulai pelajaran.. kalian pasti sudah tahu kan.. sekolah kita mempunyai anak baru” Ucap Jung Seonsaeng. Semua siswi dikelas itu langsung menatap Jung Seonsaeng dengan tatapan yang berbinar-binar kecuali Yeonyi. Yeonyi tak pernah peduli dengan hal-hal yang seperti itu.

“Ne.. kami semua sudah tahu” Ucap Myungsoo mewakili siswa dikelasnya.

“Jadi, anak baru itu masuk dikelas kita, sayang masuklah dan perkenalkan dirimu.” Para gadis disitu langsung berteriak heboh sambil bertepuk tangan. Bahkan Nuri dan Jinhee juga seperti itu walaupun tidak sehisteris lainnya. Nuri dan Jinhee hanya bertepuk tangan.

Lain dengan para gadis, para namja yang dikelas ini hanya bertindak biasa sambil menunjukan senyum tipis pada anak baru itu. Dan lagi-lagi Yeonyi menatap malas dan sibuk dengan ponselnya.

“Annyeong Chingu, Aku Xi Luhan. Kalian bisa memanggilku Luhan saja. Senang berkenalan dengan kalian” Luhan menunjukan senyumannya. Dan itu sukses membuat para gadis disini kembali berteriak.

“Sudah cukup anak-anak.. Luhan, namja yang disana bernama Myungsoo. Dia ketua kelas kita” Jelas Jung Seonsaeng sambil menunjuk kearah Myungsoo. Luhan sedikit menundukan kepalanya sebentar memberi hormat. Dan Myungsoo juga menundukan kepalanya sebentar sambil tersenyum.

“Dan yang disana, yeoja yang paling belakang pojok kiri, itu Nuri. Wakil ketua kelas” Luhan juga melakukan hal yang sama seperti Myungsoo tadi. Dan diberi senyuman oleh Nuri.

“Jadi Luhan, jika kau ada kesulitan, kau bisa menghubungi Myungsoo dan Nuri. Atau siapapun yang dikelas ini. kau mengerti?”

“Ne, Jung Seonsaengnim” Luhan menganggukan kepalanya.

“Kau akan duduk di……” Jung Seonsaeng melihat depan. mencari bangku yang masih kosong.

“Kau bisa duduk di bangku paling belakang dekat Nuri. Kau duduk dengan Yeonyi” Yeonyi yang tadinya asik meperhatikan smartphonenya, langsung mendongakkan kepalanya. Dengan tatapan tak percaya dan dingin. Yeonyi melihat Luhan dengan tatapan dinginnya seperti kemarin.

“Chogi Seonsaengnim. Mengapa ia harus duduk dibangkuku?” Yeonyi bertanya pada Jung Seonsaeng dengan nada sedikit ketus. Dari ekspresi Yeonyi, Jung Seonsaeng sudah tahu kalau Yeonyi tidak akan mau bangkunya diambil. Jung Seonsaeng selalu hafal dengan sifat siswanya.

“Kau tak memperhatikan? Hanya bangkumu saja yang kosong Cho Yeonyi” ucap Jung Seonsaeng dengan ramah. Yeonyi langsung melirik kekanan dan kirinya. Memang tidak ada bangku lainnya yang kosong.

Yeonyi melihat keraah depan, memperhatikan Luhan dan Jung Seonsaeng. Luhan menyadari kalau gadis yang sedang menatapnya dingin itu adalah gadis yang kemarin. Luhan benar-benar merasa ada sesuatu dengan gadis itu.

Setelah sekian lama Yeonyi menatap Luhan dan Jung seonsang. Akhirnya Yeonyi memindahkan tasnya kebelakang punggungnya. Menandakan Luhan boleh duduk disampingnya. Dan menatap Luhan lagi dingin.

“Luhan sekarang kau bisa duduk disana” Ucap Jung Seonsaeng. Luhan langsung berjalan kearah Yeonyi sambil menatapnya penasaran. Yeonyi tida memperdulikan Luhan yang sedang menatapnya itu. Luhan duduk disamping Yeonyi dan masih menatapnya.

“Baiklah sekarang saatnya pelajaran. Buka buku Fisika halaman 201” Yeonyi mengambil buku fisikanya dan membuka halaman 201, begitu juga dengan Luhan.

“Kurasa kita pernah bertemu, kemarin aku menabrakmu. Maaf soal itu. Namaku Luhan siapa namamu?” Ucap Luhan. Yeonyi menoleh kearah Luhan dan menatap Luhan malas. Lalu Yeonyi mengambil sesuatu dari laci mejanya.

Ternyata earphone yang diambilnya, dan memasangkannya pada telinga. Lalu merapikan rambutnya agar tak kelihatan memakai earphone. Yeonyi kembali memandang lurus kedepan. Dan tak memperdulikan Luhan yang tercengang melihatnya. Luhan tahu apa maksud Yeonyi memasang earphone. Agar ia tak diganggu. Apakah aku orang yang cerewet hingga dia sepert itu? Pikir Luhan.

“Hai namaku Jinhee, kau pasti Luhan kan” Ucap Jinhee meperkenalkan dirinya saat Luhan menatap Jinhee dan Nuri disampingnya.

“Ahh ya aku Luhan. Senang berkenalan denganmu” ucap Luhan sambil tersenyum lalu kembali meperhatikan papan tulis.

Tapi Luhan kembali menatap Yeonyi, ia benar benar penasaran pada Yeonyi. Bahkan Yeonyi sama sekali tidak memperdulikan apa yang dia lakukan.

“Apakah sekarang papan tulis berganti di wajahku?” suara dingin berasal dari Yeonyi dengan melirikan matanya pada Luhan tajam. Bahkan lebih tajam daripada kemarin sore, lalu Yeonyi kembali menolehkan kepalanya ke papan tulis.

“Oh maafkan aku” Ucap Luhan sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya Luhan mendengar Yeonyi berbicara padanya walaupun dengan nada yang ketus.

~[]{}||***||{}[]~

DING DONG It’s Time To Take a Rest. Eat your Snack.

Bunyi bel istirahat. Yeonyi langsung berdiri dan berjalan kearah Nuri dan Jinhee, mengajaknya kekantin. Luhan melihat Yeonyi yang berbeda dengan tadi. Ia mau berbicara dengan Nuri dan Jinhee. Padahal Yeonyi tadi sama sekali tak berbicara pada siapapun. Apakah Yeonyi mempunyai kepribadian ganda?

Luhan melihat kearah ujung earphone Yeonyi yang tak diapasang pada MP3 atau ponsel. Luhan menyadari apa yang terjadi. Dari tadi Yeonyi hanya memasang earphonenya tanpa menyalakan musik. Benar-benar gadis yang tak terduga. Lalu Yeonyi berjalan dengan Nuri dan Jinhee.

Dikantin Yeonyi, Nuri dan Jinhee memesan makanan yaitu pancake dan bubble tea. Yeonyi yang bersama dengan Nuri dan Jinhee sangat berbeda dengan Yeonyi yang tanpa kedua sahabtnya itu.

“Apa kau sama sekali tak berbicara dengan Luhan, Yeonyi?” tanya Nuri setelah mendapatkan makanannya.

“Untuk apa aku berbicara padanya. Aku tak ada urusan dengannya” jawab Yeonyi ketus. Mendengar jawaban Yeonyi yang ketus itu membuat kedua sahabatnya itu bungkam.

Karena jika mereka berdua berlanjut bertanya-tanya, bisa-bisa Yeonyi akan marah pada mereka. Dan itu akan menjadi bencana besar bagi Nuri dan Jinhee jika terjadi. Yeonyi memang orang yang paling tidak suka jika ada orang yang banyak bertanya apalagi disaat dirinya sedang badmood.

“Bolehkah aku duduk disini? Tidak ada meja yang kosong lagi” suara Luhan disela-sela acara makan Yeonyi, Nuri dan Jinhee.

“Tentu kau boleh duduk disitu, sebelah Nuri” Ucap Jinhee ramah. Setelah Luhan duduk, Yeonyi langsung berdiri.

“Aku dudah selesai makan. Aku akan ke kelas” setelah mengucapkan kalimatnya, Yeonyi pergi dan menatap Luhan dingin bahkan sangat dingin.

“Apakah ia benar-benar orang yang seperti itu?” tanya Luhan setelah Yeonyi menghilang di kerumunan siswa-siswi.

“Ya Yeonyi memang seperti itu. Maaf ya dengan sifat sahabatku itu. Anggap saja itu sebagai acara penyambutan kelas untuk kedatanganmu” Ucap Nuri.

“Tapi bagaimana kalian bisa sedekat itu dengannya? Kurasa dia tipe orang yang dingin” tanya Luhan lagi.

“Kami sudah mengenalnya lama. Yeonyi itu seseorang yang sangat sulit untuk beradaptasi dengan orang baru. Dulu aku juga diperlakukan seperti itu dengan Yeonyi. Dia tak pernah berbicara padaku saat aku baru mengenalnya” jelas Jinhee.

“Lalu mengapa ia bisa mempunyai sifat yang dingin seperti itu?” Luhan menunjukan rasa penasarannya pada Yeonyi.

“Kan sudah kubilang kalau ia orang yang sulit beradaptasi pada orang baru.. tapi ada juga hal lain yang membuatnya bersifat dingin seperti itu, itu tentang rahasia-“ Jinhee langsung menghentikan omongannya. Jinhee menyadari ia hampir saja membocorkan rahasia terbesar antara mereka bertiga yang selama ini dijaga.

Nuri bahkan menginjak kaki Jinhee, dan itu membuat Jinhee melototkan matanya karena kesakitan. Lalu Jinhee dan Nuri tersenyum manis pada Luhan. Agar Luhan tidak menangkap keanehan mereka berdua.

“Rahasia apa?” tanya Luhan sekali lagi.

“Oh itu, setiap gadis pasti punya rahasia yang tak boleh diketahui siapapun. Jadi kau tak boleh tahu.” Ucap Jinhee setenang mungkin.

“Tapi tenang saja, kau pasti akan tahu kalau sebenarnya Yeonyi itu orang yang sangat baik dan hangat. Kau akan merasakannya ketika sudah mengenalnya lama. Bahkan kami bisa bersahabat seperti ini karena Yeonyi pernah menolong kami dari kakak kelas yang genit saat masih SMP.” Tambah Nuri.

“Apa kau percaya kalau Yeonyi pernah membantu Myungsoo dan Naeun mengembalikan buku di perpustakaan?” sahut Jinhee.

“Dia pernah melakukan hal itu?” tanya Luhan tak percaya.

“Ya.. bahkan itu baru terjadi kemarin Sore.Yeonyi membawa buku banyak dan tebal itu semua milik Myungsoo dan Naeun. Padahal Yeonyi mempunyai buku kurang dari 500 halaman. Dia baik kan?” jawab Nuri pada Luhan.

Oh jadi kemarin buka yang jatuh akibat aku menabraknya itu milik Myungsoo dan Naeun. Pikir Luhan. Yeonyi benar-benar orang yang memiliki kepribadian ganda.

~[]{}||***||{}[]~

“Hyung bagaimana perasaanmu, menjadi anak baru?” Sehun berteriak setelah Luhan pulang kerumah.

“Untuk pertama kalinya aku harus menundukan kepalaku pada orang yang lebih muda dariku” Ucap Luhan sambil mengingat ia menundukan kepala pada Myungsoo dan Nuri.

“Itu pengalaman baru… lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanya Sehun lagi.

“Aku sekelas dengan gadis yang kutabrak kemarin. Bahkan lebih parahnya lagi aku sebangku dengannya” Jawab Luhan.

“Jinjja Hyung?” Itu sebuah kebetulan yang hebat.. jangan-jangan dia jodohmu” Ucap Jongin dengan bercanda.

“Lalu apa yang terjadi dengannya?.. siapa namanya?.. apakah ia masih sedingin kemarin? ” Baekhyun ikut bergabung.

“Namanya Cho Yeonyi. Dia orang yang sangat dingin. Bahkan saat aku mengajaknya berkenalan, ia malah memasang earphone yang ternyata tak ada musiknya.” Jelas Luhan

“Jadi dia mengerjaimu begitu?” tanya Jongin tak percaya.

“Bukannya mengerjaiku, dia tidak ingin diganggu. Dia seorang yang penyendiri. Kata sahabatnya ia susah beradapatasi dengan orang baru. Bahkan ia tak pernah berbicara pada teman sekelasnya kecuali sahabatnya.” Jelas Luhan lagi.

“Sahabat? Katanya dia seorang yang penyendiri? Kenapa punya sahabat?” tanya Sehun bertubi-tubi.

“Dia punya 2 sahabat. Dan Yeonyi hanya membuka dirinya pada 2 sahabatnya itu. Katanya dia punya rahasia. Jadi itulah yang membuatnya menjadi seseorang yang dingin” Luhan merasa jadi pendongeng disini.

“Lalu siapa sahabatnya?” Chanyeol juga ikut bergabung.

“Nuri dan Jinhee.. dan mereka berdua sangat berbeda dengan Yeonyi. Mereka mempunyai teman walaupun tidak terlalu banyak”

“Wah ternyata kau sudah banyak mencari tahu tentang gadis itu ya?” Minseok menggoda.

“Tidak, aku hanya penasaran saja dengannya” jawab Luhan

Mereka semua akhirnya terdiam dan bermain dengan pikiran masing-masing. Begitu juga dengan Luhan. Dia berpikir tentang Yeonyi. Mengapa ia sangat dingin padanya. Disisi lain Luhan juga berpikir bagaimana caranya menemukan adik perempuan Chanyeol, Minseok dan Yixing yang hilang itu.

Entah mengapa Luhan merasa harus segera menumukan 3 adik perempuan mereka. Sebelum Eroz Clan menemukan mereka. Karena dalam diri 3 adik perempuan itu, ada berlian yang dicari Eroz Clan. Dan sangat berbahaya jika Eroz Clan benar-benar memiliki berlian itu.

.

.

.

To Be Continue^

.

Maaf ya kalau ceritanya Gaje. Dan melenceng jauh.. dan mianhae for typo.. hahah

Jangan lupa Comment ya ^^

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Girls and Diamonds (Chapter 1)”

  1. Yaelah chanyeol mah lemot amat.. kalo cewek tu hangatnya kayak chanyeol pasti kan chanyeol curiga siapa tau tu adiknya.. ini malah biasa aja.. hadeh.. ceritanya seruu ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s