[EXOFFI FREELANCE] [Summer: Mirage] Chapter 7 – Our History

summer

[Summer: Mirage] Chapter 7 – Our History

Author: Muftonatul Aulia/Hanifah Harahap

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhan(OC), Byun Baekhyun & Oh Sehun

Genre: Romance, Friendship, Family, Angst

Rating: General

Length: Multichapter

Credit Poster: Gyuskaups @ Indo Fanfictions Arts

PLEASE, NO PLAGIAT! THIS STORY IS REAL FROM OUR MIND

AND DON’T BE A SIDERS!

Visit Us HERE

Previous Chapter:

Chapter 1 – Sehun Eyes | Chapter 2 – Baekhyun Drawing Book| Chapter 3 – It’s Time For Dinner| Chapter 4 – Begin Again | Chapter 5 – Lovely Doll | Chapter 6 – Be Happy | [NOW] Chapter 7 – Our History

 

Baekhan melangkah keluar. Suara sepatu yang ia kenakan terdengar nyaring dengan langkah kakinya yang dengan ringan meninggalkan ruangan ujian itu. Tangan kanannya menenteng handbag-nya yang berwarna coklat dengan ringan.

Tangannya bersiap membuka pintu ruangan yang besar dan gagah dengan satu gerakan ringan. Ketika ia membuka pintu, seorang lelaki baru saja akan masuk ke dalam ruangan itu. Baekhan menancapkan pandangannya pada wajah lelaki itu dan sedikit menutup pintu ruangan.

Bibir Baekhan bergetar hebat menyebut nama lelaki yang ada di depannya itu. Ia melangkah mendekatinya dengan banyak sekali pertanyaan di otaknya sekarang.

“….Luhan?”

“Wah, apa aku salah ruangan?” tanya Luhan sambil celingak-celinguk mencoba melihat isi dalam ruangan itu tanpa melihat gadis yang ada di depannya.

“A…apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku kuliah di sini sekarang. Aku dapatbeasiswa.

Luhan sibuk memperhatikan sekitarnya. Ia sedikit kebingungan dengan semua ruangan-ruangan yang ada di kampus ini. Luhan membuka sebuah kertas yang berisi denah kampus dan membacanya dengan teliti.

Ya, apa kau bisa menun―” Tiba-tiba saja Luhan memberhentikan kalimatnya ketika melihat wajah gadis itu. Sama terperangahnya dengan Baekhan.

“Baekhan!” ujar Luhan seraya memeluk Baekhan erat.

Baekhan mendadak merasakan hatinya benar-benar sakit, perih. Gadis itu bisa mencium aroma parfum Luhan yang masih sama seperti yang dulu pernah ia hirup. Kenapa Luhan bisa ada di sini? Bukankah ia seharusnya ada di China sekarang?

“Aku sudah mencarimu ke mana-mana” kata Luhan tak melepaskan pelukannya. Gadis yang ia peluk hanya diam seperti patung dengan tangannya yang semakin erat menggenggam tasnya.

Luhan melepaskan pelukannya dan tersenyum. Namja itu mengacak rambut Baekhan dengan tangan kanannya. “Kemarin, aku ke rumahmu. Ternyata kamu sudah pindah sejak tahun lalu.”

Oh! Ternyata orang yang ia lihat di depan Mozaik Caffe saat Sehun mengantarnya pulang karena mabuk itu benar-benar Luhan!

Rumah lama keluarga Byun memang berada tak jauh dari Mozaik Caffe itu. Rumah mereka berada di sebuah kompleks perumahan elit. Tapi tahun lalu keluarganya memutuskan untuk membangun rumah sendiri dengan perkarangan yang lebih luas dan tentu agar lebih nyaman tinggal.

“Oh,” jawab Baekhan “Mianhae, aku harus pergi sekarang.”

Luhan menarik tangan gadis itu. Mencegahnya untuk pergi. “Temani aku makan di kantin.”

Mwo?” Baekhan membulatkan matanya.

“Ayolah.” Luhan mendorong tubuh mungil gadis yang mengenakan baju tanpa lengan itu ke arah kantin “Kau dulu sering menemaniku makan di kantin sekolah, ‘kan?”

Luhan meneguk minuman dinginnya. Benar-benar segar. Bibir lelaki itu menjadi sedikit berwarna merah dan membuatnya sepeti memakai lipgloss. Baekhan memiringkan kepalanya dan meneliti Luhan dari atas hingga bawah.

“Apa yang kau lakukan selama tiga tahun ini, Luhan? Kau.. benar-benar tampak cantik,” ujar Baekhan berterus terang. Gadis itu tertawa kecil setelahnya.

Ani. Aku tidak cantik, aku tampan!” sergah Luhan. Oh.. kenapa semua orang mengatakan bahwa dirinya cantik?

“Jadi, kau sekarang kembali ke rumah lamamu?” tanya Baekhan dengan pembawaan yang lebih santai dari sebelumnya. Luhan ini hanya teman masa SMA-mu, itu saja.

Well, rumah itu juga masih diurus oleh beberapa pelayan lama kami” jawab Luhan memperhatikan wajah Baekhan yang menurutnya semakin cantik dibanding terakhir kali ia melihat gadis itu.

Gaya gadis itu juga sudah sangat berubah. Saat SMA dulu, Luhan ingat sekali kalau Baekhan adalah gadis yang lumayan tomboi dan menjadi salah satu deretan preman sekolah versi anak perempuan yang kalau mengamuk akan membentak siapapun yang ada di depannya. Sekarang, gadis itu menjadi sangat dewasa dengan tampilannya sangat feminime. Luhan menyukainya.

“Baekhan, lihat? Aku sudah menepati janjiku padamu, ‘kan?” tanya Luhan.

“Aku bahkan sudah lupa.” Kata Baekhan berterus terang. “Terimakasih sudah mengingatkanku. Kau benar-benar orang yang tidak ingkar janji,”

“Oh ya,” Luhan merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah bingkisan kecil “It’s spesial for you, dear” katanya seraya memberikan bingkisan yang cantik itu pada Baekhan.

Dear?

                Just take it, aku membelikanmu sehari sebelum aku berangkat ke Korea,” sambung Luhan dengan pandangan matanya yang mengisyaratkan Baekhan untuk segera mengambilnya.

Gumawo,” kata Baekhan seraya menerima bingkisan itu.

Luhan berdecak kesal. “Gumawo, deer”

Mwo?!!

“Bilang ‘gumawo, deer’ padaku. Sudah lama tidak mendengarnya darimu. Dulu kan kau memanggilku dengan sebutan itu” kekeh Luhan.

Baekhan menggigit bibirnya. “Gumawo, deer”

Luhan tersenyum senang setelah mendengar Baekhan menyebutkan kalimat itu. Luhan merogoh sakunya, mengeluarkan handphone-nya dan memberikannya pada Baekhan. “Simpan nomormu di sini. Ini pertemuan pertama kita. Ada baiknya kita tukaran nomor handphone,”

Chanyeol menunggu di balik pintu dengan gelisah. Ia berjalan mondar-mandir sedari tadi. Ketika pintu warna coklat itu terbuka, ia mendapati seorang dosen lelaki yang ia kenal. Dosen itu memegang banyak berkas. Entah apa saja.

“Maaf, Pak. Apa Byun Baekhan sudah keluar dari ruang ujian ini?”

“Byun Baekhan? Ah, iya. Dia sudah keluar sejak 20 menit yang lalu”

“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak, Pak” kata Chanyeol menundukkan kepalanya.Dosen itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol berdecak kesal. Kemana, sih gadis itu pergi?

Kemarin, Chanyeol pulang malam dan mendapati Kyungsoo dan Seulwoo sedang makan malam bersama. Setelah bekunjung ke makam Ahrin, hati Chanyeol benar-benar lega.

Malam itu, seperti yang sudah-sudah, Chanyeol bergabung bersama sepasang kekasih itu untuk makan malam. Ya, Kyungsoo sering sekali datang dan membuatkan Seulwoo―dan tentu saja Chanyeol banyak makanan. Sesuatu yang menguntungkan Seulwoo karena dia tidak perlu terlalu repot untuk menyiapkan makanan di rumah itu. Selain itu, Chanyeol juga menyukai semua masakan yang dibuat Kyungsoo.

Sialnya, setelah selesai makan malam, Seulwoo mendadak memberitahunya kalau sebelum ia pulang, Baekhan datang mencarinya ke rumah dan mengambil boneka Baekhyun yang ketinggalan. Seulwoo juga bilang kalau Baekhyun tengah sakit sekarang. Mendengar itu Chanyeol langsung pergi ke rumah Baekhan untuk menemui kakak-adik yang aneh itu.

Ketika sampai, satpam di rumah keluarga itu bilang kalau Tuan dan Nyonya Byun belum pulang dan di dalam rumah hanya ada Baekhan dan Baekhyun. Untunglah ia sering berkunjung ke sini dan satpam itu mengenalinya sehingga ia bisa masuk dengan mudah.

Udara dingin dari AC dan pengharum ruangan menyeruak ketika Chanyeol membuka pintu rumah yang tidak dikunci itu. Suasana dalam rumah benar-benar hening. Chanyeol menelusuri anak tangga dan membuka pintu kamar keduanya dengan ragu. Warna-warna pastel yang sangat ia hapal langsung menyambutnya.

Oh, lihat! Kini keduanya tertidur di atas kasur Baekhan dengan posisi saling berpelukan. Chanyeol tersenyum simpul dan mendekati mereka. Di atas buffet milik Baekhyun, ia bisa melihat beberapa buah kotak makanan dan wadah air panas. Juga ada obat sirup penurun panas rasa strawberry.

Chanyeol melihat ke arah Baekhyun yang berlumuran keringat. Baekhan juga tampak kelelahan. Lelaki itu lalu mengelus rambut Baekhan yang tergerai dan sedikit berantakan. Sesaat kemudian, Chanyeol mencium wajah samping gadis itu dengan lembut lalu pergi berjalan ke arah pintu dan keluar. Ya, lelaki itu sedikit kesal karena ia datang di saat yang tidak tepat.

Lelaki itu berjalan ke arah kantin kampus. Sekarang tenggorokannya benar-benar kering setelah mencari-cari Baekhan kemana-mana. Ia baru tahu kalau hari ini para anak Business Management baru melaksanakan Semester Exam. Well, dia benar-benar lega karena ia dan Baekhyun dan juga anak-anak jurusan seni lainnya sudah melaksanakan Semester Exam dengan baik.

                Mata Chanyeol bergerilya di kantin itu―mencari meja yang kosong. Ia tidak mau satu meja dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Apalagi dengan para yeoja yang suka sekali meneriaki namanya ketika ia bermain basket atau apalah.

Bagi Chanyeol, mereka semua itu mengerikan dan benar-benar merusak mood-nya. Seandainya ia punya kekuatan sihir seperti Harry Potter, ia pasti sudah melenyapkan mereka semua dari bumi ini.

Chanyeol memicingkan matanya ketika ia tak sengaja melihat sosok gadis berambut coklat yang amat ia kenal. Baekhan? Ya benar, itu Byun Baekhan! Chanyeol berteriak dalam hati dan menghampiri gadis itu dari belakangnya dengan perlahan.

Dengan satu gerakan cepat dan pasti, Chanyeol mengulurkan kedua telapak tangannya dan menutup kedua mata bulat Baekhan dengan lembut.

“Eh-oh? Siapa ini? Ya!” berontak Baekhan. Gadis itu memegang telapak tangan Chanyeol yang lembut dan berusaha melepaskannya dari matanya. Pandangannya benar-benar gelap. Chanyeol terus saja diam dan semakin mempererat talapak tangannya.

Chanyeol tertawa sendiri dalam hati. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah samping Baekhan dan melepaskan tangannya.

“Apa kau tidur nyenyak tadi malam?” kata Chanyeol. Tangan lelaki itu kini berada di kedua bahu Baekhan.

Baekhan mengedipkan matanya berkali-kali―tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya kini. Wajah Chanyeol yang tampan sekarang sangat dekat dengan wajahnya. “Oh.. ya.. tentu saja,” jawab Baekhan memalingkan wajahnya.

Ya, apa kau malu?” kekeh Chanyeol seraya menaruh kedua telapak tangannya ke pipi Baekhan dan sedikit menekannya hingga wajahnya seperti seorang bayi yang lucu. Baekhan menepis tangan Chanyeol. “Idiot.”

“Oh, ayolah Baekhan―kau benar-benar bertingkah aneh hari ini,” keluh Chanyeol seraya duduk di sebelah kanannya.

Baekhan menatap mata Chanyeol dalam-dalam. Ia sudah bilang pada Chanyeol kalau ia sedang berusaha untuk melupakannya, ‘kan? Seharusnya Chanyeol tidak bersikap manis padanya seperti ini, seperti sebelum-sebelumnya.. Seharusnya Chanyeol bersikap dingin dan cuek padanya.. Seharusnya..

Ya, Baekhannie!” Chanyeol mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Baekhan.

Tunggu sebentar!Baekhannie?

“Mau dengar sesuatu, tidak?”

“Tidak.”

“Jadi begini―”

Heol. Bukankah Baekhan tadi sudah bilang kalau ia tidak mau mendengarkan ‘sesuatu’ itu? Chanyeol benar-benar menyebalkan. Akhirnya, apa yang ia takutkan dengan kedekatan Chanyeol dan Baekhyun selama ini terjadi. Chanyeol semakin mirip dengan Baekhyun!

“Kemarin malam kata Seulwoo kamu datang untuk mengambil boneka Baekhyun yang ketinggalan. Dia juga bilang kamu mencariku dan tentang Baekhyun yang sakit. Sesudah makan malam, aku langsung ke rumahmu tapi ketika aku ke kamar kalian, ternyata kalian berdua sedang tidur dengan nyenyak seperti anak kecil―”

“A-apa yang kau lakukan di kamar kami?” tanya Baekhan panik.

Ya, tenanglah! Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya melihat kalian sebentar lalu memberi kecupan selamat malam padamu dan memutuskan untuk pulang ke rumah” jawab Chanyeol dengan tanpa dosa. “Ah, padahal aku ingin sekali berlatih piano bersamamu lagi dan tentunya makan malam dengan keluargamu lagi,”

Mendadak wajah Baekhan berubah menjadi merah seperti tomat masak. Chanyeol melirik dengan mata tanpa dosa. “Kenapa dengan wajahmu? Kau benar-benar terlihat seperti rusa berhidung merah di musim panas.” Chanyeol tertawa.

Rusa..

Rusa..

“Apa kau tidak sadar kalau wajahmu benar-benar aneh, Baekhan?”

Baekhan mengatupkan bibirnya erat-erat. Sial!

Luhan menaikan satu alisnya ketika mendapati Chanyeol sudah duduk di kursi kosong di antara mereka beruda. Lelaki itu duduk dan menatap Baekhan dengan wajah merahnya yang duduk di depannya kini. Sesaat tawa Chanyeol berhenti dan melihat ke arah Luhan.

“Siapa dia?” tanya Chanyeol pada Baekhan. “Apa dia yeoja yang tomboi dan berdandan seperti laki-laki?”

Baekhan menyikut Chanyeol dengan kuat.

Mwo?!” Chanyeol membalas perlakuan Baekhan.

“Dia itu namja, Chanyeol! Sama sepertimu…..” kata Baekhan akhirnya.

Jinjja? Oh.. mianhae.. aku pikir kamu yeoja soalnya wajahmu benar-benar.. cantik,” kata Chanyeol dengan menekankan kata ‘cantik’ di ujung kalimatnya.

Luhan tersenyum melihat kelakuan Chanyeol. “Tentu aku namja. Kalau bukan namja, kenapa aku bisa menjadi kekasih seorang Byun Baekhan?” katanya dengan nada bangga.

“Oh, hei.. itu kan saat kita masih SMA, Luhan” sergah Baekhan mengoreksi pernyataan Luhan yang sangat blak-blakan.

“Oh ya?” kata Chanyeol. Ia menatap meja yang ada di depannya itu. Chanyeol baru menyadari kalau Baekhan sudah bersama Luhan sejak tadi, terbukti dengan dua buah gelas minuman dingin mereka yang tinggal setengah dari volume awalnya.

“Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?” tanya Luhan pada Baekhan.

Ani. Apa yang kau lakukan di sana?”

“Profesor Lee memberiku beberapa kata sambutan untuk kedatanganku di kampus ini. Well, karena dia yang jadi promotor beasiswa untukku, maka kemungkinan dia akan menjadi abeoji-ku di kampus ini…”

“Itu bagus untukmu, Luhan. Kau benar-benar hebat hingga Profesor Lee mau menjadi promotor beasiswamu di sini,” puji Baekhan.

“Ya.. sebenarnya sangat baik malah. Aku tak tahu bahwa kau juga di sini, Baekhan. Aku juga tak menyangka bisa bertemu denganmu secepat ini..” kekeh Luhan.

Baekhan mengaduk minumannya “Apa di sana baik?”

“Tentu saja. Tapi aku benar-benar rindu Korea” jawab Luhan “dan dirimu.”

Profesor Lee? Kata sambutan? Promotor beasiswa? Rindu Korea? Dan Baekhan?

                Apa-apaan ini semua?

                Chanyeol mulai merasa kesal karena tidak dilibatkan ke dalam percakapan mereka. Chanyeol seperti seorang yang tak dianggap di sini. Sedih sekali.

“K-kau jurusan mana? Semester berapa? Kenapa aku tak pernah melihatmu? Dan.. apa hubunganmu dengan Profesor Lee? Kau darimana sebenarnya?” tanya Chanyeol dengan napas yang sama sekali tak terputus.

Biosystems & Biomaterials Science and Engineering. Semester 4. Profesor Lee itu promotor beasiswa-ku. Dari China.” Luhan menjawab pertanyaan Chanyeol dengan cepat dan dingin.

Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah. Ternyata anak pintar..

Suasana mendadak menjadi canggung setelah Luhan menjawab pertanyaan Chanyeol tadi. Chanyeol benar-benar ingin membebaskan dirinya dan Baekhan dari keadaan ini.

Handphone Baekhan bergetar. Bukan sebuah panggilan masuk, tapi sebuah pesan. Dari Baekhyun? Baekhan membuka dan membaca pesan yang masuk itu:

“Nuna, kau di mana? Aku sungguh kelaparan di sini. Badanku sangat menggigil dan kepalaku amat-sangat sakit. Aku mengetik ini setengah mati,”

Astaga!

Baekhan terenyak.

Ia sudah meninggalkan Baekhyun sendirian di rumah terlalu lama! Dan parahnya, tanpa makanan! Well, meskipun di rumahnya ada pelayan yang akan memasakan makanan jika mereka kelaparan, tetap saja Baekhyun tak akan mau makan jika tidak disuapi oleh dirinya di saat seperti ini.

Baekhan juga belum membelikan Baekhyun obat dan hanya memberikannya sirup penurun panas rasa strawberry. Entah obatnya bekerja atau tidak. Tentu karena itu adalah obat milik anak tante-nya yang ketinggalan saat mereka berkunjung ke rumah ini beberapa hari yang lalu.

Pikiran gadis itu melayang jauh. Apa Baekhyun sudah mandi? Bagaimana kondisi Baekhyun saat ini? Apa kondisinya makin parah?

Mianhae, Luhan! Aku harus pulang segera! Baekhyun sedang sakit dan aku meninggalkannya sendirian terlalu lama” kata Baekhan seraya berdiri dari kursinya dan mengambil handbag-nya “Aku pulang ya―”

Luhan dan Chanyeol sama-sama diam memperhatikan gadis itu yang berlari kecil dengan sepatu ankle miliknya yang sangat nyaring.

“Oh, mian. Aku baru ingat kalau ada urusan dengan dosen, baiklah aku akan pergi juga ya, Luhan!” kata Chanyeol berbohong. Hari ini ia sama sekali tidak memiliki jadwal kuliah. “Enjoy the campus,”

 

Siapa wanita paling bodoh?

Byun Baekhan.

Wanita itu dengan gesitnya berlari ke bagian depan kampus tanpa sadar bahwa ia tidak membawa mobil. Hari ini ia berangkat bersama appa-nya yang kebetulan dijemput supir kantornya ketika ia hendak pergi ke kampus tadi pagi.

Biasanya, Baekhyun yang akan membawa mobil dan Baekhan bersantai di samping Baekhyun sembari bersantai menikmati jalanan kota Seoul dan mendengarkan iPad―rasanya lebih nikmat dibanding harus menyetir sendiri.

Sudah seharusnya lelaki yang menyetir, bukan?

Lagipula Sehun juga sering sekali menjemput dan mengantarnya pulang. Jadi, tak ada alasan baginya untuk mengendarai mobil sendiri. Well, kecuali dalam hal-hal mendadak seperti insiden yang mengharuskan ia pergi sendirian ke rumah Chanyeol tadi malam.

Tapi hari ini berbeda. Ia menyesal tidak mengendarai mobil sewaktu pergi ke kampus tadi pagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus mencari taxi? Ah, ia harus membeli makanan dan obat untuk Baekhyun! Memakai taxi tentu akan membuat uangnya semakin sedikit.

Apa telepon appa? Ah, jangan! Dia ada meeting hari ini. Kenapa keluarganya tidak memiliki supir pribadi, sih? Oh ya, dia lupa. Dulu pernah ada supir pribadi, tapi semenjak Baekhan dan Baekhyun kuliah, sang supir pergi entah ke mana. Mungkin saja orangtuanya berpikir mereka berdua tak akan pernah memerlukan supir itu lagi. Toh, mereka sudah bisa mengendarai mobil sendiri.

Baekhan menggaruk kepalanya: ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.

Ya sudahlah. Terpaksa mencari taxi..

Percuma saja ia berkuliah di Business Management of Seoul University yang sangat terkenal kehebatannya itu.

Baekhan melangkahkan kakinya dengan berat. Ada banyak hal yang menjadi beban pikirannya saat ini. Tidak cukup dengan masalah Sehun dan Chanyeol serta masalah Baekhyun yang sakit dan mengalami patah hati yang berat hingga membuatnya berlinangan air mata ketika mendengar curahan hati seorang Byun Baekhyun, sekarang sang mantan―Luhan yang pernah ia cintai mati-matian datang kembali ke kehidupannya setelah beberapa tahun pergi ke China.

Well, Baekhan dan Luhan adalah sepasang kekasih sewaktu SMA. Hingga akhirnya mereka putus karena kembalinya Luhan ke negeri asalnya: China. Tentu keduanya tak bisa melakukan Long Relation Ship. Itu sangat mengerikan. Hanya orang-orang tertentu yang berani melakukannya. Sayangnya, Baekhan tidak termasuk ke dalam jejeran orang-orang itu. Padahal ia sangat mencintai Luhan..

Tapi sekarang beda. Benar-benar berbeda. Sehun sudah masuk ke kehidupannya dan membuatnya mulai berwarna seperti kembang api yang indah semenjak itu. Juga tentang perasaannya pada Chanyeol yang diam-diam ia sukai sejak pertama kali mereka bertemu di gerbang sekolah.

Baekhan menendang udara. Apa yang harus ia lakukan? Siapa yang harus ia pilih untuk menyinggahkan hatinya? Sehun-kah? Chanyeol-kah? Atau mungkin.. agar lebih dimaklumi.. kembali lagi pada si rusa kecil Luhan?

Oh, rusa! Itu adalah satu kata yang paling ia hindari selama 3 tahun belakangan ini. Pasalnya, jika mendengarnya yang pertama kali terlintas di benaknya adalah wajah Luhan. Kenapa? Karena arti nama Luhan adalah rusa kecil. HAHA imut sekali.

Sejujurnya, ia suka dengan nama Luhan―walaupun itu nama China. Seandainya saja Luhan bukanlah mantan kekasihnya atau siapa-siapa dirinya, ia mungkin akan memberi nama anaknya dengan nama Luhan. Well, sama-sama berakhiran ‘han’, seperti dirinya. Dan akan menambahkan marga―entah siapa―di depan nama anaknya nanti. Mungkin Oh? Atau mungkin saja Park?

Omo, Baekhan! Apa yang sedang kau pikirkan?

Baekhan bergidik ngeri. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Musim panas belum dimulai dan ia mungkin sudah terkena demam musim panas. Tidak lucu.

Baekhan terperangah ketika sebuah tangan melingkar di lehernya dan menariknya ke belakang. Apa lagi ini?

Ya, apa kau meninggalkanku dengan Luhan yang sama sekali tidak ku kenal? Kau kejam Baekhan” kata Chanyeol.

Oh, iya! Baekhan baru ingat itu semua. Gadis itu memegangi tangan Chanyeol yang melingkar di lehernya. “Chanyeol, lepaskan..ya!”

Chanyeol tertawa dan merangkul Baekhan. Sementara satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang, aku juga ingin bertemu Baekhyun.”

Aniya. Aku harus membeli beberapa obat untuknya dan makanan juga. Jadi kalau kau mau ketemu dia, kau bisa langsung saja”

Meskipun Baekhan menyukainya, ia tak mau terjebak dalam satu mobil yang sama dengan Chanyeol. Tiba-tiba ia jadi teringat Sehun. Dimana lelaki itu? Sesudah keluar dari ruang ujian tadi, ia sama sekali tidak menemukan sosok yang sedang ia coba untuk sukai itu. Oh, bencana!

Well, maksudku aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau. Atau mungkin date?” kata Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhan, seperti seseorang yang akan mencium kekasihnya. “Kita belum pernah date, ‘kan? Bagaimana kalau hari ini?”

Baekhan melepaskan rangkulan Chanyeol dan bergidik ngeri. Ada apa dengan Chanyeol hari ini? Ia tahu seharusnya ia tidak mengatakan tentang perasaannya pada Chanyeol dan bagaimana dengan Sehun.

“HAHAHAHAHA…” Chanyeol tertawa keras sekali melihat kelakuan Baekhan. Sambil tetap tertawa, Chanyeol kembali merangkul Baekhan dan menyeretnya ke arah parkiran kampus. “Cepatlah.. nanti Baekhyun keburu kritis sendiri tak ada makanan.”

Luhan menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang lembut.

Kamarnya yang di dominasi warna coklat susu benar-benar mewah. Luhan tertegun, melamun dan memiringkan badannya. Pikirannya tertuju pada lelaki yang duduk bersama Baekhan selama ia pergi menemui Proffesor Lee di ruang rapat. Lelaki yang ia dengar di panggil Chanyeol oleh Baekhan itu tampak sangat menyukai Baekhan. Luhan bisa melihat wajah itu dari kejauhan, saat ia berjalan kembali menuju kantin kampus.

Luhan mengacak-ngacak rambutnya sendiri yang berwarna hitam pekat dengan kasar lalu melempar bantalnya ke sembarang tempat.

Lelaki berwajah cantik itu bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya yang rapi sekali. Ia duduk dengan hati yang risau lalu membuka laci meja. Luhan mengeluarkan sebuah amplop surat warna putih bersih yang sangat rapi seperti baru saja dikirim.

Dengan jarinya, Luhan membuka amplop itu. Sebuah kertas yang agak keras muncul dengan tulisan hangul yang rapi.

Itu surat 4 tahun yang lalu…

Saat itu Baekhan sedang berlibur ke Jepang dan mengiriminya surat itu, dengan beberapa foto pemandangan Jepang yang gadis itu potret sendiri. Luhan sedikit meremas ujung kertas itu.

Luhan membacanya ulang dengan perlahan.

Kalimat pertama: Dear My Deer, How are you today? Baekhyun sangat menyebalkan dan aku sejujurnya tak bisa menikmati liburanku ini. Kalau begini jadinya, aku lebih memilih tidak ikut liburan ke Jepang dan bersamamu saja di Korea. Apa kau merindukanku juga?

 

-TBC-

Next Chapter

.

“Sudah seharusnya seorang Tuan Puteri diperlakukan seperti ini oleh pangerannya, bukan?”

.

.

.

.

“Aku sendirian..”

.

.

.

.

“Lepas bajumu

.

.

.

.

“A-apa yang kau lakukan Chanyeol? Ya!”

 

Apa yang akan terjadi selanjutnya? 😀

Nantikan chapter 8-nya dan happy reading everyone!^^

31 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] [Summer: Mirage] Chapter 7 – Our History”

  1. ceritanya keren..
    sehun kah? chanyeol kah? luhan kah? huhuhu.. kalo baekhyun bukan adiknya pilih baek ajah. #MulaiGila #NggaJelasBangetKomentarnyaSaya #Maaf
    ditunggu NextChap’nya. jangan kelamaan ya kak 😀 #Memohon #PuppyEyes

    1. Sabar yah xD baru selesai TO nih authornya jadi lagi mau ngelanjutin yang chapter 8 😀 /curcol dikit/
      And thank you udah mau baca, zhafi-ah~~ ❤

    1. Iya nih. Si Baekhan bikin kesel. Apa kita bunuh aja bareng ya 😀
      Thankyou for reading, ulfi~ 😉 ditunggu nextnya yaaa

  2. Kyaaaaaaa…… dI NEXT CHAPTER ADA YANG SEDIKIT AMBIGUU…… APAAN TH????? “LEPAS BAJUMU?” Wahhhh eonn, rating nya bakalan naik yh?? wkwkwkwk. Aku penasarannnnn.. Lanjut eon, lanjut.

Tinggalkan Balasan ke Fina Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s