Regret (Chapter 1)

Regret

Regret – Chapter 1

.

D.O.ssy present

Casts Luhan, Kim Ji Hye (OC) | Genre Romance, Angst | Length Chaptered | Rating PG-17

Poster credit Jo Liyeol

.

I own the story. Please don’t copy paste it without my permission.

.

http://chocolate46.wordpress.com/

.

.

WARNING: Ini PG-17 yah, untuk 17 tahun ke atas, karena fanfic ini mengandung harsh words dan bad scene yang sangat menjurus. Jadi, yang umurnya masih di bawah, aku udah peringatkan! Bhaaaakkk :v

.

.

.

“Aku menyesal jadian denganmu.”

.

.

–***–

Jika Luhan disuruh mengurutkan hal-hal yang paling ia sesali selama hidupnya, maka jadian dengan Ji Hye menempati urutan pertama. Bagaimana tidak, jika hubungan itu hanyalah iseng semata. Ah, andai saja dulu ia tidak termakan oleh tantangan si Kai sialan dan teman-teman, hidupnya tidak akan jadi seperti ini sekarang.

 

Masih jelas tersimpan di memori Luhan bagaimana seringai memuakkan Kai waktu itu. Ia menunjuk pada seorang gadis yang katanya terkenal paling sulit didekati oleh lelaki mana pun, lalu dengan wajah super menyebalkannya ia menantang Luhan untuk mendapatkan hati sang gadis. Dan bodohnya, Luhan terima saja tantangan itu tanpa perhitungan.

 

Siapa sangka, rupanya itu hanyalah jebakan batman. Kim Ji Hye (nama gadis itu) ternyata adalah manusia yang kelewat lugu dan polos. Mudah didekati dengan rayuan dan gombalan tak bermutu―yang bahkan Luhan sendiri jijik bila ia mengingat-ingat kembali apa yang pernah diucapkannya pada si gadis.

 

Sekarang, beginilah. Luhan berubah menjadi laki-laki paling pengecut yang pernah ada, hanya untuk mengakui semuanya di depan Ji Hye. Padahal, dulu Luhan paling terkenal dengan predikat lelaki brengsek yang disandangnya. Tapi tak tahu kenapa, berhadapan dengan Ji Hye, Luhan dan segala kebrengsekkannya seolah ciut menjadi pria penakut. Ya, takut jika ia menyakiti gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.

 

Katakan Luhan jadi pengecut sekarang, tetapi kelakuannya memang masih brengsek―kendati tidak separah dulu. Bukankah sekali brengsek tetap brengsek? Ia lebih memilih bermain di belakang untuk mengencani gadis lain yang dianggapnya lebih sexy dan menyenangkan, ketimbang memutuskan hubungan dengan Ji Hye dan mengatakan secara terang-terangan mengenai taruhan itu kemudian membawa gadis lain ke hadapan―seperti yang biasa dilakukan Luhan kepada para mantannya dulu. Entahlah, hanya pada Ji Hye saja ia tidak bisa sekejam itu mencampakkannya.

 

“Tck.” Luhan berdecak samar melihat penampilan Ji Hye yang terlampau membosankan dan tidak sesuai dengan selera Luhan. Kaos kebesaran, celana jeans, sepatu kets, jam tangan pria dan rambut dikuncir kuda―selalu seperti itu. Oke, Ji Hye memang gadis tomboy, tapi setidaknya Luhan ingin melihat ia menggunakan rok mini atau tanktop. Sekali saja!

 

“Ada apa, Lu?” Si gadis bertanya, membuyarkan lamunan panjang dan fantasi Luhan yang tidak-tidak.

 

“Tidak ada apa-apa. Ayo berangkat,” ajak lelaki itu seadanya yang dijawab anggukan oleh Ji Hye.

 

Hari ini mereka akan berkencan untuk yang―entah ke berapa kalinya, hanya bisa dihitung dengan jari, padahal mereka sudah berpacaran selama kurang lebih dua tahun. Hebat bukan? Sampai sekarang Luhan pun masih bingung mengapa ia bisa bertahan selama itu, sedangkan dengan gadis lain paling hanya berlangsung sampai tiga bulan.

 

Jenuh sudah pasti ada di benak Luhan. Namun ia selalu saja menyerah dengan tampang polos Ji Hye tiap kali ia ingin meminta putus. Sebab Luhan tak bisa membayangkan jika gadis itu menangis lagi karenanya. Pernah suatu hari Luhan menyaksikan Ji Hye menangis, ketika lelaki itu baru saja berkelahi dengan kakak tingkat. Dan itu merupakan pengalaman terburuk semasa dua puluh tahun hidup Luhan. Akhirnya setelah kejadian itu, diam-diam ia bersumpah tidak ingin membuat Ji Hye meneteskan airmata lagi. Oleh karenanya, Luhan mengurungkan niatnya dalam hati.

 

Gadis manis itu menggenggam tangan Luhan erat-erat, yang demi apapun Luhan tidak suka. Sangat tidak keren rasanya lelaki setampan dan semenawan dia berkencan dengan gadis tidak feminin dan tidak tahu fashion seperti Ji Hye. Namun lagi-lagi, Luhan tidak bisa menuntut.

 

“Lu, ayo naik roller coaster!”

 

Oh, dan satu lagi, mahasiswa tahun ketiga jurusan seni itu benci ketinggian!

.

*

.

“Hoeeeeeekkkk!!!!”

 

Luhan benar-benar tidak bisa membayangkan wajah kerennya yang terlihat konyol saat ini. Jika saja teman sejurusannya tahu tentang ia-yang-muntah-setelah-naik-salah-satu-wahana-di-taman-bermain, sudah pasti ini akan jadi bahan bully-an sepanjang masa dan masuk ke dalam daftar salah satu aibnya seumur hidup. Arrrggghhh… Luhan benci ini!

 

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, Lu.” Ji Hye memijat tengkuk Luhan sembari menyodorkan air minum, merasa bersalah telah mengajak sang kekasih naik roller coaster.

 

Apanya yang tidak apa-apa? Kalau Luhan tidak punya hati, ia ingin sekali pulang meninggalkan gadis bodoh ini sendirian, biar dia tersesat sekalian! Dan hei! Sejak kapan memangnya Luhan punya hati untuk mengasihani? Luhan jadi pusing sendiri.

.

*

.

“Luhan-ah, aku mencintaimu.”

 

“Uhukkk…” Luhan hampir menyemburkan jus strawberry yang ia seruput saat mereka berdua tengah mampir di kafetaria terdekat, saking terkejutnya. “K-kenapa?” Hanya pertanyaan bodoh itu yang meluncur dari bibirnya.

 

“Hmmm… Entahlah,” jawab gadis bermarga Kim dengan binar indah di kedua berlian beningnya yang menerawang tepat di manik milik Luhan. “Padahal kau adalah laki-laki yang sempurna.”

 

Susah payah Luhan telan jus yang tersedak di kerongkongannya layaknya menelan batu kerikil.

 

“Maka dari itu aku heran. Kau yang sempurna mengapa mau menerima gadis tak berdaya sepertiku.”

 

Siapa bilang? Justru Luhan-lah yang bertanya-tanya selama ini, mengapa ia menerima begitu saja tantangan Kai? Dia bodoh atau bagaimana?

 

Luhan berani bersumpah, bahwa ini adalah pengakuan paling tulus yang pernah ia dengar―yang tidak sekalipun ia dapatkan dari gadis-gadis lain yang pernah ia kencani―membuatnya terlihat seperti lelaki paling kejam se-alam semesta karena telah mempermainkan perasaan murni si gadis.

 

Luhan bingung. Betul-betul bingung. Ada apa dengan dirinya? Ke mana sifat brengseknya?

 

Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, menghela sedikit napasnya, lantas menatap balik gadis di hadapannya. “Hye, kau mencintaiku, ‘kan?”

 

Ji Hye mengangguk mantap. Melempar senyum manis di bibir pink-nya, yang jujur saja sangat ingin Luhan rasakan―seriously, mereka belum pernah berciuman.

 

Luhan pegang tangan Ji Hye di atas meja, masih dengan mata yang saling bersirobok. “Kalau begitu, bolehkah aku meminta itu padamu?”

 

Itu?” tanya sang gadis bingung, tak mengerti arah pembicaraan Luhan.

 

Lagi, lelaki tampan itu mengatur napasnya, mencoba untuk sabar menanggapi kepolosan Ji Hye yang keterlaluan untuk ukuran seorang mahasiswi seumurannya. “Iya. Kau tahu, hubungan yang biasa dilakukan sepasang kekasih.”

 

Barulah, Luhan rasakan tangan Ji Hye yang menegang di genggamannya. Awalnya gadis itu menunduk ragu, tapi terhitung tiga puluh sekon kemudian ia angkat kembali wajahnya.

 

Dan tak dikira sama sekali oleh Luhan, gadis itu menjawab, “―ya.”

.

*

.

Awalnya, Luhan hanya ingin bermain-main. Memamerkan pada Kai bahwa dirinya bisa menaklukkan gadis manapun. Ya, ia berhasil. Ia sukses mendapatkan hati Ji Hye dengan mudah, tapi tak diduga ternyata untuk melepasnya tak semudah itu untuk dilakukan Luhan. Mungkin sekarang Kai dan teman-teman sedang tertawa di belakang. Mungkin Luhan kena karma. Mungkin ia harus berhenti menjadi laki-laki yang nakal. Tapi apapun itu ia hanya ingin tahu satu hal, apa yang membuatnya begitu berat melukai gadis ini? Atau, apa yang membuatnya begitu sulit meninggalkan gadis ini? Padahal Ji Hye sama sekali bukan tipe idealnya. Padahal Ji Hye bukan gadis yang dikenalnya dekat. Padahal Ji Hye bukan gadis yang disukainya. Padahal Ji Hye tidak bisa memberikannya kesenangan. Tapi kenapa? Bukankah pernah kukatakan bahwa Luhan adalah lelaki brengsek? Lelaki yang selalu mempermainkan hati para gadis? Lelaki yang selalu menjadikan banyak gadis sebagai kekasihnya dalam satu waktu, kemudian satu-persatu meninggalkannya setelah Luhan merasa bosan dan keinginannya sudah tercapai? Lalu sekarang?

 

Luhan membawa Ji Hye ke sebuah hotel tak jauh dari sana, menyewa sebuah kamar untuk mereka berdua.

 

“A-aku mandi dulu,” ucap si gadis terbata-bata selepas Luhan kunci pintu kamarnya.

 

“Tidak perlu!” Secepat angin, Luhan tahan niat Ji Hye, lalu menarik pergelangan tangannya hingga tubuh kecilnya terhempas ke pelukan.

 

Ji Hye berjengit kaget atas perlakuan tiba-tiba itu yang secara kentara Luhan dapat rasakan. Tanpa menunggu pergerakkan jarum detik atau―setidaknya―sampai gadis di dekapannya tenang, Luhan sambar saja bibir cherry pink yang menggoda itu. Melampiaskan semua rasa penasaran yang tertumpuk di dasar hatinya, barangkali setelah ini Luhan akan mendapatkan jawaban pasti atas perasaannya.

 

Dipeluknya lebih erat pinggang Ji Hye, menghapus sekat udara yang memisahkan keduanya. Menikmati ciuman pertama mereka setelah dua tahun berlalu yang begitu menyiksa bagi Luhan. This is not Luhan’s very-first-kiss actually, but this is the first time Luhan kiss Ji Hye in her lips. Sebaliknya untuk Ji Hye, Luhan adalah yang pertama. Oleh sebab itu, Ji Hye sangat gugup sekarang, bisa Luhan rasakan dari remasan kuat tangan Ji Hye di kaos Luhan.

 

Satu tangan sang pemuda beralih mencari ikat rambut Ji Hye lantas melepaskannya, membiarkan surai cokelat cengkih gadis Kim itu terurai indah. Sedang satu tangan lainnya menekan tengkuk kekasihnya untuk memperdalam pagutan, memaksanya menikmati segala pergerakan yang Luhan berikan.

 

Setelah dirasanya si gadis mulai bisa dikendalikan, Luhan jatuhkan tubuh mereka berdua ke atas tempat tidur, masih dengan bibir yang bertaut satu sama lain. Luhan bergerak menindih tubuh Ji Hye, tangannya yang lihai―dan sudah terbiasa―menerobos masuk ke dalam kaos kebesaran yang dikenakan gadis itu lantas merayapi punggungnya, mencari pengait bra-nya.

 

Dan kala Luhan melepas ciuman panasnya bermaksud untuk menaikkan kaos Ji Hye, hatinya mencelos.

 

Gadis itu sangat ketakutan. Tubuhnya gemetaran. Keringat dingin memenuhi pelipisnya. Dan giginya bergemeletukkan.

 

Luhan tahu persis bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi Ji Hye, tapi… Ia tidak pernah mendapatkan seorang gadis pun yang ketakutan seberlebihan ini di saat pertamanya! Tidak dengan semua gadis terdahulu yang pernah Luhan ajak.

 

Jika orang-orang bilang Ji Hye terlalu sulit didekati oleh lelaki, itu memang benar. Tapi mengapa Luhan dapat menjerat hatinya dengan mudah? Itu karena Luhan tidak tahu bahwa si gadis sudah jauh lebih dahulu menyukai Luhan bahkan sebelum ia mengenali Ji Hye sendiri.

 

Jika Luhan memandang Ji Hye sebagai gadis tomboy yang tidak paham akan dunia fashion, itu memang benar. Bukan karena ia tidak ingin belajar menjadi feminin, tapi keadaan keluarga telah merubah Ji Hye seutuhnya. Menjadi fashionista di saat keluarganya bergantung sepenuhnya pada penghasilan sang gadis sebagai tulang punggung, tentu bukan perkara membalikkan telapak tangan―menyediakan makanan dan membiayai sekolah adik saja masih kesulitan, apa lagi membeli baju di butik?

 

Bagi Ji Hye, tidak ada waktu memikirkan hal lain di samping kuliah dan kerja sambilan. Tapi demi Luhan, ia bahkan rela menyempatkan segala waktu sempitnya. Karena Luhan baginya sudah menempati salah satu prioritas tertinggi hidupnya, selain keluarga tentunya.

 

Lalu sekarang apa?

 

Luhan berencana untuk merenggut kehormatan sang gadis kemudian meninggalkannya begitu saja untuk mencari yang lain?

 

Oh, Luhan bukan hanya brengsek, tapi juga biadab, jikalau ia betul-betul tega melakukannya.

 

Luhan mengepalkan tangannya kuat-kuat melawan keras nafsu sialan yang menguasainya. Pun batinnya bertarung hebat.

 

Namun Luhan tak kuasa…

 

Ia bangkit, segera mencari ponselnya, lantas mengontak seseorang dengan terburu-buru. “Halo, Clara, aku ingin bertemu denganmu… Ya, di tempat biasa… Oke, sepuluh menit lagi aku tiba.”

 

Ji Hye kaget sekaligus bingung ketika Luhan mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia duduk di atas tempat tidur. “A-ada apa, Lu?” tanyanya masih mengontrol deru napasnya yang memburu.

 

“Ini sudah berakhir, Hye.”

 

Kening Ji Hye berkerut, tidak mengerti. “Maksudmu?”

 

“Aku ingin kita putus, detik ini juga!” Luhan terpaksa mematikan hati, mengucapkan kalimat yang sesungguhnya ia hindari.

 

Ji Hye tak paham, sungguh tak paham. “L-Luhan-ah… K-kenapa?” Suaranya bergetar hebat, nyaris terisak.

 

Tak mengindahkan pertanyaan Ji Hye, Luhan melengos. Memperbaiki sedikit kaosnya yang agak kusut lalu berjalan santai menuju daun pintu. “Sudah ya, kekasihku Clara sudah menunggu. Sampai jumpa.”

 

BLAM!

 

Pintu kamar tertutup dengan sedikit bantingan, meninggalkan Ji Hye dengan ribuan pertanyaan menghinggapi otaknya. Di sekon selanjutnya, tangisannya pecah membahana. Teramat memilukan hingga terngiang parau sampai ke telinga Luhan yang kala itu bersandar di balik pintu.

 

“Maaf Ji Hye-ya, maaf.” Dan tak pernah dalam hidupnya Luhan merasa semenyesal ini.

 

Luhan memang pria brengsek, maka dari itu ia harus menghentikannya, sebelum semuanya terlambat.

.

To be Continued

.

.

Buat readers yang udah baca, saran dan kritiknya ditunggu ya. Jangan jadi silent readers, please. Biar aku tahu letak kesalahan aku di fanfic ini, jadi kedepannya bisa diperbaiki.

Terima kasih semuanya.

Salam, D.O.ssy

 

 

30 tanggapan untuk “Regret (Chapter 1)”

  1. Woah luhan bikin aku kesengsem wkwkwk. Baru chapter pertama udah bikin aku pengen cepet2 baca chapter selanjutnya. Woah hebat thor, kembangkan yah…

  2. salam kenal aku reader bru yg ingin bc ff nya.
    Sumveh nyesek pgen mewekk wktu tau ltar hdup ji hye yg jd tlang punggun klurganya nyesek bget, trus di ptusin gt aja. But lu kyk nya beneran cnta ma ji hye. Thankyou

  3. Annyeong… aku baru baca ff ini hehee… izin baca ya thor…

    luhan bener bener Gilaa… parah bangeeettt… oh… ternyata ji hye itu punya rasa duluan sama luhan. semoga nanti luhan nyesel mutusin jihye biar kapok.. wkwkk
    keep writing

  4. Ya ampun Ji hye! Aku suka sama karakter Ji hye yg dibikin author, ceweknya polos dan beruntung bisa dapetin Luhan. Luhan brengsek banget sih, sampe Ji Hye digituin. Tapi jujur, suka sama awal konfliknya. Next ya 😊

    1. Ji Hye nya polosss dan imut2 yaaa, sama kaya aku /apasihdes/
      bukan Ji Hye yg dapetin Luhan sih, tapi Luhan yg dapetin Ji Hye soalnya kan dia lagi taruhan hehe..
      makasih udh baca dan komen yaa 😀

  5. Ff author kerenn bangetttt !!! Aku envy banget sama Kim Ji Hye, makanya aku bayangin diriku itu yg jadi Kim Ji Hye nya wkwkwkk .. Dan buat luhan oppa ahh aku suka banget deh karakter luhan oppa, yaa walaupun agak kesel sih karna luhan oppa jadi brengsek kek gtu, tapi tetap aja luhan oppa kerenn ..
    Author ditunggu chapter” selanjutnya yaa …

    1. diriku yg nulis cerita ini jg envy sama Ji Hye hiks… kapan diriku bisa dicium luhan /eh/
      kujuga suka luhan apa adanya, brengsek dengan segala ketampanannya wkwkwk
      iyaa, makasih ya udah baca dan komentarrr 😀

    1. hihihi… untung udah lanjut usia yaaaa /eh/
      iyaaa Luhannya brengsek tapi tampan wkwkw
      tunggu aja chapter selanjutnya terbit yaa.. makasih loh udah baca dan komen 😀

  6. Keren critax…. Kasian ji hye tp ada bagusx jg. Aku sih ngarepx ji hye akan brubah, ya walaupun dy gadis tomboy se gakx akan lbh enak d liat. Dan buat luhan, aku mau dy ngasain sakitx ji hye. Next….. Jgn lupa org ketigax

    1. bhaaakkk, jangan dong kasian kalo luhannya juga sakitttt hiks 😥
      orang ketiganya tuh aku, chingu wkwkwk /apasihdes/
      makasih ya udah baca dan komen 🙂

  7. Yeay…castnya Luhan!! Udah lama nggak baca ff yang castnya Luhan,kangen Luhan(apaan ini kok malah curhat). Baru di awal konfliknya udah di mulai,semoga dengan mutusin Jihye Luhan menyesal dan Jihye berubah jadi lebih baik,next chapternya di tunggu….bagus ceritanya,suka…

    1. samaaa… aku jg kangen banget sama Luhan hiksss /mulai bapeerrr/
      mudah2an aja dengan mutusin Ji Hye, Luhan jadian sama aku /apasih/
      hihihiiii… makasih ya udah baca dan komen 😀

  8. swerrr aku larut banget ma ne kisah,,, bisa ngrasain gimana tegang nya ji hye,,,,wlopun takut krn Luhan yg pertama,,tp saking cintanya ma Luhan dia berani nyerahin diri,,tp dng teganya Luhan malah ninggalin bahkan minta putus,,,ya klo d lihat dr sisi Luhan,,itu tindakan yg tepat krn ga mw menyakiti lbh dalam,, tp bagi Ji hye yg terlanjur cinta,itu adalah pembuktian tulusnya,,,!dng teganya Luhan ninggalin Ji hye saat ji hye dlm keadaan kaya gtu,,pastilah hancur dng seribu tanya,,kenapa dan mengapa?
    ****nice story***

    1. owalaahh… daebak chingu sampe bisa lihat dari dua perspektif yg berbeda hehe 🙂
      sayangnya Ji Hye di sini terlalu polos untuk menyadari kebrengsekkan Luhan hahaha XD /dohhh aku nistain Luhan banget sihh//Miyaneeee/
      makasih loh yaa udah baca dan komentarrrrr 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s