MEMINI, CUM

meminicumaaa

GECEE proudly present

 

MEMINI, CUM

STARING
Park Seul as Lee Inha
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

Ficlet || Romance, Friendship

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

This amazing poster was made by HRa @ Poster Channel

 

“Bukankah aku adalah orang yang egois?”

***Happy Reading***

Namanya Byun Baekhyun. Ia adalah teman masa kecilku. Aku mengenalnya sejak lahir. Lelaki bertubuh kecil berwajah imut yang senang tersenyum.

Namanya Park Chanyeol. Ia adalah kekasihku. Aku mengenalnya kurang lebih tiga tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan suara beratnya yang khas.

Namaku Lee Inha. Gadis mungil yang merasa hidupnya telah sempurna dengan kehadiran dua pria istimewa dalam kesehariannya.

Setidaknya sampai saat ini.

***

“Inha-ya!”

Untuk sejenak langkahku terhenti begitu mendengar suara lelaki itu. Sial, ia menyadari keberadaanku. Detik berikutnya kupercepat langkah menyurusi koridor sekolah untuk kembali menghindarinya. Tetapi sepertinya sia-sia. Derap langkah yang sangat kukenal itu terdengar semakin jelas ke arahku.

“Kumohon berhenti…”

Suaranya terdengar parau saat mengucapkan dua kata terakhir, seolah-olah ia menanggung beban yang sangat berat. Tangannya menggenggam erat pergelangan tanganku, membuatku mau tidak mau berhenti. Aku membalikkan badan dan melemparkan tatapan kesal padanya. Ia balas menatapku dengan tatapan lelah.

“Ada apa lagi?” tanyaku. Aku akhirnya menunduk, tak berani menatap matanya.

“Bisakah kau berhenti menghindariku?” ucapnya memohon.

Aku tidak menjawab. Kalau boleh jujur, tidak ada yang bisa kulakukan selain menghindarinya. Aku tidak bisa memandang lelaki di hadapanku ini dengan cara yang sama seperti dulu. Cara pandangku terhadapnya telah berubah sejak seminggu yang lalu.

“Maaf, tapi aku menyukaimu, Inha-ya.”

Begitu katanya waktu itu. Menurutmu, apa yang harus kulakukan? Apa respon yang harus kuberikan dalam situasi seperti itu?

“Maafkan aku, Baekhyun. Tetapi aku sudah menjadi milik Chanyeol.” Demikian jawab yang kuberikan saat itu.

Setelah itu aku pergi meninggalkannya.

Aku dekat dengan Baekhyun, sangat dekat. Tetapi kedekatan kami harus diputuskan untuk sejenak karena kupikir aku harus mencegah berkembangnya perasaan berlebihnya terhadapku. Bukankah itu sulit? Bayangkan, bagaimana rasanya menghindari orang yang selama ini kau benar-benar dekat?

Semua ini tidak akan terjadi jika Baekhyun tidak mengatakan dua frase sakral itu. Demi Tuhan, tidak adakah persahabatan tulus antara lelaki dan wanita yang tidak perlu berakhir dengan cinta?

“Inha-ya…”

Suara Baekhyun menyadarkanku sejenak dari lamunanku. “Huh?”

“Jawab aku,” suaranya terdengar lembut, seperti biasa. “Sampai kapan kau akan menghindariku?”

“Maaf, Baekhyun-ah. Sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa menemuimu lagi.”

“Mengapa?”

Aku hanya diam. Aku tentu tidak perlu menjawab, kan? Bukankah ia sudah tahu benar jawabannya?

“Karena Chanyeol?”

Aku tetap membisu.

Pertanyaan Baekhyun selanjutnya membuatku tersentak. “Kau mencintainya?”

Seharusnya aku memberikan sebuah jawaban mantap penuh keyakinan padanya, kan? Seharusnya aku mengangguk tegas, atau bahkan menjawabnya dengan suara yang lantang. Kenyataannya, aku hanya bisa membisu dengan kepala tertunduk sambil menggigit bibir. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Sekuat tenaga aku berjuang menahan air mata agar tidak menetes.

Entah mengapa aku merasa kalau aku memberikan jawaban yang berkenan itu sama artinya dengan aku membohongi perasaanku sendiri.

Baekhyun sepertinya memahami perasaanku. Tanpa berkata-kata ia membawaku dalam rengkuhannya. Saat itulah pertahananku runtuh. Tangisku pecah. Di balik pelukannya, air mataku tumpah. Kukeluarkan segala perasaan yang bercampur aduk dalam hati dalam bentuk isakan.

Baekhyun tidak perlu berkata apa-apa untuk menenangkanku. Jemarinya dengan lembut menyusuri rambutku. Tangannya mengelus-elus punggungku. Ia memang tidak mengucapkan sepatah kata, namun tindakannya itu sudah cukup bagiku.

Aku memang gadis yang bodoh. Aku memang mencintai Chanyeol. Tetapi tak bisa kupungkiri ada sedikit perasaan yang berbeda yang kurasakan terhadap Baekhyun sekarang. Aku belum berani mendeskripsikannya secara jelas.

Tetapi sepertinya… aku menyayanginya.

“Lee Inha!”

Suara berat itu…

Cepat-cepat aku melepaskan diri dari dekapan Baekhyun. Terlambat. Chanyeol sudah menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.

Tangisku makin menjadi ketika diperhadapkan pada situasi ini. Untuk kesekian kalinya aku mengutuk perasaan sialan yang berani-beraninya singgah di hatiku. Perasaan tidak bisa merasa puas, menginginkan sesuatu yang lebih, tanpa pernah peduli akan akibatnya. Perasaan bodoh yang mengakibatkan aku harus merelakan banyak hal: hubunganku dengan Chanyeol, persahabatanku dengan Baekhyun, dan juga persahabatan Baekhyun dengan Chanyeol.

Baekhyun membawaku bersembunyi di balik punggungnya. Dengan takut-takut kugenggam ujung seragamnya.

“Chanyeol-ah. Maaf, tapi aku mencintai Inha,” aku Baekhyun.

Kalimat terakhir itu membuat Chanyeol makin murka. Kilatan amarah jelas terlihat di matanya. Lelaki tinggi menyilangkan tangan di depan dada.

“Jadi selama ini kalian pacaran? Di belakangku? Hah?! Sudah berapa lama? Sudah berapa lama kalian peluk-pelukan seperti ini? Sayang-sayangan seperti ini? Apakah perlu sekalian kita rayakan bersama-sama?”

Tanganku terangkat menutup mulut untuk menahan suara isakan. Tidak.. bukan seperti itu… Chanyeol salah paham…

Baekhyun maju selangkah. “Bukan seperti itu, Chanyeol-ah. Kau kan sahabatku, kami – “

Mata Chanyeol membulat. “Sahabat? Sahabat kau bilang?!” Untuk sepersekian detik ia tersenyum sinis.

“Aku tidak butuh sahabat pengkhianat SEPERTIMU!” desis Chanyeol tajam sambil menatap Baekhyun.

“Lee Inha, pulang sekarang juga,” perintah Chanyeol. Ia meraih pergelangan tanganku dan menariknya, memaksaku untuk mengikuti dirinya.

***

Perjalanan dari sekolah menuju rumahku kami habiskan dengan kebisuan. Suasana dalam mobil Chanyeol diliputi oleh keheningan yang mencekam. Chanyeol sibuk berkonsentrasi menyetir, sementara aku tidak berani membuka percakapan dengannya. Gelombang rasa bersalah terus-menerus menghantamku, seolah-olah mengatakan bahwa aku tidak lain hanyalah seorang gadis bodoh yang tidak berguna.

Di depan rumahku, Chanyeol menghentikan mobilnya. Aku hendak turun, tetapi Chanyeol menahan tanganku, memintaku untuk tinggal barang sejenak. Akhirnya aku pun menurut.

“Sudah berapa lama kau menyukai dirinya?”

Pertanyaan itu tak langsung kujawab. Aku berusaha mengulur waktu dengan memainkan buku jari, seraya otakku berputar berusaha mengingat kapan perasaan tersebut pertama kali muncul.

“Sekitar minggu lalu. Saat ia menyatakan perasaannya padaku,” jawabku serak.

Chanyeol menoleh sejenak. “Ia bilang kalau dia menyukaimu?”

Ralat, ia mencintaiku, kataku dalam hati. Tapi aku hanya mengangguk.

Terdengar suara helaan napas dari mulut Chanyeol.

“Inha-ya…”

“Hmm?”

“Kita putus saja, ya? Aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan orang yang sudah tidak mencintai diriku.”

Akhirnya satu kata keramat itu keluar. Putus. Aku tidak kaget mendengar Chanyeol mengatakan kata keramat itu. Ia berhak mengatakannya. Aku bukanlah gadis yang tepat untuknya. Aku hanya akan terus menyakiti perasaannya bila hubungan ini terus dipertahankan.

Akhirnya, aku mengangguk.

Jadi, inikah akhir dari hubungan satu setengah tahun kami?

Tangan Chanyeol terulur untuk mengangkat daguku, memintaku untuk menatapnya. Bodoh. Begitu manikku bertemu dengannya, kristal bening itu keluar begitu saja tanpa bisa kucegah. Dengan lembut jemari Chanyeol bergerak untuk menghapus air mata yang turun.

“Jangan menangis. Kita mungkin tidak ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa bersahabat, kan?”

Terdengar jelas suara Chanyeol yang bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu.

Tak ada jawaban lain yang bisa kuberikan selain sebuah anggukan.

Chanyeol mendekatkan wajahnya padaku, dan memberikan sebuah kecupan manis di dahiku. Mungkin itu adalah sebuah kenang-kenangan, kecupan lembut terakhir yang dapat ia berikan padaku sebagai seorang kekasih.

***

Tok tok tok…

Tiga ketukan di pintu kamar. Sejujurnya aku sedang dalam perasaan yang buruk untuk menerima kunjungan siapapun ke kamarku. Namun ketika terdengar tiga ketukan selanjutnya, mau tidak mau aku harus membuka pintu kamar. Dengan malas kuangkat badanku dari tempat tidur menuju pintu.

“Siapa? – “

Keterkejutanku tak bisa kusembunyikan begitu aku menyadari sosok di hadapanku. Byun Baekhyun. Sorot matanya yang sendu, senyuman sedihnya, membuat hatiku terasa makin pilu melihat itu semua.

“Sedang apa kau – “

Ia memotong perkataanku. “Boleh aku masuk?”

Mau tidak mau aku menggeser posisi berdiriku, memberi jalan padanya untuk memasuki kamarku. Ia duduk dengan manis di sebelah tepi tempat tidur. Aku ikut duduk di sebelahnya.

Untuk sejenak, keheningan kembali menyelimuti kami berdua.

“Maaf,” ujarnya

Aku menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Aku hanya mengangguk.

Baekhyun menggeser sedikit posisi duduknya agar bisa menatapku. “Lee Inha, bukankah aku adalah pria yang egois?”

“Huh?”

“Rasanya tidak cukup bagiku untuk mendapatkanmu hanya sebagai seorang sahabat. Aku menginginkan yang lebih. Aku juga ingin menjadi orang yang istimewa bagimu. Ambisi itulah yang menyebabkan perasaan ini muncul tanpa bisa kucegah.”

Kuberikan sebuah senyum pengertian padanya. “Aku tahu.”

“Kau mau memaafkanku?”

Beberapa saat, aku terdiam. Hanya helaan napas yang terdengar. Jujur, memaafkannya saat ini bukanlah sebuah tindakan yang mudah dilakukan. Ia telah membuat hubunganku dengan Chanyeol berakhir seperti ini. Dan sebagai seorang sahabat, ia juga telah menyakiti perasaan Chanyeol.

Tapi aku sadar, aku pun turut ambil bagian dalam segala kekacauan ini.

Jadi akhirnya, aku mengangguk.

“Bagaimana dengan Chanyeol?” tanyanya. “Apakah ia – “

“Hubunganku dengan Chanyeol telah berakhir.”

Untuk sejenak, matanya membulat. Ia terkejut, pasti, namun tidak berkata apa-apa. Sepertinya ia memberikanku kesempatan untuk melanjutkan.

“Aku bukanlah gadis yang tepat untuknya. Kurasa aku hanya akan menyakiti perasaannya jika hubungan ini terus dipertahankan. Lagipula ia bilang ia tidak bisa terus melanjutkan hubungan dengan seorang gadis yang sudah tidak mencintainya.”

Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kami berdua.

“Inha-ya..”

“Hmm?”

“Kau mencintaiku?”

Dengan kepala tetap tertunduk, aku menggeleng pelan. “Aku belum berani menyatakan dengan jelas seperti apa perasaanku terhadapmu yang sebenarnya. Tetapi mungkin, kalau boleh dibilang, aku memang menyukaimu.”

Baekhyun tersenyum. “Terima kasih.”

“Untuk?”

“Untuk tidak membiarkanku merasakan perasaan ini sendirian.”

Aku tersenyum.

“Tapi Baekhyun-ah..”

“Hmm?”

“Aku…. Aku pikir aku belum siap untuk menjalin hubungan dulu dengan siapapun. Maksudku, lebih baik kita bersahabat dulu saja.”

Baekhyun mengelus puncak kepalaku lembut. “Aku tahu. Makanya sejak tadi aku tidak berkata apa-apa soal menjalin hubungan.”

“Jadi kita tetap bersahabat, kan?”

Baekhyun mengangguk. “Tentu.”

“Begitu pula kau dengan Chanyeol, kan?”

“Ya.”

Dengan bibir yang tetap menyunggingkan senyum, kuulurkan jari kelingking tangan kananku padanya. Untuk sejenak Baekhyun menatapku bingung.

Pingky promise,” terangku.

Paham, Baekhyun mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku. Setelah itu kami tertawa kecil.

“Well, it’s true that I have been hurt in my life. Quite a bit. But it’s also true that I have loved, and been loved, and that carries a weight of it’s own. A greater weight, in my opinion. In the end, I’ll look back on my life and see that the greatest piece of it was love.”
–Sarah Dessen (This Lullaby)

END

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

8 tanggapan untuk “MEMINI, CUM”

  1. suka endingnya,,,!!!! ya sahabat antara cewe cowo emg rawan perpecahan apalagi klo ngomongin soal hati dan perasaan cinta,,,pasti ada yg trsakiti,,,chanyeol ma aku aj yaaaa!! hahaa

  2. punya sahabat kek baekhyun? punya pacar kek chanyeol? tidur dulu mendingan kali yaa. gag mungkin kali tapi kalok yang serupa sifat tapi beda badan yaa banyak kali tapi belum nemu. wkwkkw /curhat /jonesdasar XD XD ihhh ceye sebenarnya cinta deh ke aku, eeh inhaa maksutnyaaa /dasarpengerl tapi klo aku ada di posisi inha kyknya sama deh sama yang dilakuin inha. ngelepasin chanyeol demi gk rusaknya hubungan persahabatan. cieelaaah apadaah XD XD

  3. Aaah… kereen^^

    pengen punya sahabat kaya Baekhyun, am pacar kaya Chanyeol… pengertian…T_T

    tqpi sayangnya gk nemu…T_T

    Terus semangat untuk FF lainnya kak^^

    1. IKR?
      aku juga pengen punya pacar dan sahabat kayak mereka.. idaman sekali wkwkwk
      tenang aja suatu saat pasti ketemu kok 😀 #semoga
      thanks udah baca dan komen 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s