[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 2)

ShadowedCov

Title: Shadowed

Author: kirishou

Length: Chaptered

Genre: Dark Romance, Slight!Angst, Mystery, Psychological

Rating: PG-15

Cast: Kim Jongin | Rena Hwang | Other cast will be unveiled
Dislaimer: I just claim the plot. Cast’ are forever God’s and their families’. Posted on my FB acc under the same title.

 

*****

Summary:

Saat Rena harus memilih antara kekasihnya, Kim Jongin atau lelaki di balik bayangan yang hampir setiap malam mengabiskan waktu dengannya.

***

CHAPTER 1

 

***

Chapter 2

*****

 

Rena merasakan jemari Jongin menyelinap di sela-sela jemarinya, Rena lirikkan matanya ke arah Jongin dan mendapati lelaki itu tersenyum kecil sedang matanya masih lurus menatap jalanan di depan mereka. Kehangatan yang menyenangkan menelisik masuk ke hati Rena walaupun angin dingin di sekitarnya tak berhenti bertiup.

Jongin memainkan ibu jarinya, mengusap sebagian kecil punggung tangan Rena lembut. Rena menutup matanya menikmati sentuhan kecil itu, menutup matanya membiarkan Jongin menuntunya kemanapun lelaki itu kehendaki. Angin dingin yang menerpa wajahnya bukan masalah, Jongin begitu hangat sehingga Rena selalu merasa baik-baik saja di sisinya.

Rena merasakan tautan jemari Jongin lepas darinya, sentuhan hangat itu beralih ke bahunya hanya untuk mendorongnya agar duduk di salah satu bangku taman di pojok paling sepi. Rena membuka matanya dan mendongak menatap penuh tanya Jongin yang masih berdiri. Jongin hanya memberikan senyum kecil.

“Tunggu sebentar, aku akan kembali,” ujar Jongin.

Jongin berbalik dan berlari kecil meninggalkan Rena. Rena hanya menatap punggung Jongin yang kian mengecil, namun tak ada keraguan di matanya. Rena tahu, Jongin akan kembali saat lelaki itu katakan akan kembali. Rena bersandar pada bangku taman dan memejamkan matanya, membiarkan angin musim gugur membelainya, mengantarkannya masuk ke dalam bawah sadarnya.

 

-Flashback-

Tubuh Rena masih bergetar hebat meski ia sudah mencoba meredakannya dengan memeluk dirinya sendiri. Jalanan begitu gelap, memberikan suasana mencekam yang berlebih untuk nya. Ia tak ingin berada disana saat itu, tapi ia harus sampai ke apartemen Jongin sebelum apapun terjadi.

Oh sial! Kemana harusnya dia berbelok? Kepanikan sungguh memakan diri Rena sehingga ia tak dapat mengingat arah rumah Jongin.

Tap… Tap…

Langkah kaki.

Rena bersumpah ia dapat mendengar langkah kaki di belakangnya. Bulu kuduknya meremang, tubuhnya semakin bergetar, namun ia tetap berjalan cepat.

Suara kerikil yang beradu dengan sepatu membuatnya terlonjak. Dan Rena tak mempedulikan apapun, ia memilih untuk berlari naun terhenti saat sebuah tangan mencengkeram pergelangan kanannya, is dibuat berputar.

“Hai, Princess,” suara berat itu terdengar begitu dekat, begitu menyesakkan.

Rena berusaha memberontak namun malah mendapatkan tamparan dari tangan yang sama, membuatnya tersungkur, menerjang tong sampah, menghancurkan keheningan malam itu. Ia dapat merasakan darah keluar dari sudut bibirnya. Ia juga masih dapat mendengar bantingan pintu dan teriakan seorang wanita yang meminta suaminya menghubungi polisi dengan nada yang terburu-buru.

Tangan itu kembali menjangkaunya. Kini menarik rambutnya, memintanya berdiri untuk kemudian ditahannya kembali.

Rena seharunya berteriak. Namun pikirannya berkabut, begitu berkabut sehingga ia tak dapat memikirkan apapun kecuali satu nama.

‘Jongin…’

-Flashback End-

 

Basah.

Mata Rena seketika terbuka, tubuhnya yang semula bersandar di bangku taman reflek ia tegakkan.

“Diam sebentar,” suara familiar itu terdengar hangat. Dan tentu Rena tahu siapa pemiliknya, Jongin.

Rena melirik Jongin, hanya melirik karena ia berusaha menuruti perintah Jongin agar diam untuk sejenak. Ia mendapati perhatian Jongin seakan sepenuhnya tertuang pada lehernya. Dan barulah Rena menyadari satu hal, sensasi basah dan dingin yang membuatnya terbangun tadi, Jongin yang menciptakannya.

Lelaki itu mengusapkan kapas yang telah dibasahi antiseptik di lehernya. Dan kesadaran berikutnya begitu menampar Rena. Ia kini menyadari bahwa lelaki itu bukan hanya bermain di lehernya. Bahwa Jongin tengah berusaha mengobati memar-memar dan cupangan yang terlancur tercetak disana.

Rena tiba-tiba merasa mual, ia ingin muntah. Tidak. Saat itu ia ingin mati. Jika ia lebih berani, ia mungkin sudah berlari ke tengah jalan dan menghantamkan diri ke salah satu truk yang lewat atau menghantamkan kepalanya pada trotoar di seberangnya.

Bagi Rena, yang Jongin lakukan merupakan perbuatan tanpa pemikiran, tak bisa terbayangkan dan tak dapat dipahami. Apa Jongin sebegitu pedulinya pada Rena sehingga lelaki itu rela mengobati ‘tanda-tanda’ yang bukan dibuat olehnya?

Rasa bersalah seakan mengunyah Rena hidup-hidup, membuatnya tak bisa melakukan apapun saat itu. Rena ingin menghentikan semua kegilaan ini. Semuanya terlalu berat untuk dijalani. Ia melukai Jongin dengan tetap bersama dia. Namun jika ia memutuskan untuk meninggalkan dia, ia juga tahu Jongin akan sama terlukanya, atau bahkan lebih.

“Jongin… kau… kau tidak perlu…” bisik Rena tanpa merampungkan kalimatnya.

“Tidak apa-apa… aku hanya ingin menjagamu,” jawab Jongin enteng, namun terasa menghantam hati kecil Rena.

Jongin masih terfokus pada kapas di tangannya, matanya tajam meneliti leher Rena tak ingin melewatkan satu lukapun lolos dari perawatannya, bibirnya terkatup rapat. Dan Rena membenci situasi itu. Ia membenci saat dimana Jongin menumpahkan perhatian untuknya di tempat dan waktu yang keliru. Ia membenci dirinya yang membiarkan Jongin mencintainya saat ia sendiri tak bisa mencintai dirinya sendiri.

Rena berharap ia dapat kembali ke masa lalu dan mengubah segalanya, mengambil langkah berbeda daripada jalan yang terlanjur ia jejaki sekarang. Ia ingin kembali pada waktu saat dimana ia masih mencintai dirinya sendiri, saat dimana orang-orang menatapnya hangat juga kagum melihat kulitnya yang nyaris tanpa cacat. Tapi sekarang tatapan mereka berubah, lebih kepada tatapan… jijik, dan itu menyakitkan untuk Rena, terlebih jika mereka menudingkan telunjuknya ke arah Jongin sebagai pelaku yang selalu ‘menodai’ Rena.

“Berhenti, Jongin… aku… kita beli syal saja,” pinta Rena dalam gumaman.

Jongin berhenti sebentar, pandangan matanya naik bertemu dengan mata Rena yang terlihat redup. “Aku hampir selesai, setelah itu kita beli syalnya, oke?” jawabnya.

Rena mematung, tenggorokannya terasa terputus, hatinya terhunus, telinganya berdenging membuatnya pusing ketika Jongin melanjutkan kegiatan awalnya.

“Nah, sudah selesai,” Jongin sedikit bergeser untuk memberi Rena ruang lebih banyak. “Sekarang ayo beli syal,” tambahnya dengan senyum yang langsung ditujukan kepada Rena.

Rena hanya mengangguk kecil. Keduanya kemudian beranjak, berjalan menuju toko terdekat untuk membeli scarf untuk Rena. Dengan cepat Jongin memilih satu scarf, warna coklat muda, mengimbangi rambut coklat tua Rena. Jongin melilitnya dengan cermat dan hati-hati, memastikan scarf itu dapat menutupi memar Rena dengan baik juga membuat Rena nyaman memakainya.

 

*****

“Setelah ini kau mau kemana?” tanya Jongin sembari berjalan, tangannya tetap menggenggam tangan Rena.

“Terserah kau saja,” jawab Rena, menoreh ke arah Jongin dengan senyum kecil.

“Bagaimana kalau lihat-lihat sedikit di Myeong-dong? Sudah lama aku tidak kesana,” ungkap Jongin yang kemudian di balas dengan anggukan Rena. “Baiklah, ayo!” tambah Jongin semangat.

Keduanya selalu berjalan beriringan. Jongin pun tak melepaskan genggaman tangannya jika tidak diperlukan. Mereka melihat berbagai macam barang, aksesoris dan mencoba beberapa jajanan di sana.

“Kim Jongin!”

Langkah mereka untuk lebih mengeksplorasi pasaran itu dihentikan oleh satu suara yang memanggil nama Jongin. Reflek keduanya memutar kepala ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria berambut hitam pekat berlari kecil mendekati mereka.

“Hey! Kau masih mengenalku? Aku Joonmyeon!” seru lelaki itu lagi dengan penuh semangat. “Aku duduk tepat di belakang kalian di setiap kelas Sejarah,” tambah lelaki yang menyebut dirinya Joonmyeon itu bahkan sebelum Rena maupun Jongin merespon

“Joonmyeon?!” Jongin melebarkan matanya, kemudian tatapan bingungnya memudar setelah perlahan ingatannya tentang lelaki itu berangsur masuk ke dalam otaknya. “Kau berubah. Aku hampir tak mengenalimu, sungguh,” tambah Jongin.

Joonmyeon terkekeh. “Oh… Rena, bukan?” perhatian Joonmyeon kini terarah ke Rena. “Ya ampun, jangan bilang kalian sekarang berkencan?” tambahnya dengan nada tak percaya yang berkesan menggoda.

“Oh, well… bisa dibilang begitu,” jawab Jongin, tersenyum kikuk.

Joonmyeon mengangguk ringan. “Aku masih belum percaya bertemu dengan kalian sekarang. Terakhir kali kita bertemu kurasa pada kelas Mr. Jinho. Oh sungguh, dosen yang satu itu, dia begitu menyebalkan saat memberikan tugas, bukan? Tapi sekarang aku merindukan jiwa mudanya ketika mengajar,” ujar Joonmyeon, sekonyong-konyong mengenang masa lalu. “Sayang sekali takdirnya tak begitu baik,” tambahnya dengan suara sendu.

“Kurasa kita memang tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Dunia memang penuh kejutan, bukan?” balas Jongin, mengiyakan perkataan Joonmyeon tentang dosen muda mereka secara tersirat.

“Kau terlihat pucat, Ren. Kau baik-baik saja?” tanya Joonmyeon, membanting topik sebelumnya setelah melihat wajah lesu rena.

“Aku baik-baik saja,” jawab Rena ringan. “Hanya agak dingin,” kilahnya.

“Joonmyeon! Cepatlah!” sebuah lekingan wanita menembus area bicara mereka sebelum Joonmyeon maupun Jongin merespon jawaban Rena. Tiga kepala yang terlibat di sana sontak menengok.

“Kau berkencan dengan Taerin sunbae?” tanya Rena.

“Oh, itu… sebenarnya kami sudah bertunangan,” jawab Joonmyeon dengan senyum lebar sembari memamerkan cincin warna perak yang melingkar di jari manis kirinya. “Taerin, kenalkan… Jongin dan Rena, mereka teman kelas Sejarahku dulu,” buka Joonmyeon lagi setelah pemilik lekingan itu mendekat. Jongin buru-buru membungkuk kecil sebagai sapaannya, diikuti Rena.

Taerin hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dulu ia adalah wakil badan kepengurusan mahasiswa di kampus mereka. Dan jabatannya itu membuatnya mengenal Rena, well… tidak begitu mengenal namun cukup mengetahui tentang wanita itu. Jabatannya juga yang membuat Taerin sedikit banyak mengetahui apa yang terjadi pada Rena.

“Hai, bagaimana kabarmu, Rena?” tanya Taerin.

“Baik, sunbae,” jawab Rena singkat.

Taerin mengangguk. “Panggil saja aku Taerin,” senyumnya kepada Rena sebelum berpaling ke arah Joonmyeon. “Sepertinya kita harus pergi, kakakmu menghubungiku terus-menerus karena ponselmu mati katanya,” ujarnya kepada Joonmyeon.

“Oh… itu, aku lupa mengisi ulang baterainya,” Joonmyeon tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya pelan kemudian kembali menghadap Jongin. “Kami harus pergi, senang bertemu kalian. Sampai jumpa,” ujar Joonmyeon sambil melambaikan tangannya kemudian menarik tangan Taerin untuk mulai beranjak.

“Siapa yang mengangkan dia bisa berakhir dengan sunbae populer seperti Taerin,” Jongin terkekeh pelan saat Joonmyeon dan Taerin mulai menjauh sebelum menengok ke arah Rena. “Ren?” senyum Jongin melemah saat melihat mata Rena yang terkesan kosong.

“Hmm?”

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongin cemas.

“Aku baik-baik saja,” Rena mendongak menatap Jongin, mencoba meyakinkan lelaki itu. “Aku hanya ingin pulang. Ayo pulang,” pinta Rena.

 

*****

Jongin duduk di atas karpet ruang tengah apartemen Rena dengan si empunya rumah duduk berhadapan dengannya. Di antara mereka tergelar papan monopoli lengkap dengan berbagai kelengkapan permainan itu. Keduanya tenggelam dalam permainan sederhana itu sembari menunggu pesanan pizza mereka sampai.

Tak ada percakapan berarti terjadi, hanya beberapa ungkapan pendek atas komentar tiap langkah yang masing-masing buat pada permainan itu. Tak ada sebelum Jongin membukanya, memulai topik yang sesungguhnya.

“Ren…” panggil Jongin, matanya masih menatap papan monopoli di hadapannya.

“Hmm?” jawab Rena, mengangkat kepala.

“Kau mencintaiku?” Jongin mempertanyakan hal itu dengan nada ringan dan lembut, seolah jawaban yang akan diterimanya bukan lagi sebuah masalah terlepas dari apakah Rena akan mengatakan jawaban yang ia harapkan ataupun sebaliknya.

Rena menggigit bibirnya, seakan menahan rasa bersalah yang mencambuknya, yang mencoba menenggelamkannya ke lautan dosa yang ia ciptakan sendiri. Ia kemudian meringsut mendekati Jongin, duduk di sisinya. Rena menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.

“Aku mencintaimu, hanya dirimu,” gumam Rena cukup jelas dengan mata tertutup. “Jangan ragukan hal itu,” lanjutnya.

Rena mengatakan hal itu, hal yang Tuhan tahu begitu membahagiakan seorang Kim Jongin. Dan Rena mengatakan kejujurannya. Namun di saat yang sama, sisi lain hatinya berteriak, mencemoohnya karena telah mengatakan kalimat tadi.

Jongin hanya menggumam tak jelas merespon Rena, namun kemudian lelaki itu mengecup puncak kepala Rena yang masih tersandar di bahunya, mengatakan kepada wanita itu secara non-verbal bahwa ia mempercayai wanita itu.

 

-Flashback-

“Rena, tolong buang sampahnya ke luar,” Nyonya Hwang, ibu Rena, berteriak dari arah dapur.

“Iya, Ma,” balas Rena.

Rena berlari kecil mengelilingin setiap ruangan di rumahnya dan mengumpulkan tiap sampah dari masing-masing ruangan. Terakhir, ia mengumpulkan sampah yang ada di dapur. Matanya mengedar dan tak sengaja jatuh ke jendela kaca dapur yang belum tertutup, memperlihatkan kegelapan malam di baliknya.

Tiba-tiba Rena merasa bulu kuduknya meremang hebat. Ia merasa seseorang memperhatikannya dari luar sana. Tidak. Rena bukan hanya merasakannya. Ia yakin tadi ia melihat sekelebat siluet bersembunyi tak jauh dari balik rumah tetangganya.

“Ma…” Rena berbisik, matanya belum meninggalkan jendela itu. “Bisakah aku membuangnya besok pagi?” tanyanya.

“Besok pagi? Tidak, tidak. Buang sekarang. Aku tidak bisa memasak ditemani tumpukan sampah itu. Jadi biang sekarang saja,” oceh Nyonya Hwang.

Rena menghela nafas, tak melemparkan respon kepada ibunya dan berjalan keluar melalui pintu dapur. Tempat sampah terdekat di sekitar rumah Rena membuat Rena harus melewati setidaknya empat pintu belakang rumah tetangga mereka.

Terlalu gelap dan terlalu mencekap bagi Rena. Rena mengedarkan pandangannya sesekali tanpa menghentikan langkahnya. Begitu hening, terlalu hening hingga mungkin Rena akan dapat mendengar jika seseorang menjatuhkan jarum ke lantai semen jalanan itu.

Rena memasukkan sampah-sampah yang dibawanya ke bak pebuangan. Gerakannya cepat namun tak terlalu ceroboh untuk membuat kantong-kantong sampah besar disana berantakan. Ia kembali berjalan menuju rumah. Setiap suara samar yang tercipta selalu membuatnya hampir terlonjak.

“Ren…”

Dan Rena mendengar bisikan rendah itu. Tanpa pikir panjang Rena berlari dan masuk ke rumah. Di bantingnya pintu belakang rumahnya seakan dengan gerakan biasa pintu itu tak akan tertutup sempurna.

“Rena Hwang! Berapa kali mama bilang untuk tidak membanting pintu!” omel ibunya lagi.

Lagi-lagi Rena tak menjawab, hanya berkedip ke arah ibunya kemudian beranjak naik ke kamarnya.

Malam itu kedua orang tua Rena dapat tertidur dengan mudahnya, berbanding terbalik dengan sang anak. Rena masih terjaga, duduk di sisi ranjang dengan mata beberapa kali melirik jendela kamarnya yang sudah tertutup tirai putih.

Rasa penasaran Rena akhirnya membuat wanita itu berdiri dari ranjangnya dan mendekati jendela. Disibakkannya sedikit tirai putih yang menggantung di jendelanya itu.

Gelap. Namun Rena benar saat ia merasa seseorang memperhatikannya. Ia kembali merinding ngeri saat kembali mendapati siluet yang lebih jelas berdiri di halaman belakang rumah tetangganya namun sejajar dengan jendela kamarnya.

Remang yang dihasilkan lampu pijar di gang belakang rumah mereka lebih dari cukup untuk membuat Rena meneliti sosok itu dalam diam.

Seorang lelaki tinggi dengan hoodie bertudung berdiri disana. Kepalanya agak tertunduk dan bayangan tudung hoodinya jatuh menutupi wajahnya. Bagian wajah lelaki itu yang dapat Rena tilik hanyalah bibirnya yang membentuk seringai tajam. Lelaki itu menyeringai, tepat ke arahnya.

Rena sontak terjengkang ke belakang, menjatuhkan kembali tirai yang ia sibak hingga menutupi jendela kembali.

-Flashback End-

 

*****

“Mimpi buruk itu lagi?” tanya Yoonji rendah.

Rena hanya menatap cupcake di hadapannya seakan makanan manis itu merupakan alien yang baru pertama ia lihat. Wajahnya pucat, sepucat krim vanila yang menghiasi cupcake-nya. Sudah lama ia tidak memimpikan hal itu sampai ia beranggapan mungkin sudah melupakannya.

Tentu Rena masih sering memimpikan hal-hal buruk yang pernah terjadi di masa lalunya. Tapi mimpi yang ini bukan salah satu yang sering datang. Dan hal yang membuatnya bertingkah seperti mayat hidup hari ini adalah karena mimpi itu mengingatkannya pada awal semua kegilaan ini. Awal dimana ia mulai dikuntit hingga berakhir seperti sekarang.

Rena mengambil lebih banyak krim untuk menghias cupcake-nya, mengabaikan tatapan meneliti Yoonji yang begitu menuntut.

“Rena, kenapa kau tidak menjawabku? Kau selalu bertingkah seperti ini setiap kali mimpi itu datang dan aku tidak bisa melihatmu seperti ini,” ujar Yoonji lagi, nyaris pasrah karena begitu cemasnya.

“Kalau begitu seharusnya kau juga sudah tahu jawabanku,” jawab Rena datar. Ia mencibuk satu sendok kecil krim warna merah muda dan membubuhkannya bersama krim lainnya.

“Ren… ini sudah lebih dari tiga tahun. Kenapa hal itu masih menghantuimu?” tanya Yoonji halus.

“Kau tahu alasannya,” jawab Rena pendek.

“Tidak. Aku tidak tahu, kau tidak pernah memberi tahuku. Jadi katakan padaku sekarang,” tuntut Yoonji frustasi. Yoonji begitu ingin menjambak rambut panjang Rena melihat kekeras kepalaan sahabatnya itu yang selalu memendam masalahnya dan menahannya seorang diri.

Yoonji adalah tipe wanita yang selalu menuntut apa yang diinginkannya. Wanita itu takkan berhenti mengganggu Rena dengan pertanyaan-pertanyaannya sampai mendapat jawaban yang memuaskan. Dan saat itu Renabenar-benar sedang tidak menginginkan perhatian siapapun sekarang, termasuk wanita berdarah separuh China itu.

“Karena setiap kali aku melihat Jongin aku selalu teringat akan kejadian itu!” jawab Rena, nadanya meninggi namun terdengar lelah dan pasrah.

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s