[EXOFFI FREELANCE] Light (Chapter 2)

baekhyun-taeyeon.jpg

Title/judul : Light

Author : Kim Dee

Main Cast : Byun Baekhyun, Kim Ha Na

Genre : Romance

Rating : G

Length : Chaptered / chapter 2

Disclaimer : All story is mine. It’s my first story so please give me support by giving your

comment and suggestion. Critic also needed here to increase my writing skill.

(also published in Just-k-fanf1ction)

Ch 1

***

Suasana dingin menyelimuti kota Seoul. wajar saja ini bulan Desember. Salju sudah mulai

turun sejak beberapa hari yang lalu. Jalanan juga agak macet karena para pengendara mobil

membawa mobilnya lebih pelan dari biasanya untuk menghindari salju.

Begitu pula dengan sopir Shin yang saat ini sedang mengantar anak majikannya yang tak lain

adalah Baekhyun pulang. Baekhyun sengaja menyuruh sopir Shin untuk mengendarai mobil

dengan pelan. Selain untuk menghindari jalan yang licin, ia juga tidak ingin cepat-cepat

sampai di rumah.

Baekhyun masih ingin menikmati indahnya suasana sore kota ini. Ia juga ingin mampir ke

café langganannya.

“Ahjussi, ke café biasa,” titah Baekhyun pada sang supir.

“Ne.” Supir Shin kemudian melaju ke café langganan Baekhyun. Café yang hanya di datangi

orang-orang kelas atas seperti dirinya.

“Ahjussi ingin minum apa?” Tanya Baekhyun pada supirnya.

“Ah, tidak usah Tuan Muda. Lagipula saya tadi juga baru saja minum kopi,” tolak supir Shin.

“Geure? Kalau begitu Ahjussi tunggu disini, aku tidak akan lama.”

***

“Eosseowasseoyo,” sapa pelayan café.

Baekhyun yang disapa hanya membalas dengan anggukan singkat.

“Seperti biasa?” Pelayan itu bertanya seperti sudah hapal dengan keinginan sang pelanggan.

Tapi itulah kenyataannya. Baekhyun sering mampir ke café ini. Entah itu sendiri atau dengan

seorang hyung yang dikenalnya.

Sambil menunggu pesanan Baekhyun melihat-lihat kue yang ada di display. Tiba-tiba ada

perempuan berusia 40-an berjalan perlahan mendekatinya. Pakaiannya yang super mewah

menunjukkan siapa jati diri perempuan itu. Sambil mengacungkan jari telunjuknya ke

Baekhyun perempuan itu berkata…

“Kau….”

Beakhyun menoleh. Dia mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya siapa perempuan ini.

“Bukankah kau putra Choi Ahreum??” Tanya perempuan itu.

Kening baekhyun semakin mengkerut pertanda bingung dengan situasi ini.

“Nuguseyo?”

“Aahh, ternyata benar. Katakan pada ibumu jangan pernah mengganggu suami orang! Dasar

wanita tidak tau diri!! Berani-beraninya dia menggoda suamiku dan menguras hartanya!

Pantas saja dia bisa hidup mewah. Ternyata itu semua hasil dari memeras para konglomerat.

Pasti bisnisnya hanya dijadikan kedok semata supaya dia bisa dekat dengan orang-orang

berkelas seperti kami!!

Baekhyun hanya diam. Entah karena terkejut atau bingung. Ia tidak menyangka akan

mengalami hal ini lagi. Wanita itu terus saja mengoceh. Pertahanan Baekhyun hancur.

Tembok tebal yang seolah-olah membentengi dirinya hancur hanya dengan sebuah tiupan

Semua pengunjung café menoleh kearah sumber keributan tersebut. Tak terkecuali Ha Na,

Miyoung dan Juga pria tampan tadi. Wanita itu tak henti mengoceh. Membuat wajah

Baekhyun yang tadi mengeras sedikit bergetar. Tubuhnya seakan-akan berputar dan

dikelilingi oleh orang-orang yang mencibirnya. Nafasnya sesak tak beraturan. Keringat tipis

mulai muncul dipermukaan kulitnya. Padahal cuaca saat ini sangat dingin. Seolah tersadar,

Baekhyun langsung meraih cup coffee yang diletakkan pelayan di meja counter sejak tadi

karena tidak berani memberikannya pada Baekhyun.

BYUURRR

“Aaaahhhhhhh….” Teriakan perempuan itu sungguh memekakkan telinga. Sampai-sampai

beberapa pengunjung reflex menutup telinganya.

Kejadian barusan sungguh diluar dugaan. Baekhyun yang sudah terlanjur emosi langsung

menyiramkan kopi panas pada perempuan tadi. Meskipun kulitnya perih seperti terbakar ia

masih bisa dikatakan beruntung karena Baekhyun hanya menyiram badannya bukan

wajahnya.

“Apa yang baru saja kau lakukan padaku?!!!” Teriaknya pada Baekhyun.

“Kau tidak tahu siapa aku?!! Aku bisa melaporkanmu pada polisi!!”

Seakan tak peduli Baekhyun langsung mengeluarkan uang untuk membayar kopi tadi dan

pergi meninggalkan café dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik. Sementara mulut

wanita itu seperti tak punya rasa lelah sedikitpun untuk mengoceh dan marah marah pada

Baekhyun.

“Berani-beraninya kau kau berbuat seperti ini padaku! Apa seperti ini cara Ibumu

mendidikmu! Ya, mau kemana kau?! Ya!!Ya!!”

“Daaaeeebbaaakkk, apa itu tadi?? Drama??” Tanya Miyoung pada Ha Na. Keduanya masih

shock dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan.

“Miyoung-ah, disini tidak ada kamera kan?” Tanya Ha Na seperti orang bodoh. Mereka

berdua begitu takjub dengan peristiwa tadi walaupun ini bukan kali pertama kejadian yang

mereka lihat.

***

Keadaan mansion mewah ini begitu sepi. Sang empunya rumah belum pulang dari kantor.

Sang putra yang dikira para pembantu berada di kamar bahkan sebenarnya tidak berada di

rumah. Dia mengatakan jika sedang tidak enak badan dan tidak ingin diganggu. Sehingga tak

seorangpun menyangka bahwa dia sedang berada di suatu tempat bersama seseorang yang tak

pernah terpikirkan oleh orang-orang di rumahnya.

***

Lain halnya dengan yang terjadi di mansion mewah milik keluarga Kim. Ha Na kini sedang

duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya dan Kakak serta Adiknya. Mereka

sekeluarga tengah menikmati makan malam bersama.

Tak ada pembicaraan sama sekali. Mereka sangat menikmati hidangan yang telah dimasak

oleh chef terbaik yang dipekerjakan di mansion ini. Tuan Kim sang kepala keluarga adalah

orang yang pertama menyelesaikan makannya. Kemudian diikuti oleh anggota keluarga yang

lain kecuali Ha Na. Ia masih asyik menyantap makanannya. Ha Na memang suka makan. Ia

akan menyantap apapun yang ada dihadapannya. Menurutnya tidak baik menyisakan

makanan.

“Ha Joon-ah, bagaimana kondisi kantor cabang yang ada di Busan? Apa sudah lebih baik?”

Tanya Tuan Kim pada putra sulungnya Kim Ha Joon yang tak lain adalah kakak Ha Na.

“Ne Abeoji. Semua masalah sudah terselesaikan. Para pekerja juga sudah mulai kerja

kembali,” jawab Ha Joon mantap. Ha Joon memang sudah mulai bekerja di perusahaan

ayahnya terhitung sejak dua tahun yang lalu. Ia menjabat sebagai direktur keuangan di

perusahaan.

“Baguslah kalau begitu. Aku tidak mau hal ini sampai terulang lagi,” titah tuan Kim pada

putranya. “Ne,” jawab Ha Joon. Nyonya Kim tersenyum bangga pada putranya tersebut.

“Lalu bagaimana dengan sekolahmu Kim Ha Ru?” Tanya Tuan Kim pada si bungsu Ha Ru.

“Tidak ada masalah Appa. Semuanya baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku. Lebih baik

Appa, Omma dan Oppa mengkhawatirkan Onnieku tersayang yang satu ini,”kata Ha Ru

santai sambil menunjuk Ha Na dengan dagunya.

Semua mata menoleh ke Ha Na. Merasa diperhatikan, Ha Na perlahan mengangkat kepalanya

yang dari tadi menunduk karena sibuk dengan makanannya.

“W-Wae…?” tanyanya dengan terbata.

“Khm…,” tuan Kim berdehem pelan. “Kim Ha Na, bagaimana dengan kuliahmu?,” Tanya

tuan Kim pada putrinya itu.

“Baik-baik saja Appa,”Ha Na berusaha bersikap santai walaupun dalam hati sebenarnya ia

merasa gugup. “Lalu bagaimana dengan niali-nilaimu??” kali ini Tuan Kim berkata lebih

tegas. Ha Na meletakkan sumpitnya secara perlahan. “Khm..,”berdehem singkat untuk

mengurangi kegugupannya.

“Itu ju-“

“Jangan mentang-mentang ayah menyumbangkan banyak uang ke kampus makanya kau jadi

malas-malasan belajar.”

“Kalau bukan karena uang yang ayah berikan, dosen-dosen disana tidak akan mau

memberikan nilai tinggi padamu. Sampai kapan kau akan bergantung pada ayah?? Kau ini

sudah besar Ha Na-ya. Lihat kakak dan adikmu itu. Mereka semua bekerja keras untuk

menjadi yang terbaik. Kau lihat kan piala-piala yang ada disana? Apa ada satu saja dari piala-

piala itu yang kau hasilkan-,”

“Geumanhae!!!” Ha Na sudah tidak tahan lagi. Bibirnya bergetar. Bahkan air mata hampir

jatuh di pelupuk matanya.

“Kenapa Appa selalu membanding-bandingkan aku dengan Oppa dan Ha Ru?? Aku memang

tidak sebanding dengan mereka. Aku memang bodoh. Tapi apa Appa pernah berpikir bahwa

aku mau dilahirkan seperti ini?!”

“Aku selalu berusaha. Dari dulu aku selalu berusaha. Tapi apa pernah Appa memberikan

pujian padaku??”

“Ha Na-ya…” Ny. Kim berusaha menahan putrinya. Tapi Ha Na seakan tidak peduli.

“Appa tidak pernah puas dengan yang aku lakukan. Appa selalu saja mengatakan aku harus

seperti Oppa dan Ha Ru!! Apa aku BUKAN anak Appa?!!!”

PRAANGG

Semua orang menahan napas. Tak terkecuali para pembantu yang mendengar keributan di

meja makan itu. Mereka semua tidak menyangka hal itu akan terjadi.

“Yeo-yeo-bo…” Ny. Kim bergetar. Ia terlalu shock dengan kejadian itu. Ia tak menyangka

suaminya akan melemparkan gelas kearah Ha Na. Untung saja gelas itu hanya mengenai

piring dihadapan Ha Na.

Air mata Ha Na menetes. Mungkin ialah orang yang paling terkejut dengan kejadian ini. “Ha

Na-ya, naiklah ke kamarmu,” titah Ny. Kim pada Ha Na dengan lembut. Tapi tak bisa

dipungkiri masih ada nada gemetar disana.

Ha Na mematuhi perintah ibunya. Seperti orang dengan pikiran kosong ia berdiri dan berjalan

menuju kamarnya. “Sekali lagi kau pulang dalam keadaan mabuk, akan kutarik semua

fasilitasmu!” ancam Tuan Kim pada Ha Na terakhir kali sebelum beliau juga meninggalkan

meja makan yang kemudian disusul istrinya.

Ha Na berjalan gontai memasuki kamarnya, tak lupa mengunci pintu. Ia rebahkan tubuhnya

di atas kasurnya yang besar dan nyaman. Sambil menutup mata, air mata itu seolah tak

pernah ingin berhenti untuk keluar. Ha Na menangis dalam diam sambil memikirkan semua

hal yang terjadi padanya dari ia kecil sampai sekarang. Ha Na terus memikirkan hal yang bisa

ia ingat sampai alam mimpi menjemputnya.

***

Tok tok tok

“Adeul, kau belum bangun?”

Tok tok tok

Masih tidak ada jawaban. Pagi ini tak seperti biasa. Ny. Choi membangunkan putranya.

Semalam ia mendapat laporan dari pembantu dan sopirnya bahwa kemarin sepulang sekolah

Baekhyun tidak latihan piano. Padahal besok adalah jadwal perlombaan piano. Kesabaran

Ny. Choi sudah habis. Ia memanggil pembantunya untuk mengambilkan kunci cadangan

kamar Baekhyun.

Baru saja ia akan berbalik, pintu itu tiba-tiba terbuka dan cukup mengejutkan Ny. Choi.

Tampak Baekhyun yang sudah rapi lengkap dengan tas dan seragam sekolahnya. “Oh, kau

sudahmau berangkat?” Tanya Ny. Choi kikuk. “Ne…”Baekhyun menjawab dengan nada

yang tidak bersemangat.

“Kenapa kau tidak latihan kemarin? Kau tahu kan besok adalah jadwal kompetisi?”

“Mianhe Omma. Aku sedang sakit, jadi kemarin aku langsung tidur. Aku akan melanjutkan

latihan hari ini.”

“Hhh, kau harusnya lebih menjaga kesehatanmu. Kompetisi tinggal 1 hari lagi. Dan bulan

depan kau juga sudah ujian kelulusan. Hari ini jadwalmu tidak terlalu banyak di sekolah.

Omma sudah minta ijin pada kepala sekolah agar kau bisa pulang lebih awal. Supir Shin akan

menjemputmu nanti. Kau harus langsung pulang dan latihan. Omma juga akan pulang lebih

awal untuk memantau latihanmu. Dan ju-“

“Omma!” Baekhyun ingin sekali membantah ibunya. Dia lelah dengan semua tekanan yang

ia dapat selama ini. Tapi setiap kali ia ingin mengungkapkan keluhannya yang keluar justru

malah sebaliknya.

“Aku lapar…” ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan perkataanya. “Aku juga harus segera

berangkat ke sekolah. Nanti aku bisa terlambat.”

“Geure. Ayo kita turun sarapan. Ah, bagaimana dengan hasil tesmu kemarin? Sudah

dibagikan?”

“Hari ini baru akan dibagikan.”

Dan begitulah Baekhyun memulai harinya pagi ini. Tanpa ada semangat sedikitpun dalam

dirinya. Tapi mungkin jika memikirkan apa yang dilakukannya semalam akan memberikan

sedikit cahaya untuk harinya yang mendung.

***

“Jadi semalam kau bertengkar dengan ayahmu,” Tanya Miyoung pada sahabatnya yang tak

lain adalah Ha Na.

“Hhhh…begitulah. Dan kau tahu apa yang paling parah?? Appa akan mencabut semua

fasilitasku jika aku sampai pulang dalam keadaan mabuk lagi!! Haaaaaaa…otteohke

Miyoung-aaaaaahhh…???”

“Ya! Ya! Ya! Pelankan suaramu. Kau tidak malu semua orang sedang memperhatikanmu??”

Miyoung menutupi wajahnya dengan tangan karena malu dengan kelakuan sahabatnya itu.

Dan benar saja, saat Ha Na menoleh semua orang yang sedang berada disekitar taman

kampus memperhatikan mereka berdua terutama Ha Na yang penampilannya berbeda. Yah,

walaupun dia terlihat masih cantik tapi mata Ha Na bengkak karena menangis semalam. Dia

tertawa kikuk saat tahu orang-orang memperhatikannya dan meminta maaf.

“Kalau begitu hentikan semua kelakuanmu itu,” kata Miyoung akhirnya.

“Kelakuanku? Kelakuanku yang mana?” Ha Na bertanya dengan wajah sok polos sambil

menggaruk kepalanya yang tidak gatal

“Isshh, kau ini. Tentu saja kelakuanmu yang suka pesta dan datng ke club mabuk-mabukan

terus belanja barang-barang yang tidak perlu itu!” Miyoung jengkel dengan kelakuan Ha Na.

“Eeiii, tapi itu kan menyenangkan,” Ha Na masih tidak mau kalah.

“Oh my God Kim Ha Na! Mulai sekarang kau harus serius belajar. Kau harus buktikan pada

ayahmu kalau kau bisa seperti kakak dan adikmu itu. Kalau perlu kau harus mencari tutor,”

kata Miyoung menggebu-gebu.

“Hhhh, kau kan tahu sendiri aku tidak suka belajar.”

“Tidak ada tapi. Nanti aku bantu cari tutor terbaik. Ok?” “Owh aku hampir lupa, kita kan

punya tugas dari Prof. Park.”

“Tugas apa lagiiii,” Ha Na jengah mendengar kata tugas.

“Tugas kelompok. Hanya menjawab pertanyaan, tapi menurutku sulit. Aku kemarin sudah

melihat soalnya tapi sekarang dibawa Minseok,” jelas Miyoung.

“Minseok? Nuguya??”

“Kim Ha Na…Kim Ha Na. Apa yang harus aku lakukan denganmu?” Miyoung bingung

dengan kelakuan sahabatnya yang satu ini. “Dia itu teman sekelas kita. Satu jurusan. Dia juga

satu kelompok dengan kita. Kemana saja kau selama ini, hampir tiga tahun kuliah tapi tidak

kenal dengan teman sekelas,”Miyoung hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan yang

diomeli hanya nyengir tanpa merasa bersalah.

a/n : thanks buat yg udah komen di chapter 1. Makasih juga buat yang baca tapi g komen.

Yang bersedia komen mohon kritik dan sarannya ya……see you next chapter ❤ ❤

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Light (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s