[EXOFFI FREELANCE] Lady Luck (Chapter 1)

2nd Series - LADY LUCK  Part 1

LADY LUCK – Part 1

[2nd Series]

Title : LADY LUCK
Author: Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena (OC/You)
Genre : Romance,  School-Life
Rating : 17
Length : Series
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri.

 

Series Sebelumnya : PLAYBOY ( 1st Series )

 

~ 3 bulan sebelumnya ~

 

“Appa…” rengekku. “Kapan pesta ini akan berakhir? Aku sudah mati bosan berada di pesta ini. Lihatlah, kakiku sudah mulai merah. Aiisshh,, kenapa juga harus ada orang yang menciptakan sepatu menyiksa seperti ini?” keluhku panjang lebar pada ayahku.

Ayah hanya menanggapi semua keluh kesahku dengan tersenyum hangat seperti biasanya.

“Sabarlah sayang. 30 menit lagi kita pulang, oke?” pintanya padaku dan aku tanggapi dengan cemberut ke arahnya.

“Tersenyumlah. Putri appa jelek sekali jika sering cemberut seperti ini, eoh!” godanya sambil mencubit pipiku supaya aku bisa tersenyum kembali. Aku meliriknya sambil menyipitkan mata karena perlakuan ayahku yang manis ini.

“Arraseo, arraseo. Aku akan tersenyum kembali. Lihatlah. Aku sudah tersenyum seperti yang appa minta.” Ku tersenyum terpaksa guna menggoda ayahku ini. Kemudian dia tersenyum kembali padaku dan sedikit mengacak rambutku.

“Ya appa! Jangan merusak tatanan rambutku, butuh waktu satu jam untuk membuat tatanan rambut seperti ini dan appa menghancurkannya dalam waktu kurang dari satu menit. Lihatlah!” protesku pada ayah sambil membereskan kembali tatanan rambutku.

Ayahku hanya bisa terkikik geli melihat kelakuanku. Mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di sekitar kami.

“Baiklah. Appa minta maaf, eoh?” kata ayah sambil mengusap sudut-sudut matanya yang mengeluarkan air karena menahan tawanya tadi. “Kau begitu cantik hari ini, Na-ya. Makanya appa tidak tahan untuk tidak menggodamu. Kau mirip sekali dengan ibumu. “ Sambungnya sambil menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan kembali napasnya.

Aku tersenyum lebar  ke arahnya. Menunjukkan deret gigiku yang rapih padanya. Betapa bahagianya aku mempunyai ayah seperti dia. Ku rangkul lengannya dan bergelanyut manja di sampingnya.

“Benarkah? Sebegitu miripkah aku dengan eomma? Akh, appa curang. Appa begitu mengenal eomma sedangkan aku hanya mengenalnya dari sebatas cerita appa atau Han ahjumma.” Kataku pura-pura kesal.

“Jangan seperti itu.” Tegurnya, “Kau tahu sendiri, Eomma selalu ada bersama kita. Dia  selalu hidup di hati dan perilakumu. Semua gerak-gerikmu itu persis sekali dengan eomma mu. Jadi jangan sampai kau merasa kau tidak mengenal eommamu sendiri, arrachi?”

“hehehe…arrayo, aku hanya sedikit kesal karena begitu merindukan eomma.” aku tersenyum lagi ke arahnya.

“Kalau begitu besok kita harus mengunjunginya, sepertinya dia juga merindukan kita.” Tawar ayah.

“Benarkah? Tapi appa harus janji kunjungan yang kali ini appa harus ikut, tidak boleh dibatalkan lagi seperti yang kemarin-kemarin,eoh!” pintaku.

“Ne, appa janji kunjungan yang kali ini appa akan ikut. Kau puas?”

“Assaa. Gomawoyo appa.” Ku kecup pipi ayah dan tersenyum tulus kepadanya sebagai rasa terima kasihku.

Good girl. Sekarang berikan senyummu itu pada semua orang juga. Karena hari ini merupakan hari bersejarah bagi perusahaan keluarga kita.” Katanya sambil menggenggam tanganku dan mengusapnya pelan untuk menenangkanku. Dan itu berhasil. Dia adalah obat penenang yang paling ampuh yang pernah ada di dunia ini.

Benar katanya. Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi perusahaan kami. Karena hari ini merupakan hari ulang tahun perusahaan kami yang ke 60. Pesta ini diadakan di salah satu hotel bintang lima milik kami.

Perusahaan kami tidak hanya mengelola bisnis perhotelan tapi juga bisnis pusat berbelanjaan dan properti. Karyawan di perusahaan kami kurang lebih berjumlah 50.000 orang. Ayahku merupakan generasi ketiga sebagai pemilik dari perusahaan ini.

Ayah baru berusia 43 tahun. Masih begitu muda untuk menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan besar.  Lihat saja sekarang, begitu banyak ahjumma-ahjumma yang berusaha untuk menarik perhatian ayah.

Hal ini begitu lumrah bagi seorang pebisnis sukses yang tinggal sendiri. Eomma meninggal saat aku masih 2 tahun. Tewas karena kecelakaan mobil saat pulang dari berbelanja. Saat itu juga aku ada di dalam mobil yang sama dengannya.

Tapi dalam kecelakaan itu hanya aku yang selamat, karena eomma melemparku keluar dari mobil saat dia melihat api mulai menyala dari arah kap mobil. Aku tidak bisa membayangkannya bahkan aku tidak ingin membayangkannya sama sekali, karena kejadian itu begitu mengerikan buat ku bayangankan. Ku gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri guna mengusir bayangan buruk tentang kematian eomma yang tiba-tiba saja aku bayangkan. Ku tepuk sedikit pipiku untuk mengusirnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya ayah bingung melihat tingkah lakuku.

Aku menggangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.

“Hmm, aku baik-baik saja. Aku hanya risih melihat ahjumma-ahjumma genit itu terus memandangi appa.” Jawabku asal sambil menunjuk ke arah ahjumma-ahjumma itu dengan daguku.

“Jangan kau pikirkan mereka, sayang. Hiraukan saja. Mereka hanya lintah darat yang kebetulan menemukan mangsanya.” Kata ayah sambil tersenyum kembali padaku.

Aku mengangguk sekali lagi ke arahnya. Bagaimana mereka tidak mengabaikan ayah. Lihat saja tampilan ayah saat ini. Walaupun dia sudah berumur tapi dengan stelan jas dan celana warna hitam dan dipadukan dengan kemeja warna putih berdasi kupu-kupu hitam malah membuat ayah semakin tampan saja.

Buktinya ahjumma-ahjumma itu seperti akan meneteskan air liurnya saat memandangi ayah karena tidak bisa menutup mulut saking terpesonanya pada ayah. Hah. Aku hanya bisa menghela napas dalam menyadari kejadian itu. Hari ini aku juga tidak mau kalah dengan apa yang ayah kenakan. Aku tidak mungkin pergi ke sebuah pesta besar tapi menggunakan kemeja dan celana jeans, kan?

Maka dari itu seperti apa yang ayah kenakan. Hari ini aku mengenakan gaun pesta yang cukup mewah. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi pakaian ayah. Sebenarnya ini bukan gayaku dalam hal berpakaian tapi aku mau bagaimana lagi akhirnya aku kenakan gaun ini.

ladylucki

Gaun yang aku pilih berwarna peach, dengan sedikit untaian berlian di bagian perutnya. Gaun ini dipadu-padankan dengan sepatu heels warna putih yang memiliki tinggi hampir 12 cm. Padahal aku kurang bisa berjalan menggunakan sepatu seperti ini.

Tapi stylishku terus memaksa agar aku menggunakan sepatu ini. Dan akibatnya, sekarang kakiku seperti akan patah karena terus menahan sakit lecet dari sepatuku ini. Rambut panjangku digerai dengan sedikit kepangan pada kedua sisinya dan menyatukannya di belakang punggungku.

Hal ini kulakukan untuk menutupi bagian leher dan punggungku yang tidak tertutupi oleh kain dari gaunku ini. Aku merasa risih dengan keadaanku saat ini, karena banyak mata laki-laki yang dari sejak aku masuk ke ballroom hotel ini sampai sekarang terus saja memperhatikanku.

Untuk menambah kesan mewah, ku kenakan bando mutiara kualitas terbaik yang  semakin menyempurnakan tampilanku saat ini. Aku tidak mengenakan anting-anting ataupun kalung untuk menambahkan asesoris di diriku saat ini. Aku bukan orang yang suka memakai asesoris yang berlebihan. Lagi pula aku masih remaja. Rasanya kurang pantas saat seorang remaja mengenakan banyak asesoris di tubuhnya.

“Selamat Malam. Mr. Lee. Senang bisa bertemu dengan anda.” Sapa seseorang dengan formalnya menyapa ayah dan membunyarkan lamunanku tadi sehingga aku dapat melihat wajahnya. Dia tidak sendiri. Di sampingnya terdapat seorang wanita yang sudah agak berumur tapi masih terlihat sangat cantik, bahkan menurutku wanita itu semakin cantik saja di saat umurnya sudah semakin bertambah.

Wanita itu juga tersenyum formal ke arah ayah. Aku yakin wanita ini adalah isteri dari pria yang sedang menyapa kami. Dari gaun yang dikenakannya, aku tahu kalau dia adalah isteri seorang konglomerat. Seperti semua tamu yang datang pada hari ini.

“Selamat malam. Mr. Byun. Mrs. Byun. Senang bisa bertemu dengan anda juga.” Jawaban sapa dari ayah. Aku hanya bisa tersenyum ke arah mereka. Tapi tunggu dulu. Seakan teringat sesuatu aku terdiam sesaat. Tadi ayah bilang selamat malam Mr. Dan Mrs. Byun? Berarti kedua orang yang sedang berada di hadapanku ini adalah…

Ku lirikkan pandangan mataku ke depan seakan ada sesuatu yang janggal di sini. Dan benar saja. Di belakang mereka berdua, berdiri seseorang yang selama ini selalu aku hindari di sekolah ataupun di tempat-tempat umum lainnya karena aku tidak mau berurusan dengannya.

Tatapan mata hitamnya, bagaikan tatapan seekor elang sedang mengincar mangsanya. Sial. Kenapa dia ada di sini? Kenapa di antara semua siswa yang ada di sekolah harus dia yang ada di sini? Hatiku terus saja merapalkan kata kenapa dan kenapa dengan tatapan mata masih terjutu padanya.

Seakan ada magnet di dalamnya, mata kami masih saling tatap. Dia menatapku dengan wajahnya yang tanpa ekspresi tapi tatapan matanya begitu dalam saat melihat mataku. Hingga kesadaranku pulih kembali saat genggaman tangan ayah melepasku dan memeluk pria yang ada di hadapannya.

“Hahaha…kau tidak perlu seformal itu denganku Hoon-na.” Aku terbelalak saat melihat ayah memeluknya dengan begitu bersahabat.

“Hahahha…kau juga tidak harus begitu formal denganku Jong-ie. Bagaimana kabarmu?” katanya menjawab pertanyaan ayah sambil melepaskan pelukannya.

“Kabarku baik. Bahkan sangat baik. Kau bisa melihatnya sendiri bukan?”

“Kau memang terlihat sangat baik. Hahaha..” kemudian mereka tertawa bersama mengabaikan keberadaan kami. Kemudian ayah melirik ke samping kiri pria di hadapannya. Bergerak maju ke arah wanita tadi dan memeluknya seperti apa yang dia lakukan pada pria di hadapannya.

“Bagaimana kabarmu, Ga In-na?” sapanya ramah.

“Aku baik-baik saja. Senang bisa bertemu denganmu lagi Jong-ie.” Katanya sambil membalas pelukan ayah dengan sedikit menepuk-nepuk punggung ayah. Aku bingung dengan kejadian yang sedang terjadi di hadapanku ini. Bagaimana bisa ayah mengenal keluarga Byun? Bahkan mereka terlihat begitu akrab.

Tidak lama setelah saling sapa. Seakan menyadari sesuatu, wanita yang dipanggil ayah – Ga In –  melihatku yang sedang berdiri di samping ayah. Kemudian tersenyum ramah ke arahku. Dan aku membalas senyuman itu dengan senyuman termanisku.

“Apakah kau Sena?” tanyanya membuat perhatian semua orang yang ada di sekitar kami menjadi fokus padaku. Aku mengangguk sedikit sambil tersenyum malu karena menjadi pusat perhatian di sana.

“Ne.” Jawabku singkat.

“Oh..aku lupa memperkenalkannya pada kalian. Ini putriku yang paling aku sayangi dan hanya ada satu-satunya di dunia ini. Sena.” Perkataan appa untuk menjelaskan segalanya tentang diriku pada mereka.

“Ah..kau begitu mirip dengan Young-ae. Cantik. Bahkan sekali aku bertemu denganmu saja aku pasti langsung bisa mengenalimu.” Katanya begitu percaya diri, membuatku semakin malu dengan perkataan Ga In ahjumma tadi. Aku tahu Young-ae yang dimaksud olehnya adalah eomma. Karena aku sudah sangat sering dengar dari ayah kalau aku memang mirip dengannya.

“Ah..kau memang mirip dengan ibumu, Sena-ya. Benarkan Jong-ie?” kata Hoon ahjusshi menimpali ucapan isterinya seakan teringat sesuatu.

“Hahhaha….dia memang sangat mirip dengan ibunya. Perkenalkan dirimu sayang. Mereka sahabat appa saat masih di universitas. Mereka juga sahabat ibumu.” Penjelasan ayah seakan menjawab semua pertanyaanku tadi. Aku mengangguk sebagai jawaban dari perintah ayah.

“Annyeong hasaeyeo. Lee Sena imnida. Bangapseumnida.” Ku perkenalkan diriku secara formal ke arah mereka dan diakhiri dengan bungkukkan hormat sebagai tanda salamku pada mereka. Saat ku tegakkan kembali tubuhku, mereka sedang tersenyum ramah ke arahku seperti tadi.

“Senang bertemu denganmu juga Sena-ya.” Jawab Ga In ahjumma. Seakan teringat sesuatu, Ga In ahjumma menengok ke belakang tubuh mereka, dan di sana masih berdiri laki-laki yang paling ingin aku hindari selama ini dengan menampilkan raut muka kesalnya karena mungkin merasa diabaikan kehadirannya oleh kami semua.

“Oh iya, hampir lupa. Baekki, perkenalkan dirimu juga pada sahabat appa dan eomma.” Kata Ga-in ahjumma.

“Aku kira appa dan eomma lupa akan kehadiranku di pesta ini.” Jawabnya kesal karena mungkin merasa diabaikan.

“Mian, mian. Appa dan eomma terlalu bersemangat karena pada akhirnya bisa bertemu dengan teman lama. Sangat sulit sekali bertemu dengannya akhir-akhir ini. Maklum, dia orangnya sangat sibuk. Dan untung saja, dengan diadakannya pesta ini akhirnya kami bisa bertemu kembali. Ayo perkenalkan dirimu.” jawab Hoon ahjusshi memberikan penjelasan padanya.

“Annyeong haseyeo. Byun Baekhyun imnida. Bangapseumnida.” Sapanya dengan formal, kemudian membungkukkan badan sembilan puluh derajat ke arah kami. dan setelahnya tersenyum begitu manis ke arah ayah, dan kemudian melirikku masih dengan senyumannya itu.

“Waah..ternyata sekarang kau sudah besar ya Baekhyun-na. Terakhir kali aku bertemu denganmu adalah saat usiamu dulu baru 2 tahun kalau aku tidak salah. Dan sekarang lihatlah, kau tumbuh semakin tampan saja seperti ayahmu saat masih muda.” Puji ayahku padanya yang malah semakin membuat senyuman itu tambah lebar saja.

“Terima kasih.” Ucapnya. Kemudian perhatiannya dia alihkan padaku dengan senyuman lebarnya. Tapi buatku senyuman itu bukan senyuman ramah yang ia tunjukan pada semua orang, tapi seakan senyuman malaikat maut yang siap mencabut nyawaku. Ada sesuatu yang salah dengan senyuman itu.

“Senang bisa bertemu denganmu di sini Ketua Lee Sena.” Katanya. Sukses membuatku begitu terkejut akan ucapannya tadi. Apa yang tadi dia bilang? Aku tidak salah dengarkan? Apa yang dia rencanakan? Ku tatap dia dengan pandangan tidak percayaku padanya. Ku mohon jangan sampai dia membongkar semua rahasiaku di sini, mohonku dalam hati. Tapi nyatanya keberuntungan belum berpihak padaku.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Ga In ahjumma menyadari ucapannya putranya itu. Tapi Baekhyun laki-laki menyebalkan itu tidak menjawabnya sama sekali. Ku tarik napas dalam-dalam untuk menjawab pertanyaan tadi, tapi dipotong oleh perkataan ayahku.

“Sena bersekolah di Kyunghee. Jadi mungkin mereka saling mengenal.” Kata ayah.

“Benarkah? Kenapa aku tidak mengetahuinya?” jawab Ga In ahjumma. Kemudian dia terlihat sedang berpikir akan sesuatu. Aku melirik Baekhyun dengan pandangan kesal dan dibalas dengan senyuman miring yang aku tahu.

“Tunggu sebentar. Jangan-jangan kau Lee Sena yang mendapat beasiswa dan menjabat sebagai Ketua OSIS itu?” kata Ga In ahjumma seakan ingatannya sudah kembali semua. Aku pandangi dia lagi, kemudian aku tersenyum malu padanya.

“N-Ne.” Jawabku gugup karena merasa rahasiaku terbongkar sudah. Bukannya aku tidak bersyukur dengan semua harta yang ayah miliki dengan mengambil beasiswa. Tapi aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa campur tangan pengaruh dari ayah. Ku garuk sedikit kepalaku yang tidak gatal sama sekali untuk menyalurkan rasa gugupku. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku karena merasa malu.

“Kau mengambil jalur beasiswa?” perkataan ayah seakan tidak percaya dengan apa yang sudah aku lakukan. “Apa uang bulanan yang ayah berikan padamu kurang hingga kau memutuskan untuk mengambil jalur beasiswa?” tanyanya lagi. Tamatlah sudah.

“B-Bukan seperti itu pa. Aku-aku hanya ingin mandiri, dan aku tidak suka membuang-buang uang appa untuk hal yang kurang penting.” Jawabku ragu.

“Kau pikir biaya pendidikanmu itu adalah sebuah hal yang kurang penting, begitu?” ku tatap ayah yang masih menatapku dengan tatapan tidak percayanya.

“Bukan begitu. Bukankah tadi sudah aku bilang pa, kau hanya ingin hidup mandiri. Kumohon mengertilah pa.” Kataku berusaha menyakinkan ayah akan apa yang sedang aku lakukan ini.

“Ga In-na sepertinya kau harus mencabut semua beasiswanya. Karena menurutku masih banyak siswa lain yang lebih berhak mendapatkan itu semua dari pada Sena.” Kata ayah pada Ga In ahjumma mengabaikan perkataanku.

“Appa..”rengekku tidak terima dengan apa yang baru saja ayah katakan pada Ga In ahjumma. Dan saat ku lirik Ga In ahjumma, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya seakan setuju dengan perkataan ayah. Menyebalkan. Semua beasiswaku akan diputus. Ku lirik laki-laki yang sekarang berada di sampingku dengan tatap marah bercampur kesalku padanya, dan hanya ditanggapi dengan sebuah senyuman. Bukankah itu menyebalkan? Maka dari itu aku paling anti berurusan dengannya dan sekarang aku sedang berurusan dengannya.

“Sepertinya memang kami harus mencabut semua beasiswamu Sena-ya. Maafkan kami, karena masih banyak siswa yang lebih membutuhkan beasiswa itu dari pada kamu.” Kata Hoon ahjusshi.

“Ne. Joseonghamnida.” Kataku lemah sambil membungkukkan badan pertanda aku menyesal dengan perilakuku. Aku hanya bisa mengumpat dengan kesalnya pada apa yang telah Baekhyun lakukan.

“Tapi kau tenang saja Sena-ya, jabatanmu sebagai Ketua OSIS tidak akan kami cabut karena sebagai pemimpin kau sangat berkompeten di bidangnya.” Ucap Hoon ahjusshi untuk menghiburku, dan itu sedikit berhasil.

“Ah, gomapseumnida.” Kataku lagi sambil membungkuk.

“Saat di rumah nanti kau harus menjelaskan semuanya pada appa, arrachi?” kata ayah tegas, menghapuskan semua rasa bahagia sesaatku.

“Ne.” Jawabku lemah. Hari ini benar-benar menyebalkan dan itu semua disebabkan oleh orang yang paling menyebalkan juga. Kami semua kembali larut akan percakapan ringan. Appa begitu bersemangat saat sedang berbicara dengan Hoon ahjussi dan Ga-in Ahjumma, melupakan keberadaanku dan Baekhyun.

Aku hanya terdiam sambil menikmati minumanku, begitu juga dengan Baekhyun. Kami tidak berbicara sama sekali karena aku memang tidak begitu akrab dengannya. Aku hanya tahu kalau dia adalah playboy sekolah dan dia hanya tahu kalau aku adalah ketua OSIS sekolah. Dan kami belum pernah berada di situasi seperti sekarang ini sebelumnya. Begitu canggung. Tidak nyaman sama sekali.

“Eomma, apakah suatu hari nanti aku akan menikah dengan cara dijodohkan?” celetuk Baekhyun yang tiba-tiba dan berhasil mengalihkan semua perhatian kami. Aku bertanya-tanya apa yang menyebabkan dia bertanya seperti itu disaat yang tidak tepat seperti ini? Dan seperti yang sudah kuduga, Ga In ahjumma sama terkejutnya dengan kami, malah menurutku dia yang paling terkejut.

“E-eoh.  Mungkin saja.” Kata Ga In ahjumma asal. Dia segera mengambil sebuah gelas dari pelayan yang lewat yang aku yakini adalah sebuah sampanye untuk membasahi tenggorokkannya yang kering.

“Apakah eomma menyukai Sena?” kali ini giliran aku yang terkejut bukan main dengan perkataannya sampai-sampai aku tersedak dengan minumanku sendiri. Sial. Kenapa dia bertanya seperti itu? Saat ku lirik ayah, keadaannya sama halnya denganku sedang terbatuk-batuk karena tersedak minuman.

“E-eoh. Eomma menyukainya. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?” jawab Ga In ahjumma dengan pertanyaannya lain padanya. Semua pandangan tertuju pada Baekhyun. Kami semua penasaran tentang apa yang akan dia ucapkan selanjutnya, walaupun sebenarnya perasaanku mulai tidak enak dengan keadaan ini. Sepertinya sehabis ini aku akan mendapatkan sesuatu yang tidak terduga sama sekali, apakah itu berkah ataukah musibah? Entahlah, aku tidak tahu.

Tanpa dirasa kami semua menahan napas, penasaran dengan ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Baekhyun. Wajahnya tampak sedang berpikir keras. Kemudian dia membuang napas dalam guna menstabilkan perasaannya, mungkin.

“Ku pikir, daripada aku dijodohkan dengan orang lain yang tidak aku kenal, bukankah lebih baik aku dijodohkan dengan orang yang sudah saling mengenal. Contohnya Sena?” ucapnya penuh dengan keyakinan tapi diakhiri dengan ragu-ragu.

Mulutku menganga sempurna akan ucapannya. Mataku membulat seperti akan keluar dari tempatnya. Tidak. Ini tidak mungkin. Yakinkan aku kalau sekarang ini Baekhyun hanya sedang bercanda. Kemudian terdengar sebuah tawa yang cukup familiar di telingaku. Ayah sedang tertawa.

“Hahaha…apa kau sedang tidak bercanda Baekhyun-na? Maksudku, kau sedang melamar putriku dan sekarang secara tidak langsung kau sedang meminta ijin padaku? Benarkah seperti itu?” tanya ayah dengan perkataan yang cukup tegas seakan ingin mengkonfirmasi ucapan Baekhyun tadi.

Tapi saat kulihat raut wajahnya, di sana hanya tercermin sebuah keseriusan akan ucapannya. Okh tidak. Dia benar-benar serius dengan ucapannya. Aku harus bagaimana ini?

“Ne. Kalau anda mengijinkan dan appa maupun eomma mengijinkan, aku akan menikahinya.” Ucapnya tegas dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi. Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri mendengar ucapannya. Aku berdo’a semoga ayah tidak menyetujuinya.

“Hmm..bagaimana menurutmu Hoon? Sepertinya ucapan anakmu ini begitu serius pada anakku?” tanya ayah.

“Sepertinya memang begitu Jong-ie. Lagi pula bukankah dari dulu kita memang sudah berencana untuk menjodohkan mereka berdua?” jawab Hoon ahjusshi. Wajahku semakin pucat saat mendengarnya. Tidak. Perjodohan ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki seperti dia, bisa mati muda aku kalau sampai itu terjadi.

“Kau benar. Kita memang sudah berjanji untuk menjodohkan mereka berdua.” Jawab ayah. Kemudian ayah melihat ke arahku. “Bagaimana menurutmu sayang? Apa kau setuju dengan usulannya? Lagipula kalian sudah saling mengenal, dan appa akan sangat senang bisa berbesanan dengan sahabat appa ini.” Kata ayah sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

“A-aku…” aku bingung harus menjawab apa. Kulirik Baekhyun, dia menaikkan sebelah alisnya menunggu jawabanku. Kemudian kulirik kembali ayah. Aku hanya bisa mengigit bibir bawahku. Aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki seperti Baekhyun. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menolak perjodohan ini.

“Appa…bisakah kita membicarakan hal ini nanti saja. Kita sedang berada di pesta.” Kataku akhirnya mencoba mengalihkan percakapan di antara kami. Dahi ayah sedikit mengkerut pertanda kalau dia sedang berpikir. Kemudian perhatiannya dia alihkan kembali ke Baekhyun.

“Baekhyun-na, apakah kamu menyukai bidang kedokteran seperti appa dan eommamu?” tanya ayah penasaran. Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran ayah. Karena pertanyaan tadi tidak berhubungan dengan masalah yang sedang kita hadapi ini saat ini.

“Tidak. Saya tidak tertarik sama sekali dengan bidang kesehatan. Saya lebih tertarik dengan dunia bisnis.” Katanya.

Kemudian ayah tersenyum penuh dengan kepuasaan saat mendengar jawaban Baekhyun dan ayah kembali melihatku.

“Apakah pendirianmu masih tetap sama sayang?” tanya ayah padaku.

“Ne?” aku tidak mengerti dengan pertanyaan ayah.

“Tentang cita-citamu yang ingin menjadi seorang guru TK?” mendengar perkataan ayah seakan aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Ne.” Jawabku sedikit ragu dengan perasaan harap-harap cemas.

“Baguslah kalau begitu. Karena sekarang appa akan merelakan kamu untuk menggapai cita-citamu itu tapi dengan satu syarat, kau mau menikah dengan Baekhyun.”

“Ne?” kataku terkejut dengan perkataan ayah. “Appa sedang bercandakan? Kenapa aku harus menikah dengan Baekhyun? Bukankah masih banyak laki-laki di luar sana? Dan kenapa harus dia?” ucapku sedikit penuh emosi tidak percaya.

“Itu perkataan yang sangat kejam dan berhasil menyakiti hatiku Sena-ssi.” Kata Baekhyun menanggapi ucapanku. Apakah tadi aku sudah mengatakan sesuatu yang salah tentangnya di hadapan kedua orang tuanya?

Kulirik kedua orang tuanya, sedang menaikkan sebelah alis merasa bingung dengan ucapanku tadi. Kemudian aku buru-buru menggelengkan kepala sambil menutup mulutku dengan tangan.

“Aku begitu terluka dengan ucapanmu tadi Sena-ssi.” Lanjut Baekhyun memanas-manasi suasana. Kulirik dia tajam berharap dia diam untuk saat ini tapi dia hanya mengangkat bahunya kemudian memalingkan mukanya ke arah lain seakan-akan tersakiti perasaannya dengan ucapanku tadi. Ya Tuhan, aku benar-benar terdesak kali ini.

“Apakah ada yang salah dengan Baekhyun?” tanya Hoon ahjusshi.

“Tidak. Tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja…hanya saja…” aku bingung harus menjawab apa. Karena aku yakin kedua orang tua Baekhyun tidak tahu kelakuan anaknya di luar sana seperti apa. Pada akhirnya aku kembali terdiam.

“ Sayang” Perkataan ayah membuatku mengalihkan perhatian dan berfokus padanya. “Kau tidak harus menikah sekarang dengan Baekhyun. Kami tidak akan meminta itu sekarang. Dengarkan appa, appa tahu ini begitu mendadak buatmu, begitu juga dengan appa. Tapi kalau memikirkannya dengan jernih appa yakin kau tidak akan menyesal. Appa tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang, hanya saja pikirkanlah semuanya dengan baik-baik tawaran ini. Appa tidak mau menyerahkan perusahaan yang sudah susah payah appa bangun pada orang lain yang tidak appa kenal. Tapi sekarang setelah mendengar Baekhyun berkata seperti itu, entah keyakinan dari mana, appa percaya padanya. Apakah kau mau mempertimbangkannya?”

Perkataan ayah begitu menenangkan seperti biasanya. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

“Lagi pula, kalau Baekhyun mempermainkanmu atau menyakitimu, kamu tinggal bilang saja pada Imo. Imo pasti akan menghukumnya supaya dia menyesal dan tidak mengulanginya lagi. Arrachi?” kata Ga In ahjumma. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku terlalu bingung dengan semua ini. Ini terlalu mendadak.

Kutarik napas lagi. Kupejamkan mataku sebentar. Aku perlu berpikir jernih seperti apa yang ayah bilang tadi.

“A-aku..akan memikirkannya.” Jawabku pada akhirnya dengan sedikit ragu. Aku bisa melihat kelegaan terpancar jelas di wajah mereka. “Aku permisi sebentar.” Kataku pamit ijin ke belakang.

Tanpa diduga olehku, ternyata Baekhyun juga mengikutiku ke arah toilet. Begitu sampai di tempat yang sepi, akhirnya kuputar tubuhku hingga menghadapnya. Ku tatap dia dengan kesalnya sambil melippat tanganku di depan dadaku, tapi dia hanya memasang muka datarnya.

“Apa maumu?” tanyaku to the point.

“Aku tidak menyangka seorang Ketua OSIS yang hidup di sekolah dengan mengandalkan beasiswa, pulang pergi ke sekolah dengan menggunakan bis ternyata pewaris tunggal dari sebuah grup perusahaan besar di Korea.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Apa maumu?” kucoba abaikan perkataannya tadi.

“Waah..seperti biasa. Kau sangat galak padaku.” Katanya lagi tidak menjawab pertanyaanku.

“Apa yang kau incar adalah hartaku?”

“Kau begitu manis saat sedang marah.”

“Apakah harta yang dimiliki keluargamu kurang hingga kau berusaha mendekatiku dengan mengusulkan perjodohan ini supaya pengaruh keluargamu semakin kuat?”

“Apakah kau berpikir seperti itu tentang diriku? Woah..Daebak!!” ucapnya sambil bertepuk tangan dengan raut muka yang tidak percaya.

“JAWAB PERTANYAANKU!!!” teriakku kesal karena dari tadi semua pertanyaanku tidak ada yang digubrisnya. Dadaku naik turun karena luapan emosi. Dasar laki-laki menyebalkan.

“Baiklah aku akan menjawabnya. Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak menginginkan hartamu karena ayah dan ibuku sudah mencukupi semua kebutuhanku selama ini.”

“Lantas apa yang kau inginkan dari perjodohan ini?” kataku tidak sabaran dengan perkataannya.

“Kau. Yang aku inginkan adalah Kau. Kau adalah salah satu perempuan yang tidak pernah tertarik padaku sejak kita masuk SMA. Dan aku menyukainya. Kenapa kau tidak pernah tertarik padaku?”

“Kau ingin tahu alasannya?”

“Tentu saja. Katakan saja.”

“Karena kau begitu menyebalkan!”

“Hanya itu saja?”

“Kau selalu mempermainkan wanita. Kau sudah bercumbu dengan banyak wanita. Dan aku tidak menyukainya.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar!!”

“Berarti selama ini kau selalu memperhatikan aku?” katanya membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bingung. Kenapa aku malah mengatakannya bahwa selama ini aku kadang mengikutinya dan melihat semua yang dilakukannya?

Segera saja aku berbalik pergi meninggalkannya. Sial. Aku salah ucap tadi, rutukku dalam hati. Semua rahasiaku sudah terbongkar. Aku memang menyukainya tapi rasa suka ini lebih kecil dari rasa benciku padanya karena terlalu sering melihatnya sedang bercumbu dengan wanita lain, dan itu sungguh menjijikan.

Aku segera berjalan cepat supaya dia tidak meminta penjelasan akan semua hal yang aku ucapkan tadi. Namun, usahaku sia-sia saat ku rasakan sebuah tangan sedang menahanku agar aku tidak bergerak menjauh darinya.

“Kau berhutang penjelasan padaku!”

“A-aku tidak berhutang apa-apa. Dan sekarang tolong lepaskan tanganku.” Kataku sedikit gugup.

“Apa kau sering menjadi stalkerku?”

“Ha, buat apa aku jadi stalkermu, seperti aku tidak punya kerjaan saja. Lepaskan aku. Aku harus ke toilet.” Kilahku sambil berusaha melepaskan diri darinya dan mengabaikan ucapannya.

“Kau sedang berbohong.” Senyuman remeh tercetak di wajahnya saat sedang menahanku.

“Kau tidak percaya padaku?” tantangku berusaha meyakinkan dia agar dia tidak meminta penjelasan lebih lanjut padaku.

“Tidak. Karena instingku mengatakan bahwa kau sering menjadi stalkerku.” Jawabnya.

“Kau seperti binatang saja, hidup menggunakan insting. Akh, aku lupa kalau cara hidupmu memang seperti binatang, mencari mangsa, kawin, kemudian pergi meninggalkannya.” Ejekku berusaha mengalihkan perhatiannya lagi.

“Kata-katamu memang selalu pedas. Aku tahu, kalau kau mengetahui semua tentang apa yang sudah aku lakukan selama ini. Kau hanya sedang berusaha menutupinya sekarang ini.  Yah, apa boleh buat kalau kau memang menganggapku sebagai binatang maka kau adalah calon tunangan dari binatang.” Katanya sedikit kesal karena ucapanku. Apa aku salah ucap hingga menyakitinya? Aku hanya ingin dia tahu kalau aku tidak suka dengan perilakunya itu.

“Mwo? Ya, aku bukan calon tunangan seekor binatang karena aku belum menyetujui apapun tentang pertunangan itu.”

“Bukankah kau bilang akan memikirkannya?”

“Tapi itu bukan berarti kalau aku akan menerima pertunangan ini.”

“Kau akan menolakkanya?”

“Tentu saja. Kau pikir aku mau makan hati setiap hari saat melihatmu sedang bersama gadis lain? Ha, kau salah besar. Melihatnya sekarang saja sudah sangat menyiksaku, apalagi nanti kalau pertunangan ini dilanjutkan. Kau hanya akan membunuhku, jadi lepaskan tanganmu ini karena aku harus pergi.” Kataku sedikit emosi. Biarlah dia tahu semua yang aku rasakan terhadapnya.

Kemudian sedikit melonggarkan cengkramannya dari tanganku, segera saja aku tarik tanganku. Ku elus pergelangan tanganku yang sedikit memerah karena cengkraman kuatnya. Saat ku tatap matanya, dia seperti sedang mencari kebenaran dari ucapanku tadi lewat mataku.

“Aku tidak pernah tahu apa yang kau rasakan terhadapku selama ini. Sebegitu besarkah rasa sukamu padaku hingga seperti akan membunuhmu?” katanya sambil menatap mataku dalam meminta konfirmasi. Aku hanya terdiam, lidahku kelu tidak bisa menjawabnya. Otakku berusaha memikirkan jawaban yang tepat akan pertanyaannya.

Aku bertanya dalam hati, apakah benar kalau aku sebenarnya begitu menyukainya terlepas dari semua perilakunya selama ini? Apakah itu yang aku rasakan selama ini? Kenapa aku tidak bisa menemukan jawabannya di dalam otakku? Kenapa pertanyaan ini lebih sulit dari ujian matematika sekalipun? Otakku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat bersamanya.

Tatapan mata hitam itu terus saja menatapku dalam, dan seperti kutub magnet yang berlawanan aku tidak bisa untuk tidak tertarik padanya. Baru kali ini aku bisa menatapnya seperti ini. Kenapa ini seperti keadaan pengakuan cintaku padanya secara tidak langsung? Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa ini sangat memalukan karena aku belum pernah berada di situasi seperti sekarang ini.

Aku dan Baekhyun tidak mengucapkan sepatah katapun. Kami hanya diam berdiri, saling menatap satu sama lain. Mencari jawaban atas pertanyaan masing-masing. Hingga aku tersadar saat Baekhyun menyentuh pipiku dengan telapak tangannya. Kenapa jantungku berdetak sangat cepat sekali saat dia melakukannya?

“Kau demam? Wajahmu sangat merah.” Ucapnya. Segera ku tepis tangannya itu dan menutup pipiku yang tadi disentuhnya dengan tanganku sendiri. Apa benar wajahku merah? Tapi aku merasa tidak sedang demam. Lantas kenapa aku seperti ini. Saat ku lihat lagi wajahnya, dia menampilkan raut muka khawatir, berbeda dengan beberapa saat yang lalu saat kita masih saling tatap.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya kembali karena pertanyaan yang tadi dia lontarkan padaku belum aku jawab sama sekali. Segera aku membalikkan badanku tanpa menjawab pertanyaannya, berjalan cepat meninggalkannya. Kenapa rasanya aku malu sekali? Padahal aku tidak melakukan sebuah kesalahan padanya, aku hanya tidak sengaja mengungkapkan rasa sukaku.

Aku adalah tipe orang yang sulit berbohong di hadapan orang lain, apalagi di depan orang yang aku sukai. Makanya aku selalu memilih menghindarinya daripada aku berurusan dengannya yang mana hanya akan membuat semua rahasiaku terbongkar karena kebodohanku sendiri jika di hadapannya. Saat sedang sibuk merutuk dalam hati sebuah kejadian tidak terduga terjadi.

 

BRRUUKK…

“Aww…” sakit. Itulah yang aku rasakan. Gara-gara berjalan cepat tadi, aku melupakan kondisi kakiku yang lecet ini akhirnya membuatku terjatuh dengan memalukannya di hadapannya. Kenapa aku tidak bisa berhenti bertingkah memalukan? Rutukku. Kakiku benar-benar sakit. Lututku tidak lecet sama sekali namun mata kaki dan tumit kakiku benar-benar sakit. Kudengar suara langkah kaki berlari menuju ke arahku.

“Kau tidak apa-apa?” terdengar nada panik diucapannya saat melihatku jatuh terduduk di lantai. Kemudian ia berjongkok di hadapanku untuk melihat keadaanku ini. Ku pegangi kakiku yang terluka ini sambil berusaha membuka sepatu pembawa sial ini. Kurasakan sebuah tangan membantuku untuk lepas dari penderitaan ini. Dengan hati-hati dia melepas kedua sepatuku.

“Ahh..pelan-pelan.” Ya ampun ini benar-benar sakit.

Kaget. Itulah raut wajah yang dia tunjukan saat melihat kakiku yang terluka cukup parah karena lecet hingga mengeluarkan darah.

“Berapa lama kau menggunakan sepatu ini?” tanyanya sambil menyentuh kakiku.

“Itu bukan urusanmu! Jangan menyentuhnya! Itu sakit sekali.” jawabku ketus sambil sedikit menepis tangannya yang berusaha mengecek keadaan kakiku.

“Apakah semua wanita begitu peduli akan penampilannya tanpa memperhatikan rasa nyaman akan apa yang dia kenakan? Sampai-sampai dia tidak peduli apakah dia akan terluka atau tidak?” tanyanya padaku heran.

“Mungkin.” Jawabku ragu setelah beberapa saat berpikir.

Baka!! Kau lebih memilih tersiksa dari pada berpenampilan kurang modis? Aku tidak menyangka ternyata seorang siswa terladan juga bisa berpikiran bodoh seperti itu.omelnya padaku.

“Ya, kenapa kau marah-marah padaku?”

“Itu karena dirimu terlalu bodoh! Ayo aku bantu berdiri.”

“Shireo! Aku tidak butuh bantuanmu!” ku tepis tangannya yang hendak membantuku untuk berdiri.  Namun baru saja aku mencoba untuk berdiri, tubuhku langsung jatuh terduduk kembali. “Aww…” aku meringis kesakitan karena kakiku sepertinya terkilir.

“Ckk, gadis keras kepala! Apa susahnya menerima bantuan dariku! Sebegitu menjijikannya aku di matamu sampai-sampai kau menolak bantuanku?” katanya sambil kembali berjongkok untuk melihat keadaanku.

“Aku tidak mau disentuh oleh tangan yang sudah menyentuh banyak tubuh gadis di luar sana!” kataku kesal sambil mengerucutkan bibir.

“Mwo? Kau menganggap aku seperti kuman yang sangat menjijikan?”

“Eoh.”

“Jadi aku harus mencuci bersih tanganku dulu agar bisa menyentuhmu?”

“Sebanyak apapun kau mencuci tanganmu, hal itu tidak akan mengubah pendirianku tentang tangan kotormu itu!”

“Satu hal yang harus kau tahu, itu semua bukan aku yang menginginkannya tapi mereka sendiri yang menginginkan untuk aku sentuh. Jadi jangan salahkan aku jika aku sudah menyentuh tubuh mereka.”

“Tapi itu tetap sama saja. Lagi pula mana ada laki-laki yang menolak saat seorang gadis tiba-tiba datang menyodorkan tubuhnya untuk disentuh secara suka rela. Semua laki-laki pasti akan menerimanya dengan senang hati. Dan kau termasuk laki-laki seperti itu makanya aku tidak menyukaimu. Asal kau tahu saja.”

“Berapa banyak gadis yang kau tahu sudah aku sentuh?”

“Tentu saja banyak.”

“Mwo?”

“Apa kau sendiri lupa berapa jumlahnya karena sudah saking banyaknya gadis yang kau sentuh?”

“Ani, mana mungkin aku lupa.”

“Sudah ku duga.”

“Kenapa kau sebegitu kesalnya padaku?”

“Bukankah sudah ku katakan tadi, aku tidak suka disentuh oleh laki-laki yang sudah banyak menyentuh gadis lain! Apa perlu aku tulis di dahiku agar kau bisa membacanya dan tidak bertanya lagi padaku?” kataku menggebu-gebu. Kenapa pembicaraan ini tidak selesai-selesai? Dia terlihat sedang berpikir dengan menaruh jari telunjukknya di dagunya. Apa yang sedang dia pikirkan? Tanyaku dalam hati.

“Hmm…Jadi, bolehkah aku mengambil kesimpulan?” kemudian dia terdiam selama beberapa saat sebelum kembali melanjutkannya. “Apa kau menginginkan aku hanya menyentuhmu saja bukan gadis lain?” tanyanya yang ku tanggapi dalam hati membenarkan pernyataannya itu.

Melihatku yang hanya diam saja, kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya, “Mungkin aku bisa mengabulkannya tapi dengan satu syarat, yaitu asalkan kau bisa memenuhi semua kebutuhanku. Aku akan memberikan diriku hanya untukmu. Bagaimana?” Katanya sedikit ragu.

“Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu?”

“Kau tahu, laki-laki sejati adalah laki-laki yang selalu menepati semua kata-kata. Dan aku laki-laki sejati.” Katanya penuh percaya diri.

“Bagaimana kalau kau melanggarnya?”

“Kau bisa pergi meninggalkanku.”

“Hanya itu saja?”

“Eoh.”

“Kau hanya ingin menjadikanku mainan seksmu?”

“Tidak. Bukankah sudah ku katakan tadi di hadapan semua orang kalau aku akan menikahimu. Apa kau lupa?”

“Tentu saja aku tidak melupakannya. Itu merupakan hal konyol yang pernah kau lakukan.” Kataku masih tidak mempercayai ucapannya tadi di hadapan ayahku.

“Buatmu mungkin hal itu sangat konyol. Tapi buatku tidak sama sekali.” Katanya tegas seakan tersingung dengan ucapanku.

“Terserah.” Ku coba untuk tidak peduli dengan suara dinginnya. Aku memutuskan untuk mencoba berdiri kembali. Dan yang kali ini berhasil. Aku mencoba untuk berjalan tanpa alas kaki dengan menyeret kakiku yang terasa begitu sakit karena aku memaksakan diri. Aku tidak mau berlama-lama dekatnya mencoba mengakhiri percakapan kami.

Sepertinya pergelangan kakiku benar-benar terkilir. Tapi aku tetap harus berjalan meninggalkan dia yang hanya bisa melihatku terpogoh-pogoh saat berjalan. Kata-kata pedas seperti itu memang harus aku katakan sekarang daripada nanti menyesal. Aku memang sudah menyukainya dari sejak masuk SMA tapi melihatnya yang sering bercumbu dengan gadis lain membuat rasa suka itu malah menyakiti hatiku.

Seharusnya aku senang saat dia menawarkan pertunangan ini padaku. Tapi hati ini sudah terlalu sakit melihatnya dengan orang lain. Aku hanya bisa tersenyum miris, seperti yang aku katakan padanya tadi, tidak mempunyai hubungan saja sudah membuatku sakit hati apalagi kalau pertunangan ini benar-benar terjadi. Aku tidak bisa membayangkan lebih tepatnya tidak mau membayangkannya atau hatiku akan semakin terluka.

Aku harus bisa memikirkan alasan yang tepat untuk menolak pertunangan ini kepada ayah. Aku tidak mau berurusan lagi dengan seseorang yang namanya Byun Baekhyun. Lihat saja sekarang, baru saja berurusan dengannya aku sudah mengalami kejadian buruk. Akh, sial. Kakiku benar-benar sakit.

Aku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Keringat dingin mulai terasa di telapak tanganku. Kepalaku pusing sekali, bumi yang ku pijak rasanya bergoyang seperti ada gempa bumi. Aku berhenti berjalan.  Mungkin pusing ini efek dari kakiku yang sedang cedera parah. Aku sendiri heran, padahal yang terluka itu kaki, tapi kenapa kepalaku ikut-ikutan sakit. Apa karena masalah pertunangan ini juga?

Kupegangi kepalaku sambil kupejamkan mata mencoba untuk meminimalisir rasa sakit yang kurasakan. Tapi entah kenapa rasanya tubuhku ringan sekali, serasa melayang tidak berpijak lagi di bumi. Apa di punggungku sudah tumbuh sayap yang bisa membuatku melayang? Tentu saja tidak, aku bukan titisan malaikat.

Tunggu sebentar. Rasanya ada yang salah. Kurasakan sebuah tangan berada di punggungku dan tangan satunya lagi di lekukan lututku. Segera saja ku buka mata untuk melihat keganjilan yang ku rasakan saat ini. Hal pertama yang aku lihat adalah raut wajahnya yang benar-benar terlihat khawatir. Dan aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Kau benar-benar gadis keras kepala yang berlagak sok kuat.” Katanya kesal melihat keadaanku. Okh tidak, sekarang aku berada di gendongannya.

“Turunkan aku.” Aku berusaha untuk turun dari gendongannya.

“Kenapa kau begitu keras kepala menolak pertolonganku?”

“Turunkan aku.”

“Kenapa kau tidak membiarkan aku untuk menjelaskannya terlebih dulu?”

“Kumohon turunkan aku.” Bujukku sekali lagi.

“Berhenti mengabaikanku!” teriaknya kesal padaku yang sukses membuatku terkejut saat dia membentakku. Tanpa terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku. Selama aku hidup, belum pernah aku dibentak seperti ini. Kenapa juga aku menangis? Apa karena kakiku yang terluka sehingga mempengaruhi keadaan hormonku? Sepertinya tidak ada hubungannya. Lalu kenapa aku begitu sensitif sekali sekarang ini? Ku tundukkan pandanganku agar dia tidak bisa melihat air mata ini.

“Kau tidak akan mengerti.“ Kataku sambil sedikit terisak. Sial.

“Kalau begitu buatlah aku untuk mengerti” suaranya begitu lembut.

“Berhentilah bersikap sok akrab dan peduli padaku sekarang juga. Karena aku tidak mengharapkannya. Kumohon.” Mohonku masih dengan menundukkan kepalaku. Aku tidak ingin memandang wajahnya saat ini.

“Apa kau benar-benar menyukaiku?”

“Tidak!”

“Kau menyukaiku.”

“Tidak!”

“Berhenti untuk menyangkalnya! Karena aku sudah mengetahuinya.”

“Aku tidak menyangkal apapun.”

“Sebegitu bencinya kau padaku?”

“Eoh!”

“Tapi kau masih menyukaiku, kan?” godanya.

“Tidak!”

“Sudah ku bilang untuk berhenti membohongi dirimu sendiri.”

“Aku tidak sedang berbohong.”

“Ternyata kau begitu manis saat sedang berbohong. Kalau tahu akan seperti ini seharusnya aku mendekatimu dari dulu.”

“Berhenti menggodaku, dan turunkan aku sekarang juga.” Lihatlah entah kenapa aku sudah tidak menangis lagi.

“Shireo!” aku mendelik kesal ke arahnya masih dengan sisa air mata di pipiku. Tiba-tiba ku rasakan sebuah sapuan lembut di pipiku oleh bibirnya untuk membersihkan sisa air mataku. Aku hanya bisa membulatkan mata karena mendapat perlakuannya ini. Ini adalah perlakuan manis pertama yang aku dapatkan dari seorang laki-laki. Jantungku kembali berdetak kencang. Oh tidak. Apa yang terjadi padaku?

“Mian. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu selama ini. Aku akan berusaha untuk berubah. Karena ucapan yang sudah aku ucapkan di hadapan ayahmu tidak bisa aku tarik kembali. Kalau kita tidak mencobanya bagaimana bisa kamu tahu kalau aku tidak bisa berubah? Dan juga bukankah sudah ku katakan, kau boleh pergi kapanpun kau mau. Jadi mau kah kau memulainya dari awal denganku?” ucapnya tulus, tapi semuanya begitu abu-abu di mataku saat ini. Apakah dia serius dengan ucapannya?

“Entahlah, aku tidak yakin. Aku takut kau hanya mempermainkan aku.” Kataku sedikit tidak percaya dengan kata-katanya.

“Apakah kau pernah melihatku meminta ijin terlebih dahulu untuk bersama dengan seorang gadis pada orang tuanya?” aku berpikir sebentar akan pertanyaannya padaku.

“Hmm, tidak.” jawabku sedikit ragu.

“Tentu saja. Aku belum pernah melakukan semua itu sebelumnya, dan ini untuk pertama kalinya aku berucap seperti itu dan rasanya sungguh mendebarkan, jika kau ingin tahu.” Aku tersenyum mendengar pengakuannya itu.

“Jika yang kau permasalahkan adalah sudah begitu banyaknya gadis yang aku cumbu,” dia terdiam sebentar, terlihat sedang berpikir, kemudian melanjutkan perkataannya, “hmm…kau mungkin bisa menghapus semua bekas cumbuan itu dengan dirimu.”

“Mwo?” alisku sedikit terangkat mendengar ucapannya. “Kau benar-benar akan menjadikanku budak seks mu?” kataku tidak percaya.

“Ckk, berhentilah berpikiran negatif tentangku. Apa hanya ada pikiran negatif saja di kepalamu itu tentangku?”

“Eoh, bagiku semua tentang dirimu bersifat negatif.”

“Ckk, mulutmu itu pedas sekali. Kalau aku negatif, berarti kau harus jadi positif agar aku bisa menempel terus padamu. Dan haruskah aku membungkam mulutmu itu dengan mulutku?”

“M-mwo?” aku begitu terkejut saat mendengar kalimat terakhirnya itu.

“Sepertinya memang harus.” Ku lihat dia sedikit demi mendekatkan wajahnya padaku yang masih ada di gendongannya. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung. Aku belum pernah berada di situasi seintim ini sebelumnya. Saat hidungnya sudah menyentuh ujung hidungku segera ku pejamkan mata ini. Jantungku masih berdetak begitu kencangnya. Seperti inikah rasanya benar-benar jatuh cinta. Detik demi detik berlalu, tapi aku sama sekali tidak merasakan sesuatu yang aneh. Apa dia tidak jadi menciumku?

“Ya, kenapa kau tutup matamu?” mendengar pernyataannya itu membuatku seketika membuka mata dan yang pertama aku lihat adalah senyum menggodanya. Sial. Aku terjebak lagi dalam permainannya. Wajahku berubah menjadi merah merona karena menahan malu. Apa yang aku harapkan tadi? Bagaimana bisa aku bersikap seperti tadi? Akh, malunya aku. Rutukku dalam hati.

Aku terus berusaha menyembunyikan rona di wajahku dengan kembali menundukkan kepalaku sambil memejamkan mata masih dengan merutuki diri sendiri. Aku tidak mau dia melihat rona wajahku lagi. Sudah cukup hari ini aku dipermalukan oleh sikapku sendiri. Kenapa sikapku kentara sekali kalau aku memang menyukainya? Akh, dasar bodoh. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lembut sedang menempel di bibirku. Kenyal. Lembut. Manis. Saat ku buka mataku, ku lihat matanya menatapku tulus. Dan aku hanya bisa membulatkan mataku dengan kejadian ini. Benarkah dia sedang menciumku?

Segera ku tarik kepalaku ke belakang, memutuskan kontak di antara kami. Aku yakin sekarang mukaku benar-benar seperti kepiting rebus, merah sempurna. Dan dia hanya tersenyum lembut membuatku semakin terpesona akan dirinya yang menyebalkan itu.

“Manis.” Itulah kata pertama yang dia ucapkan. Kemudian dia kembali menciumku tapi dengan menutup matanya. Aku kembali terkejut akan perlakuan spontannya itu. Ciuman kali ini tidak sekedar menempelkannya saja, tapi dia sedikit melumat bibirku lembut. Sentuhan lembutnya di bibirku membuatku terbuai akan suasana ini.

Aku menutup mataku perlahan berusaha menikmati ciuman ini. Seperti inikah rasanya ciuman? Manis. Bibirnya benar-benar manis. Tidak pernah terbayangkan rasanya akan seperti ini. Aku berusaha membalas setiap perlakuannya padaku. Dia begitu lihai saat kami berciuman.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat saat aku bersamanya. Dia melepaskan tautan kami walaupun aku sedikit tidak rela. Kami berdua berusaha mengatur napas kami yang memburu. Sesekali dia akan mencium bibirku lagi tapi aku tidak membalasnya. Aku masih mencerna apa yang sedang terjadi. Otakku rasanya tidak bisa berpikir. Entah bagaimana tanganku sudah melingkar di lehernya. Sekarang aku tahu kenapa banyak wanita yang begitu bertekuk lutut padanya.

“Jangan pernah mencium gadis lain lagi.” Tanpa sadar aku telah mengatakan hal yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Ya ampun, apa yang telah aku katakan?

 

 

 

~ tbc ~

 

 

Saran dan kritik aku terima.

See you :-*

 

 

Regards,

Azalea

 

 

 

 

 

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Lady Luck (Chapter 1)”

  1. Mmg cewe yg ketemu di kelas itu sapanya si baekhyun dulu???sena kudu sabar ngadepin baekhyun…tpi org da btas sabarnya…

  2. Keren…. manis bgt pula!!! Aduh Sena ceroboh banget :v jadi ketahuan kan kalo Sena itu sebenarnya naksir juga sama Baekkie :v

Tinggalkan Balasan ke byuntianglistrik Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s