[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 3)

SOME BODY

some body.jpg

Title: Some Body (chapter 3)

Author: Jung21EunSoo

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), Jung Hoseok (BTS), Kim Namjoo (Apink).

Cast:

  • Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai, Do Kyungsoo (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Kim Nara, Shin Yoonji (oc)

Genre: School life, Friendship, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  chaptered

Disclaimer: Ff ini murni dari pikiran saya. Apabila ada beberapa kesalahan, saya mohon maaf. Karena kesempurnaan bukan berada di tangan saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… J

Hold my hand if you need someone

Just look at me if you need a shoulder

I would become somebody, we are in this life

Recommended song: The Light – The Ark, Butterfly – BTS,

*~*~*~*~*~*~*

Still Seoul, 2010

Do not think of anything. Do not say a word. Eoh oh.. Laugh with me, yeah. Butterfly like a butterfly. Like a butterfly, butterfly. (Butterfly – BTS)

BYUUR!

Baru saja Hayoung selesai membuang hajat dan akan keluar dari toilet tersebut, Seragam dan tubuhnya harus basah karena seember air dingin menghujani dirinya. Hayoung tahu itu ulah siapa, karena dari dalam ia dapat mendengar suara tawa sinis dari beberapa orang yeoja.

“Rasakan itu Oh Hayoung!”

“Dia pantas mendapatkan itu.”

“Siapa suruh mendekati Kyungsoo oppa.”

“Dulu korbannya Sehun oppa, sekarang Kyungsoo oppa.”

“Daebak! Dia menyerang namja-namja popular di sekolah ini.”

“HAHAHA”

Lama kelamaan suara itu menghilang, seiring terdengarnya bunyi bedebum dari pintu kamar mandi wanita. Itu artinya mereka sudah pergi, namun sayangnya Hayoung belum bisa bernafas lega sepenuhnya. Tanpa sadar Hayoung mengepalkan tangannya geram. Dia tidak ada salah apapun namun mereka membully-nya tanpa ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melindungi orang yang mereka kehendaki, walaupun sebenarnya orang yang mereka kehendaki tersebut tidak membutuhkannya sama sekali.

Dia pun keluar dari kamar mandi wanita itu dengan geram, masih dengan tubuh dan seragam yang basah kuyup, dia berjalan di koridor sekolah yang membuat orang lain menatapnya heran dan aneh. Namun hal itu tidak dia perdulikan, dia segera berjalan menuju lokernya dan mengambil baju ganti yang sudah tersedia di dalamnya, lalu kembali ke kamar mandi wanita dengan pemandangan yang sama. Entah perduli entah tidak keluarganya tentang dirinya yang sudah mengenakan pakaian yang lain saat sudah pulang ke rumah.

Namun tidak sampai di situ saja, disaat dia sudah selesai mengganti bajunya dia pun kembali ke kelasnya, lebih tepatnya ke mejanya yang berada di paling ujung pojok kelas. Dia memang duduk menyendiri karena tidak ada yang ingin berteman dengan yeoja pendiam itu, tidak ada satu pun.

“Mwoya ige?” gumamnya pelan ketika ia telah sampai ke mejanya. Bagaimana tidak? Terdapat banyak coretan di mejanya yang berisi kata-kata yang tidak pantas yang tidak seharusnya diberikan kepadanya

‘Jauhi oppa kami!’

‘Dasar hobae tidak tahu diri!’

‘Pergilah kau dari dunia ini.’

‘Kau hanyalah sebuah parasit yang sangat mengganggu.’ Dan sebagainya.

Melihat tulisan-tulisan itu, Hayoung hanya tersenyum miris dan menghela nafas sinis. Dia tahu siapakah pelaku yang menyoret-nyoret mejanya ini. “Huh, apa yang yeoja-yeoja itu tahu?” gumamnya sinis. “Seperti mereka bukan parasit saja di dunia ini. Bahkan mereka lebih tidak berguna dariku.” Lanjutnya sambil tersenyum sinis. Bukannya ingin pamer tapi Hayoung termasuk siswa cerdas di sekolah mereka. “Pekerjaan mereka hanya mengkritik, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Haishh, jinja. Apa yang harus kulakukan kepada diriku sendiri? Bagaimana aku harus menghapus ini?” tanyanya kepada dirinya sendiri. Lalu beberapa detik kemudian, dia mengelus mejanya itu. “Mianhee, meja. Karenaku kau juga menjadi korban pembully-an mereka.”

.

.

TENG… TONG… TENG… TONG…

Bel istirahat telah berbunyi, membuat para seonsaengnim yang tengah memberikan materi pelajaran pun menghentikan dan sedikit bernafas lega. Para seonsaengnim pun keluar dari kelas mereka menuju ke ruang guru. Para Haksaeng pun menjadi ramai, mereka berlalu lalang di sepanjang sekolah terutama di kantin. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengganjal perut mereka setelah bergelut dengan buku-buku.

Seorang yeoja berponi dengan rambut yang diikat kuda tengah berjalan di lorong sekolah, gadis itu berniat ingin pergi ke kantin sama seperti yang lain. Namun ada yang lain dengan loorng itu, orang-orang yang berada di sekitar yeoja itu menatapnya dengan tatapan yang lain, mereka berbisik-bisik satu sama lain. Awalnya yeoja itu merasa risih, namun hal itu tidak dia gubris karena tidak jarang juga dia mendapatkan pemandangan yang seperti itu. Yeoja itu pun tetap melanjutkan perjalanannya ke kantin.

Sesampainya di kantin, masih dengan pemandangan yang sama, yeoja itu mengambil makanannya dan memilih untuk duduk menyendiri seperti biasa lalu dia pun memulai memakan makannya dengan damai. Namun hal tersebut tidak bertahan lama karena seseorang menumpahkan susu putih ke makanannya, menyebabkan makanannya kini dibanjiri oleh minuman cair berwarna putih.

“Mian, Oh Hayoung. Tanganku terpeleset tadi.” Ujar orang itu namun tidak terdapat sedikit pun rasa bersalah di dalamnya, disambut tawa oleh yang lainnya. Orang itu adalah Yoonji dan teman-temannya. Dia selalu merusak kedamaian Hayoung, yeoja yang sedari tadi menyendiri.

“Oh, geure? Kalau begitu…” hayoung sengaja menggantungkan kalimatnya, dia pun berdiri sambil membawa piring makanannya di tangannya lalu dia menumpahkannya ke piring makanan Yoonji. Membuat hamper seisi kantin yang melihat kejadian tersebut termasuk Yoonji dan teman-temannya terkejut dengan hal itu. “Mian, tanganku juga terpeleset tadi.” Lanjut Hayoung dengan wajah datarnya, tidak memperlihatkan sedikit pun rasa bersalah di dalamnya sama seperti yang Yoonji lakukan tadi. Sekarang mereka impas, mereka sama-sama tidak dapat memakan makanan mereka.

PRANG!!!

“Yak! OH HAYOUNG! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!” teriak Yoonji sambil menjatuhkan piring makanannya dengan kasar (piringnya platinum makanya bunyinya nyaring) yang membuat seisi kantin melirik kearah mereka dan berkerumun di sekitar mereka untuk menonton apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Sudah kubilang, aku tidak sengaja. Apa kau tuli?” Jawab Hayoung malas. Sebenarnya Hayoung sangat kesal kepada Yoonji. Kenapa Yoonji selalu mengganggu ketenangannya? Padahal tadi itu Hayoung sangat lapar. “Lagipula sekarang kita sudah impas. Jadi berhentilah.”

“Ani, bagiku kita belum impas dan kita masih belum selesai.” Ujar Yoonji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak terima. “Kau akan mati hari ini.” Gumam Yoonji geram, lalu detik berikutnya dia menjambak rambut Hayoung membuat yeoja berambut panjang itu menjerit kesakitan.

“Yak! Lepaskan!” seru Hayoung sambil memegangi rambutnya berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Namun hal tersebut sama sekali tidak digubris sama sekali oleh Yoonji, Yoonji malah memperkuat jambakannya dan membuat Hayoung semakin kesakitan.

“Lepaskan? Huh! Jangan bermimpi!” ujar Yoonji sinis.

“Kenapa kau seperti ini terus kepadaku?”

“karena…” yoonji mendekatkan bibirnya ke telinga Hayoung dan membisikkan sesuatu ke sana. “Kau begitu menyebalkan.” Bisikan Yoonji berhasil membuat Hayoung bergidik ngeri karena Hayoung dapat merasakan hembusan nafas Yoonji yang tajam. Yoonji pun perlahan menjauhkan wajahnya dari sana dan menyengir sinis.

“Waktu itu kau selalu sok dekat dengan Sehun, sekarang kau mendekati Kyungsoo. Ternyata kau benar-benar yeoja yang genit, dasar tidak tahu diri!” seru Yoonji, dia berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Apakah kau masih tidak sadar statusmu disini hah? Kau… hanyalah seorang hobae. Jadi, jangan memancing kami. Kami bisa berbuat apapun kepadamu.”

Kyungsoo? Hayoung barus sadar kalau Kyungsoo merupakan salah satu siswa yang popular di sekolah mereka karena kualitas vocalnya yang bagus dan tingkat kepintarannya juga sangat baik. Sebenarnya yang Hayoung lakukan sudah benar, ia sudah menyuruh Kyungsoo untuk menjauhinya agar ia tidak semakin dibully, namun namja itu benar-benar keras kepala.

“Wae? Kau takut? Aku akan mengambil semuanya?” tantang Hayoung sambil menyengir meremehkan walaupun ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit di permukaan kepalanya yang semakin menjadi.

“Nan? Takut? Kau masih tidak tahu diri rupanya. Sepertinya aku harus menyadarkanmu.” Ujar Yoonji sambil mengangkat tangannya yang bebas, dia memang ingin menapar Hayoung memberikan bercak merah di pipi chubby itu. “Sudah kubilang jangan memancingku.” Gumam Yoonji sinis.

Lalu dia pun melayangkan tangannya ke arah pipi Hayoung, Hayoung pun sudah menutup matanya bersiap-siap menahan rasa sakit yang akan menghampirinya. Namun beberapa detik kemudian, dia membuka matanya karena pipinya tidak merasakan sakit sama sekali. Apa Yoonji belum menamparnya? Pikiran macam apa itu? Ternyata Yoonji memang tidak menaparnya karena pergelangan tangan Yoonji di tahan oleh seorang namja pendek bermata bulat.

“Lepaskan!” seru Yoonji sambil melirik ke arah namja yang mengganggu acaranya itu. Awalnya dia terkejut melihat namja itu adalah namja yang ia kagumi namun hal itu ia tutupi karena dia sedang membully Hayoung.

“Lepaskan terlebih dahulu tanganmu yang berada di rambut Hayoung, baru aku mau melepaskannya.” Ujar namja itu santai.

“Shireo! Ternyata kau ingin menjadi pahlawan kesiangan. Chingudeul, berikan tepukan tangan kepada Do Kyungsoo-ssi.” Seru Yoonji disambut tepukan tangan oleh teman-temannya, walaupun dengan terpaksa. Oh astaga, Yoonji benar-benar sudah buta. Bahkan disaat dia sudah tertangkap oleh namja yang ia kagumi, ia masih seperti ini?

“Sekarang yang aku butuhkan bukanlah tepukan tangan dari kalian semua. Tapi lepaskan tanganmu dari rambut Hayoung.” Ujar Kyungsoo – namja itu tegas dan memberikan lirikan tajam kepada Yoonji. Yoonji yang mendapatkan itu berusaha untuk menutupi kegugupannya.

“Shiroe!”

“Itu maumu.” Kyungsoo pun mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Yoonji sehingga Yoonji pun merasa kesakitan membuatnya mengeluarkan kata-kata.

“Arasseo, arasseo.”

“Sekarang lepaskan!”

Mau tak mau Yoonji pun melepaskan jambakannya yang berada di rambut Hayoung, membuat Hayoung akhirnya dapat bernafas lega. Sesuai perjanjian, Kyungsoo pun melepaskan pegangannya dan segera berlutut di depan Hayoung yang terduduk untuk melihat keadaanya.

“Gwencana?” Tanya Kyungsoo memastikan sambil memegang pundak Hayoung.

“…” tidak ada jawaban dari Hayoung, Hayoung masih menundukkan pandangannya. Kyungsoo pun memberdirikan Hayoung dan merangkul pundaknya, membuat yang lain termasuk Hayoung terkejut dan bingung. “Kajja.” Ujar Kyungsoo lalu membawa Hayoung yang masih kebingungan keluar dari kantin.

.

.

“Ini, makanlah.” Ujar Kyungsoo sambil memberikan sebuah kotak makanan yang sudah dibuka tutupnya, menampilkan gigimbab dengan berbagai bentuk yang imut kepada Hayoung. Sementara Hayoung hanya menatap datar benda tersebut, ingin sekali dia memakannya karena sepertinya makanan ini sangat lezat namun Hayoung tetap menjaga kegengsiannya. Karena tidak kunjung mendapatkan balasan, Kyungsoo pun melanjutkan, “Gwencana, aku punya bekal juga kok.”

“Kenapa kau memberikannya kepadaku?”

“Karena aku tahu kau sedang lapar. Makanlah, perutmu berbunyi sejak tadi.”ujar Kyungsoo mencoba bercanda. Hayoung memegang perutnya, benar kata Kyungsoo. Namun sekali lagi Hayoung mengira Kyungsoo benar-benar seorang stalker. “Kau mau kusuapi?” tawar Kyungsoo namun Hayoung bertindak lebih cepat. Hayoung sudah lebih dulu mengambil sumpit dan memasukkan salah satu gigimbab ke dalam mulutnya. Sementara Kyungsoo hanya terkekeh melihat tingkah Hayoung, dia pun membuka bekalnya yang berisi sama dengan milik Hayoung dan memakannya.

“Kenapa kau menolongku tadi?”

“Apakah harus ada alasan? Kalau iya, jawabannya karena aku adalah temanmu.”

“Teman? Seharusnya kau tidak menolongku tadi. Seharusnya kau menjuahiku. Seharusnya kau membiarkanku.”

“Wae?”

“Karena kau akan membuatku semakin dibully oleh mereka.”

“Aku mendekatimu ataupun aku menjauhimu, hasilnya tetap sama. Mereka akan tetap membullymu. Apa karena Oh Sehun?”

“Sehun? Apa pedulimu?”

“Gwencana, karena aku akan selalu ada untukmu.”

.

.

Di sebuah kompleks perumahan, seorang namja tengah berdiri menyandarkan punggungnya di sebuah tembok yang berada tidak jauh dari sebuah kandang anjing yang tengah tertidur pulas. Namja bermata bulat itu tampaknya sedang menunggu seseorang karena sedari tadi dia sesekali melihat ke arah jalan. Namja itu – Kyungsoo memainkan batu kerikil yang ada di tangannya untuk menghilangkan kebosanan, namun tidak lama kemudian dia pun melemparkan batu yang berada di tangannya kearah anjing yang tengah tertidur itu sehingga membuat anjing itu terbangun karena merasa terganggu. Sekali lagi, Kyungsoo melemparkan batu yang berada di tangannya kepada anjing yang tengah kebingungan itu, membuat anjing itu menoleh ke arah pelaku dan menggonggong seperti menyuruh Kyungsoo untuk berhenti.

“Week…” Namun bukannya berhenti, Kyungsoo malah menjulurkan lidahnya, mengejek. Karena sudah tidak tahan lagi, si anjing pun menggonggong lebih keras dan berlari mengejar namja itu. Sontak Kyungsoo pun lari terbirit-birit dari tempat itu. Tidak jauh di depannya ada seorang yeoja yang sedang berjalan ke arahnya dengan pandangan yang tertunduk, yeoja yang sudah sedari tadi ia tunggui kehadirannya, dia pun mempercepat laju larinya dan meraih pergelangan tangan yeoja itu dan sontak membuat yeoja itu terkejut. Karena pergelangan tangannya di tarik oleh Kyungsoo, dengan terpaksa dia pun ikut berlari dengan Kyungsoo, namja yang sangat dikenalnya karena namja it uterus mendekatinya akhir-akhir ini dan membuat terror kepada dirinya bertambah, namja yang seharusnya ia salahkan.

“Kenapa kita berlari?” Tanya yeoja itu – Hayoung dengan sedikit ngos-ngosan sambil berlari mengikuti langkah Kyungsoo.

“Anjing.” Jawab Kyungsoo singkat sambil melirik ke belakang, setelah itu dia pun menambah kecepatan berlarinya karena si anjing berada tidak jauh di belakang mereka, begitu juga dengan Hayoung yang terkejut begitu mendengar jawaban dari Kyungsoo. Hayoung sangat membenci anjing.

Mereka terus berlari di sepanjang kompleks tersebut sampai akhirnya Hayoung menemukan sebuah jalan sempit yang cocok menjadi tempat bersembunyi. “Ayo ke situ!” ajak Hayoung sambil menunjuk jalan sempit yang ia lihat tadi, yang langsung di setujui oleh Kyungsoo, karena dia merasa dadanya semakin lama semakin menyempit. Mereka pun segera bersembunyi di balik tembok di jalan sempit itu. Mungkin saat ini dewi fortuna berada di pihak mereka karena si anjing tidak mengetahui dimana mereka bersembunyi dan terus berlari lurus.

Ketika melihat si anjing berlari lurus tanpa melihat kea rah persembunyian mereka, akhirnya Hayoung dan Kyungsoo dapat bernafas lega. “Kenapa anjing itu mengejar kita?” Tanya Hayoung masih sedikit ngos-ngosan karena sehabis berlari. Karena tidak kunjung dijawab oleh Kyungsoo, Hayoung pun melirik kesal kea rah Kyungsoo. Namun lirikan itu semakin lama berubah menjadi tatapan khawatir karena Kyungsoo terus berusaha bernafas sambil terus memegang dadanya dan wajahnya yang pucat.

“Yak! Do Kyungsoo! Apa kau baik-baik saja? Ada apa denganmu?” Tanya Hayoung khawatir sambil memeriksa Kyungsoo.

“A-aku b-baik-baik s-saja. H-hanya s-sedikit ke-l-lelahan.” Jawab Kyungsoo berusaha meyakinkan Hayoung namun sepertinya hal itu tidak berhasil, yang ada malah Hayoung yang semakin khawatir. Hayoung pun mengalungkan tangan kanan Kyungsoo ke lehernya dan membawanya keluar dari tempat persembunyian mereka.

“Yak! Do Kyungsoo! Dimana rumahmu?” Tanya Hayoung panic sambil membawa kaki mereka tak tentu arah. Namun sayangnya Kyungsoo sudah pingsan di pundak Hayoung, membuat Hayoung semakin panic.

“Haishh, anak ini.” Cibir Hayoung. Hayoung pun tidak punya pilihan lain selain membawa Kyungsoo yang sudah semakin pucat ke klinik terdekat, walaupun itu mungkin akan sedikit lebih lama dan menyulitkan karena jarak klinik dari tempat mereka yang cukup jauh dan dirinya yang harus membawa Kyungsoo yang jelas-jelas lebih berat dari dirinya. Fighting Oh Hayoung!

.

.

Di sebuah ruangan yang bernuansa putih, seorang yeoja tengah menatap lekat seorang namja yang tengah terbaring lemah di sebuah kasur di ruangan tersebut. Lama kelamaan yeoja itu menitikkan air matanya yang sudah ia tahan sedari tadi. Yeoja itu pun duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan di samping kasur tempat namja itu terbaring.

“Yak! Do Kyungsoo! Bangunlah! Kenapa kau selalu membuatku seperti ini?” tanyanya kepada namja yang masih terbaring lemah itu. Lalu dia pun membaringkan kepalanya di kasur itu. “Kenapa kau harus membuatku khawatir? Kenapa kau membuatku menangis lagi?”

Tidak lama kemudian, Hayoung dapat merasakan sebuah tangan mengelus-elus lembut puncak kepalanya. “Mianhee.” Ujar pemilik tangan tersebut dengan nada lemahnya. Hayoung pun meraih tangan Kyungsoo yang berada di atas kepalanya dan memindahkannya dari tempat tersebut agar Hayoung dapat memberdirikan kepalanya kembali dan melihat Kyungsoo yang sudah sadar, lalu Hayoung menggenggam tangan tersebut erat seakan-akan tidak ingin kehilangan Kyungsoo lagi.

“Kau sudah merasa baikan? Kau mau kupanggilkan dokter?” Tanya Hayoung.

“Kau tidak perlu memanggilkan dokter. Aku sudah lebih baik sekarang.” Jawab Kyungsoo sambil memamerkan senyuman indahnya yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Kyungsoo pun mencoba untuk duduk dibantu oleh Hayoung walapun rasanya masih sulit sekali.

“Arasseo. Tadi, kenapa kau meminta maaf? Memangnya apa salahmu?”

“Aku meminta maaf kepadamu karena telah membuatmu menangis. Seharusnya aku membuatmu tersenyum dan tertawa, makanya tadi itu aku mengganggu anjing itu agar kita…” sadar akan sesuatu, Kyungsoo pun menghentikan kalimatnya dan menutup mulutnya. Ia takut Hayoung akan memarahinya.

“MWORAGU?! Kau ini yang benar saja! Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal tersebut disaat kau sedang asma, pabo!” dan benar saja, Hayoung merebut bantal yang berada di belakang Kyungsoo, lalu dia pun memukul-mukul pelan Kyungsoo dengan bantal tersebut. Kyungsoo yang mendapatkan hal terebut berusaha melindungi diri dan menghindar.

“Aku kan sudah minta maaf. Lagipula…” Kyungsoo sengaja menggantungkan kalimatnya dan mengambil alih bantal yang digunakan Hayoung untuk memukulnya. “Yak! Bagaimana mungkin kau memukul seseornag yang sedang sakit, eoh?! Dan apa itu? Pabo? Yak! Panggil aku ‘oppa’. Aku lebih tua darimu.” sambung Kyungsoo sambil berbalik memukul-mukul Hayoung pelan dengan bantal itu. Hayoung yang mendapat itu pun juga berusaha melindungi diri dan sesekali menghindar seperti yang di lakukan oleh Kyungsoo tadi.

“Yak! Geumanhee.” Pinta Hyaoung dengan sedikit tertawa sambil terus berusaha menghindar dari serangan Kyungsoo.

“Tidak akan, sebelum kau memanggilku oppa.” Balas Kyungsoo sambil terus memukul pelan Hayoung diikuti oleh tawanya.

“Yak! Geumanhee, o-oppa.” Ujar Hayoung agak kaku namun dapat membuat Kyungsoo menghentikan aktifitasnya tanpa meninggalkan senyuman tulus di wajahnya.

Terjadi keheningan sebentar di antara mereka sambil saling menatap satu sama lain dengan sebuah senyuman indah di wajah mereka. Beberapa detik kemudian, keheningan tersebut berubah menjadi suatu tawa kegembiraan. Mereka tertawa satu sama lain mengingat apa yang telah mereka lakukan tadi membuat rambut mereka acak-acakan.

“Kenapa kau tidak pernah bilang?” Tanya Hayoung sendu setelah ia menghentikan tawanya diikuti Kyungsoo yang mulai merasakan aura yang lain dari Hayoung.

“Mwo?”

“Kenapa kau tidak pernah kau pengidap asma?”

“…” kyungsoo tidak menjawab, ia hanya menunduk lesu.

“Ini menyebalkan. Kau orang yang terkenal, kau orang yang pintar, dan disayangi banyak orang. Kenapa kau harus memilikinya?” Tanya Hayoung geram, sementara Kyungsoo hanya tersenyum miris mendengar keluhan Hayoung. Seharusnya Kyungsoo yang mengeluhkan hal tersebut namun kenapa malah Hayoung yang kesal?

“Entahlah, mungkin itu yang dinamakan takdir. Kau tahu? Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Terkadang terlalu sempurna itu kurang baik.”

“Adakah hal yang seperti itu?”

“Ah, iya. Bagaimana aku bisa berada di rumah sakit?” Tanya Kyungsoo penasaran sekaligus merubah aura muram Hayoung.

“Tadi kau pingsan. Jadi karena aku tidak tahu dimana rumahmu, aku membawamu ke klinik. Akhirnya aku sampai disana, ketika si pemilik klinik itu melihatmu tampak sudah tidak bernyawa di pundakku, dia pun dengan berbaik hati memberikan mobilnya untuk membawamu ke rumah sakit. Dan seperti inilah jadinya.” Jelas Hayoung panjang lebar, dan Kyungsoo yang mendengar cerita Hayoung tersebut hanya ber-oh ria.

“Jadi kemana pemilik klinik tersebut?” Tanya Kyungsoo lagi yang membuat Hayoung memutar bola matanya jengah.

“Dia sedang mengurusi sesuatu. Katanya sebentar lagi ia akan kembali.” Jawab Hayoung malas.

“Kau tidak menghubungi orang tuaku kan?”

“Ah, iya. Aku ingin menanyakan nomor orang tuamu di saat kau sudah tadi.”

“Ania. Itu tidak perlu.”

“Wae?”

“Sepertinya mereka sedang sibuk.” Jawab Kyungsoo sendu namun hal itu langsung dia hilangkan, “Akhirnya aku berhasil juga membuatmu tertawa dan berbicara denganmu lebih lama dari biasanya.” Sambung Kyungsoo lega sambil menghentikan tawanya.

“Itu benar. Biasanya aku akan membentakmu. Chukkae, kau berhasil membuat Oh Hayoung yang dingin ini, tertawa dan tersenyum.” Balas Hayoung sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Kyungsoo. Kyungsoo pun dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut.

“Jadi dimana hadiahku?”

“Cihh. Hadiah apa?”

“Aku sudah berhasilkan? Mana hadiahku?”

“Eumm, hadiahmu adalah…” hayoung sengaja menggantungkan kalimatnya karena ia sedang memikirkan apakah hadiah yang akan diberikan kepada Kyungsoo. Seperti ada sebuah lampu kecil menyala di atas kepala Hayoung, Hayoung pun menjawab, “Hadiahmu adalah aku. Benar yang kau katakan waktu itu, kita sama-sama kesepian. Jadi ayo kita berteman!”

Sebuah lengkungan indah tercipta di bibir Kyungsoo yang berbentuk hati tersebut. Akhirnya Hayoung menjadi temannya, ia tidak akan kesepian lagi begitu juga dengan Hayoung.

“Wae? Kau tidak mau?” Tanya Hayoung was-was.

“Mau atau tidak ya?” Tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri, berpura-pura berpikir. “Tentu saja aku mau.”

Kali ini Terciptalah sebuah senyuman indah di wajah Hayoung yang membuatnya tampak manis. “Tapi, bagaimana

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 3)”

  1. Oalah masih flashbacknya hayoung sama kyungsoo.. mereka lucu lari dikejar anjing kekeke.. ceritanya makin seru tapi chapter depannya jangan cuma flashback ya.. kekeke penasaran juga sama kelanjutan masa kini nya hayoung kekeke ^^

  2. Hi author salam kenal, maaf baru komen dipart ini karena memang pertama baca awal part aku bingung mau komen apa.
    1. Aku masih ga terlalu mengerti ceritanya
    2. Alurnya yg maju-mundur & bosan efek alasan “1” oke maaf yah author jika menyinggung :((
    baik alasaan terakhir..
    3. Author berhasil mempermainkan emosi aku. Jujur aja setelah baca dari part 1-3 dalam setengah malam. Feelnya dapet dan ceritanya kece abis. Jadi inget drama “school 2015” di part awalnya, apa author terinspirasi drama tersebut? entahlah.

    yasudah aku terlalu banyak cuap-cuapnya.. yang pasti aku tunggu kelanjutannya.. SOON!!

    FIGHTING!!

    1. aku benar-benar minta maaf kalau ff ini membingungkan. jeongmal jeosonghamnida….
      saya akan berusaha membuatnya lebih baik lagi, jadi dimohon dukungannya…

      about “school 2015”,
      sebenarnya ff ini juga pernah aku publish diwattpad pribadiku. dan ada juga yang mengomen seperti itu. apakah ceritanya benar-benar mirip? apakah mengecewakan?

      aku terinspirasi dari pembully-annya yang keren dan salah satu soundtrack-nya yang kusukai yaitu ‘Reset’ yang dibawakan oleh Tiger JK ft Jinsil, selebihnya berasal dari pemikiranku sendiri.

      jeongmal kamsahamnida, karena telah mengomen ff-ku. dan aku akan berusah lebih baik lagi!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s