[EXOFFI FREELANCE] SOME BODY (Chapter 2)

some body

SOME BODY

Title: Some Body (chapter 2)

Author: Jung21Eun

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), Jung Hoseok (BTS), Kim Namjoo (Apink).

Cast:

  • Oh Hyemi, Kim Nara (oc)
  • Xi Luhan, Byun Baekhun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai, Do Kyungsoo (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Choi Kyungjae (oc)
  • Park Jiyeon (T-ara)

Genre: School life, Friendship, Romance(?), Sad, Comedy(?).

Rating: PG-13

Length: chaptered

Disclaimer: Ff ini murni dari pikiran saya. Apabila ada beberapa kesalahan, saya mohon maaf. Karena kesempurnaan bukan milik saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca…

 

 

Hold my hand if you need someone

Just look at me if you need a shoulder

I would become somebody, we are in this life

Recommended song: The Light – The Ark, I Like You – EXO, Reset – Tiger JK ft Jinsil, Remember – Apink, Together – Jiyeon T-ara ft JB Got7.

*~*~*~*~*~*~*

TENG… TONG… TENG… TONG…

“Itu saja untuk hari ini. Ketua.” Intruksi Jung seonsaengnim kepada sang ketua kelas.

Sang ketua kelas pun berdiri. “Perhatian, salam.”

“Kamsahamnida.” Ujar haksaeng yang lain serempak sambil membungkukkan kepala mereka, hormat kepada guru mereka. Jung seonsaengnim pun berlalu dari kelas tersebut, setelah selesai membereskan barang-barang bawaannya. Setelah Jung seonsaengnim sudah pergi dari kelas, kelas yang semulanya hening menjadi ramai bagaikan berada di pasar minggu(?), ada yang mengeluh kelelahan, ada yang bermain, ada yang bercanda bersama teman-temannya, dan lain sebagainya.

“Nara-ya, ke kantin yuk.” Ajak seorang yeoja kepada Nara yang tengah membereskan bukunya.

“Geurae, kajja. Aku juga sudah lapar, Miju-ya.” Balas Nara setelah ia selesai membereskan bukunya sambil menarik lengan Choi Saemi keluar kelas untuk pergi ke kantin.

Mereka pun bersama-sama keluar kelas sambil bercanda. Tiba-tiba lengan Nara di tarik oleh seseorang sehingga dia berhadapan dengan orang itu. Orang itu lanjut menyandarkan punggung Nara ke dinding luar kelas. Nara masih shock, dia tidak menyangka bahwa dia akan ditarik oleh seseorang padahal biasanya ia adalah yeoja yang kuat. Semua haksaeng yang melihat itu merasa tertarik dan berkumpul di sekitar Nara

Sementara Hayoung dan Namjoo sedang berjalan menuju kelasnya Nara. Hayoung sudah mengatakan bahwa Sehun akan menyatakan perasaannya kepada Nara di depan kelasnya Nara. Namun betapa terkejutnya mereka saat mereka sudah sampai di dekat kelas Nara. Mereka melihat Nara sedang berhadapan dengan seseorang yang tentunya bukanlah Oh Sehun. Namja itu berlutut dihadapan Nara sambil memegang tangan Nara dan mengecupnya.

“Sebenarnya aku menyukaimu. Kau bagai bunga mawar merah ini, cantik namun kuat, dan aku menyukainya.” Kata namja itu­­­­­–Choi Kyungjae menatap Nara dengan tatapan mempesonanya yang mampu membuat hamper semua siswi yang ada di sana iri kepada Nara, sambil memberikan sebuket bunga mawar merah yang sudah sedari tadi ia pegang dan ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Hayoung menatap Kyungjae dengan tatapan benci karena Kyungjae telah merusak semuanya.

“Maukah kau menjadi pacarku?” lanjut Kyungjae. Nara menggigit bibir bawahnya gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara para haksaeng yang lain berseru meminta Nara untuk menerima Kyungjae. Tentu ini adalah tontonan yang menarik bagi mereka setelah bergelut dengan pelajaran yang membosankan. Anggap saja refreshing.

“Iya, aku mau.” Jawab Nara sambil mengambil bunga mawar merah yang di berikan Kyungjae. Padahal di satu sisi ia masih menunggu Sehun, tapi Sehun sangat lama. Ia sudah lelah menunggu Sehun. Mendengar jawaban Nara, Kyungjae tersenyum. Kyungjae pun memeluk Nara dengan erat. Nara tentu saja terkejut dengan perlakuan Kyungjae yang selalu tiba-tiba.

Hayoung hanya menyengir sinis, tentu saja Kyungjae diterima oleh Nara oenni karena Kyungjae merupakan salah satu namja yang cukup terkenal di sekolah mereka. Hayoung melihat Sehun baru datang, Sehun terkejut atas apa yang telah terjadi. Tanpa sengaja barang yang dibawa oleh Sehun terjatuh. Hayoung yang melihat itu hanya menghela nafas sinis, dia kesal dengan Sehun. Oh ayolah, Sehun hanya terlambat beberapa menit dari Kyungjae tapi Sehun tetap saja terlambat. Hayoung pun dengan kesal pergi dari tempat itu.

“Hayoung!” seru Namjoo sambil menyusul Hayoung.

Sehun menyadari bahwa Hayoung juga melihatnya, Sehun hanya bisa menatap punggung Hayoung yang sudah mulai menjauh dengan tatapan sedih. Dia sudah terlambat. Tamatlah sudah kesempatannya.

Nara baru menyadari bahwa ada Hayoung, Namjoo dan Sehun yang melihatnya sedari tadi. Ingin sekali dia melepas pelukan Kyungjae tapi pelukan Kyungjae terlalu erat sehingga tidak memungkinkan baginya untuk melepaskan diri. Bagaimana pun dirinya adalah seorang yeoja yang lebih lemah daripada namja.

Sehun melangkah mundur dan akhirnya menjauh dari kerumunan tersebut. Tiba-tiba datang Kai dan yang lain dengan rusuh. “Bagaimana hyung? Berhasilkah?” tanya Jungkook dengan nafas tersengal karena habis berlari.

Sebenarnya mereka tadi berada di kantin sedang menikmati sarapan mereka. Tapi Kai merasa ada yang hilang. Mereka baru ingat bahwa hari ini Sehun akan menyatakan perasaannya. Mereka pun dengan rusuh pergi ke depan kelas Nara.

Sehun tidak menjawab pertanyaan Jungkook, dia lebih memilih melanjutkan jalannya dengan langkah gontai. Mereka heran kenapa Sehun seperti mayat hidup. Mereka pun dengan rusuh (lagi?) melihat ke arah kerumunan para haksaeng itu. Mereka baru sadar bahwa Sehun sudah terlambat menyatakan perasannya.

Baru saja Taehyung ingin menyusul Sehun namun Luhan menahan lengannya dan menggeleng pelan. Taehyung memiringkan kepalanya seakan mengatakan bahwa dirinya tidak mengerti.

“Sehun sedang membutuhkan waktu sendiri.”

JJJ

Sehun pergi taman sekolah, sebenarnya ini bukanlah style-nya tapi saat ini dia sedang ingin menenangkan diri atas kegagalannya. Membiarkan angin membawanya pergi entah kemana. Dia duduk di sebuah bangku panjang yang berada di bawah pohon yang rindang. Dia menyandarkan punggungnya sambil merentangkan tangannya dan menutup matanya, mencoba menikmati semilir angin sepoi-sepoi.

Dia dapat merasakan seseorang duduk di sampingnya namun tidak ia gubris. Dia sedang ingin sendiri saat ini. “Aku tahu rasanya, pasti menyakitkan bukan?” tebak orang itu. Tapi Sehun masih tetap pada posisi nyamannya (udah pw) tanpa menjawab tebakan orang yang tidak ia kenal itu. “Aku juga seperti itu. Jangan berlebihan. Masih banyak wanita yang lain.” Lanjut orang itu.

“Bisakah kau diam saja? Atau pergi dari sini? Aku sedang ingin sendiri saat ini.” Kata Sehun dingin dan tajam, bermaksud untuk mengusir orang itu. Mungkin karena karma, orang itu tidak menggubris kata-kata Sehun dan tetap bersikukuh berada di samping Sehun.

Entah kenapa Sehun merasa tubuhnya sedang berat sekarang, seperti ada sesuatu diatasnya. Dia pun membuka matanya. Betapa terkejutnya dia, ternyata dia sedang di peluk oleh seorang yeoja. Yeoja itu adalah orang yang sedari tadi mengajak dirinya berbicara, walaupun tidak ia gubris sama sekali. Dan yeoja itu adalah Park Jiyeon, orang yang pernah, ralat… orang yang selalu membully Hayoung. Jiyeon sudah kembali dari masa skorsnya atau hukumannya.

“Yak! Apa yang kau lakukan hah?!” seru Sehun sambil berusaha melepaskan pelukan Jiyeon. Dia bukanlah tipe namja yang kasar namun dia cenderung cuek.

“Aku? Aku sedang memelukmu. Wae?”

“Yak! Lepaskan! Aku tidak suka!”

“Wae? Aku sedang menghiburmu. Kenapa kau tidak menyukainya?”

“Aku tidak butuh hiburan darimu. Lepaskan! Pergi sana!” akhirnya Sehun dapat melepaskan pelukan Jiyeon. Sehun memutar bola matanya jengah, dia kesal dengan Jiyeon karena sudah memeluk dirinya seenak jidatnya saja.

Namun tidak sampai disitu, dia melihat Hayoung berada tidak jauh dari tempatnya sedang menatapnya dengan tatapan kebencian, sangat tajam dan dingin. Tatapan terburuk yang pernah Hayoung berikan untuk Sehun. Tidak lama kemudian, Hayoung pergi dari sana.

“Youngiie!”

Sehun pun bangkit dari tempatnya dan berlari menyusul Hayoung, meninggalkan Jiyeon yang sedang tersenyum miring dan menyeringai penuh kemenangan.

Hayoung pov

“Hayoung!”

Haishh, anak itu (Namjoo). Kenapa pakai teriak sih? Sehun kan jadi tahu. Tapi tidak apa-apalah, biarkan dia tahu kalau aku tadi ada di sana. Dia pasti tahu kalau aku kecewa kepadanya. Aku tetap melanjutkan perjalananku ke atap sekolah untuk menenangkan diri.

“Yak! Kenapa kau mengabaikanku?” Tanya Namjoo sambil merangkul pundakku, setelah ia berhasil menyamai langkahku. “Kau mau kemana?” tanyanya lagi, mungkin karena pertanyaan sebelumnya tidak kunjung kujawab.

“Namjoo-ya, mianhee. Tapi bisakah kau meninggalkanku sendiri?” tanyaku hati-hati. Dia sangat baik, ingin menghibur diriku yang sedang kecewa ini. Tapi aku memang sedang ingin sendiri.

“Geurae? Arasseo.” Jawabnya sambil menurunkan rangkulannya di pundakku. Dapat kurasakan dari nadanya dia sedikit kecewa dan mencoba untuk mengerti. Jeongmal mianhee Hara-ya. “Keundae, kau lapar? Aku akan membelikan sesuatu.” Sambung Namjoo mencoba ceria, mencairkan suasana.

“Aku sangat lapar. Tunggu saja aku di kelas.”

“Arasseo.”

“Aku pergi dulu.”

Aku pun pergi, tidak lupa melambaikan tanganku dan tersenyum kepada Hara, begitu juga dengannya. Sehun pabo! Dia juga pernah gagal dalam hal ini. Dia benar-benar bodoh.

Flashback

Seoul, 2009

Therefore, I have something I want to say, would you listen? I would express my feelings for you now. (I Like You – EXO)

“HAHAHA”

“Kalian berdua bisa diam tidak?” Tanya Sehun kesal. Ada apa dengannya? Kenapa dia sentimental banget sih? kami–aku dan Hyemi oenni kan sedang membaca komik. Apa salah kami? Seharusnya itu salah dia yang duduk di dekat kami ketika kami sedang membaca komik.

“Ne… ne… ne…” balasku sambil sedikit mencibir. Sementara Hyemi oenni, dia hanya menahan tawanya lalu kami melanjutkan membaca komik kami. Namun, beberapa saat kemudian…

“Noona.” Panggil Sehun, membuat kami mengalihkan pandangan kami dari komik kami dengan ekspresi heran. Mwoya ige? Rasanya tadi dia sedang kesal, jalan pikirannya benar-benar aneh.

“Ada apa?”

“Menurut noona, apa yang yeoja sukai?” sontak kami berdua menahan tawa. Sejak kapan dia perduli akan hal tersebut?

“Oppa, kau tidak salah minum obatkan?”

“Ani, waeyo? Tunggu dulu, aku sedang tidak sakit kok.”

“Memangnya ada apa Sehun-ah kau membicarakan hal itu?”

“Iya, oppa. Tumben sekali.”

“Jawab sajalah noona.”

“Berikan alasanmu dulu baru aku jawab.”

“Huh… jadi begini. Sebenarnya disekolahku ada seorang yeoja yang aku sukai. Aku ingin menyatakan perasaanku kepadanya.”

“Daebak! Akhirnya kau menyukai seseorang, oppa.”

“Ternyata kau sudah besar, Sehun-ah.”

Sangat menyenangkan menggodanya. Lihatlah, dia mulai salah tingkah. Hehehe…

“Noona jawab sajalah pertanyaanku, apa yang seorang yeoja sukai?”

“Biasanya seorang yeoja itu sangat menyukai hal-hal yang manis dan romantic.”

.

.

Di jam istirahat sekolah, kami sedang menunggu seseorang di balik tembok di dekat kelas seseorang itu–yeoja yang disukai Sehun oppa. Sebuket bunga mawar merah dan cokelat manis, sudah di tangan Sehun oppa. Dia akan menyatakannya hari ini. Tapi tunggu dulu, ada apa dengan dia? Sepertinya dia sedang gugup. Keringat dinginnya mulai bercucuran di dekat lehernya.

“Oppa, ada apa?”

“Young-ah, oppa rasa oppa sedang gugup.”

Benar dugaanku. “hhmmppt. Gugup?” aku berusaha menahan tawaku. lucu sekali, biasanya oppaku yang keren ini tiba-tiba menjadi namja culun yang gugup karena seorang yeoja yang di sukainya.

“Yak! Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu hah?”

“Tidak ada apa-apa kok.” Jawabku sambil terus menahan tawaku agar tidak menyembur dan membuatnya tambah kesal.

“Young-ah, bagaimana kalau dia tidak menyukainya?”

“Mwo? Andwae. Oppa tidak boleh berpikir seperti itu. Gwencana, aku yakin dia akan menyukainya. Oppaku kan sangat keren dan tampan. Oh itu dia, dia sudah keluar dari kelasnya. Jangan gugup lagi ne, oppa. Kau harus semangat. Fighting!”

Sehun oppa tampak mengambil nafasnya dalam-dalam lalu dia membuangnya perlahan, dia melakukannya berkali-kali untuk menghilangkan kegugupannya. “Geurae, Fighting Oh Sehun!” ujarnya pada dirinya sendiri.

Kami pun beranjak dari tempat persembunyian kami, menuju kelas yeoja yang Sehun oppa sukai. Tapi, mwoya ige? Kenapa ramai sekali? Aku rasa kami terlalu lama bersembunyi.

“Oppa, ada apa ini?”

“Entahlah, nado molla. Ayo kita lihat.” Ujar oppa agak panic sambil menarik tanganku menuju kerumunan haksaeng sekolah kami yang berada di depan kelas yeoja yang Sehun oppa sukai. Betapa terkejutnya kami, terutama Sehun oppa melihat kejadian ini. Choi Kyungjae–termasuk namja terkenal di sekolah kami tengah memegang sebuket bunga mawar pink tengah berdiri di hadapan yeoja yang Sehun oppa sukai dan memegang tangan yeoja itu dengan sebelah tangannya yang bebas, sementara yeoja itu tengah malu-malu, terlihat dari bagaimana caranya salah tingkah.

“Park Dami, aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Maukah kau menjadi pacarku?”

“Ne, aku mau.”

Mwo?! Bagaimana ini? Jaebum sudah menjadi namjachingunya Dami–yeoja yang Sehun oppa sukai. Haishh yeoja ini, aku baru sadar kalau dia termasuk yeoja cantik yang terkenal di sekolah dan sepertinya dia itu yeoja genit. Aku melirik ke Sehun oppa, dia pasti merasa sangat kecewa. Cinta pertamanya tidak terbalas bahkan sebelum dia mengutarakannya. Aku merasa kasihan padanya.

“Oppa…” kalimatku terhenti karena Sehun oppa pergi dari tempat itu dengan kesal, aku pun berlari mengikutinya. Dia pergi ke tong sampah terdekat dan membuang barang yang dia bawa tadi di tempat itu. Setelah itu dia berlalu dari situ namun aku tetap mengikutinya. Aku rasa Sehun oppa tahu, bahwa sedari tadi aku mengikutinya. Dia pun berhenti dan berbalik ke arahku sehingga aku terantuk dadanya.

“Oh Hayoung, aku sedang ingin sendiri. Jadi, jangan mengikutiku ne.” dia seperti sedang menahan amarahnya, itu terlihat dari tangannya yang terkepal dan rahangnya yang mengeras.

“Tapi, oppa…”

“Pergi! Kau tidak dengar aku sedang ingin sendiri hah?!”

“Oppa jahat!” dengan kesal dan menahan air mataku, aku pun berlari dari tempat itu. Tempat pertama yang terpikirkan olehku adalah taman belakang sekolah. Tempat itu adalah tempat kami biasa bercanda ria.

.

.

Hiks… hiks… hiks…

Aku menumpahkannya disini ditemani angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambutku namun tidak kugubris sama sekali. Aku duduk dengan menekuk lututku dan kutenggelamkan wajahku di dalamnya. Kenapa oppa harus marah kepadaku? Aku hanya ingin menghiburnya. Apa yang salah denganku? Tiba-tiba dapat kurasakan seseorang duduk disampingku. Aku pun berusaha menghentikan tangisanku, aku tidak ingin wajah jelekku dilihat orang lain. “Mianhee, Youngiie.” Dari panggilan itu dan suaranya, aku dapat mengetahui bahwa orang itu adalah Sehun oppa. Aku tidak mengangkat wajahku, aku tetap pada posisi tadi.

“Mianhee, tadi oppa tidak bermaksud marah kepadamu. Oppa hanya sedang terbawa emosi. Oppa jeongmal mianhee. Kau mau memaafkan oppa?”

Aku mulai mengangkat wajahku dan menghapus kasar air mataku yang masih mengalir dipipi cubby-ku walaupun aku masih terisak. Aku dapat melihat oppa tampanku dengan wajah sendunya, sepertinya dia benar-benar menyesal. Aku pun mengulurkan kelingkingku ke depan wajahnya, membuat dia mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Oppa harus janji tidak akan marah kepadaku lagi.”

“Eung. Oppa janji.” Ujarnya semangat sambil mengaitkan kelingkingnya di kelingkingku. Wajahnya mulai berangsur ceria. Aku tidak bisa terus-terusan marah kepadanya, karena yang tadi itu bukan sepenuhnya salah oppa. Aku sangat menyayanginya.

“Arasseo, permintaan maaf diterima.” Ujarku sambil menunjukkan senyuman manisku, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Mungkin karena saking senangnya Sehun oppa memelukku erat, aku dapat melihat dia tersenyum walaupun tipis, itu artinya dia lega, begitu juga denganku yang tersenyum cerah.

“Komawo.”

“Gwencanayo oppa, kita cari yeoja lain yang lebih baik dari Park Dami itu, mau?”

“Ani, aku hanya akan menjaga kalian berdua.”

“Andwae… Kau juga harus mempunyai seseorang yang lebih special dariku dan Hyemi oenni.”

“Arasseo, kau juga ya.”

Di tengah peristiwa yang agak mengharukan ini, tiba-tiba ada suatu suara yang sangat mengganggu. Sehun oppa pun melepaskan pelukan hangat kami. “Kau lapar? Ayo kita ke kantin.” Aku hanya tersenyum malu. Dia mengulurkan tangannya, mengajakku ke kantin, aku pun menerimanya. Ya, itu adalah suara perutku yang minta diisi. Ayolah, waktu istirahat yang biasanya aku gunakan untuk mengisi perutku terbuang karena Sehun dan aksi merajukku tadi. Tapi tidak apa-apa kok, yang penting selalu ada Sehun oppa bersamaku.

Flashback end

Namja yang sama merebut yeoja yang Sehun sukai. Choi Kyungjae. Aku benar-benar membencinya, ini sudah kedua kalinya. Kenapa kami harus satu sekolah lagi dengannya sih?

Tapi, baru setengah perjalananku keatap sekolah, aku menghentikan langkahku. Ada sesuatu yang menarik perhatianku, aku pun beranjak menuju ke dekat tempat tersebut. Di taman sekolah, ada seorang yeoja yang tengah memeluk mesra namja yang tengah besantai ria di kursi panjang yang telah disediakan di taman itu. Aku dapat mengenali bahwa yeoja itu adalah Park Jiyeon. Sejak kapan dia kembali? Kenapa rasanya, masa hukumannya itu sebentar sekali? Lupakan! Aku tak ingin perduli dengan yeoja busuk itu.

Yang aku penasarankan adalah, siapa namja yang tengah dipeluk oleh Park Jiyeon itu. Aku merasa familiar dengan postur tubuh mendekati sempurna itu. Aku memfokuskan pandanganku kearah namja itu. Namja itu mulai menggeliat tidak suka.

Aku baru sadar… Andwae! Ini tidak mungkin terjadi! Itu tidak mungkin dia! Oh Sehun, apa yang kau lakukan hah? Sepertinya kau benar-benar tidak berniat meminta maaf kepadaku! Aku kecewa kepadamu, Oh Sehun. Sangat kecewa. Tanpa kusadari sebelumnya, cairan bening menetes dipipiku. Aku ingin membencimu, Oh Sehun. Tapi, kenapa tidak pernah bisa? Kenapa aku tidak pernah bisa membencimu, Oh Sehun? Wae? Dia melihatku dan dia pun terkejut melihatku berada disana, tentu saja.

Aku tidak tahan lagi, aku pun pergi dari tempat menjijikkan itu dengan berlari sekuat tenaga karena aku takut Sehun akan dapat menyusulku dengan kaki panjangnya itu. “Youngiie!” aku dapat mendengar teriakannya memanggilku, namun hal tersebut tidak kugubris sama sekali. Aku malah semakin menambah kecepatan berlariku.

J-hope oppa. Aku membutuhkannya sekarang. Aku sangat membutuhkannya. Dia memang bukan jin yang bisa muncul tiba-tiba bila aku mau. Dia hanya manusia biasa, bukan alien yang mempunyai kekuatan super. Tapi dia oppaku, pengganti Oh Sehun yang selalu berada disisiku.

Hayoung pov end

Hayoung berlari di sepanjang lorong sekolah yang mulai sepi, dia berlari dengan cairan-cairan bening yang mengalir di matanya. Dia menangis, dia sangat kecewa kepada Sehun. SANGAT. Lama kelamaan cairan-cairan itu berubah menjadi sungai yang cukup deras. Tiba-tiba dia berhenti karena sebuah suara yang dia inginkan untuk datang menghiburnya.

“Hayoungiie!” panggil J-hope ceria begitu bertemu dengan Hayoung sambil melambaikan tangannya, dia memamerkan senyuman hangatnya, dia berada tidak jauh dari Hayoung. Namun lama kelamaan senyumannya itu luntur berubah menjadi ekspresi wajah khawatir ketika melihat Hayoung yang menangis. Hayoung pun berhenti berlari karena ia telah menemukan orang yang sedang ia butuhkan. “Hayoungiie, ada apa? Mengapa kau menangis? Siapa yang membuatmu menangis?” tanya J-hope bertubi-tubi sambil berlari kecil menghampiri Hayoung.

“Oppa… hiks…” Hayoung memeluk J-hope setelah J-hope menghampiri dirinya. J-hope awalnya agak kaget, namun akhirnya dia membalas pelukan Hayoung karena dia tahu apa yang sedang dibutuhkan oleh Hayoung.

“Mengapa kau menangis Hayoungiie?” tanya J-hope lembut sambil mengusap puncak kepala Hayoung untuk menenangkan Hayoung.

“Sehun… hiks…”

J-hope kesal, Sehun selalu membuat Hayoung sedih atau kecewa. Dia jarang mendengar atau melihat Sehun membuat Hayoung tersenyum. J-hope dapat melihat Sehun berlari ke arah Hayoung. Namun laju lari Sehun semakin melambat dan akhirnya berhenti ketika melihat Hayoung dan J-hope saling berpelukan. Sehun mengepalkan tangannya erat, dia kesal karena lagi-lagi dia GAGAL. J-hope memberikan tatapan tajam kepada Sehun seperti menyuruh Sehun untuk pergi saja daripada membuat Hayoung terus menangis, namun sepertinya Sehun tidak menyadarinya karena Sehun fokus menatap sendu ke arah Hayoung yang sedang menangis di pelukan J-hope. Sehun pun pergi dari sana dengan langkah gontai.

JJJ

“Ini untukmu.” Ucap J-hope sambil menyerahkan es krim cokelat kepada Hayoung.

“Komawo oppa.” Balas Hayoung sambil mengambil salah satu es krim yang berada di tangan J-hope dan memakannya dengan perlahan. J-hope pun duduk di samping Hayoung sambil juga menikmati eskrimnya.

Saat ini mereka sedang berada di taman belakang sekolah, di bawah sebuah pohon yang besar dan rindang. Mereka berdua menikmati angin sepoi-sepoi yang sejuk dan es krim manis yang berada di tangan mereka untuk menenangkan diri.

“Apakah kita sedang membolos sekarang?” tanya J-hope memulai percakapan sambil memakan es krimnya.

“Sepertinya iya. Rasanya aku terlalu malas untuk mengikuti pelajaran Jung seonsaengnim.”

“Haha, kau ini. Seorang haksaeng tidak seharusnya malas seperti itu.”

“Bagaimana denganmu? Bukankah oppa juga membolos?”

“Aku hanya menemanimu saja. Aku juga ingin mencoba bagaimana rasanya membolos itu.”

“Sebenarnya, ini pertama kalinya aku membolos pelajaran. Aku terlalu rajin waktu dulu.”

“heh, dasar kau ini.” J-hope terkekeh sambil mengacak rambut Hayoung pelan menggunakan sebelah tangannya.

“Haishh, oppa…” rengek Hayoung sambil sedikit merapikan rambutnya. Suasana hening sesaat, J-hope sedang memikirkan topik apalagi yang bagus untuk mereka bicarakan.

“Jadi bagaimana?”

“apa?”

“Kau dan Sehun.”

“Hhh, entahlah. Aku merasa sangat sangat kecewa kepadanya. Kalau boleh, aku tidak ingin dia yang menjadi oppaku.”

“Memangnya boleh?”

“Mungkin saja. Aku ingin seseorang yang lain bertukar tempat dengannya.”

“Siapa itu?”

“Kau, J-hope oppa atau Kyungsoo oppa. Kenapa Sehun harus menjadi oppaku sih? Aku sangat membenci Oh Sehun itu.” Ujar Hayoung sambil menedang kerikil kecil di dekat kakinya karena kesal, walaupun ada sedikit kebohongan yang membumbui ucapannya itu. Sebenarnya J-hope tidak terima kalau dia yang menjadi oppa kandungnya Hayoung, karena dia ingin menjadi seseorang yang lain di hidup Hayoung.

“Heii, itu tidak mungkin terjadi.”

“Apa salahnya? Aku menyayangi kalian bukan dia. Tapi oppa…”

“Ada apa?”

“Kenapa setiap kali Sehun yang menyukai seseorang, aku yang paling emosian? Seperti waktu dulu, akulah yang menangis ketika Sehun tidak mendapatkan yeojanya. Sekarang pun juga.”

“Itu artinya, kau sebenarnya menyayangi dia. Kau menginginkan yang terbaik untuknya.” Jelas J-hope sambil tersenyum tulus.

“MWO?! Maldo andwae! Aku tidak menyayanginya. Aku membencinya.” Sanggah Hayoung kaget.

“Aku serius. Kau menyayangi diakan? Mengaku sajalah…” goda J-hope yang membuat Hayoung semakin kesal.

“Tidak bisakah kau membicarakan hal yang lain?”

“Arasseo, arasseo.”

“Oppa…” panggil Hayoung.

“Ne?”

“Sepulang sekolah maukah kau menemaniku berkunjung ke tempat Kyungsoo oppa? Aku sangat merindukannya.” Jawab Hayoung menatap lurus ke depan.

“Arasseo. Kita akan ke sana sepulang sekolah.” Ujar J-hope lembut.

Dia mengerti itu. Ini sudah 2 tahun. Terciptalah sebuah senyuman hangat di wajah Hayoung, melihat itu J-hope pun juga tersenyum walaupun Hayoung tidak dapat melihatnya karena Hayoung masih terus menatap lurus ke depan sambil memakan es krimnya.

“Tapi kenapa aku merasa lengket ya?” tanya J-hope heran, dia pun melirik ke arah tangannya. “Huahh!!” seru J-hope histeris, membuat Hayoung melirik ke arah J-hope.

Dia seperti wanita saja bila histeris seperti itu. Gumam Hayoung dalam hati.

Ternyata es krim milik J-hope meleleh. Tentu saja, cuaca hari ini memang cukup panas. Entah apa yang dipikirkan J-hope sehingga membiarkan es krimnya meleleh. Hanya J-hope dan tuhan yang tahu.

“Oppa, es krimmu meleleh.” Ucap Hayoung santai

“milikmu juga. cepatlah dimakan.” Balas J-hope agak kesal sambil memakan es krimnya. “Haishh, Uang sakuku…”

“Jadi kau tidak ikhlas membelinya untukku?” protes Hayoung.

“Makan saja yang cepat. Jangan langsung di buang. Tidak baik membuang-buang makanan. Araa.”

“Ne, arasseo oppa.” Lalu Hayoung pun memakan es krim yang mulai mencair juga. namun Hayoung seperti baru mengingat sesuatu. “Ah, iya. Namjoo!”

Di tempat lain Namjoo sudah berada di kelasnya, lebih tepatnya di bangkunya sendiri. Ia tengah menekuk wajahnya sambil mencoret-coret sesuatu di diary-nya. “Mwoya ige? Tadi katanya dia lapar, aku sudah membelikan makanan untukku dan untuknya.” Gumam Namjoo galau sambil memandang makanan yang berada di meja Hayoung yang sengaja ia letak disana.

Ada sebuah bunyi memalukan –untung saja tidak terlalu besar kalau tidak mungkin Namjoo akan berusaha mati-matian menahan malunya mungkin sekarang pun juga– keluar dari perut Namjoo. Namjoo pun memegangi perutnya. “Ah… aku lapar. Hayoungiie mianhee, aku makan dulu ya. Aku benar-benar lapar.” Namjoo pun mengambil salah satu roti yang dia beli tadi. Dia pun merobek plastik bungkusannya dan memakan roti itu perlahan-lahan sambil melihat-lihat keadaan kalau-kalau Park seonsaengnim, guru yang akan mengajarnya nanti memasuki kelas. Memang sih, sebenarnya waktu istirahat sudah berakhir namun gurunya belum juga datang ke kelas, jadi dia hanya mengambil kesempatan.

“Keundae, kenapa Hayoung belum juga kembali? Kenapa dia lama sekali berada di atap sekolah? Apa dia kabur? Diculik? Jangan-jangan dia membolos? Atau dia sedang sakit?” Tanya Namjoo kepada dirinya sendiri sambil terus memakan rotinya. Mungkin kalau ada yang melihat, dia akan dikira orang yang sedang kehabisan obat warasnya (maaf).

Tiba-tiba semua haksaeng di luar dan di dalam kelas Namjoo berlarian ke tempat duduk mereka masing-masing. Wae? Karena Park seonsaengnim telah datang ke kelas mereka. Namjoo pun menyembunyikan rotinya yang tinggal setengah lagi ke dalam laci mejanya, tidak lupa sebelumnya dia masukkan kembali roti itu ke dalam plastiknya yang tadi belum dia buang. Dia juga menyembunyikan makanan yang berada di atas meja Hayong ke dalam laci mejanya. Lalu duduk dengan baik seolah tidak ada apa-apa sebelumnya.

“Kenapa Hayoung belum juga kembali? Apa dia benar-benar membolos? Sebaiknya aku sms saja dia.” Gumam Namjoo pelan, lalu dia mengeluarkan ponselnya secara diam-diam agar tidak diketahui oleh Park seonsaengnim, karena memang haksaeng tidak diperbolehkan untuk menggunakan ponselnya di saat pembelajaran berlangsung. Dia pun memainkan jari jemarinya disana, mengetik sebuah pesan untuk Hayoung.

To: Hayoung

Kau dimana? Apa yang kau lakukan hah? Park seonsangnim sudah masuk kelas.

Tak lama kemudian ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk.

From: Hayoung

Jangan khawatirkan aku. Aku hanya sedang membolos. Nanti pinjam catatannya ya. ❤ saranghae uri Namjoo.

Namjoo hanya terkekeh ketika membaca pesan tersebut. Ternyata tebakanku benar. Batin Namjoo. Dia pun kembali meletakkan ponsenya di saku almamaternya dan memfokuskan diri ke pelajaran fisika Park seonsaengnim yang sedang berlangsung, karena apabila dia berlama-lama memainkan ponselnya, ponselnya sendiri bisa saja menjadi korban atau dirinya yang mendapat hukuman.

JJJ

Flashback

Seoul 2010

Do I look weak? Are you worried about me? Just like the dew glistening under the moon. Does it seem like I was going to disappear? (Reset – Tiger JK ft Jinsil)

Sekumpulan yeoja (sekitar 4 orang) sedang duduk di sebuah bangku di taman sambil bercanda dan membicarakan sesuatu. Tidak jauh dari sana ada seorang yeoja sedang berjalan dengan kepala tertunduk. Salah seorang dari sekumpulan yeoja itu menyadari keberadaan yeoja yang sedang sendirian itu. Dia pun membisikkan sesuatu kepada teman-temannya.

“Ahh, chinguya. Aku kebosanan nih.” Ujar salah seorang diantara mereka dengan suara yang agak besar.

“Bukankah dia yeoja yang mengaku sebagai adiknya Sehun oppa?” tanya seseorang diantara mereka sambil menunjuk yeoja yang sedang sendirian itu.

“Kalau tidak salah namanya Oh Hayoung ya?”

“Jinja? Bahkan Sehun oppa saja tidak pernah mengakuinya. Percaya diri sekali dia.”

“Dia benar-benar pandai mencari alasan untuk mendekati Sehun oppa. Dasar tidak tahu diri.”

“Chinguya, ayo kita sedikit bermain dengannya. Otte?”

“Geurae, kajja.”

Mereka pun menghampiri yeoja yang sedang sendirian itu–Oh Hayoung yang kebetulan lewat di depan mereka. Sebenarnya sedari tadi Hayoung mendengar percakapan mereka, namun dia berpura-pura tidak mendengarkan karena dia berusaha mencari cara untuk kabur. Dan disaat dia ingin kabur, seseorang menyentuh bahunya menahan dia agar tidak kabur.

“Kau mau kemana?” tanya seseorang yang menahannya dengan nada sinis.

“Bukan urusanmu.” Jawab Hayoung cuek.

“Geurae? Bermainlah bersama kami terlebih dahulu.”

“Iya, kami sedang kebosanan saat ini.”

“Bermainlah sendiri. Bukankah kalian ada banyak orang? Pasti cukup untuk bermain sendirian.” Balas Hayoung santai sambil mulai beranjak dari sana. Namun kembali ditahan oleh mereka.

“Turuti sajalah.”

“Shiroe!”

“Kau berani melawan hah?”

“Iya. Wae?”

“Arasseo. Itu maumu.”

Mereka pun mulai mengerubungi Hayoung. Hayoung bergidik ngeri. Dan benar saja mereka mulai mendorong-dorong bahu Hayoung. Mereka juga menjambak rambut panjang Hayoung. Dan mereka melakukannya dengan seringaian dan tawaan di bibir mereka, menganggap ini adalah pertunjukan yang cukup bagus.

Selalu seperti ini, Hayoung selalu di bully oleh yeoja-yeoja yang menyukai / fansnya Sehun karena Hayoung pernah tidak sengaja mengungkapkan bahwa mereka adalah kakak beradik. Hayoung sangat kesal kepada Sehun yang selalu mengabaikan dirinya.

“Hentikan.” Lirih Hayoung yang mulai kesakitan. Dia sudah menitikkan air matanya perlahan. Namun tidak digubris oleh mereka.

“Kau pikir kau itu siapa hah?”

“Berani-beraninya kau mendekati Sehun oppa.”

“Jebal, geumanhee…” ucap Hayoung sambil berusaha menghindar namun tidak berhasil karena Hayoung di kepung oleh mereka. Dan mereka masih tetap membully Hayoung, dan menganggap ucapan Hayoung hanyalah angin lalu yang tidak berguna.

“Kau ini benar-benar seorang hobae yang tidak tahu diri.”

CKLICK! CKLICK!

Mereka pun menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke sumber suara. Ternyata seorang namja tengah memergoki mereka membully Hayoung.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya namja itu, berusaha bersikap biasa seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Kami? Kami sedang bermain. Wae? Apa masalahmu?” salah seorang diantara mereka balik bertanya.

“Ini… ini…. Sebaiknya kalian minta maaf kepada yeoja itu.” Jawab namja itu sambil menunjuk Hayoung.

“Huh, apa hubungannya denganmu? Kenapa kami harus meminta maaf kepadanya?”

“Karena kalian telah menyakitinya.”

“Menyakitinya? Kami hanya bermain, ara? BERMAIN. Tidak bolehkah?”

“Bermain?” namja itu mengerutkan dahinya. “Jangan bercanda. Sebaiknya kalian cepat meminta maaf kepada yeoja itu, atau…” namja itu sengaja menggantungkan kalimatnya. Dia hanya mengayun-ayunkan ponselnya. “Ini akan menyebar kemana-mana. Ada bukti yang sangat kuat disini loh…”

Skakmat! Mereka tidak tahu lagi harus bagaimana. Mereka pun pergi meninggalkan Hayoung dengan cibiran-cibiran kasar yang terlontar dari mulut mereka. Hayoung pun terduduk dengan air mata yang mengalir deras di wajah imutnya. Namja itu pun segera menghampiri Hayoung.

“Haishh, dasar anak-anak itu. Aku sudah menyuruh mereka untuk meminta maaf dulu. Malah langsung kabur.” Cibir namja itu

“Noe gwenchana?” tanya Namja itu, berlutut di hadapan Hayoung sambil memegang pundak Hayoung dan mengecek keadaan Hayoung.

“Hiks… kau pikir aku baik-baik saja hah? Hiks…”

“Mian… aku mungkin terlambat datang.”

“Nuguseyo? Apa aku mengenalmu? Siapa yang mengharapkanmu datang?” tanya Hayoung bertubi-tubi walaupun masih terisak. Dia memandang namja itu heran.

“Haishh, kau ini seperti tidak tahu terima kasih saja. Geurae, aku akan mengenalkan diriku. Annyeong, naneun Do Kyungsoo imnida. Bangapta.” Kata Kyungsoo sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Pergi! Aku tak mengenalmu.” Ucap Hayoung sambil menepis tangan Kyungsoo.

“Tapi…”

“Pergi! Atau aku yang akan pergi dari sini!” seru Hayoung kesal. Karena tak kunjung dijawab dia pun bangkit sambil merintih kesakitan menahan beberapa luka yang ada di tubuhnya. Sebenarnya Kyungsoo khawatir dengan keadaan Hayoung, dia pun ikut bangkit sambil bersiap siaga di dekat Hayoung namun Hayoung menepisnya.

“Geurae, aku yang akan pergi dari sini. Terima kasih telah menyelamatkanku. Tapi jangan pernah menemuiku lagi.” Sambung Hayoung dingin tanpa memandang Kyungsoo. Hayoung pun pergi dari sana dengan sedikit terseok-seok meninggalkan Kyungsoo yang masih keheranan dengan sikap Hayoung.

“Apa yang salah denganku? Rasanya tidak ada. Apakah aku kurang tampan? Hei… tidak mungkin. Ah, sudahlah. Mungkin dia sedang ingin sendiri.” Gumam Kyungsoo kepada dirinya sendiri, dia masih menatap punggung Hayoung yang semakin menjauh dari pandangannya.

“Pabo! Bahkan kau belum menanyakan namanya. Haishh, jinja.” Gumam Kyungsoo kesal sambil memukul kepalanya pelan. Dia tidak ingin terlalu menyakiti dirinya dengan memukul kepalanya dengan tinjunya yang tidak terlalu keras itu, dia masih menyayangi dirinya sendiri.

“Semoga kita bisa bertemu kembali.”

Flashback end

JJJ

Seoul 2015

“Eonni, waeyo?” Tanya Namjoo kepada eonninya–Kim Nara. Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan pulang.

“Apa?” Tanya Nara balik dengan heran, ia benar-benar tidak mengerti kemana arah pertanyaan adiknya.

“Kau menerima Kyungjae sunbae.”

“Eoh? T-tidak ada apa-apa kan.”

“Lalu, kenapa kau menerimanya? Apa kau menyukainya?”

“Ah… i-itu… aku… aku…” Nara gugup karena dia tidak tahu harus menjawab apa kepada adiknya. Jujur, Nara menerima Kyungjae hanya untuk sekedar iseng-isengan saja. Dia takut apakah adiknya menyukai Kyungjae? Apakah adiknya cemburu atau marah kepadanya?

“Eonni…”

“E-eoh?” Nara pun tersadar dari lamunannya.

“Jawab saja yang jujur. Apa kau menyukai Kyungjae sunbae?”

“Huft… arasseo, sebenarnya sih tidak, aku menyukai orang lain.”

“Lalu kenapa kau menerima Kyungjae sunbae?”

“I-itu… aku… aku hanya iseng-iseng saja menerimanya.” Jawab Nara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Wae? Kau menyukainya? Kalau kau menyukainya, aku bisa memintanya untuk putus saja dariku.”

“Ne? aku dan nappeun namja itu? A-anigoteun, aku tidak menyukainya kok. Aku… Aku hanya bertanya.”

“Aigoo, jujurlah. Kau menyukainya juga kan?” goda Nara.

“Sudah kubilang aku tidak menyukainya! Haishh, eonni kok tidak percaya sih.” Jawab Namjoo kesal. Apa yang sedang eonni pikirkan? Aku dan namja itu? Heh, maldo andwae. Gumam Namjoo kesal dalam hati.

“Arasseo, arasseo.”

“Keundae, kenapa eonni sangat bodoh?”

“MWO? Bodoh? Kalau aku bodoh mana mungkin aku berada di kelas unggulan sekarang.” Sanggah Nara tidak terima.

“Haishh, bukan itu maksudku eonni. Ah, sudahlah eonni tidak mengerti.” Namjoo sedikit mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Ia bingung eonninya ini benar-benar pintar atau apa sih? Kode macam itu saja tidak tahu. Sepertinya oenninya ini sangat lemah dalam bidang percintaan. Dengan kesal, Namjoo mulai berjalan dengan sedikit lebih cepat sehingga meninggalkan Nara beberapa langkah dibelakangnya.

“Yak! Apa maksudmu?” Tanya Nara agak kesal sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan adiknya.

“Eonni pabo! Cari tahu saja sendiri!” seru Namjoo, dia pun langsung berlari menjauhi Nara. Karena dia tahu kakaknya itu akan menyemburnya.

“Yak! Awas saja. Kemari kau!” balas Nara sambil berlari mengejar Namjoo.

“Week…”

Orang-orang melihat mereka dengan tatapan aneh. Tentu saja, ini trotoar untuk pejalan kaki bukan seperti trotoar di taman untuk jogging pagi, dimana kamu bisa berlari ataupun berjalan sepuasnya disana. Namun Namjoo dan Nara tidak memperdulikan hal tersebut, mereka hanya saling kejar-kejaran dan bersenang-senang bersama.

JJJ

Sesuai perjanjian, Hayoung dan J-hope pulang sekolah bersama untuk mengunjungi Kyungsoo. Mereka pergi ke toko bunga terlebih dahulu. “Oppa, bagusnya membeli bunga apa?” tanya Hayoung, di saat mereka sudah sampai di toko bunga.

“Eumm, bunga… lily putih saja. Otte?”

“Lily putih… hmm… baiklah.” Gumam Hayoung, memikirkan usulan J-hope. “Ahjumma, dua buket bunga lily putihnya, tolong.” Ujar Hayoung kepada ahjumma pemilik toko bunga tersebut.

“Wah, kalian pasangan yang manis. Kenapa tidak membeli bunga mawar merah saja untuk berkencan?” goda ahjumma yang di respon dengan wajah kaget oleh J-hope dan Hayoung.

“A-aniyeo ahjumma, kami akan menjenguk seseorang bukan untuk berkencan.” Sanggah Hayoung. Dia mengatakan hal tersebut karena dirinya dan J-hope hanya sebatas kakak dan adik baginya, dia takut J-hope akan tersinggung. Sementara J-hope, awalnya dia merasa berbinar karena dianggap pasangan yang manis namun hal itu langsung terhempaskan disaat Hayoung menyanggah pernyataan itu. Tapi… ah sudahlah.

“Eoh, benarkah? Maafkan, ahjumma yang salah pengertian ini.” Ujar ahjumma tersebut sambil memukul pelan bibirnya berulang kali.

“Ne, Gwenchanayo ahjumma.” Balas J-hope

“Ah iya, bunga apa tadi yang kalian pesan?”

“dua buket bunga lily putih.” Jawab Hayoung dan J-hope serempak.

“Aigoo, kalian membuatku iri saja.” Ujar ahjumma itu sambil merangkai bunga pesanan mereka, membuat mereka berdua salah tingkah. “Ini bunganya. 2500 won.”

“ini, Kamsahamnida ahjumma.”

“Choenmaneyo.”

Mereka pun sedikit membungkuk hormat, tidak lupa senyuman manis di wajah mereka, dan dibalas serupa oleh ahjumma pemilik toko. Lalu mereka pun pergi dari toko itu.

“Kenapa kau membelinya dua buket? Bukankah kita hanya akan mengunjungi Kyungsoo hyung?”

“Karena ada seseorang lagi yang sudah lama ingin kujenguk.”

JJJ

Kini mereka berada di sebuah tempat penuh dengan gundukan-gundukan tanah yang sudah dilapisi rerumputan hijau dengan pusara diatasnya dan pohon-pohon rindang yang bertebaran. Ya, mereka telah sampai ke tempat pemakaman. Dan mereka telah berdiri di salah satu pusara. Di pusara itu terdapat ukiran yang bertulis ‘Oh Hye Mi’ dan ‘Seoul, 7 Februari 2010’. Dan sebuah pigura yang berisi foto seorang yeoja manis tengah tersenyum tulus dengan rambut hitam legam tergerai panjang berponi, yeoja itu memakai seragam yang sama dengan Hayoung dan J-hope kenakan saat ini.

oh hyemi

Dia adalah anak pertama keluarga Oh, eonninya Oh Hayoung. Dia meninggal karena tertabrak sebuah mobil di perjalanan pulangnya ke rumah. Dan karena itulah, Sehun dan Hayoung menjadi orang asing secara perlahan. Walaupun mereka bersaudara namun mereka seperti di pisahkan oleh dua pulau sehingga tidak saling mengenal dan tidak saling sapa.

Hayoung meletakkan salah satu dari dua buket bunga lily yang ia dan J-hope beli tadi, di atas pusara tersebut. Hayoung mundur beberapa langkah begitu juga dengan J-hope, mereka melakukan sujud hormat di depan pusara Hyemi berkali-kali. Setelah selesai, Hayoung dan J-hope kembali berdiri. Hayoung menangkup kedua tangannya, dia mengangkatnya sampai ke hadapan wajahnya (untuk berdo’a) dan dia pun menutup matanya, diikuti oleh J-hope.

“Oenni, apa kabarmu disana? Apakah menyenangkan? Seperti kita dulu?”

“Bisakah aku pergi kesana juga? untuk menyusulmu?”

Anio, itu tidak akan terjadi, karena aku dan dia akan selalu menjagamu. Bantah J-hope dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tentu saja dia tidak menerima hal itu karena sejujurnya dia masih sangat menyayangi Hayoung atau mungkin lebih dari itu.

“Oenni, tahukah kau? Disini aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu lagi. Bermain bersamamu seperti dulu.”

Hayoung hanya bisa tersenyum miris dengan apa yang ia ratapi sekarang. Hayoung mulai menitikkan air matanya, air mata kerinduan. Dia benar-benar merindukan Hyemi. J-hope pun berinisiatif untuk merangkul Hayoung dari samping dan menggosok-gosok lengan Hayoung, untuk menenangkan Hayoung yang mulai lemah. Bukan berhenti, tangisan Hayoung kunjung semakin deras.

“Aku… benar-benar… hiks… merindukanmu… hiks… oenni…”

JJJ

Sehun pov

Sebuket bunga mawar putih di tanganku. Apakah aku akan menembak seseorang? Tidak, aku akan mengunjungi seseorang yang sangat aku rindukan saat ini. Saat ini aku sedang berjalan kearah sebuah pemakaman, masih dengan seragam sekolah.

“Hiks… hiks… hiks…”

Mwoya? Siapa yang menangis? Mana ada hantu di siang bolong begini. Bikin merinding aja. Aku kembali melanjutkan perjalananku ke makam seseorang. Eh? Tapi tunggu dulu, siapa mereka? Ada dua orang sedang berdiri di depan makam yang ingin kukunjungi.

Aku pun mencari tempat penyamaran yang bagus, di dekat mereka agar aku bisa menguping. Dapat! Siapapun kau itu, Aku pinjam sebentar makammu ya. Walaupun letaknya tidak terlalu dekat, setidaknya aku bisa mendengar samar-samar pembicaraan mereka.

“Aku benar-benar merindukanmu oenni.”

Tunggu dulu, kok rasanya kenal ya. Hayoung? Benarkah? Ah, ternyata kami satu hati. Namun tidak lama kemudian aku merasa bersalah. Seharusnya aku yang menemaninya disana, menjenguk Hyemi noona.

“Kau tahu? Karena keegoisanku, aku dan dongsaengku menjadi orang asing. Aku bodoh sekali bukan?” lirihku pelan agar Hayoung tidak dapat mendengarnya, karena pemakaman ini sedang sepi. Aku bercurhat dengan makam seseorang yang tidak kukenal. Aku sudah gila, aku biasanya hanya curhat dengan orang terdekat seperti Hyemi noona, Luhan hyung, dan lain-lain. Aku rasa mereka sudah selesai. Tapi kenapa aku merasa mereka berjalan menuju tempatku? Andwae! Itu hanya sugestiku saja. Andwae! Untuk jaga-jaga, aku harus pergi dari sini. Ya, aku harus pergi dari sini sebelum ketahuan.

“Sampai jumpa Do Kyung Soo-ssi. Terimakasih telah meminjamkan tempatnya.” Setidaknya aku memberikan setangkai bunga mawar putih yang kubeli tadi di atas makamnya, lalu aku pun pergi dari makam itu sambil berpura-pura santai, seakan-akan aku sudah lega mengunjungi makam itu. Ani, aku akan mengunjungi makam yang lain. Akhirnya aku berhasil kabur dari situ secara perlahan. Biarlah mereka memandang aneh ke arahku. Aku kembali ke tujuan awalku yaitu makam Hyemi noona.

Tapi aku merasa ada sesuatu yang menjanggal di benakku, aku merasa familiar dengan nama itu. Ah, sudahlah. Apa yang sedang kupikirkan?

Aku menghela nafas lega, akhirnya aku sampai juga disini di makam Hyemi noona. Seseorang yang selalu tersenyum dan tertawa bersama kami, dulu. Aku dapat melihat sebuket bunga Lily putih, tadi itu sudah pasti Hayoung. Aku pun meletakkan sebuket bunga mawar putih di atas makam Hyemi noona, lebih tepatnya di samping bunga yang diberikan Hayoung.

“Noona, aku merindukanmu.”

“Mianhee, aku melepaskannya. Aku tidak menjaganya dengan baik sesuai dengan pesanmu.”

“Mianhee.”

“Apa yang harus kulakukan?”

Sehun pov end

JJJ

Flashback

Seoul 2010

Do you remember the day that we walk together on the white sand together – together. Even when the waves come. We are not separate (Remember – Apink)

Di hamparan pasir putih, ombak-ombak yang berdesir, angin berhembus sepoi-sepoi di cahayai oleh sinar matahari yang cerah, tiga orang anak sedang berlarian di sana dengan senyuman kebahagiaan. Yang paling besar dari mereka bertiga adalah seorang yeoja, dibawahnya adalah seorang namja, dan yang paling kecil adalah seorang yeoja memakai topi bundar.

Tiba-tiba karena angin yang agak kencang, topi yang digunakan oleh si bungsu terbang ke udara.

“Oenni! Oppa! Topiku…” rengek si bungsu sambil menatap sedih topinya yang terbang di udara.

Si namja yang melihat itu pun berlari mengejar topi si bungsu dan melompat-lompat berusaha menggapai topi tersebut, begitu juga si sulung. Namun sayang, mereka masih kecil dan pendek sehingga mereka tidak dapat meraih topi tersebut karena topinya sudah terbang terlalu tinggi.

“Topinya terlalu tinggi…” keluh si namja menatap kesal topi yang diterbangkan oleh angin itu.

“Sudahlah, kita bisa meminta kepada appa yang baru.” Nasihat si sulung sambil menepuk-nepuk pundak si bungsu, memberi semangat agar tidak bersedih lagi. Namun sayang, si bungsu masih saja sedih, dia menekuk wajahnya.

“Yak! Mumpung kita disini, ayo kita main air. Bukankah ini sangat menyenangkan?” usul si namja, membuat si bungsu mendongakkan kepalanya.

“Kita jarang-jarang bisa ke sini.” Sambung si sulung.

“Geurae! Ayo kita main, oenni, oppa!” ajak si bungsu ceria. Si sulung dan si namja pun lega karena akhirnya si bungsu kembali ceria. Mereka pun akhirnya kembali berlari ke tepi pantai.

Mereka berhenti dan menghadap ke pantai yang sedang menunjukkan pemandangan yang indah. Mereka berdiri berjejeran dan merentangkan tangan mereka, menikmati semilir angin sejuk yang menerpa tubuh mereka, menenangkan pikiran. Membiarkan angin membelai rambut mereka.

Ketika ombak datang mereka segera berlari bersama menjauhi ombak tersebut dan saling berpelukan terutama untuk si bungsu. Mereka saling mencipratkan air pantai satu sama lain, sambil berteriak kecil dan tertawa bahagia bersama. Sementara orang tua mereka sedang menyiapkan peralatan untuk makan.

Menurut mereka ini adalah kesempatan langka yang bisa mereka dapatkan karena ayah mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi mereka memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

“Hyemi-ah, palliwa! Makanannya sudah siap!” seru eomma mereka. Membuat mereka mengalihkan permainan mereka di tepi pantai.

“Yak! Siapa yang duluan sampai dia pemenangnya.” Usul si namja.

“Kajja. Hana… dul… set.”

Mereka pun berlari bersama kea rah orang tua mereka dengan tawa bahagia, yang disambut pelukan oleh orang tua mereka setelah mereka sampai di sana.

“Yeay, aku menang!” seru si namja yang berada di pelukan appanya sambil meninjukan telapak tangannya ke udara

“Oppa curang, kakimu lebih panjang dariku.” Rengek si bungsu yang juga berada di pelukan appanya.

“Sudahlah, ayo kita makan. Appa sudah lapar.”

“Pantas saja tadi rasanya ada sebuah bunyi.”

“Appa, makanlah ini. Aaaa…” ucap si bungsu yang telah melepaskan diri dari appanya sambil memasukkan sepotong gimbap ke dalam mulut appanya yang telah dibuka sendiri oleh appanya.

“Untukku mana?” Tanya si namja.

“Ambil saja sendiri. Week…” ejek si bungsu sambil memakan gimbapnya. Sementara appa mereka hanya terkekeh melihat pertengkaran kecil kedua anaknya.

“Geumanhee. Sehun-ah, ini untukmu.” Lerai si sulung-Hyemi sambil meletakkan dua potong gimbap di piring dan memberikannya kepada si namja-Sehun.

“Noona, aku ingin di suapi.” Rengek Sehun sambil menunjukkan aegyonya.

“Haishh, kau ini manja sekali.” Cibir Hyemi sambil memajukan duduknya untuk menyuapi Sehun. Sehun sudah bersiap untuk menerima suapan noonanya, namun si bungsu lebih dulu memakannya tanpa merasa bersalah.

“Yak! Oh Hayoung, kenapa gimbapku kau makan?” Tanya Sehun kesal.

“Ah, mian oppa. Kau lambat sekali. Keurigu, aegyomu sangat buruk tahu.” Ejek si bungsu-Hayoung.

“Awas saja kau.” Gumam Sehun sambil beranjak menuju Hayoung namun Hayoung lebih dulu melarikan diri. “Yak! Youngiie, kemari kau! Kau harus mendapat hukuman!” seru Sehun sambil mengejar Hayoung.

“Tangkap aku kalau kau bisa.” Tantang Hayoung. Sementara Hyemi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ikutlah dengan adik-adikmu.” Kata eomma.

“Arasseo eomma.” Jawab Hyemi sambil tersenyum cerah. Dia pun ikut berlari mengejar Hayoung dan Sehun. “Yak! Kalian! Tunggu aku!”

Mereka pun kembali kejar-kejaran di pantai tersebut dengan tawa kebahagiaan, menunjukkan pada dunia bahwa mereka benar-benar bahagia saat ini, tidak ingin diganggu gugat dan berharap akan seperti ini terus selamanya. Semoga…

.

.

Sehun duduk di tepi pantai sendirian, dia duduk dengan memeluk lututnya sambil menikmati pemandangan sunset yang indah di pantai ini. Mereka masih berada di pantai ini, hanya saja Hayoung dan kedua orang tuanya pergi ke toko Souvenir. Seseorang berjalan ke arahnya dan duduk tepat di samping kanannya. “Yeoppoji?” Tanya orang itu.

“Eung.” Jawab Sehun sambil terus memandang pemandangan sunset yang indah ini.

“Kau tidak terkejut?”

“Wae?”

“Haishh, sudahlah. Lupakan saja. Padahal tadi aku ingin mengagetkanmu.”

“Benarkah? Hyemi noona memang payah dalam hal itu.” Ujar Sehun sambil menahan tawanya.

“Itu benar. Kenapa aku tidak pandai mengagetkan orang ya?” Tanya Hyemi kepada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelngkan kepalanya tidak jelas dan hal itu malah membuat tawa Sehun meledak ketika melihat wajah lucu noona-nya itu. “Yak! Kenapa kau tertawa?”

“Noona, sangat lucu bila seperti itu.” Lalu mereka pun tertawa bersama. Setelahnya mereka hening sebentar, membiarkan angin memainkan anak rambut mereka.

“Sehun-ah…” panggil Hyemi memulai pembicaraan mereka sekali lagi. Hal itu pun membuat Sehun mengalihkan pandangannya ke Hyemi dengan tatapan agak heran, kenapa noona-nya tiba-tiba menjadi sendu begini.

“Hmm?”

“Jika aku pergi, kau tidak boleh melepaskan Hayoung. Kau tahu, Hayounglah yang paling lemah diantara kita semua.” Ujar Hyemi sambil terus menatap matahari senja yang mulai tenggelam dan langit yang semakin orange. “Kau harus menjaga Hayoung selamanya. Dia tidak boleh kesepian. Arachi?” sambung Hyemi sambil mengalihkan pandangannya ke arah Sehun dan menatapnya dengan tatapan memastikan.

“Tentu saja, noona. Noona tidak perlu khawatir karena aku akan menjaganya selamanya.” Jawab Sehun percaya diri walaupun dia tidak mengerti dan tidak tahu apa makna yang sebenarnya dari ucapan noona-nya. Sayangnya, dia masih tidak tahu apa-apa saat itu.

Hyemi pun memberikan kelingking kanannya ke Sehun. “Janji?”

“Janji.” Jawab Sehun sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking noona-nya.

Flashback end

JJJ

Seoul 2015

Hayoung pov

Bersama Hyemi oenni, benar-benar kenangan yang indah dan aku sangat merindukan hal itu. J-hope oppa terus menenangkanku, dia selalu tahu kalau udah bagian ini aku selalu sensitive. Dia tahu semua tentang diriku. Dia ada untukku. Makanya aku berharap dia dan Sehun bisa bertukar nasib, aku akan bahagia. J-hope oppa itu orangnya humoris, ceria, walau kadang-kadang dia agak lebay. Aku menyukainya sebagai seorang kakak. Entahlah, aku tidak pernah berfikir yang lebih dari itu. Tangisanku sudah mulai mereda. J-hope oppa pun melepas pelukan nyamannya. Jujur, aku merasa agak kecewa tapi baginya mungkin aku hanyalah seorang adik yang harus dia lindungi. Jadi, ya sudahlah.

“Sudah baikan?” tanyanya lembut sambil menghapus sisa air mataku dengan jari-jemarinya.

“Eung! Gomawo oppa.”

“Geurae. Ayo kita ke tempat Kyungsoo hyung.” Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakannya. Kami pun beranjak dari makam oenni. Annyeong Hyemi oenni.

Sebenarnya tujuan awal kami ke sini adalah ke makam Kyung Soo oppa. Tapi karena tempat pemakaman mereka kebetulan berada di daerah yang sama, jadi sekalian saja. Aku juga lagi kangen sama oenni.

“Oppa, nuguya?” Tanyaku saat kami hampir sampai di makam Kyung soo oppa.

Ada seorang namja, namun aku hanya dapat melihat punggungnya karena dia membelakangi kami sehingga aku tidak tahu siapa namja itu, namun punggung itu… aku merasa familiar, entah kenapa aku merasa dia seseorang yang sangat kukenal. Namja itu memakai seragam yang sama dengan kami.

“Nado molla, mungkin sepupu jauh Kyung soo hyung.” Terka J-hope oppa sambil mengendikkan bahunya tanda dirinya benar-benar tidak tahu.

Pabo Hayoung, kenapa kau menanyakan hal tersebut kepada J-hope oppa? Jelas-jelas aku yang bersama Kyungsoo oppa disaat dia masih hidup. Sementara J-hope oppa? Dia hanya melihat makamnya sama seperti sekarang. Namja itu meninggalkan setangkai bunga di makam Kyungsoo oppa. Setangkai? Bunga mawar putih? Aku benar-benar tidak mengerti namja misterius itu. Dan aku tidak ingin mengerti karena itu akan membuatku pusing saja. Masa bodoh dengan itu.

Aku meletakkan seikat bunga lily putih di atas makamnya. Aku mengamati foto Kyungsoo oppa yang diletakkan di makam itu. Seorang namja dengan alis tebal dan mata yang bulat, bentuk mata yang berbeda dari namja korea kebanyakan. Dia memiliki senyuman yang unik karena bibirnya yang membentuk hati. Memakai hoodie merah dan rambut coklat yang ditata sedemikian rupa. Satu kata untuknya ‘imut’. Aku merindukan namja imut ini. Sangat merindukannya. Aku sangat berharap dia masih ada saat ini.

do kyungsoo

Kyungsoo oppa-lah, orang yang membantuku bangkit kesepianku. Bangkit dari kesedihanku atas kepergian Hyemi oenni. Menggantikan posisi Oh Sehun di hatiku sebagai oppa terbaik yang pernah kumiliki. Dialah yang mengembalikan senyumanku untuk sementara. Lalu datanglah J-hope oppa, yang menggantikan Kyungsooo oppa. Tuhan terlalu banyak mengirimiku malaikat. Aku seharusnya sangat bersyukur.

Butuh banyak perjuangan baginya untuk membangkitkan senyumanku kembali. Aku sangat sangat berterima kasih kepadanya. Aku sangat menyayanginya atau mungkin lebih dari itu, lebih dari seorang adik kakak. Namun sayangnya dia harus meninggalkanku lebih dulu. Waeyo? Kenapa orang yang kusayangi harus meninggalkanku? Apakah aku orang yang jahat? Apa kesalahanku? Apakah tuhan membenciku? Apakah tuhan tidak menyayangiku sama sekali? Kenapa tuhan tidak adil?

JJJ

Flashback

Seoul 2010

When bitterness wash over me, when I suddenly felt like I was alone. At a moment when everything feels strange and suddenly I do not believe (Together – Park Jiyeon T-ara ft Im Jaebum Got7)

Di bawah pohon yang rindang, seorang yeoja tengah duduk ditemani buku yang tengah ia baca dan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan sebagian anak rambutnya sambil berteduh dari sinar matahari yang cukup terik. Damai. Ya, tidak ada yang mengganggu, hanya dirinya seorang diri. Itulah hal yang disukainya saat ini. Namun hal itu tidak bertahan lama karena seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Awalnya, yeoja itu tidak menyadari keberadaan orang itu karena terlalu asik membaca bukunya, namun lama kelamaan dia menggeser duduknya dan menoleh ke orang itu karena dia merasa orang itu telah mengganggu ketenangannya.

Ada apa dengan namja ini? Bukankah namja ini adalah namja yang waktu itu? Tanya yeoja itu dalam hatinya sambil menatap aneh namja yang mengganggu ketenangannya.

“Annyeong, kita bertemu lagi.” Sapa namja itu sambil memamerkan senyumannya yang berbentuk hati. Merasa sapaannya tidak digubris sama sekali, namja itu melanjutkan. “Naneun Do Kyungsoo imnida, bangapta.” Si namja–Kyungsoo pun mengulurkan tangan kanannya ke yeoja itu, namun sayangnya yeoja tersebut malah membereskan barang bawaannya dan bersiap pergi dari tempat itu.

“Aku tahu namamu Oh Hayoung kan?” Tanya Kyungsoo berusaha membuat yeoja itu–Hayoung untuk tetap berada di sana dan mengobrol dengannya.

Hayoung sudah berdiri dari duduknya sambil menenteng tas ranselnya, Kyungsoo yang melihat itupun ikut berdiri dari duduknya. “Sudah kubilang, jangan temui aku lagi, waktu itu bukan?” Tanya Hayoung memastikan tanpa menatap Kyungsoo.

“Kenapa kau tidak ingin aku menemuimu?”

“Karena… aku…”

“Wae? Kau takut? Kau takut aku akan membully-mu seperti Yoonji dan yang lain?” Tanya Kyunsoo berturut-turut membuat Hayoung memandang ke arahnya dengan kening berkerut. Lalu Kyungsoo mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan. “Aku tahu diam-diam kau selalu dibuly oleh mereka tanpa diketahui guru. Dan kau bahkan tidak pernah mengadu sekalipun itu kepada orang tuamu atau oppamu Oh Sehun.”

Mendengar penuturan Kyungsoo, sontak Hayoung pun membelalakkan matanya kaget. Omona, bagaimana bisa namja pendek ini mengetahuinya. Apa ia seorang stalker? Tanya Hayoung dalam batinnya. Tapi mendengar nama ‘Oh Sehun’, membuat Hayoung kembali ke wajah datarnya karena saat ini ia sedang tidak menyukai nama itu.

“Jangan khawatir. Aku bukanlah nappeun saram. Aku tidak akan membully-mu. Aku hanya ingin menjadi temanmu.”

“Gotjimal! Aku tahu kau sama seperti mereka.” Bentak Hayoung dengan nada yang semakin meninggi. Lalu dia bertepuk tangan. “Aktingmu bagus, sangat bagus. Aku pergi dulu.” Sambungnya sambil menghentikan tepukan tangannya dan berlalu dari hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo hanya menghela nafas berat melihat punggung Hayoung yang menjauh darinya. Dia mengacak-acak rambutnya perlahan dengan kesal. Apa yang salah lagi dengannya? Kenapa susah sekali untuk mendapatkan kepercayaan Hayoung? Tapi tunggu dulu, dia dapat melihat sekelompok yeoja yang waktu itu membully Hayoung–Yoonji dan teman-temannya sedang berjalan menuju Hayoung dan Hayoung tidak menyadari hal tersebut karena Hayoung berjalan dengan pandangan ke bawah.

Tanpa bu-bi-bu lagi dia pun mengejar Hayoung yang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dia menarik lengan Hayoung sehingga tubuh Hayoung berbalik menghadap ke arahnya, lalu dia pun memeluk Hayoung. Sementara yang di peluk membelalakkan matanya kaget, begitu juga dengan Yoonji dan teman-temannya, mereka yang semulanya ingin kembali membully Hayoung, tidak jadi karena ada yang menemani Hayoung, apalagi memeluk Hayoung. Mereka hanya akan membully Hayoung apabila Hayoung sendirian atau diluar sekolah.

“Apa yang sedang kau lakukan hah?! Apa kau sudah gila?!” bisik Hayoung tidak terlalu kuat karena dia takut Yoonji akan mendengarnya. Sementara di dalam dirinya dia dapat merasakan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya seperti sehabis lari marathon.Hayoung berusaha memberontak namun bagaimana pun juga Kyungsoo adalah namja, dia lebih kuat dari yeoja sehingga dia dapat menahan Hayoung yang berusaha memberontak.

“Tunggu sebentar. Ada Yoonji dan teman-temannya. Aku takut kau akan dibully lagi olehnya.” Ujar Kyungsoo.

Kau malah membuatku akan semakin dibully olehnya. Gumam Hayoung sedih di dalam hatinya.

Di sisi lain, Yoonji dan teman-temannya kesal karena tidak dapat membully Hayoung hari ini. “Yoonji-ah, kita pergi saja. Sepertinya ini tidak akan seru.” Ujar salah seorang teman Yoonji.

“Itu benar. Sejak kapan dia mempunyai namjachingu?”

“Dia benar-benar yeoja murahan.”

“Ayo kita pergi!”

“Chakkaman!” seru Yoonji menghentikan teman-temannya yang akan beranjak dari tempat itu, membuat teman-temannya mengerutkan kening keheranan dan tidak jadi pergi. Yoonji mengambil ponselnya yang berada di saku roknya dan mengarahkannya ke Kyungsoo dan Hayoung yang masih berpelukan, lalu dia pun memotret kejadian itu. Setelah itu dia tersenyum sinis dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku roknya.

“Ini akan menjadi berita besar besok.” Ujar Yoonji sambil menyeringai sinis, membuat teman-temannya semakin keheranan. Apa yang sedang direncanakan Yoonji? Pertanyaan itulah yang kira-kira ada di dalam pikiran mereka. “Kajja chingudeul, kita pulang! Tinggalkan saja dua orang yang tengah kasmaran ini.” Ajak Yoonji yang dibalas anggukan oleh teman-temannya, lalu akhirnya beranjak pergi dari tempat itu.

Sementara Hayoung dan Kyungsoo akhirnya dapat bernafas lega setelah mengetahui Yoonji dan teman-temannya pergi dari situ. Memang sedari tadi Hayoung menahan nafasnya karena jarak antara dirinya dengan Kyungsoo sangatlah dekat, membuatnya dapat merasakan hangatnya nafas Kyungsoo dan jantungnya yang semakin berulah. Kyungsoo senang karena dia bisa melindungi Hayoung tadi, dan dia sangat berharap bisa seperti itu terus ke depannya.

Mereka pun melepas peukan mereka, namun ada kecanggungan dalam atmosfirnya. Kyungsoo berpikir, bagaimana lagi caranya agar ia bisa terus berada di samping Hayoung. Sementara Hayoung sedang berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa menetralkan jantungnya yang terus berulah sedari tadi. Namun pada akhirnya, “Kyungsoo-ssi, sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu. Tapi bisakah setelah ini kita tidak bertemu lagi?” Tanya Hayoung penuh harap.

“Wae?” bukannya menjawab, Kyungsoo malah balik bertanya dengan nada kecewa. Dia baru saja akan mendekati Hayoung.

“Karena…”

“Tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku akan terus mengikutimu sampai kau menjadi temanku.” Jawab Kyungsoo tegas, membuat Hayoung agak terkejut. Dia tidak ingin mempercayai siapapun saat ini dan mungkin seterusnya, namun bagaimana ini?

“W-waeyo?”

“Sudah kubilang bukan, aku ingin menjadi temanmu.”

“Kenapa kau ingin menjadi temanku?”

“Karena kita sama, aku juga seseorang yang kesepian yang membutuhkan seornag teman.” Jelas Kyungsoo. Lalu dia pun lanjut bertanya, “Maukah kau menjadi temanku?”

“…” hayoung bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia akan terus melanjutkan kegengsiannya?

“Aku harus pulang. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini.” Hayoung tetap pada kegengsiannya. Bukannya menjawab, Hayoung malah pamit ingin pulang kerumah. Hayoung pun sedikit membungkukkan tubuhnya dan benar-benar berlalu dari tempat itu, meninggalkan Kyungsoo yang keheranan menatap Hayoung. Lagi-lagi gagal rencananya untuk mendekati Hayoung, padahal tadi ia hampir berhasil. Apa lagi yang harus ia lakukan? Entah kenapa dia sangat ingin menjadi temannya Hayoung, padahal masih banyak orang lain.

TBC

.

.

Bagaimana ceritanya? Apa masih ada yang kurang? Kalau masih ada saya mohon maaf sebesar-besarnya. Salah satu faktornya adalah saya tidak terlalu bagus dalam sastra. Ff ini hanya sebagai kepuasan batin saja.

Sekali lagi saya ingin berterimakasih bagi yang membaca ff-ku ini. Harap ditunggu kelanjutannya. Saya akan berjuang dan bekerja keras.

KAMSAHAMNIDA READERS!!!

 

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SOME BODY (Chapter 2)”

  1. Woaa suka suka.. hayoung jadi tertutup ya abis hyemi meninggal terus sehun cuekin hayoung.. kasihan juga sama hayoung.. ceritanya tetap keren kok thor.. kekeke ^^

    1. aku benar-benar berterima kasih karena telah menyukai ff ini…
      aku akan lebih berusaha untuk membuatnya lebih seru.
      jadi dimohon dukungannya.

      kamsahamnida!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s