[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 5)

cover.jpg

The One Person Is You

 

Tittle                           : The One Person Is You (Chapter 5)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kang Rae Mi (OC)

 

Other Cast                :

  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yura (Chanyeol sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

Rae Mi yang keluar dari restoran bibi Moon untuk membuang sampah dikejutkan oleh sebuah mobil sport mewah yang berhenti tepat di halaman restoran. Setelah memastikan tempat sampah tertutup sempurna, dia berjalan mendekati mobil itu. Lima meter lagi jarak antara Rae Mi dan mobil itu, namun lamborgini tersebut segera melesat ketika dia hampir berhasil mengetahui siapa yang duduk di kursi kemudi.

 

“Siapa tadi?” Tahu-tahu Jong Up sudah berdiri tepat di belakangnya sambil memakan makanan ringan.

 

“Aku tidak tahu.” Jawab Rae Mi singkat. Dia sendiri bingung dan penasaran dengan pemilik mobil tadi. Tapi hati kecilnya bilang kalau pengemudi tersebut adalah Chanyeol. “Ah! Mana mungkin.” Gumam Rae Mi menyalahkan pemikirannya. Gadis itu yakin betul kalau mobil Chanyeol adalah porsche berwarna hitam, bukan lamborgini merah yang mewah sekali itu.

 

Rae Mi memutuskan tak peduli, dia kembali kedalam resto bersama Jong Up dan membantu bibi Moon memasak bulgogi saat Jong Up asyik malas-malasan atau mengganggu pengunjung lain dengan tawa kerasnya ketika menonton televisi.

 

“Ck! Bocah gila tak tahu diuntung.” Gerutu bibi Moon kesal dengan sikap anaknya, “Kalau terus begini para pelangganku akan mengeluh dan pergi!. Akan aku habisi dia setelah resto tutup!”

 

Rae Mi merinding melihat wajah penuh amarah bibi Moon. Wanita itu nampak sangat kesal, Rae Mi menenangkan sang bibi dengan menyodorkan air dingin dan diterima bibi Moon dengan senang hati.

 

“Aku senang kau ada disini. Meski kadang terlalu dungu dan merepotkan, setidaknya kau tahu cara memenangkan hati orang lain.” Ledek sekaligus puji bibi Moon. Setelah menegak habis air pemberian Rae Mi, dia bergegas mengantar pesanan untuk meja nomor lima.

 

Rae Mi mencuci gelas bekas minum bibi Moon. Terdengar seruan dari Jong Up, meminta Rae Mi menyiapkan seporsi bulgogi dan nasi hangat untuk meja nomor tujuh. Rae Mi menurut, setelah siap dia mengantar sendiri makanan itu karena bibi Moon sedang sibuk memarahi Jong Up.

 

“Ini, silahkan dimakan.” Ujar gadis itu ragu, dia belum pernah mengantar makanan ke meja pelanggan. “Maaf jika saya salah bicara.”

 

Pria tampan yang memesan bulgogi itu tersenyum dengan tingkah polos Rae Mi. “Tak apa.” Katanya santai, “Kau sendiri yang memasaknya?”

 

Rae Mi mengangguk, “Ya, semoga sesuai dengan selera anda.”

 

“Tidak usah seformal itu.” Pria itu kemudian menyumpitkan potongan daging bulgogi ke mulutnya, “Enak. Masakanmu sangat enak.” Pujinya membuat Rae Mi tersipu.

 

“Hahaha, pipimu memerah. Kau mudah malu rupanya.”

 

Rae Mi segera menutupi wajah dengan kedua tangan, yang mana malah membuat pria itu semakin terbahak.

 

“Tak usah malu begitu. Aku Yonghwa, Jung Yonghwa.” Pria itu memperkenalkan diri.

 

“Aku Kang Rae Mi. Ah permisi, aku harus kembali ke dapur.” Rae Mi bergegas pergi memenuhi panggilan bibi Moon yang makin menggila karena Jong Up kabur keluar resto, lari dari tugasnya.

 

***

 

“Ah Hyojin majulah sedikit!”

 

“Ini sudah sempit, Sehun!”

 

“Aku tak bisa bergerak kalau begini.”

 

“Jangan banyak mengeluh!, jadilah lelaki jantan!”

 

Orang-orang yang lalu lalang menatap dua pasangan Sehun dan Hyojin yang sedang bersembunyi dibalik semak itu aneh. Bahkan pasangan kekasih yang sedang duduk tak jauh dari mereka segera pergi karena perkataan mereka yang begitu ambigu. Hyojin dan Sehun sendiri tidak sadar sudah menjadi bahan tertawaan setiap pengunjung Lotte World yang melewati mereka.

 

Ini semua usulan Hyojin hingga kedua sahabat itu bisa berada di arena permainan sekarang. Hyojin memberitahu Sehun tentang Jong In yang sedang berkencan lalu memaksa pergi bersamanya ke Lotte World untuk memata-matai Jong In. Dan disinilah mereka sekarang, dibalik semak sedang mengintip Jong In sedang menyuapkan es krim pada gadis manis yang duduk disebelahnya.

 

Hyojin yang lelah berbalik, duduk lebih santai dengan posisi masih dibelakang semak. Namun kini dia membelakangi Jong In dan pasangannya. “Wanita itu terlihat lebih tua dari Jong In.”

 

“Kupikir juga begitu.” Kata Sehun yang menikuti posisi duduk Hyojin. Tapi tak lama dia berdiri untuk membeli es krim dan permen kapas untuk mereka berdua.

 

“Terima kasih.”

 

Hyojin menerima es krim dengan senang hati, sementara permen kapas dipegang sendiri oleh Sehun. Sesekali gadis itu mengambil sedikit permen kapas yang Sehun pegang.

 

“Apa kau merestui hubungan Jong In dan nona Kim itu?” Tanya Sehun disela kegiatannya memakan es krim vanilla.

 

“Entah. Tunggu sampai kita mengenal wanita itu dulu baru aku bisa memutuskan.”

 

“Oh, ok.” Ujar Sehun. Hening sesaat sampai Sehun bertanya lirih, “Apa yang Lee Dae Ryeong lakukan padamu?”

 

“Hah?!”

 

Hyojin sedikit terkejut ketika Sehun tahu kalau dia kembali bermasalah dengan kakek tua itu. Ya, diantara kedua sahabatnya, hanya Sehun yang tahu mengenai kehidupannya sebagai cucu orang kaya. Sementara Jong In hanya tahu kehidupannya sebagai anak yatim piatu yang sedang mencari keberadaan orangtuanya. Tapi untuk urusan perjodohan itu, baik Sehun atau Jong In belum tahu sama sekali.

 

“Kemarin aku lihat kau keluar dari mobil perusahaan jaeguk.”

 

Hyojin mengangguk pelan, “Semoga Jong In tak melihat kejadian itu juga.”

 

Sehun menepuk bahu gadis itu amat keras, “Tenang saja!. Hanya aku yang tahu.” Ujarnya sambil menyeringai puas ketika Hyojin mengerang kesakitan. “Tapi cepat atau lambat kau juga harus mengatakannya pada Jong In. Dia sudah lebih banyak membantumu daripada aku yang tak berani protes kepada ibu.” Setelah berkata demikian Sehun menunduk. Ada rasa sesal yang kembali muncul saat dia teringat bagaimana ibunya bersikap buruk pada Hyojin.

 

Hyojin yang sadar pada perubahan Sehun ikut menunduk, tapi dia memaksakan sebuah senyum untuk mengatakan pada sahabatnya kalau semua baik-baik saja.

 

“Jangan memasang wajah seperti itu!. Kau terlihat semakin jelek.”

 

Sehun terkekeh, “Hanya kau yang bilang kalau aku ini jelek.”

 

“Cih!, bahkan jika ada kecoa lewat dia akan muntah setelah melihat wajahmu!”

 

Sehun memukul kepala Hyojin, tidak terima dengan ledekan gadis itu. Hyojin yang geram ikut membalas pukulan Sehun lebih keras lagi. Keduanya berakhir dengan saling pukul dan dimenangkan oleh Hyojin yang melancarkan aksi tendangan pada Sehun. Pria itu tengah berguling kesakitan diatas tanah, kemudian tertawa geli karena Hyojin menggelitiki perutnya.

 

Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan sempat terkejut saat mereka saling baku hantam. Namun ikut tersenyum bahkan tertawa ketika mengetahui kalau itu tadi hanya sebuah candaan.

 

“Loh! Hyojin-ssi?”

 

Hyojin berhenti lantas mendongak begitu namanya dipanggil. Sehun yang berada dibawah tindihan gadis itu ikut mendongak, sejenak terpesona dengan wanita cantik yang berdiri tepat di depan mereka. Sehun mendorong pelan tubuh Hyojin yang masih melongo diatasnya, mengingatkan posisi mereka yang tak elok untuk dipandang orang awam. Hyojin menurut, dia sudah berdiri tegak bersama Sehun disampingnya, namun ia masih melongo seperti keledai dungu.

 

“Hyo-Hyojin-ssi, kau bersama… siapa?”

 

Hyojin menegak ludah gusar, apa yang harus dia katakan pada Yura?. Dan bagaimana dengan cara kebetulan yang aneh mereka bisa bertemu disini?.

 

*Hyojin POV*

 

Mati aku! Mati aku! Mati aku! MATILAH AKU!!!.

 

Bagaimana Yura bisa disini?. Kenapa?, apa dia salah paham setelah melihatku dan Sehun tadi?. Sungguh! Apa seseorang tidak bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi?!.

 

“Yura-ah!, ada apa?”

 

Sesosok gadis manis yang merupakan nona Kim muncul dibelakang Yura bersama dengan Jong In yang menatap terkejut padaku dan Sehun. Kemudian tatapan matanya berubah tajam dan sarat akan emosi, seolah meminta penjelasan mengenai keberadaan kami. Oh Tuhan!, tak seorangpun dari kami mau melihat amarah dari Kim Jong In.

 

“Lee-Hyo-Jin.”

 

Suara berat khas laki-laki terdengar lirih mendekatiku. Mataku yang minus melihat lebih jeli lagi kearah belakang nona Kim, dimana sumber suara berasal. Gila! Ini gila!. Aku menoleh pada Sehun yang juga sedang menatapku dingin, tapi aku bisa melihat sorot kecemasan dibalik mata coklatnya.

 

Bang Yongguk ada disini!.

 

“Apa ada pesta disini?. Kebetulan sekali kita bisa berkumpul tanpa sengaja seperti ini!” Seruku kegirangan. Ini kamuflase agar mereka tidak lebih curiga dari sebelumnya.

 

“Yah…” Yura membuka suara setelah hening beberapa saat, “Kebetulan yang unik.” Katanya sambil menggosok lehernya. Rupanya nona ini masih bingung, entah bingung kenapa.

 

Nona Kim mendekati Yura dan bertanya siapa kami -aku juga Sehun- dan Yura hampir menjawab sampai aku memotong dengan cepat.

 

“Aku Lee Hyojin dan ini Oh Sehun. Kenalan dari Yura eonni.”

 

“Apa?, k-kenalan?”

 

Aku tahu ini jawaban yang tak masuk akal bagi Yura. Setelah ini mungkin dia akan melapor pada Tuan Park dan mungkin saja perkawinanku dengan Chanyeol gagal. Apakah ini artinya aku tak bisa bertemu orangtuaku lagi?, aaarrgghh! Aku bingung!.

 

“Jong In juga mengenal kami.” Imbuh Sehun tenang.

 

Nona Kim kini menatap Jong In, “Ya memang. Kebetulan yang lucu kita bisa bertemu disini.” Jong In menekan kata terakhirnya. Dia sedang menahan emosi, aku dan Sehun tau akan itu.

 

Sementara dari ujung pengelihatanku bisa kulihat Yongguk yang menyeringai tanpa kutahu apa maksudnya. Sepertinya dia sedang menyusun rencana buruk untuk seorang Hyojin, gadis yang sudah dengan berani menantangnya!. Ck! Aku bodoh sekali sih?!, tahu begini aku akan menutup diri dan menjalani masa kuliahku dengan tenang dan damai. Tapi kini rasanya mustahil saat ada Yongguk yang membayang-bayangi masa suramku.

 

***

 

Aku terkejut. Sangat terkejut ketika Yura menarikku menjauh dari yang lain dan memaksaku bicara empat mata dengannya. Kami duduk di sebuah taman kecil yang terletak tak jauh dari wahana bianglala. Pertama, kami sama-sama diam, sampai Yura memegang kedua tanganku dan menatapku serius.

 

“Apa pria tadi kekasihmu?” Tanyanya menuntut, aku menggeleng. “Dia temanku, sahabat dekatku.”

 

Yura menghela nafas lega. Namun kemudian kembali memandangku serius.

 

“Apa kau sedang dekat dengan pria lain?”

 

“Eung… Jong In?”

 

Yura membelalakan matanya. “Dia kan kekasih Hyoyeon?!”

 

“Oh. Wanita tadi.” Kataku, “Jadi mereka sudah pacaran?” Tanyaku balik.

 

“Jadi Jong In sudah menduakan Hyoyeon?!, dan dia berani memacari calon adik iparku?. Tidak bisa dibiarkan!”

 

Loh loh! Dia salah paham. Yura beranjak berdiri tapi aku menahan lengannya.

 

“Aku memang dekat dengan Jong In, tapi sebatas teman!” Seruku menjelaskan, “Kami sudah berteman sejak SMP kok!” Tambahku saat Yura menampakan wajah tidak percaya.

 

“Syukurlah kalau begitu.” Dia mengelus dadanya, “Lalu, apa kau sedang berpacaran dengan seseorang?”

 

“Kurasa tidak.”

 

“Ada berapa mantan pacarmu?”

 

“Nol.”

 

Yura menatapku tak percaya, tapi aku memasang ekspresi yang meyakinkan. Kemudian dia tampak tersenyum lega. Lega kenapa?.

 

“Bisakah kau berjanji padaku?”

 

“Asal tidak aneh-aneh.” Aku mengangguk, tak apalah sedikit menyenangkan hati calon kakak ipar.

 

“Tolong jaga Chanyeol, jangan buat dia patah hati. Aku tahu dia sangat menyukaimu, karena dia sudah setuju dijodohkan dengan kau Hyojin-ah. Chanyeol tipikal pria pemilih, sudah berkali-kali keluarga kami menjodohkannya dan baru sekarang dia menerima calonnya. Itu berarti kau sudah berhasil memikatnya.” Yura menjelaskan panjang lebar.

 

“Kau harus berjanji membuatnya bahagia, walau hanya dijodohkan bisakah kau belajar untuk mencintainya?”

 

“Hah?… eoh, o-ok.”

 

Yura berdiri dan tersenyum puas. “Bagus. Tolong jangan khianati dia, karena…” Dia menatapku tajam.

 

“Aku akan terus mengawasi kalian.”

 

Glek!. Mati gila aku!.

 

*Chanyeol POV*

 

Aku lempar kunci mobil keatas meja makan kemudian beranjak ke kulkas untuk mengambil air dingin. Setelah puas bolak-balik naik kereta gantung di Namsan, Yura noona mengirim pesan padaku untuk segera pulang. Tapi saat aku sudah sampai dirumah nyatanya dia sendiri belum pulang!.

 

Pak Hong, kepala pelayan keluarga kami melewati dapur. Aku segera memanggilnya untuk bertanya dimana Yura noona.

 

“Maaf sekali tuan muda, sejak pagi tadi nona Yura masih belum pulang.”

 

“Oh, yasudah kalau begitu.” Aku hendak kembali ke dapur tapi pak Hong memanggilku.

 

“Tadi, saat tuan muda pergi, ada teman-teman anda yang datang berkunjung. Tapi karena anda sedang tidak berada dirumah, mereka putuskan pulang dan menitipkan surat ini.”

 

Aku menerima surat yang pak Hong maksud, lalu dia pergi. Kubuka surat beramplop putih ini, sepertinya surat formal. Kira-kira siapa yang mengirimnya?, setahuku teman-temanku yang pak Hong kenal hanya anggota band saja. Jika iya, kenapa mereka memberikan surat seperti ini?.

 

“Surat apa itu?”

 

“Oh, kau sudah pulang noona!”

 

Kuperhatikan Yura noona yang pulang dari Lotte World sambil membawa banyak belanjaan. Cih!, biasa kalau pergi kemanapun dia selalu belanja. Apalagi yang dia beli selalu tak ada gunanya, seperti yang baru dia keluarkan dari salah satu tas kertas besar.

 

“Sebenarnya untuk apa kau membeli tisu sebanyak itu?” Tanyaku tak percaya. Dengan mengangkat sepuluh gulungan besar tisu Yura malah balik tanya, “Bagus tidak?. Aku beli karena wadahnya unik.”

 

Aku memandang malas padanya. Hanya karena tempat tisu itu berbentuk panda, bukan berarti dia harus beli sebanyak itu kan?. Tapi Yura tetaplah Yura, keras kepala, aneh dan dia tetap kakakku.

 

“Kau belum jawab pertanyaanku. Surat apa itu?”

 

“Oh ini, surat undangan manggung untuk band ku.”

 

“Cih!, band amatir seperti itu mana bisa?”

 

Tuh kan!, dia malah meledek band yang sudah membuatku dikenal banyak orang. Padahal dia sendiri semasa sekolah atau kuliah tak punya kegiatan klub sama sekali. Hanya berdiam diri dirumah setiap akhir pekan, kalau tidak begitu ke mall bersama Hyoyeon noona. Mem-bo-san-kan.

 

“Buktinya ini!. Kau tentu tahu La café kan?. Café yang setenar itu, yang tidak sembarangan mengundang bintang tamu akhirnya memanggil kami untuk tampil disana!”

 

“Paling-paling cuma sebagai ‘support guest’.”

 

“Yang seperti itu tidak mungkin untuk kami noona!”

 

Yura mengalah untuk perdebatan kami. Hebat sekali!, biasanya nona cerewet satu ini tidak akan mengalah sedikitpun padaku -atau pada semua orang- dalam debat. Karena yang aku tahu Yura noona sangat menyukai debat, dia bilang sendiri kalau ada perasaan bangga saat perkataannya mampu mengalahkan cuapan orang lain.

 

“Aku mau bicara serius Chanyeol.”

 

Aku mencibir, sejak kapan dia mau membiacarakan hal serius denganku. Paling-paling Yura noona hanya bercanda di ujung cerita. Tapi tatapan yang memang tajam itu meyakinkanku kalau noona benar-benar serius kali ini.

 

“Apa… itu?” Tanyaku ragu.

 

Yura noona menghela nafas kemudian bicara sambil memalingkan wajahnya.

 

“Apa kau tahu kalau Hyojin dekat dengan beberapa pria?”

 

Hah? Kenapa malah bahas gadis urakan itu sih?!.

 

“Tidak, memang kenapa?” Tanyaku balik seraya memakan potongan apel yang ada di kulkas.

 

“Chanyeol-ah!, serius sedikit!”

 

“Aku sudah serius, noona!” Aku menelan kunyahan apel dengan susah payah. “Memang ada apa dengan gadis itu?. Apa kau memergokinya pacaran dengan pria lain?”

 

“KAU!” Yura noona berseru sebal sambil mengacungkan gulungan tisu padaku. “Dia itu calon istrimu!. Bagaimana kau bisa setenang ini?!”

 

Noona! Kenapa kau cemas sekali sih?. Semua akan baik-baik saja kok!”

 

“Benarkah?. Bahkan tadi aku melihat Hyojin bermesraan dengan pria lain!. DAN DIA LEBIH TAMPAN DARIMU!”

 

Aku melotot, bukan karena merasa cemburu atau semacamnya. Hanya saja, mana mungkin Hyojin yang serampangan itu bisa dekat apalagi BERMESRAAN dengan pria lain. Mana katanya lebih tampan dariku lagi!.

 

“Tidak mungkin.” Kataku lalu melahap potongan apel. Kemudian terlintas bayangan Hyojin bersama dengan pria yang kutemui di halte bus kala itu. Mungkin dia yang dimaksud noona. Tapi, aku lebih tampan kok!.

 

“Kenapa kau begitu acuh?. Kupikir, kau menerima perjodohan ini karena kau menyukainya.”

 

Aku tertawa keras mendengar penuturan noona. Bagaimana bisa wanita secerdas dia, seorang pengacara handal bisa berfikir demikian?. Padahal dia sendiri tahu kalau aku tak mengenal Hyojin sebelumnya. Seharusnya dia melihat bagaimana kami kalau bertemu. Selalu bertengkar dan tak bisa akur. Membayangkan bagaimana aku bertengkar karena hal sepele bersama Hyojin saja sudah membuatku terbahak. Apalagi jika Yura noona mengetahui kelakuan kami.

 

“Dengar Chanyeol, apapun alasan kau menerima Hyojin, kalian akan saling jatuh cinta pada akhirnya.”

 

Aku memandangnya remeh, “Mana mungkin.” Gumamku pelan seraya meneguk air dingin yang tadi kucampakan. “Bagaimana kau bisa begitu yakin, noona?”

 

“Kau tentu tahu kemampuanku.”

 

Dan setelah itu noona pergi ke kamarnya, membawa seluruh tas belanjaan. Tapi dia berbalik sekedar meletakkan satu dari sepuluh gulungan tisu anehnya diatas meja makan.

 

“Ingat saja apa yang aku bilang. Aku melihat ada dua bintang disisi kanan dan kirimu. Pada klimaksnya nanti, hanya kau yang bisa menentukan bintang mana yang kau pilih.” Noona kembali mengatakan hal yang tidak-tidak, “Aduh kepalaku pusing!”

 

Dan dia benar-benar masuk kedalam kamar pribadinya. Aku tertegun. Noona memang bisa sedikit-sedikit meramal -katanya-, aku tak begitu percaya. Hanya saja kemampuan noona yang aneh ini hanya berfungsi pada saat-saat tertentu saja, setelah dia meramal kepalanya akan terasa pusing. Itu berarti noona harus tidur selama kurang lebih sepuluh jam total untuk menghilangkan sakit kepalanya.

 

Noona, aku yakin itu tidak akan terjadi.” Kataku, “Maaf mengecewakan kalian. Tapi aku… aku hanya akan mencintai Rae Mi, Kang Rae Mi.”

 

*Author POV*

 

“Yo! Kang Rae Mi!”

 

Panggilan dari suara berat yang serasa familiar ditelinga Rae Mi membuat gadis itu menoleh. Tiga orang pria yang rupanya bisa dikategorikan tampan sedang berjalan dengan penuh pesona kearahnya. Dia hafal wajah satu diantara tiga pria itu, jantungnya berpacu dan perasaan tak enak muncul. Dia punya firasat buruk yang kuat.

 

“Long time no see.”

 

Salah seorang pria yang kemarin berambut kriting pirang kini berubah menjadi hitam lurus menyapanya dengan senyuman lebar. Gadis pada umumnya akan luluh pada senyuman Jun Hong, tapi tidak begitu jika mereka berada di posisi Rae Mi. Tiga pria itu mengenalinya, karena dia punya masalah serius dengan mereka.

 

“Wah! Wah! Wah!, lama tak jumpa kau masih berpenampilan kuno saja.” Himchan menimpali.

 

Beberapa mahasiswa yang sedari tadi menyaksikan bagaimana tiga trouble maker kampus itu bicara dengan si gadis kampungan -begitu Rae Mi dijuluki- mulai bergerombol.

 

Yongguk tersenyum miring, “Kau tentu masih mengingatku kan?”

 

Orang-orang langsung berdesas-desus, beribisik-bisik membicarakan makna dari perkataan Yongguk barusan. Rae Mi meneguk ludah gusar, tiba-tiba dia merasa sesak. Tapi gadis itu tak menunjukan ketakutannya.

 

“Eung… sejujurnya aku tak tahu namamu.” Katanya jujur. Dia lupa nama musuhnya sendiri.

 

“Apa?, hahaha…” Yongguk tertawa lepas, beberapa mahasiswa di barisan paling depan bergerak mundur. Mereka fikir setelah ini ketua trouble maker akan mengamuk. “Kau gadis pertama yang melupakan namaku.” Kata Yongguk berjalan mendekati Rae Mi.

 

Rae Mi mundur teratur seirama dengan langkah Yongguk yang terus maju mendekatinya. Begitu Rae Mi sudah terkepung oleh barisan orang-orang yang mendesaknya agar segera dihabisi Yongguk, dia tak bisa melarikan diri kemana-mana lagi. Semua wajah mahasiswi di belakangnya -yang adalah fans Yongguk- tersenyum miring memkirkan bagaimana Rae Mi akan di permalukan oleh Yongguk.

 

Yongguk merampas susu kotak milik salah satu mahasiswi, membuka tutupnya kemudian mengangkat kotak itu diatas kepala Rae Mi.

 

“Apa kau pernah mandi susu?. Kalau belum biar aku tunjukan rasanya.”

 

Dengan perlahan Yongguk menuangkan cairan putih tersebut di atas kepala Rae Mi hingga membasahi permukaan kepala lalu turun ke leher dan bajunya. Rae Mi mengepalkan tangan menahan marah. Terkejut sudah pasti, dia ingin berteriak protes akan perlakuan Yongguk. Namun mengingat lagi bagaimana posisi pria itu di kampus, membuat nyali Rae Mi ciut seketika. Alhasil, dia hanya berdiri pasrah melihat bagaimana Yongguk tersenyum puas.

 

“Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Tanya Yongguk seraya mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa inci saja dari wajah Rae Mi. Seringaian kejam terus terpatri pada wajah pria itu.

 

“Ada.”

 

Yongguk dan yang lain sontak menoleh mencari sumber suara. Di ujung lingkaran yang dibuat oleh para mahasiswa yang bergerombol, berdiri sosok pria tinggi dengan sweater putih susu dan celana jeans biru tua yang memasang mimik penuh emosi pada Yongguk dan dua trouble maker lainnya.

 

“Oh!, Park Chanyeol. Ada apa kau kemari?” Tanya Yongguk dengan nada penasaran yang dibuat-buat.

 

Chanyeol berjalan mendekat, tangannya masuk kedalam saku celana, menutupi kekesalan yang timbul akibat melihat kejadian yang membuat emosinya naik.

 

“Aku kesini hendak menjawab pertanyaanmu.” Kata Chanyeol dingin.

 

“Oh ya?, kalau begitu… apa jawabanmu?”

 

Sebelum menjawab, Chanyeol melirik Rae Mi. Gadis itu duduk meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, tapi Chanyeol bisa melihat dengan jelas raut ketakutan Rae Mi. Hal itu semakin membuat Chanyeol geram. Dia tak peduli apa yang Yongguk lakukan di kampus, tapi jika trouble maker itu berani menyakiti atau bahkan menyentuh Rae Mi barang sedikitpun, maka Chanyeol tak bisa tinggal diam.

 

“Jangan…” Chanyeol mendekati Yongguk, “… pernah dekati Rae Mi.”

 

‘Bugh’

 

Pukulan yang keras, bahkan seluruh mahasiswa ataupun mahasiswi terkejut menyaksikan bagaimana Chanyeol yang ceria, konyol dan cenderung menghindari berurusan dengan trouble maker menghajar Yongguk tanpa bisa ia balas. Jun Hong dan Himchan bergerak membantu Yongguk, mereka berdua mengeroyok Chanyeol yang tak henti-hentinya memandang tajam Yongguk walau ia sendiri terjebak dalam keadaan genting dan terdesak.

 

“Hentikan!”

 

Jun Hong dan Himchan menghentikan aktifitasnya. Chanyeol yang sudah babak belur masih bertahan menatap tajam Yongguk. Pria itu berdiri menghampiri Rae Mi, mengulurkan tangannya agar gadis itu segera pergi bersama dia. Begitu uluran tangan tersebut disambut, Chanyeol segera membawa Rae Mi menjauh setelah melepas sweaternya untuk menutupi baju basah Rae Mi.

 

 

~TBC~

 

Alohaaaaaa…

Apakah saya teerlambat membawa chapter selanjutnya?, jika iya mohon maaf yak karena keterlambatannya itu semua dikarenakan jadwal yang padat dan bentar lagi masa-masa ujian hu hu hu *alesan padahal nonton acara dance kpop masih sanggup*uhuk*

Ya pokoknya selamat menikmati chapter ke lima ini dan silahkan…

RCL Juseyo~~~~~

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 5)”

  1. Entah knp aku jadi KESEL+SEDIH pas chanyeol bilang “aku hanya akan mencintai rae mi,kang rae mi.” terus hyojin gimanaa thorr?? Hyojin sama sehun aja deh klo nantinya chanyeol nyakitin hyojin*ngarep. Pokoknya keren~ fighting thor!

  2. Akhirnya muncul juga,setelah nungguin lama sampai lumutan haha *lebay#abaikan
    Makin seru aja critanya,penasaran juga ama kelanjutan chanyeol ama hyojin..ditunggu next chapt nya thor 😀 keep wrinting

  3. emang ya hyojin kelakuannya konyol tapi seru. aku ikutan pikir yg tidak2 pas percakapan antara hyojin dan sehun di semak2 XD
    jadi gimana dong chanyeol tetap kekeh kayaknya ama raemi. please dong jangan buat hyojinnya ngenes

  4. klo chanyeol cintanya ke raemi hyojin si tokoh utama jagoanku gimana donk ? pkoknya sbg fans hyojin yg keren abis sosoknya itu pengennya hyojin cintanya terbalaskan deh sama siapapun nantinya…

  5. Adddduuuuuhhhh sakit hati gua thor…soalnya gua kan chanyeol hyojin shiperr……..but keren bikin..dag dig dug…di tnggu next chapnya ya thor…smangat..

  6. Ah jadi chanyeol mencintai raemi. Bagaimana dengan hyojin.. jongin berpacaran dengan hyoyeon.. oh oh ternyata jongin pandai juga mencari pacar kukira ia hanya bisa menghabiskan waktunya bersama dengan hyojin dan sehun. Bagaimana nanti jika ibu sehun tau kalau hyojin cucunya orang kaya. Akankah ia memperlakukan hyojin dengan baik. Sehun suka sama siapa ya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s