[EXOFFI FREELANCE] Spaces Between Our Fingers (Chapter 7 – END)

Poster7

Tittle/judul fanfic : Spaces Between Our Fingers

Author : aeri

Length : Chaptered (Chapter 7 – Last Chapter)

Genre : Romance, Fluff, Idol life

Rating : PG-15

Main cast :       a) Park Chanyeol                     b) Kim Hejin (OC)

Disclaimer : Cerita ini adalah fiktif belaka dan murni dari pemikiran author kalau ada kesamaan karakter atau jalan cerita merupakan hal yang tidak sengaja. Semoga chapter-nya menyenangkan buat pembaca.

Author’s note : Semoga chapter terakhirnya tidak mengecewakan pembaca dan karena ini sudah chapter terakhir, jadi tinggalkan comment sebanyak-banyaknya yaaa. See you soon at next fanfict.

Happy reading J

 

 

 

Kim Hejin masih terkejut dengan kedatangan Park Chanyeol ke Paris, ditambah lagi dia masih kecewa dengan Chanyeol yang sudah lama tidak pernah menghubunginya. Chanyeol datang ke Hejin seolah tidak pernah ada kerenggangan diantara mereka membuat Hejin semakin kecewa. Pertanyaan Hejin yang tiba-tiba keluar membuat Chanyeol tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, walaupun sebenarnya Chanyeol sudah menyiapkan jawabannya jauh-jauh hari. Jauh sekali, ketika dia masih di Seoul, sebelum dia berani memutuskan berangkat ke Paris menemui Hejin. Semuanya jawaban yang disiapkan Chanyeol hilang begitu melihat sorot mata dingin dari Hejin. Chanyeol semakin merasa bersalah ketika melihat di dinding kamar Hejin terdapat gambar dirinya dan ada pesan Hejin yang mengungkapkan ingin segera bertemu. Malam ini, ya malam ini Chanyeol akan menjelaskan semua ke Hejin. Penjelasan Chanyeol membuat Hejin menangis terisak, Hejin juga merasa bersalah dan dia sangat merindukan Chanyeol. Ungkapan kerinduan Hejin, tidak kuasa lagi menahan Chanyeol. Chanyeol mencium lembut bibir Hejin.

 

 

Author

Chanyeol sangat marah mendengar kabar Hejin dan keluarganya akan pindah ke Paris. Dia marah, tidak bisa bertemu lagi dengan Hejin. Dia marah, merasa ditinggal sendiri begitu saja. Dia marah, merasa selama ini pertemuannya dengan Hejin masih terlalu singkat. Dia marah, Hejin pergi dengan tiba-tiba dan tidak tau kapan akan kembali lagi bersamanya. Chanyeol hanya bisa marah. Dia menyalahkan Hejin sepenuhnya atas perpisahan mereka. Chanyeol yang merasa kecewa dengan Hejin, sudah malas dengan berbagi email lagi dengan Hejin. Percuma, dia tidak akan kembali. Dia tidak akan ada di dekatnya seperti dulu lagi.

 

 

 

Chanyeol menyentuh bibir Hejin dengan lembut bibirnya. Chanyeol ingin mengungkapkan bahwa dia juga merindukan Hejin seperti yang Hejin ingin ucapkan walaupun tidak selesai. Chanyeol mengusap pelan air mata di pipi Hejin dengan tetap mencium lembut bibirnya. Merasakan kesendirian Hejin di sini tanpa dirinya. Hejin semakin deras meneteskan air matanya. Chanyeol melepas ciumannya. Dilihatnya wajah semu merah Hejin yang malu ditatap Chanyeol dalam-dalam seperti ini. Chanyeol memeluk erat Hejin.

 

“Aku sangat merindukanmu, Kim Hejin.”

“Nadooo.” Hejin menangis kencang lagi.

Chanyeol semakin mempererat pelukannya. “Jangan menangis lagi. Aku sudah ada di depanmu sekarang, bahkan sedang memelukmu.” Chanyeol mencium kehing Hejin. “Mianhae, aku terlalu lama untuk menyadarinya.”

 

 

 

Park Chanyeol

Aku merasa sangat marah dengan Hejin, dulu. Aku ingin mencoba melupakannya, dulu. Aku ingin membiasakan diri tanpa dirinya di dekatku, dulu. Tapi semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku menyadari bahwa Hejin tidak bisa dilupakan begitu saja. Hejin pasti juga tidak menginginkan ini. Aku akan bekerja keras di sini demi segera bertemu Hejin. Suatu hari.

 

 

 

Malam ini aku akan mengatakan semua pada Hejin. Aku semakin merasa bersalah melihatnya menangis, melihatnya begitu merindukan ‘kita’. Harusnya aku segera ke Paris menemuinya, harusnya aku selalu membalas pesannya, harusnya aku tidak menyalahkannya, harusnya aku tidak sibuk sendiri dengan trainingku, harusnya aku sudah mengungkapkan bahwa aku menyukainya, harusnya………

Aku mencium lembut bibir Hejin. Aku terlalu lama menyadari bahwa aku sangat ingin bertemu dengannya kembali, sangat merindukannya.

 

“Aku menyukaimu, Kim Hejin.” Sambil tetap memeluknya erat.

“Mwo… mworago??” Dia mencoba melepaskan diri dari pelukanku. Aku tidak membiarkannya, aku terlalu malu jika dia melihat mukaku saat ini. Lebih merah dari kepiting rebus mungkin.

“Jangan pura-pura tidak mendengarnya.”

“…” Dia tidak menjawab hanya memelukku semakin erat.

“Mianhae, Hejinnie. Seharusnya sejak awal aku mengungkapkan padamu. Mianhae. Harusnya aku dulu tidak membiarkanmu berkencan dengan Jongin.”

“Hah?? Mwoseun soriya?? Kau sudah menyukaiku saat aku dengan Jongin Oppa?” Dia berhasil melepaskan pelukanku.

“Kau masih memanggilnya Oppa? Kau masih dengannya sekarang?”

“Jawab saja pertanyaanku, tidak usah mengalihkan pembicaraan.”

“Ya!! Kau masih dengan Jongin sampai sekarang?”

“Jawab dulu pertanyaanku!!! (Aku hanya diam) Ya!!! Kau sudah menyukaiku ketika aku dengan Jongin Oppa?”

“Jongin Oppa lagi?? Kau benar-benar masih dengannya?”

“Hassss… jawab saja pertanyaanku dulu. (Aku diam lagi) Ya!!! Park Chanyeol!!!!” Dia memanggil namaku dengan nada tujuh oktav.

“Ar-aso, ar-aso… Aku dulu sudah menyukaimu, aku cemburu melihatmu dengan Jongin. Geunde wae??? Wae???” Aku kalah.

“Sinca???” Dia menatapku dalam-dalam, memperhatikan mukaku yang sudah merah sepertinya, sial. Kami diam lama, aku menunduk dan Hejin memperhatikan mukaku dalam-dalam.

 

“Ku lihat hanya fotoku satu-satunya laki-laki yang ada di kamarmu ya? ‘Mari segera bertemu kembali’ aaaah… sepertinya kau sangat merindukanku, oh?” Aku sengaja menggodanya untuk mencoba mengalihkan pembicaraan kita. Aku menatap wajahnya dalam-dalam, berubah merah.

“Hah?? E… eee… Ituuu…” Berhasil. Berganti Hejin yang kelimpungan menjawab pertanyaanku. Aku terkekeh melihat ekspresinya. Ah… makin cantik saja kau kalau pipimu memerah seperti ini.

“Emmm tidak juga sepertinya, aku baru ingat, rasanya aku juga melihat foto laki-laki lain tadi.”

“Hah??? Siapa?? Sepertinya aku sudah tidak menyimpan foto Jongin lagi.”

“Ahhh.. jadi kalian sudah putus? Ar-aso.”

“…” Dia tidak menjawab. Hahaha neomu gwiyowoooo. Yes! Mereka sudah putus.

“Foto Ahjusshi sih sepertinya tadi.” Aku memang sengaja memancingnya.

7.2

 

“Ya!!! Park Chanyeol!!!” Dia memukul dadaku keras.

 

 

 

 

Kim Hejin

Mataku sembab. Bibirku merah.

 

Kami menghabiskan sore hingga malam yang hujan deras ini dengan lanjut mengobrol panjang dan lebar. Terlalu banyak kehilangan waktu bersama membuat kita tak berhenti bercerita.

“Bagaimana kamu bisa sampai di sini?”

“Kan kamu pernah mengirim alamatmu dulu.”

“Bukan, bukan itu maksudku. Bagaimana ijinmu ke managermu?”

“Kam…kamu sudah tau?” Aku mengangguk tipis. “Eottoghe? Eottoghe ar-aso?”

“Kamu tidak berniat menceritakannya padaku?”

“Aku takut ini akan mengganggumu.”

“Aigooo… (aku mengacak-acak rambutnya) Kenapa aku harus terganggu? Aku sangat senang.”

“Bukan, bukan itu maksudku, tapi….”

“Idol life?”

“Oh, kau tau sendiri kan?”

“Ar-aaaa, geuraeseo mwo?”

“Emmm… tapi sudahlah jangan membahas ini dulu. Ini rasanya terlalu berat untuk dibahas sekarang.”

“Geunde-mwo??”

“Emmm.. bagaimana kalau kamu cerita kapan dan kenapa kamu putus dengan Jongin?”

“Ini rasanya terlalu berat untuk dibahas sekarang.” Heol! Kita seri sekarang.

“Mwoya ige???”

“Wae??? Aku juga sedang tidak ingin membicarakan tentang Jongin. Wae??? Wae???”

“Hasss…geunde-mwo??”

“Emmm…sejak kapan kamu menyukaiku?”

“Ya!!! Ige mwoya?”

“Wae-yo???”

“Apa pentingnya kapan? Yang pentingkan aku benar-benar menyukaimu.”

“Ya penting! Mulai kapan, Channie?”

“Channie?” Dia menemukan cela untuk menggodaku balik, dasar.

“Wae…wae??? Kenapa kalau aku memanggilmu Channie??? Wae? An joh-a?”

“Ani, neomu neomu joh-ae.” Dia tersenyum busuk.

“Eonje??? Ppalli…..”

“Mollaaaaa…” Dia berdiri menuju dapur dengan muka merah padam.

“Ya Park Chanyeol!!! Eodigaso?”

 

 

Aku tidak sadar kita sudah mengobrol berapa lama dan kapan aku tertidur. Tiba-tiba sudah terlihat pagi di balik jendela. Aku bangun, oh masih di ruang tengah. Tapi Chanyeol tidak ada, ke mana dia. Aku panik. Aku mencari di kamarku, tidak ada, tapi barang-barangnya masih ada, di kamar mandi tidak ada. Di kamar orang tuaku juga tidak ada, ke mana?

 

“Chanyeol-a??? Chanyeol???” Aku setengah berteriak. Bagaimana bisa aku tidak menemukan dia di apartemen kecil ini. Ke mana? Apa dia pergi? Tiba-tiba pergi? Aku panik setengah mati. Ke mana dia? Bagaimana bisa dia meninggalkan aku begi….. Apa ada yang salah dengan ucapanku semalam. “Chanyeol-a??? Chany…..” Aku berteriak sekali lagi.

“Wae? Wae?? Wae-yo?” Aku sangat lega melihat wajahnya yang tiba-tiba muncul dari balik lemari bawah dapur. “Kenapa kau teriak-teriak?”

“Ahhh… ani. Eee.. ini.. ini…eee… ini tadi ada kecoak.” Aku malu sekali, sial. Aku kira dia pergi.

“Kecoak? Sejak kapan kamu takut kecoak?” Ah, iya juga. Sial! Aku tersenyum kecut. “Mandilah, sebentar lagi sarapannya sudah siap.”

“Oh.” Aku segera melarikan diri ke kamar. Sial, aku malu sekali.

 

 

 

 

Park Chanyeol

Aku sengaja bangun lebih pagi, aku ingin memasakan Hejin sarapan. Sepertinya tidurnya pulas sekali sampai tidak mendengar aku berisik di dapur, baguslah. Aku memasak sup yang mirip dengan buatan Eomma karena aku tahu Hejin sangat menyukainya.

 

“Kau tidak memakai handuk?” Hejin mengomel melihat rambutku yang masih basah tapi aku sudah duduk di meja makan saja.

“Sudah, hanya belum kering saja.”

“Aigooo…” Dia mengambil handuk kecil dan mengusap-usap rambutku. Aku tersenyum lebar.

“Wae? Wae us-eo?? Habis menang lotre?” Sial ketahuan. Aku tidak tahu kau dia memperhatikan wajahku.

“Ani!!! Siapa yang senyum-senyum? Aku sudah lapar.”

“Waaa… seperti sup Imo. Gomawoooo….” Untungnya Hejin mudah dialihkan.

 

 

 

Author

Mereka berencana jalan-jalan hari ini, berkeliling Paris. Di perjalanan Chanyeol tertidur pulas. Hejin yang sedang menyetir tidak sengaja menoleh ke arah bangku Chanyeol dan menatapnya sambil tersenyum.

 

 

7.3

 

“Chhh… tidurnya sangat pulas. Neomu gwiyowo. (Hejin menatap dalam-dalam Chanyeol yang sedang tidur di bangku sebelahnya.) Saranghae Chanyeollie.”

“Nado saranghae.” Chanyeol tiba-tiba menjawab membuat Hejin sangat kaget. Sambil tetap di posisi tidurnya tadi dan masih menutup Chanyeol membuat ‘little love’ dengan jarinya. Wajah Hejin saat ini sangat merah.

“Ya!!! Kau pura-pura tidur daritadi?”
“Ani… aku terbangun karena terus kamu tatap daritadi. Kenapa aku ganteng?”

“Aniya!!!” Hejin sangat malu, dia langsung turun dari mobil meninggalkan Chanyeol yang tertawa lebar di dalam mobil.

“Hejin-a, tunggu! Aku tidak tahu jalan di sini. Hejin-a??”

 

 

7.1

 

“Sudah lama sekali rasanya aku tidak jalan-jalan seperti ini.”

“Lama tidak pernah jalan-jalannya atau lama tidak jalan-jalan denganku?” Hejin menggoda.

“Ar-asoooo, tidak jalan-jalan dengan kamu yang sudah lama. Aigooo…” Chanyeol mengacak-acak rambut Hejin. “Kau ingat tidak, dulu kau pernah tiba-tiba menghindariku karena kau tau aku dekat dengan Suzy. Kau masih Ingat Suzy kan?”

“Emmm…. Suzy? Suzy siapa ya? Yang mana ya?” Hejin pura-pura lupa, dia malu kalau mengingat dulu, ketika dia tiba-tiba menghindari Chanyeol karena dekat dengan Suzy. Bahkan Hejin sempat menangis karena alasan yang tidak jelas di depan Chanyeol dulu. Hejin kini berjalan lebih cepat dua langkah di depan Chanyeol.

“Ya! Ya!!! Jangan pura-pura lupa. Kamu tidak ingat kalau kamu pernah menangis. Hahaha. ‘Aku cemburu Chanyeol-a.’ kau tidak ingat?” Chanyeol berusaha menirukan apa yang Hejin ucapkan saat itu dan berusaha mengejar langkah Hejin.

“Ani!!! Aku tidak pernah bilang seperti itu!” Sial batin Hejin. Hejin semakin mempercepat langkahnya.

“Ya!!! Ya!!! Jangan cepat-cepat, Hejin-a. Tunggu aku. Ya!!! Kim Hejin.” Chanyeol tersenyum puas melihat Hejin yang malu setengah mati.

 

7.4

 

“Wae??? Wae us-eo???” Chanyeol tidak dapat menahan tawanya lagi ketika melihat muka Hejin yang sangat merah.“Ani…” Kemudian Chanyeol memeluk Hejin. “Aigooo… cemburulah. Ini melegakan untukku. Mianhae, aku dulu tidak bisa mengungkapkan sepertimu. Aku dulu juga sangat cemburu melihatmu dengan Jongin. Mian. Saranghae.” Hejin memeluk Chanyeol dengan erat.   Banyak waktu yang mereka habiskan mengobrol, menceritakan segala hal, sebelum Chanyeol akan kembali ke Korea. Hujan deras di luar membuat mereka memutuskan tidak keluar hari ini. Mereka mengobrol di ruang tengah. Hejin bersandar pada bahu Chanyeol.

7.5

“Hejin-a.”“Oh?”“Mianhae, aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama.”“…”“Sekarang pun aku harus membuatmu menunggu lagi. Mianhae.”“Kau tau tidak, Chanyeol-a?”“Mwo?”“Cela diantara jari-jariku sangat pas dengan cela-cela jari-jarimu.” Hejin mengatupkan jari-jarinya dengan jari Chanyeol.“Oh? (Chanyeol tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Hejin) Mwoseun soriya?”“Ani, aku hanya ingin mengatakannya.” Mereka saling diam dalam beberapa saat. Chanyeol memeluk Hejin sangat erat.“Hejin-a?”“Oh?”“Ketika aku kembali ke Korea….”“Ar-aaaaa…”“Mianhae.”“Aku tidak mempermasalahkan berapa lamanya aku harus menunggumu.”“…”“Hanya pastikan, kau pasti akan kembali padaku. Menemuiku kembali. Kapan pun itu, aku akan tetap di sini, di tempat yang sama, menunggumu.”“Yoksi!” Chanyeol mencium kening Hejin sangat lama. “Aku pasti akan selalu kembali padamu. Kita akan selalu bertemu kembali. Saranghae.”

 

 

 

 

— Berapa pun jarak yang tercipta, selalu ada jalan lain untuk bersatu kembali. —

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Spaces Between Our Fingers (Chapter 7 – END)”

    1. Nice ending juga,haha
      Tapi lebih nice lg klo ada sequelnya yg full sweet moment mereka,soalnya sweet moment nya mereka cuma dichapter akhir azz,hehe #cerewet#abaikan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s