Dating After Marriage [Chapter 1] – Hongdae

Dating After Marriage Poster

Dating After Marriage [Chapter 1] – Hongdae

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and 15+ can read because it’s labeled as PG15 ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you!

©nokaav3896 – 2016

“Kamu sudah bangun?”

Irene mendongak dan menemukan wajah khas bangun tidur Sehun menyapa pagi pertamanya sebagai seorang istri. Nggak buruk –Sehun tampan, dan dia tersenyum untuk menutupi debaran jantungnya yang ribut mendadak karena jarak mereka yang begitu dekat.

“Sudah.” Sehun menelusupkan tangannya di bawah punggung Irene dan menarik perempuan itu mendekat sekedar untuk mengecup puncak kepalanya. “Ternyata aku suka melihatmu tidur.”

“Ah,” sebuah pukulan ringan dari tangan mungil Irene mendarat di dadanya diikuti sebuah tawa kecil. “Kata Kak Soobin, aku cantik kalau sedang tidur. Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh cinta.”

Sehun tertawa pelan –menepuk dahi Irene dengan tangan kirinya sebelum bergeser menjauh dan melempar bantal ke wajah istrinya sebagai tambahan. “Ayo bangun. Kita jalan-jalan ke Hongdae hari ini. Kamu bilang mau menghias apartemen supaya lebih cantik.”

Irene menarik kembali selimutnya sampai menutupi dagu dan memejamkan mata –berpura-pura tidur. “Aku masih ngantuk. Kamu mandi duluan deh. Nanti kalau sudah selesai, bangunkan aku.”

“Kamu nggak berminat mandi bareng denganku?”

“SEHUN!”

“Bercanda, Irene.” Sehun terbahak –kemudian menjulurkan lidahnya pada Irene yang sudah bersiap balas melempar bantal. “Kembalilah tidur kalau mau. Aku lama kalau mandi.”

.

.

Irene nggak pintar memasak yang berimbas pada sarapan mereka pagi itu. Roti lapis dan susu putih –membuat Sehun bingung memutuskan apakah harus tertawa geli atau meratapi nasib calon anaknya bertahun-tahun ke depan.

“Kamu harus belajar masak –menurutku.” Sehun menggigit roti lapisnya sembari menatap Irene yang tengah memainkan handphone. Sarapannya sudah habis duluan karena –entah kenapa, tumben sekali– Irene sangat kelaparan. “Sebelum kerja aku harus sarapan. Kalau cuma roti lapis dan susu putih, aku bisa pingsan di dalam lift.”

“Kamu berlebihan.” Ujar Irene sembari tertawa. Dia tahu Sehun hanya bercanda soal pingsan di dalam lift –tapi juga serius soal belajar memasak. “Aku boleh ambil kursus memasak?”

“Tentu saja kalau itu untuk kebaikanku juga.”

Okay.” Irene mengerling pada Sehun yang baru saja melahap potongan terakhir kue lapisnya. “Kamu libur sampai kapan, omong-omong?”

“Itu perusahaan keluargaku. Terserah padaku mau libur sampai kapan. Selamanya juga boleh. Aku masih punya tanggungan bulan madu denganmu.”

Meskipun nggak bisa melihatnya secara langsung –Irene yakin pipinya memerah karena dia merasa kepanasan sekarang. Apa-apaan Oh Sehun membahas masalah bulan madu di tengah obrolan ringan soal kursus memasak? Lagipula –ayolah– mereka menikah karena sebuah perjodohan. Meskipun nggak menolak, bukan berarti Irene mencintai Sehun. Perempuan itu sedang dalam tahap percobaan –percobaan untuk mencintai suaminya.

“Irene?”

Sorry, sedang berusaha mengendalikan jantungku yang berdebar nggak karuan karena kamu membahas bulan madu.” Irene tertawa sebelum menuangkan segelas air putih ke dalam gelas kosong di hadapannya.”Kamu tahu kita dijodohkan.”

Sehun mengangguk, memasang senyum manis yang dia tahu benar akan semakin mengganggu kerja jantung istrinya. “Iya, tahu. Tapi pernikahan itu sakral, Irene. Kurasa kita harus mencoba –bagaimanapun caranya– untuk saling jatuh cinta.”

“Kamu benar.”

“Kamu punya rencana untuk membuatku jatuh cinta?”

Irene terdiam sejenak. “Jatuh cinta ‘kan nggak bisa diprediksi, Sehun.”

Sehun tertawa, mengulurkan gelasnya untuk minta isi ulang air putih pada Irene. “Okay, jadi kita harus menunggu sampai Dewi Aphrodite datang ke apartemen ini?”

“Bukan Dewi Aphrodite, Sehun. Kalau Aphrodite yang datang, nanti malah dia bercinta denganmu. Aphrodite suka laki-laki tampan sepertimu.” Irene tertawa, mengabaikan Sehun yang nyaris tersedak karena ucapannya. “Mungkin maksudmu adalah Cupid yang suka melempar panah cinta.”

“Kupikir Cupid adalah nama lain Aphrodite.”

“Kurasa bukan.”

Kemudian hening. Sehun menikmati waktunya memandangi wajah cantik Irene –mencoba menumbuhkan cinta, mungkin. Sementara Irene membuka browser-nya, mencari tahu sebenarnya ada hubungan apa antara Aphrodite dan Cupid.

.

.

“Sudah siap?”

Irene yang sedang mematut diri di depan cermin tersenyum melihat bayangan Sehun menyembul dari balik pintu. Laki-laki itu sudah rapi dengan kemeja putih berlapis sweater biru langit –kebetulan, matching dengan coat yang dikenakan Irene.

“Iya, siap.” Irene mengerling sebelum menutup kotak make up-nya dan berjalan menghampiri Sehun. “Kamu tampan.”

Sehun tertawa, mengacak rambut Irene yang membuat perempuan itu melengkungkan bibirnya ke bawah karena tatanan rambutnya dirusak. Lengkungan itu berbalik arah dua detik kemudian saat Sehun berujar, “Kamu cantik.” sembari merapikan ulang rambut Irene.

“Memang.”

“Jadi…ke Hongdae dulu?”

Irene mengangguk. “Iya. Aku sudah lapar lagi. ‘Kan tadi pagi kita cuma makan roti lapis. Aku juga mau lihat-lihat kalau ada baju couple yang bagus untuk kita.”

“Baju couple?” Sehun bergidik ngeri, membayangkan dirinya harus memakai kaos berwarna pink bertuliskan ‘Her Husband’ kemana-mana. Bagaimanapun, dia dikenal sebagai sosok yang berkharisma saat di kantor. Kalau sampai ada karyawannya yang melihat pemandangan semaacam itu–

“Santai. Selera fashionku nggak buruk kok. Yang kumaksud baju couple itu t-shirt biasa dengan warna yang sama. Hitam, putih, atau biru. Aku nggak akan menyuruhmu pakai baju yang nampak cute. Nggak perlu pasang ekspresi horor gitu.

–ah, untunglah Irene masih waras.

.

.

Irene pernah tiga kali jalan ke Hongdae sebelum menikah dengan Sehun. Masing-masing dengan dua saudaranya –Bae Soobin dan Bae Suzy, satu yang lainnya dengan seseorang yang nggak pernah ingin dia ingat lagi, seseorang dari masa lalunya.

“Kamu melamun.”

Lambaian tangan Sehun di depan wajahnya membawa Irene kembali kepada hari ini. Segelintir ingatan tentang masa lalunya perlahan terhapus, tergantikan oleh warna-warni t-shirt dan tulisan ‘SALE’ hampir di seluruh depan toko. Dia menengok ke atas –maklum, tingginya hanya sampai telinga Sehun– memasang senyum bahagia.

“Sehun, kamu bawa uang banyak?”

“Apa?”

“Kelihatannya aku bakalan kalap.”

.

.

“Sehun,” Irene berhenti di depan sebuah toko pakaian dan menarik sebuah sweater berwarna hijau toska dengan garis kuning di leher dan lengannya. Gambar monyet lucu dengan pipi memerah tepat di tengah-tengah itulah yang menarik perhatiannya. “Aku bagus nggak kalau pakai ini?”

Since you have super bright skin, every color will match you well.” Sehun mengangguk sembari tersenyum lebar. Gemas juga rasanya melihat Irene menenteng sweater bergambar monyet. Sudah seperti anak playgroup saja –padahal perempuan itu justru tiga tahun lebih tua.

“Berarti matching sama kamu juga, Hun. Kulitmu juga putih ce–”

NGGAK.” Sehun buru-buru menggeleng sembari mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan. Sweater itu memang akan lucu kalau Irene yang mengenakan. Tapi bukan berarti hal yang sama akan berlaku padanya.

“Aku bercanda.” Irene tertawa, ganti menarik sebuah kaos berwarna abu-abu gelap dengan garis-garis horizontal berwarna merah. “Kurasa ini bagus untukmu. Kamu boleh kerja pakai kaos?”

“Ya enggak.” Sehun tersenyum. Astaga, entah kenapa dia selalu tersenyum setiap bersama dengan Irene. Bukan terjadi setelah mereka menikah. Dia sudah menyadari ini sejak pertemuan pertama mereka, empat bulan lalu. “Aku pakai setelan kalau untuk kerja.”

“Setelan piyama?”

“Irene.”

Perempuan itu tertawa begitu Sehun memprotes hanya dengan menyebut namanya. Menoleh sebentar kepada Sehun sembari menjulurkan lidah sebelum menyerahkan sweater hijau toska bergambar monyet kepada penjaga toko.

“Aku nggak melihat baju couple yang bagus sepanjang jalan disini. Menurutmu kita harus beli barang couple apa selain baju?”

Sehun diam sejenak, matanya berkeliling memindai Hongdae Street untuk melihat barang couple apa yang bisa dia beli dengan Irene. Sebenarnya, Sehun menduga banyak sekali barang couple yang bisa dibeli disini. Ada baju, sweater, topi, sepatu, gelang dan–

–ya!

“Cincin pasangan?”

Irene mengerutkan dahi sebelum mengangkat tangan kirinya dan menunjuk sebuah cincin berlian di jari manisnya. “Sudah ada cincin pernikahan disini. Kalau kebanyakan cincin, nanti aku dikira cenayang.”

“Ya enggak.” Sehun terbahak. Dia baru sadar kalau selain cantik, istrinya juga lucu. Sudah berapa candaan yang dia lontarkan sepanjang hari? “Kamu nggak pakai kalung ‘kan? Pakai sebagai gantungan kalung juga nggak masalah.”

“Punyamu?” Irene mengangguk sembari melempar senyum kepada penjaga toko yang baru saja menyerahkan satu plastik berisi sweater yang kini resmi menjadi miliknya. “Kamu nggak mungkin mau pakai kalung.”

“Jempol kaki.” Sehun menjulurkan lidahnya sebelum menarik Irene merapat ke tubuhnya. Dingin. Dia khawatir istrinya kedinginan. “Aku nggak masalah sih pakai dua cincin di satu tangan.”

“Dua cincin itu perumpaan yang agak bahaya, Sehun. Bisa diartikan perselingkuhan juga.”

“Astaga.” Tangan kiri Sehun yang bebas otomatis menoyor kepala Irene atas ucapannya barusan. “Ini baru beberapa jam setelah kita resmi menikah, Nona Bae. Kamu sudah berpikiran aku akan selingkuh?”

“Kamu tampan. Kurasa banyak perempuan disana yang juga naksir padamu. Iya ‘kan?”

“Kamu beruntung menikah dengan lelaki yang diinginkan banyak perempuan lain.” Sehun tersenyum kecil, ingin mengakhiri perdebatan. “Ayo ke Initial D dan membuat cincin pasangan!”

.

.

Entah kenapa Sehun merasa bahagia melihat Irene terus tersenyum sembari mengamati cincin pasangan yang kini berfungsi sebagai gantungan kalungnya. Mereka sedang duduk-duduk –menunggu penampilan live acoustic dari sebuah band indie yang dengar-dengar bernama EXO. Irene terus memainkan cincinnya sementara Sehun sibuk menatapnya sambil tersenyum. Mereka sudah menikah, Sehun ingin bilang dia sudah berada dalam tahap menyukai Irene –namun belum yakin untuk bilang kalau Sehun mencintainya. Akan sakit kalau ternyata Irene belum merasakan hal yang sama. At least, perempuan itu selalu tersenyum setiap bersamanya.

“Sehun?”

“Kena–“

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya –yang sebenarnya hanya berjumlah satu kata yakni ‘kenapa’– kerumunan penonton di sekitar mereka berteriak riuh sembari bertepuk tangan meriah. Irene yang semula fokus pada Sehun juga langsung menoleh ke depan, mendapati sekelompok anak muda yang tengah bersiap-siap tampil.

“Astaga! Sehun, semuanya tampan!” Irene berteriak girang yang justru membuat Sehun melengos. Bisa-bisanya seorang istri meneriaki laki-laki lain tampan sementara suaminya duduk tepat di sebelah kanan. Ah, mungkin Irene lupa kalau dia sudah menikah.

“Sehun, aku boleh mendekat? Yang bawa gitar kelihatannya yang paling tampan.” Irene mendongak, memohon kepada Sehun sembari memasang aegyo yang membuat Sehun kembali dalam dilema. “Sehun, ya?”

“Mendekatlah.” Ujar Sehun akhirnya yang dibalas dengan sebuah kecupan singkat tepat di pipi kiri–

Tunggu–

–sebuah kecupan?!

Sehun hendak memprotes saat menyadari Irene sudah berjalan menjauh. Mendekati sang gitaris yang disebutnya paling tampan. Uh! Setampan apa sih, Sehun jadi penasaran. Dia sudah melupakan keterkejutannya atas kecupan singkat Irene dan berjalan menghampiri perempuannya –menyenggol Irene pelan dengan lengan kirinya.

“Yang mana yang kausebut tampan?”

“Itu.” Irene menunjuk sosok lelaki jangkung dengan rambut berponi yang mengenakan sweater hijau tua dan sepatu merah ala Christmas Style. Lesung pipi yang sangat dalam terlihat di pipinya saat sedang tersenyum, mengingatkan Sehun pada seseorang yang–

“Halo, namaku Park Chanyeol.”

–astaga! Benar, ‘kan dia adalah Park Chanyeol –sahabatnya saat SMA.

.

.

To : Park Chanyeol

Chanyeol, ini aku Sehun. Aku di tengah-tengah kerumunan di Hongdae sekarang. Aku melihatmu tampil live acoustic bersama kelompokmu. Aku senang melihatmu disini –astaga! Kenapa kamu nggak datang ke pernikahanku? Ah, nanti saja. Sekarang, aku bersama istriku. Kelihatannya dia menyukaimu. Berkali-kali dia bilang padaku kalau kamu yang paling tampan. Jadi, bisakah aku request sebuah lagu yang berjudul Marry Your Daughter punya Brian McKnight? Bagian chorus saja. Bilang dari seseorang khusus ditujukan untuk Irene Oh. Thanks!

.

.

Beruntung band indie yang menamakan diri mereka EXO itu memberlakukan jeda sejenak sementara sang vokalis membuka percakapan dengan para penonton. Chanyeol sempat membuka handphone-nya dan kelihatan mencari seseorang –Sehun yakin Chanyeol sedang mencarinya– sebelum kemudian memanggil sang vokalis dan membisikkan sesuatu.

Yeah, aku baru saja mendapat pesan dari seseorang yang spesial.” Vokalis band itu, yang memperkenalkan diri sebagai Kim Jongdae, kembali menghadapi kerumunan penonton sembari tersenyum lebar. “Seseorang yang nggak ingin disebutkan namanya sudah merequest sebuah lagu spesial untuk seorang perempuan bernama Irene Oh.”

Irene menoleh kepada Sehun, memasang ekspresi terkejut begitu namanya disebut dengan marga ‘Oh’. “What song?”

Sehun mengangkat bahu sembari mengerling tepat saat suara emas Kim Jongdae mengalun dengan lembut.

Can marry your daughter

And make her my wife

I want her to be the only girl that I love for the rest of my life

And give her the best of me ‘till the day that I die, yeah

I’m gonna marry your princess

And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen

Can’t wait to smile when she walks down the isle

On the arm of her father

On the day that I marry your daughter.

 

Sehun tahu sekarang Irene sedang menangis karena terharu. Dia menarik perempuan itu ke dalam rengkuhannya, mendengarkan lagu romantis di tengah kerumunan orang yang juga ikut terlarut dalam suasana. Misi pertama untuk membuat Irene jatuh cinta –kelihatannya– berhasil. Hongdae, thanks!

.

.

“Aku pasti kelihatan jelek sekarang. Mataku sembab karena menangis. Iya ‘kan?” Irene menoleh untuk menatap Sehun yang tengah fokus menyetir. Kencan ‘romantis’ ala Oh Sehun di Hongdae Street sudah berakhir beberapa menit yang lalu dan mereka sedang dalam perjalanan pulang sekarang.

“Sehun.”

Irene memanggil nama Sehun pelan untuk mengecek pendengaran sang suami yang nggak merespon pertanyaan sebelumnya.

“Aku dengar.” Ujar Sehun pelan sembari mengulas senyum. “Kamu tetap cantik kalau boleh kubilang.”

“Bohong ‘kan?”

“Aku jujur, Irene Oh.” Tangan kanan Sehun bangkit dari persneling sejenak untuk mendaratkan sebuah sentilan lembut di dahi Irene. “Kamu tetap cantik.”

“Sehun.”

“Astaga, apalagi? Kenapa kamu terus-terusan meragukan kecantikanmu sendiri sih? Perlu kupasangi kaca yang terus menggantung di depanmu supaya–“

“Bukan itu.” Irene memotong sembari menahan tawa. “Lagu yang tadi romantis. Tapi ‘kan kita sudah menikah. Lagu itu cocoknya dinyanyikan saat pernikahan.”

Sehun melirik Irene gemas. Kalau nggak sedang menyetir mungkin dua tangannya sudah beraksi untuk mengacak rambut sang istri. “Astaga, Irene. Masa bodoh dengan kapan cocoknya lagu itu dimainkan, yang penting aku berhasil membuatmu menangis haru.”

“Sial.” Irene melempar gulungan tisu di hadapannya tepat di kepala Sehun yang hanya dibalas dengan tawa puas sang lelaki bermarga Oh. “Kamu kenal Park Chanyeol itu ya?”

“Sahabatku waktu SMA.”

“Tampan.”

“Irene.”

“Maaf.” Kali ini giliran Irene yang tertawa puas melihat Sehun cemberut. Lucu. “Kamu lebih tampan kok. Santai saja Oh Sehun.”

“Kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?”

Hening.

Sehun mulai merutuki dirinya sendiri karena merasa sudah mengacaukan suasana saat sebuah jawaban mengejutkan meluncur dari bibir Irene Oh.

“Tujuh persen, mungkin. Kamu romantis dan aku menyukainya.”

.

.

To be continue di Chapter 2 – Namsan Tower

 

A/n: Belum di beta. Maaf kalau ada yang salah atau typo. Semoga enjoy sama ceritanya. Anw, ada Sehun – Irene shipper disini? Hahaha 😀

73 tanggapan untuk “Dating After Marriage [Chapter 1] – Hongdae”

  1. Keren banget ini mah.. Setelah baca ini kayanya aku bakal jadi hunrene shipper deh… Oya, chap 7 nya mana nih, udah gak sabar 😀😁😂

    Oya salam kenal ya.. 😊

    1. Aku tahun 2017 ngga nulis sama sekali, dan barusan mulai ngecek wordpress lagi ternyata banyak yang nungguin ini 😂😂😂 Kasihan kalo ga lanjut 😀 Lanjutin ga enaknya?

  2. eh,so sweet banget annyeong author aku read baru
    aku suka aku suka sama ff in,wait ya authornim,aku mau bc part 2nya dulu biar sah jdi read author di ff in 🙂

  3. Ahhhh… sungguh pasangan konyol😜
    Aduhh pengen cepet kawin dehh mak 😝😂😁

    Suka banget kak.. semangat..
    Bikin kai juga dungg 😀

  4. hunrene shipper is here ^^
    waaa suka, ini ringan sama manis banget buat dibaca. tapi kayaknya bakal lebih seru kalo sedikit diselipin sebuah konflik kecil gitu.
    ok pai~ aku mau otw baca chapter 2 hehe

  5. Sukaaa<3
    Kalo mengenai perjodohannya memang terbilang mainstream, tapi… jarang atau malah ini pertama kali aku baca yang merekanya tuh ngga saling benci, malah berusaha buat saling jatuh cinta, dan itu tuh sweet banget:3
    Ditambah, aku nyaman banget bacanya, jadi betah
    Mau langsung meluncur ke chapter 2 yaaa~ XD

  6. Bagus bgt ceritanya♡ Tp klo boleh komen, aku lebih suka ff yang bahasa nya formal gitu thor:) jd bahasa nya di baku in lagi:) tp ff nya mudah dicerna kok. Sukaaa btw sebenernya aku bukan hunrene shipper tapi setelah baca ini mungkin ngeship mereka ckck:*

    1. selamat datang hunrene shipper hahaha padahal aku sendiri sebenernya borene shipper (?) okaay aku juga lagi mengalami dilema diksi (?) dan kedepannya kayanya bakal lebih baku lagi sih :3 makasih yaaa 😀

  7. Halo 🙂 ini bener2 cerita yang alurnya ngalir bangett, mana lagi kalimat yang dipake buat ngemas cerita ini bikin betah dan ketagihan. Ga sangka, Irene-Sehun bukan suatu ide yang buruk kalo dijadikan pasangan. Walaupun tema pernikahan itu begitu lazim (?) tapi menurut aku ini salah satu cerita pernikahan yang beda dengan caranya sendiri. Semangat semangat ^^

    1. halooo tema pernikahan emang mainstream ya wkwk semoga aja dengan ‘perbedaan’ yang ada di fiction ini bikin temen-temen betah bacanya ehehehe 😀 makasih yeaaaa :3

  8. Hai i’m new reader^^ juga new shipper HunRene semenjak mereka foto bareng itu, cocok
    Mereka manis banget, meskipun irene lebih tua-,-
    Banyakin momentnya ya, ku tunggu konfliknya
    Next Quickly!!

    1. hello and welcomee~
      yeaaa irene emang lebih tua tapi keliatannya dia lebih imut (?) kekeke 😀
      sudah diupdate looh, sudah baca chapter 2nya? chapter 3 barusan update ehehee 😀 thankyouuuu~

  9. Biasanya tuh aku liat Irene-suho tp ini sehun gakpapa deh feelnya juga dapet kok huhuhu suka sama mereka berdua yg karakternya abis married tp masih proses pengenalan dan mereka nih gak musuh2an tp malah sosweet2an yg bikin reader (aku) greget. Sehun-ah i wanna hug you :”). Jempol deh buat ff ini ^^

  10. Wah, ini manis banget x) Aku suka sekali dengan fanfic ini. Manis, sweet, fluff; pokoknya bikin mesem-mesem sendiri deh. Aku jadi pengen kalo nikah nanti punya suami kek Sehun gitu //duagh//
    Walopun jujur aja, aku ini sebenernya belum pernah satu kalipun lihat video exo ato red velvet. Tapi aku suka banget dengan mereka berdua, ha ha ha.

    Oh ya, jujur aja ya. Aku agak kurang nyaman dengan kata ‘nggak’. Soalnya agak gimanaaaaaaaaa gitu xD

    ditunggu chapter selanjutnya, kak!

    1. hallooooo 😀 yuhuuuu makasih yaaa aku juga jarang liat video RV sebenernya, suka yang ice cream cake banget tapi 😀 untuk kata ‘nggak’ di chapter selanjutnya udah dikurangi looo 😀 terimakasih yaa masukannya dan selamat membaca 😀

  11. laaaaaahhh, boleh curhat dikit duli sblm komen? hehehehe, sbnrnya pas baca judulnya agak menarik eh bgtu liat cover langsung down bukan gk suka sm irene tp rada baper dikit sih klo dipairingin sm bias hahahhaha. *oke selesai* ini lucu kok ceritanya jg unik,ringan lg bahasanya kalo gk krn cover pake irene mungkin list nilainya 95 tp krn irene jd 70 hehehhe mian tp suka kok ceritanya hanya pairimg nya saja *maafkan akuuu hehheehhe

  12. Romantisnyaa.. Huuu terharu *senyum-senyum sendiri* itu si Irene sama Sehun kek pasrah aja di Jodohin haha, oke ditunggu lanjutannya thor!! Fighting

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s