One and Only – Slice #12 — IRISH’s Story

irish-one-and-only-fixed

One and Only

With EXO’s Byun Baekhyun and Red Velvet’s Yeri Kim

Supported by EXO, TWICE, and SM Rookies Members

A fantasy, sci-fi, romance, and life story rated by PG-16 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2015 IRISH Art&Story All Rights Reserved


 

“Mencintaimu? Ya aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.”


Previous Chapter

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || [NOW] Chapter 12

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Yeri’s Eyes…

“Benar. Tanpa logam nano ini kami hanya akan jadi tumpukan logam rongsokan. Tidakkah kau merasa marah pada bangsamu?”

“Kenapa aku harus marah?” tanyaku.

“Mereka sudah menciptakan makhluk mengerikan untuk memusnahkan bangsanya sendiri.” aku menyernyit mendengar ucapannya.

“Makhluk mengerikan bagiku adalah Dinosaurus.” ucapku membayangkan monster-monster raksasa itu.

Yuta tertawa pelan.

“Benar, aku juga merasa takut membayangkan Dinosaurus. Tapi Humanoid juga menyeramkan bukan? Kami tidak bisa mati, kami tidak bisa dilukai, tapi kami punya kemampuan yang tak bisa dibandingkan dengan manusia, atau dengan senjata-senjata mereka.”

“Bukankah kami menakutkan?”

Mereka memang menakutkan, jika semua bangsa mereka bisa menjadi seperti manusia. Benar…. Jika semua Humanoid menjadi Humophage…. dengan pikiran manusia…. Dan bisa memikirkan hal buruk….

Tidakkah eksistensi kami sebagai manusia akan—tunggu. Bagaimana jika manusia-manusia melakukan penelitian tentang Humophage…. untuk—

Tidak. Jangan katakan akan ada Perang Dunia IV.

Tapi…. Jika benar-benar ada. Kelompok manusia yang sengaja membuat Humophage, dan membuat semua Humophage berpikir manusia pantas untuk mati…. Dengan kemampuan mereka, mereka bisa membunuh semua manusia.

Mereka semua. Tidak….

“Apa yang sekarang kau pikirkan?” aku tersadar saat Yuta bicara padaku.

Aku menatapnya, diam-diam merasa sesak karena membayangkan kemungkinan terburuk itu. Bagaimana jika dugaanku benar? Bagaimana jika mereka benar-benar akan memusnahkan manusia?

Pasti golongan manusia ini punya antidote untuk semua Humophage.

Nuclear Cells.

Jika mereka tahu benda itu bisa membunuh Humanoid…. Setelah keinginan mereka tentang memusnahkan manusia sudah tercapai…. Mereka hanya perlu melenyapkan Humophage dengan Nuclear Cells bukan?

“Yeri?”

Tidak. Tidak. Semakin banyak Humophage yang ada…. Maka dugaanku akan semakin benar.

“Tidak boleh.”

“Apa?” Yuta menyernyit.

“Kalian semua tak boleh menjadi Humophage.”

Sepasang mata Yuta membulat.

“Kenapa? Apa yang kau pikirkan sekarang?”

“Tidak…. Kalian tidak boleh menjadi Humophage…. Kalian tidak boleh menjadi seperti kami.” ucapku, menatapnya nanar.

“Sekarang apa yang kau bicarakan?” nada bicara Yuta berubah dingin, “kau juga bagian dari mereka yang tak ingin melihat kebebasan kami? Kau juga senang karena Humanoid menjadi budak kalian?”

Aku segera berdiri, dan menjauhi Yuta.

Benar bukan? Mereka semua akan menuntut kebebasan. Dan jika perlu mereka pasti tidak akan segan-segan….

SRASH!

Nafasku seolah terhenti saat sebuah pedang muncul dari lengan Yuta.

 Ini yang kubicarakan. Mereka tak akan segan-segan mengeluarkan senjata.

“Humophage tidak boleh ada. Humophage harus lenyap.” ucapku tanpa sadar.

“Ulangi.” aku menatap Yuta. Tatapan bersahabatnya sekarang berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

“Ulangi perkataanmu.” ucapnya dengan nada dingin. Dadaku terasa sesak, aku takut pada Humanoid dihadapanku, tapi aku lebih takut pada bayangan yang ada dalam benakku.

Aku berlari keluar dari gudang, tak peduli Yuta mengejarku atau tidak.

Baekhyun.

Aku harus menemuinya dan—tidak. Ia juga Humanoid. Ia akan berpikiran sama dengan Yuta bukan? Ia…. Tidak. Aku tidak ingin Baekhyun menyerangku. Aku tak ingin memandangnya sebagai Humanoid yang jahat.

Kudapati diriku sekarang bersembunyi dibalik sebuah rumah. Dan kucoba memikirkan baik-baik semua pendapatku tentang apa yang terjadi pada Humanoid.

Jika ada sekelompok manusia membuat mereka menjadi Humophage, lalu ada apa dengan Sentry? Kenapa mereka memburu Humophage?

Apa mungkin…. ada dua kelompok manusia berbeda yang melakukan perang tersembunyi ini. Dan jika…. semuanya terus berlanjut, apa Perang Dunia IV akan benar-benar terjadi? Perang…. lagi?

“Kau pikir aku tidak bisa menemukanmu dengan mudah? Kurasa pendapat Ten tentang manusia benar, kalian tidak pantas hidup dan menikmati semua kecanggihan ini.”

“Kau hanya akan membuang tenagamu dengan membunuhku.” ucapku pelan.

Yuta tidak menyahut.

“Aku hanya seorang Outsider. Aku juga diburu. Aku juga dianggap tak pantas hidup bahkan oleh bangsaku sendiri. Aku tak punya Humanoid, kematianku tak akan menjadi kebebasan bagi siapapun.”

“Aku juga tak punya kuasa atas apapun, aku tak bisa mempengaruhi Sentry. Menikmati kecanggihan? Aku tak pernah merasakannya seumur hidupku. Selama sepuluh tahun ini…. Baru selama beberapa hari ini aku merasa benar-benar aman dalam hidupku.”

“Lalu apa untungnya membunuhku? Aku akan mati…. cepat atau lambat. Karena Humanoid atau karena bangsaku sendiri, atau mungkin karena kecerobohanku sendiri. Toh pada akhirnya semua manusia akan mati bukan?”

“Pada dasarnya kehidupan seperti itu…. Kehidupan harus punya sebuah akhir.”

Yuta mengarahkan pedang itu ke leherku. Untuk kedua kalinya Ia melakukannya dalam selisih waktu beberapa jam.

“Berapa lama kau hidup tanpa Owner? Kau sudah jadi sekeji manusia.” ucapku saat menyadari Yuta sama sekali tak merasa ragu saat mengarahkan pedangnya.

“Diamlah.” ucap Yuta dingin.

“Dimana kau mempelajari semua ini? Dalam peperangan kau pasti menyerang semua musuhmu tanpa memberi mereka kesempatan untuk bicara bukan?”

SRAT!

Aku sedikit terkesiap saat kurasakan tajamnya pedang itu menggores leherku. Yuta benar-benar melakukannya. Ia benar-benar melakukannya.

“Apa lagi yang kau tunggu? Bunuh saja aku. Aku juga tak akan punya Humanoid yang akan menghidupkanku. Aku hanya seorang Outsider.”

“Aku sudah menduganya.”

Aku terkesiap. Bukan karena melihat Yuta yang bergerak menghunuskan pedangnya ke leherku, tapi karena mendengar suara yang terdengar seperti alarm kehidupan bagiku.

Baekhyun.

Yuta menatap ke arah lain, dan Ia tertawa kasar.

“Bagaimana kau menemukanku Baekhyun?” ucapnya.

“Alat pelacak.” ucap Baekhyun.

“Aku sudah menonaktifkannya.”

“Bukan padamu, tapi pada Yeri. Kau kira aku meninggalkannya bersamamu begitu saja? Aku tahu kau bisa melakukan hal buruk. Aku tak seharusnya mempercayaimu.”

Yuta tertawa pelan.

“Kau tak akan berpikir untuk menghancurkan prosesorku setelah ini Baekhyun.”

“Lepaskan Yeri.” ucap Baekhyun.

“Aku tidak bisa.”

“Lepaskan dia Yuta.” suara lain menyahut.

“Ada apa denganmu? Bukankah kau membenci manusia?”

“Aku membenci manusia, tapi hanya mereka yang berpikir buruk terhadap bangsanya yang lain, atau berniat buruk. Tapi pada seorang gadis yang bahkan tak mengharapkan pertologan saat seorang Humanoid mengarahkan pedang ke lehernya….

“Menurutmu Humanoid mana yang tak berniat menolongnya?”

Aku mendengar suara lain disana bicara. Apa Ia datang bersama Baekhyun?

Aku ingin menolehkan kepalaku dan menatap Baekhyun, melihat wajahnya memberiku keyakinan bahwa aku akan bertahan hidup sedikit lebih lama. Tapi menoleh berarti membuat leherku terluka karena pedang Yuta.

“Suho…. Apa Ia akan membunuh manusia? Kau bilang bangsamu tidak bisa membunuh….” kudengar seorang gadis bicara.

“Tidak, dia tidak akan membunuh siapapun Sana, Ia hanya dikuasai emosi yang baru bisa diaksesnya setelah Ia menjadi Humophage.” suara lain lagi.

Berapa orang yang sekarang bersama Baekhyun? Apa Ia menemukan beberapa orang lainnya untuk ikut diperjalanan ini?

Perjalanan yang bahkan tak kuketahui dengan jelas bagaimana kelanjutannya mengingat keadaan yang tercipta sekarang?

“Jauhkan pedangmu dari lehernya. Kau melukainya Yuta.”

“Aku hanya sedikit menggores kulitnya.” ucap Yuta sambil kemudian menatapku lagi, “kau manusia yang sangat beruntung, begitu banyak orang yang ingin melindungimu.” sambungnya.

“Pedang itu melukainya. Luka dilehernya sudah kau biarkan selama hampir dua menit. Kau mau membunuhnya karena infeksi? Menjauh Yuta!” kali ini Baekhyun berteriak keras.

Yuta tertawa, dan kembali menatapku.

“Kau ingin tahu apa yang akan dikatakannya setelah tahu pemikiranmu?” tanya Yuta sebelum Ia menatap Baekhyun lagi, “lalu kenapa kau tidak menghentikanku? Ah…. Kau takut dia melihatmu berbuat kasar bukan?”

Yuta menatapku tajam. “Kau tidak ingin Ia ketakutan saat melihatmu. Sangat menggelikan. Kau sudah seperti manusia, Baekhyun.” Ia kembali menggerakkan pedangnya, membuat rasa nyeri lain dileherku.

Sedikit saja aku bergerak, Yuta pasti tak akan segan-segan menyarangkan pedang panjang itu ditubuhku, dan daripada membayangkan kematian langsungku, aku lebih rela merasakan sakit dileherku.

“Kenapa kau tak bicara Yeri? Katakan padanya, katakan padanya tentang ucapanmu tadi. Dan aku yakin Ia tak akan menghentikan tindakanku.”

Aku bungkam. Untuk apa mengatakannya? Memperkeruh keada—

“Baginya, jika semua Humanoid bisa berpikir seperti manusia dan menjadi Humophage, mereka pasti bisa memikirkan hal buruk. Dan eksistensi manusia akan terancam. Ia bertanya-tanya kenapa manusia melakukan penelitian tentang Humophage. Menurutnya, Humophage akan menjadi senjata pemicu Perang Dunia IV.”

“Ia mengira ada kelompok manusia yang sengaja membuat Humophage, membuat semua Humophage berpikir manusia pantas untuk mati dan dengan kemampuan mereka, mereka bisa membunuh semua manusia.”

“Ia takut karena khawatir dugaannya akan benar. Ia takut jika Humanoid benar-benar memusnahkan manusia. Ia berpikir ada golongan manusia yang punya antidote untuk Humophage.”

“Dan setelah rencana mereka berhasil untuk melenyapkan manusia menggunakan Humophage, mereka akan menggunakan Nuclear Cells untuk melenyapkan Humophage.”

“Bagi gadis ini sekarang…. Humanoid tidak boleh berubah menjadi Humophage. Semua Humophage lebih baik lenyap, untuk menghilangkan kemungkinan buruk tentang eksistensi manusia yang ada dalam benaknya.”

“Apa lagi yang perlu kujelaskan tentang benak gadis ini?”

Siapa itu? Siapa Humanoid yang—

“….Voice 07 hanya diciptakan 2 unit. Dan mereka punya kemampuan mengetahui pikiran manusia dengan melihat gelombang yang dipancarkan dari tubuh manusia tersebut….”

Ten?

Humanoid yang dibicarakan Yuta itu?

Pasti dia. Memangnya siapa lagi yang bisa membaca pikiran manusia selain Humanoid yang diceritakan Yuta atau manusia dengan kemampuan supranatural yang sudah tidak ada sejak awal berdirinya Negara Tunggal?

“Yeri…. Kau benar-benar berpikir seperti itu?” aku tersentak saat Baekhyun bicara.

Apa Ia benar-benar berpikir seperti Yuta? Ia juga akan menyerangku seperti yang Yuta lakukan? Karena baginya sekarang aku—

Yuta tertawa pelan, menghentikan pemikiranku. “Lihat? Kau kira Humophage mana yang akan mengizinkanmu dan pemikiranmu tetap ada?” ucap Yuta.

“Baekhyun…. Aku tidak—”

“Untuk apa semua perjalanan ini jika nyatanya kau sama saja seperti Sentry yang ingin melenyapkan kami?” Baekhyun berucap.

Oh sungguh, aku ingin melihat wajahnya untuk menghilangkan ketakutanku. Aku ingin mengatakan padanya betapa aku ingin melihatnya bebas, tapi aku begitu takut membayangkan bangsaku, termasuk aku, akan mati ditangan bangsanya yang lain. Aku takut saat manusia akan punah.

Aku ingin mengatakan padanya betapa aku merasa bersalah karena sudah menemukan pikiran dan kesimpulan seperti itu. Tapi aku akan lebih merasa bersalah jika aku tak menyadari semua ini, atau jika aku menyadarinya setelah semuanya terjadi.

“Ia berlari kesini untuk menemuimu Baekhyun, Ia ingin melihatmu, tapi Ia takut kau berpikir sama dengan Yuta, ingin melenyapkannya. Dan Ia tidak ingin itu terjadi.”

Ten lagi-lagi berucap, pasti dia.

“Kenapa? Kau tidak ingin aku melukaimu seperti yang Yuta lakukan? Tapi kau tidak tahu jika pemikiranmu sungguh membuatku kecewa, Yeri-ah?”

Aku tergelak mendengar ucapan Baekhyun. Kecewa? “Kau robot Baekhyun…. Kau tak bisa merasa kecewa.”

“Aku robot yang sekarang bisa berpikir sendiri dan memiliki kontrol atas tubuhku sendiri.” ucapan Baekhyun berhasil membuatku tersentak.

Pembicaraan bodoh seolah terulang antara aku dan Baekhyun. Hanya saja, dulu aku yang berkeras bahwa Ia bisa merasakan emosi, tapi sekarang…. Baekhyun yang mengakuinya.

“Kau robot Baekhyun…. Kau hanya seorang robot….” lirihku.

Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku tak ingin Ia menjadi Humophage karena pada akhirnya Ia hanya akan bergabung bersama yang lainnya untuk membunuh manusia. Aku tak ingin melihatnya membunuh manusia. Aku tidak ingin….

“Aku bukan robot Yeri…. Aku Humophage sekarang, dan Humophage…. menyerupai manusia.” aku memberanikan diri menatap Baekhyun, walaupun artinya aku membiarkan pedang Yuta kembali melukai leherku.

“Kau sekarang bahkan menerima kenyataan itu….”

“Tidak semua Humophage akan berpikir seperti tuduhanmu Yeri, kau begitu mudah menuduh seseorang.”

“Memangnya ada makhluk didunia ini yang ingin dilenyapkan?” tanyaku, enggan mengalihkan pandanganku dari sosok yang selama beberapa hari ini telah melindungiku.

“Kami memang tak akan berhasil dilenyapkan, bahkan oleh Sentry sekalipun.” ucap Baekhyun membuat hatiku mencelos.

Ia sama seperti Yuta.

“Dia berpikir kau sama seperti Yuta.” aku menatap pemuda disebelah Baekhyun, Ia menatapku…. dingin, satu hal yang membuatku sadar Ia berbeda adalah karena lingkaran logam nano dimatanya terkadang menghilang.

“Aku dan Yuta memang sama. Kami diciptakan dari komponen yang sama, dan kami sekarang sama-sama Humophage.” ucap Baekhyun membuatku mengalihkan pandangaku, menciptakan luka lainnya dileherku.

Kata Humophage kembali mengingatkanku pada kehancuran yang menanti didepan mata.

“Kau tak bisa jadi sepertinya….” lirihku.

“Kenapa?” tanya Baekhyun.

Alasan yang bahkan tak berani kupikirkan untuk saat ini. Aku tak ingin…. Ia mengetahuinya.

Aku melirik Ten. Ia menyernyit mendengar pikiranku.

Memangnya manusia harus selalu memikirkan apa yang mereka tidak ingin katakan? Kami juga bisa menyembunyikannya saat kami tidak ingin.

Aku tak ingin Ia menelanjangi pikiranku, mengungkapkan semuanya pada Baekhyun disaat yang tidak tepat. Alasan yang hanya akan membuat keadaan semakin keruh disaat seperti ini.

Pikiran ini sebaiknya bekerja sama denganku bukan?

Aku kembali merasakan leherku tergores saat aku menggerakkan kepalaku. Sungguh, Yuta ingin aku mengiris sendiri leherku?

Masa bodoh. Aku tak lagi peduli. Luka-luka kecil ini dibandingkan dengan kematian seluruh bangsaku didunia? Perang itu….

Entah mengapa kematian lebih awal terdengar menyenangkan.

“Bunuh saja aku Yuta.” ucapku akhirnya.

“Jangan, kematian memang jadi keinginannya.” Ten, pasti.

“Kenapa kau tidak berjalan dijalan yang sama denganku…. Yeri-ah?” aku ingin kembali menatap Baekhyun, tapi mungkin leherku tiba-tiba saja akan terpotong karena aku sedari tadi membiarkannya tergores.

“Aku tidak bisa Baekhyun-ah.” akhirnya aku berucap.

“Kenapa? Aku bahkan selalu berada di sisi yang sama denganmu. Kenapa sekarang kau seperti Sentry? Ingin melenyapkanku?” apa Baekhyun kecewa? Apa pendengaranku terganggu karena mendengarnya bicara dengan nada kecewa?

“Lalu apa yang kau tunggu? Kenapa tidak bergabung bersama Yuta untuk membunuhku?” aku memandang Baekhyun, dan kusadari Ia sedari tadi menatapku. Dan saat tatapan kami bertemu…. untuk pertama kalinya aku menemukan luka di mata yang seharusnya dingin itu.

Ia… tidak seharusnya seperti ini.

“Bagaimana mungkin aku bisa membunuhmu Yeri-ah?”

Tentu saja Ia bisa. Ia punya kekuatan yang tak akan bisa kulawan, dan Ia…. punya sekutu. “Kenapa tidak? Aku sama seperti Sentry. Aku ingin kalian semua lenyap. Apa alasan yang membuatmu tidak bisa melakukannya Baekhyun? Kenapa kau bilang kau tak bisa membunuhku?”

Baekhyun terdiam beberapa saat sebelum Ia akhirnya bicara. “Karena aku ingin melindungimu. Dan aku akan selalu melindungimu, bahkan jika itu artinya aku harus melenyapkan Humanoid lain untuk melindungimu. Aku tak ingin kau terluka Yeri-ah, aku…. takut melihatmu terluka.”

Jantungku seolah melompat dari persinggahannya saat mendengar ucapan Baekhyun. Ia merasa takut. Hal yang tak pernah diterimanya selama ini.

Tapi kenapa sekarang? Kenapa Ia harus menyadarinya saat aku bahkan tak ingin berada disisinya lagi? Saat aku sadar bahwa aku tak seharusnya bersama dengannya? Bahwa takdir paling benar bagiku adalah mati terbunuh saat Pembersihan?

Pembersihan.

Ah, entah mengapa mengingat hal itu sekarang membuatku merasa rindu. Aku terlalu terlena pada kehidupan yang kunikmati selama beberapa hari ini tanpa merasa khawatir sedikitpun, tanpa aku merasa curiga sedikitpun.

“Tidak Baekhyun….” aku akhirnya berucap, “aku tak membutuhkan perlindunganmu.”

Sudah cukup Yeri, sudah cukup kehidupan indahnya.

“Yeri, jangan berkata—tidak!!”

Ucapan Baekhyun terhenti saat aku bergerak menyerang Yuta, membuat Yuta secara tak sengaja menggunakan pedangnya sebagai perlindungan diri dan—

SRAT! BRUGK!

Aku pernah merasa lebih sakit daripada ini. Aku pernah merasakannya. Rasa sakit ini sama sekali tidak sebanding dengan saat ketika aku—

“Yeri! Tidak! Apa yang sudah kau lakukan!?”

Aku bisa merasakan Baekhyun merangkulku, erat, sementara aku sudah tak bisa merasakan sebagian tubuhku. Kali ini kurasa kematian terjadi dengan lebih cepat. Aku mulai kesulitan bernafas, satu sisi perutku terasa sangat sakit.

“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati.” ucap Baekhyun, lengannya bergerak, kurasa untuk menolongku, tapi aku menahannya.

“….Apa kau tidak merasa aneh karena jatuh cinta pada Humanoid?”

“Humanoid itu…. kau menyukainya?”

“Aku tidak jatuh cinta padanya. Lagipula dia bukan manusia.”

“….kenapa kau tidak sadar kalau kau jatuh cinta pada Humanoid itu, Yeri?”

Ucapan Dahyun terngiang dalam pikiranku saat melihat wajah Baekhyun dalam jarak sedekat ini. Dahyun benar. Entah itu kebohongan, atau karena Ia benar-benar melihatnya dalam diriku, tapi Ia benar.

Aku menyukainya, karena Ia sudah menyelamatkan hidupku, karena Ia membuatku merasa aman, karena Ia melindungiku, karena Ia membuatku bisa merasakan kehidupan.

Karena Ia membawaku ke dalam kehidupan yang tak pernah kuduga. Karena Ia membuatku merasakan hal yang tak masuk akal. Dan karena semua itu…. aku merasa seolah tak bisa melanjutkan hidupku tanpanya.

Apa gunanya semua itu saat aku tahu Ia akan jadi senjata pembunuh bangsaku? Yang berarti juga kematianku?

“Aku…. ingin mati Baekhyun-ah….” aku berusaha, benar-benar berusaha untuk membuat suaraku terdengar walaupun aku tahu seluruh organku perlahan melumpuh.

“Biarkan aku mati….”

                           ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

“Aku… ingin mati Baekhyun-ah…”

“Biarkan aku mati…”

Seluruh sistemku seolah hang saat Yeri berucap seperti itu. Aku tidak tahu mengapa. Tapi ucapannya sungguh menggangguku.

“Yeri…”

Ia memejamkan matanya. Dan aku tak lagi menemukan tanda vitalnya. Ia mati. Untuk kedua kalinya Ia mati dihadapanku.

“Yuta!”

Tanpa bisa kucegah aku bergerak menyerang Yuta. Melemparkan pukulan-pukulanku padanya. Kuhempaskan Ia ke tanah berulang kali sementara Ia diam menerima pukulanku.

“Kau membunuhnya!” teriakku tanpa bisa kucegah

Seluruh sistemku terasa memanas, seolah rusak saat aku tak lagi menemukan tanda vital Yeri.

“Baekhyun,” kudengar Ten berucap, tapi aku masih begitu tak ingin membiarkan Yuta tidak menyesali perbuatannya. “Kau sudah membunuhnya.” ucapku tajam, aku menahan Yuta ditanah, tatapanku sekarang tertuju pada chip berwarna merah yang tertancap dibagian belakang telinganya.

Prosesor.

“Tidak Baekhyun. Gadis ini tidak mati karena Yuta. Dia akan mati jika kau tidak menghidupkannya kembali.” aku menatap Yeri, tubuhnya yang terbaring pucat sementara darahnya masih mengalir keluar dari luka di perutnya.

Limfanya pecah, dan ginjalnya rusak. Jantungnya memar.

“Sudah kukatakan aku akan menghancurkan prosesormu jika kau melukainya bukan?” ucapku pada Yuta. “Dia bahkan bukan Ownermu!” ucap Yuta balas menatapku. Kilatan nano dikedua matanya mulai memudar. Satu atau dua serangan lagi kuberikan padanya Ia akan blank.

Tapi ucapannya seolah memperingatkanku. Yeri bukan Ownerku. Kenapa aku merasakan ketidak stabilan ini saat melihat kematiannya?

“Terkadang aku merasa tak ingin semua ini berakhir, aku senang setiap kali kau berkata kau akan melindungiku. Aku… sangat senang karena kau akan melindungiku.”

Rekaman ingatanku sangat kuat tentang ucapan Yeri.

Aku bahkan bisa dengan jelas melihat wajah Yeri yang tersenyum, dengan kedua pipinya yang memerah karena suhu dibawah 6 derajat saat itu, dan saat air mata membasahi wajahnya ketika Ia bicara.

Aku tahu ketidak stabilan yang Ia rasakan. Aku memahaminya.

Aku hanya tidak bisa berkomentar yang tepat pada ucapannya.

“Aku sudah berjanji akan melindunginya.” ucapku sambil kembali menatap Yuta.

Yuta tertawa kasar. Aku tak mengerti bagaimana Ia bersikap seperti manusia seperti yang sekarang dilakukannya, tapi Ia benar-benar membuat sistemku memanas. Aku menyarangkan satu pukulan lagi diwajahnya. Tidak. Tidak hanya satu. Berulang kali. Sampai aku tak mendeteksi kinerja sistemnya lagi.

“Sentry akan memburumu jika sistemnya hancur.” Ten berucap.

“Aku tidak peduli.”

Aku meninggalkan tubuh Yuta, dan melangkah ke arah Yeri. Segera kujalankan scanning systemku pada tubuhnya.

Sial. Aku terlalu lama berurusan dengan Yuta.

Sekarang kerusakan tak hanya terjadi pada jantung dan ginjal juga limfa nya. Tapi pada paru-parunya yang dipenuhi liquid, dan kinerja ototnya mulai lumpuh karena tak mendapatkan oksigen.

Otaknya belum terkena efek apapun, tapi aku hanya punya waktu kurang dari dua menit untuk menyelamatkannya. Aku segera mempertemukan kedua telapak tanganku dengan milik Yeri, dan kubiarkan serat nano-ku keluar, menjelajahi setiap kerusakan ditubuhnya.

“Kurasa gadis ini bilang Ia ingin mati.” komentar Ten.

“Lalu karena Ia menginginkannya aku harus membiarkannya mati?”

“Baekhyun, dia tak lagi berpihak padamu, untuk apa kau menyelamatkan hidupnya?” tanya Ten membuatku tersentak.

Yeri tak lagi ingin bersamaku. Ia membenci Humophage sekarang.

Tapi, aku tak bisa membiarkannya mati.

Tak sampai satu menit, seluruh sistem tubuhnya telah pulih. Ia akan terbangun dalam beberapa jam. Kuharap penyembuhanku kali ini berhasil seperti dulu, saat Ia pertama kali muncul dihadapanku.

Ugh…”

Yuta terbangun. Aku yakin Ia akan mengalami kerusakan sistem, tapi aku tak peduli. Aku tak lagi ingin peduli pada keadaannya. Keadaan gadis dihadapanku ini jadi prioritas dalam sistemku.

“Kau menghidupkannya kembali.”

“Diam sebelum aku benar-benar menghancurkan prosesormu.”

Yuta tertawa, walaupun tawanya terdengar kaku, pelacak frekuensi suaranya pasti mengalami gangguan. “Kau tak akan menghancurkanku, aku yakin itu, bagaimanapun, kita dipihak yang sama bukan?”

“Tidak lagi. Jika sesuatu terjadi padanya, kau akan jadi musuhku dan harus kulenyapkan.” sahutku tak menyembunyikan kemarahan yang masih ingin kuluapkan pada Yuta.

“Katakan kau tidak serius dengan ucapanmu.” kali ini Suho, Humanoid lain yang kutemukan di Marseille, berucap. “Aku serius. Dan aku akan membuktikannya.” ucapku sambil mengangkat tubuh Yeri ke dalam gendonganku.

Jantungnya sudah bekerja normal, dan perjalanan ini harus diteruskan.

“Aku akan mencoba membunuhnya lagi.” ucap Yuta.

Aku menatapnya. Menyadari ada yang salah pada Yuta. Hal yang membuatku merasa ingin menertawainya, ingin menghinanya.

“Kau merasa bersalah karena membuatnya terbunuh. Mulutmu mungkin berbohong layaknya manusia, tapi sistem mu tidak. Kau tidak sadar? Tangan kananmu gemetar. Kau takut, Yuta. Kau takut karena sudah melukai seseorang sementara kau tak benar-benar ingin melakukannya.”

Yuta menatap tangannya, dan seperti nya Ia tersadar bahwa tangannya bahkan merasa bersalah karena tindakan yang baru saja Ia lakukan, sungguh tidak stabil.

“Aku punya perlengkapan medis lebih lengkap di truk milikku.” gadis mungil yang ada disebelah Suho berucap.

Sana. Gadis jepang itu seorang Outsider, dan menemukan Suho, seorang Humophage, sehingga Ia dan Suho menjalani peran yang sama sepertiku dan Yeri. Ah. Aku sudah merasa sepi karena tidak mendengar suaranya selama beberapa menit.

“Kita akan ke Barcelona.”

                           ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku mengulang-ulang memory-system ku sedari tadi. Rekaman semua celotehan Yeri selama beberapa hari terus ter-play seperti secara otomatis aku memprogramnya.

Tawanya. Ekspresi takutnya. Kecemasannya. Kecurigaannya.

Air mata nya…

Aku menekan pelipisku, ingin memblock ingatanku tentang tangisannya. Aku merasa tak nyaman melihatnya menunjukkan ekspresi sedih, kecewa, bercampur marahnya.

Tanpa sadar aku meraih lengan Yeri yang terbaring di kasur tipis disebelahku sementara beberapa obat-obatan masuk melalui selang transparan setebal setengah milimeter yang tersambung ke luka sayatan kecil di sisi ibu jarinya.

Aku… ingin merasakan jemarinya bergerak dalam genggamanku.

Walaupun tanda vitalnya selalu berubah tidak stabil saat aku menggenggam tangannya, melindunginya, aku tak ingin Ia terus berdiam seperti ini.

Aku sekarang bergerak menyentuh rambutnya, rambut pirang nya yang terasa lembut saat menyapu telapak tanganku. Aku ingat Yeri mengalami mimpi buruk saat kami ada di Metro, dan saat aku menyentuh rambutnya seperti ini… Ia berangsur-angsur tenang.

Sungguh membuatku merasa telah melakukan tugasku, melindunginya dari apapun yang membuatnya merasa terganggu.

Aku menyandarkan tubuhku dibesi tempat tidur tipisnya, sementara Ten mengemudi, Yuta ada di depan, bersama Ten. Suho, tampak melakukan hal yang sama denganku, menemani Sana yang tertidur pulas. Andai Yeri yang bersamaku sekarang hanya tertidur pulas.

“Kau tahu apa yang membuat Humophage tidak bisa dideskripsikan?” tanya Suho saat tatapannya bertemu denganku. “Kenapa?” ucapku memandang Suho.

“Karena menjadi Humophage, memungkinkanmu untuk memiliki emosi dan perasaan seperti yang manusia lakukan.”

Aku menyernyit.

“Benarkah?”

“Apa kau belum mengalaminya? Aku sudah menjadi Humophage selama dua tahun, saat itu aku bertemu Sana, Ia seorang Outsider yang lemah memang, tapi saat kerusakan terjadi padaku, Ia memberanikan diri untuk menolong. Kau tahu apa ingatan Humophage pertamaku?” tanyanya.

“Apa itu?” Suho tersenyum, dan tatapannya tertuju pada Sana sementara aku sadar Ia tengah menggenggam erat jemari gadis itu. “Wajah khawatir Sana. Saat Ia menatapku. Dan berbulan-bulan, aku tak bisa melupakan wajahnya, jadi aku mencarinya lagi.”

“Kenapa kau mencarinya?” ucapku sedikit tak memahami ucapannya.

“Aku merindukannya.”

“Apa?” aku terkesiap, rindu? Perasaan manusia itu?

“Ya. Rindu adalah perasaan manusia pertama yang kurasakan. Dan sejak saat itu, aku tak bisa seharipun tidak melihat wajah Sana.” ucapnya

“Setelah aku sadar aku bisa merasakan rindu, akhir-akhir ini aku sadar satu perasaan tidak masuk akal manusia sudah terjadi padaku.” ucap Suho lagi.

Seolah rindu bukanlah hal tidak masuk akal baginya, sekarang ada hal lain?

“Perasaan apa itu?” tanyaku.

“Mencintai.”

Aku tak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun. Cinta? Kata yang bahkan tak sanggup dideskripsikan oleh ilmuwan-ilmuwan ternama manusia?

“Kurasa ada yang salah denganmu.”

“Tidak ada yang salah denganku. Selama dua tahun ini, aku sudah menjalani hidupku hampir seperti manusia. Dan rasanya menyenangkan, ketika bisa bersama dengan Sana, aku merasa senang.

“Apa kau tidak sadar? Kau juga merasakan hal yang sama pada gadis itu.”

Aku menyernyit.

“Apa yang sekarang kau bicarakan?”

“Apa ingatan pertamamu saat menjadi Humophage?” tanyanya.

Aku terdiam sejenak.

“Aku tidak yakin apa aku menjadi Humophage dihari pertama chip ku aktif kembali. Tapi hari itu… aku terbangun karena Yeri. Ingatan pertamaku… adalah wajah kesakitannya saat Ia tengah menghadapi kematian.”

Suho tertawa pelan.

“Sekarang aku mengerti kenapa kau tidak ingin melihatnya terluka.”

“Apa?” aku menatapnya tak mengerti. Sementara Suho tersenyum, tatapannya begitu yakin dan tegas seolah ia tahu segalanya.

“Karena ingatan pertamamu adalah kematiannya. Itu membuatmu secara tidak langsung tak ingin melihat keadaan itu lagi. Seperti aku yang tidak ingin melihat wajah khawatir Sana, kau sangat takut saat tadi melihat nya mati bukan?”

“Tindakanmu melindunginya bukan hanya karena kau sudah berjanji akan melindunginya, tapi karena kau tidak ingin melihatnya terluka dihadapanmu. Kau juga begitu marah karena Yuta melukainya. Kau menghidupkannya bahkan saat Ia menginginkan kematian.”

“Dan kediamanmu sedari tadi pasti kau tengah mengenang waktu-waktu yang sudah kau habiskan dengannya bukan? Itu adalah perasaan rindu. Kau merindukannya.”

“Melihat keadaanmu sekacau ini karena Ia belum terbangun… Aku cukup yakin mengatakan bahwa kau juga akan mengalami hal yang sama denganku, jatuh cinta pada manusia.”

“Tidak.” ucapku cepat, tersentak akan penjelasan tak masuk akal yang baru saja kudengar, “kita robot. Kita tak bisa merasakan perasaan seperti yang manusia rasakan.” sambungku.

“Kita bukan robot. Kita Humophage.”

“Ini tidak mungkin.”

“Kau mungkin sedikit lambat menyadarinya karena kau tak menerima perasaan manusia semacam itu, tapi gadis itu pasti sudah menyadarinya.”

“Menyadari apa?” tanyaku.

“Bahwa Ia membutuhkanmu bukan hanya karena kau akan melindunginya, tapi karena Ia tak ingin jauh darimu. Dia merasa takut melihatmu berbuat kasar seperti yang Yuta lakukan karena Ia tidak ingin membuatmu terlihat buruk dalam ingatannya.”

“Ia juga memilih ingin mati karena Ia berpikir kau juga akan membunuh manusia pada akhirnya. Dan Ia tidak ingin melihatmu membunuh manusia. Ia tidak ingin melihatmu sebagai sosok yang buruk. Caranya menatapmu juga berbeda, dan perubahan tanda vitalnya setiap mendengar kalimat yang terucap dari mulutmu… Apa kau tidak pernah menyadarinya?”

Aku tersentak.

“Kukira tanda vitalnya berubah karena dia—”

“Perasaan itu juga tidak bisa kalian berdua deskripsikan. Gadis ini bahkan mungkin menentangnya. Karena Ia begitu takut. Tapi coba kau ingat kembali, kau pasti sering mendapati tanda vital gadis ini berubah drastis saat ada sesuatu terjadi padamu… atau kau lakukan.”

“Saat kau memegangnya, saat kau menatapnya, saat kau bicara padanya… Apa tak pernah sekalipun tanda vitalnya berubah tidak stabil saat itu?” ucap Suho.

Aku memutar kembali semua ingatanku bersama Yeri.

Ya. Ada.

Ada begitu banyak saat ketika tanda vital Yeri berubah drastis karenaku. Karena aku bicara, karena melihatku, karena aku menggenggam jemarinya… karena tatapan kami terlalu lama bertemu.

“Gadis itu jatuh cinta padamu, Baekhyun.”

“Tidak.” aku menggeleng keras, “Ia tidak boleh jatuh cinta pada robot. Perasaan cinta hanya bisa dialami oleh dua orang manusia.” Suho tertawa pelan mendengar ucapanku.

“Kau pikir hal yang sama akan berlaku saat dunia seperti ini?”

“Apa maksudmu?” aku menatap Suho.

“Kau yang seorang robot, bisa merasakan perasaan itu pada seorang manusia. Dan Ia juga merasakan hal yang sama. Kau tahu apa yang berbeda? Karena kau tidak punya tanda vital seperti yang Ia miliki.”

“Jika kita… para Humophage, para robot, mempunyai tanda vital seperti manusia… bukankah kita tak akan disebut robot?”

Aku bungkam mendengar ucapannya.

“Walaupun keadaan ini menyedihkan. Walaupun terdengar tidak masuk akal. Lebih baik kau dengarkan ucapanku, gadis itu, ingatan tentangnya tak akan bisa kau lupakan bahkan jika prosesormu hancur.”

“Karena bukan prosesormu, atau chipmu yang memiliki ingatannya. Tapi perasaanmu. Kau memiliki perasaan sekarang. Ingatlah itu Baekhyun.”

Aku menggeleng. Dan menatap Yeri sekali lagi. Tidak mungkin…

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Biarkan perasaanmu mengalir. Biarkan perasaan itu menjadi bagian dari dirimu yang baru. Maka kau akan merasakan hal yang kurasakan bersama Sana.”

“Jadi kau dan Sana saling mencintai. Itu yang ingin kau ucapkan?” tanyaku sambil menatap Suho. Sementara ia membalasku dengan senyum. “Kau dan Yeri juga bisa merasakan hal yang sama.”

“Maksudmu… Aku dan Yeri… Bisa saling mencintai?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

71 tanggapan untuk “One and Only – Slice #12 — IRISH’s Story”

  1. ini mata udah pedes tapi masih ttep kepo dengan mereka..it pas yeri mati rasanya nyesek bgt liat baek smp ngamuk gituuuu 😦
    irish sungguh terlaluuuu

  2. x ni bneran kluar tears /wlw cm dikit & buru2 diseka dg tissue/1xan lap belek jg/ itu penjabaran’ny suho bs lancar & detail gitu /pdhl br jg dy nongol discene ini br bntr, tp dah ky tmn lama yg sngt pengertian/ masuk bgt sih suho dg pran’ny disini, jd smcm pnasehat gitu. iyah, dunia aja udah jd aneh bgitu, jd klo antar human & humanoids bs slng fall in love ya.. ga kan seaneh yg udah dunia mrk alamin kan?! /apasih Kaz? gaje!/ yah.. pkk’ny spt yg Irish jabarin diatas itu lho, gitu deh mksd’ny. suka pas baek mukulin yuta, itu sngt ‘manusia’ bgt!! 😀 adrenalin rush..!! semoga organ2 vital yeri cpt pulih biar bs ksh sinyal2 cinta lg pas dah siuman nanti 🙂

  3. aaah syudah kuduga YUTAKU emang jahaaad!!!aaah yuyut mah gitu orangnya…
    yeokshi uri leader emang jjang suholang bisa jatuh cintrong juga yah.woahh karakter suholang bener” kek di real
    aah bebek kau mencintai.yeoja lain selain istrimu ini??ckkk

  4. Huwaa , kak irish kenapa air mataku dengan mudahnya mendobrak keluar padahal cuma baca doang ..huhuhu Sedih banget liat yeri.. kenapa si baek gak peka2 sih.. ternyata humanoid or humanpage telmi ya., pake kartu apa sih kok loading mereka lama,. Maap kak kalo kata2ku menyinggung.. Mian kak irish

  5. Keren ya dedek piton. Betewe aku juga mau rish kalau pikiranky dibaca dedek piton. Yakan kalau aku males ngomong gak perlu maksain buat ngomong. Betewe (2) dedek piton gk terlalu imut buat dijadiin voice 07.

    Sek sek, suho boleh dijadiin leader hidupku gk? Saoloh dewasanya itu loh….

  6. ya ampun ini bener2 menyedihkan! Hwaa aku mewek 😥 eoni mengapa akhir2 ini ffmu yg ini bikin aku nangis 😥 hwaa ini bener2 ff TOP BGT

  7. Waaah.. kak kenapa ff’mu keren keren?? serius deh, bikin aku baca berulang kali. apa mereka akan saling mencintai? huah.. bikin aku mati penasaran ama kelanjutannya *alaybanget XD XD XD ditunggu selalu lah kak next chap’nya. semangat ya kak. XD XD

  8. Uaaa~ aku telat baca!!! padahal waktu itu kesel banget gara gara gak baca giftnya kak IRISH -_- jadi gak bisa baca lanjutannya kan…

    Wahh.. kalau misalnya memang ada pihak manusia lain yg nyiptain humanoid terus dijadiin humophage untuk memusnahkan manusia lain jadi gak adil untuk humanoidnya juga ya 😦 aku jadi mikir mikir lagi mau ngebenci sentry atau gak nih -,-

    Kenapa yerinya gak ngasih tau alasan kalau humophage itu gak boleh ada? Jadinya mati kan!! Gak apa apa yuta~ kamu gak salah (?) aku masih sayang kamu kok:*

    SANAAAA!!!! Aaaaa!! Dia muncul di FF kak IRISH:*:*:* cerita dia sama suho hampir sama kayak baekhyun yeri >_< lopelopee~

    Next kak!! Ditunggu :*

    1. huahahaha kamu telat baca? XD gapapa lagi satai ajaaa XD wkwkwkwk aduh mereka gimana gimana kalo kata kamu? XD benci aja sama sentry benci aja XD cielah yang mendukung yutaa XD wkwkwkwkwk aku emg munculin dikit2 member TWICE disini XD wkwkwk btw aku udah bales komen kamu 2 hari lalu tp ternyata gamasuk krn koneksi huhu~

  9. kak irishhh… ini yang paling aku tunggu.. walaupun kemarin udah baca… tapi tetep aja … pengen baca lagi… hehe.. ahh penasarann slice selanjutnya … ungghhh yeri.. kasian gitu bayanginnya.. ihh baekhyun nggak sadar ya kalau itu cinta.. untung aja ada suho.. yang mau berbaik hati ngasih tau… yaahhh aku tunggu lho kak slice selanjutnya… ini udahh penasaran akut.. semangat…!!!! 🙂

    1. XD kamu nunggu inihh wkwkwkw padahal abnormal begini ada aja ya yang mau nunggu wkwk XD aduh iya akhirnya si baek sadar juga sama perasaannya XD wkwkwk thanks banget udah nyempetin baca dan komen XD

  10. Yang ku tunggu ku tunggu ku nanti nanti, akhirnya kembali😍 Kyaaaa!!!! Kak Irish kangen aned ma ni efef… Baekki.. Akhirnya lo peka juga kalo punya rasa ma si yeri😍 Thanks buat Suho yg menyadarkan si baekkk… kkkkk~~~~ Keep Writing kak Irish!!! Semangat!!!

    1. XD menunggunya begitu lama ya hahahahahhaha XD aduh akujuga kangen sama semua komen2 kalian huhu, akhirnya baek sadar juga ke jalan yang benar XD wkwk thanks yaa

  11. Holkay bijak ihiyyyy :v
    Setelah sekian lama diri ini menunggu, akhirnya chapt 12 update jugaagagagaggagagag😆
    Vaiklah seperti biasa, update cepat yaa ka risshhh yang disini uda nyesek coz of venasaran stadium akhir hakshakss😂😂😭😱

  12. Walopun uda read di gift kemaren masi pen read lagi awkwak :v gasabaar nunggu next chapnya kak , ampe stay diblog kak irish mele wkwk :v next chapnya ditunggu kaak, fighting

  13. Huuaaa, daebak, air mata sama air hidung meler semua. Felk nya dpt bang
    Keren bgt chapter ini, akhirny stlh nunggu hmpir 1 bulan, updatr jg dan gk mengecewakan sama skli.
    Next chapter ya eoni, keep writing, fighting !! 😀

  14. So sweett bngddd, ahhhhh smpe lupa td mw coment app !! Pkokkny bguss dch kak, mkshh kak udh mw d.puplish heheheh 😀

    figthing kak :);) . Next

  15. HUUAAH mata sama idung balapan nangis T~T
    ~tisu mana tisu~ humophage juga (setengah) manusia, punya rasa punya hati :v /anggap saja ini nyanyi/ ~uwoo
    noh baek belajar dari ngkong suho yg lebih berpengalaman :v kkk~

  16. keren banget kak. 😀
    ih si baekk ngeyel banget si -_- udah dibilanng dia cinta sama yeri tapi tetep aja gamau ngaku. :v
    ditunggu chapter 13nya :*

  17. HHuuaaa 😥 kok tiba2 ada tulisan TBC sih, lgi tegang2nya jga..
    Tp seneng jga FF kesukaanku yg kedua stlh IL ini update… udh d tunggu berminggu2. Tp tak apalah klau balasanx sekeren dan sedaebak ini. DI TUnggu Next chapnya, cepetan dkt yah . Sarangheo nun, keep writing, and always healty. :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s