[EXOFFI FREELANCE] Dream

 

 

DREAM

Title : DREAM
Author: Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Bae Suzy (Miss A)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : +17
Length : Oneshot
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri.

 

 

 

~ Suzy Side ~

Kurasakan sebuah benda kenyal sedang mencumbu mesra seluruh wajahku, terutama bibirku. Entah kenapa mata ini sulit untuk membuka karena saking terbuainya aku akan cumbuan lembutnya. Lenguhan-lenguhan manja terus aku ucapkan tanpa aku sadari sama sekali.

Saat dia menjauhkan wajahnya, aku merasa hampa dan kecewa. Walaupun aku tidak membuka mataku tapi aku bisa merasakan sebuah mata sedang menatapku dalam yang berada di bawahnya. Sedikit demi sedikit aku membuka mataku untuk memandang wajahnya.

Seketika mataku membulat sempurna melihat siapa yang sedang mencumbu ku saat ini. Aku tidak mengenalnya, tapi aku merasa kalau dia adalah seseorang yang begitu dekat denganku. Dia bukan Myungsoo, tapi aku merasa jika aku ini adalah wanitanya dan saat ini aku tidak peduli siapa dia yang sedang mencumbuku karena aku begitu menyukai setiap perlakuannya padaku.

Selama beberapa saat kami hanya saling pandang. Mataku seperti dikunci oleh mata hitamnya. Kemudian dia tersenyum padaku dengan sangat mempesonanya. Dan entah kenapa aku juga ikut tersenyum ke arahnya.

Tangannya dengan halus membelai setiap inci dari wajahku. Kembali aku menutup mata guna menikmati setiap sentuhannya. Kurasakan dia tersenyum bahagia melihat responku pada setiap sentuhannya.

“Kau sangat sempurna.” Katanya dengan suara seraknya yang menandakan bahwa gairahnya masih dipuncak. “Aku selalu memimpikan hari ini akan datang.” Tambahnya yang mana membuatku kembali membuka mata dan tersenyum padanya.

“Mau kah kau menikah denganku, Bae Suzy?” pintanya sambil menatapku dalam tapi aku tidak merespon sama sekali. Aku hanya terdiam memandangnya, tidak tahu harus menjawab apa. Aku kembali teringat akan pertunanganku dengan Myunsoo, tapi entah kenapa aku tidak bisa menolaknya sama sekali hingga akhirnya ku anggukkan kepalaku tanda setuju akan permintaannya mengabaikan statusku dengan Myungsoo.

“Ya, aku mau.” Jawabku sambil tersenyum bahagia kepadanya, kulihat dia juga tersenyum sama bahagianya denganku.

“Terima kasih. Aku berjanji akan menjagamu selamanya.” Jawabnya dan setelah itu dia kembali mencumbu diriku yang aku terima dengan senang hati.

Saat ku buka mata kembali, aku sudah berada di sebuah taman yang sudah di dekorasi untuk sebuah pesta pernikahan dengan beberapa meja bundar putih lengkap dengan kursi putih yang mengelilinginya. Kutolehkan wajahku ke samping kananku, dan terlihat seorang pria muda dengan stelan jas berwarna putih dengan rambut pink yang dia naikkan ke atas sedang tersenyum padaku. Menggenggam erat tanganku yang tersampir pada lengannya.

Saat ku lihat tampilanku, ternyata aku sudah memakai sebuah gaun pengantin tanpa lengan dengan hiasan beberapa untaian berlian di bagian atas dari gaunku. Bagian bawah gaunku berbentuk bunga yang bertumpuk-tumpuk membentuk sebuah gelombang yang indah hingga menjuntai ke bawah sampai menutupi kedua kakiku.

Rambut coklatku di kepang satu di punggung dengan beberapa helai dari rambutku menjuntai keluar sedikit dari kepanganku, dan sebuah mahkota dari bunga melingkari kepalaku.Sebuah anting berlian agak panjang berbentuk bunga aku kenakan saat ini.

Aku sedikit heran dan bingung dengan tampilanku saat ini, tapi saat melihat wajahnya yang sedang tersenyum sayang padaku, semua rasa keluh kesahku hilang sudah. Tapi bukankah aku tadi sedang memadu kasih dengannya? Lantas kenapa sekarang aku sedang berada di sebuah pesta pernikahan? Aku bingung, tapi aku tidak mempedulikannya.

Dia memapahku untuk mulai berjalan menuju ke altar yang sudah disiapkan. Saat ku lirikkan pandanganku ke segala arah, bisa kulihat semua orang yang mengenalku sedang tersenyum bahagia ke arah kami berdua.

Kulihat appa dan eommaku menetaskan air matanya melihat puteri mereka yang sebentar lagi akan diambil oleh orang lain untuk menggantikan perannya selama ini. Begitu sampai di depan altar, kami langsung mengikat janji setia seumur hidup kami. Namun, saat pendeta mengucapkan nama dari pria yang akan menjadi suamiku ini, aku sedikit tersentak. Byun Baekhyun? Benarkah pria yang ada di sampingku dan sedang mengucapkan sumpah dan janjinya padaku ini adalah Byun Baekhyun teman sekelasku dulu?

Tapi bukankah dia termasuk orang yang aneh? Aneh dalam hal segalanya, tampilannya, sikapnya, cara berbicaranya, sampai pikirannya pun aneh, menurutku. Tapi sekarang aku bisa melihat dia dari sisi yang berbeda dan entah kenapa aku tidak mempedulikannya. Sifat anehnya yang dulu tidak aku pikirkan sama sekali.

Lamunanku buyar saat Baekhyun dan pendeta memandangku bingung. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan karena terlalu lama melamun? Itu mungkin saja. Kemudian pendeta bertanya kembali padaku tentang kesiapanku untuk menjadi isterinya Baekhyun.

Tanpa pikir panjang, aku menjawab iya, karena kata itu satu-satunya yang sekarang ini terlintas dipikiranku. Kemudian aku mengucapkan sumpah dan janji setiaku padanya sebagai isterinya. Setelah mengucapkan janji setia sehidup semati kami, kemudian kami berciuman. Kami berciuman cukup lama sampai aku tidak ingat kalau sekarang aku sudah tidak di altar tempat kami melangsungkan pernikahan tadi.

Aku sekarang berada di sebuah kamar pengantin mewah dengansebuah kasur king sizeberada di tengah-tengah kamar. Walaupun keadaan kamar ini remang-remang tapi aku masih bisa melihat taburan kelopak bunga mawar merah di atas seprai warna putihnya. Tercium aroma terapi yang menyegarkan dari lilin-lilin yang berada di setiap penjuru kamar. Ku rasakan sebuah tangan memelukku dari belakang.

“Kau suka?” Tanyanya sedikit berbisik ke arah telingaku yang membuatku sedikit bergidik geli karena perbuatannya. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dan tersenyum melihat kejutan yang dia berikan padaku saat ini.

Tanpa aba-aba Baekhyun langsung menggendongku menuju tempat tidur, rasanya sangat sayang jika harus tidur di atas hamparan kelopak mawar ini. Dia merebahku dengan lembutnya, kemudian menindihku sambil tersenyum bahagia.

Entah sudah keberapa kalinya pada hari ini aku melihatnya yang terus saja tersenyum bahagia padaku. Tanpa menunggu waktu lama lagi, kami kembali menyatukan cinta kami, berharap seorang malaikat kecil segera hadir untuk mengisi hari-hari kami ke depannya.

Saat ku buka mata, entah kenapa aku merasa jika usia pernikahanku dengan Baekhyun sudah berjalan lama. Dan saat ku lihat perutku yang buncit, sebuah perasaan bahagia segera melingkupiku. Ku elus sayang perutku, buah cinta aku dan Baekhyun. Perasaan tidak sabar ingin segera melihatnya lahir ke dunia ini sangat mendominasiku saat ini.

Dan tiba-tiba ku rasakan sebuah rasa sakit yang begitu sakit di bagian perutku ini. Aku hanya bisa berteriak kesakitan mencoba memanggil bantuan sebisa ku, tapi tidak ada yang datang sama sekali. Aku mencoba merangkak untuk turun dari tempat tidurku yang pada akhirnya malah membuatku jatuh tersungkur ke bawah.

Aku terus berteriak memanggil Baekhyun, agar dia segera datang padaku, tapi dia tidak kunjung datang. Tanpa terasa air mata sudah membasahi wajahku. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhku. Sakit. Bayiku terus mencoba mendorong untuk mencari jalan keluar. Kulihat aliran darah sudah mengalir dari bagian kewanitaanku tapi masih saja belum ada yang datang untuk menolongku.

Aku terus berteriak kesakitan tapi aku merasa jika suaraku tidak terdengar keluar sama sekali. Sekuat apapun aku berteriak meminta tolong tapi tidak terdengar apapun, suara ku hilang. Aku hanya bisa menangis, menahan rasa sakit ini. Ku pegangi perutku untuk meredakan rasa sakitnya, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali karena aku masih saja merasakannya.

Rasanya aku akan meninggal saat ini juga karena rasa sakit yang begitu menyiksa. Aku sedih karena Baekhyun tidak ada untuk menolongku. Aku sedih karena bayi yang berada di dalam kandunganku sedang tersiksa dan aku juga tersiksa. Aku sedih karena eomma maupun appa tidak ada di sampingku saat ini.

Aku merasa begitu sendirian saat ini. Aku masih saja menangis menahan sakit yang benar-benar tiada tertandingi. Sesaat pandanganku menjadi kabur, dan mataku sedikit demi sedikit terpejam. Aku sudah tidak merasakan pergerakan di dalam perutku untuk mencari jalan keluar. Aku tahu malaikat kecilku sudah tiada, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena ini kehamilan pertamaku.

Mataku begitu berat untuk terbuka lagi, tapi aku masih bisa merasakan air mataku yang terus saja berjatuhan di kedua pipiku. Baekhyun. Aku ingin Baekhyun saat ini. Aku ingin ayah dari bayiku saat ini. Tapi dia tidak ada. Ke mana dia? Baekhyun, di mana sebenarnya dirimu? Aku masih saja menangis walaupun kesadaranku perlahan-lahan mulai hilang.

Sampai kurasakan sebuah goncangan di kedua pundakku dan memanggil namaku, entah kekuatan dari mana aku bisa kembali membuka kedua mataku yang tadi terasa sangat berat buatku buka sekalipun. Saat mataku seutuhnya terbuka, ku lihat eomma berada di hadapanku dengan tatapan bingungnya padaku.

“Neo gwaenchana?” tanya eomma bingung padaku dan aku tidak kalah bingung dari eomma. Saat ku raba pipiku, kurasakan basah bekas air mata yang keluar dari mataku. Ku lirik eomma bingung. Ku edarkan pandanganku ke segala arah, ternyata ini masih di kamarku sendiri.

“Neo gwaenchana? Tadi kau berteriak-teriak kesakitan, dan saat eomma melihatmu kau juga sedang menangis. Kau mimpi buruk?” tanyanya lagi padaku yang masih tidak aku jawab sama sekali. Akh, jadi ternyata kejadian tadi itu hanya mimpi,tapi entah kenapa aku merasa jika itu benar-benar nyata dan rasa sakit kehilangan bayiku juga nyata.

Ku angat tangan kiriku, di jari maniskuterlihat masih tersemat sebuah cincin berwarna putih polos yang merupakan cincin pertunanganku dengan Myungsoo bukan sebuah cicin berlian bermata satu yang merupakan cincin pernikahanku dengan Baekhyun. Ternyata memang benar, jika kejadian tadi hanya mimpi. Ku penjamkan mataku untuk menetralkan detak jantungku yang entah kenapa berdetak sangat cepat padahal itu hanya mimpi.

“Ya! Kau benar baik-baik saja kan? Kalau kau merasa tidak sehat, lebih baik tidak ke sekolah dulu. Wajahmu sangat pucat.” Lanjut eomma yang membuatku membuka mata dan menatapnya.

“Aku baik-baik saja. Eomma tidak perlu khawatir, yang tadi itu hanya mimpi buruk saja, dan aku yakin nanti juga akan lupa sendiri.” Jawabku menenangkan eommaku dan kulihat dia hanya memandangku untuk mencari kebohongan dari ucapanku.

“Baiklah kalau itu memang mau mu. Myungsoo akan segera tiba, sebaiknya kau segera siap-siap. Eomma akan siapkan bekal makan siang kalian berdua.” Katanya pada akhirnya dan langsung meninggalkan kamarku begitu saja.“Kau yakin baik-baik saja?” tanyanya lagi saat dia sudah mencapai pintu keluar kamarku.

“Ne, aku baik-baik saja eomma.” Kataku dibuat seceria mungkin untuk menghilangkan rasa khawatir dari eommaku dan itu berhasil. Kulihat eomma menutup pintu kamarku dan aku kembali terdiam merenung. Sebenarnya aku masih terbayang-bayang akan rasa sakit karena kehilangan dari mimpikuitu. Tapi aku mencoba untuk menanamkan dalam pikiranku bahwa itu hanya sebuah mimpi buruk yang tidak terlalu memiliki arti apa-apa.

Setelah menenangkan perasaanku selama beberapa menit, aku segera bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk siap-siap ke sekolah. Seperti biasa, Myungsoo akan datang untuk menjemputku dan kami berangkat ke sekolah bersama.

Sebenarnya pertunangan kami atas dasar bisnis, tapi lama-kelamaan pada akhirnya kami saling jatuh cinta juga. Aku dan Myungsoo merupakan pasangan paling sempurna di sekolah. Myungsoo merupakan laki-laki paling tampan dan menjabat sebagai ketua tim basket sekolah, sedangakn aku merupakan wanita paling cantik di sekolah dan menjabat sebagai ketua paduan suara sekolah.Semua siswa begitu iri akan hubungan kami tapi aku tidak peduli akan rasa iri mereka pada kami.

Saat tiba di sekolah, aku dan Myungsoo berjalan berdua dengan aku menggandeng tangannya menuju kelas kami mengabaikan tatapan iri dari semua orang yang melihat kemesraan kami berdua. Kami berdua terus tertawa karena cerita lucu Myungsoo tentang kelakuan anggota klub basketnya saat merayakan pesta kemenangan mereka di kompetensi basket tingkat regional kemarin malam.

Tapi tawaku terhenti saat ku lihat sosok aneh itu sedang berjalan berlawanan arah dengan kami menuju ke perpustakaan, tebakku. Kulihat dia sedang sibuk membaca buku bacaan yang entah itu apa yang ada di tangannya. Rambut hitamnya dia biarkan menutupi dahi hingga sedikit ke matanya. Mata sipitnya dia bingkai dengan sebuah kaca mata bulat mirip tokoh Harry Potter. Kemeja sekolah dia kancingkan sampai ke leher dan ditutupi dengan sebuah dasi kotak-kotak dengan bergaris warna merah, emas, dan hitam.

Entah kenapa aku terus memperhatikannya sampai-sampai aku tidak terlalu fokus pada cerita yang sedang diceritakan oleh Myungsoo. Saat kami berpapasan sesaat kami saling pandang, aku bisa melihat manik mata hitam tegasnya yang entah kenapa membuatku kembali mengingat perasaan sakit dari mimpiku tadi malam, perasaan begitu kecewa karena Baekhyun tidak datang untuk menyelamatkanku dan bayi kami.

Walaupun Baekhyun yang ada di mimpiku dan dunia nyata berbeda, aku merasa mereka dua orang yang samadan aku benci itu karena selama ini aku belum pernah merasakan rasa sakit seperti yang aku alami di mimpiku itu hingga aku merasakan itu begitu nyata.

Aku palingkan wajahku kembali ke arah Myungsoo karena tidak mau terus terlarut akan perasaan sakit yang tidak beralasan sama sekali pada Baekhyun. Orang asing yang tiba-tiba saja datang ke mimpiku dan sekarang sudah berhasil membuat perasaanku sesak saat melihatnya. Sungguh konyol, sekolah saja belum lulus, bagaimana bisa aku sudah menikah dengannya dan memiliki anak darinya pula.

Aku bisa melihat Myungsoo masih belum menyadari perubahan perasaanku saat ini sesudah bertemu dengan Baekhyun tadi. Itu bagus. Kemudian aku kembali tertawa walaupun sebenarnya itu aku paksakan karena tidak mau terlarut perasaan asing yang saat ini aku alami untuk laki-laki lain.

 

~ Baekhyun Side ~

Di sana, di ujung koridor yang berjarak beberapa meter dari hadapanku, aku bisa melihatnya sedang tertawa bahagia bersama orang lain, walaupun sebenarnya aku berharap jika orang yang tertawa bersama dengannya itu adalah aku bukan dia. Sekali saja, ingin aku seperti laki-laki itu, walaupun itu hanya dalam alam mimpi. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi walaupun itu hanya dalam mimpi sekalipun.

Lihat saja tampilanku saat ini, benar-benar kuno. Tidak bergaya sama sekali. Sangat tidak pantas jika harus bersanding dengan seorang dewi sekolah. Bahkan hanya untuk jadi pelayannya saja, aku merasa sangat tidak pantas.

Saat kami berpapasan, entah inisiatif dari mana, aku mengalihkan pandanganku dari buku astronomi yang sedang aku baca untuk menatap manik matanya walaupun itu hanya sedetik sekalipun. Dan itu berhasil. Aku bisa melihat manik mata coklat almonnya yang juga sedang menatapku.

Deg.

Detak jantungku berdetak dengan kencangnya saat pandangan mata kami bertemu. Ini pertama kalinya aku bisa melihat dari dekat mata almonnya walaupun kami sudah sekelas selama hampir tiga tahun lamanya.

Walaupun baru hanya bisa bertemu pandang, tapi bagiku itu lebih berarti dari mendapatkan nilai matematika 100 sekalipun dan itu membuatku sangat bahagia. Bibirku tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum mengingat mata coklat almon itu, membuat seisi ruang perpustakaan bingung melihat sikap aneh dari seseorang yang aneh sepertiku.

Begitulah pandangan orang-orang terhadapku, walaupun termasuk orang yang paling pintar di sekolah, tapi tidak ada yang mau berteman denganku karena menurut mereka gayaku yang aneh. Sebenarnya aku juga ingin berubah tapi mengingat keuangan keluargaku yang serba seadanya aku harus mengurungkan niatku itu.

Mataku memang minus, dan kaca mata yang aku pakai saat ini saja adalah kaca mata bekas dari nenekku dulu. Begitu juga dengan seragam sekolah yang aku pakai saat ini, merupakan hasil dari kerja part time ku selama tiga bulan penuh.

Biaya sekolah di Kyunghee saja aku mengandalkan beasiswa siswa berprestasi yang aku berhasil dapatkan dengan susah payah pula. Jadi rasanya sangat tidak pantas orang seperti ku untuk menyukai seorang Bae Suzy yang merupakan dewi sekolah Kyunghee walaupun itu hanya dalam mimpi. Ya, itu merupakan sebuah expectasi mimpi yang sangat tinggi.

Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Menyukainya dari kejauhan. Menjaganya dari kejauhan karena sudah ada orang yang akan menjaganya dari dekat. Benarkah aku tidak pantas untuk mendapatkannya walaupun itu hanya di alam mimpi?

 

 

~ FIN ~

 

 

Apaan ini?? Aku sendiri ngga tahu. Ide ini muncul saat poster duetnya Baekhyun dan Suzy di publish. Aku harap ff ku ga sama jalan ceritanya dengan author lain yang ingin membuat jalan cerita dari poster duet mereka berdua. Cerita ini murni dari otakku ya. Baekhyun – Sena masih ada kok, ini cuma sellingan saja.

Alurnya kecepetan?? Itu karena ideku mentok cuma sampe sana doang…maafkan aku…

Aku harap kalian suka dengan ff oneshotku yang ini kalaupun ga suka juga ga apa2.

Kritik dan saran aku terima.

See You :-*

 

Regards,

Azalea

48 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dream”

  1. Halo thor azalea, Ff Baekzy ^^ aku suka banget sm jln ceritanya, Good job dan fighting buatny
    Oh ya Mian Ne sbenrnya aku udh bca tgl 7 pas ultahny baek oppa kmaren tpi baru ke coment sekrng,,,

  2. saoloh ini epep yang paling to the point yang pernah gua baca but so far so good si not bad gua suka ini ide ceritanya hehehe… 😁😊

    Semangat terus ya say ngelanjutinnya 😀
    jan berenti ditengah jalan dan php sama reader’s oke 👍

    and satu lagi gua mao ijin baca yes gua reader baru tapi gak SIDER 😘

Tinggalkan Balasan ke My labila Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s