Way of Two Rings (Chapter 4)

11254390_1017512361622541_3350536423931142051_n

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

https://xiaohyun.wordpress.com

Cover by :

***

Sehun hanya memandangi Luhan yang masih saja berceramah panjang pada gadis berambut coklat itu setelah menangis semalaman karena ditakuti oleh Soojung. Sehun berani bersumpah, ini kejadian terkonyol yang pernah ia alami selama mengikuti acara perkemahan semasa sekolah. Dan yang membuatnya semakin ingin tertawa, adalah tingkah Luhan yang di luar kata biasa. Wajar saja jika Soojung merasa cemburu pada gadis bernama Ariel Lau itu. Lihat saja, Luhan memperlakukannya seperti bayi.

“Bisa tidak sih kau menjaga dirimu dengan benar? Aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa kau percaya jika hantu itu ada. Hantu itu tidak ada, jangan terlalu banyak berkhayal,” kata Luhan mengulang ucapannya untuk yang kelima kalinya –huh, bahkan Sehun menghitungnya dengan teliti.

“Bisa tidak sih kau tidak mengomel terus! Jelas-jelas aku takut! Dasar brengsek!”

Sehun hampir tersedak saat meminum air mineralnya ketika mendengar Ariel memanggil Luhan…brengsek. astaga, gadis kecil ini benar-benar. Sehun langsung memutar bola matanya ke arah Luhan –harusnya Luhan marah, atau mengamuk. Tapi Sehun justru disguhi pemandangan yang…wow, apa benar Luhan yang berada di hadapannya saat ini adalah Luhan yang dikenalnya selama ini?

Luhan hanya mendengus kecil, menahan tangannya agar tidak menoyor kepala Ariel. Jika sedang dalam mod yang buruk, Ariel benar-benar akan merajuk dan akan mendiamkan Luhan jika sedikit saja Luhan membuatnya kesal. Benar-benar tuan putri, bukan? Padahal Ariel sering membuatnya kesal sepanjang hari.

“Yasudah, tunggu saja disini. Aku akan membawakan makanan. Kau tidak perlu kembali ke tenda, biar aku bawakan barang-barangmu,” kata Luhan sebelum bangun dari duduknya.

Dan Sehun yang masih menonton kejadian itu hanya berdecak takjub. Bagaimana bisa Luhan menjadi ‘pangeran’ bagi anak manja ini? Dan memangnya sakit apa anak ini sampai-sampai Luhan memperlakukannya bak permaisuri yang harus dijaga setiap senti dari fisiknya.

 

***

 

“Ariel tidak punya penyakit parah, kan?” tanya Sehun penasaran setelah mereka berada di luar tenda –Luhan harus melaksanakan acara selanjutnya untuk acara perkemahan ini.

Luhan memandang Sehun dengan tatapan –kau bercanda ya?, “Penyakit Ariel itu menyebalkan. Memagnya kau kira dia sakit apa?” sahut Luhan sambil lalu dengan nada tidak habis pikir.

“Lalu kenapa kau seposesif itu padanya?” tanya Sehun masih penasaran setelah Luhan selesai bicara dengan Junmyeon.

Luhan pun mendengus panjang, “Dia itu punya masalah tidur. Dia tidak bisa tidur di tempat asing, dia juga takut gelap dan tempat sepi dan…” Luhan pun terdiam beberapa saat dan memandang Sehun dengan tatapan yang tak bisa Sehun artikan, “Pokoknya dia punya alasan sendiri. Lagipula kenapa kau ingin tahu?” tiba-tiba Luhan berubah ketus. Ia pun menjauhi Sehun, namun kembali berbalik dan menatap Sehun serius, “Jaga Ariel baik-baik. Jangan ganggu atau mengusilinya!”

 

***

 

sampai malam tiba, Ariel terus dikurung di tenda kesehatan –meskipun Ariel sama sekali tidak merasa dirugikan soal ini sih. Pertama ia tidak suka kemah, kedua Luhan juga jadi sangat baik padanya, ketiga penjaga tenda kesehatan sangat tampan. Oh Sehun! Namanya adalah Oh Sehun dan dia benar-benar seperti pangeran tanpa kuda! Ugh! Setelah ini Ariel harus mendapatkan nomor ponselnya!

Dan Ariel sepertinya akan tetap berbaring jika Sehun tidak memanggilnya, “Ariel, semua akan berkumpul di lapang. Kau mau disini saja atau…”

“Aku ikut!” Ariel buru-buru bangun dan mendekat ke arah Sehun. Ia tidak mau ditinggalkan sendiri di tempat remang-remang itu sendirian.

Sehun tersenyum kecil dan mengusap kepala Ariel, “Sepertinya kau sudah membaik. Kita ke lapang bersama.” Kata Sehun sambil merangkul Ariel.

Aw aw aw! Lihat! Ini benar-benar menyenangkan! Sehun juga memiliki aroma yang…cool! dia juga baik, ramah, dan tentu saja tampan. Bisa tidak ya Ariel jatuh cinta saja pada laki-laki ini?

“Ariel!”

Ariel menoleh ke arah Jungah yang tengah melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Ariel. Refleks, Ariel ikut melambaikan tangannya ke arah Jungah –meskipun setelahnya Ariel juga terkejut dengan reaksinya sendiri. Well, Ariel benar-benar measa memiliki teman sekarang.

“Hampiri temanmu! Jaga diri baik-baik, jangan buat Luhan khawatir lagi,” kata Sehun yang dibalas anggukkan dan ucapan terimakasih Ariel. Dan Ariel langsung mendekati Jungah –lupa membungkukkan badan dan membuat Sehun berdecak kecil.

 

***

 

Acara malam itu terbilang menarik –mungkin. Acaranya tidak akan diadakan jika tidak menarik bukan? Tapi sekali lagi dari yang ke sekian kali mungkin hanya Ariel yang tidak bisa menikmati acara yang diadakan hari itu. Dan menurutnya, permainan itu tidak masuka kal.

Junmyeon yang menjadi pembawa acaranya mengumumkan bahwa ia akan mengocok nama peserta perempuan dan laki-laki, dan nama yang ke luar harus menerima hukuman, dan hukuman itu juga harus keluar dari kertas yang sudah digulung dan dikocok juga. Ribet sekali bukan?

Ariel awalnya tidak peduli dan hanya memainkan ponselnya. Tapi tubuhnya langsung menegak saat ia mendengar nama Luhan keluar setelah nama Jiyeon. Dan yang membuat jantung Ariel sempat berhenti berdetak, ketika kocokan hukuman telah keluar…

Luhan harus mencium Jiyeon…di bibir.

Permainan sialan macam apa ini? Mana ada permainan seperti ini? Cium di bibir? Berciuman? Ariel mendengus keras. Harusnya ia diam saja di tenda dan tidak memutuskan untuk ke luar.

Ariel berharap Luhan akan menolak hukuman yang sama sekali tidak masuk akal itu. Tapi apa? Luhan malah tertawa dan terlihat gugup saat melihat Jiyeon yang juga terlihat malu. Hah, menggelikan sekali si brengsek itu. Dan Ariel pun benar-benar meninggalkan lapangan itu dan kembali ke tendanya. Ia bahkan tidak mau kembali ke tenda kesehatan. Ia tidak mau melihat Luhan. Dasar player bajingan.

 

***

 

Luhan menatap teman-temannya dengan kesal –meskipun ia tetap saja ikuttertawa hambar dengan ejekan dan godaan yang diberikan teman-temannya. Permainan macam apa ini? Luhan harus mencium juniornya ini? Luhan kembali menatap Jiyeon yang masih menatap Luhan dengan tatapan malu-malu. Gadis ini…cantik. jujur saja, sebagai pria normal tentu saja Luhan tak bisa melewatkan fakta yang satu ini. Tapi jujur saja, Luhan pun merasa…entahlah, ia pernah berciuman sebelumnya, tapi semenjak bertunangan dengan Ariel, Luhan perlahan mengurangi skinshipnya dengan teman kencannya.

“Ayo cium dia Luhan! Kau kan single!” semua teman-temannya tertawa mendengar teriakan kurang ajar Chanyeol. Mungkin Luhan harus mendorong mulut Chanyeol ke dinding.

Dan entah bagaimaa, Jiyeon dengan berani mendekati Luhan dan berdiri berhadapan dengan Luhan. Kemudian tanpa Luhan duga, Jiyeon memajukan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Sedetik kemudian Luhan langsung memundurkan tubuhnya –Ariel baru saja pergi setelah melihat adegan ini…mungkin.

 

***

 

“Tumben kau duduk sendirian di dekat pohon seperti ini, bukannya kau takut Titan menculikmu, hmm?” canda Luhan sambil menjatuhkan kepalanya di pundak Ariel. Ah, sudah lama sekali ia tidak mengusili Ariel.

Dengan jutek, Ariel hanya melirik Luhan lewat ekor matanya, kemudian membesarkan volume musik di ponselnya. Ia sedang malas sekali bertemu dengan Luhan, membuat moodnya semakin berantakan saja.

“Hei…kau marah padaku? Gara-gara ciuman tadi?” tanya Luhan sambil menusuk-nusuk pipi Ariel dan menggeserkan tubuhnya.

“Kau benar-benar marah, ya?” kata Luhan lagi dengan senyum paling menyebalkan di angkasa ini, “Kau benar-benar tak ingin bicara padaku? Baiklah. Tapi hati-hati saja, kudengar ada yang pernah hilang di sini karena duduk sendirian…” belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya, Ariel sudah menggeser tubuhnya mendekat ke arah Luhan.

Ariel memang selalu lupa rasa malu dan gengsinya pada Luhan –dan ini menjadi sebuah keuntungan bagi Ariel ketika ia kembali menarik ucapan ataupun kembali menarik sikapnya kembali, seperti sekarang ini.

“Kenapa mendekat lagi? Kau kesal padaku kan?” kata Luhan lagi. Kali ini dengan nada yang lebih melunak.

Dan…ini juga yang Ariel suka dari Luhan. Ketimbang kakaknya Henry yang lebih suka bicara dengan nada datar selah tidak terlalu peduli atau menyepelekan, Luhan selalu bicara lembut jika tahu Ariel sedang kesal atau marah.

“Hei, aku bertanya untuk dijawab…” Luhan masih berusaha membujuk Ariel sambil menusuk-nusuk pipi kurus Ariel –ugh! Selain pendek anak perempuan ini benar-benar kurus seperti kekurangan gizi. Padahal dia sering sekali mencuri makanan di dalam kulkas.

Ariel pun melepas headphone-nya dan berbaring di pangkuan Luhan –kebiasaan aneh yang mungkin hanya mereka saja yang tahu. Hanya saja, kali ini Ariel tidak memeluk pinggang Luhan. Ia masih sedikit kesal pada laki-laki itu.

“Itu bukan ciuman sungguhan. Anak itu hanya menempelkan bibirnya pada bibirku, bahkan tak sampai sedetik…”

Ariel langsun menonjok pelan perut Luhan, “Kelihatannya kau sering sekali berciuman, Luhan si player,” Ariel langsung bangun.

“Tentu saja bukan. Sebelum ini aku memang pernah berciuman dengan pacarku. Tapi…” –tapi entah sejak kapan aku tidak lagi berpikir untuk melakukan itu pada perempuan lain semenjak aku tahu ada cincin yang mengikatku.

“Tapi?” Ariel menatap Luhan penasaran, tatapan anak kucing. Bodoh, lucu, dan menggemaskan secara bersamaan.

“Tapi aku tidak pernah melakukannya lagi.”

“Kenapa?”

Luhan pun melirik Ariel. Memperhatikan bola mata yang tidak bulat dan tidak terlalu sipit itu. Mata coklat yang sebenarnya cukup memikat, jika saja Ariel memang mau bersikap layaknya perempuan. Tapi Ariel tetaplah alien. Luhan juga tidak merasa apa-apa saat ia menatap mata Ariel. Ia juga tidak merasa debar jantung seperti ia sedang jatuh cinta –oh ayolah…Luhan pernah jatuh cinta dengan gadis tercantik seantero sekolahnya.

Tapi saat bersama Ariel, semuanya kembali datar. Datar. Benar-benar tenang. Dan karena keteangan itu ia merasa nyaman berada di dekat Ariel. Luhan juga selalu merasa ia perlu melindungi perempuan itu –bahkan lebih dari itu, ia merasa senang.

“Kau pernah berciuman?” tanya Luhan yang…kedeganrannya pasti bodoh, mungkin.

Ariel menggeleng cepat, “Ciuman pertamaku tentu saja Brownie bonekaku.” Dan mendnegarnya membuat Luhan mendelik malas.

“Mau belajar berciuman denganku?” tanya Luhan yang membuat Ariel kembali melayangkan tatapan bingungnya yang lucu. Dan dengan bodohnya, Ariel mengangguk pelan –well, ia pernah melihat Henry berciuman saat Henry masih di Senior High School, dengan seorang perempuan yang katanya adalah pacar Henry. Kejadiannya tepat saat Henry berumur 17 tahun dan perempuan itu datang untuk memberikan kejutan. Ariel tidak tahu apakah Henry melanjutkannya di kamar atau tidak, karena saat itu Ariel harus ke toilet karena sakit perut. Ah, kejadian memalukan memang…

“Ini akan membuatmu tahu jika aku tidak mencium Jiyeon,” kata Luhan sambil memegang dagu Ariel. Dan sedetik kemudian, bibir mereka sudah bertemu. Luhan baru saja ‘mengajarkan’ Ariel ‘berciuman dengan benar’ –katanya.

Luhan pikir, Ariel akan bereaksi terkejut seperti perempuan kebanyakan –hell! Ini ciuman pertama Ariel tapi tubuh alien ini benar-benar rileks. Bahkan Ariel tetap membiarkan matanya terbuka tanpa bergerak sedikitpun. dan sialnya, justru Luhan lah yang merasakan jantungnya bertalu keterlaluan.

10 detik –mungkin. Kurang lebih 10 detik Luhan mencium Ariel. Dan setelah melepaskan tautan bibir mereka, justru Luhan yang dibuat salah tingkah oleh gadis berambut coklat sepunggung itu. Yang membuat Luhan semakin kesal –atau malu, gugup, ah! Apapun itu namanya! Ariel justru menatapnya dengan tatapan…bingung. alien itu benar-benar bersikap biasa saja –membuat Luhan jengkel setengah mati, meskipun tanpa alasan.

Luhan pun berdeham kecil, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa ia merasa tolol sekali sekarang, “Kau…kau tahu kan orang tuaku tidak pernah main-main tentang hubungan kita?” tanya Luhan dengan nada gugupnya. Seperti robot, Ariel bahkan terkikik kecil mendengar suara Luhan yang aneh.

“Kau kenapa? Seperti robot saja,” katanya masih tertawa dan memukul lengan Luhan.

Luhan pun mendengus keras, “Yak! Aku serius!”

Ariel pun menghentikan tawanya perlahan, lalu ia pun menegakkan punggungnya dan menatap Luhan serius, “Tentu tentu. Aku tahu, Papa Lu dan Mama Lu tidak pernah main-main. Lalu? Apa yang ingin kau katakan?”

“Aku tidak tahu kapan tepatnya kita akan menikah. Hanya saja, untuk berjaga-jaga jika orang tuaku menikahkan kita terlalu cepat…aku tidak akan mengekangmu.”

Ariel menaikkan alisnya bingung, “Maksudmu?”

“Kau masih berusia 15 tahun. Kau masih terlalu muda untuk tahu seserius apa hubungan kita. Aku tidak akan mengekangmu untuk melakukan apapun yang memang biasanya dilakukan oleh remaja seumuranmu. Kau boleh berteman dengan siapapun, kau boleh pergi kemanapun, kau juga boleh melakukan kencan sesekali. Tapi aku tidak akan mentoleransimu jika kau sampai mencoba alkoho, narkoba, atau hal-hal semacamnya. Dan jangan bermimpi kau bisa masuk klub, mengerti?”

Luhan pikir, Ariel akan menanyakan lebih lanjut alasan tentang kenapa Ariel diberi kebebasan itu, atau setidaknya mungkin Ariel akan bertanya apakah Luhan juga punya teman kencan atau akan berkencan dengan yang lainnya atau tidak. ariel juga bisa bertanya tentang pertunangan mereka, apapun itu. Tapi Luhan benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke sungai Han saat Ariel kembali bertanya.

“Kalau begitu, aku ingin berkencan dengan Sehun Oppa! Dia tampan! Seperti malaikat…” Ariel pun memegang lengan Luhan, “Kau mau memberikan nomor ponselnya padaku, kan? Iya kan?”

“Yak! Sehun itu player!”

“Kau juga player! Ya, ya , ya? Aku ingin berkencan dengan Sehun Oppa!”

Dan-Luhan-menyesali-ucapannya. Ariel mungkin memiliki IQ rendah dan tingkat kepekaan yang payah. Jadi, kau harus bersabar Luhan.

 

***

 

Sudah lewat 10 hari semenjak perkemahan itu usai. Dan hari itu, Ariel tengah duduk di tepi lapang memperhatikan Luhan yang dikerjai habis-habisan oleh teman-temannya. Luhan sedang berulang tahun hari ini, dan semua orang yang dekat dengannya beramai-ramai mengguyurnya habis-habisan dengan air. Ah –payah.

“Kau mau kemana? Kau tidak menunggu Luhan?” tanya Jungah sepertinya tertarik menonton acara penyiraman terhadap Luhan.

Ariel mendongak menatap Luhan sekali lagi, “Aku tidak mau ikut kebasahan. Aku duluan saja, bye!” Ariel pun meninggalkan Jungah yang masih diam di tepi lapang. Ariel bohong, sih. Sebenarnya ia ingin mencari sesuatu yang bagus untuk Luhan.

…dengan sedikit catatan, ia benar-benar lupa hari ini Luhan ulang tahun.

 

***

 

Ariel suka hal-hal romantis, tapi jika mempraktikannya, Ariel sebenarnya sama sekali tidak tahu. Untuk membeli hadiah pun, Ariel malah terpikirkan membeli kaos kaki. Iya, kaos kaki musim dingin yang tebal berwarna coklat dan bergambar rusa. Nama Luhan memiliki arti rusa kecil, matanya juga jika dilihat-lihat mirip dengan rusa. Dan laki-laki itu memang gampang sakit jika kedinginan, karena Ariel tak punya uang untuk membeli jaket dan Ariel juga merasa malas untuk membeli syal, makanya ia membeli kaos kaki ini.

Sambil duduk di meja makan, Ariel pun menulis sesuatu di selembar kertasnya yang akan menjadi ‘kejutan’ untuk Luhan.

Dear, Luhan.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Selamat ulang tahun? Itu terlalu bagus untukmu. Ah! Selamat bertambah tua player brengsek! Aku hanya punya uang untuk membeli kaos kaki ini, kau gampang sakit jadi pakai ini saat dingin. Tapi kau juga harus mencucinya, kakimu bau jika kau lupa. Ah, kau juga harus mentraktirku burger karena aku telah membelikan hadia untukmu.
Sudah ya, aku tidak tahu mau menulis apa.

Your lovely Fiance

Ariel pun melipat kertas itu, memasukkan kertasnya ke dalam lubang kaos kaki sebelah kanan dan tidak membungkusnya. Ia malas mengeluarkan uang lagi untuk membungkusnya. Toh Luhan nanti juga akan membuangnya. Jadi, lebih baik seperti ini, kan? Ariel pun menaruh kaos kaki tersebut di ranjang Luhan, dan jangan berpikir Ariel akan kembali ke kamarnya, tentu saja Ariel akan tidur di kamar Luhan.

Malam itu Luhan belum pulang –berpesta mungkin? Ah, apapun yang dia lakukan, Ariel tidak peduli. Kebetulan ia sudah mengantuk dan artinya ia bisa tidur sepuasnya hari ini.

 

=to be continued=

20151118

Iklan

3 pemikiran pada “Way of Two Rings (Chapter 4)

  1. Demi apa ariel ngado kaos kaki????????…… Tpi ttp so sweet sih maknanya, ariel km plos banget pengen aku cubit hahaha *abaikan* luhan kau yg sabar aja ya ngadepin ariel 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s