[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 1)

Some Body
image

Title: Some Body
Author: Jung21EunSoo
Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), Jung Hoseok (BTS), Kim Namjoo (Apink), and the others.
Cast :
Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai (EXO)
Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
Kim Nara (oc)
Park Jiyeon (T-ara)
Genre: School life, Friendship, sad, comedy(?).
Rating: PG-13
Length: chaptered
Disclaimer: Ff ini murni dari pikiran saya. Apabila ada beberapa kesalahan, saya mohon maaf. Karena kesempurnaan bukanlah di tangan saya.
Warning! Typo bertebaran!
Selamat membaca… (

I have always tried to live alone
Every day is a story of a girl who own
I was fine despite being on a deserted island
Recommended song: The Ark – The Light, Jin Lovelyz – Gone, Tiger JK ft Jinsil – Reset.

*~*~*~*~*~*~*
Seoul 2015
Hamparan rerumputan hijau dan angin sepoi-sepoi itu, seharusnya menjadikan tempat itu tempat yang damai. Tempat untuk menenangkan diri dari rasa frustasi di kepala. Namun tidak bagi seorang yeoja yang menatap sinis orang-orang yang mengerubunginya. Ini bukanlah pertanda yang baik untuk yeoja itu. Ya, yeoja itu sedang dibully.
“Apa yang kau lihat hah?” Tanya salah seorang yeoja yang menjadi ketua dalam pembully-an tersebut sambil menoyor pelipis Hayoung–yeoja yang sedang dibully.
“Apa maumu sunbae?” Tanya Hayoung balik masih tetap pada tatapan sinisnya.
“Kau masih berani? Daebak!” sindir si ketua sinis sambil berkacak pinggang.
“Wah! Hobae ini sangat menarik.”
“Kita tunggu apa lagi Jiyeon-ah.”
“Geurae, ayo kita coba. Kepung dia!” Ujar Park Jiyeon–sang ketua sambil melangkah mundur, membiarkan anak buahnya bertindak. Dua orang yeoja memegangi kedua tangan dan pundak Hayoung sehingga Hayoung merasa sulit untuk bergerak, terlebih kedua yeoja itu sepertinya memiliki kekuatan yang lebih besar dari Hayoung.
Mereka pun menyiram Hayoung dengan seember air, yang ternyata adalah air pel yang sudah beberapa hari tidak digunakan. Sebenarnya, mereka sudah mempersiapkan hal ini sedari tadi, hanya saja Hayoung tidak menyadarinya. Jiyeon yang melihat itu, hanya tersenyum sinis.
“Sunbae, lepaskan!” seru Hayoung, mencoba memberontak.
PLAKK
“Diam dan turuti sajalah!” bentak Jiyeon, setelah menampar Hayoung dengan keras. Membuat Hayoung terjatuh lemas dan meninggalkan bekas merah dipipi mulusnya.
Mereka tertawa sinis dan mulai melanjutkan kegiatan mereka, menaburi tepung di sekujur tubuh Hayoung. Dan melempari Hayoung dengan telur busuk. Hayoung mulai menitikkan air matanya. Sakit.
“Sunbae, apa yang kalian lakukan?” Tanya Hayoung lirih.
Melihat itu Jiyeon menyeringai sinis, “Kami? Yak, seharusnya kau bersyukur kami mengingatkanmu atas ulang tahunmu, kunyuk.”
“Saengil chukkae Oh Hayoung.” Sambung Jiyeon dan teman-temannya sinis.
“Wah, Park Jiyeon! Hasil yang bagus.”
“Geurae, dia tampak lebih cantik bila seperti itu.”
“Tentu saja. Ah, masih ada satu lagi.” Ucap Jiyeon teringat sesuatu. Dia pun meletakkan sebuah ceri di kepala Hayoung. “Finished! Dia semakin cantik bukan? Kajja teman-teman, aku ingin pulang.” Sambung Jiyeon sambil beranjak meninggalkan Hayoung yang merasa sakit, diikuti oleh teman-temannya Jiyeon.
“Ah iya, aku hampir lupa. Komawo Oh Hayoung. Lain kali, kita lakukan lagi ya. Tadi itu sangat menyenangkan.” Kata Jiyeon sambil tertawa sinis bersama teman-temannya sebelum benar-benar meninggalkan Hayoung yang sudah lemas dan tidak tahan.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi seseorang memperhatikan mereka dari jauh dari awal sampai akhir. Dia juga memotret kejadian tersebut dengan kamera handphonenya. Dia bersembunyi di suatu tempat agar Jiyeon tidak mengetahuinya. Dia bukan sengaja datang kesana, waktu itu dia hanya ingin menghibur diri dengan pergi ke taman belakang sekolah, tempat Hayoung dibully oleh Jiyeon. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat Hayoung dibully. Dia pergi dari tempat itu sebelum Jiyeon dan teman-temannya pergi meninggalkan Hayoung.
Sekarang bagaimana Hayoung akan pulang ke rumahnya. Tidak mungkin dia pulang dengan tubuhnya yang basah, kotor dan berbau amis, tidak lupa dengan bercak merah dipipinya. Atau ibunya akan mengomel sesampainya ia dirumah bila pulang dengan keadaan seperti ini. Beruntung dia memiliki baju ganti di lokernya, tapi bagaimana dengan bercak merah dipipinya? Mungkin dia akan membubuhkan bedak dengan tebal dipipinya, atau memberikan plester, atau berbohong kepada ibunya. Entahlah…
(((
Beberapa hari setelah kejadian tersebut
“Akh!!” teriak seorang gadis dan rambut karena rambutnya yang jambak oleh seseorang. Sontak hampir semua murid yang masih berada di kelas tersebut dan sekitarnya memandang kearah yeoja yang berteriak itu. “Apa yang kau lakukan hah?”
“Aku? Aku sedang menjambak rambutmu.” Kata Ji Yeon sambil terus menjambak rambut gadis semakin kuat. “Pasti kamukan yang mengadu pada seonsaengnim bahwa aku yang membully Ha Young. Dasar pengadu kau, Kim Namjoo!” bentak Ji Yeon.
Diikuti tawaan dari Ji Yeon dan teman-temannya. Sementara Namjoo semakin meringis kesakitan karena jambakan Ji Yeon semakin kuat. Dan tanpa ia sadari tangannya mengepal kuat berusaha menahan rasa sakit itu.
“Kau tahu, gara-gara kau. Aku diskors oleh sekolah selama dua minggu. Aku mungkin akan merindukanmu saat itu. Jadi bersiap-siaplah untuk saat itu. Karena mungkin kaulah targetku selanjutnya.” Bisik Ji Yeon di telinga Namjoo dengan sinis, membuat Namjoo bergidik ngeri.
Ji Yeon sempat melirik Namjoo yang mengepalkan tangannya. “Dan sebaiknya kau simpan saja. Lebih baik kau gunakan untuk membalas dendam pada orang yang membuatmu mendapatkan hal ini dariku.” Ledek Ji Yeon sambil tertawa bersama teman-temannya.
“Ha Young-ah, lihatlah. Apa yang akan kau lakukan? Kim Namjoo sedang kesakitan karena kau. Kau tidak akan mengadukannya?” ledek Ji Yeon kepada Ha Young, sementara Ha Young hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Dan Namjoo sudah menggertakkan giginya geram akibat perlakuan Ji Yeon.
Murid-murid yang lain hanya menonton dan berbisik-bisik akan kejadian tersebut tanpa ada minat untuk membantu orang yangakan di bully oleh Jiyeon. Jiyeon memang sudah biasa membully murid lain sesuai kehendak hatinya. Tapi ini aneh, biasanya Jiyeon membully Oh Hayoung. Tapi sepertinya Jiyeon membuat target baru untuk dijadikan bully-annya.
Tiba-tiba datang seseorang yang mendorong bahu Ji Yeon, sehingga Ji Yeon yang tidak menduga hal itu akan terjadi pun tak sengaja melepas jambakannya dari rambut Namjoo.
“Hei, apa yang kau lakukan?!!” bentak Ji Yeon tak terima. Sambil melangkah mundur karena terkejut, sementara teman-temannya bersiap untuk menyerang Na Ra kapan Saja. Namun segera ditahan oleh Ji Yeon, dengan mengangkat tangan kanannya dengan angkuh. Seakan berkata ‘nanti dulu, biar aku yang urus’.
“Huh, seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Hei, apa yang kau lakukan pada adik kembarku? Membullynya? Apa kau ingin menambah skorsmu lagi?” tanya orang itu berturut-turut tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Dia adalah kakaknya Namjoo, Kim Nara. Namjoo yang terlepas pun berdiri disamping kakaknya.
“ Kenapa? Ah, kau berusaha untuk menjadi pahlawan kesiangan ya?” ledek Jiyeon tenang. “ Jeongmal kamsahamnida Na Ra-ssi. Tapi, tidak bolehkah? Aku hanya berusaha membantu menasehatinya agar tidak usah menjadi seorang pengadu. Menjadi seorang pengadu itu tidak baik tahu” Kata Ji Yeon sinis.
“Aku tidak akan menghargai nasihatmu itu. Karena adikku melakukan sesuatu dengan baik. Tidak ada salahnya menjadi pengadu kan. Apalagi bila yang di adukan adalah dirimu. Pasti ayahmu akan bangga.” Sambung Na Ra tenang. Sementara Ji Yeon yang tak tahan dengan nasihat Na Ra mengambil ancang-ancang untuk menampar Na Ra.
“Kau tahu aku tidak suka dinasihati seperti itu.” Ujar Ji Yeon sambil mengangkat tangan kanannya untuk menampar Na Ra. Namun, berhasil ditahan oleh Ha Young.
“Bila kau tidak suka dinasihati seperti itu, maka pergilah. Laksanakan hukuman sekolahmu. Atau jangan pernah kembali lagi. Bila kau tidak segera pergi mungkin hukumanmu akan ditambah lagi karena kau menambah korbanmu.” Tutur Ha Young dengan tegas, sepertinya dia sedang balas dendam.
“Awas saja kalian. Jika aku sudah kembali nanti. Aku tak akan memaafkan kalian. Ingat itu! Aku akan kembali!” Ji Yeon pun keluar kelas dengan menghentakkan kakinya tanda marah. Diikuti teman-temannya yang juga dihukum.
“Namjoo, kau tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?” tanya Na Ra khawatir kepada adiknya sambil memeriksa tubuh adiknya.
“hm, aku tidak apa-apa. Komawo oenni(terima kasih kakak).” Jawab Ha Ra ambil menghentikan kegiatan kakaknya. “Terimakasih Ha Young, karena sudah membelaku dan kakakku.” Ucap Ha Ra pada Ha Young
“Ania (tidak), seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu. Karena dia akhirnya mendapat hukuman juga. Aku sudah muak.” Jawab Ha Young datar. Walaupun datar tapi terselip didalamnya rasa senang. Dan sebuah lengkungan indah yang tipis terbentuk diwajah Namjoo yang manis.
“Ya sudah. Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku sudah sangat lapar.” Ajak Na Ra.
“Ayo. Ha Young-ah ayo ikut ke kantin. Bukankah kamu juga belum makan sedari tadi?” ajak Namjoo pada Ha Young.
Awalnya Ha Young menolak, namun karena terus dibujuk oleh Namjoo. Akhirnya Ha Young ikut juga. Dan mereka pun pergi ke kantin bersama dan diselingi beberapa candaan. Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan mereka dari jauh dengan perasaan bangga.
(((
Seorang gadis berponi samping dengan rambut yang tak terlalu panjang terurai indah sedang duduk di dalam bus yang akan mengantarkannya pulang. Gadis itu mendengarkan musik dengan headsetnya. Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya
“Ha Young-ah, apa yang kau dengarkan?” tanya lelaki itu sambil mengambil sebelah headset Ha Young yang tidak terpakai dan meletakkannya ditelinga kirinya. Ha Young yang penasaran pun menoleh.
“Se Hun? Kenapa kau duduk disini? Duduk tempat lain saja sana!” Ha Young terkejut karena kakak laki-lakinya yang tiba-tiba muncul sambil menatap aneh kepada Sehun. Mereka biasanya tidak pulang bersama karena Sehun terlalu gengsi juga Hayoung yang dingin terhadap Sehun.
Harusnya kau memanggilku oppa, batin Sehun.
“Wae? Tidak bolehkah? Inikan juga hakku untuk duduk disini.” Rengek Sehun.
Sejak kapan dia peduli? Dasar aneh! Ucap Hayoung dalam hati
“Terserah.” Balas Hayoung cuek sambil membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan.
“Mianhee. Aku terlalu pengecut untuk menyelamatkanmu sebelum-sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah tau kalau kau sering dibully oleh Park Jiyeon sialan itu. Mianhee.” Kata Sehun sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah. Hayoung hanya acuh tak acuh pada oppa kandungnya merasa bahwa, Sehun pantas merasakan itu.
“Nan jigeum gwenchanayo. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku dan juga merasa bersalah padaku.” Ujar Hayoung dingin dengan menekankan kata ‘mengkhawatirkanku’ dan ‘merasa bersalah’.
“Hmm, kau harusnya tersenyum saat mengatakan hal tersebut.” Jawab Sehun mencoba mencairkan aura dingin Hayoung padanya dengan mencubit pipi Hayoung agar Hayoung sedikit tersenyum padanya.
“Geumanhee, aku tidak suka. Tapi sepertinya akan ada satu syarat agar aku bisa memaafkanmu untuk yang kali ini saja.” Kata Hayoung dengan menekankan kata ‘untuk yang kali ini saja’.
“Apa itu? Akan aku lakukan apapun itu.”
“Jinja? Apapun itu?”
“Hmm, untuk adikku tersayang.”
(((
“Haishh.. jinja. Anak itu ada-ada saja akalnya.” Ucap Sehun sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia menghempaskan dirinya ke sofa yang empuk dengan malas.
“Ada apa sehun-ah?” tanya salah seorang temannya menatap aneh sehun. Dia khawatir karena sehun agak aneh saat ini menurutnya.
“Kai, anak itu membuatku gila.” Jawab sehun malas. Saat ini dia sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah basecamp tempat mereka biasa berkumpul.
“Nugu?” tanya seorang namja yang berparas cantik – Luhan, sambil terus memainkan bolanya.
“Hayoungie. Haishh, dia benar-benar pandai membuatku gila.”
“Kau terlalu berlebihan sehunnie. Mungkin dia hanya akan meminta sebuah album Super Junior yang baru keluar.” Jawab seorang namja yang tingginya diatas rata-rata – Chanyeol, sambil menghentikan permainan bolanya dengan Luhan dan Baekhyun dan beranjak menghampiri Sehun.
“Yak! Kenapa kau menghentikan permainannya tiang? Aku baru saja hampir menang.” Protes Baekhyun.
“Menang? Kau yakin hyung? Jelas-jelas tadi kau hampir kalah. Seharusnya kau bersyukur aku menghentikan permainannya agar kita bisa mengulangnya dari awal.” Jawab Chanyeol sambil terkekeh mendengar aksi protes hyungnya yang hanya bertaut 6 bulan darinya.
“Hah? Kapan suju comeback?” tanya Kai penasaran.
“Kau ini benar-benar Ku-Det alias kurang update banget sih.” Jawab chanyeol dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
“Sudahlah, tidak usah terlalu menghina dia chanyeol. Dia itukan si hitam dari gua hantu jadi wajar saja kalau dia itu Ku-Det.” Kata Luhan yang membuat kepercayaan diri Chanyeol semakin meninggi.
“Ya tuhan, bunuh saja aku.” Ucap Kai pasrah atas penghinaan dari hyung-hyungnya.
“Mianhe kai, chanyeol itukan penggosip jadi pasti dia tahu tentang itu semua kecuali siapa Presiden Indonesia sekarang dan sebagainya.” Jawab Luhan yang membuat kepercayaan diri Chanyeol pupus seketika seperti jatuh dari langit (kenapa gak jatuh dari surga aja ya?) dan semangat hidup Kai kembali muncul.
“Kau ini sebenarnya memilih siapa sih? Dia atau aku? Oke, kalau begitu kita putus.” Kata Chanyeol sambil menunjuk-nunjuk dirinya dan Kai. Sementara Kai hanya menatap aneh Chanyeol.
“Memangnya sejak kapan kita pacaran? Excuse me, aku masih seorang namja normal tahu.” Jawab Luhan
“Yak! Kau mengkhianatiku!” ucap Baekhyun kesal. Sementara Sehun hanya mengelus-elus dadanya mencoba bersabar atas perdebatan tidak penting hyung-hyungnya itu.
“Mengkhianati?” tanya Chanyeol penasaran sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya agak gatal.
“Lupakan sajalah.”
“Yak! Hyung! Rasanya sedari tadi aku ingin curhat tapi kok tidak jadi-jadi sih?” Sehun kesal karena perdebatan hyung-hyungnya menunda curhatannya.
“Hehe, mianhee sehun-ah. Yang tadi itu terlalu asyik untuk dilewatkan. Yah… kau tahu kamikan.” Jawab Luhan sambil menepuk-nepuk pundak Sehun.
“Itu benar. Jadi, apa yang mau kau curhatkan Sehun-ah?” tanya Baekhyun sambil duduk bersila di karpet di depan sofa yang ditempati Sehun, Kai dan Luhan bersiap-siap mendengarkan dengan baik apa isi hati Sehun begitu juga dengan Chanyeol yang sudah berada di samping Baekhyun.
“Jadi, Hayoung menyuruhku untuk menembak Kim Nara.”
“MWO?!”
“Hyung! Kalian terlalu berlebihan.”
“Sehunnie bertaubatlah engkau. Nara itu masih muda, masih mempunyai cita-cita. Bagaimana mungkin kau membunuhnya?” Tanya Kai sambil mengguncang-guncangkan pundak Sehun berusaha menyadarkannya. Sementara Sehun hanya bisa pasrah atas otak pe-ak hyungnya.
“Hyung! Cita-citaku juga masih panjang juga hyung. Tidak mungkin aku mengorbankannya hanya karena membunuh seseorang yang aku sukai.”
“Ciee….”
“Bagaimana dia memintamu menyatakan cintamu?” tanya Baekhyun.
Flashback…
“Tapi sepertinya akan ada satu syarat agar aku bisa memaafkanmu untuk yang kali ini saja.” Kata Hayoung.
“Apa itu? Akan aku lakukan apapun itu.”
“Jinja? Apapun itu?”
“Hmm, untuk adikku tersayang.”
“Aku ingin…” hayoung sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Kau ingin apa? Mau album TVXQ yang terbaru?” tebak Sehun yang langsung dijawab sebuah gelengan dari Hayoung.
“Ani. Aku ingin kau menyatakan perasaanmu kepada Kim Nara oenni.” Jawab Hayoung santai
“MWORAGU?!” seru Sehun terkaget atas permintaan dongsaengnya.
Sontak hampir seluruh penumpang bus tersebut melirik ke arah mereka berdua atau lebih tepatnya ke arah Sehun yang berteriak tadi karena membuat mereka merasa terganggu.
“Jeosonghamnida. Jeongmal jeosonghamnida.” Ucap Sehun sambil beberapa kali membungkukkan wajahnya meminta maaf kepada penumpang bus tersebut yang merasa terganggu.
“Yak! Sehun, kau membuatku malu. Pergilah kau! Duduk saja disana!” kata Hayoung sambil mendorong pelan Sehun.
“Heol, tidak sopan sekali kau pada oppamu. Tapi kenapa kau harus menyuruhku untuk ‘menembak’ Kim Nara?” tanya Sehun penasaran padahal di dalam hatinya, ia sangat gugup saat dongsaengnya itu menyuruhnya untuk ‘menembak’ orang yang telah lama ia diam-diam sukai.
“Aku tahu kau diam-diam menyukai oenni. Pokoknya kau harus menyatakan perasaanmu kepada oenni kalau tidak aku mungkin tidak akan memaafkanmu selamanya.” Kata Hayoung mengancam Sehun.
“Arasseo, tapi darimana kau tahu kalau aku menyukai Kim Nara?”
“Rahasia.”
Flashback off
Sementara yang lainnya hanya ber-oh ria setelah Sehun selesai menceritakan curhatannya. Setidaknya Sehun merasa lebih lega karena telah menceritakan isi hatinya.
“Tapi bagaimana dia bisa mengetahui kalau kau menyukai Kim Nara?” tanya Baekhyun heran.
“Mungkin dia punya kekuatan telepati atau bisa membaca pikiran orang lain.” Tebak Chanyeol yang jelas asal.
“Hyung kenapa kau menularkan kekuatanmu pada Hayoung? Lihatlah sekarang, rahasia Sehun sudah terbongkar oleh Hayoung.” Omel Kai sambil menunjuk-nunjuk Luhan, menyalahkan Luhan yang sebenarnya tidak mempunyai salah apa-apa atas permasalahan ini.
Huh, mulai lagi deh hyung-hyungku ini. Bagaimana aku bisa bertahan berteman dengan mereka. Batin Sehun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi itu lebih baik dia memintamu seperti itu. Itu artinya dia masih peduli dengan perasaanmu. Kau harus melakukannya dengan benar. Kau tidak ingin dia kembali kecewa olehmu bukan.” Kata Luhan sambil menepuk-nepuk pundak Sehun menyemangati Sehun.
“Ne, hyung. Kau benar.”
“Ah, iya. Ada yang terlupakan. Dimana Taehyung dan yang lain?” tanya Kai
“Sepertinya mereka masih berada di jalan menuju kemari.” Tebak Baekhyun sambil berpose pura-pura berpikir. Sementara Kai hanya merespon dengan membulatkan mulutnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
In other place
Di sebuah café yang sederhana seorang yeoja sedang meminum minumannya, terkadang dia mengaduk-aduk minumannya bosan, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Kriing.. Kring.. Bunyi bel pintu café tersebut tanda ada pelanggan yang masuk. Dan benar saja seorang yeoja yang dia tunggu sedari tadi akhirnya datang juga.
“Hayoungiie!” panggil gadis yang sedang minum tadi pada seorang gadis yang baru memasuki café tersebut. Gadis yang merasa terpanggil pun menoleh dan sebuah senyuman terukir di wajahnya, dia pun berjalan menuju orang yang memanggilnya.
“Namjoo-ya, mianhee. Kau pasti sudah lama menungguku.” Kata Hayoung sambil menduduki kursi dihadapan gadis yang memanggilnya tadi – Namjoo.
“Gwenchana. Kau mau memesan apa?”
“Tidak usah. Lagipula sehabis ini kita akan kencankan?”
“MWO? Kencan? Yak! Aku masih seorang yeoja yang normal. Kau tidak sedang demamkan?” tanya Namjoo sambil menempelkan punggung tangannya pada kening Hayoung. “Ternyata panas sekali Youngie. Sebaiknya setelah ini kita ke apotek saja daripada pergi taman bermain.” Sambung Namjoo sambil menahan tawanya setelah menjauhkan punggung tangannya dari kening Hayoung.
“Heii, tidak asik kalau seperti itu. Tapi kau tahu?”
“Tidak.”
“Heiishh, aku belum mengatakannya.” Ucap Hayoung sambil pura-pura kesal.
“Benarkah? Lalu apa itu?” tanya Namjoo.
“Aku sudah menyuruh Sehun untuk menyatakan perasaannya pada Nara eonni.”
“Jinja? Akhirnya.”
“Aku benar-benar tak menyangka itu semua akan terjadi. Kajja, kita ke taman bermain. Aku sudah lama tidak kesana.” Kata Hayoung sambil bangkit dari kursinya dan diikuti oleh Namjoo. Mereka pun keluar dari café tersebut.
“Kajja, tapi apa tidak terlalu tua untuk kita bermain disana?”
“Kita masih anak sekolahan kan.”
“Ah, benar. Tapi bagaimana kau tahu kalau Sehun oppa menyukai eonni?”
“Ahh… itu…”
Flashback
2 bulan sebelumnya
Hayoung pov
Sesampainya di sekolah, aku berjalan menuju lokerku terlebih dahulu. Seperti biasa aku meletakkan bekalku dan mengambil beberapa buku yang akan kugunakan. Setelah selesai aku pun berjalan kembali ke kelasku untuk meletakkan bukuku. Huh, sepi sekali. Aku memang terlalu rajin. Aku beranjak menuju mejaku, aku kembali mengecek buku-buku yang kubawa sepertinya ada yang tertinggal.
Aku pun kembali menuju lokerku, hitung-hitung olahraga. Setelah sampai, aku membuka pintu lokerku dan aku mengambil buku yang kucari lalu kututup kembali pintu lokerku. Aku memutuskan untuk pergi ke atap sekolah, aku malas kembali ke kelas karena masih sepi setidaknya kalau di atap aku bisa melihat pemandangan matahari pagi yang indah.
Saat aku berada di tangga menuju lantai dua, samar-samar aku melihat seorang namja celingak-celinguk di depan sebuah loker yang aku rasa bukan milik namja itu sementara di tangan namja itu adalah sebuah surat dan sesuatu yang terbungkus oleh kertas kado dan pita indah.
Nugunde? Pelan-pelan, aku melangkah maju. Aku semakin jelas dapat melihat bahwa namja itu yang ternyata adalah Oh Sehun, oppa kandungku membuka loker tersebut dan meletak barang yang ia bawa. Setelah itu, ia menutup kembali loker tersebut dan berlalu dari sana sambil memegang dadanya. Sepertinya ia tidak menyadari bahwa aku mengintip perbuatannya sedari tadi disini.
Setelah ia benar-benar sudah pergi, aku berjalan perlahan-lahan menuju loker yang dihampirinya tadi. Aku melihat nama yang tertera pada loker tersebut ‘Cheon Nara’. Jadi dia, orang yang kau sukai. Huh, rahasiamu ada padaku Oh Sehun. Aku pun kembali melanjutkan perjalananku menuju atap sekolah yang sempat tertunda tadi.
Hayoung pov end
Flashback end
“Tapi aku benar-benar penasaran. Kenapa kau begitu dingin kepada oppamu?” tanya Hara yang membuat Hayoung seketika membeku.
“Aniya, tidak ada apa-apa. Hanya masalah adik kakak. Kau tahulah seperti apa itu.” Jawab Hayoung berusaha santai.
(((
Hayoung’s dream…
We are together in the room. I was just with you in the journey. Too good to walk in the rain. You’re not? How do you remove myself alive (Gone – Jin Lovelyz)
Seorang yeoja kecil mengenakan dress putih indah selutut dengan rambut indahnya yang digerai sedang berlari-lari di sebuah hamparan padang bunga yang indah. Yeoja itu sedang di kejar oleh seorang namja yang juga mengenakan pakaian serba putih.
“Yak! Tunggu aku!”
“Weekk… Kejar aku kalau oppa bisa.” Balas yeoja itu sambil sedikit menghadap kebelakang namun masih berlari dan menjulurkan lidahnya mengejek namja tersebut. Lalu mereka pun mempercepat laju kaki mereka masing-masing.
Tiba-tiba semuanya berubah, kini mereka berada di tengah jalan. Seperti waktu telah berhenti, mereka tidak lagi berlari seperti tadi. Yeoja tersebut masih berada di depan namja tersebut.
BRUKK
Sebuah truk menabrak namja itu. Seperti waktu yang kembali berputar, yeoja itu melihat kebelakang dan berlari ke arah namja itu. Betapa terkejutnya yeoja itu ketika mengetahui sebuah truk menabrak namjanya.
“Oppa!” teriak yeoja itu. Dia sudah berada di dekat namja itu dan memangkukan kepala namja itu di paha mungilnya. “Oppa, jebal ireona. Kau tidak boleh seperti ini. Atau aku akan menangis.” Kata yeoja itu sambil menitikkan air matanya.
“Kau tidak boleh menangis Hayoungiie.” Kata namja itu sambil mengulurkan tangannya ke wajah Hayoung – si yeoja. “Bukankah oppa sudah mengajarimu untuk selalu kuat. Berhentilah menangis.” Sambung namja itu sambil menghapus air mata di wajah Hayoung sebisanya.
Namun tidak lama kemudian, namja itu menutup matanya damai. Dan Hayoung tidak dapat menahan tangisannya, dia pun menangis sejadi-jadinya di sana.
Tiba-tiba semuanya beralih menjadi sebuah ruangan gelap, disana ada seorang yeoja yang sedang meringkuk menyedihkan di kasurnya. Kriieet… tiba-tiba pintunya terbuka dan menampakkan seorang namja yang lain dari yang tadi sedang berkacak pinggang. Dialah yang membuka pintu kamar yeoja itu.
“Oppa, tak bisakah dia kembali?” lirih yeoja itu sambil menyandarkan punggungnya pada headboard kasurnya.
“Kau sangat menyedihkan Hayoung. Tak bisakah kau melihat dia sudah mati? Pergi meninggalkanmu? Atau kau itu sebenarnya ‘buta’?” Tanya namja itu yang membuat Hayoung – si yeoja ingin kembali menangis. “Dasar cengeng! Begitu saja sudah menangis. Kau hanya bisa membuat orang lain susah saja Hayoung!” sambung namja itu dan berlalu dari sana seolah tidak ada apa-apa yang terjadi dan dia tidak bersalah.
“Oppa kajima… hiks jebal kajima… hiks oppa jebal kajima… hiks” lirih Hayoung sambil terus menangis menatap punggung namja yang sudah pergi dari kamarnya. “Aku akan menjadi kuat. Jebal kajima…” sambung Hayoung sambil terus menangis, namun hal itu tidak ada gunanya lagi karena namja itu sudah pergi dan tidak akan dapat mendengarkan Hayoung.
(((
“Apakah kau harus mengunci pintunya?” Tanya Hayoung tanpa memandang Sehun sedikit pun memulai percakapan saat mereka berada di bus yang akan mengantarkan mereka menuju sekolah mereka.
“Hmm? Yak! Kalau kau berbicara dengan seseorang, kau harusnya menatap mata seseorang tersebut! Sekarang tatap mataku! Apa maksudmu?” protes Sehun, Hayoung pun mengarahkan pandangannya kepada Sehun.
“Kenapa kau mengunci pintu kamarku tadi malam sampai pagi tadi hah? Dan juga, pasti kau yang memindahkanku ke kasur, kan?” tebak Hayoung.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Daebak!”
“…”
Sehun mengulurkan tangan kanannya ingin mengelus puncak kepala Hayoung, namun Hayoung malah menjauhkan kepalanya dan menepis tangan Sehun, menyebabkan Sehun kecewa dan menarik kembali tangannya menuju sisinya.
“Haishh, kau tahu aku tidak suka yang seperti itu. Sudahlah, jawab saja tebakanku tadi.”
“Hmm, kau benar. Aku mengunci kamarmu agar kita bisa pergi ke sekolah bersama. Dan tidak baik tidur diatas meja, itu bisa membuat leher dan punggungmu sakit nanti. Kau harusnya merasa bersyukur memliki kakak sepertiku.” Jawab Sehun sambil menepuk dada bidangnya membanggakan diri.
Bisakah aku bersyukur memiliki kakak sepertimu? Kata Hayoung dalam hatinya.
Seharusnya aku menunjukkan sisi ini dari dulu, mianhee Hayoung-ah. Batin Sehun.
“Haruskah? Bahkan tadi eomma merasa aneh dengan kita yang berangkat bersama dan kau yang memborgol tanganku dengan tanganmu. Dasar aneh!”
“Ani, tidak lihatkah kau tadi eomma menatap kita bangga bukan merasa aneh.”
“Terserahmulah”
Flashback
Sehun pov
Aku sudah pulang kerumah dari berkumpul dengan teman-temanku. Apakah mereka benar-benar tidak mempunyai ide sama sekali? Sedari tadi kami hanya bermain dan berdebat tanpa mencari solusi. Rumah agak sepi, aku rasa ayah dan ibu pergi lagi. Aku melangkah kakiku menuju lantai dua rumahku, tempat kamar ku dan Hayoung berada. Aku melewati kamar Hayoung, pintunya terbuka sedikit membuatku penasaran. Aku pun memasuki kamar tersebut.
Aku dapat melihat seorang gadis dengan rambut panjang sepunggung yang digerai memakai piyama biasa sedang tertidur diatas meja belajarnya. Ya, dia adalah Hayoungku. Kasihan sekali dia. Karena tidak tega melihatnya harus seperti itu terus, aku pun menghampirinya dan menyelipkan tanganku di bawah pahanya dan belakang lehernya. Ya, aku mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membawanya ke atas kasur untuk menidurkannya. Aku menaikkan selimut sampai sebatas dada lalu mencium pipinya. .
“Soo oppa…” Hayoung mengigau namun dia tersenyum hangat.
Dia sangat cantik bila dia tersenyum hangat seperti ini. Tapi tunggu dulu, SOO OPPA? Siapa dia? Dia bahkan tidak pernah memanggilku oppa dan tersenyum hangat seperti ini. Ya, semenjak aku mengabaikannya demi menutupi kesedihanku sendiri. Betapa bodohnya kau, Oh Sehun. Kau mendiamkan adikmu yang tidak ada salah apa-apa ini demi keegoisanmu sendiri. Pabo Sehun!
“Mimpi apa dia? Lihatlah, kau sangat cantik bila tersenyum hangat seperti ini.” Gumamku sambil menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinganya.
Setelah itu, aku pun beranjak pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah menuju pintu kamarnya, aku merasa tertarik pada sebuah buku yang tadi menjadi alas tidur Hayoung. Aku pun berjalan menuju meja belajarnya dan melihat sebuah buku yang sudah banyak tulisan didalamnya. Ternyata itu adalah buku diary Hayoung. Diary ini adalah pemberian seseorang yang berarti bagi kami, aku juga mendapatkan diary yang sama namun dengan sampul yang berbeda dari seseorang tersebut. Aku sedikit membaca halaman yang terbuka dari diary tersebut.
Apakah aku seburuk ini? Pabo Sehunie. Kau benar-benar pabo. Bagaimana kau akan memperbaiki hal ini hah? Rutukku dalam hati sambil memukul jidatku. Lalu aku pun menutup buku diary tersebut dan meletakkannya di tumpukan buku di meja belajar Hayoung.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju pintu kamar. “Selamat malam Hayoungku sayang. Mimpi yang indah ya.” Pesanku kepada seseorang yang sudah terlelap dikasurnya saat aku sudah membuka kenop pintu kamar tersebut.
Tanpa kusadari saat aku sudah berada di luar kamar Hayoung, “Oppa, kajimaa… jebal kajima…”, dia mengingau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keadaan masih terlelap.
Aku sudah keluar dari kamar Hayoung dan menutupnya dengan hati-hati. Saat aku mau beranjak menuju kamarku tiba-tiba sebuah ide terlintas di otak standarku.Aku pergi mengambil kunci cadangan yang berada di laci meja tv. Setelah aku mendapatkannya aku kembali ke pintu kamar Hayoung dan menguncinya dari luar. “Hehe, mianhee Hayoungiie. Aku benar-benar ingin memperbaikinya.” Gumamku sambil mengantungkan kunci cadangan kamar Hayoung dan kembali ke kamarku.
Sehun pov end
Flashback end
“Tapi kapan kau akan mengatakannya?” tanya Hayoung lagi.
“Mengatakan apa?”
“Perasaanmu.”
“Molla.” Sehun menundukkan kepalanya bingung harus bagaimana.
“Pabbo.” Gumam Hayoung yang membuat Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Hayoung. “Kau sudah kuberi kesempatan. Gunakanlah dengan baik. Ini sangat mudah, jika kau berani.” Sambung Hayoung tanpa memandang Sehun sedikit pun, ia menekankan kata ‘jika kau berani’.
Kau membuatku terus merasa bersalah Hayoung. Batin Sehun dalam hati sambil memandang Hayoung dengan tatapan sedih.
“Berhentilah! Jangan menatapku seperti itu terus.” Kata Hayoung, ia seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Sehun.
“Bagaimana mungkin aku bisa berhenti jika kau terus seperti ini?” Kata Sehun geram melihat Hayoung yang terus seperti ini padanya.
“Kau yang memulainya! Kau pikir mudah untuk mengubah sesuatu hah?!” Seru Hayoung dingin. “Haishh, sudahlah lupakan itu. Kau tidak akan mengerti. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri sampai-sampai kau tidak mengerti apapun.” Sindir Hayoung sambil menyengir sinis.
Kau salah. Aku mengerti akan hal itu. Sangat mengerti. Batin Sehun.
“Tapi aku tahu kau menginginkan sesuatu yang lain. Kenapa kau tidak mengatakannya? Aku sudah bilang akan melakukan apapun yang kau mau.” Kata Sehun semakin geram dengan tingkah adiknya.
“Sudahlah!” seru Hayoung lagi namun kali ini lebih kuat dari yang tadi, membuat semua orang yang berada di bus tersebut menatap mereka heran. “Bisakah kau pergi saja! Duduk saja di tempat lain! Jangan disini! Kau sudah membuat moodku benar-benar buruk di pagi hari.” Sambung Hayoung mengusir Sehun masih tanpa memandang Sehun.
Ia benar-benar sudah muak dengan sikap kakaknya yang seperti mengetahui apapun dan merasa benar. Walaupun Sehun benar, ia menginginkan sesuatu yang lain yang ia rasa Sehun tidak akan bisa melakukannya.
“Aku hanya meminta satu darimu. Dan inilah permintaanku. Kenapa begitu susah bagimu untuk melakukannya hah?” tanya Hayoung lagi dengan nada dingin dan penuh penekanan.
“Arasseo.” Gumam Sehun menyerah sambil beranjak dari tempat duduknya ke bangku paling belakang paling pinggir sebelah kanan, yang sedari tadi belum ditempati. Ia bingung bagaimana membuat Hayoung kembali hangat kepadanya.
Sementara hayoung masih tidak mau memandang Sehun, ia masih marah kepada Sehun. Dia hanya memandang ke luar jendela, merenungkan apakah yang dia lakukan itu benar atau tidak, apakah ia akan menerima Sehun atau tidak, apakah dia akan baik-baik saja dan sesuatu yang lain.
Tiba-tiba Sehun mengambil ponselnya yang berada di saku tasnya, karena dia mendapatkan sebuah ide yang entah akan berhasil atau tidak, tapi apa pedulinya ia hanya mencoba. Kalau tidak berhasil, ia akan mencari jalan yang lain. Dia mengetikkan sesuatu di ponselnya, setelah terkirim ia menatap penuh harap seseorang dari belakang.
(((
Hayoung masuk ke kelasnya masih dengan tatapan dinginnya membuat teman-teman sekelasnya enggan dengannya. Moodnya benar-benar buruk hari ini. Dia duduk di bangkunya yang berada di samping Namjoo. Namjoo merasa heran melihat Hayoung yang sudah seperti es di pagi hari, benar-benar dingin. Padahal beberapa hari yang lalu sejak mereka berteman Hayoung sudah mulai cerah. Namjoo pun menegur Hayoung.
“Youngiie, ada apa?”
“…” Hayoung hanya melipat tangannya di atas meja dan menumpukan dagunya di atasnya.
“Ada apa denganmu? Ceritakanlah padaku.”
“Sehun.” Hayoung menjawab dengan singkat (sangat), jelas dan padat.
“Huh! Dia lagi. Kapan kalian bisa akrab hah?”
“Molla. Mungkin kami tidak akan pernah akrab sampai kapanpun.”
“Kupikir dengan kau memberikannya misi itu, kalian bisa sedikit lebih akrab.”
“…”
“Haishh, sudahlah.” Ucap Namjoo agak kesal. Dia sedang memikirkan suatu cara, sepertinya misinya kali ini adalah membuat Hayoung dan Sehun menjadi hangat. “Bisakah aku meminjam ponselmu?” Tanya Namjoo kepada Hayoung sambil mengulurkan tangannya meminta.
“Untuk apa?” Tanya Hayoung balik masih pada posisi tadi.
“Pinjamkan sajalah. Aku ingin memainkan pou-mu. Kau tidak merawatnya dengan benar.”
“Jaman sekarang masih main pou? Mainkan saja yang lain. Permainan pou itu sudah kuhapus.” Kata Hayoung sambil mengambil ponselnya yang berada di saku blazernya dan menyerahkannya kepada Namjoo.
“Okay. Komawo chingu.” Balas Namjoo girang sambil mengambil alih ponsel Hayoung.
Dia pun membukanya dan melihat ada satu pesan masuk dari Oh Sehun. Namjoo hanya menghela nafas.
“Bahkan nama oppanya hanya dia buat seperti ini.” Gumam Namjoo sangat pelan sambil melirik Hayoung yang ternyata sudah terlelap. “Mwoya? Apakah dia bergadang semalam?” gumam Hara lagi ketika melihat Hayoung. Dia hanya mengendikkan bahunya dan lanjut memeriksa ponsel Hayoung.
From: Oh Sehun
Mianhee. Naega jinja mianhee. Keundae, aku mau ke suatu tempat. Kau mau ikut?
Di tempat lain, Sehun sedang galau di kelasnya. Padahal dia sedang bersama dengan Kai, Jimin dan Taehyung, walaupun Sehun duduk sedikit lebih jauh dari mereka. Tiba-tiba dia merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar. Dia pun mengambil ponselnya. Dia membuka sebuah pesan masuk, saat melihat bahwa Hayoung yang mengirimkannya pesan, sebuah senyuman indah tercetak diwajah Sehun.
From: Youngiie~
Kemana?
“Apa ini? Tadi aku rasa dia sangat emosian. Ah, sudahlah.” Gumam Sehun sambil mengetikkan sebuah pesan balasan untuk Hayoung.
Jimin yang melihat itu merasa aneh karena Sehun yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Apakah Sehun sedang demam?” bisik Jimin ke yang lain.
“Hah? Demam? Rasanya kemarin dia baik-baik saja.” Jawab Kai heran
“Ssst! Pelankan suaramu! Lihatlah Sehun.” Bisik Jimin (lagi) sambil menunjuk Sehun yang sedang lonely. Sontak yang lain pun juga melirik ke arah Sehun.
“Kupikir dia adalah pasien rumah sakit jiwa yang sedang kabur.” Balas Kai sambil memiringkan kepalanya
“Berarti kita harus menelfon rumah sakit jiwa itu hyung. Cepatlah!” kata Taehyung panik sambil memukul-mukul lengan Jimin.
“Haishh, geumanhee. Awalnya kupikir juga begitu. Tapi kurasa bukan.” Jawab Jimin sambil menyingkirkan tangan Taehyung di lengannya.
“Jadi apa?” Tanya Kai
“Taehyung! Periksakan Sehun!” suruh Jimin sambil menyenggol lengan Taehyung.
“Maksudmu membawa dia ke rumah sakit jiwa?” Tanya Taehyung polos yang mendapat hadiah jitakan dari Kai.
“Bukan itu maksudnya. Pergi sajalah ke tempatnya.” Suruh Kai sambil mengusir Taehyung dari tempatnya. Sementara Taehyung hanya mencibir karena sedari tadi di suruh-suruh terus, “Huh, memangnya aku pembantu apa?” namun Taehyung tetap pergi ke tempat Sehun.
To: Youngiie~
Ke tempat berkumpul dengan teman-temanku. Kau mau ikutkan?

From: Youngiie~
Untuk apa?
Taehyung menghampiri Sehun diam-diam. Dia melihat Sehun yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya sedang mengetikkan suatu pesan balasan. Dia pun melihat untuk siapa pesan yang dia balas, ternyata Oh Hayoung. “Youngiie?” gumam Taehyung pelan namun membuat Sehun sadar dari kegiatannya.
To: Youngiie~
Untuk membicarakan tentang bagaimana menyatakan perasaanku ke Nara.

From: Youngiie~
oh~ kapan?
“Kenapa semua balasannya sangat singkat, jelas dan padat sih?” tanya Taehyung agak keras sehingga Kai dan Jimin dapat mendengarnya. Mereka pun dengan rusuh mendatangi tempat Sehun.
“Haishh, kau ini…” cibir Sehun kesal sementara Taehyung hanya menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya ada kutunya. Karena mereka sudah terlanjur datang Sehun pun tetap membalas pesan dari ponsel Hayoung.
To: Youngiie~
Yak! Kau itu mau ikut atau tidak sih? Sepulang sekolah saja.
“Ciieee… dia sudah mulai membalas pesanmu…” goda Jimin.
“Dia itu hanya adik perempuanku. Araa!” sanggah Sehun.
“Hosh… hosh… aku belum terlambatkan?” tanya Hoseok nimbrung, dia baru saja memasuki kelasnya saat bel sudah berbunyi. “Apa yang aku lewatkan?” tanyanya lagi dengan wajah polos nan longornya.
From: Youngiie~
Arasseo, aku ikut.
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi dan Lee Seonsaengnim pun masuk kelas. Melihat itu Hara pun membangunkan Hayoung dan mengembalikan ponsel Hayoung.
“Yak! Youngiie, ireona. Lee seonsaengnim sudah masuk.” Ucap Hara sambil mengguncang-guncangkan tubuh Hayoung agak kuat.
“Hah? Arasseo. Huah…” Hayoung bangun sambil merenggangkan tubuhnya.
Untung saja, Lee seonsaengnim tidak melihatnya atau dia bisa terkena hukuman, karena Lee seonsaengnim terkenal sebagai guru yang disiplin di sekolahnya.
(((
Sore harinya di sebuah basecamp, tempat Sehun biasa berkumpul dengan teman-temannya. Luhan, Taehyung, Hoseok, dan yang lain sedang bermain bersama. Mereka berkumpul hari ini karena disuruh oleh Sehun.
“Huh, kapan Sehun hyung akan datang? Lama sekali.” Keluh seorang laki-laki imut yang sudah kecapekan bermain dengan hyung-hyungnya.
“Yak! Jungkookie. Kenapa kau berhenti? Tadikan masih seru.” Seru seorang laki-laki mungil kepada seseorang yang sedang terduduk di sofa yang tadi sedang mengeluh – Jeon Jungkook.
“Aku capek Jimin… eh? Maksudku Jimin hyung.” Balas Jungkok kepada pria mungil – Park Jimin yang tengah mengelus-elus dadanya sendiri mencoba bersabar.
“Yang sabar ya, Jimin… kau tahukan bagaimana Jungkok?” ucap Hoseok sambil menepuk-nepuk bahu Jimin memberi semangat.
“Padahal Sehunkan angin, tapi kenapa dia belum juga sampai sih?” gerutu Kai.
“Hah? Angin? Sejak kapan dia memiliki kekuatan? Jangan-jangan kalian ini sebenarnya alien ya? Huah… tolong jangan membunuhku. Aku masih belum punya pacar…” kata Taehyung sambil memohon kepada Kai.
“Sadar dirilah! Alien bilang alien. Dia hanya membuat-buat.”
“Bagaimana denganku? Kekuatanku apa?” tanya Taehyung polos sambil menunjuk dirinya sendiri.
“kekuatanmu adalah… makanan.” Jawab Baekhyun asal
“Oh… jadi kalau aku banyak makan, aku bakalan jadi kayak hulk ya?” tebak Taehyung polos.
“Bukan. Kalau kamu banyak makan kamu bakalan jadi gemuk kayak Jin hyung.” Jawab Jimin.
“Hah? Emangnya Jin hyung gemuk? Sejak kapan?” tanya Jungkook polos.
“Sejak Negara antah berantah menyerang.” Jawab Chanyeol asal
“Kapan itu?” tanya Taehyung
“Bunuh hayati, bang…” gumam Hoseok
“Kamu nih, dari tadi hayati ke hayati. Kamu itu emang masih hidup. Kamu mau mati huh?” omel Luhan.
“Hehe, mianhee hyung. Aku tadi terbawa perasaan.”
“Memangnya Jin itu siapa?” Tanya Jungkook lagi. Anak ini benar-benar kepo.
“Jin itu yang…” J-hope sengaja menggantungkan kalimatnya. Dia memberikan kode kepada Jimin, yang diterima dengan baik oleh Jimin.
“Sowoneul malhaebwa, I’m genie for you, boy. Sowoneul malhaebwa, I’m genie for your wish. Sowoneul malhaebwa, I’m genie for your dream. Naegaeman malhaebwa, I’m genie for your world.”
J-hope dan Jimin pun menarikan Genie-nya SNSD dengan sexy.
“Ya! Ya! Ya! Stop! Stop! Stop! Kalian membuat mataku rusak.” Protes Baekhyun sambil menutupi mata suci(?)nya.
“Tentu saja, kamikan tidak se-sexy Taeyeon, Tiffany, Hyoyeon SNSD.” Jawab J-hope jengkel.
“Kau pikir aku ini apa hah? Aku ini kan sexy.” Protes Jimin sambil mencoba berpose sexy.
“Aku yang lebih sexy.” Sanggah Kai sambil berpose sexy juga.
“Aku merasa kotor.” Ucap Jungkook sambil mengusap-usap badannya.
Tidak lama kemudian datanglah orang yang mereka tunggu-tunggu, Oh Sehun bersama seseorang yang lain di belakangnya. Mereka sama-sama mengenakan pakaian casual berwarna biru langit dan putih yang membuat mereka serasi.

image
image

“Yak! Sehuniie… eh? Maksudku Sehun hyung. Kau sudah datang?” sambut Jungkook sambil bangkit dari sofa.
TTAK!
“Aww… appo hyung…” ringis Jungkook sambil mengelus dahinya yang tadi dijitak oleh Hoseok.
“Kapan kau bisa sedikit lebih sopan kepada hyung-hyungmu hah?” omel Hoseok.
“Sehun, siapa itu dibelakangmu?” Tanya Kai sambil menunjuk seseorang dibelakang Sehun. Sehun pun melirik ke belakangnya.
“Dia adikku, Oh Hayoung yang sering kuceritakan kepada kalian.” Kata Sehun sambil menarik Hayoung agar berdiri di sampingnya.
Dia bercerita tentang diriku kepada teman-temannya? Huh, bagiku kau masih belum seorang oppa. Ani, mungkin tidak akan. Batin Hayoung.
Hayoung hanya memutar bola matanya jengah, karena dia tadi juga dipaksa kesini padahal dia sedang marah kepada Sehun. Tapi entah kenapa Sehun dengan mudahnya mengajak dirinya ke tempat teman-temannya. Untung ini hanya sebuah basecamp biasa, bukan tempat lain yang lebih macam-macam lagi.
Flashback
“Yak! Kenapa kau masih bersantai seperti itu hah?” tanya Sehun ketika melihat Hayoung masih santai dengan kaos dan hotpansnya sambil menonton televisi.
“Wae? Memangnya ada yang salah?” Tanya Hayoung balik sambil memerhatikan dirinya, bertanya-tanya apa yang salah dengannya? Kenapa Sehun emosian seperti itu?
“Bukankah kita akan pergi ke tempat teman-temanku.” Jawab Sehun sambil berkacak pinggang memerhatikan Hayoung yang hanya menatapnya dengan heran.
“Hah? Untuk apa? Memangnya kita sudah janjian ya? Padahal tadi pagi kita kan lagi marahan.” Balas Hayoung sambil kembali menonton televisi.
“Padahal kau yang mengirimkanku sms bahwa kau akan ikut denganku.” Jawab Sehun santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Sementara Hayoung beralih menatap Sehun dengan alis hampir bertaut seakan mengatakan ‘apa maksudmu?’. “Kau tidak percaya? Ini buktinya.” Ucap Sehun sambil mengeluarkan ponselnya dan membuka chatting-an-nya dengan Hayoung lalu menunjukkannya ke depan wajah Hayoung.
Hayoung pun merampas ponsel Sehun dan membacanya. “Maldo andwae.” Gumam Hayoung saat membacanya.
“Ada apa ini?” Tanya eomma mereka yang sedari tadi berada di samping Hayoung ikut menonton televise dan hanya memperhatikan mereka kini beralih ikut menimbrung percakapan mereka.
“Eomma, Hayoung ingkar janji. Katanya dia akan ikut menemaniku tapi lihatlah eomma, sekarang dia malah berpura-pura tidak tahu seperti ini.” Adu Sehun kepada eomma mereka sambil menunjuk Hayoung yang masih terkejut dengan percakapan (sms) mereka di ponsel.
“Anigoteun! Aku tidak berpura-pura. Aku benar-benar tidak tahu eomma.” Sanggah Hayoung sambil berdiri dari duduknya dan menghadap eomma mereka.
“Gotjimal. Terus ini apa? Ini adalah bukti yang kuat. Araa?” balas Sehun sambil menatap Hayoung dengan tatapan menantang. Dan Hayoung balik menatap Sehun tajam, karena dituduh seperti itu.
“Sudah… Sudah…” akhirnya eomma mereka melerai mereka.” Hayoung pakailah bajumu yang sopan dan ikutlah dengan oppamu.” Sambung eomma mereka. Hayoung yang mendengar itu membelalakkan matanya tidak percaya, bagaimana mungkin eomma mendukung Sehun? Sementara Sehun dia tersenyum penuh kemenangan.
“Eomma…” rengek Hayoung memohon kepada eomma mereka.
“Wae? Bukankah itu bagus kalian bermain bersama. Dan carilah sesuatu yang baru, Youngiie. Arasseo?” balas eomma mereka yang membuat Hayoung menjadi kehilangan semangat.
“Palli! Aku menunggumu.” Perintah Sehun sambil mendorong Hayoung menuju kamar Hayoung.
Sementara Hayoung hanya melemparkan death glare kepada Sehun yang tidak digubris sama sekali oleh Sehun, membuat Hayoung kesal sambil masuk ke kamarnya, mau tak mau dia pun mengganti pakaiannya dan ikut pergi dengan Sehun.
Flashback off
“Annyeong haseo. Oh Hayoung imnida, bangapta.” Sapa Hayoung sambil sedikit menundukkan kepalanya memberi salam kepada teman-temannya Sehun.
“Hayoung?” gumam Hoseok, dia merasa familiar dengan nama dan suara itu. Dia pun mencoba mengingat sesuatu, dan dia pun berhasil. “Oh Hayong! Lama tidak bertemu. Kau tidak terlalu berubah.” Ucap Hoseok sambil mendekati Hayoung.
“Nuguseyo?” Tanya Hayoung sambil beranjak mundur karena Hoseok mendekatinya. Sehun yang melihat itupun hanya mengerutkan dahinya, bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Kau tidak ingat aku? Ini aku, J-hope. Bagaimana mungkin kau melupakanku selama kurang dari satu tahun hah?” Kata Hoseok sambil menghentikan langkahnya setelah merasa cukup. Hayoung pun mencoba mengingat sesuatu, tiba-tiba muncul sebuah senyuman hangat di wajahnya.
“J-hope oppa! Kenapa kau lama sekali hah? Aku merindukanmu.” Ucap Hayoung sambil memeluk Hoseok melepas rindu. Hoseok merasa senang karena akhirnya Hayoung masih mengingatnya. Hoseok pun membalas pelukan rindu tersebut.
“Mianhee, kalau aku agak lama. Nado bogoshippeo, Hayoungiie” balas Hoseok sambil menepuk-nepuk punggung Hayoung.
Sementara yang lain hanya melongo melihat peristiwa tersebut, terutama Oh Sehun. Dia tidak pernah tahu bahwa Hayoung dan Hoseok sudah lama saling kenal. “Ekhm…” Sehun berdehem untuk mencairkan suasana yang tidak terlalu haru tersebut.
“Yak! Hyung, kau mengganggu saja. Tadikan sudah bagus.” Omel Jimin sambil menyikut lengan Sehun. Namun itu sia-sia karena akhirnya Hayoung dan Hoseok melepas pelukan rindu mereka.
“Jadi kalian sudah saling kenal?” Tanya Luhan heran sambil menunjuk Hayoung dan Hoseok.
“Eoh? Iya, kami bersahabat sewaktu kecil.” Jawab Hoseok santai. Sementara Hayoung, dia diam-diam menggigit bibir bawahnya.
Kumohon jangan marah J-hope oppa. Pinta Hayoung dalam hati.
“ Tunggu, Hayoung dan Sehun bersaudara? Sehun oppanya Hayoung?” Tanya Hoseok memastikan. Dan hanya dijawab dengan anggukan dari yang lain.
Sehun berkacak pinggang sambil menatap Hayoung dan Hoseok bergantian dengan tatapan menyelidik. Hoseok mengalihkan pandangannya kearah Hayoung sambil menatapnya tidak percaya. Sementara Hayoung hanya semakin menundukkan pandangannya khawatir dengan apa yang akan terjadi.
“Annyeong Hayoung-ah, kita sudah lama tidak bertemu. Atau lebih tepatnya kau yang sudah lama tidak bertemu denganku.” Sapa Luhan sambil mengulurkan tangannya kepada Hayoung untuk mencairkan suasana. Sebenarnya, Luhan adalah sepupu Sehun dan Hayoung yang berasal dari china.
“Luhan? Sejak kapan kau di sini?” luhan hanya terkekeh dengan respon Hayoung. Benar, apa yang dikatakannya. Hayoung sudah lama tidak bertemu dirinya. Tapi sesuatu membuatnya agak kesal.
“Tak bisakah kau memnggilku ‘oppa’?”
“Sepertinya… tidak bisa.”
“Lupakan. Yak! Perkenalkan diri kalian!”
“Annyeong. Aku Kim Taehyung.”
“Aku Park Jimin.”
“Annyeong, namaku Byun Baekhyun.”
“Namaku Jeon Jungkook, noona.”
“Aku Kim Jongin, kau bisa memanggilku Kai.”
“….”
Merasa ada yang aneh, Baekhyun baru menyadari bahwa Chanyeol belum memperkenalkan diri. Baekhyun pun menyikut lengan Chanyeol, membuat Chanyeol sadar dari alam bawah sadarnya. Mereka tidak menyadari memang tapi sedari tadi sejak kedatangan Hayoung ke basecamp mereka, Chanyeol seperti tersedot ke suatu tempat, dia termenung sambil menatap Hayoung penuh arti. Merasakan suatu debaran aneh di jantungnya yang sebenarnya sudah sejak lama terjadi dan dia menikmatinya. Walaupun ia merasa sedikit cemburu ketika Hayoung dan Hoseok berpelukan. Tunggu dulu, cemburu?
“Apa hyung?”
“Perkenalkan dirimu.” Bisik Baekhyun kepada Chanyeol yang kebetulan berada di sampingnya. Chanyeol hanya meresponnya dengan ber-oh ria.
“Annyeong haseo, naneun Park Chanyeol imnida.”
“Ne, Annyeong haseo semuanya. Senang berkenalan dengan kalian.” Balas Hayoung sambil sedikit menundukkan kepalanya dan dibalas oleh yang lain.
“Jadi, kenapa kau membawa adikmu kesini?” tanya Luhan
“Memangnya tidak boleh? Kalian sih, dari kemarin tidak ada ide untuk misiku itu. Makanya aku membawa Hayoung.” Jawab Sehun santai.
“Kenapa kau tidak bilang? Kau bisa saja menanyakannya di rumah, tidak perlu jauh-jauh kemari.” Protes Hayoung sambil mengerutkan dahinya .
“Kau tidak ingat? Ini, tertulis disini aku hanya menawarkan kepadamu dan kau hanya mengiyakannya saja. Jadi, ini tidak sepenuhnya salahku.” Balas Sehun santai (lagi) sambil menunjukkan ponselnya.
“Arasseo. Tapi kau membawaku kemari juga bukan untuk mempromosikan diriku kepada teman-temanmu kan?” tanya Hayoung memastikan namun dingin.
“T-tentu saja tidak. Ayo, bantu aku!” jawab Sehun agak gelagapan. Sementara sedari tadi diam-diam Hoseok menatap tajam ke arah Sehun dalam diamnya.
(((
Flashback
Seoul, 2012
There is an empty space in my heart, please save me. I want to reset. Lonely eyes stuck in the dark. Is there anyone who wants to hold my hand? I want to reset. (Reset – Tiger JK ft Jinsil)
Di suatu tempat di Sungai Han, seorang yeoja berdiri di tepi sungai tersebut. Dia menangis tersedu-sedu disana, meratapi nasibnya.
“Oppa… hiks… aku merindukanmu… hiks… aku mau bersama oppa…” ujar yeoja itu sambil terus menangis, dia tidak berminat sekalipun untuk menghapus air matanya, dia hanya membiarkannya mengalir deras dipipinya seperti takdir yang sedang dia jalani.
“Oppa… hiks… aku mau bersama oppa… hiks… aku mau bertemu dengan oppa… hiks…” ujarnya lagi sambil melangkah maju secara perlahan dengan tatapan mata yang kosong.
Di lain sisi, tampak seorang namja sedang memainkan bolanya sendirian sampai ke dekat tempat yeoja itu berada. Ketika melihat seorang yeoja sedang berdiri di tepi Sungai Han tersebut, dia menghentikan permainan bolanya.
Dia awalnya heran, kenapa yeoja itu hanya berdiam diri disana sambil terisak-isak. Namun setelah melihat yeoja itu melangkah maju, padahal yeoja itu berada di ambang kematiannya. Tanpa bu-bi-bu lagi, dia pun berlari ke arah yeoja itu dan menariknya itu dari tepi Sungai Han tersebut.
“Yak! Apa yang kau lakukan hah? Kau bosan hidup?” tanya namja itu panik dan agak ngos-ngosan karena menarik yeoja yang besarnya hampir sama dengan dirinya. Mereka terduduk tidak jauh dari tepi Sungai Han tersebut, namun mereka masih dikatakan aman dari bahaya tenggelam.
“Iya! Aku sudah bosan hidup! Kenapa kau menyelamatkanku hah? Aku ingin bertemu dengan oppaku.” Jawab yeoja itu lantang sambil memukul-mukul pelan tanpa tenaga dada namja tersebut.
“Akh… aww. Appo…” ringis namja itu sambil memegang dadanya pura-pura kesakitan.
“Biarkan saja! Itu adalah hukuman untukmu karena telah menyelamatkanku.” Balas yeoja itu sambil terus memukul dada anak laki-laki itu.
Karena tidak tahan lagi anak laki-laki itu pun mengambil alih tangan gadis itu dan menguncinya dengan tangannya sendiri yang tentunya lebih kuat dari gadis itu.
“Berhentilah, itu akan menyakiti tanganmu juga diriku. Dan dimana-dimana kalau kita menyelamatkan seseorang seharusnya diberi penghargaan atau hadiah. Kok aku malah diberi hukuman sih?” Kata anak laki-laki tersebut pura-pura merajuk.
“Karena tidak ada yang mau menyelamatkanku, kecuali satu orang yang sangat kusayangi dan dia adalah oppaku.” Balas gadis itu sambil menundukkan kepalanya.
“Lalu kemana dia sekarang?”
“Dia… dia… sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang.”
Karena tidak tega melihat itu, anak laki-laki itupun memeluk gadis tersebut dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya. Awalnya gadis itu merasa kaget, namun akhirnya dia merasa nyaman akan hal tersebut.
“Mianhee. Sebagai permintaan maaf, aku akan menjadi temanmu selamanya sampai kau bahagia dan tersenyum. Lihatlah, wajah ini sangat jelek ketika menangis.” Kata anak laki-laki tersebut sambil menyengir pelan. Mendengar kata ‘jelek’, gadis itu sedikit memukul dada anak laki-laki itu.
“Bagaimana mungkin. Kita saja baru bertemu, bahkan kita belum berkenalan.” Ucap gadis itu sambil melepaskan pelukannya setelah merasa lebih baik dan mendongak ke arah anak laki-laki itu.
“Hmm, mungkin saja. Kalau begitu, ayo kita berkenalan. Namaku Jung Hoseok, kau bisa memanggilku J-hope.” Ucap namja itu – J-hope sambil mengulurkan tangan kanannya kepada gadis yang sedang duduk dihadapannya.
“Hmmpptt… nama macam apa itu? J-hope? Jomblo lagi berharapkah?” canda gadis itu sambil menahan tawanya namun malah memperlihatkan senyuman indahnya.
Wah, senyuman yang indah. Batin J-hope. J-hope tertegun melihat senyuman itu, tanpa terasa jantungnya berdebar lebih cepat. J-hope yang merasakan hal tersebut segera menyadarkan dirinya.
“Yak! Tidak baik mengejek nama orang. Tapi cepatlah tanganku serasa mau patah menunggumu.” Sahut J-hope kesal sambil mengayunkan tangan kanannya yang telah lama menunggu.
“Tapi kan aku hanya mengejek nama buatanmu, jadi tidak apa-apalah. Oh iya, namaku Oh Hayoung, panggil saja aku Hayoung. Senang berkenalan denganmu.” Kata gadis itu – Hayoung dengan senyuman hangatnya sambil membalas jabatan tangan J-hope dan mengayunkannya pelan. Mereka pun tertawa bersama karena tingkah lucu Hayoung yang mengayunkan tangan mereka yang saling berjabat.
“Beginikan lebih baik, kau nampak lebih baik saat tersenyum. Kalau yang tadi kau sangat menyeramkan. Awalnya kukira, kau itu hantu loh.” Canda J-hope setelah mereka melepas jabatan tangan mereka.
Mendengar itu Hayoung mempoutkan bibirnya.“Kau ini, bilang saja aku itu cantik saat tersenyum.” Ucap Hayoung santai dengan percaya dirinya.
“Haishh, kau terlalu percaya diri. Kalau begitu seharusnya aku ini tampan.” Balas J-hope sambil bersikap sok cool, padahal nggak cool-cool amat tuh. “Keurigu, seharusnya kau memanggilku oppa karena aku satu tahun lebih tua darimu.” Protes J-hope, Hayoung pun hanya bisa menutup telinganya dengan kedua tangannya.
“Arasseo oppa. Keundae oppa, kita benar-benar berteman bukan?” Tanya Hayoung serius.
“Keuromyeo. Memangnya kenapa?”
“Hanya saja kita baru saja berkenalan. Dan kau berteman denganku hanya karena rasa kasihan sajakan padaku? Kau hanya terpaksakan berteman denganku?” Tanya Hayoung bertubi-tubi, tanpa terasa Hayoung kembali menitikkan air matanya.
“Aniyo. Aku berubah pikiran. Aku berteman denganmu bukan karena itu.” Jawab J-hope sambil memeluk Hayoung dan menepuk-nepuk punggungnya pelan-pelan.
“Kalau bukan karena itu, lalu karena apa?”
“Karena… karena aku… aku…”
“Aku?”
“Aku ingin mempunyai adik yang manis sepertimu.”
“Kau yakin? Aku bukan orang yang manis loh..” sanggah Hayoung walaupun di dalam hatinya ia sedang berbunga-bunga karena telah dipuji.
“Kau itu manis. Sangat manis.” Kata J-hope sambil mencubit pipi Hayoung gemas.
Flashback end
(((
Seoul, 2015
Di sebuah trotoar tempat para pejalan kaki berlalu lalang ke tempat yang mereka tuju, Sehun dan Hayoung berjalan beriringan menuju jalan pulang ke rumah mereka. Mereka baru saja pulang dari tempat berkumpul Sehun dan teman-temannya. Di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam berada dalam pikiran masing-masing.
Hayoung masih kesal kepada Sehun karena mengajaknya pergi ke tempat yang tidak penting, namun jauh dalam lubuk hatinya dia sangat berterima kasih kepada Sehun karena dia bisa bertemu dengan J-hope oppanya kembali. Tapi tetap saja dia merasa kesal kepada Sehun, bukankah Sehun bisa menanyakan hal tersebut di rumah? Kenapa harus jauh-jauh ke tempat itu, baru merencanakannya?
Semetara Sehun, dia masih heran bagaimana Hayoung dan Hoseok saling mengenal. Apalagi Hayoung memanggil hoseok dengan sebutan ‘J-hope oppa’ dan Hayoung juga bersikap hangat kepada Hoseok. Sementara kepadanya? Jangankan bersikap hangat, memanggilnya dengan sebutan oppa saja tidak pernah. Hayoung lebih cenderung cuek bila bersamanya. Dan itu membuatnya kesal.
“Bagaimana kau bisa mengenal Hoseok?” tanya Sehun memulai percakapan.
“Hoseok?” Hayoung merasa aneh dengan nama itu. “Oh… J-hope oppa. Bukan urusanmu.” Jawab Hayoung dingin dan cuek.
“Bagaimana mungkin itu bukan urusanku? Kau adalah donsaengku dan Hoseok adalah chinguku.” Kata Sehun geram.
“Dongsaeng?” ulang Hayoung dengan nada sinis. “Huh, apa pedulimu? Sejak kapan kau perduli dengan urusan DONGSAENGMU ini? Bukankah kau yang selalu mengabaikanku? Jadi, carilah sendiri. Aku tak berminat untuk mengatakannya kepadamu.” Sambung Hayoung dingin dan sinis dengan ada penekanan pada kata ‘dongsaengmu’ untuk menyindir Sehun. Mendengar jawaban Hayoung, Sehun hanya bisa mematung ditempatnya. Oh Hayoung, sindiranmu benar-benar tepat sasaran.
“Oh iya, jangan lupa besok. Bila tidak, mungkin kau akan menyesal.” Kata Hayoung lagi sambil berhenti sebentar tanpa memandang ke arah Sehun dan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Sehun yang masih mematung. Hayoung tidak peduli, apakah Sehun mendengarnya atau tidak. Yang jelas dia sudah mengingatkan Sehun.
Ya, mereka sudah membicarakannya tadi. Besok Sehun harus menyatakan perasaannya kepada Nara. Menurut Hayoung, lebih cepat lebin baik, yang langsung disetujui oleh yang lain. Alhasil, mau tak mau Sehun pun harus menyatakannya besok.
(((
TENG… TONG… TENG… TONG…
Bel istirahat telah berbunyi, para guru yang mengajar pun keluar dari kelas setelah menyelesaikan pelajaran mereka dan para haksaeng pun pada sibuk, ada yang tidur di mejanya, ada yang sedang mengobrol dengan teman-temannya, dan tidak sedikit yang keluar kelas untuk ke kantin atau kemana pun itu terserah mereka.
Seorang laki-laki dengan bunga di tangannya yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya sedang berjalan dengan cepat menuju sebuah kelas. Dia adalah Oh Sehun, hari ini dia akan menyatakan perasaannya.
Setelah merasa sudah cukup dekat dengan tujuan, dia mulai melambatkan laju kakinya dan mengatur detak jantungnya, dia sedang gugup saat ini. Namun ada sebuah kejanggalan, dia melihat para siswa-siswi ramai berkerumunan disuatu tempat yang sedang dia tuju. Dia pun segera pergi kesana dan melihat apa yang sedang terjadi.
“Maukah kau menjadi pacarku?”

TBC
.
.
Annyeong haseo, saya author freelancer. Ff ini sebenarnya saya terinspirasi dari salah satu fakta Apink Hayoung yang pernah saya baca, yaitu ‘Hayoung pernah mengatakan sesuatu yang buruk selalu terjadi padanya ketika usia 11-16 tahun’.
Karena ini adalah ff pertama saya, jadi saya ingin banyak-banyak minta maaf kepada readers, kalau ff-nya gaje, pairing-nya gak seru, kata-katanya kurang dimengerti, dan masih banyak lagi. Bagi yang mempunyai kritikan atau saran, harap berkomentar agar saya bisa memperbaiki diri. Sebenarnya aku juga pingin nambahin comedy, tapi aku gak tahu apakah itu benar benar lucu atau tidak.
Dan saya sangat berterima kasih kepada yang sudah membaca ff-ku ini, apa lagi yang menyukainya. Saya benar-benar merasa bersyukur. Jeongmal kamsahamnida…

SARANGHAEYO APINK!

Meet Kim Nara

image

Park Jiyeon

image

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 1)”

  1. Hbngan kakak bradik ini jauh krna ada insiden trnyata? Siapa y yg mninggal itu ka2k prtama atau kdua?? Critanya daebakkk, lnjuttt

    1. apa ada yang salah?
      apa kurang enak?
      aku benar-benar minta maaf T_T

      tapi terimakasih atas komennya…
      aku akan lebih berusaha!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s