[EXOFFI FREELANCE] There’s Something Inside (Part 3)

There's Something Inside 2

There’s Something Inside Part 3

Author : HyeraKim

Main Cast : Kim Jongin, OC

Additional Cast : Find it by yourself!

Rating : PG 17

Genre : Angst, Family, Romance

Length : Short Chaptered

Disclaimer : Cerita ini fiksi tidak berdasarkan kisah nyata, STORY murni milik author. Cast own by their parents and God!! OC create by me and my friend.

HAPPY READING

PLEASE LEAVE A COMMENT!!!

© 2015

_HYERAKIM_

== There’s something inside==

Flashback

19 Years ago…

Do Kyungsoo, seorang siswa tingkat dua yang memiliki predikat sebagai siswa terpandai Hyunggi High School. Namanya selalu dielu-elukan para guru, bukan hanya karena dia adalah siswa yang berprestasi namun juga karena dia memiliki ukuran wajah yang tampan, latar belakang keluarga yang juga kalangan atas dan yang berikutnya dia adalah seorang siswa yang tak pernah melanggar peraturan sekolah barang sekalipun. Ya, sempurna bukan? Berbeda dengan seorang siswi bernama Im Shin Ae, seorang gadis yang sering membolos kelas, memiliki peringkat terburuk, dan parahnya dia berasal dari kalangan bawah. Jika bukan karena guru kelasnya melindungi gadis yang kini berada ditingkat 3 itu, ia pasti sudah ditendang keluar dari sekolah ini. Perbedaan dari keduanya memang sangat jelas namun sayangnya seorang Do Kyungsoo entah bagaimana dia sangat menyukai kakak tingkatnya itu, bahkan sahabatnya Suho selalu bertanya-tanya apa yang dapat dikagumi dari seorang Shin Ae? Memang benar jika gadis itu cantik, namun apa gunanya kecantikan jika dia gadis bodoh yang nakalnya minta ampun? Suho selalu menggelengkan kepalanya ketika untuk kesekian kalinya Kyungsoo memuji gadis yang dipanggilnya noona itu. Kyungsoo memanggilnya Noona, yaa… karena namja itu selalu membantu gadis itu kala ia mendapat masalah, misalnya saja jika Shin Ae lapar dan tak mau membayar makanannya atau jika gadis itu tak mengerjakan tugasnya. Tugas yang sangat sulit sekalipun akan Kyungsoo kerjakan, ia begitu tergila-gila hingga rasanya dia benar-benar gila. Shin Ae pun makin lama semakin tergantung pada seorang Do Kyungsoo. Sepertinya Kyungsoo dilahirkan untuknya, ia akan tertawa licik jika mengingatnya. Mengingat betapa bodohnya Kyungsoo hingga mau melakukan segalanya demi mendapat pengakuan cintanya. “Dasar bodoh..” Itulah yang selalu dia ucapkan dan bahkan secara gamblang ia ucapkan tanpa rasa takut didepan Kyungsoo, toh lelaki itu hanya akan tersenyum menanggapinya.

Seperti halnya malam ini, Kyungsoo yang mendapat panggilan dari Shin Ae untuk menjemput gadis itu yang tengah mabuk di sebuah club malam. Gadis nakal itu selalu tak punya uang untuk makan siangnya namun ia selalu punya uang untuk minum, hal yang membuat Kyungsoo selalu menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir.

“Noona, kau tidak pernah memberitahuku alamat rumahmu, hari ini orangtuaku dirumah, aku tidak bisa membawamu pulang seperti malam terakhir, kita harus kemana?” Tanya Kyungsoo pada Shin Ae yang saat ini terlelap dipunggungnya. Lama sekali Kyungsoo menunggu jawaban dari Shin Ae sampai ia melewati sebuah hotel.

Kyungsoo diam cukup lama, ia tengah menimbang-nimbang sesuatu dalam otaknya. Haruskah aku membawa Shin Ae noona ke hotel itu? ataukah aku harus membawanya pulang? Itu tidak bisa Kyungsoo!! Orangtuamu berada dirumah. Setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk membawa Shin Ae masuk. Toh ia juga akan pergi meninggalkan gadis itu nanti. Dengan sedikit keraguan ia tetap melangkahkan kakinya memasuki lobby depan hotel.

Tak perlu waktu lama ia dapat membawa Shin Ae kedalam salah satu kamar hotel. Sudah kukatakan diawal kan dia itu cukup memiliki pengaruh jadi bukan masalah baginya untuk sekedar masuk kedalam hotel. Buih keringat membasahi kaos hitam yang dipakainya, ia merasa kulit tubuhnya lengket jika tak segera mandi hingga ia memutuskan untuk memakai kamar mandi sebentar. Setelah usai mandi, masih dengan rambut yang basah ia mendekat kearah sofa yang terletak tepat berhadapan dengan ranjang yang ditempati Shin Ae. Ia hendak memasang sepatunya namun berhenti ketika mendengar lenguhan Shin Ae. Kyungsoo terkekeh pelan sebelum akhirnya mendekat kearah ranjang Shin Ae, ia mendudukkan diri dilantai dan menatap wajah polos gadis yang disukainya itu, matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya begitu menawan dipandangan mata Kyungsoo. Shin Ae adalah sempurna baginya, meski banyak orang yang menganggap dia tak lebih dari gadis pembuat onar.

Shin Ae mengerjapkan matanya menyadari gerakan-gerakan kecil yang menyentuh surainya. Dengan segera pandangannya bertemu dengan kedua mata bulat milik Kyungsoo, begitu lama. Mereka terdiam selama beberapa menit, tenggelam kedalam pandangan penuh kehangatan dari kedua manik kelam itu. Hingga sebuah gerakan dengan berani Shin Ae lakukan, ia mendekatkan wajahnya semakin merapat dengan Kyungsoo, hingga keduanya dapat merasakan hembusan napas hangat mereka masing-masing. Shin Ae menempelkan bibir pulm miliknya menyentuh bibir tebal milik Kyungsoo, menggerakkan bibirnya dengan gerakan gerakan kecil yang membuat Kyungsoo tak dapat menahan hasrat untuk melakukan lebih, hingga akhirnya Kyungsoo membalas ciuman yang dimulai oleh gadis bermarga Im itu. Shin Ae meremas pelan surai kecoklatan milik Kyungsoo membuat pria 17 tahun itu benar-benar terangsang, hingga tangannya secara refleks mendorong tengkuk Shin Ae untuk memperdalam ciuman mereka.

A Years Laters…

SREEKK……

Secara refleks Kyungsoo menaikkan selimutnya ketika ibunya membuka tirai dikamarnya.

“Bangun Kyungsoo!! Bukankah kau bilang ada Tes hari ini?”

Teriak ibunya seraya menyeret selimut Kyungsoo. Asal kalian tahu, banyak hal yang berubah darinya. Ia selalu bangun lebih siang dari biasanya, datang sekolah lebih siang, dan menjadi lebih pendiam bahkan kepada Suho sahabatnya sendiri. Meski banyak yang tak menyadari perubahannya karena Kyungsoo tetaplah murid nomor satu tapi tetap saja orang-orang terdekatnya tahu perubahannya. Ini semua berawal ketika ia bertengkar hebat dengan Shin Ae. Shin Ae marah besar padanya karena insiden kecelakaan malam dihotel itu. Kyungsoo tahu dia salah tapi Shin Ae tak mau berbicara banyak, dia hanya menangis dan terus memukuli Kyungsoo dengan brutal, meski pukulannya tak membuat Kyungsoo merasakan kesakitan sama sekali. Kyungsoo sempat menanyakan pertanyaan yang harus ia timbang berkali-kali saat itu, ‘Apakah noona hamil? Karena malam itu?’ tapi saat itu Shin Ae tak menjawab dan hanya terus menangis terkadang ia menjawab, ‘Kau tahu apa anak kecil?’ Hey tapi bukankah Kyungsoo juga cukup dewasa untuk menanyakan hal seperti itu. Dan beberapa minggu setelah pertengkaran mereka, Shin Ae mengundurkan diri dari sekolah.

Kyungsoo sempat bertanya pada wali kelas Shin Ae, namun wali kelasnya juga tak tahu dan bahkan tak dapat menemukan Shin Ae dimanapun setelahnya. Kyungsoo hanya takut ia berbuat sesuatu yang tak seharusnya, ia takut Shin Ae menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya, bagaimana kalau itu benar terjadi dan Shin Ae menggugurkan kandungannya? Tidak!! Kyungsoo sangat tidak mau itu terjadi.

Saat ini Kyungsoo telah kembali dari sekolah, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju kerumahnya, kepalanya terus tertunduk hingga saat ia hampir sampai didepan rumahnya, sebuah kaki kurus dengan sepatu kets putih menghentikan langkahnya. Ia mendongak untuk melihat kaki milik siapakah itu, tepat saat itu juga ia memundurkan langkahnya saking terkejutnya. Orang yang selalu dipikirkannya setiap malam, mengganggu mimpinya setiap malam, tapi bukan itu masalahnya.. yang membuat Kyungsoo paling terkejut adalah bayi dalam gendongannya, bayi yang mungkin baru berusia beberapa bulan atau hari? Ia sangat kecil dalam gendongan Shin Ae. Kyungsoo menelan salivanya yang terasa begitu kering dengan susah payah. Hingga Shin Ae mendekatinya memaksa Kyungsoo yang belum tersadar dari keterkejutannya untuk mengambil alih bayi dalam gendongannya.

Shin Ae menatap Kyungsoo dengan datar, tak tersirat rasa bersalah, sedih atau ekspresi apapun diwajahnya. Pandangannya begitu dingin dan tajam menatap dua nyawa dihadapannya itu.

“Rawat hasil perbuatanmu, aku tidak peduli… aku tidak bisa mengurusnya kalau aku tetap ingin hidup, ayahku pasti akan membunuhku jika aku membawa bayi ini pulang..” Ucapnya datar lalu meninggalkan Kyungsoo begitu saja. Bibir tebal milik Kyungsoo terkatup rapat, ia tak dapat menjawab apapun.

==There’s something inside==

“DASAR ANAK BRENGSSEK!!! Mau kau taruh dimana muka ayahmu hah??”

“…”

“JAWAB KYUNGSOO!! JANGAN DIAM SAJA!!”

BUKK…

Entah pukulan keberapa yang mendarat diwajah tampan Kyungsoo kali ini. Ayahnya tentu saja murka dengan ulah anaknya itu. Bagian manakah dari cara mendidiknya yang pernah mengajarkannya untuk menghamili seorang gadis diluar nikah? Ayah Kyungsoo merasa tidak pernah mendidik putranya dengan cara yang salah…

Kyungsoo merosot begitu saja ketika sang ayah melepas cengkeramannya dikerah kemeja seragam milik Kyungsoo, kemeja putihnya sudah tercoreng noda darah, pertama kali dalam hidupnya Kyungsoo dipukuli sang ayah, namun pukulannya begitu keras hingga membuat Kyungsoo merasakan kesakitan diseluruh rahangnya.

“Coba katakan padaku! Apa yang sekarang ini harus kau lakukan? APA KYUNGSOO!!”

Kyungsoo masih diam, buliran bening meluncur deras dari kedua matanya sejak ia mengungkapkan kesalahannya pada sang ayah saat pertama kali. Ia hanya bisa terduduk dilantai sambil terus mendengar erangan frustasi sang ayah.

“Sudahlah yeobo.. semuanya sudah terlambat! Lihatlah bayi mungil ini, ia begitu cantik dan menggemaskan.. demi masa depan cucu kita ini, kumohon maafkanlah Kyungsoo.. ini adalah permintaanku sebagai seorang ibu, sayang..”

Ibu Kyungsoo mendekat sambil menggendong bayi Kyungsoo dan membujuk sang suami. “Aku tidak peduli!!” Ucap Tuan Do seraya melenggang pergi meninggalkan ruang tengah.

“Ibu tidak tahu bagaimana cara membuat ayahmu memaafkanmu, tapi ibu akan membantumu merawat bayi tak bersalah ini.. selama kau belum menyelesaikan masa sekolahmu anggap bayi ini adalah adik angkatmu!” Giliran Ny. Do yang berujar. Ia bergerak mendekati Kyungsoo yang masih diam seribu bahasa. Ia menyentuh bahu Kyungsoo, “Demi bayi ini, ibu memaafkanmu! Ibu akan memanggilnya Hyera..”

Beberapa tahun kemudian, setelah Kyungsoo lulus dari Universitas Seoul dan magang menjadi dokter di salah satu rumah sakit di kota Seoul, ia membawa Hyera keluar dari rumah orangtuanya dan merekapun mulai menikmati tinggal berdua disebuah apartemen sederhana yang Kyungsoo beli dari hasil jerih payahnya kerja part time saat menjadi mahasiswa. Hyera bahagia meski hanya hidup berdua dengan Kyungsoo, mereka hidup sebagai ayah-anak yang serasi. Kyungsoo bahkan mengabaikan wanita-wanita yang mendekatinya yang dengan seenaknya menyatakan sanggup merawat Hyera, ia hanya tak ingin Hyera memiliki ibu tiri. Ia mungkin overprotektif pada putrinya itu, ia tak ingin siapapun melukainya bahkan sekalipun itu ibu kandungnya.

Flashback End

Hyera mengerjapkan kedua matanya, sinar matahari mulai menelisik kedalam kamar bernuansa warna hitam dan coklat tua ini. Ia sempat memeriksa posisi kosong disamping kanannya, tak ada seorangpun. Sepertinya pria itu sudah bangun. Hyera menurunkan kedua telapak kakinya menyentuh lantai memasang sepasang sandal rumah lalu menguncir surai kecoklatannya keatas. Tak lupa ia membenarkan kaos putih milik Kai yang ia kenakan sekarang mengingat kaos itu sangat kebesaran ditubuhnya. Setelahnya ia berjalan keluar kamar. Ia mendengar suara-suara kecil benda-benda didapur, mungkin itu Kai.. siapa lagi?

Ia masih melangkah dengan santai ketika melihat beberapa bahan makanan diatas meja, mungkin Kai ada dikamar mandi pikirnya. Tujuan awalnya kemari adalah untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa begitu kering. Belum sempat ia meminum air dalam gelasnya ia mendengar langkah kaki yang mendekat, ia langsung menoleh kesumber suara. Ia sempat membulatkan kedua matanya ketika melihat orang yang tengah berdiri dihadapannya. Dengan cepat ia meletakkan gelasnya

“Annyeong haseyo..” Ucapnya disertai membungkuk 90 derajat. Dan wanita itu hanya menatap datar kearah Hyera.

Saat ini mereka berdua telah duduk disofa ruang tengah. Hyera masih menundukkan kepalanya dan wanita itu masih duduk dengan angkuh.

“Beruntung sekali aku bertemu denganmu disini!” Ucapnya kemudian. Hyera masih tertunduk.

“Ada hal yang ingin kukatakan padamu!”

Kini tatapannya melembut, sebelah tangannya meraih telapak tangan milik Hyera yang menggenggam ujung kaos yang ia kenakan. Tentu saja hal ini membuat Hyera menatap kearahnya.

“Denganku?” Tanya Hyera.

Wanita itu mengangguk.

“Hyera aku tidak perlu berbasa-basi lagi” Shin Ae –wanita itu memberi jeda sambil menatap sendu kearah Hyera. Hyera tak mengerti dengan tatapan itu, namun ia merasa akan tertimpa sesuatu saat itu juga.

“Katakan saja ahjumma, tak apa..” Balas Hyera.

Shin Ae menghembuskan satu napas kasar.

“Hyera, aku pernah berbuat kesalahan saat aku masih sangat muda.. aku pernah menelantarkan putriku dan membiarkan ayahnya merawatnya seorang diri..” Shin Ae kembali diam tiba-tiba saja air mata mengalir dari pelupuk matanya. Hyera sempat terkejut namun dia terlihat tenang.

“Ahjumma, tidak apa katakan saja!!” Hyera berusaha menenangkannya, membuat suasana nyaman bagi wanita berusia 36 tahun itu untuk berbicara dengan santai.

“Maafkan aku Hyera, aku tidak tahu semua akan menjadi seperti ini tapi..”

“..tapi kesalahan yang pernah kulakukan itu adalah kesalahanku bersama dengan ayahmu Hyera..”

DEG Seluruh tubuh Hyera menegang seketika, apa? Apa yang dikatakannya?

“M-Maaf ahjumma, aku.. aku tidak mengerti maksudmu..” Hyera masih berusaha berpikir positif.

“Hyera..” Sebelah tangan Shin Ae kini membelai pipi kiri Hyera.

“Hyera kau.. kau putriku Hyera.. aku.. aku tidak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi, kau dan Kai.. kalian.. sebaiknya kalian tidak bersama karena.. kau tahu itu artinya kalian saudara tiri..”

Seketika Hyera menepis tangan yang menyentuhnya. Airmata keluar dari kedua pelupuk matanya tanpa seizinnya. Ia menggelengkan kepalanya..

“Aniya.. itu bohong!! Itu bohong ahjumma!! Itu tidak benar..”

“Hyera, maafkan eomma nak.. seharusnya ini-“

“CUKUP!! Aku tidak mau mendengarnya lagi!”

Saat itu juga Hyera melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Kai. Masih dengan tangisnya ia berjalan menuju elevator, tak peduli seorang ahjumma menatapnya aneh karena menangis dengan penampilan yang begitu berantakan,

“Agasshi.. gwaenchanayo?” Tanya ahjumma itu, namun ia hanya tak mampu menjawabnya dan hanya terus menangis histeris.

Hyera tak mengerti kedua kakinya terus berlari tanpa arah. Ia tak tahu bahkan tak ingin tahu kemana dia akan pergi. Bulir air mata terus mengalir tanpa henti, bahkan kini buih keringat mulai membasahi pelipisnya dan kaos putih yang begitu kebesaran ditubuhnya. Rambutnya masih terikat seadanya, bahkan sandal rumah masih ia kenakan. Ia terlalu shock hingga tak mampu memikirkan hal lain selain berlari. Tak peduli banyak orang yang kini memandangnya aneh, karena orang-orang itu toh tak tahu bagaimana remuknya hatinya saat ini. Baru saja ia terbangun dari mimpi indahnya beberapa jam yang lalu, bahkan ia masih ingat semalam ia memimpikan sesuatu yang sangat manis namun ketika ia membuka kedua matanya dan melangkah menuju ruang tamu apartemen Kai, ia bertemu dengan seorang wanita cantik yang memberinya sebuah mimpi buruk. Ya.. mimpi yang bahkan tak pernah ia pikirkan sama sekali, bahkan sekalipun dalam hidupnya ia tak pernah berpikir walau sedetikpun bahwa kenyataan sepahit ini harus ia telan. Sampai akhirnya ia tersungkur ketanah karena kakinya sudah lelah berlari.

==There’s something inside==

Baru saja Kai masuk kedalam apartemennya dan ia dapat mencium aroma masakan. Ia tersenyum. Tapi tunggu.. tidak ada bahan masakan yang dapat dimasak didalam kulkas lalu dari mana Hyera mendapat bahan makanan? Ia segera masuk dan berjalan menuju dapur.

“Darimana kau dapat bahan-“ Ia menghentikan kalimatnya ketika melihat siapa yang berada didapurnya. Kai menjatuhkan kantung plastic yang ia bawa dan berjalan cepat menuju dapur. Ia menarik tangan wanita yang kini menggunakan dapurnya itu. “Sedang apa kau disini? Dimana Hyera?” Tanya Kai sarkastik.

“Hyera? benarkah tadi dia ada disini? Aku-”

“LANCANG SEKALI KAU!! APA YANG KAU KATAKAN PADANYA IM SHIN AE!!!!”

Kai membanting pintu apartemennya dan berjalan masih dengan menahan amarahnya menuju elevator. Ia terlalu muak berlama-lama menatap wajah wanita yang beberapa tahun terakhir ini menjadi istri ayahnya. Sekalipun tak pernah tercatat dalam kamus kehidupan Kim Jongin untuk luluh dan menerima Im Shin Ae untuk menjadi ibu tirinya. Semakin lama justru kebencianlah yang semakin menguasainya, belum lagi wanita itu menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya hanyalah wanita egois dengan hati batu yang tak pernah mau berpikir tentang putri kandungnya yang telah lama tak ia jumpai. Kebencian semakin menguasai relung jiwanya kala pagi ini wanita itu justru membuatnya naik pitam dengan memberitahu Hyera sebuah fakta pahit yang selalu ia simpan, fakta bahwa mereka adalah saudara tiri. Sebuah fakta memuakkan yang sama sekali tidak akan dapat Kai terima.

Kai masih dalam perjalanannya mencari Hyera, dengan motor sport miliknya ia memacu kecepatan sedang dan dengan tatapan menyapu sekeliling trotoar jalan, berharap ia dapat menemukan Hyera diantara orang yang memenuhi trotoar jalanan. Setelah sekitar dua jam berputar-putar, ia masih belum juga menemukan sosok Hyera. Kai menggeram kesal, ia menyesal karena meninggalkan Hyera sendirian di apartemennya. Seandainya ada mesin waktu tentu saja ia ingin membuat waktu terulang, dan saat itu ia tak akan meninggalkan Hyera kemanapun.

Ia terhenti tatkala ponsel miliknya berdering keras. Setelah melihat layar ponselnya ia menggeser icon hijau dan menerima telepon dari kontak bernama Park Chanyeol.

“Ada apa hyung?____MWO?_____baiklah aku segera kesana.. gomawo hyung!!”

==There’s something inside==

Hyera terdiam menatap jendela dengan korden putih disebuah kamar. Ia masih duduk diatas ranjang biru muda dikamar seorang sahabatnya. Hyera tak tahu harus kemana kala kedua kakinya sudah lelah melarikan diri, dan yang ia tahu Hyeri -sahabatnya tinggal di daerah yang tak jauh dari tempatnya terakhir terduduk diatas sebuah jalan setapak, hingga ia melangkahkan kakinya menuju kerumah Hyeri. Meskipun mungkin ia sedikit mengganggu acara sahabatnya itu dengan tunangannya, namun ia tak peduli, toh ia hanya butuh tempat singgah. Lagi pula ia tak terlalu mengganggu..

Ia masih bersandar di headboard ranjang milik Hyeri sambil memeluk lututnya, pandangannya masih tertuju pada hal yang sama yaitu jendela kamar Hyeri yang tertutup korden putih. Entah apa yang membuat pemandangan itu begitu menarik minat matanya. Kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir seorang wanita yang selama ini dikenalnya sebagai ibu tiri Kai. Kalimat yang membuatnya terlalu pusing untuk memikirkannya, kalimat yang dapat membuat kedua matanya langsung dipenuhi buliran air mata. Sebuah kalimat pertama yang diucapkan oleh seorang yang mengaku menjadi ibu kandungnya. Sangat menyakitkan…

Pandangannya beralih kearah pintu ketika mendengar knop pintu terputar dan menimbulkan suara decitan kecil dan berakhir menampakkan postur tubuh tegap seorang pria. Pandangan mata mereka bertemu, tatapan khawatir ia temukan dari kedua manik mata milik Kai. Entah kenapa hanya dengan menatap Kai membuatnya kembali meneteskan bulir airmatanya. Hyera tak kuasa menahan tangisnya hingga sekali lagi entah keberapa kalinya dihari ini ia kembali menangis.

Melihat gadisnya menangis, Kai menghampirinya. Ia meraih tubuh Hyera dengan sekali rengkuhan. Membiarkan Hyera menyembunyikan wajah menangisnya. Tangisan Hyera begitu memilukan bagi siapapun yang mendengarnya, karena hanya emosi berupa tangisan lah yang dapat ia keluarkan. Ia tak mampu berucap apapun, ia tahu sewajarnya berada dalam posisinya saat ini seharusnya ia meminta kejelasan dari Kai, namun tidak bagi Hyera. Ia tak ingin mendengar penjelasan apapun, ia hanya membutuhkan Kai yang dapat menopang jiwanya yang tergoncang saat ini.

Sama halnya dengan Kai, ia tak ingin mengucap apapun. Ia hanya ingin menenangkan Hyera sebisa yang ia mampu. Ia hanya ingin gadisnya berhenti memikirkan hal yang buruk. Dengan lembut dan penuh kasih sayang ia membelai surai kecoklatan milik Hyera, ia juga menempelkan dagunya di puncak kepala Hyera, memeluknya dengan erat dan memberikan kehangatan yang ia punya. Ia rela melakukan apapun untuk Hyera, karena Hyera adalah hidupnya, saat ini ia tak perlu apapun kecuali Hyera. Ia sudah kehilangan kesempatan untuk menjaga ibunya, karena itulah ia tak ingin menyia-nyiakan Hyera. Ia tak ingin merasakan penyesalan untuk kedua kalinya. Karena baginya saat ini hanya karena Hyeralah ia bertahan menjalani kehidupannya. You are the reason, that’s why I still breath today…

Dibalik pintu coklat seorang gadis bersurai hitam lurus menempelkan telinganya didaun pintu itu. Dengan posisi yang aneh –jika kau melihatnya secara langsung- berusaha mencuri dengar suara apapun yang mungkin dapat ia dengar. Ia penasaran, sangat penasaran.. hubungan Hyera dan Kai tak pernah bermasalah selama ini, karena itu siapapun ingin tahu apa masalahnya sekarang?

“YAK! Yoon Hyeri geumanhae!!” Sebuah suara berat berteriak dari ruang tengah mnginterupsi. Membuat Hyeri –gadis bersurai hitam itu menggeram kesal. Pasalnya teriakan Chanyeol -tunangannya itu terlampau keras dan membuatnya tak dapat menguping dengan baik. Kini langkah kaki mendekat kearahnya. Hyeri dapat melihat siapa yang sekarang berdiri didepannya, namja jangkung bersurai sama legam dengan miliknya.

“Apa kau tidak malu meng-eemmp..”

”SSSTTT!! Kau itu berisik sekali Park Dobby! Aku tidak dengar apapun..” Ucap Hyeri dengan suaranya yang setengah mendesis.

“mmhfgydnmmifyfb……”

Hyeri mengerutkan keningnya mendengar racauan konyol tunangannya itu. “Kau bilang apa aku tidak mengerti, changiya..”

Dan selanjutnya pria itu hanya menunjuk tangan Hyeri yang membekap mulutnya. Hyeri melepas tangannya sambil menunjukkan cengiran.

“Bagaimana aku bisa bicara jelas kalau kau bekap mu-mmmp…”

”SSSTT… sudah kubilang jangan keras-keras..!!” Hyeri lagi-lagi membekap mulut Chanyeol. Terlihat dengan jelas dari kedua manik mata Chanyeol, saat ini dia sudah kesal dan tanpa babibu ia mengangkat tubuh Hyeri dan membuatnya berteriak histeris..

“Naahh sekarang siapa yang berisik hah??” Ucap Chanyeol sambil menggendong Hyeri berjalan menjauh menuju kamar tamu.

“Malam ini kita disini saja sayang..” Bisiknya tepat ditelinga Hyeri, membuat bulu kuduk diseluruh tubuh Hyeri tiba-tiba meremang.

“YAK!! APA YANG MAU KAU LAKUKAN???? PARK DOBBY!!”

==There’s something inside==

Kyungsoo menghentikan laju mobilnya di basement salah satu bar terbesar di Gangnam. Ia mendapat 20 lebih panggilan saat ia sedang melakukan operasi, dan panggilan itu berasal dari Im Shin Ae. Wanita itu dengan brutal menelpon Kyungsoo dengan suara parau, dengan sekali dengar saja Kyungsoo tahu wanita itu pasti sedang mabuk. Belum lagi wanita itu menangis dan meracau tak jelas dan menyebut-nyebut nama Hyera. Awalnya ia berharap ia tak peduli, namun pada akhirnya ia juga datang. Ada sebagian tempat dalam dirinya yang tak ingin membiarkan wanita itu pergi lagi. Karena, ya tentu saja Kyungsoo masih mencintainya. Sekasar dan seburuk apapun kelakuan wanita itu, apapun hal buruk yang dilakukan wanita itu dan bahkan yang membuatnya menderita sekalipun ia masih saja peduli dan menaruh setitik harapan. Sebuah harapan bahwa kelak ia masih bisa bahagia bersama wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.

Kyungsoo berada diambang pintu bar ketika ia menghentikan langkahnya. Ia menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar.

“Bodoh sekali kau Do Kyungsoo…” Desisnya pelan, pelan sekali dan hanya ditujukan pada dirinya sendiri. Ia masih sama seperti dulu, sama seperti saat ia mendapat pesan teks dari Im Shin Ae belasan tahun yang lalu, mungkin berisi tentang perintah untuknya agar ia datang menjemput wanita itu. Dan tentu saja dengan bodoh ia berangkat bahkan dalam keadaan apapun ia tetap datang.

Ia sudah menapakkan kakinya memasuki bar dan menemukan wanita yang ia cari disalah satu sofa disana. Wanita itu tertidur dengan bertumpu pada tangannya diatas meja. Seperti melihat masa lalu, ketika ia menemukan Shin Ae juga tertidur disalah satu meja bar namun saat itu kejadiannya disebuah club malam. Kyungsoo mendudukkan dirinya disebelah Shin Ae dan ketika ia melihat wajah tidur Shin Ae, ia menyadari adanya jejak airmata diwajah wanita itu. Ia memberanikan dirinya untuk menyentuh pipi Shin Ae dan menghapus jejak airmata di pipi wanita itu. Namun saat telapak tangannya menyentuh pipi itu Shin Ae tiba-tiba membuka matanya dan tatapan merekapun bertemu. Kyungsoo menemukan sebuah tatapan frustasi dan putus asa disana sedangkan Kyungsoo dengan segenap usahanya ia tak mau masuk dan terperosok kedalam sana. Karena ia tahu, wanita itu dapat membuatnya mabuk. Wanita itu dapat membuatnya melakukan hal buruk tanpa ia sadari. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya dari tatapan itu. Barusaja beberapa detik namun jantungnya sudah berpacu dengan cepat.

“Aku bertemu Hyera..” Mendengarnya membuat Kyungsoo langsung merasakan gemuruh lain didalam dadanya.

“Apa yang kau lakukan padanya..” Tatapan Kyungsoo berubah detik itu juga, begitu tajam dan menusuk.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA IM SHIN AE!!!”

Kyungsoo sudah mengguncang tubuh Shin Ae saat ini. Kedua mata Shin Ae memanas ketika menyadari teriakan Kyungsoo. Dua kali sudah ia mendengar teriakan dua pria karena gadis yang sama. Teriakan yang membuatnya merasa bergetar kala mendengarnya, bahkan ia dapat merasakan bagian dari organ didalam dadanya seolah terasa begitu sakit karena hal itu. Airmata mulai menjatuhi kedua pipi mulusnya, seberharga apakah Hyera bagi mereka? Apakah tak ada sedikitpun kehangatan yang bisa ia dapatkan dari kedua pria itu. Bahkan Kyungsoo, pria yang selama ini ia ketahui masih memiliki perasaan padanya. Shin Ae kehilangan kepercayaan dirinya, semua orang berada di pihak yang berbeda darinya. Tak ada satupun yang bersedia berdiri di perahu yang sama dengannya. Bahkan setelah perjuangannya mengembalikan keberanian untuk menghadapi kehidupan yang selalu kejam untuknya. Bahkan setelah perjuangannya mati-matian menjebloskan ayah kandungnya sendiri kedalam jeruji besi demi hidup yang tenang. Dan kini semua itu seolah tak membuahkan hasil sedikitpun, kehidupan damai yang ia impikan hanyalah sebuah bayangan semu. Kebahagiaan nyata dalam drama masih tak terwujud didunia nyata ini bagi Shin Ae.

Kyungsoo melepas cengkeramannya menyadari kedua sorot mata Shin Ae berubah menjadi begitu sayu, apalagi airmata yang mendadak mengalir dipelupuk matanya membuatnya benar-benar terkejut. Apakah dia membuat wanita ini menangis lagi? Kyungsoo mengepalkan tangannya merasakan tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Ia takut menyakitinya lagi, sudah cukup ia menerima cacian dari wanita itu sebagai pria yang sudah merusak hidupnya, merusak masa depannya dan ia tak ingin itu lagi. Kyungsoo sudah lebih dari cukup untuk mengerti hukum alam, diatas dan dibawah, perbuatan dan balasan. Itu sebuah bagian yang sangat berperan disetiap Tuhan memberikan kehidupan kepada setiap makhluk di alam semesta. Dan untuk saat ini, ia tak mengerti posisinya, entah dia mendapat balasan dengan datangnya Shin Ae kembali ke kehidupannya atau ia sedang diuji untuk kembali membuat pilihan yang salah. Rahangnya tak berdaya untuk mengeluarkan sepatah kata. Ia terlalu lemah melihat Shin Ae yang tak berdaya dan ia takut itu karenanya.

Entah bagaimana sang pencipta menuliskan akhir dari kisah cinta pertama Kyungsoo. Kadang Kyungsoo berpikir untuk menyelesaikannya, membuat janji kencan buta dan berkenalan dengan seorang wanita, namun tak satupun dari mereka yang lebih menarik dari Shin Ae. Sedalam-dalam apapun hatinya, sedingin-dingin apapun dunianya disana tetaplah abadi benih benih cintanya. Sebuah perasaan yang membuatnya buta dalam segala aspek kehidupan. Bahkan itu juga sebuah perasaan yang membuatnya menjadi pria sekaligus ayah terbrengsek didunia. Menghancurkan hidup seorang wanita dan membuat seorang gadis dalam posisi tak mengetahui siapa ibunya. Sejahat itulah seorang dokter rumah sakit Seoul ini.

Berjuta ataupun bermilyaran kata maaf yang terlontar dari mulutnya bahkan tak akan dapat merubah keadaan. Isak tangis dari Shin Ae maupun Kyungsoo sama-sama tak berarti apapun, yang ada hanyalah sebuah hasil. Sebuah hasil yang tak dapat dikatakan bagus dari segi manapun. Menyesal tentu saja, jika penyesalan harus berada dalam daftar teratas maka Kyungsoo akan meregang nyawa kala ia menerima seorang bayi dari Shin Ae. Jika penyesalan terjadi sebelum sebuah aksi, maka Kyungsoo akan memastikan tidak akan terjadi apapun dimalam ketika mereka berada di hotel waktu itu. Lalu apa yang bisa dilakukan dari sebuah penyesalan? Penyesalan hanyalah kata yang selalu ingin dihindari setiap manusia, tidak ada manusia didunia ini yang ingin menyesal. Tidak ada manusia didunia ini yang melakukan sebuah tindakan untuk mendapat penyesalan.

Berpikir sebelum bertindak. Mungkin itu salah satu cara meminimalisir penyesalan. Itu adalah kalimat penting yang kala itu terlupakan oleh Kyungsoo. Sebuah kalimat yang kala itu tersingkir hanya karena sebuah hasrat. Hasrat, nafsu, cinta, obsesi, semua itu akan meninggalkan penyesalan. Percayalah, siapapun tak ingin mendapati hal-hal serupa itu jika pada akhirnya mendatangkan penyesalan, namun pada kenyataannya hampir semua manusia mendahulukan hal-hal serupa itu hingga berujunglah pada sebuah penyesalan. Why? Because we aren’t God!! We just a human. And every human being own that.

To be Continued……

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] There’s Something Inside (Part 3)”

  1. nanonano bangett bangett bacanyaa maafin sebelumnya belum komen karna saking penasarannya banget 😦 buat seterusnya pasti aku usahin komen semangat terusss ditunggu kelanjutannnyaaa kepalang nyesek 😥 penasaran sama yang serangan jantung, itu orang biasa apa cast jugaa??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s