BLACK OF LIFE

Tittle: BLACK OF LIFE

Cast : Kim Jongin, Lee Seo Rin, Do Kyungsoo

Support Cast : Lee Taemin

Genre : Romance/Bromance, Angst, AU, Marriage Life

Rate : PG 15

Lenght : Twoshoot

Disclamer : Karakter, plot dan alur murni dari otak author, pemain dalam ff ini milik tuhan, agency dan keluarganya. Dilarang menjiplak atau mengcopy paste karya orang lain.

Sorry For Typo, Tinggalkan Jejak Jika membaca^^

©Baekludeer Present

Ketika dunia sudah tidak menunjukkan keramahannya, maka disitulah akhir untuk kehidupan. Takdir yang tidak adil dan hanya memihak pada orang-orang tertentu. Manusia yang saling tak acuh satu sama lain. Hanya mempedulikan dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan ‘manusia harus saling menolong’. Tetapi mungkin itu hanya pepatah lama yang tak berlaku.

Ketika dunia hanya memihak pada orang yang kuat, maka disitulah orang lemah tertindas. Kebahagiaan hanyalah omong kosong. Menyerah, tentu saja hanya itu yang dapat dilakukan. Bagaikan terjebak dalam labirin, sulit untuk menemukan jalan keluar. Menyesal, hal itu adalah perasaan konyol yang tak berguna. Tidak ada satu pun yang menginginkan berada pada situasi seperti itu. Kecuali, jika dia adalah orang yang kehilangan akal sehat.

Berawal dari kebutuhan yang umum terjadi ―kekurangan finansial lalu ber-urusan pada kehidupan yang semakin mempersulit salah satu pihak, tentu saja orang yang lemah. Hingga berakhir pada keadaan yang semakin memperburuk kedua belah pihak. Keadaan yang merugikan, bukan dari segi materi tetapi dari psikologis dan perasaan. Bukankah hal itu paling merugikan?.

Dua orang yang saling terkait tanpa ada yang menginginkan

 Kim Jongin dan Lee Seo Rin….

“Jongin, ponselmu berbunyi.” Suara gadis itu mengalun indah di ruangan yang cukup luas untuk ditempati kedua pasangan itu. “Jongin.”

Gadis itu sudah hampir menyerah memanggil laki-laki yang notabene nya adalah suaminya. Suara ponsel itu sudah mendesak tak sabar dari sang penelepon di sebrang sana. Seo Rin membuka mulutnya hendak menyadarkan sang empunya ponsel, namun ia urung karena sang pemilik ponsel sudah beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri ponselnya.

Seo Rin, menghela napas. Sifat dingin itu sudah biasa ditunjukkan oleh Jongin. Tersenyum adalah hal langka yang tak pernah ditunjukkan oleh Jongin, tak pernah sekalipun! Tercatat semenjak mereka bertemu dan menikah.

Jongin mematikan ponsel lalu ia meriah jaket kulitnya, ia meraih kunci mobil dan berjalan keluar.

“Jongin.”

Suara itu berhasil membuat Jongin menghentikan langkahnya. Ia mendengus, lalu membalikkan tubuhnya seraya bersedekap.

Seo Rin menunduk, menatap objek persegi yang dipijaknya. “kau mau kemana? apa kau akan pulang larut? dan apa—.”

“hey.” Sela Jongin. “bukan urusanmu, kau gadis murahan yang matrialistis.”

Bagaikan beribu pisau yang di hujamkan tepat di jantungnya, Seo Rin merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya. Suara bedebum keras yang menggema, menandakan Jongin sudah keluar dengan membanting pintu. Seo Rin menjatuhkan dirinya ke lantai, buliran air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. Sungguh, ia membenci setiap orang yang menangis. Selama ini, ia bahkan menghadapi keadaan yang lebih sulit dari ini. Menangis, ia sudah tak mengenalnya. Lalu kenapa hanya karena seseorang yang dingin dan angkuh bernama Kim Jongin, ia harus mengeluarkan air matanya?.

Seo Rin menyesali keputusannya untuk masuk ke dalam dunia yang bukan dunianya. Berteriak juga tak akan ada yang mendengar. Ia memang dapat menyelesaikan masalah finansialnya, namun masalah lain muncul. Ini tentang harga diri, cinta dan ketentraman hidup. Ia sudah kehilangan semua.

Suara bel pintu berdenting di luar sana, tidak mungkin itu Jongin. Karena Jongin tidak akan bersusah payah memencet bel pintu rumahnya. Ia pasti akan langsung masuk ke rumahnya. Seo Rin menghapus buliran yang membasahi pipi mulusnya dan memastikan wajahnya baik-baik saja saat menerima tamu.

“Seo Rin.”

Seo Rin terlonjak kaget mendapati seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap berada di hadapannya.

“Taemin oppa, untuk apa kau ke sini?.” Seo Rin mengernyitkan dahi bingung.

“apa kau tak menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu?.” Taemin melirik dalam rumah Seo Rin.

Seo Rin menghela napas dan mempersilahkan Taemin untuk masuk ke dalam rumah Jongin. Taemin melangkahkan kaki jenjangnya dan mengekori Seo Rin seraya memperhatikan sekeliling. Rumah mewah yang cukup luas itu sangat sepi, tidak pantas jika disebut dengan rumah berpenghuni.

Taemin berdehem untuk memecah keheningan. “Seo, apa kau baik-baik saja?.”

Seo Rin menampakkan senyuman palsunya. “aku baik-baik saja, oppa.”

Bohong, tentu saja. Ia bahkan hampir ingin bunuh diri menghadapi semua kenyataan yang ia hadapi.

“dimana suamimu?.” Taemin mengitarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

“dia ada urusan.”

Taemin menghela napas pelan, ia tahu semua masalah yang di hadapi adiknya. Pertanyaan sebelumnya hanyalah sebagai formalitas dan wujud ketidaktahuannya itu hanyalah sandiwara. Dia tidak dapat berbuat banyak, ia berada dibawah kendali uang.

Lagi, uang memegang kendali dalam kehidupan. Seo Rin bukanlah gadis lemah dan pemurung, namun sekarang ia menjadi pemurung dan terlihat sangat kurus dibanding sebelumnya.

“aku pergi, jaga dirimu.” Hanya itu yang dapat lolos dari bibir Taemin. Ia tidak bisa melihat Seo Rin seperti ini lebih lama.

Seo Rin hanya dapat tersenyum miris di ambang pintu, ia hanya dapat memandangi kepergian Taemin dari jarak kejauhan tanpa ada ungkapan apapun. Mereka saling mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja mereka bersandiwara seolah tidak ada yang terjadi.

-oOo-

Seulas senyuman tipis terukir di bibir tebal Kim Jongin, wajahnya yang muram dan dingin tampak cerah setelah ia melihat siluet seseorang yang tengah berdiri memunggunginya. Jongin segera berjalan mengendap-endap dan melingkarkan tangan kekarnya pada seseorang bertubuh mungil itu.

“Jongin.” Kedua sudut bibir itu terangkat keatas membentuk senyuman manis. “kapan kau datang?.”

“sejak tadi.” Jongin segera menjauhkan tubuhnya berhadapan dengan orang yang ia cintai.

“duduklah, kau ingin minum apa?.”

Jongin segera menghempaskan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit. Ia menghela napas berat. “apapun yang kau sajikan Kyungsoo.”

“apa kau ada masalah?.” Kyungsoo meneliti wajah Jongin. Ekspresi murung sudah memperjelas keadaan. “apa ini karena Seo Rin?.”

Jongin mengangguk. “hidupku selalu tidak tenang bersamanya.” Ia memijit pelipisnya yang terasa pening. “wajahnya selalu mengingatkanku pada masa lalu yang ku benci.”

Kyungsoo tersenyum manis, seraya menyodorkan secangkir teh pada Jongin. “masa lalu mu?.” Pertanyaan retoris Kyungsoo hanya di jawab anggukan oleh Jongin, membuat Kyungsoo tersenyum lagi. “setidaknya dia membantu kita untuk dapat terus bersama.”

Jongin menghirup oksigen dan menghembuskannya dengan kasar. Pernyataan Kyungsoo tidak membantu perasaannya sama sekali. Masalah dengan gadis itu tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Gadis itu mengingatkannya pada masa lalu yang kelam. Entah ia berputar di tempat yang sama atau tidak, yang pasti ia terus ber-urusan dengan apapun yang berkaitan dengan masa lalunya. Masa dimana Jongin mengalami keterpurukan. Masa yang paling menyakitkan dalam hidupnya hingga menimbulkan trauma dalam dirinya sampai ia tidak mengenal apa itu cinta. Dan Kyungsoo lah yang membuatnya mengenal kembali cinta yang ia lupakan.

“Jongin.” Kyungsoo melambaikan tangannya di depan wajah Jongin, menyadarkan kekasihnya dari segala fikiran yang mengganggu otaknya. “apa kau memikirkan gadis itu?.”

Jongin menatap manik mata Kyungsoo dan tersenyum tipis, ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Kyungsoo hanya tersenyum, ia memang hanya dapat tersenyum mendengar setiap ungkapan kekasihnya itu.

“aku ingin tinggal disini saja, aku merindukan rumah ini.” Jongin menyandarkan kepalanya di bahu Kyungsoo seraya mempoutkan bibirnya. Sikap kekanakan yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun kecuali Kyungsoo, kekasihnya.

Kyungsoo mengelus puncak kepala Jongin, ia menggelengkan kepalanya. “kau harus kembali ke rumahmu. Seo Rin pasti menunggumu.”

“aku tidak peduli dengannya.”

Kyungsoo menatap Jongin dengan ekor matanya. “jika kau tidak menyukainya, setidaknya kau pernah berhubungan baik dengan saudaranya bukan?.” Ucapan Kyungsoo membuat Jongin menatapnya tajam, menghadirkan pernyataan yang membuat Jongin bosan. “bagaimanapun, dia yang dapat membuat hubungan kita tetap ada sampai saat ini”.

Jongin tidak mengerti dengan ucapan yang selalu terlontar dari mulut Kyungsoo. “apa kau tak cemburu melihat ku bersamanya?.”

Kyungsoo tersenyum lalu menggeleng. “jika kau dapat mencintainya aku akan lebih senang, itu artinya kau dapat menjadi laki-laki normal.” Kyungsoo menghela napas. “hubungan kita ini salah Jongin, keluarga, masyarakat, negara dan dunia tidak akan menyetujui hubungan ini.”

“persetan dengan itu semua!.” Jongin menatap sendu Kyungsoo. “kau tidak perlu memikirkannya, cinta itu tidak pernah salah. Kita yang menjalaninya, bukan mereka!.”

Kisah cinta yang terjalin diantara mereka semakin kuat mengikat keduanya, saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain. Mereka mengerti satu sama lain, apa yang dibutuhkan diantaranya. Tak akan pernah bisa dipisahkan sekalipun dunia menentang keduanya. Mengabaikan segala kesalahan dan norma kebenaran yang berlaku. Hubungan yang mereka jalin seakan tidak ada kesalahan dan akhirnya mereka berpegang pada ungkapan klise ‘cinta tidak pernah salah’

Cinta memang tidak pernah salah, tapi hubungan yang terjalin diantara mereka yang salah…

Kyungsoo menunduk. “tapi, mereka akan menelan kita hidup-hidup jika semuanya terungkap.”

Jongin mengacak rambut Kyungsoo dengan sayang. “tidak akan pernah, aku tidak akan membiarkannya. Sebelum mereka menelan kita, aku akan memakan mereka sebelumnya.” Jongin terkikik setelahnya dan Kyungsoo tertawa, membuat Jongin bahagia melihat tawa Kyungsoo yang akhir-akhir ini jarang terlihat.

Kyungsoo menggenggam tangan Jongin seraya menatap Jongin dengan lembut. “kau harus pulang, kau tahu bagaimana orang tuamu bukan? Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku―”

“—dan juga dirimu.” Kyungsoo semakin menundukkan kepalanya, menatap lantai.

Jongin mengangguk mengerti. “aku akan pulang sekarang, jaga dirimu.”

-oOo-

Jongin menghela napas melihat rumah mewah di depanya, rumah pemberian keluarganya setelah ia menikah dengan Seo Rin, ia sangat malas memasuki rumahnya dan bertemu dengan gadis itu. Ia tersenyum kecut mengingat hidup yang ia jalani. Ia melihat siluet gadis itu duduk di sofa ketika memasuki rumahnya. Ia mendegus, gadis itu selalu menunggu kepulangan Jongin sekalipun ia melarangnya.

“eo, kau sudah pulang? Kau ingin makan terlebih dahulu atau mandi?.” Seo Rin menghampiri Jongin dan menyentuh bahu Jongin.

“jangan menyentuhku, gadis murahan! Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri.” Jongin menyentak Seo Rin seraya menghempaskan tangan gadis itu yang berada di bahunya.

Seo Rin menunduk, dadanya sesak. Ia ingin menangis, namun ia harus menahannya. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Jongin, sudah cukup ia menangis karena Jongin. “aku memang gadis murahan yang menikah dengan mu karena kedua orang tuamu memberiku uang, tapi aku masih mempunyai harga diri Jongin.”

Jongin mendecih. “harga diri? bahkan harga dirimu itu sudah dibeli oleh uang, keluargaku selalu memberikan uang setiap kali kau mengatakannya bukan? jangan berbicara soal harga diri di hadapanku karena kau bahkan sudah tidak mempunyainya.”

Seo Rin terisak, pertahanannya hancur. Air mata itu keluar tanpa seizinnya. “aku melakukannya karena terpaksa, itu karena kau dan kekasihmu itu. Kau menyimpang, maka dari itu keluargamu ingin menyembuhkanmu sekaligus menutupi semua itu dari publik, benar?.”

Jongin mendaratkan tangannya di pipi mulus Seo Rin, rahangnya mengeras. “shut up!!.” Ia pergi meninggalkan Seo Rin yang terisak. Jika ia dapat memutar waktu, ia tidak ingin bertemu dengan orang tua Jongin.

Keluarganya memiliki hutang yang sangat banyak pada renternir dan mereka tidak sanggup jika harus membayarnya dan akhirnya ibu Jongin datang padanya dan meminta gadis itu untuk menikah dengan Jongin dan membuatnya kembali menjadi pria normal, orang tua Jongin lah yang melunasi hutang keluarga Seo Rin.

Jongin menjentikkan jarinya di depan wajah Seo Rin, ia mendengus karena tidak mendapat sahutan dari gadis itu. Sudah beberapa kali ia menyadarkannya tetapi Seo Rin hanya diam tak memberi respon. “Lee Seo Rin!.”

Seo Rin terhenyak mendengar pekikkan Jongin. “Jo-Jongin.”

Jongin bersedekap. “bereskan piring-piring itu.” ia menunjuk dengan dagunya.

Seo Rin mengangguk dan segera membereskan meja makan. Ia masih terusik dengan fikiran yang menggerayangi otaknya, tentang siapa Jongin dan apa hubungannya dengan Jongin. Ia harus mencari tahu semuanya, mungkin pada Taemin.

-oOo-

Pagi menyingsing, sinar mentari sudah memasuki celah jendela hingga menelusup masuk ke dalam kelopak mata yang masih tertutup rapat. Seorang gadis cantik itu meregangkan tubuhnya, ia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terbuka. Ia mendapati seorang laki-laki yang tertidur dengan damainya, ia memandang ukiran sempurna tuhan pada wajah suaminya ini. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, sekalipun Jongin memperlakukannya dengan tidak baik tetapi ia tidak pernah membenci laki-laki itu. Harus diakui bahwa Seo Rin mencintai Jongin.

“bangunlah, Jongin. Kau harus ke kantor.”

Sayup-sayup Jongin mendengar suara lembut itu merasuki indra pendengarannya, Seo Rin segera terbangun dan beranjak untuk menjalani kewajiban seorang istri.

Jongin segera duduk di meja makan setelah ia merapikan penampilanya. Ia hanya diam lalu memakan sehelai roti yang di sediakan Seo Rin. Ia segera bangkit setelah ia menyelasaikan acara memakannya. Tanpa sepatah katapun, ia segera pergi berlalu. Seo Rin sudah terbiasa dengan perlakuan Jongin seperti itu.

Beberapa saat setelah kepergian Jongin, ia mendengar pintu rumahnya diketuk. Ia sudah menebak itu pasti oppanya, Lee Taemin. Dan benar saja, ketika ia membuka pintu taemin sudah berdiri dihadapannya.

“taemin oppa, aku ingin berbicara penting denganmu.”

Taemin mengekor dibelakang Seo Rin dan segera mendudukkan dirinya di sofa. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia tak melihat siapapun dirumah kecuali Seo Rin. Itu artinya Jongin sudah pergi bekerja.

“kau ingin minum apa oppa?.” Seo Rin mengguncangkan tubuh Taemin karena ia hanya diam tanpa menyahut.

“kopi saja.” Jawab Taemin singkat. “memangnya kau ingin berbicara penting apa?.” tanyanya to the point.

“kau mengenal Jongin sebelumnya?.” Pertanyaan itu membuat Taemin diam. Bagaimanapun, Seo Rin pasti akan menanyakan hal ini. Taemin menjawab dengan anggukan. Taemin menghela napas, pertanyaan yang tidak diharapkan Taemin akhirnya keluar dari mulut Seo Rin. Taemin hanya dapat menunduk memandangi pantulan wajahnya dilantai.

Seo Rin meletakkan secangkir kopi di meja lalu menyentuh bahu Taemin. “ku mohon oppa, jawab aku.”

Taemin mematung di tempat, membuat Seo Rin semakin mendesaknya untuk menjawab. Taemin menghembuskan napas berat. “ya, jongin adalah temanku. Dulu, kami sangat dekat hingga seperti tidak ada sekat diantara kami. Tetapi, ada seorang gadis yang sangat ku cintai dan ia juga mencintaiku. Hari dimana aku menyatakan perasaanku pada gadis itu ternyata Jongin juga mengatakannya padanya. Gadis itu adalah cinta pertama Jongin, gadis itu lebih memilih diriku ketimbang dirinya.”

Taemin menyesap cairan kental berwarna hitam pekat itu dan meletakkannya di meja. “gadis itu pergi meninggalkan Jongin dan mencampakkannya padahal mereka juga sangat dekat sebelumnya. Karena hal itu jongin mengalami trauma.”

Seo Rin menunduk, mencerna setiap inci kata yang terlontar dari Taemin. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untu Jongin.

Seo Rin menghela napas pelan, ada kebimbangan dalam diri Seo Rin. “Sesungguhnya, aku sudah lelah menjalani hidupku. Tapi, aku harus bertahan untuk orang yang aku cintai. Aku sangat putus asa saat ini. Aku harus bagaimana? Aku rasanya ingin menghilang dari dunia ini”. Seo Rin menunduk. Ia sudah lelah menjalani kehidupannya. Selama ini, ia mampu bertahan tetapi entah kenapa Jongin dapat meruntuhkan pertahanan Seo Rin begitu saja.

“Jangan! Jangan pernah lakukan itu, kau harus bertahan dan kau pasti mampu melalui semuanya”. Sergah Taemin, ia tidak mau Seo Rin mengalah begitu saja pada takdir. Sudah setengah jalan lalu ia akan berhenti begitu saja? Tentu saja Taemin tidak akan membiarkannya.

“Bisakah? Bisakah aku tinggal di alam yang lain menjadi orang yang aku inginkan? Hidup seperti yang aku idamkan? Bisakah? Hidupku sangat sulit”. Seakan tidak mendengar nasihat Taemin atau mengabaikannya, gadis itu terus mengeluh dan jengah dengan hidupnya.

Taemin mendekap Seo Rin dan mengelus punggung Seo Rin berniat menenangkan. “Hidup tidak semudah apa yang kau bayangkan dan juga tidak sesulit apa yang kau fikirkan. Hidup itu fleksibel, tergantung kau menjalaninya. Kau harus yakin, bahwa kau bisa”. Hanya itu yang dapat Taemin katakan, walaupun tidak membantu tetapi setidaknya membuat Seo Rin sadar akan pentingnya hidup.

“Seperti di drama, konflik terjadi ketika akan mendekati akhir. Dan sekalipun konflik itu sangat rumit, terkadang membuat penontonnya menangis dan emosi tetapi pada akhirnya akan berakhir bahagia bukan? Jika kau mampu melaluinya, kau akan mendapatkan kebahagiaanmu. Kau harus bersusah dahulu, baru kau akan mendapatkan semua hidup yang kau impikan”. Imbuh Taemin. “Percayalah, kau bisa. Bertahanlah. Anggap kau berada pada konflik yang akan berakhir bahagia”.

Seo Rin mendongak. “Menurutmu akan seperti itu? Tidak semua drama berakhir bahagia, asal kau tahu”.

Taemin mengangguk membenarkan. “Aku tahu, tapi drama bergantung pada skenario. Sedangkan hidupmu bergantung pada dirimu sendiri. Kau yang mengaturnya, semua terserah padamu, jalan hidupmu berada di tanganmu sendiri. Sekalipun drama berakhir menyedihkan, setidaknya salah satu pemainnya merasakan kebahagiaan”.

Seo Rin mencengkram kuat bahu Taemin. “Aku takut, aku ingin mengakhirinya. Tapi, di lain sisi aku juga tidak mau mengakhirinya demi Jongin. Aku… aku mencintainya” Ucapan Seo Rin membuat Taemin harus melakukan sesuatu untuk kebahagiaan adiknya. Tetapi, ia bisa berbuat apa? Tidak banyak yang dapat dia lakukan, untuk saat ini ia hanya bisa mendengarkan semua penuturan kekesalan Seo Rin. Ia melirik jam yang bertengger manis di dinding, ia beringsut. “sebentar lagi aku harus pergi bekerja. Hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu.”

Seo Rin menggenggam lengan Taemin, ia memandang Taemin dengan tatapan nanar. “tidak bisakah kau disini lebih lama? Kau tak merindukanku?.”

Taemin tersenyum getir, sesungguhnya ia merindukan adiknya. Adik yang ia lindungi selama ini, tak peduli bagaimana keadaannya sendiri. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, Seo Rin sudah bukan tanggungjawabnya ia sudah mempunyai suami walaupun ia tahu Jongin tidak melindungi Seo Rin dengan baik. “aku harus pergi bekerja, jika tidak aku akan dipecat. Kita akan pergi bersama, jika aku mempunyai waktu.” Ujarnya dengan mengacak rambut Seo Rin.

“luangkan waktu untukku.” Lirih Seo Rin dengan melepas tautan tangannya.

Taemin mengangguk, walaupun ia tahu ia belum tentu bisa menepati janjinya. Ia tidak mau mengambil resiko, jika nanti ia bertemu Seo Rin dan akhirnya mempertemukannya dengan Jongin, laki-laki itu akan menumpahkan kemarahannya pada Seo Rin.

Taemin bergegas melangkah tanpa ragu, walaupun langkahnya terasa berat untuk meninggalkan adiknya seorang diri menghadapi masalahnya. Tanpa sadar Taemin mengeluarkan air mata dari sudut matanya, ia segera menyekanya. Ia tidak boleh lemah, tetapi seolah jiwa Taemin memberontak menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Seo Rin.

Dan lagi ia tidak bisa berbuat banyak….

TBC

4 tanggapan untuk “BLACK OF LIFE”

  1. jadi itu yang membuat jongin trauma sama cinta… dan melampiaskannya ke seo rin. yang sabar ya seo rin, kau pasti bisa membuat jongin melupakan masa lalu dan kembali normal..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s