HYDRANGEA

Title : Hydrangea

Cast : Do Kyung Soo, Shin Hyun Ri, Kim Jongdae

Genre : AU, Sad, Drama

Author : Baekludeer

Rating: PG 13

Lenght : Ficlet

Disclaimer :

Semua Cast dalam ff ini bukan milik author melainkan milik tuhan, agency dan keluarganya. Plot, alur cerita dan ide cerita adalah murni dari otak author. Jika ada kesamaan karakter, tempat dan waktu itu hanyalah ketidaksengajaan semata.

cinta akan lebih menarik jika kedua pasangan memiliki perbedaan karakter atau hal lainnya.”— Hyena

Sorry for typo, budayakan meninggalkan jejak guys^^

®baekludeer present

Di depan sebuah cermin besar itu seorang gadis cantik berdiri mematut dirinya dengan gaun putih panjang khas pernikahan. Beberapa menit lagi adalah hari bersejarah dan penting dalam hidupnya, hari dimana ia akan memulai kehidupan baru dengan seseorang yang akhir-akhir ini telah menarik atensinya. Gadis itu, Shin hyun Ri tidak akan menyangka jika takdir hidupnya akan seperti ini. Beberapa menit ia termenung menatap pantulan dirinya sendiri menerawang perjalanan hidupnya yang ia lewati bersama calon suaminya, Do Kyung Soo.

Flashback

Hyun Ri menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, banyak pasien yang silih berganti datang untuk berkonsultasi. Warga korea mudah sekali mengalami tekanan, maka dari itu angka kematian masih tinggi. Hari ini akan ada seorang pasien yang akan berkonsultasi lagi dengannya. Hyun Ri melihat arloji yang melingkar ditangannya, ia bangkit menghampiri sebuah bunga yang mekar indah di dekat jendela. Bunga hydrangea. Pemberian seseorang yang tergila-gila dengan kimia. Menurut teori kimia, bunga ini adalah contoh ilmu kimia dikehidupan nyata.

Cklek

Suara knop pintu terdengar dan kemudian menampakkan siluet seorang pria mungil yang sudah ditunggunya, Do Kyung Soo. Pria itu tertegun melihat Hyun Ri berdiri didekat jendela sana. Ia sangat cantik kemudian ia mengalihkan pandangannya pada bunga disamping gadis itu.

“hyena.” Gumam Kyung Soo.

Hyun Ri tersenyum mempersilahkan Kyung Soo dan ibunya untuk duduk. “bagaimana kabar Kyung Soo hari ini Ny. Do?.”

“masih sama ia masih ber-ilusi tentang Hyena.”

Hyun Ri beralih menatap Kyung Soo yang sedari tadi menatapnya tanpa beralih sedikitpun. Ia tahu bahwa Kyung Soo tengah berdelusi, melihat Hyun Ri sebagai Hyena —kekasihnya yang mempunyai kesukaan yang sama dengannya yaitu menyukai bunga Hydrangea. Ia meninggal beberapa bulan yang lalu ketika mereka berdua tengah melakukan penelitian fisika dan ternyata zat yang mereka teliti mengandung racun yang membuat Hyena sesak napas dan tidak bisa bertahan hidup dan akhirnya meninggal.

“Kyung Soo.” Panggil Hyun Ri dengan suara lembutnya.

Kyung Soo menatap Hyun Ri dengan tatapan dalam. “hyena.” Ia menangkup wajah Hyun Ri.

Hyun Ri tersenyum seraya menurunkan tangan Kyung Soo. “aku bukan hyena.”

“aku suka hyena.” Kyung Soo terus saja menggumamkan hal itu. “aku ingin menikah denganmu.”

“jika kau ingin menikah dengan Hyena, kau harus menjadi lebih baik.”

Kyung Soo tampak diam beberapa saat lalu ia bangkit dan menghampiri bunga hydrangea dan melemparnya. Pot bunga itu pecah berkeping-keping lalu ia mengambil kepingan pot kaca tadi dan menggoreskan ke pergelangannya.

“kyung soo!.” Ibu kyung soo dan Hyun Ri memekik keras, mereka menghampiri Kyung Soo yang sudah meronta tak terkendali.

“pergi! Hyena, hyena-a.” Kyung Soo meringkuk memeluk lututnya, ia menjambaki rambutnya sendiri.

Ibu Kyung Soo berlutut dihadapan Hyun Ri, memohon dengan menggenggam erat tangan gadis itu. “ku mohon, Hyun Ri. Kau yang selama ini mengerti perkembangan Kyung Soo, dia selalu meginginkanmu.”

Hyun Ri menggeleng, meminta wanita paruh baya itu untuk berdiri. “tidak, Ny. Do yang ia inginkan adalah Hyena bukan aku.”

“tetapi dia selalu memandangmu sebagai Hyena. Ku mohon Hyun Ri, bantu Kyung Soo mungkin ia akan kembali normal jika kau menikah dengannya.”

Hyun Ri mendengus menatap Kyung Soo sekali lagi, ia merasa prihatin melihat pria itu tersenyum sendiri kemudian menangis.

“tapi, aku juga wanita normal yang ingin menikah dengan pria normal juga.” Masih belum beralih dari pandangan Kyung Soo.

Ibu Kyung Soo bangkit, ia kemudian memegang bahu Hyun Ri. “kau seorang psikolog, kau pasti bisa membuat Kyung Soo seperti semula. Ia hanya mengalami gangguan psikologis.”

Hyun Ri menatap ibu Kyung Soo. “beri aku waktu, ku mohon.”

“baiklah, 2 hari ini kau harus sudah memberi jawaban.” Ujar ibu Kyung Soo dan kemudian mengajak Kyung Soo untuk pulang, yang sebelumnya ia sudah diberi obat penenang.

HYDRANGEA

2 hari setelah Kyung Soo tidak pernah bertemu dengan Hyun Ri. Laki-laki mungil itu terus mengurung diri di kamarnya. Terkadang, ia berputar-putar ke penjuru rumahnya dengan membawa foto Hyena seraya memanggil nama gadis itu.

Jongdae tidak habis fikir dengan Kyung Soo. Entah sudah berapa kali ia mengatakan jika Hyena sudah pergi. Kyung Soo hanya menangis, mendekap erat foto Hyena lalu berputar-putar dan memanggil nama Hyena lagi. Terus seperti itu.

“Hyena-a kau dimana eoh? Jangan keluar dari rumah ini. Di luar berbahaya Hyena-a”. Kyung Soo mengelilingi setiap sudut rumahnya. “maafkan aku, karena aku kau jadi pergi. Kembalilah padaku jebal.” Kyung Soo mendekap foto Hyena.

Jongdae menghentikan pergerakan Kyung Soo. “Kyung Soo, dengarkan aku. Hyena sudah meninggal, jangan mencarinya disini karena dia tidak ada disini”.

Kyung Soo menangis, ia terus terisak. Kyung Soo menghempaskan tangan jongdae. Ia tidak menghiraukan pria itu bahkan seakan ia tidak mengenal Jongdae.

“Kim Hyena”. Lirih Kyung Soo.

“Kau harus merelakannya pergi. Jika kau ingin melihat Hyena, aku bisa mengantarmu”. Ujar jongdae meyakinkan.

Kyung Soo tersenyum. “Benarkah ada Hyena? Aku ingin melihatnya, aku merindukannya”.

Jongdae mengangguk dan tersenyum miris. Ia merasa kasihan dengan Kyung Soo, pria yang sebelumnya terlihat tegar, pria yang tergila-gila dengan fisika dan tanpa sedetikpun mau meninggalkan bukunya. Namun saat ini keadaannya sangat memprihatinkan.

Selama perjalanan, Kyung Soo terus mengoceh tentang Hyena. Jongdae hanya mendengarkan, ia jengah dengan ocehan Kyung Soo yang terus beranggapan Hyena masih hidup.

Jongdae keluar dari mobilnya, membawa se-bucket bunga. Kyung Soo terus mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti apa yang akan dilakukannya dan Jongdae. Langkah mereka berhenti pada sebuah makam yang bertuliskan nama Hyena. Kaki Kyung Soo melemas, ia terus menangis seraya memeluk sebuah nisan itu.

Jongdae menahan rasa sesaknya. Ia berusaha membendung buliran air mata yang mendesak ingin di keluarkan.

“Hyena, apa kau merasa kesepian disana hm? Aku akan menolongmu”. Kyung Soo menggali tanah menggunakan tangannya.

Jongdae menahan tangan Kyung Soo. “Kyung Soo, sadar. Biarkan dia tenang”. Ia kemudian segera menarik tangan Kyung Soo untuk beranjak. Mereka pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka segera memasuki mobilnya, Jongdae harus segera mengajak Kyung Soo menjauh dari tempat itu agar ia tidak berlarut-larut meratapi kesedihannya.

“Jongdae”. Kyung Soo memanggil jongdae dengan suara paraunya. Pria itu hanya berdehem sebagai jawabannya.

“Cepat kemudikan mobilmu, kita harus segera sampai rumah. Kasihan Hyena”.

Jongdae memberhentikan mobilnya mendadak, hingga menimbulkan suara decitan akibat gesekan antara ban dengan aspal.

“Demi apapun Kyung Soo, kau gila? Apa kau tidak melihat makam Hyena huh? Dia sudah meninggal Kyung Soo, jangan seperti ini”. Jongdae menghela napas. Ia sudah lelah dan bosan memperingati Kyung Soo.

Bola mata Kyung Soo terus bergerak, ia menggelengkan kepalanya lalu menangis.

“Soo-a, jangan seperti ini. Kemana Kyung Soo yang ceria? Lupakan Hyena. Dia sudah tenang disana, aku yakin jika Hyena tahu ia akan sedih”. Jongdae menepuk pundak Kyung Soo dan mengemudikan mobilnya lagi.

Setelah dari makam Hyena, Kyung Soo terus mengurung diri di kamar. Ia hanya diam membisu. Kyung Soo memeluk boneka beruang dan foto Hyena yang tengah tersenyum menggunakan dress berwarna putih selutut. Hari itu adalah hari ulang tahun Hyena.

“Kyung Soo, makanlah dulu”. Jongdae membuka pintu kamar Kyung Soo.

Kyung Soo bergeming di tempatnya, ia memunggungi jongdae. Ia memeluk dan mencium foto Hyena. Jongdae mendengus, ia menghampiri Kyung Soo lalu merebut foto Hyena.

“Urus dirimu dulu Kyung Soo”.

Kyung Soo berusaha merebut foto Hyena dari tangan jongdae. “Kembalikan Hyena ku. Jangan menyakitinya jongdae-a”.

Jongdae memperlihatkan foto Hyena pada Kyung Soo. “Tidakkah kau melihat dia hanya tersenyum? Apa kau melihat ekspresi lain disana? Dia tidak dapat bicara bukan? Jadi apa kau masih menganggap dia makhluk hidup? Aku tahu kau mengerti”.

Kyung Soo menangis tersedu. Ia merebut foto Hyena dari tangan jongdae.

“Kau tidak apa kan chagi? Jangan takut, ada aku disini”. Kyung Soo memeluk erat foto Hyena.

“Kau gila Kyung Soo, benar kau sudah gila sekarang. Aku yakin itu”. Jongdae kehabisan kesabarannya. Ia mendorong bahu Kyung Soo dengan telunjuknya.

Ia menutup pintu kamar Kyung Soo hingga menimbulkan suara bedebum yang cukup keras. Ia sudah lelah menghadapi semuanya, maka dari itu ia ingin pergi saja.

“Jongdae.” Suara lembut seseorang melantunkan nama Jongdae, membuat pria itu mau tidak mau berhenti dan menoleh. Ia membungkuk sopan. “eomma.”

Ibu Kyung Soo sudah ia anggap sebagai ibunya, maka dari itu memanggilnya eomma. Ibu Kyung Soo menghampiri Jongdae. “jangan pernah tinggalkan Kyung Soo.”

Jongdae menghela napas, menatap pintu kamar Kyung Soo yang tertutup rapat. “aku tidak akan meninggalkan Kyung Soo, eomma.” Ia menatap ibu Kyung Soo dengan tatapan meyakinkan.

Beberapa saat ponsel ibu Kyung Soo bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Ia membaca sebuah pesan dari Hyun RI, matanya melebar, ia membacanya berulang kali, pesan itu mengatakan bahwa Hyun Ri bersedia menikah dengan Kyung Soo. “jongdae, coba kau baca apakah itu bear? Aku tidak salah membaca ‘kan?.”

Jongdae mengambil ponsel ibu Kyung Soo dan membaca isi pesan tersebut dan mengangguk membenarkan isi pesan itu.

HYDRANGEA

Hyun Ri tersadar dari lamunannya, ia mendengus. Keputusan yang cukup berat telah ia ambil, ia teringat saat ia masih duduk dibangku menengah atas. Ia bertemu dengan Kyung Soo disebuah olimpiade fisika. Kyung Soo tersenyum sekilas memandang Hyun Ri, saat itu mereka bersaing di olimpiade tersebut.

Pria itu pernah datang padanya dan berdiri disampinya dengan mengatakan. “Cinta itu ibarat elektron dan proton yang saling tarik menarik dan ibarat sebuah  molekul yang tak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Diantara keduanya terdapat medan magnet yang akan membuat mereka menarik satu sama lain.”

Hyun Ri terkekeh, menatap Kyung Soo sekilas. “Cinta dan hukum fisika hanyalah dibatasi dengan kertas tipis, mereka memiliki kesamaan. Hukum fisika adalah hukum yang rumit dan membingungkan namun tanpa disadari kita hidup berdampingan dengan mereka, sama halnya dengan cinta. Teori fisika sebenarnya sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari bahkan perasaan dan cinta sekalipun.”

Jongdae memasuki kamar Hyun Ri, ia menghela napas dan menghampiri gadis itu. “apa kau sudah siap?.”

Hyun Ri bangkit dan tersenyum ragu menatap jongdae, ia mengangguk kemudian. “aku yakin. Kehidupanku akan berbeda dari orang-orang pada umumnya mungkin, aku pasti bisa melewatinya.” Ia mendengus sebelum melanjutkan kalimatnya. “cinta akan lebih menarik jika kedua pasangan memiliki perbedaan karakter atau hal lainnya.”

Jongdae menepuk bahu Hyun Ri. “kau yakin? Masalahnya disini bukanlah hanya sekedar perbedaan karakter.”

“aku tahu dan aku pasti bisa menghadapinya.”

Jongdae tersenyum. “sekarang aku yakin bahwa kau adalah orang yang cocok untuk Kyung Soo.”

Ibu Hyun Ri memasuki kamar putrinya, ia mengelus puncak kepala gadis itu. “kau tidak apa-apa?.”

Hyun Ri tersenyum dengan mengelus wajah ibunya. “aku baik eomma, tenang saja.”

Ibu Hyun Ri menyunggingkan senyumnya dengan mencium kening putri kesayangannya. “kau benar-benar anak yang baik.”

“aigoo anak appa cantik sekali.” Ujar ayah Hyun Ri dengan memeluk erat Hyun Ri. “ayo, calon mempelai wanita, para tamu sudah menunggu.”

Hyun Ri tersenyum dengan melingkarkan tangannya ke lengan ayahnya. Mereka berjalan ke altar, ia melihat Kyung Soo disebrang sana, ia tersenyum manis. Senyuman yang pertama kali ia lihat, Kyung Soo saat ini begitu mempesona. Ia tidak menampik.

Kyung Soo menyambut tangan Hyun Ri, ia tersenyum bahagia.

Acara pemberkatanpun dimulai, sang pastor pun membacakan janji suci pernikahan mereka. “Do Kyung Soo apa anda menerima istri anda Shin Hyun Ri dengan sepenuh hati dalam keadaan sehat maupun sakit.”

Kyung Soo mengangguk, “aku bersedia.”

“Hyun Ri apa apa anda menerima suami anda Do Kyung Soo dengan sepenuh hati dalam keadaan sehat maupun sakit.”

Hyun Ri menelan samar salivanya, ada kegugupan yang menguasainya, kerongkongannya tercekat kemudian ia menghembuskan napas berat. “aku bersedia.”

“baiklah kalian sudah sah menjadi suami istri, sang mempelai pria boleh mencium wanitanya.”

Kyung Soo mendekatkan wajahnya dan menatap Hyun Ri dalam. Ia tersenyum kemudian bergumam. “aku mencintaimu Hyun Ri-a.”

Ia tertegun beberapa saat, ini pertama kalinya Kyung Soo memanggilnya dengan namanya sendiri. Biasanya ia akan memaggil Hyun Ri dengan nama Hyena. Mungkin Kyung Soo mulai sadar dari gangguan psikologisnya.

CHU~

END

7 tanggapan untuk “HYDRANGEA”

  1. Omegat apa apa an ini, sequel gk mau atau thor tega aned, si Kyung boong ya klo dia gangguan psikologi :v *abaikan* ato si Kyung udh sadar, di kasih sequel dongg pliss

    Fighting thor!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s