[Kai Birthday Project] Some Feeling ― ShanShoo

JONGIN

 

 

Some Feeling

ShanShoo’s present

With EXO’s Kai and OC’s

In slight!fluff, and―found it!

Length vignette +1200ws

Rating PG-15

Personal blog : ShanShoo

.

 

Kalau rasa karamel dalam kopi bisa menghilangkan perasaan ini padanya, aku pasti akan meminumnya setiap saat.

 


 

Katanya, Jean mau datang ke rumahku pukul sepuluh pagi. Tapi, sedari tadi dia belum datang. Padahal aku sudah menunggunya lima menit sebelum waktu datang. Aku juga bahkan merelakan waktu tidurku yang sangat berharga hanya untuk menunggu kedatangannya kemari. Desahan napas mulai terkuar kala aku menatap jam tanganku. Sekarang pukul setengah sebelas. Apakah Jean tidak jadi datang kemari?

Beranjak dari sofa tunggal, aku mulai melangkah menuju konter dapur untuk membuat kopi hangat. Well, kalau ditemani kopi sembari menunggu Jean, sih, pasti bisa.

Wangi aroma karamel mulai memenuhi indera penciumanku. Kedua sudut bibirku berjungkit naik, selagi embusan napas kembali terkuar dari celah bibir. Iya, aku sungguh tak bisa memungkiri jika wangi aroma karamel yang bersumber dari kopi ini amat candu bagiku. Sehari saja aku tidak meminumnya, dapat dipastikan jika waktu demi waktu yang kulalui di hari tersebut akan terselimuti oleh awan gelap.

Kulirik lagi jam tangan, jarum panjangnya kini menunjuk angka delapan. Kapan, sih, Jean datang? Kenapa lama sekali?

“Astaga! Jalan raya hari ini sungguh macet! Dan taksi yang kutumpangi tak bisa menyalip ke manapun!”

Tangan kananku berhenti di depan dada, ketika aku akan mengambil sesapan pertama. Menoleh ke samping, kudapati Jean yang tengah mengempaskan bokongnya ke kursi sofa sembari menekuk wajah, pertanda bahwa ia sedang kesal.

Oh, aku hampir melupakan beberapa kenyataan. Jean Lee, gadis itu adalah teman satu kelasku. Tetapi sebenarnya, kami telah berteman cukup lama. Mungkin semenjak kami memasuki sekolah dasar yang sama. Dan ketika kami mulai memasuki jenjang menengah pertama, kami berpisah, lalu bertemu lagi ketika kami memasuki jenjang menengah atas.

Jadi, sudah menjadi sebuah kebiasaan kalau Jean masuk ke rumahku tanpa permisi seperti tadi. Karena aku juga selalu melakukan hal yang sama ketika aku datang berkunjung ke rumahnya.

Tiba-tiba saja, aku terkekeh pelan. Gerutuannya beberapa detik lalu sungguh membuatku ingin tertawa keras. Terlebih ketika wajahnya yang memberengut itu terlihat seperti dikelilingi awan kelabu menyebalkan. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke ruang tengah sembari membawa cangkir kopi milikku, menghampiri Jean yang sampai saat ini tak menoleh padaku sedikitpun.

“Jadi, itu alasannya?” tanyaku kemudian, selagi sudut-sudut bibirku mencoba untuk menahan tawa.

“Iya, itu alasannya.” Jean menoleh menatapku. “Kalau bukan karena macet, pasti aku sudah sampai kemari setengah jam yang lalu.” Nadanya terdengar penuh emosi, dan… well, aku tak bisa berkata apapun lagi kecuali tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

“Omong-omong, Kai,” gadis yang duduk di sampingku ini mulai membuka tas tangannya, mengambil sesuatu dari dalam sana, dengan ekspresi wajah terlampau serius. “Nah, ini, dua cokelat batang untukmu!” membuang ekspresi seriusnya, ia kini menunjukkan padaku bagaimana mimik ramah yang terlihat natural.

Woah, kau benar-benar serius memberiku cokelat ini?” aku bertanya sambil meletakkan kopi di atas meja. “Kuakui, kau memang baik, Jean.” Ujarku, dengan satu tangan terulur untuk mengacak surai sebahunya.

Ugh, tidak usah berlebihan!” Jean menepis tanganku, tetapi detik selanjutnya, ia mendekatkan tubuhnya, lalu memelukku erat.

Dan sesuatu yang bergejolak hangat dalam dadaku mulai terasa.

“Apakah aku harus memanggilmu… Oppa?”

Eh? Apa-apaan? Kenapa Jean berubah menjadi gadis sok imut seperti ini?

Hm? Hm? Bagaimana?” Jean menggodaku dengan cara menaik-turunkan kedua alisnya bersamaan. Membuatku kembali menahan tawa.

“Jadi, di sini siapa yang berlebihan, huh?” tawaku seketika membuncah, sesegera mungkin Jean menarik tubuhnya dariku sembari ikut tertawa.

“Oke, tidak apa-apa. Padahal kau ingin sekali, kan, kalau aku memanggilmu seperti itu?” ujarnya kemudian.

Uh, tidak, tentu saja.” Sahutku seraya mengedikkan kedua bahu. “Panggilan seperti itu sudah terdengar tak asing lagi bagiku, tahu.”

Jean berdecak kecil, “Dasar sombong! Mentang-mentang punya banyak penggemar di sekolah,” katanya, diiringi satu pukulan kecil darinya ke bahu kananku.

Aku hanya menanggapi pernyataan itu dengan tawa bangga. Kembali mengusak surainya, bagai kebiasaan yang tak bisa kuhilangkan begitu saja. Setelah melewati pembicaraan tak terarah itu, Jean melirik kopi milikku di atas meja, lantas kembali bersitatap denganku.

“Apa? Mau kubuatkan kopi dan juga minum bersama?” tawarku setelah mengetahui arti tatapannya. Debaran jantungku kian meningkat saat aku menunggu jawabannya. Oh, ayolah! Ini hanya masalah mau minum kopi bersama atau tidak, tetapi kenapa aku sampai harus merasa seperti ini?

“Tidak,” Jean menggeleng cepat. “Aku tidak mau minum kopi bersamamu.”

Ya ampun, dasar Jean! Gadis ini benar-benar―

“Tapi, kapan-kapan kita pasti bisa minum kopi bersama.”

―manis, saat bibirnya mulai membentuk senyuman yang amat kusukai.

“Iya, terserah kau saja,” sahutku, agak gugup karena Jean terus menatapku sambil tersenyum seperti itu.

Uhm,” dia berdeham pelan. “Jadi… Seokjin oppa belum pulang?”

Aduh.

Segera saja aku mengalihkan tatapan dari kedua netranya. Tanganku kembali mengambil cangkir kopi, menyesapnya sedikit demi sedikit hanya untuk meresapi rasa karamelnya lebih dalam. Dilihat dari sudut mataku, kurasa Jean sedang menunggu jawaban yang pasti. Hingga pada akhirnya, kuputuskan untuk saling bersitatap lagi dengannya, diiringi helaan napas.

Hyung belum pulang, Jean.”

“Apa?” Jean menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya terlihat tak percaya. “Biasanya Seokjin oppa selalu tiba jam segini, tapi―”

“Mungkin dia juga terjebak macet, ah, entahlah.” Aku memotong ucapannya, mengedikkan bahu acuh tak acuh.

Jean hanya mendengus kesal, tak menyahut perkataanku.

“Kenapa kau tidak menghubunginya langsung?” tanyaku acuh tak acuh.

“Ponselnya tidak bisa dihubungi.” Jean mendesah panjang. “Padahal aku ingin segera bertemu dengannya, Kai.”

Mataku memicing saat menatapnya. “Dasar gadis tidak sabaran!” cibirku kemudian, yang langsung ia balas dengan cubitan besar di lenganku. Ah, benar-benar menyakitkan!

“Ejek saja terus sampai kau puas!” keluh Jean. Ia lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

Tergelak sejenak, aku lantas merangkul bahunya. “Marah, ya? Maaf, deh.” Ujarku, tapi Jean malah mengabaikan ucapanku.

“Jean?”

Jean Lee masih saja diam. Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Tapi, apakah leluconku tadi tidak menarik sama sekali baginya?

Masih mencoba untuk membujuknya, kudengar―lebih tepatnya, kami berdua― pintu utama rumah dibuka oleh seseorang. Oh, rupanya itu kakakku, Kim Seokjin. Ia baru saja pulang dari kampus, dengan pakaiannya yang terlihat santai namun tetap cocok untuk dipakai pergi ke kampus, juga dengan tas punggungnya yang ia pakai hanya di bagian bahu kanan.

“Aku pulang―eh, Jean?” mata Jin nampak melebar. Mungkin ia agak terkejut dengan kehadiran Jean di rumah.

Raut gadis itu yang mulanya menampakkan ekspresi kesal, berubah berbinar. Bahkan senyuman lebar mulai menghias wajah tirusnya.

Oppa!” Jean beranjak cepat dari sofa, kedua kaki jenjangnya kini mengayun ke arah Jin untuk memeluknya dengan erat. Bahkan, Jin sampai terhuyung karena ulah gadis itu.

Aku yang duduk memerhatikan tingkah mereka berdua di sini, hanya bisa memulai senyum samar. Sangat samar.

“Apa perjalananmu macet?” kudengar Jean bertanya demikian pada kakakku.

Jin terlihat berpikir, maniknya bersirobok dengan manik Jean. “Iya, sangat macet. Kudengar ada kecelakaan lalu lintas yang membuat jalannya macet. Dan maaf, aku tak bisa menghubungimu karena baterai ponselku habis.” Jelasnya panjang lebar.

Gadis itu mengangguk mengerti. “Jadi begitu, ya.” katanya menggumam setelah mendengar penjelasan Seokjin.

“Oi, Kai!” tiba-tiba, kakakku memanggil. Sontak aku tersadar dari alam lamunanku.

“Ya?” tanyaku, singkat.

“Pacarku ini tidak berbuat ulah selama aku belum pulang, kan?” ada seringaian kecil yang terukir di bibirnya. Jean yang mendengar hal itu seraya menatap senyuman Jin, lekas memberinya satu tinjuan di lengannya.

Oppa sangat berlebihan!” kata Jean, dengan tawa ringan yang mengudara.

Selagi mereka tertawa bersama, aku kembali mengukir senyum samar. Ingin sekali aku menggulirkan pandangan ke arah lain, tapi rasanya sulit. Yang ada, aku malah semakin lekat memerhatikan bagaimana sikap mereka berdua yang terlihat berlebihan di kedua mataku.

“Tidak, pacarmu tidak berbuat ulah apapun, kok. Tapi…” ucapanku menguar di udara. Mengalihkan tatapan mereka ke arahku sembari memasang wajah penasaran.

“Tapi?” sahut Jin kemudian.

Pertanyaan itu kubalas terlebih dulu dengan senyum yang sebenarnya sulit untuk kuartikan. Netraku tak lagi terarah pada mereka berdua―dan aku bersyukur akan hal ini. Mulai mendesahkan napas panjang, kedua sudut-sudut bibirku terpaksa naik. Lekas, aku melanjutkan perkataanku yang terhenti,

.

.

.

.

“Jean hanya tidak mau kuajak minum kopi bersama.”

.

.

.

Fin.

 

 

FF GAGAL! FF GAGAL! GAGAL KARENA ISAN GAK BISA BAWAINNYA, TERUS GAK BISA NENTUIN GENRENYA. MAAPKEUN ISAN, YA :””

Okay, happy birthday, Kkamjong! Wish u all the best and stay healthy!

Mind to drop some review below? :’)

16 tanggapan untuk “[Kai Birthday Project] Some Feeling ― ShanShoo”

  1. Ya ampun. Aku kira jean bukan pacar jin, soalnya Kai kaya yang suka ke jean. Apapun itu, aku gak nyangka endingnya seperti ini :-D. Sudahlah, kamu ultah sedih banget. Lagian, masih banyak perempuan cantik kaya jean, contohnya aku#elah,pd banget :-D. Dan jadi, aku teh ngomen apa? Gak nyambung banget gitu, dan aku heran, mana yang komen? Cuman dikit. Tapi tak apalah, yang komen, anak solehah. 😀 😀 :-*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s