[EXOFFI FREELANCE] Bittersweet (Oneshoot)

Title                 : Bittersweet

Author             : Barbiegum

Main cast         :

Kim Jong In

Park Ah Yeon

Genre              :  One Shoot, Romance

image

——

Jangan pergi.

Jangan pergi.

Jangan pernah meninggalkan aku.

Jangan pernah sekalipun berfikir kau akan pergi meninggalkanku.

&&&

Jongin’s side

Author POV

Jongin terhentak begitu saja ketika lagi-lagi mimpi akan perkataan itu terlintas di dalam fikirannya, membangunkan dirinya dari tidur singkat. Ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya dan mendesah pelan.

Jam dinding sudah menunjukkan waktu tengah malam ketika ia mendapati dirinya tertidur di meja kerjanya. Sepertinya tanpa sadar kedua matanya terpejam ketika sedang mengerjakan tugas kantor yang ia kerjakan di dalam apartemennya.

Pria itu kemudian bangkit, bermaksud untuk melanjutkan tidurnya di dalam kamar dengan sebelumnya mematikan laptop miliknya terlebih dahulu.

Nafas lega keluar begitu saja ketika ia membuka pintu kamar miliknya, merasakan beban yang sedari tadi menghimpit dadanya terangkat.  Ia dapat melihat wanita itu tengah tertidur lelap diatas kasur di tengah ruang tersebut.

Ia pulang.

Jongin selalu melafalkan kalimat itu dalam otaknya. Pria itu tidak dapat menyembunyikan kelegaan saat melihat wanita yang sangat ia cintai pergi kembali pada dirinya.

Park Ahyeon berkata ia akan pergi menemui seseorang hari ini. Jongin sangat mengetahui siapa yang akan wanitanya temui, oleh karena itu ia memilih melampiaskan dirinya dengan bekerja lembur tadinya. Bahkan pria itu tidak sadar bahwa wanita itu sudah pulang.

Setelah berganti baju dengan pakaian tidur, pria itu kemudian membaringkan dirinya disamping Ahyeon. Jongin tidak langsung tidur, ia hanya memandang langit-langit kamarnya.

Jangan pergi, Jongin-ah.

Kalimat itu lagi lagi melintas di dalam otaknya. Membuat hatinya merasa nyeri ketika membayangkan bagaimana wanita itu selalu berkata lirih ketika mengucapkannya.

Tidak. Jongin tidak akan pernah meniggalkan wanita itu sedangkan wanita itulah yang paling memungkinkan untuk meninggalkan dirinya. Harusnya wanita itu tahu ketakutan pria itu melebihi apapun di dunia ini jika membayangkan hidupnya tanpa Ahyeon berada disisinya.

Pria itu menolehkan wajahnya menatap wanita yang sedang tertidur di sampingnya. Tangannya terangkat membenarkan poni Ahyeon yang menutup  kedua mata wanita itu. Tanpa sadar gerakan pria itu membangunkan Ahyeon yang mulai membuka matanya.

“Jongin-ah.” Wanita itu berkata dengan mata yang masih setengah tertutup. Tanpa perintah Ahyeon mendekatkan dirinya pada Jongin dan memposisikan dirinya pada dada bidang milik kekasihnya. Tertidur di dada Jongin dan memeluknya erat. Sangat erat seperti pria itu akan pergi jika Ahyeon tidak menahannya.

Jongin membalas pelukan wanitanya dan mencium puncak kepala Ahyeon dengan sayang, membiarkan gadis itu melanjutkan tidurnya di dalam pelukannya.

Wanita itu benar-benar membuatnya tidak bisa berfikir. Rasa sakit itu muncul kembali seperti memberi perintah dirinya untuk segera meluapkannya dengan menangis.

Tapi pria itu sekuat tenaga menahannya, ia tidak ingin wanitanya terbangun karena mendengar suara berisik dari tangisannya.

Jongin sangat mencintai Ahyeon, tapi pria itu tidak pernah mengetahui bagaimana perasaan sebenarnya wanita itu terhadap dirinya. Dilain sisi wanita itu selalu mengatakan kepada Jongin untuk tidak pernah meninggalkannya.

Sungguh, tanpa wanita itu perintah pun. Pria itu tidak akan pernah mampu meninggalkannya. Hingga saat ini ia masih bertahan dengan bayangan masa lalu wanita dipelukannya itu.

&&&

Mereka bisa dibilang sangat jarang untuk bertengkar, karena baik Jongin maupun Ahyeon lebih memilih untuk diam ketika terjadi masalah dan menyelesaikannya baik-baik nanti ketika fikiran mereka berdua sudah jadi lebih baik.

Tapi tidak untuk malam itu, Jongin masih dapat mengingat dengan jelas alasan mengapa ia tidak dapat menahan amarah yang selalu ia pendam pada kekasihnya. Pria itu akhirnya meluapkan semua kekesalannya dan sakit hatinya dengan mengamuk di depan mata wanita yang tidak henti-hentinya menangis.

Semua itu terjadi ketika Ahyeon lagi-lagi bertemu dengan mantan kekasihnya, Oh Sehun. Selama ini pria itu tidak pernah mempermasalahkannya selagi wanita itu pulang kembali kepada dirinya. Tapi entah mengapa malam itu, fikiran Jongin terasa kalut dengan kepergian Ahyeon dan bayangan-bayangan wanita itu akan meninggalkannya terus menghantui dirinya.

Dan pada akhirnya Jongin lebih memilih untuk melampiaskannya dengan pergi ke sebuah club malam dan menghabiskan malam panjangnya dengan mabuk.

Hingga akhirnya dengan susah payah pria itu pulang ke apartemen dan menemukan Ahyeon menatapnya cemas di ruang tamu miliknya. Ia masih mengingat jelas wajah khawatir yang ditunjukkan wanita itu kepadanya. Tapi dengan tidak perduli ia melewati wanita itu begitu saja.

“Jongin-ah. Kau mabuk?” pria itu menepis tangan Ahyeon ketika wanita itu ingin menyentuh permukaan kulit wajah dirinya. Tentu saja hal itu membuat wanita yang berada didepannya terkejut bukan main, pasalnya Jongin tidak pernah sedikit pun berlaku kasar pada dirinya. Tanpa menunggu apapun dari wanita itu Jongin pergi melewatinya menuju kamarnya.

“Jongin-ah. Jangan seperti ini, jika kau punya masalah kau bisa menceritakannya padaku.” Jongin mendengus dengan kalimat yang diucapkan oleh wanita yang berada dibelakangnya sekarang. Mereka berdua berada di dalam kamar milik Jongin. Pria itu menoleh kebelakang dengan sisa kesadaran yang ia miliki, menatap Ahyeon penuh amarah.

Mwo? Menceritakannya padamu? Bagaimana aku bisa bercerita sedangkan pusat masalahku ada didirimu, huh?” pria itu berkata sinis masih dapat menahan nada suaranya agar tidak berteriak di depan wanitanya. Ia ingin sekali melampiaskan semua kekesalan yang ada dihatinya tapi disudut hatinya ia tahu ini salah, tidak seharusnya ia melakukan ini disaat pria itu sangat membutuhkan Ahyeon untuk selalu ada disampingnya.

Jongin mengertakkan giginya ketika ia melihat Ahyeon mulai meneteskan air mata. Wanita itu menangis dengan kedua matanya yang menjadi kesukaan oleh Jongin. Mata yang selalu menatapnya lembut kini menangis karena dirinya.

Demi Tuhan Kim Jongin apa yang telah kau lakukan! Kau sudah berjanji tidak akan pernah membuat wanita itu menangis. Dan sekarang apa yang telah kau perbuat, wanita itu sudah pasti akan pergi meninggalkanmu dan akan kembali kepada Oh Sehun.

Bayangan Ahyeon meninggalkannya seperti mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Tapi dirinya terlalu kalut untuk saat ini hingga tanpa berfikir panjang dengan kasar ia mencium bibir Ahyeon, tidak perduli apa yang ia lakukan akan lebih menyakiti wanitanya. Ia hanya ingin melampiaskan apa yang ia rasakan sekarang pada wanita itu.

Hingga akhirnya Jongin membawa tubuh mereka berdua terhempas di atas kasur kamar miliknya. Menyentuh Ahyeon dengan tidak sabaran, memberikan jejak kepemilikan disemua bagian tubuh wanita itu. Pria itu tahu ini salah dan wanita itu tidak memberi perlawanan apapun pada dirinya. Ahyeon seperti pasrah dengan semua yang dilakukan Jongin pada dirinya. Jongin menyakitinya tapi wanita itu tidak mempermasalahkannya.

Sampai akhirnya pagi itu Jongin membuka mata dan mendapati Ahyeon tengah menatapnya dengan tatapan lembut yang selalu wanita itu berikan pada dirinya. Pria itu merasa sesak saat ia melihat wanita itu masih bisa tersenyum lembut pada dirinya ketika mengingat apa yang sudah dilakukan Jongin pada Ahyeon. Mata pria itu menangkap leher wanita itu yang berwarna merah hampir keunguan karena perbuatan dirinya. Akhirnya Jongin memilih untuk mengganti posisi dan berbalik memunggungi wanita itu.

Satu air matanya jatuh begitu saja dipelupuk mata Jongin, tapi pria itu buru-buru menghapusnya. Ia masih mengingat kejadian tadi malam saat dirinya menyakiti wanita itu. Sungguh hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia adalah melihat kedua mata itu menangis. Dan dirinya lah penyebab kenapa wanita itu menangis saat itu.

Jongin dapat merasakan sebuah tangan memeluknya hangat dari belakang, seperti memberinya sebuah ketenangan. Wanita itu kemudian menyelipkan wajahnya di bahu miliknya.

“Jongin-ah.” Panggil wanita itu lembut yang semakin membuat perasaan Jongin terasa nyeri mendengarnya. Ia ingin selalu mendengar wanita itu hanya menyebut namanya, ia hanya ingin selalu menjadi satu-satunya bagi Ahyeon.

Mianhae.”

Tidak jangan minta maaf. Kau tidak salah apa-apa!

“Aku membuatmu terluka lagi, kan?”

Iya.

Pria itu tidak menjawab satupun perkataan dari wanita itu, ia masih berusaha untuk menentralkan rasa sakitnya yang sekarang mulai berkurang dan menikmati kedua kulit mereka yang masih bersentuhan. Pelukan wanita itu selalu mampu untuk membuatnya tenang dan tidak bersedih lagi.

“Jongin-ah.” Ahyeon memanggil nama pria itu lagi ketika mereka berdua terdiam cukup lama. Jongin dapat merasakan pelukan wanita itu yang semakin erat ditubuhnya.

“Jangan pernah meninggalkan aku.”

Tidak akan pernah.

&&&

Untuk kedua kalinya Jongin melihat mata itu menangis.  Hatinya mencelos ketika mendapati Ahyeon terduduk di ruang tamu miliknya, menatap dirinya dengan mata sembab yang sudah berusaha disembunyikannya.

Jongin melihat senyum terpaksa muncul dari wajah cantik wanitanya ketika mata itu menangkap kedatangan dirinya. Mencoba menghapus jejak air mata yang sialnya pria itu sudah melihatnya.

Oh, Jongin-ah. Kapan kau pulang?” wanita itu berkata sambil mengambil alih tas kerja dan jas yang sedang di pegang oleh Jongin. Pria itu tahu bahwa kekasihnya menolak kontak mata dengan dirinya.

“Kau sudah makan? Aku membuatkan ayam kesukaanmu.” Ahyeon masih melanjutkan perkataannya tanpa memperdulikan Jongin yang kesulitan untuk menahan amarahnya sejak tadi.

Dengan tidak sabaran pria itu menyusul langkah Ahyeon yang sudah memasuki kamar. Mencengkaram kasar tangan wanitanya hingga menyebabkan barang-barang Jongin yang ia bawa terjatuh. Ahyeon tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika mendapati tatapan tajam Jongin pada dirinya.

“Jongin-ah, sakit.” Pria itu dapat melihat Ahyeon berkata sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Jongin pada tangannya. Tapi semua itu terasa percuma, kekuatan tangan pria itu tidak sebanding dengan apa yang wanita itu miliki.

Jongin tidak memperdulikan rintihan kesakitan dari Ahyeon, hatinya sudah kepalang sakit ketika mendapati wanita yang mati-matian ia jaga disakiti oleh orang lain, tanpa pria itu bertanyapun ia tahu siapa yang membuat wanita yang sangat ia cintai menangis.

Sejak awal pria itu tahu bahwa suatu kesalahan membiarkan Ahyeon pergi menemui mantan kekasihnya tadi pagi. Pria itu ingin sekali menolak permintaan wanita itu ketika meminta ijin untuk bertemu dengan seseorang saat mereka menikmati sarapan tadi pagi. Hingga saat ini Ahyeon tidak pernah menyebut nama Sehun secara langsung di depan Jongin, wanita itu seperti tahu bahwa Jongin tidak akan pernah menyukainya.

Pada akhirnya ia tidak berani melakukannya, ia takut ketika ia melarang wanita itu maka Ahyeon akan membencinya dan akan meninggalkannya.

Tapi ia masih bisa tersenyum ketika Ahyeon menunjukkan kegembiraan ketika Jongin mengijinkannya. Wanita itu tersenyum lembut kepada Jongin dan berterimakasih dengan tulus. Jongin tidak mempermasalahkan itu semua, walaupun ia merasakan sakit hati yang amat dalam tapi selagi itu membuat Ahyeon bahagia maka Jongin akan melakukannya.

“Apa yang dilakukan Oh Sehun padamu, huh?” Sungguh, Jongin tidak dapat menahan amarahnya ketika menyebut nama pria itu hingga tanpa sadar ia mencengkram tangan wanitanya lebih keras. Jongin dapat mendengar isakan tertahan dari wanitanya.

Ya Tuhan! Jongin dapat menerima rasa sakit apapun itu kecuali sakit ketika mendengar Ahyeon menangis. Dan lagi-lagi wanita itu menangis karena dirinya!

Dengan kasar Jongin menghepas tangan Ahyeon dan memilih melampiaskannya dengan melempar barang apapun yang ada di dekat dirinya. Pria itu terlalu kalut hingga tidak menyadari wanita itu ketakutan karena melihat dirinya menghamuk.

Pria itu dapat mendengar wanita itu sedikit tersentak ketika dirinya mengangkat sebuah vas bunga besar. Hingga akhirnya tanpa berfikir panjang Jongin melemparkan benda tersebut ke atas lantai apartemennya.

“KIM JONGIN, CUKUP!!!!”

PRAAAANGGGGG…..

Suara teriakan wanita itu terkalahkan dengan suara vas bunga yang baru saja Jongin hempaskan. Nafas pria itu memburu, ia sudah mendengar teriakan wanitanya dan itu berarti ia harus mereda amarah yang sudah menguasai dirinya.

“Puas? Kau puas Kim Jongin, kau puas. HAH?” wanita itu berkata dengan nada tinggi. Jongin tahu kelakuannya sudah membuat wanitanya marah.

Sungguh pria itu tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat wanita itu menangis karena dirinya, yang ia fikirkan hanya melampiaskan amarahnya. Ia tidak berfikir bahwa itu akan membuat Ahyeon juga akan marah pada dirinya. Oh Kim Jongin kau telah melakukan kesalahan yang besar, wanita itu akan segera meninggalkanmu.

“Kau tahu Jongin-ah–” Jongin yakin wanita itu tengah menahan tangisnya ketika ia mendengar suara Ahyeon yang bergetar. Pria itu masih tidak berani menatap wajah Ahyeon saat ini, ia tidak sanggup menatap mata Ahyeon yang memerah dan melihat kemarahan wanita itu. Hingga pria itu hanya terdiam mendengarkan perkataan Ahyeon, mendapati kemarahannya sudah hilang digantikan ketakutan yang menguasai dirinya .

“Dulu aku dan Sehun berpisah karena hal yang sama–” dan akhirnya Jongin memberanikan diri menatap wajah Ahyeon ketika wanita itu untuk pertama kalinya menyebut nama pria itu dihadapan dirinya. Ia dapat melihat wajah Ahyeon yang menahan tangis menatapnya penuh kecewa. Kondisi wanitanya begitu berantakan, tidak jauh berbeda dengan dirinya.

“Karena dia juga tidak bisa menerima masa laluku.” Kata Ahyeon mengakhiri pertengkaran mereka. Jongin dapat melihat wanita itu pergi, lebih memilih memasuki kamar tidur mereka dan mengurung diri disana. Meninggalkan Jongin dengan ketakutan yang nyata, ketakutan bahwa sebentar lagi Ahyeon akan meninggalkannya.

&&&

Jongin tidak tahu jam berapa ia tertidur tadi pagi. Pria itu masih terjaga hingga subuh, takut jika tiba-tiba wanita itu keluar dengan koper ditangannya. Takut wanita itu akan pergi meninggalkannya.

Tapi saat cahaya matahari masuk ke dalam jendela apartemennya, tidak ada tanda bahwa wanita itu akan keluar dari kamarnya. Hingga Jongin tidak dapat menahan rasa kantuk dan menutup mata, tertidur diatas sofa ruang tamu miliknya.

Di tengah tidur gelisahnya, pria itu dapat merasakan seseorang menyelimuti dirinya. Membelai wajah dan menatapnya penuh kelembutan, pria itu sangat ingin membuka mata tapi rasa kantuk yang dirasakannya membuat matanya begitu berat dan enggan untuk terbuka.

Dan ketika ia meraskan seseorang memberikan ciuman pada dahinya lama, Jongin merasa ketenangan yang sangat di dalam hatinya. Memberikannya mimpi indah saat itu juga, membuatnya semakin enggan membuka matanya dan membiarkannya terbuai dalam mimpi tersebut.

Cukup lama Jongin tertidur karena saat matanya terbuka matahari seperti sudah berada di atas, menandakan bahwa hari sudah beranjak siang. Pria itu terbangun dengan hentakan pelan pada jantungnya yang mendesak dirinya untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Rasa kantuk hilang begitu saja digantikan dengan rasa panik ketika memikirkan bahwa kekasihnya pergi meninggalkannya ketika ia tertidur tadi.

“Ahyeon-ah.” Jongin meneriakkan nama wanita itu di setiap ruangan yang ada di dalam apartemennya. Hatinya berdegup tidak tenang ketika melihat bahwa apartemennya sudah bersih seperti tidak ada kekacauan yang terjadi tadi malam, begitu pula dengan kamar yang ditempati wanita itu, sudah terlihat rapi.

“Park Ahyeon!” teriak Jongin ketika tidak menemukan kekasihnya itu dimanapun. Wajah tampan pria itu berubah pucat dan keringat dingin keluar dari pelipis pria itu. Tanpa berfikir panjang Jongin bermaksud kembali ke dalam kamarnya dan mengambil jaket kulit miliknya, dalam benaknya ia akan mencari Ahyeon jika benar wanita itu pergi meninggalkannya.

“Kim Jongin, ada apa? Kenapa kau berteriak begitu?” suara wanita itu menghentikan pergerakan kaki Jongin yang ingin beranjak pergi. Tanpa sadar ia menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan, hatinya terasa ringan ketika melihat wanita itu keluar dari arah dapur. Menggunakan celemek dan memegang sebuah pisau di salah satu tangannya.

Pria itu dapat melihat wanita itu tersenyum ketika lagi-lagi ia tidak menjawab pertanyaan dari wanitanya.

Senyum yang selalu dapat memberikan ketenangan pada diri dan juga hatinya.

“Kau pasti lapar, bukan? Aku sudah membuat nasi kare kesukaanmu.” Jongin membiarkan dirinya ditarik oleh tangan lembut milik kekasihnya itu. Menyuruh dirinya untuk duduk di meja makan dan membiarkan Ahyeon terlebih dahulu menyiapkan makanan untuk Jongin.

Mata pria itu tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wanita yang tengah membelakanginya. Inilah kehebatan seorang Ahyeon, wanita itu akan bersikap seperti biasa saja walaupun mereka baru saja bertengkar hebat. Tapi di dalam hati Jongin bersyukur bahwa bayangan Ahyeon pergi meninggalkannya tidak pernah terjadi hingga detik ini, walaupun Jongin tanpa sadar terlalu sering menyakiti kekasihnya itu.

Jongin dapat melihat Ahyeon lagi-lagi tersenyum manis kepadanya ketika mata mereka bertemu. Wanita itu kemudian meletakan nasi kare di depan Jongin dan duduk di sebelah pria itu. Tapi Jongin hanya terdiam masih dengan memandang wajah cantik kekasihnya, ia merasa sanggup melakukannya jika di suruh seharian sekalipun. Mata wanita itu terpejam dan menyatukan kedua tangannya, berdoa sebelum memakan makananya. Jongin dapat melihat Ahyeon memiringkan kepala tersenyum ke arah dirinya ketika wanita itu membuka mata dan melihat Jongin masih menatapnya.

“Kau tidak makan? Apa mau aku suapi?” kata wanita itu bertanya ketika Jongin masih saja menatapnya dengan mata gelap milik pria itu. Tanpa menunggu jawaban dari Jongin, wanita itu menyendokan makanannya dan menyuapkan nya pada mulut pria itu.

Pria itu menerimanya dengan senang hati, tetapi ia merasa kesulitan untuk memakannya. Entahlah rasa bersalah masih mengganjal di dalam hatinya. Walaupun ia menyukai bahwa kenyataannya Ahyeon tidak membahas apapun tentang kejadian tadi malam, tapi tetap saja masalah mereka berdua tidak semudah itu, mereka harus menyelesaikannya.

“Ahyeon-ah.” Jongin memanggil nama wanita itu lirih, menghentikan aktifitas wanita yang akan mulai kembali menyuapinya. Ia mendudukan kepalanya, menatap nasi kare dengan tidak berminat. Jongin tidak berani menatap wajah wanitanya.

“Maafkan aku.” Jongin dapat mendengar suaranya yang mulai bergetar. Ia tidak pernah menyadari, dirinya begitu lemah dihadapan kekasihnya itu. Jongin dapat merasakan tangan Ahyeon menggenggam lembut tangan Jongin yang juga mulai bergetar. Tapi Jongin masih tidak berani menatap kearah Ahyeon.

“Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu Ahyeon-ah. Maafkan aku.” Tanpa sadar mata Jongin mulai memanas dan pria itu dapat merasakan air matanya tengah menumpuk di dalam matanya.

Hati Jongin mencelos ketika Ahyeon tidak menjawab apapun, wanita itu malah melepaskan tangannya yang sedari tadi menggenggam tangannya. Ia dapat merasakan kehampaan pada tangannya yang di lepas kan oleh tangan Ahyeon.

Ketika Jongin ingin mengucapkan kata maaf untuk kesekian kalinya, ia dapat meraskan seseorang memeluknya dari belakang. Mengalungkan kedua tangannya dan memeluknya penuh posesif. Pria itu dapat merasakan nafas hangat wanitanya di lekukan leher miliknya. Untuk sesaaat ia ingin waktu berhenti saat itu juga, dan membiarkan dirinya menikmati perasaan hangat itu walaupun untuk sekejap.

“Aku tahu kau tidak pernah berniat menyakitiku Jongin-ah. Karena kau sangat mencintaku, bukan?” kata wanita itu terkekeh pelan. Jongin menggengam kedua tangan wanita itu yang berada didepan dadanya. Tanpa sadar ucapan wanita itu membuatnya juga tertawa pelan, hingga air mata juga ikut terjatuh dari matanya yang sedari tadi ia tahan.

“Kau tahu, alasan kenapa kau tidak boleh meninggalkanku?” tanya wanita itu yang semakin menguatkan pelukannya pada Jongin. Pria itu dapat meraskaan wanita itu mencium puncak kepalanya penuh sayang.

“Karena aku juga sangat mencintaimu Jongin-ah.” Kata wanita itu lirih. Jongin dapat merasakan detak jantungnya berdegup dengan sangat cepat karena mendengar ucapan dari kekasihnya itu.

Benarkah? Benarkah Ahyeon mencintainya?

Jongin tidak sedang bermimpi bukan, wanita itu mengatakan bahwa ia juga mencintainya. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya ia mendengar kalimat itu dari bibir Ahyeon, tapi untuk saat ini semua terasa berbeda.

Bolehkah ia percaya bahwa Ahyeon mencintainya. Bolehkan ia bergantung pada kalimat itu, tapi Jongin telalu takut untuk mengakuinya. Ketika ia bergantung pada kalimat bahwa Ahyeon mencintainya, ia takut dirinya akan lengah karena merasa wanita itu tidak akan meninggalkannya.

Tapi bolehkan, untuk kali ini saja Jongin percaya bahwa Ahyeon juga benar-benar mencintainya. Hingga ia dapat sedikit melupakan perasaan takut Ahyeon akan meninggalkannya. Ia hanya ingin menikmati perasaan bahagia tanpa rasa takut yang terus menghantuinya. Jadi bolehkah?

&&&

Jongin tidak pernah tahu bahwa hatinya bisa merasakan sedikit ketenangan seperti saat ini. Sudah lama berlalu sejak terakhir kali pertengkaran mereka berdua pada malam itu.

Hubungan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Pria itu membiarkan hatinya untuk mempercayai kekasihnya, hingga akhirnya perasaan takut akan Ahyeon yang pergi meninggalkannya sedikit demi sedikit menghilang walaupun tidak sepenuhnya.

Dan wanita itu, sejak saat itu juga ia tidak pernah lagi meminta ijin pergi untuk menemui Oh Sehun pada dirinya. Jongin tidak pernah tahu alasannya, walaupun pria itu sangat penasaran tapi tentu saja ia menolak untuk sakit hati lagi untuk bertanya pada kekasihnya.

Pria itu memandang Ahyeon yang sedang berbicara pada dirinya. Pria itu tidak sepenuhnya mendengar cerita kekasihnya ketika mengatakan bahwa wanita itu sangat sibuk di klinik tempat ia bekerja walaupun sekarang adalah malam natal. Sesekali wanita itu akan berhenti bercerita ketika memasukan makanan pada mulutnya.

Mereka berdua sekarang sedang menikmati makan malam disebuah restoran yang sudah jauh-jauh hari dipesan oleh Jongin. Pria itu tahu bahwa tempat ini pasti akan penuh ketika malam natal tiba.

Alasan lain kenapa pria itu tidak terlalu berkonsentrasi adalah karena ia sedang dilanda kegugupan. Pria itu berencana untuk melamar wanitanya malam ini juga. Tapi ia tidak mengetahui bagaimana cara untuk menyampaikannya pada kekasihnya itu.

Walaupun hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan tapi entah mengapa Jongin ingin segera mengikat gadis itu pada dirinya, ia ingin memiliki Ahyeon sepenuhnya. Hingga wanita itu tidak memiliki alasan untuk meninggalkannya. Terdengar egois memang tapi pria itu benar-benar ingin menjadikan Ahyeon sebagai pendamping hidupnya.

“Jongin-ah. Selesai makan kau akan mengajakku kemana? Melihat pohon natal? Oh, Oh.. Aku tahu bagaimana kalau sekarang kita ke Namsan Park? Kau mau kan Jongin-ah.” Jongin tersenyum ketika melihat wanita didepannya sangat berantusias sambil menggerakkan tanggannya yang sekarang berada di atas tangan miliknya. Pria itu hanya mengganguk mengiyakan ajakan dari kekasihnya itu.

Sejak kapan Jongin mampu menolak permintaan dari Ahyeon.

Tetapi perasaan cemas kembali muncul dalam hati pria itu. Ia masih memikirkan bagaimana cara memberikan cincin yang sekarang berada di dalam kantong mantel miliknya pada kekasihnya itu. Bagaimana kalau wanitanya menolak menikah dengan dirinya? Ya Tuhan, Kim Jongin! Bukankah pria itu telah berjanji akan mempercayai Ahyeon, bukankah ia sudah menyerahkan seluruh hatinya pada wanita itu. Dan Jongin masih berfikir bahwa Ahyeon akan meninggalkannya, akan menolaknya.

Tapi bukan tanpa alasan kenapa Jongin berfikiran seperti itu, perasaannya masih merasa tidak nyaman. Seperti masih ada rasa yang mengganjal di sudut hatinya, ia tidak tahu perasaan apa itu. Entahlah sepertinya menjadikan Ahyeon sebagai istrinya adalah satu-satunya hal yang akan menghapus semua kegelisahan pada hati Kim Jongin.

&&&

Jongin merapakan mantel pada tubuhnya ketika ia merasakan hawa dingin mulai merasuk ke dalam kulitnya. Pria itu sedikit merasa pusing ketika melihat orang-orang yang berlalu lalang di depan dirinya. Apa yang pria itu harapkan? Malam ini adalah malam natal dan seperti bayangan pria itu sebelumnya, bahwa tempat ini pasti sudah di penuhi oleh banyak orang.

Tangan pria itu menarik tangan Ahyeon yang berada digenggamannya ketika ia merasa bahwa seseorang akan menabrak tubuh kekasihnya tersebut. Ahyeon terlalu sibuk menatap pohon natal dengan mata berbinar tanpa memperdulikan orang lain yang berlalu lalang.

Walaupun merasa tidak nyaman berada dikeramaian, tetapi Jongin masih dapat tersenyum ketika melihat kekasihnya itu terlihat bahagia saat bersamanya. Pria itu biasanya lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor ataupun didalam apartemennya ketika malam natal tiba. Tapi natal kali ini berbeda, ia memiliki Ahyeon. Dan ia akan menikmati natal-natal yang lain nantinya dengan wanita itu bahkan mungkin dengan anak mereka.

Jongin mengeratkan genggaman tangan mereka ketika lagi-lagi ia merasa kegugupan melanda dirinya. Ia dapat melihat bahwa sekarang Ahyeon membalikkan tubuhnya dan menatap Jongin heran, mungkin wanita itu dapat merasakan telapak Jongin yang mulai basah mengeluarkan keringat padahal salju tengah turun.

“Ahyeon-ah!” Jongin dapat mendengar suara memanggil nama kekasihnya tersebut. Tapi itu bukan suara miliknya….

Tanpa perintah, refleks Jongin menoleh kebelakang ketika wanita itu juga melakukan hal yang sama. Menatap seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakang Jongin. Dan jantung Jongin berdetak sangat cepat ketika mengetahui siapa pria itu.

Oppa.” Jongin dapat mendengar suara riang kekasihnya ketika memanggil pria itu. Hati Jongin lagi-lagi mencelos ketika Ahyeon melepaskan genggaman tangan mereka berdua, meninggalkan Jongin dan berlari ke arah pria tersebut.

“Sehun oppa.” Mata Jongin tidak berkedip sama sekali saat kekasihnya memeluk pria yang ia panggil Sehun oppa itu. Tubuh pria itu hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Fikiran Jongin kosong, sekosong hatinya sekarang.

Kekasihnya melepaskan tangannya dan memeluk pria lain. Dan Ahyeon sedikitpun tidak menoleh kepadanya.

Wanita itu tidak memandangnya sama sekali.

Jongin dapat melihat wajah kekasihnya begitu senang dalam dekapan pria bermarga Oh tersebut. Pria itu meringis, Jongin merasa ia tidak pernah membuat Ahyeon tertawa lepas seperti sekarang. Tentu saja bagaimana Ahyeon bisa tertawa pada dirinya ketika yang Jongin lakukan hanya menyakiti kekasihnya.

Pada akhirnya ia tahu ini semua akan terjadi. Apa yang ia takuti selama ini benar-benar menjadi kenyataan. Ahyeon akan meninggalkannya dan Jongin tidak bisa berbuat apa-apa.

Wanita itu masih tidak menoleh kepadanya walaupun pelukan itu sudah terlepas. Jongin dapat meraskan hawa dingin disekujur tubuhnya terlebih pada hatinya. Ia tidak dapat merasakan apa-apa dibagian itu, yang ia rasakan hanya kehampaan.

Sungguh, hatinya tidak merasakan sakit ataupun perasaan yang selama ini yang ia rasakan. Detak jantung pada tubunya pun mulai melemah, Jongin tidak pernah merasakan hal semacam ini. Terlalu sakit hingga ia tidak dapat merasakan apapun di bagian sana.

Tidak ada hal menyakitkan di dunia ini ketika orang yang kau cintai lebih terlihat bahagia bersama orang lain. Dan itu yang Jongin rasakan.

Tanpa sadar Jongin membalik tubuhnya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Ahyeon dengan Sehun. Mungkin itu keputusan terbaik dan terburuk yang pernah Jongin lakukan seumur hidupnya.

Jongin akhirnya dapat bernafas ketika dirinya mulai berada jauh dari tempat ia berada tadi, ia tidak menyadari sejauh mana kakinya membawa dirinya. Tapi kesadarannya muncul ketika akhirnya hatinya memberi respon dan merasakan air mata mulai turun dari pelupuk matanya. Dan pria itu menangis dalam diam.

Seharusnya malam ini adalah malam yang membahagiakan bagi Jongin. Seharusnya sekarang Ahyeon tengah memeluknya. Seharusnya Jongin yang dapat membuat Ahyeon tertawa seperti itu, Begitu banyak kata seharusnya dalam benak Jongin, tapi mengapa yang terjadi adalah hal sebaliknya.

Jongin tidak pernah tahu bahwa mencintai seseorang bisa semenyakitkan seperi ini. Pria itu sangat mencintai Ahyeon, sungguh! Tidak pernah terbersit sedikitpun fikiran untuk meninggalkan wanitanya. Tapi keadaan berkata lain, Ahyeon tidak bahagia bersamanya.

Kau tahu, alasan kenapa kau tidak boleh meninggalkanku?

Ahyeon memang di takdir bersama Oh Sehun bukan dengan dirinya. Pria itu lebih bisa membuat Ahyeon bahagia dibandingkan saat bersama dirinya.

Jongin memejamkan matanya ketika merasakan sesak di dadanya tidak berkurang sedikitpun walaupun ia sudah menangis. Bahkan pria itu berulang kali menghirup dinginnya udara malam agar membuat sesak di hatinya berkurang bahkan mati rasa.

Karena aku juga sangat mencintaimu, Jongin-ah.

Dan pada akhirnya Jongin lah yang terluka.

 

 

Jongin’s Side

END

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Bittersweet (Oneshoot)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s