[EXOFFI FREELANCE] My Liar Girl (Chapter 14)

FFMLG1

Title : My Liar Girl [Chapter 14]

Author : Ariana Nana

Cast :

Kim Ara

Oh Sehun

Lee Yian

Park Hana

Kim Jongin

Han Jihyun

Genre : Romance, Friendship, School Life, Sad

Length : Chapter

Rated : PG-17

Disclaimer :

FF ini sepenuhnya hasil dari imajinasiku sendiri. Tidak ada unsur plagiat di dalamnya. Jadi, jika ceritanya sangat aneh, mohon maklumilah. Don’t bash and don’t be a plagiator, please.

*

**

HAPY READING

**

*

Mobil itu masih tetap berada di sana setelah kepergian Ara. Pengemudinya, Sehun, hanya duduk diam di kursi kemudi sambil matanya terus menatap pada kaca spion yang memantulkan siluet di belakangnya. Tak ada yang ia lihat. Matanya hanya menatap kosong sedang pikirannya melayang entah kemana. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari belakang ini. Termasuk masalahnya dengan Yian yang belum juga usai.

Sebenarnya ia lelah harus mendiamkan lelaki itu begitu lama. Ada beberapa alasan yang membuatnya begitu takut kehilangan Yian sebagai temannya. Yian sosok teman yang baik, lelaki yang bertanggungjawab dan setia kawan. Tidak mudah bagi Sehun untuk mendapatkan teman seperti itu. Tapi entahlah, terkadang ada beberapa hal yang tak bisa ia mengerti dari diri Yian. Tentang apa yang dipikirkan lelaki itu dan bagaimana pendapatnya mengenai dirinya, Sehun tidak bisa mengerti itu. Terlalu sulit untuk bisa menembus pikiran Yian walau mereka sudah berteman selama hampir dua tahun.

Dihembuskannya nafasnya begitu panjang, seperti ada banyak beban dalam setiap hembusannya. Sehun ingin mengakhiri perang dinginnya dengan Yian. Setidaknya, harus ada yang mau memulai jika ingin memperbaiki semuanya. Tapi baik Yian ataupun dirinya terlalu keras kepala dan kekanak-kanakkan. Apalagi dirinya. Ia memang sangat kesal dengan Yian. Lelaki itu yang memulainya lebih dulu. Setidaknya jika ia tidak setuju dirinya mendekati Ara, ia bisa mengatakannya baik-baik dan bukannya seperti itu.

Hei, kenapa ia tidak memikirkannya sejak awal? Jika Yian sampai tidak setuju, apakah dia menaruh perasaan pada Ara? Itu mungkin saja terjadi mengingat Yian tidak pernah peduli tentang hubungannya dengan beberapa gadis sebelumnya. Ya memang Sehun pernah sekali menjalin hubungan, tapi itu tidak berlangsung lama dan Yian tidak pernah mau tahu. Lelaki itu memang menegaskan tidak mau mencampuri hubungan percintaan masing-masing, ‘kan?

Tapi jika memang dugaannya itu benar. Jika memang Yian menaruh perasaan pada Ara bahkan sampai menyukainya, ini tidak bisa dibiarkan. Seharusnya Yian bisa jujur dan berterus terang padanya, mungkin akan ada penyelesaian yang lebih berujung pada meredanya perang dingin diantara mereka. Setidaknya, ia harus mencari tahu dari mana Yian mengenal Ara dan oh- Hei, mereka ‘kan satu sekolah dan bisa saja saling mengenal. Ya, kemungkinan itu bisa saja benar. Sehun mengiyakan dalam hati. Tapi, bagaimana bisa?

Masih sibuk berdebat dengan dirinya sendiri, ekor mata Sehun menangkap bungkusan kecil di dasbor mobilnya. Ia mengalihkan perhatiannya sejenak pada bungkusan itu dan baru mengingat sesuatu. Bungkusan itu sengaja ia beli tadi sebelum pulang dan rencananya ia akan memberikannya pada Ara. Ia ingat saat istirahat ia pergi ke kelas Ara dan tak mendapati gadis itu disana. Ia sudah bertanya pada Hana tapi Hana juga tidak tahu. Dan Sehun bisa menyimpulkan gadis itu pasti belum makan siang hingga akhirnya terbersit dalam pikirannya untuk membelikan sesuatu yang bisa dimakan oleh Ara. Tapi kenapa sekarang ia melupakannya? Ah, ini karena ia terlalu banyak berpikir.

Maka ia langsung keluar dari mobilnya dan disambut dengan semilir angin yang langsung menerpa wajahnya. Ia tidak terlalu peduli karena ia memakai mantel yang cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Langit masih saja ditutupi awan mendung namun belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Mungkin karena cuaca akhir-akhir ini cukup ekstream hingga orang bahkan tidak bisa memperkirakannya lagi.

Sehun mengingat kemana Ara berjalan setelah keluar dari mobilnya tadi. Jika tidak salah ia terus berjalan ke arah selatan lalu belok kiri. Ia mengingatnya sambil terus berjalan dan akhirnya ia berhenti setelah berbelok karena tidak tahu lagi harus kemana. Belokan itu berujung pada jalan raya di sebelahnya dan Sehun tidak tahu dimana rumah Ara. Sepertinya ia mulai menyadari kebodohannya karena tidak pernah berani bertanya lebih jauh mengenai rumah kekasihnya. Benar kata Kai, dirinya terkadang acuh dan egois. Rumah Ara saja ia tidak tahu, bagaimana ia bisa mencintai gadis itu dengan baik?

Tuhan sepertinya tahu kebingungan Sehun hingga akhirnya ia menunjukkan kebesarannya. Secara tidak sengaja Sehun melihat siluet Ara yang berdiri di depan sebuah kedai tepat di ujung jalan di belokan itu. Senyum cerah langsung terbit di wajahnya dan ia pun bergegas mendekat. Matanya terus menatap sosok itu yang ia sangat yakin jika itu memang benar Ara. Dari kejauhan sudah sangat jelas. Ia sangat mengenali gadis itu walau dari jarak yang cukup jauh dan ia sangat yakin.

Kakinya mendadak saja berhenti sesuai kehendaknya begitu matanya secara tak sengaja menangkap sosok lain yang berdiri di depan Ara. Lelaki itu sangat dikenalnya dengan baik. Benar, ia tidak salah lihat. Sebuah pertanyaan besar langsung terbersit di kepalanya. Kenapa Yian bisa ada disana? Setidaknya satu pertanyaan itu bisa mewakili ratusan pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya.

Tenggorokan Sehun langsung tercekat. Senyumnya pudar begitu saja diterpa semilir angin yang masih terus berhembus. Pandangan matanya menajam dan terus mengawasi kedua sosok itu hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kedai. Apa yang akan mereka lakukan disana? Apakah mereka memang sudah saling mengenal lalu berjanji akan bertemu? Tiba-tiba saja Sehun merasa percuma ia membelikan makanan untuk Ara. Di tatapnya bungkusan yang kini tengah ia pegang dengan pandangan menyesal. Lebih baik ia pulang karena semuanya akan percuma.

Hei, tapi mana boleh ia pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab? Sebagian dirinya langsung meneriakkan hal itu begitu kakinya mulai melangkah untuk berbalik. Sehun berpikir sejenak. Mungkin ada baiknya ia mencari tahu. Toh, Ara sudah menjadi kekasihnya dan ia juga berhak tahu apa yang dilakukan gadis itu walaupun tidak harus semuanya. Setidaknya dengan pemikiran seperti itulah Sehun mantap melangkahkan kakinya mendekati kedai kecil yang sederhana itu.

Baru beberapa langkah mendekat, aroma sedap dari makanan seafood langsung menguar dan memasuki indera penciumannya, membuat perutnya sedikit meronta ingin diisi dengan makanan yang disediakan disana. Tapi Sehun langsung mengingatkan dirinya jika tujuannya datang kesana bukan karena itu. Ia ingin mencari tahu mengenai hubungan Ara dengan Yian dan itulah mengapa kini ia berdiri di depan kedai sambil matanya menyapu ke dalam kedai, mencari-cari kedua sosok yang beberapa menit yang lalu masuk kesana.

“Kau ingin masuk?”

Seorang wanita paruh baya menghampiri Sehun dengan celemek yang menggantung di pinggangnya. Untuk sesaat Sehun menyadari jika wanita itu pastilah pelayan atau bahkan pemilik kedai ini. Sehun tersenyum samar.

“Tidak. Aku mencari temanku. Seorang gadis dan lelaki yang memakai seragam sepertiku.” Sehun menjawab sesopan mungkin sambil sedikit menyibakkan mantelnya hingga seragamnya terlihat.

Wanita itu mengangguk. “SMA Seoul.. Kau temannya Ara?” Tebaknya.

Kepala Sehun langsung mengangguk. “Ya, dia temanku dan juga –“ Sejenak terpikir dalam diri Sehun untuk mengatakan jika Ara kekasihnya. Tapi ia mengurungkannya dan memilih kata lain yang lebih sesuai. “Dan kami dekat. Aku melihatnya masuk kesini tadi.”

“Ya. Ara memang masuk kesini karena disinilah rumahnya.” Ungkap wanita itu.

“Maaf?” Sehun agak terkejut.

“Ini rumah Ara dan aku Bibinya.” Ulang wanita itu. Sehun agak terkejut tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap biasa saja.

“Begitu ya.. Maaf, aku tidak tahu sebelumnya.” Kata Sehun dengan sedikit menyesal. Ia merasa tidak mengenal Ara dengan cukup baik. Bahkan ia tidak tahu jika Ara tinggal dengan Bibinya.

“Tidak apa-apa. Kurasa Ara tidak pernah menceritakan apapun mengenai keluarganya. Yah, aku bisa memakluminya.” Kata wanita itu yang tak lain adalah Bibi Nayoung. Ia mempersilakan Sehun masuk. “Ara dan temannya ada di ruang tamu. Aku akan mengatarmu kesana.”

“Maaf sudah merepotkan anda.” Kata Sehun yang berjalan mengekori Bibi Nayoung.

“Tidak apa.” Bibi Nayoung mengibaskan tangannya sambil tersenyum. “Aku senang Ara membawa temannya kemari. Anak itu sangat tertutup sejak pindah kesini”

Sepertinya Sehun mulai tertarik dengan pembicaraan Bibi Nayong. Dengan cepat ia menimpali. “Pindah? Memangnya dulu Ara tinggal dimana?”

Kini Bibi Nayoung mensejajarkan langkahnya dengan langkah Sehun. “Dia dan Ibunya tinggal di Namhae. Setahun yang lalu dia pindah kemari karena mendaftar di SMA Seoul.”

Setahun yang lalu? Tapi kenapa Ara masih tingkat satu? Apa Ara sebaya dengannya?

“Maaf, jika setahun yang lalu harusnya ia sudah tingkat dua, Nyonya.” Sela Sehun.

“Ada banyak hal yang terjadi. Nah, kita sudah sampai.” Potong Bibi Nayoung yang sepertinya sengaja mengakhiri pembicaraan itu. “Ara, ada temanmu. Katanya dia ingin bertemu denganmu.”

Teriakan Bibi Nayoung terdengar sangat melengking hingga mampu menginterupsi kedua makhluk yang tengah duduk di ruang tamu. Keduanya langsung menoleh bersamaan hingga bertatapan dengan mata Sehun. Terlihat keterkejutan dari raut keduanya begitu juga dengan Sehun. Ia tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat melihat posisi Ara dan Yian yang begitu dekat. Suaranya sepertinya hilang dan mendadak suasana hatinya langsung buruk. Tangannya yang bebas langsung terkepal hingga memerah di samping tubuhnya, memperlihatkan bahwa ia sangat marah melihat hal itu.

Cemburu? Tentu saja. Hei, Ara itu kekasih Sehun dan bagaimana mungkin Sehun tidak cemburu melihat kekasihnya berduaan dengan lelaki lain yang notabene adalah temannya. Ia benar-benar tidak habis pikir apa yang mereka akan mereka selanjutnya jika dirinya tidak datang. Jangan-jangan, mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Aduh, pikirannya sudah melayang-layang membayangkan hal yang tidak-tidak.

“Kenapa diam saja? Ayo masuk. Biar aku ambilkan minum.”

Untung saja Bibi Nayoung membuka suara yang mengusir keheningan itu. Sehun mengangguk lalu dengan ragu melangkah masuk. Ia melepas sepatunya dan berjalan masuk dengan mata yang masih terus tertuju pada keduanya. Ara sendiri sudah kembali duduk dengan menggeser jaraknya lebih jauh dari Yian. Dirinya masih diliputi rasa terkejut dan pastinya Sehun akan marah padanya. Makanya ia hanya menundukkan kepala dan tidak mampu melihat Sehun.

Berbeda dengan Yian yang tampak biasa saja. Ia justru membalas tatapan Sehun dengan tak kalah tajamnya dan matanya terus mengikuti kemana Sehun bergerak hingga tiba-tiba saja Sehun memilih duduk diantara dirinya dan Ara. Ia sedikit terkejut dengan hal itu tapi tetap tenang sambil terus mengawasi Sehun.

“Aku lupa untuk memberikan padamu.” Kata Sehun membuka suara. Nada suaranya terdengar biasa saja dan tidak terdengar marah ataupun kesal. Ara mendesah lega dalam hatinya dan ia pun menerima bungkusan yang disodorkan Sehun padanya.

“Apa ini?” tanyanya sambil membuka bungkusan itu. “Oh, sushi. Kelihatannya enak.” Sambungnya dengan semangat. Sebentar, aku akan mengambil piring dulu.”

Tanpa banyak kata, Ara langsung masuk kedalam untuk mengambil piring. Ia meninggalkan kedua lelaki yang masih saling menatap dengan tajam, seolah berperang melalui tatapan mata. Yian sedikit merasa risih dengan hal itu. Ia memilih mengakhirinya dengan menundukkan kepalanya.

“Aku tidak tahu jika kalian sudah saling mengenal.” Kata Sehun yang terdengar seperti sebuah sindiran. Yian menoleh dan kembali mendapati tatapan tajam itu.

“Kami sahabat saat di Namhae.” Aku Yian. Ia ingin jujur mengenai hal itu agar tidak ada kesalahpahaman diantara dirinya dengan Sehun.

Sehun sedikit terlonjak mendapati fakta itu. Ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh disini. Yian tidak pernah menceritakan hal itu padanya begitu juga dengan Ara yang ia kira tidak mengenal Yian. Tapi ternyata, ini fakta yang benar-benar mampu membuatnya tidak berkedip untuk beberapa saat.

“Oh, jadi ini semacam reuni?” tanya Sehun setelah bisa mengendalikan dirinya dari rasa terkejut.

“Yah, bisa dibilang begitu. Aku dan Ara sangat dekat sebelumnya.” Jawab Yian yang langsung membuat amarah Sehun kembali naik.

“Terlihat serius sekali. Apa yang sedang kalian bicarakan?” Suara Ara terdengar seiring langkahnya yang semakin dekat. Ia membawa beberapa piring di tangannya dan meletakkannya di atas meja.

“Hanya beberapa hal yang belum aku tahu.” Jawab Sehun cepat saat Ara sudah duduk di sampingnya.

“Memangnya apa?” tanya Ara sambil meletakkan potongan sushi ke atas piring.

“Ara, sepertinya aku harus segera pulang.” Yian bangkit dari duduknya dan hendak pergi, membuat Ara menghentikan kegiatannya.

“Eoh? Kenapa begitu cepat? Kau tidak ingin makan dulu, Oppa?”

Sehun langsung menoleh mendengar Ara memanggil Yian dengan sebutan ‘Oppa’. Oh, apakah hubungan mereka sedekat itu hingga ia mau memanggil Yian dengan sebutan seperti itu? Dirinya saja yang sekarang menyendang status sebagai kekasih Ara, tidak pernah dipanggil seperti itu oleh Ara. Uh, mengesankan sekali.

“Tidak apa. Sopirku sudah menunggu di luar. Kalau begitu aku pamit dulu.” Kata Yian cepat lalu segera berlalu. Sehun yang melihatnya langsung bangkit dan hendak mengikuti lelaki itu.

“Kau juga mau pulang?” tanya Ara dengan matanya mengekori Sehun.

Benar. Memang sangat mengesankan. Sehun hanya dipanggil ‘Kau’ oleh Ara. Kekasihnya sendiri. Apa dia terlihat sangat menyedihkan sekarang?

“Ya. Sudah sore.” Jawab Sehun tanpa menoleh. “Sampai jumpa besok.” Sambungnya lalu bergegas pergi. Ara hanya diam tanpa berniat menyusul atau mengantarnya sampai depan. Ia masih memengang sumpit dengan sushi di tangannya lalu memasukkannya pelan dengan wajah acuh.

“Lelaki memang sulit dimengerti. Lebih baik aku habiskan ini saja. Lelaki porselen itu sepertinya tahu saja jika aku sedang lapar.” Kata Ara dengan senyum merekah sambil memasukkan kembali potongan sushi ke dalam mulutnya.

***

“Tunggu…”

Cegah Sehun tepat sebelum Yian masuk ke dalam mobilnya. Ia memegang lengan Yian, berharap lelaki itu tidak masuk ke dalam mobil.

Yian menoleh dan segera menghentikan kegiatannya. Ia menutup pintu belakang mobil dan menatap Sehun bingung. “Ada apa?”

“Urusan kita belum selesai, Lee Yian.” sentak Sehun dengan mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga gigi atas dan bawahnya saling beradu.

Yian masih mempertahankan sikap awalnya yang tenang. Ia hanya menatap Sehun, menunggu lelaki itu berkata karena sepertinya ada banyak hal yang ingin Sehun katakan padanya jika dilihat bagaimana ekspresi wajahnya. Atau, Yian salah penafsiran. Tapi ia sangat yakin mengingat Sehun memergoki dirinya tengah berduaan di rumah Ara. Hei, tapi apa urusannya dengan Sehun? Karena lelaki itu jelas-jelas menyukai Ara?

“Kenapa tidak mengatakan sejak awal jika kau mengenal Ara? Ada banyak hal yang harus kau jelaskan padaku.” Kata Sehun dengan nada yang nyaris sedingin semilir angin yang berhembus. Raut wajahnya sama seperti nada suaranya.

Berpikir sejenak, Yian tengah merangkai kalimat yang tidak akan membuat Sehun berprasangka buruk tentangnya. Tapi sepertinya ini akan sulit, karena sepertinya Sehun sudah terlanjur termakan emosi hingga kemungkinan kecil bisa menerima alasannya dengan lapang dada.

“Maafkan aku. Tapi kau tidak pernah bertanya sebelumnya padaku.”ungkap Yian dengan tenang.

Ya, memang benar. Sehun menjawab dalam hatinya. Ia memang tidak pernah menanyakan apapun pada Yian, seperti halnya tentang masalah pribadinya ataupun segala hal yang sedang dirasakan oleh lelaki itu. Harus Sehun akui ia terlalu acuh pada temannya hingga ia melewatkan banyak hal selama ini. Termasuk mengenai Yian yang mengenal Ara dan fakta bahwa mereka bersahabat. Catat itu. Artinya Yian dan Ara sudah sangat dekat. Tiba-tiba saja kejadian saat Ara dan Yian tengah berduaan di ruang tamu itu berputar tepat di depan matanya. Membuatnya darahnya kembali mendidih.

“Baiklah.” Terdengar Sehun menghela nafas. “Itu karena aku tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi. Maksudku, bagaimana bisa kau dan Ara – saling mengenal?” Sambungnya terdengar frustasi.

“Itu karena kami satu kelas saat di Namhae dan aku sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun. Dan dia sudah seperti adikku sendiri.” jawab Yian mantap.

Sehun mendesah. “Apa-apaan ini? Kenapa terdengar seperti kebetulan yang dibuat-buat? Hei, kau bilang sekelas dengan Ara saat di Namhae? Jadi, dia sebaya dengan kita?” tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya. Ia ingat, Bibi Nayoung tadi mengatakan itu dan hal itu masih saja mengganggu pikirannya.

“Jadi, kau tidak tahu? Bagaimana bisa kau menyukainya tapi tidak apapun mengenai dirinya?” tanya Yian yang lebih mirip dengan cibiran. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang terlihat begitu menyebalkan di mata Sehun. Sekuat tenaga ia tetap diam dan menahan diri agar tidak melayangkan pukulan di wajah tampan Yian.

Tak bisa mengatakan apapun lagi, karena sepertinya Sehun memang mengakui jika semua yang dikatakan Yian itu benar. Ia menyukai Ara tapi tidak tahu apapun mengenai dirinya. Rumahnya tidak tahu, kepribadiannya tidak tahu, masa lalunya tidak tahu. Ia tidak tahu apapun dan hal itu membuatnya merasa seperti.. entahlah. Seperti kau suka makan pizza tapi tidak tahu bagaimana cara membuatnya, apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan. Yah, mungkin seperti itu. Apa itu terdengar aneh?

Dengan menahan segala kekesalannya, Sehun memutuskan untuk segera angkat kaki dari sana. Ia meninggalkan Yian yang masih berdiri di samping mobilnya, berjalan dengan perasaan campur aduk menuju dekat halte dimana ia memarkirkan mobilnya. Mungkin ia harus mulai mengintrospeksi dirinya. Ia terlalu acuh pada lingkungan sekitar hingga tidak tahu apapun mengenai gadis yang disukainya. Ralat. Gadis yang perlahan-lahan mulai ia cintai.

***

Dentingan cangkir yang beradu dengan tatakan di bawahnya terdengar menggema di ruang tamu yang nampak luas lagi lengang ini. Hanya ada dua orang disana, yang duduk bersebelahan sambil berbincang-bincang mengenai segala hal yang terpikir oleh mereka. Hana dan Kai, sesekali mereka terlihat tertawa akan hal-hal lucu yang mereka perbincangkan. Terlihat sangat alami, dan tak ada kecanggungan di dalamnya.

Kai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Rumah Hana sangat luas dan mewah yang membuatnya terkagum-kagum walaupun rumahnya sendiri juga tak kalah hebatnya dengan rumah Hana. Matanya sekali lagi tertuju pada figura yang tertempel di dinding berwarna soft cokelat tak jauh di depannya. Disana terpampang potret sebuah keluarga kecil, dimana ia dapat melihat sosok Hana di dalamnya, bersama dengan seorang pria dan wanita paruh baya serta seorang lelaki muda dengan senyum menawannya. Tanpa sadar senyum di bibir lelaki itu terbit.

“Apa yang membuatnya tersenyum?” Suara Hana terdengar setelah satu menit keheningan diantara mereka. Ia mengikuti arah pandang Kai dan bibirnya ikut tertarik membentuk senyuman. “Itu diambil dua tahun yang lalu, tepat sebelum Jimin berangkat ke Amerika.”

“Owh.. aku suka melihatnya. Tapi kalian tidak terlihat mirip.” Komentar Kai yang membuat Hana tertawa.

“Benar. Kenapa kita sependapat, ya? Aku juga tidak yakin jika Jimin memang kakakku. Kami selalu bertengkar tiap kali bersama. Jadi, apa aku harus melakukan tes DNA?” Kata Hana yang mengundang Kai untuk ikut tertawa juga.

“Hhahaha… Ide yang bagus. Siapa tahu kau sebenarnya adalah seorang putri?” celetuk Kai.

“Putri dari pasangan Park Jungsoo dan Jung Soyeon. Hhahaha…” Jawab Hana yang diakhiri dengan tawanya yang lepas. Namun tawanya itu langsung terhenti saat melihat dua orang wanita yang tengah menuruni tangga.

“Senang rasanya melihat rancangan gaun yang akan aku kenakan nanti. Anda memang hebat, Nyonya Park.” Puji wanita yang memakai terusan berwarna peach yang terlihat pas di tubuhnya pada Ibu Hana. Wajahnya masih terlihat cantik walau usianya sudah tak muda lagi. Ditambah senyumannya, membuatnya terlihat bersinar.

Ibu Hana tersenyum ramah. “Saya hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Saya senang jika anda menyukai rancangan yang saya buat.”

“Aku tidak sabar akan mengenakannya pada hari itu.” ungkap wanita itu dengan mata berbinar-binar.

“Anda pasti akan terlihat sangat cantik, Nyonya Subin.”

Tanpa ada yang mengetahui, raut wajah Kai langsung berubah begitu melihat wajah wanita yang tengah berjalan bersama Ibu Hana. Ia terdiam di tempatnya dengan wajah penuh keterkejutan. Ditambah lagi setelah mendengar pembicaraan mereka secara tidak langsung. Kai langsung bisa mengartikan maksud dari pembicaraan mereka dan ia paham betul apa yang tengah mereka bahas. Tiba-tiba ia jadi teringat sesuatu, dan hal itu langsung menarik seluruh perhatiannya. Pikirannya menerawang jauh dari raganya. Ia mengkhawatirkan seseorang.

Apakah dia tahu jika wanita yang bernama Subin ini akan menikah?

***

Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, dimana angin masih berhembus dengan membawa udara dingin hingga membuat beberapa orang mulai memutuskan untuk memakai pakaian tebal walaupun musim dingin baru akan datang sebulan lagi. Dedaunan oak yang berwarna kecoklatan terlihat berserakan di sepanjang jalan beraspal tepat setelah Ara memasuki gerbang sekolah.

Ia berjalan dengan santai, tidak terlalu terburu-buru karena jam pelajaran akan dimulai dalam waktu dua puluh menit lagi. Itu artinya masih tersisa banyak waktu untuk sekadar duduk-duduk menikmati pagi ataupun bertemu dengan Hana dan membicarakan banyak hal. Termasuk mengenai kejadian kemarin yang masih saja mengganggu pikirannya.

Ara berhenti sejenak saat melihat Sehun keluar dari mobilnya. Lelaki itu terlihat sangat tampan dalam balutan seragam sekolah yang pas di tubuhnya. Ditambah postur tubuhnya yang tinggi menjulang namun proporsional, membuatnya terlihat bak model lelaki tampan yang berjalan dengan penuh pesona di atas catwalk. Sekali lagi harus Ara akui jika ia sangat terpesona pada Sehun. Apalagi jika mengingat perlakuan lelaki itu yang jauh berbeda beberapa hari ini, membuatnya seakan ingin terbang menuju langit ke tujuh. Ah, pasti ia sudah gila.

Karena saat itu posisi Sehun yang berada jauh di depan Ara, membuat lelaki itu tak melihat sosok Ara. Ia langsung melenggang begitu keluar dari mobilnya menuju gedung sekolah. Beberapa siswa yang mengenalnya, menyapanya yang hanya di jawab anggukan ringan oleh Sehun. Lelaki itu terlihat sangat dingin jika dilihat dari jauh. Namun, entah mengapa Ara merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Walau terkadang ia tidak yakin apakah yang ia rasakan itu memang benar dari hatinya atau ia yang hanya terbawa suasana hati. Ia masih berharap lebih pada Yian, sosok lelaki yang sampai kini setidaknya masih mengisi relung hatinya. Atau, mungkin sedikit tidak lagi. Entahlah, ia pusing memikirkan hal itu.

Beberapa hal terkadang membuatnya bingung. Apalagi sikap Sehun yang selalu berubah-ubah padanya. Terkadang baik tapi kadang juga dingin. Sama seperti kemarin. Ia sangat terkejut melihat kedatangan Sehun di rumahnya dengan tiba-tiba. Dalam hatinya muncul pertanyaan darimana lelaki itu tahu rumahnya. Bukankah ia tidak pernah memberitahunya? Atau diam-diam Sehun mengikutinya karena penasaran padanya? Mungkin itu memang benar.

Tapi mengingat bagaimana tatapan mata Sehun yang ditujukan pada Yian kemarin, ditambah ia yang tidak menghubungi Ara sampai hari ini –Ara sudah mencoba mengirimnya pesan namun Sehun tidak membalasnya- membuatnya sedikit heran. Apa lelaki itu marah pada dirinya dan Yian karena kejadian waktu itu? Jika iya atas dasar apa? Toh ia tidak melakukan hal-hal yang berlebihan. Ia dan Yian terbiasa melakukan hal itu dulu. Ingat, mereka bersahabat. Dan Ara memiliki perasaan padanya. Ya, itu poin penting yang mengacaukan segalanya.

Terlalu banyak berpikir hingga tak sadar Ara sudah sampai di depan kelasnya. Ia meringis kecil begitu menyadari bahwa dirinya sedari tadi berjalan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Mungkin ia mengabaikan sapaan dari beberapa siswa yang kebetulan mengenalnya atau ia kenal. Tapi tak apa, mereka pasti tahu jika Ara masih melamun dan secara tidak langsung mereka akan menyadari jika Ara itu gadis yang aneh. Biarlah, ia tidak keberatan dibilang aneh. Karena dengan tenggelam dalam pikirannya sendiri, membuatnya merasa nyaman dalam menjalani hidup. Konyol, bukan?

Beberapa temannya terlihat sedang bergerombol di sudut ruangan. Mereka terdengar sedang membicarakan sesuatu dengan hebohnya saat Ara meletakkan tas di laci mejanya. Ia tidak tertarik dengan hal itu dan memilih untuk duduk. Salah satu dari mereka melihat Ara dan langsung berbisik kepada yang lainnya, membuat semua pasang mata di dalam kelas itu langsung tertuju pada Ara yang secara tidak sengaja diketahui oleh Ara. Ia memandangi teman-temannya dengan wajah penasaran. Salah satu diantara mereka mendekati Ara dan memperlihatkan ponselnya.

“Apa kau mengenal Han Jihyun?” Tanya seorang gadis dengan rambut pirang bergelombang. Matanya menyipit menunggu Ara menjawab.

Ara mengamati foto dalam ponsel itu. Gambar Jihyun yang tengah berselca terlihat disana dan tentu saja ia mengenal Jihyun. Pertanyaan macam apa itu. “Ya, aku mengenalnya.” Jawab Ara mantap tanpa memikirkan maksud dari pertanyaan temannya.

“Darimana kau mengenalnya? Apakah kalian teman dekat?” cecar gadis itu, merasa belum puas dengan jawaban Ara yang singkat.

Mendengar pertanyaan itu, Ara seakan dipukul oleh sesuatu yang berat. Ia tidak mengira pertanyaan awal yang dilontarkan itu merupakan jebakan baginya. Kenapa ia tidak berpikir kenapa temannya itu bertanya perihal Jihyun padanya? Seingatnya, ia dan Jihyun tidak pernah terlihat bersama saat teman-temannya bisa melihat. Mereka tidak dekat, oke? Ia dan Jihyun hanya mantan teman sekarang.

“Itu..” Ara berusaha mencari jawaban tepat yang tidak akan menyudutkan dirinya. Ia berpikir sejenak. “Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Han Jihyun? Dia senior kita yang terkenal, bukan?” jawabnya setengah ragu. Kalimat itu diakhiri dengan kekehan yang justru terdengar sangat aneh bagi Ara.

Beberapa temannya nampak mengangguk membenarkan namun gadis itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri sesi tanya jawabnya dengan Ara. Ia mengutak-atik ponselnya, seperti mencari sesuatu lalu setelah menemukannya ia menunjukkannya pada Ara. “Lalu, apa kau mengenal gadis di samping Jihyun sunbae ini?”

Damn it!! Kali ini Ara seperti melihat hantu di siang bolong. Wajahnya langsung pucat pasi melihat gambar yang ditunjukkan temannya padanya. Ia tak mampu berkata-kata. Suaranya tercekat di tenggorokannya dan seperti menghilang begitu saja. Matanya terus tertuju pada gambar. Gambar yang menunjukkan kebersamaan Jihyun dengan seorang gadis di sampingnya. Mereka terlihat sangat akrab dan bahagia. Dan gadis itu adalah dirinya setahun yang lalu!!

“Di captionnya tertulis, ‘Aku merindukan saat-saat bersama dengan sahabatku, Kim Ara. Kami satu sekolah tapi tidak pernah bersama. Menyedihkan, bukan?’” Gadis itu membaca tulisan di bawah foto yang diunggah Jihyun di akun sosial medianya. Disana Jihyun juga menandai akun Ara dalam kirimannya. “Kim Ara yang dimaksud itu dirimu, ‘kan? Ini akun SNSmu, bukan?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu seolah angin lalu bagi Ara. Matanya masih terus memandangi gambar itu, seolah meyakinkan dirinya mengenai apa yang matanya lihat. Ia tidak pernah menduga, Jihyun akan melakukan hal itu. Dan, bagaimana bisa Jihyun masih menyimpan foto itu? Dirinya saja sudah tidak memilikinya sekarang. Mungkin sudah ia buang ke laut atau ia bakar. Ia sudah lupa. Terlalu banyak kemarahan dirinya pada Jihyun hingga ia ingin melenyapkan seluruh hal yang berkaitan dengan gadis itu. Bahkan jika bisa, ia ingin menghapus memorinya bersama Jihyun. Tapi, kenapa gadis itu kini berbuat seperti itu? Kesalahan apa lagi yang ia perbuat?

“Kenapa hanya diam, Ara? Kau tidak berpikir jika gadis yang bersama Jihyun itu dirimu ‘kan? Dia berbeda sekali denganmu.” Cecar temannya, masih menunggu jawaban Ara.

Detik itu juga, Ara merasa dunianya berhenti berputar. Ingin sekali ia lari menjauh dan menenggelamkan diri ke dasar laut. Ia tidak berani menjawab. Terlalu banyak hal yang ia takutkan. Dirinya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apalagi. Semua orang pasti akan segera tahu kebenarannya dan ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Ia bingung. Ia pusing dan ia ketakutan. Bagaimana jika mereka tahu bahwa ia pernah melakukan operasi pada wajahnya? Bagaimana jika mereka tahu semuanya? Apakah ia masih akan diterima di sekolah ini?

Ara tidak tahu. Ia benar-benar tidak bisa berpikir.

Yang ingin ia lakukan hanyalah berlari kepelukan Ibunya.

Dan meminta perlindungan.

Hanya itu.

 

 

TBC

 

 

Yeay..!!! Selesai juga. Tepat pukul 21.15 WIB saat aku menyelesaikan chapter 14 ini. Aku bersyukur karena ide FF ini masih terus mengalir walaupun terkadang tersendat-sendat seperti kisah cintaku yang tragis *eh, malah curcol* 😀

Entah kenapa cerita ini jadinya kayak gini. Aku gatau kenapa bisa begini karena aku mengetiknya sesuai dengan hati nurani dan pemikiranku yang terkadang sedikit menyimpang dari beberapa orang kebanyakan.

Aku gatau kalian suka atau enggak, yang jelas aku udah berusaha semampuku. Karena yah, kemampuanku menulis cuma masih segini. Masih absurd dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, aku selalu minta kritik dan saran dari kalian, wahai reader setia pembaca karyaku J

Segala bentuk komentar, saran dan kritikan akan selalu aku terima. Karena dengan itu bisa membuatku semakin lebih baik dalam menulis. Aku harap kalian belum bosen karena ceritanya udah hampir mencapai klimaks. Next chap aku ga bisa janji kapan. Yang jelas FF ini pasti akan aku selesaikan sampai ending, bahkan mungkin ada epilognya.

Okai, sepertinya aku udah banyak omong. Sekali lagi makasih masih setia baca dan aku tunggu komen dari kalian. Maaf untuk typo yang bertebaran karena aku ga sempet ngecek ulang.

 

Ariana Kim J

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Liar Girl (Chapter 14)”

  1. very complicated errr 😀
    semiga Yian-Sehun baik lagi yah. Ara semangaatt jujur aja gapapa kok *kemudianceramah* hihi –v

  2. Akhirnya update juga!!! Duh Ara pasti ntar ketahuan kalo dia oplas… trus gimana reaksi Sehun nanti??? Trus Subin itu siapa? Jangan” emaknya Ara lagi.. next chapter jgn terlalu lama kalo bisa 😀 soalnya penasaran banget lanjutannya. Fighting^^

  3. Yeeeiii akhirnya update juga. Dah lama bgt nunggunya…
    Wow jihyun dah mulai melancarkan serangan ni ke ara. Harus siap2 senjata nih ara nya. Tu siapa sich sebenernya si subin. Ibunya kai kah???
    Numpang promo nich…
    Baca ya ff pertamaku judulnya LIGHT. Di just-k-fanf1ction. Minta dukungannya dari author n reader semua yaaa…❤❤❤

  4. Wuahhh akhirnya update jugaa.. ehmm sehun gmana dah masa ga tau apa2 tentang ara.. itu jihyun juga ngapain ngepost foto pas dulu ??? Sengaja biar ara ketauan oplas ?? Ara kan oplas gara2 kecelakaan, bukan buat mempercantik diri, jadi gapapa lah ya.. temen2 nya harus bisa maklumin lahh.. ehh itu siapapun bantuin araa kasian tau.. next chap yaaa

  5. Yaelah nyebelin banget si jihyun.. sengaja itu biar jatuhin namanya ara.. ceritanya makin seru juga makin gregetan sama jihyun.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  6. Jihyun jahat sekali ya hanya karena ingin memiliki sehun setelah ia memiliki yian harus melakukan hal seperti itu pada Ara. Tak tau kah ia bahwa Ara mengalami kecelakaan yang menyebabkakn wajahnya rusak makanya ia menjadi sosok yang lain. Benar-benar kejam dirinya.
    Next chapternya ya

  7. hufft* akhirnya di lanjut juga udah lumutan nungguin FF ini 😀
    Makin keren + tegang thor
    Trus Ara nasibnya gimana thor?? Apa dia bkal di nyinyirin sama temen kelasnya atau gimana 😥
    Sehun, yian tolongin Ara T_T

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s