[EXOFFI FREELANCE] Brother-zone

brotherzone.jpg

Tittle: Brother-zone

Author: Lee-Jungjung

Lengt: Ficlet

Genre: Angst, AU, Hurt

Rating: G

Cast: Kim Junmyeon, Jung Soojung, & Kim Jongin

 

Disclaimer: fanfiction ini pernah dipubilkasikan di akun wattpatku dengan nama akun @lee-jungjung

 

Warning: Typo merajalela, harap dimaklumi ^^

 

 

 

 

 

.

.

 

Junmyeon mengerjapkan kedua kelopak matanya beberapa kali. Dia hanya memastikan kalau yang dilihatnya tidak salah. Karena kedua netranya baru saja menangkap sesosok malaikat tanpa sayap yang begitu cantik. Surai hitam panjangnya diurai indah, kedua lensa kecokelatannya yang memikat, kulit putihnya yang selembut salju, juga senyumnya yang manis dan menawan.

 

Junmyeon mengaguminya. Menyukainya.

 

“Hai, Junmyeon oppa,” Junmyeon merasa pipinya memanas saat mendengar suara merdu gadis kecil di hadapannya itu. “Namaku Jung Soojung. Salam kenal.”

.

.

.

 

“Hei, lihat. Bukankah gadis itu cantik?”

 

Junmyeon menoleh ke arah yang ditunjukkan teman-temannya. Di sana sudah ada seorang gadis yang tengah membaca buku dengan tenangnya. Gadis itu sesekali membenahi letak helaian rambutnya yang terbang terbawa angin. Menyampirkannya ke belakang telinga agar tak lagi mengganggu aktivitasnya membaca.

Junmyeon tersenyum saat si gadis tersenyum. Kelihatannya ada hal baik yang dibacanya hingga membuat si gadis tersenyum dengan manisnya. Membuat dirinya semakin cantik dan juga mempesona.

 

“Ah, dia memang cantik sekali. Andai bisa tahu namanya.”

 

Junmyeon kini mengulum bibirnya untuk menahan senyum. Dia jelas mengenal siapa gadis itu. Junmyeon sudah mengenalnya sepuluh tahun yang lalu. Saat itu saja Junmyeon sudah mengagumi keindahan paras gadis itu. Apalagi sekarang. Semakin bertambahnya usia, gadis itu semakin cantik dan dewasa. Membuat semua yang melihat tentu mudah jatuh hati kepadanya.

 

“Dia dongsaeng-nya Junmyeon. Minta dikenalkan saja olehnya.”

 

“Oh, benarkah?”

 

Junmyeon menelan kepahitan saat mencoba tersenyum. Mengangguk pasti kepada teman karibnya. Junmyeon dapat melihat bagaimana pemuda di hadapannya itu kini berbinar menatapnya. Jung Soojung, sekali lagi gadis itu menarik hati seseorang untuk jatuh kepadanya.

 

“Yah, dia dongsaeng-ku,” jawab Junmyeon sambil mengendalikan dirinya. Kata dongsaeng begitu berat terucap dari bibirnya. “Mau kukenalkan padanya?”

 

Junmyeon tidak tahu apa yang menuntunnya hingga menawarkan hal seperti itu. Seharusnya dia tidak pernah melakukan sesuatu yang mungkin akan menyakiti hatinya sendiri, bukan? Junmyeon hanya tidak tahu, jika suatu saat dia mungkin akan menyesali apa yang ditawarkannya kali ini. Kesempatan untuk mengambil hati gadis paling berharganya –Jung Soojung.

.

.

.

“Apa Jongin sunbae benar-benar temannya oppa?” tanya Soojung saat berkunjung ke rumah Junmyeon.

 

Junmyeon yang tengah sibuk menyelesaikan tugasnya hanya mengangguk untuk menjawabnya. Kelihatannya temannya- Kim Jongin lebih dulu melakukan aksinya tanpa bantuan Junmyeon. Dia sudah tidak sabar rupanya untuk mengenal Soojung.

 

“Apa dia orang yang baik?”

 

Junmyeon menghentikan aktivitas menulisnya. Dia segera memutar kursi dan berbalik menatap Soojung yang tengah tengkurap sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan. “Dia baik, kenapa?” tanya Jungmyeon penasaran. Tumben sekali gadis ini menanyakan mengenai karakter seseorang padanya. Terlebih ini seorang pemuda.

 

“Tatapannya padaku aneh sekali. Aku sedikit merasa risih,” aku Soojung berat hati.

 

Junmyeon tersenyum mendengar penuturan Soojung. Dalam hati dia bersorak senang. Jika Soojung merasa risih pada Jongin maka tempatnya untuk di sisi gadis itu aman.

 

“Mungkin hanya perasaanmu saja. Dia baik, kok,” ujar Junmyeon. Dia sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini. Tetapi, sebagai teman yang baik tidak mungkin juga Junmyeon menjatuhkan reputasi Jongin di depan Soojung begitu saja.

 

Soojung mengangguk mengerti. Gadis itu lantas tersenyum penuh arti ke arah Junmyeon. Membuat hati Junmyeon mendadak was-was dengan apa yang akan diucapkannya nanti.

 

“Baiklah. Aku akan mencoba menerima tawarannya untuk berteman.”

.

.

.

Junmyeon tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan menjadi jalan percintaannya. Terjebak dalam brotherzone, membuatnya tidak bisa berlaku lebih pada sang gadis pujaan. Dia hanya bisa membatasi diri dekat dengan gadis itu sebagai oppadongsaeng. Tidak lebih, tidak kurang.

Seharusnya Junmyeon menyadarinya sejak dulu. Dia memang telah mengagumi sosok tetangganya itu sejak kecil. Hanya saja Junmyeon terlalu nyaman dengan keberadaanya di dekat Soojung hingga tidak pernah memikirkan kemungkinan terburuk.

 

Mungkin saja nanti ada pemuda lain yang mengambil Soojung dari sisinya.

 

Dan Junmyeon baru merasakan kegelisahan itu saat ini. Melihat Soojung yang semakin hari dekat dengan si teman sepermainannya –Kim Jongin, membuat Junmyeon sedikit resah. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Yang akhirnya dapat dia lakukan adalah membantu Jongin untuk semakin dekat dengan Soojung meski dengan batin tersiksa.

Meski sekarang ini dia menyesali semua yang terjadi tidak ada gunanya. Junmyeon tidak dapat melarang Soojung dan Jongin untuk dekat. Ingat, dia tidak punya ikatan apapun dengan Soojung selain tetangga yang sudah dianggap gadis itu oppa-nya sendiri. Dan Junmyeon kesal sekali saat mengingat itu.

 

Oppa.”

 

Suatu malam Soojung kembali berkunjung ke rumahnya. Junmyeon tentu saja menyambutnya dengan suka cita. Sejak dekat dengan Jongin gadis itu sangat jarang menghabiskan waktu dengannya. Membuat Junmyeon sangat-amat kesepian.

 

“Jongin oppa memintaku menjadi kekasihnya. Aku harus bagaimana?”

 

Junmyeon membeku mendengar apa yang Soojung sampaikan. Dia menatap Soojung. Mengerjap beberapa kali guna melihat ekspresi gadis kesayangannya itu. Soojung tengah memilin ujung bajunya sambil mengigit bibir. Apa dia gugup? Hanya karena menyampaikan soal pernyataan cinta Kim Jongin?

 

“Terima saja,” Junmyeon merutuki jawaban yang dikeluarkannya. Begitu berbeda dengan yang hatinya kehendaki. “Kulihat kalian dekat akhir-akhir ini. Bukankah dia juga begitu baik dan perhatian padamu?”

 

Ada sesuatu yang salah. Junmyeon menangkap raut terkejut ditunjukkan oleh Soojung. Gadis itu terlihat menarik-hembuskan napasnya perlahan. Mengangguk kemudian pergi tanpa suara. Menyisakan Junmyeon yang meratapi nasib karena harus merelakan gadisnya untuk orang lain yang mungkin lebih tepat.

.

.

.

Dan kini Junmyeon benar-benar menyesali keputusan serta jawaban yang diberikannya pada Soojung malam itu.

 

Andai di saat itu Junmyeon menyuruh Soojung untuk tidak menerima Jongin sebagai kekasihnya. Andai saat itu Junmyeon melarang Jongin mendekati Soojung. Dan andai Junmyeon mengungkapkan perasaan terpendamnya pada Soojung. Mungkin semua yang terjadi tidak seperti ini.

 

Mungkin saja kini dirinya yang menunggu Soojung di ujung altar. Mungkin dia yang menerima Soojung dari tangan ayah gadis itu. Atau mungkin dirinyalah yang mengecup bibir Soojung setelah janji suci diikrarkan.

 

Tetapi, semuanya terlambat. Junmyeon hanya dapat berandai-andai tanpa mengubah semua takdir yang terjadi. Kini setelah sekian lama merajut kasih akhirnya Jongin dan Soojung memproklamirkan diri sebagai sepasang suami-istri. Sesuatu hal yang tidak pernah Junmyeon duga, karena dia terus berharap kalau jalinan asmara keduanya akan kandas di tengah jalan.

 

“Kau terlihat bahagia bersama Jongin.”

 

Soojung tersenyum mendengar penuturan tulus yang keluar dari bibir Junmyeon. Keduanya kini tengah berdansa setelah Junmyeon meminjam Soojung dari suaminya –Kim Jongin.

 

“Kau tahu, oppa?” tanya Soojung dengan suara lembutnya. “Dulu sekali aku pernah berpikir mungkin satu-satunya lelaki yang akan kunikahi adalah Junmyeon oppa,” lanjut Soojung.

 

Junmyeon mengatupkan bibirnya rapat. Dipandanginya gadis di hadapannya itu begitu intens. Soojung terlihat tengah mengigit bibirnya sambil menarik napas. Kedua lensa kecokelatan yang sangat disukai Junmyeon tampak berkaca-kaca.

 

“Soojungie?”

 

“Aku sangat menyukai Junmyeon oppa. Dan kupikir oppa  memiliki perasaan yang tidak jauh berbeda denganku. Makanya aku selalu tenang berada di sisimu walau dirimu tidak pernah menyatakan cinta padaku,” Soojung mulai menceritakan semua rahasia hatinya yang terpendam lama sekali.

 

“Tetapi, kemudian aku menyadari suatu hal. Oppa tidak pernah menganggapku lebih dari seorang dongsaeng.”

 

Junmyeon menahan napas untuk menantikan apa yang ingin coba Soojung sampaikan.

 

Oppa tidak pernah melarangku dekat dengan Jongin oppa. Bahkan oppa  menyuruhku menerima Jongin oppa sebagai kekasih.” Soojung menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya. “Jadi, aku memutuskan untuk membuka hati untuk Jongin oppa dan membatasi perasaanku padamu seperti yang kau inginkan.”

 

Junmyeon menggeleng pelan. Ingin sekali dia meluruskan yang sudah terjadi. Menjelaskan bahwa dirinya memiliki perasaan yang sama dengan Soojung. Menjelaskan bahwa keduanya tidak mengalami cinta sebelah pihak. Menjelaskan bahwa hingga detik ini saja Junmyeon masih mengharapkan Soojung.

 

“Junmyeon?”

 

Suara berat Jongin datang menginterupsi kegiatan mereka. Suami Soojung itu tengah memasang senyuman manis ke arah Junmyeon. “Boleh kuambil kembali istriku?”

 

Dengan berat hati Junmyeon menyerahkan Soojung kembali pada Jongin. Menelan seluruh kepahitan yang mengisi jiwanya. Junmyeon merasa menyesal. Sempat terpikir olehnya untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini pada Soojung. Tapi, apa itu akan mengubah semuanya?

 

Tidak. Tidak akan semudah itu. Karena takdir Soojung bukanlah untuk dirinya.

.

.

.

.

Kkeeut.

 

 

Annyeong.. salam kenal.. lee-jungjung imnida.. *bow.. pertama kalinya mencoba berbagi di blog ini.. sekedar mau berbagi karya.. terima kasih untuk admin yang sudah bersedia mem-publish ff abal-abal ini. Karena diriku juga masih tahap belajar, maafkan bahasa yang masih kacau balau.. terima kasih buat yang udah baca ^o^

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Brother-zone”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s