Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 12]

tfam

 

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

.

.

                Setelah mengetahui letak kamar tempat ia dirawat, serta menjadi lebih berani ketika berhadapan dengan arwah-arwah mengerikan yang lain, mengunjungi dirinya sendiri yang terbaring koma menjadi salah satu kegiatan rutin Chanyeol setiap harinya. Terkadang ia melakukannya sendiri atau ditemani Iseul. Yah, Chanyeol lebih suka melakukannya seorang diri sih. Karena jika Iseul ikut bersamanya dan kebetulan teman-temannya datang membesuk serta bersikap kurang ajar, Iseul akan menertawakan dirinya dan tidak akan goyah dari pihak teman-temannya. Chanyeol hanya seorang diri di saat-saat seperti itu.

Tapi hal itu juga tidak terjadi setiap saat. Memang ada saat di mana Chanyeol mengomel-omel pada teman-temannya karena hal-hal sepele―walaupun hal itu sia-sia saja sebenarnya. Siapa yang bisa mendengar ocehannya?―tapi saat-saat melankolis terkadang muncul. Seperti saat keluarganya yang datang bergantian untuk menjenguknya, kakaknya yang kelelahan tapi masih menyempatkan diri untuk menginap dan menemaninya, saat Chanyeol melihat air muka ibunya yang berubah sendu dan ayahnya yang menguatkan ibunya, atau saat Chanyeol melihat lebih dalam lagi dengan sudut pandang yang lebih luas bahwa meski menyebalkan, teman-temannya juga mengharapkannya untuk segera bangun.

Ya, untuk segera bangun dan memulai debut mereka yang tertunda. Ah, mengingat-ingat hal itu membuat dada Chanyeol serasa diremas-remas. Dalam hati ada segumpal rasa bersalah pada teman-temannya. Pikir Chanyeol, ia sudah mengecewakan teman-temannya. Karena ia, debut mereka tertunda. Chanyeol merasa ia juga sudah membebani teman-temannya.

Jangan pikir Chanyeol tidak ingin bangun. Tentu ia ingin segera bangun! Tapi saat-saat dimana hal itu akan terjadi belum nampak juga. Setiap hari, rasa bersalah selalu menghinggapi hatinya. Tapi untuk hari ini, rasa bersalah itu datang dengan jumlah yang lebih besar. Dipicu oleh perkataan Jongdae tadi saat menjenguknya bersama teman-teman band-nya yang lain.

“Tidak terasa ya, sudah tepat satu bulan Chanyeol mengalami koma.”

 


 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelavhasta

Chapter 12 ― The Feeling That Had Already Sprouted

 


 

 

Pagi hari ini arwah Chanyeol hanya berada di kamar tempat dirinya yang sesungguhnya dirawat. Semalam ia sama sekali tidak beranjak keluar dari sana karena kakak perempuannya menginap di sana. Walaupun kakak perempuannya, Yoora, tidak bisa melihat bahkan merasakan kehadirannya, tapi bagi Chanyeol berada di sisi kakaknya seperti itu sudah cukup.

Baru saat pagi-pagi buta kakaknya pergi setelah menerima telepon dari kantor. Namun Chanyeol belum juga pergi dari kamarnya. Dirinya yang berwujud roh masih betah melihat tubuh aslinya yang tidur lama karena koma. Yah, awalnya terasa aneh tapi lama-lama Chanyeol mulai terbiasa.

“Percuma saja kau melihat tubuhmu terus-menerus. Itu tidak akan membuatmu bangun.”

Sebuah suara mengusik kesendirian yang dinikmati Chanyeol. Begitu Chanyeol menoleh ke samping, didapatinya Iseul yang sudah bersandar pada jendela.

“Aku sudah tahu itu,” sahut Chanyeol kesal.

“Lalu kenapa kau rutin kemari?”

Chanyeol menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa begitu frustasi sekarang ini. “Karena rasa rinduku pada keluarga dan teman-teman bisa terobati. Tapi di satu sisi aku juga jadi gelisah melihat tubuhku terus-terusan terbaring seperti ini. Ah, nanti saat bangun aku tidak bisa membayangkan betapa kakunya tubuhku.”

“Maka dari itu aku menyarankan padamu agar tidak terlalu sering berkunjung.”

“Tidak bisa. Aku akan menjadi gelisah, kau tahu?”

“Tapi jika dengan berkunjung malah semakin membuatmu gelisah, bukankah itu artinya lebih baik kau tidak rutin berkunjung?”

“Tetap tidak bisa!” Chanyeol bersikukuh.

“Yah, kalau begitu kau harus membiasakan diri,” balas Iseul santai.

“Apa?” desis Chanyeol. “Membiasakan diri katamu?”

“Iya. Memang apa yang bisa kau perbuat selain membiasakan diri dengan situasimu yang sekarang ini? Kau tidak bisa berbuat apa-apa mengenai kondisimu yang tengah koma saat ini.”

Rahang Chanyeol mengeras karena menahan emosi. “Mudah bagimu untuk mengatakan hal itu, Iseul!” tanpa Iseul duga, Chanyeol berseru keras padanya. Bukan hanya itu, tapi Chanyeol juga berubah menjadi begitu geram.

“Oi, ada apa ini? Mood-mu sedang buruk hari ini? Apa karena teman-temanmu mengambil snack yang enak darimu lagi?” Iseul bertanya kikuk. Siapa yang menyangka jika Chanyeol akan menjadi semarah itu?

Tapi Chanyeol tidak menggubris perkataan Iseul. Emosi menjalar dalam dirinya dengan cepat. “Membiasakan diri dengan situasiku yang sekarang ini? Bagaimana? Bagaimana Iseul? Katakan padaku! Bagaimana bisa aku membiasakan diri, dengan semua ini?”

“Chanyeol…” cicit Iseul.

Meledaknya emosi Chanyeol sungguh di luar dugaannya.

“Aku tidak bisa membiasakan diriku dengan ini semua. Tidak.bisa! Aku berbeda denganmu, Iseul. Aku ingat, dulu kau pernah berkata kau lebih suka berada dalam wujud roh seperti ini. Itu artinya kau tidak ingin kembali, bukan? Tapi aku tidak sepertimu, Iseul! Aku tidak bisa terus seperti ini! Aku punya orang-orang yang menungguku―”

“Chanyeol, aku―”

“Keluarga, teman-teman, dan semua orang yang mendukungku. Mereka semua menungguku untuk bangun! Apa kau tahu bagaimana perasaanku ketika melihat wajah sendu ibuku? Raut tabah ayahku? Bagaimana terkoyaknya hatiku saat mengetahui Noona-ku yang kelelahan memaksakan diri untuk tidur di sini, menemani adiknya yang entah kapan bangun?

“Lalu ada teman-temanku. Mereka memang menyebalkan, tapi begitulah cara kami berinteraksi,” Chanyeol menepuk-nepuk dadanya, “aku, aku sudah membebani mereka, Iseul! Seharusnya sekarang kami berdiri di panggung, mempromosikan lagu kami, menjalani hari-hari kami sebagai bintang rookie. Tapi apa?! Debut kami harus tertunda! Karena aku! Karena aku terbaring koma di sini!

“Aku merasa begitu tertekan dengan ini semua lalu kau dengan mudahnya berkata padaku agar aku terbiasa? Dengan semua itu tadi, kau menyuruhku untuk terbiasa? Tidak, tidak bisa Iseul. Aku, tidak akan terbiasa sepertimu. Tidak akan!” telunjuk Chanyeol terarah tegas pada Iseul. Seruan kerasnya mengakhiri luapan emosinya.

Di tempatnya, Iseul hanya bisa tertegun. Matanya terbelalak, bulu kuduknya meremang, telinganya berdenging, bibirnya membuka dan menutup ingin mengutarakan sesuatu. Tapi tidak ada kata yang keluar. Iseul masih terlalu terkejut.

“Kau tidak berhak mengatakan itu semua. Karena kau, tidak tahu apapun tentang diriku!” tukas Chanyeol dengan tegas, dengan telunjuk yang masih terhunus pada sosok Iseul, kemudian berbalik memunggungi Iseul.

Chanyeol sudah tidak peduli lagi akan Iseul yang membeku bak patung di sana.

Iseul tersenyum getir ketika sudah bisa menguasai dirinya sendiri. “Y-yah, kau benar. Maaf…” ucapan Iseul begitu pelan hingga hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.

Lalu setelah itu Iseul pergi.

 

***

 

Kamar itu berbeda dengan kamar Chanyeol. Kamar itu tidak memiliki setumpuk hadiah ataupun bingkisan. Kamar itu juga tidak memiliki banyak pengunjung karena tidak banyak yang mengetahui kondisi si penghuni kamar. Tidak banyak tawa dan keributan yang terjadi di kamar itu. Keheningan dan ketenangan lebih mendominasi.

Jika boleh dikatakan, suasana sendu lebih sering mendominasi kamar itu. Bunga tulip yarrow yang diganti secara rutin oleh salah satu pengunjung tetap si penghuni kamar memberi warna tersendiri di kamar tersebut.

Kamar itu… milik Iseul.

Dan sekarang, ada dua Iseul di sana. Yang satu terbaring koma di ranjang. Sedangkan yang satu lagi adalah roh Iseul yang sedang keluar karena kondisi tubuhnya yang koma.

“Kau tahu? Kemarin Chanyeol marah besar padaku,” kata Iseul. Pandangannya terpekur pada lantai.

Iseul tahu ini gila. Berbicara pada dirimu sendiri yang terbaring koma, apa itu kurang gila dan aneh? Tapi meski begitu Iseul tetap melakukannya. Hati kecilnya yang terus memaksanya untuk melakukan hal konyol ini.

“Dia marah besar karena… aku,” lanjut Iseul, “Dia bilang aku tidak tahu apapun tentangnya. Untuk itu… aku mengakuinya. Aku memang tidak tahu apapun tentang dirinya kecuali dia adalah anggota band favorit Eunji yang debutnya harus tertunda karena dia kecelakaan dan koma. Aku bahkan baru tahu beberapa hari yang lalu jika dia mempunyai kakak perempuan dan kakaknya itu adalah Park Yoora, pembawa berita favoritku. Hanya itu.”

Mata Iseul berkca-kaca.

“Tapi tetap saja! Dia tidak boleh sekejam itu ‘kan!” Iseul mulai terisak. “Dia juga tidak tahu apapun mengenai aku. Aku bahkan ragu jika dia tahu bahwa aku ini atlet lari. Dia… dia juga tidak tahu alasan mengapa aku lebih suka berada dalam wujud roh. Dia tidak tahu! Siapa bilang aku tidak ingin bertemu lagi dengan ayah, ibu, oppa, juga sahabat-sahabatku? Dasar Chanyeol bodoh!”

 

***

 

Keributan kembali terjadi di kamar Chanyeol. Pelakunya tentu tidak lain dan tidak bukan adalah teman-teman satu band Chanyeol. Kebetulan, Chanyeol yang berada dalam wujud roh tidak sedang keluar. Jadi ia bisa berkumpul dengan teman-temannya. Yah, walaupun dia sendiri adalah makhluk tak kasat mata kali ini.

“Aku akan membuatmu membayar semua camilan yang pernah kau dan yang lain makan!” gerutu Chanyeol pelan seraya berpangku tangan pada tepian tempat tidurnya ketika melihat Jongdae membuka sebungkus permen coklat yang diberikan oleh fans mereka.

Chanyeol tidak lagi berseru protes seperti orang kesetanan setiap kali teman-temannya memakan camilan yang ditujukan untuknya. Dia sudah terbiasa akan itu semua. Dan dia juga sudah bertekad untuk membuat teman-temannya membayar untuk itu nantinya. Pasti!

Ya, sebenarnya apa yang terjadi pada bocah tengik itu hingga dia belum sadar sampai sekarang?” celetuk Jongin.

“Jangan tanya pada kami, Hitam. Dunia kita dan Chanyeol sekarang ini berbeda,” sahut Sehun yang dengan kalemnya menulis sesuatu pada buku catatan yang selalu dibawanya.

“Berbeda?” beo Jongin.

“Iya, berbeda. Katanya orang-orang yang koma bisa mengalami hal seperti itu. Kau tahu, seperti rohnya yang keluar dari tubuh mereka, atau berada di dunia lain, mengalami pengalaman spiritual, hal-hal semacam itulah.”

“Hho, begitu.” Jongin mengangguk-angguk paham.

“Ya, Sehun benar. Dan aku bisa mengawasi kalian juga. Aku juga tahu tindakan-tindakan kejam kalian! Seperti mencuri camilan-camilanku!” seru Chanyeol.

“Sehun, kau bilang tadi jika seseorang yang koma bisa mengalami pengalaman spiritual bukan?” sahut Jongdae.

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Tidak. Hanya saja bukankah pengalaman yang seperti itu bisa mengubah seseorang? Sebelas-dua belas dengan pengalaman hampir mati.”

“Mengubah? Ke arah yang lebih baik?” Yixing yang lebih sering diam, buka suara. Dan tumben pertanyaannya kali ini tidak aneh-aneh.

“Tentu saja!” sambar Sehun. “Biasanya mereka yang pernah mengalami pengalaman hampir mati atau pengalaman spiritual akan menjadi orang yang lebih… lebih tenang, lebih religius. Perubahan total! Seratus delapan puluh derajat ke arah yang positif!”

Jongin bergidik. “Aku harap itu tidak akan terjadi pada Chanyeol. Akan mengerikan jika tiba-tiba dia bangun dari komanya lalu berkata jika dia lebih ingin menjadi pendeta atau biksu ketimbang melanjutkan karirnya di dunia musik.”

Semua yang ada di situ tertawa. Kecuali Chanyeol tentu saja.

“Kalau yang seperti itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk membuatnya koma lagi,” sahutan Jongdae kembali mengundang tawa. “Enak saja jika dia nanti berkata seperti itu setelah sekian lama koma. Apa dia juga tidak berpikir jika dialah penyebab tertundanya debut kita? Kalau kemudian ia bangun dan menjadi seperti apa yang diutarakan Jongin, aku akan membunuhnya! Kurang ajar sekali dia setelah apa yang telah ia perbuat!”

Chanyeol mendekati Jongdae dan duduk di sampingnya. “Oy, Jongdae, santai saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku tahu akulah penyebab tertundanya debut kita dan aku juga tidak mengalami pengalaman spiritual apapun. Jadi aku tidak ada niatan untuk mengasingkan diriku atau menjadi tokoh agama atau keduanya.”

Jongdae mengusap-usap tengkuknya. “Tiba-tiba aku merinding…”

“Hahahaha! Rasakan! Itu pasti karena kau berbicara seperti itu mengenai Chanyeol. Oh! Mungkin dia bisa mendengarmu sekarang. Lalu nanti malam, dia akan datang ke kamarmu dan mencekikmu!” Jongin berseru kegirangan seraya menunjuk-nunjuk Jongdae.

“Oh, aku bukan hanya bisa mendengar kalian. Aku juga bisa melihat kalian. Dan untuk menakut-nakuti kalian, maaf tapi aku tidak tertarik,” ujar Chanyeol malas.

“Tidak ada yang namanya hantu, Bodoh!” lemparan bola bungkusan permen dari Jongdae berhasil mengenai hidung Jongin. “Rasakan yang satu itu! Semoga hidungmu semakin tenggelam!”

“Tapi Chanyeol belum jadi hantu. Dia masih hidup walau dalam keadaan koma,” koreksi Yixing.

Araseo! Tapi sama saja ‘kan?” Jongdae tidak mau kalah. Dan Yixing tahu jika dia harus mengalah. Tidak ada gunanya melawan Jongdae dalam debat kusir seperti ini.

Yixing kemudian mengusap-usap dagunya pelan. Keningnya berkerut, berpikir. “Tapi aku benar-benar penasaran apa yang dilakukan Chanyeol selama koma.” Sudah dimulai; Yixing dan pemikiran-pemikiran uniknya.

“Sudah kubilang jangan tanyakan hal itu pada kami!” sahut Sehun. “Dunia kita dan Chanyeol sekarang ini berbeda.”

“Tapi aku penasaran, Sehun. Dan aku juga tidak bertanya pada kalian. Aku bertanya pada diriku sendiri. Mungkin dengan begitu aku bisa menemukan jawabannya.”

Sehun menghela nafas kesal. “Terserah kau, Yixing. Mungkin saat ini Chanyeol bertemu dengan arwah lain lalu berinteraksi dengan mereka. Atau bahkan mereka menjalin hubungan persahabatan. Mereka menghabiskan waktu bersama, merasa nyaman, lalu arwah yang menjadi teman Chanyeol membujuk Chanyeol untuk ikut bersama mereka, lalu setelah itu Chanyeol tidak akan kembali ke sini, kita debut berempat, dan pendapatan kita lebih banyak karena hilangnya satu anggota. Bagaimana? Terdengar bagus ‘kan?”

Gelak tawa, cemoohan, dan sorakan bercampur jadi satu.

“Bagus darimananya, dasar wajah datar!” geram Chanyeol kasar. Yah, walau Chanyeol tahu Sehun hanya bercanda dan tidak serius, tapi tetap saja. Rasanya Chanyeol ingin melayangkan bogem mentah pada Sehun. Namun dengan kondisinya yang sekarang, itu tidak mungkin.

“Atau mungkin Chanyeol tengah merasa kesepian saat ini. Seperti Hachi yang sebatang kara, tengah tersesat, hanya sendirian, tanpa teman…” sahutan Jongin kembali disambut gelak tawa oleh semuanya.

“Siapa bilang aku merasa kesepian? Siapa bilang aku tersesat, sendirian, dan tanpa teman, hah? Aku sama sekali tidak tersesat tahu! Oke, memang saat ini aku sendirian―kalian pengecualian karena kalian bukan roh―tapi aku punya teman sesama roh. Yah, walaupun dia lebih sering menyebalkan seperti kalian, tapi dia juga menyenangkan! Ah, dia juga cantik. Aku jamin jika kalian melihatnya, kalian akan terpesona padanya. Benar-benar seperti koin yang punya dua sisi. Namanya adalah Cha Iseul. Ingat itu? Kalian dengar? Dia adalah Cha Iseul!” sia-sia saja Chanyeol berkata panjang lebar karena tidak ada yang bisa mendengarnya.

Teman-teman Chanyeol masih mengobrol dengan antusias, namun Chanyeol yang tadinya begitu ramai sendiri kini terdiam. Otaknya baru saja mengingat sesuatu. Sesuatu yang penting dan hampir dilupakannya.

Cha Iseul…

Seketika Chanyeol menepuk dahinya keras-keras. Ya! Bagaimana bisa ia melupakan Iseul?! Jika diingat-ingat sudah beberapa hari belakangan ini Chanyeol tidak berhubungan dengan Iseul. Menjumpainya saja tidak. Iseul seperti… menghilang.

Tapi kenapa bisa? Chanyeol berpikir keras. Apa dia sudah melakukan suatu kesalahan pada Iseul? Apa mereka sedang bertengkar atau bagaimana?

“Mudah bagimu untuk mengatakan hal itu, Iseul!”

“Membiasakan diri dengan situasiku yang sekarang ini? Bagaimana? Bagaimana Iseul? Katakan padaku! Bagaimana bisa aku membiasakan diri, dengan semua ini?”

Ya, sekarang Chanyeol ingat. Waktu itu ia marah besar pada Iseul.

“Aku merasa begitu tertekan dengan ini semua lalu kau dengan mudahnya berkata padaku agar aku terbiasa? Dengan semua itu tadi, kau menyuruhku untuk terbiasa? Tidak, tidak bisa Iseul. Aku, tidak akan terbiasa sepertimu. Tidak akan!”

Chanyeol meringis ketika setiap kepingan memori disaat ia marah pada Iseul kembali muncul satu-persatu. Itu sungguh memalukan. Juga kejam.

“Kau tidak berhak mengatakan itu semua. Karena kau, tidak tahu apapun tentang diriku!”

Dan Chanyeol merasa dihantam palu godam yang amat besar ketika mengingat dirinya yang berteriak keras pada Iseul sambil menunjuk tajam Iseul. Perlahan, Chanyeol mundur ke belakang. Menuju ke sudut kamarnya lalu merosot ke lantai.

Kira-kira sudah berapa hari sejak ia marah pada Iseul? Dua? Tiga? Tidak, lebih dari tiga hari. Apakah sudah hampir satu minggu?

“Ya Tuhan, apa yang sudah kuperbuat?” Chanyeol meratap, memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. “Aku… aku sudah marah besar pada Iseul. Oh, dia pasti merasa sangat terluka. Bodoh! Kau sudah berlaku kejam padanya Chanyeol. Dan sekarang ia pasti membencimu!”

Tanpa ambil pusing, Chanyeol bergegas keluar dari kamarnya. Ia sudah masa bodoh dengan teman-temannya yang semakin berisik dan gencar membuat lelucon soal dirinya. Sekarang di pikirannya hanya ada satu tujuan; menemukan Iseul!

 

 

Chanyeol tahu ini tidak mudah; mencari Iseul. Tapi ia tidak menyangka akan menjadi sesulit dan semelelahkan ini.

Sebagai langkah awal, Chanyeol mencari di rumah sakit tempat ia dirawat dan area sekitar. Siapa tahu beberapa makhluk tidak kasat mata di sana mengetahui jejak keberadaan Iseul. Chanyeolpun harus mati-matian menahan rasa takutnya ketika berhadapan dengan beberapa arwah. Tidak semua arwah itu ramah dan mengharuskannya terlibat dalam beberapa masalah kecil yang benar-benar menyita waktu berharganya.

Tapi menjelajahi satu rumah sakit itu usaha yang sangat besar. Bahkan bagi Chanyeol yang berada dalam wujud roh sekalipun. Setiap lantainya bukanlah lantai dengan luas sepuluh kali sepuluh meter dengan kamar-kamar yang bisa dihitung jari. Begitu luas, ada banyak kamar, dan jangan lupakan persimpangan-persimpangan jalan.

Dan pada akhirnya, sebelum dirinya menjelajahi setiap lantai rumah sakit seorang diri, Chanyeol menyadari sesuatu. Iseul suka berada di atap. Yah, Iseul memang tidak pernah benar-benar bilang hal seperti itu padanya. Tapi melihat ke belakang, ke cara bagaimana mereka berinteraksi, Chanyeol jadi yakin akan hipotesanya itu. Dari waktu-waktu yang mereka habiskan bersama, ada banyak waktu yang mereka habiskan di atap sebuah bangunan. Bangunan apapun itu.

Dengan optimisme penuh, Chanyeol bergegas menuju atap.

“Cha Iseul! Cha Iseul!” Chanyeol tidak memberi jeda pada dirinya untuk beristirahat ketika sudah tiba di atap.

Namun hanya kesunyian yang menyambutnya. Atap rumah sakit yang luas terasa hampa. Hanya ada deretan seprai yang dijemur yang sesekali bergoyang tertiup angin di sana.

“Ayolah, kau pasti bercanda.” Chanyeol bergumam pada dirinya sendiri sebelum kembali bergerak menjelajahi atap rumah sakit. “Cha Iseul! Oy, Cha Iseul! Daedaphaebwa!”

Ketika menyadari apa yang diperbuatnya kemungkinan besar telah melukai Iseul, Chanyeol kembali bersuara dengan mimik menyesal.

“Oke, aku tahu kau marah padaku. Tapi setidaknya jawab aku! Iseul!” Chanyeol berjalan di deretan seprai. Berharap ketika salah satu dari seprai-seprai itu tersibak ia akan menemukan Iseul. “Aku minta maaf! Atas ucapanku tempo hari. Aku tahu aku salah dan aku mengakuinya, jadi sekarang keluarlah! Kau harus memberiku jawaban!”

Tapi lagi-lagi hanya desir angin yang menyahut pria jangkung itu.

Iseul juga tidak ada di sini.

“Sial, harus kucari kemana lagi dia?”

Chanyeol berhenti dan berpikir sejenak. Dia tidak bodoh. Tapi bukan jenius. Namun dalam waktu amat singkat, Chanyeol sudah tahu harus mencari kemana.

Ke tempat-tempat yang pernah Iseul kunjungi.

 

 

Pencarian Chanyeol kembali berlanjut. Setelah menggali ingatannya, Chanyeol mendatangi tempat-tempat yang pernah disinggahi Iseul. Selain itu Chanyeol juga bertanya kepada arwah-arwah yang ia temui. Siapa tahu ia mendapat titik terang. Tapi Iseul seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan di taman tempat ia dan Iseul biasa bercengkrama, Iseul sudah tidak ada. Dan kata salah astu arwah di sana, Iseul sudah lama tidak berkunjung ke sana.

Tanpa terasa sudah seharian Chanyeol mencari Iseul. Haripun sudah beranjak malam. Chanyeol masih belum beranjak dari tempatnya sekarang, sebuah bangku kayu di taman. Lampu-lampu taman sudah menyala dan taman benar-benar sepi.

Lelah dan frustasi, pemikiran-pemikiran negatif mulai merasuki pikiran Chanyeol. Bagaimana jika Iseul ternyata sudah sadar? Atau bagaimana jika Iseul benar-benar pergi? Pergi yang benar-benar pergi atau dengan kata lain… meninggal? Ah, jika hal-hal itu benar-benar terjadi maka Chanyeol akan mengutuki dirinya untuk seumur hidup.

Dirinya sudah melakukan sesuatu yang telah melukai perasaan Iseul dan belum sempat meminta maaf! Bagaimana ia bisa hidup dengan rasa penyesalan itu nantinya? Jika Iseul sudah sadar, setidaknya itu membuat Chanyeol lega. Karena jika dirinya nanti sadar, ia bisa menemui Iseul untuk minta maaf. Yah, gagasan itu membuat Chanyeol lega. Untuk sesaat.

Karena setelahnya Chanyeol sibuk berpikir bagaimana caranya menemui Iseul. Lalu Chanyeol kembali ditampar kenyataan yang semakin menambah rasa frustasinya.

Ia tidak mengetahui apapun tentang Iseul. Bagaimana ia bisa berharap agar bisa bertemu Iseul lagi?

“AAAKKKHHH! PARK CHANYEOL PABO! Apa yang sudah kau lakukan?!”

“Kau tidak berhak mengatakan itu semua. Karena kau, tidak tahu apapun tentang diriku!”

                Tangan Chanyeol meremas kuat kepalanya yang tertunduk. “Bagaimana bisa aku mengatakan hal sekejam itu jika faktanya aku… aku… aku juga tidak mengetahui apapun soal Iseul?! Oh Tuhan! Betapa kejamnya aku!”

 

 

Malam semakin larut. Chanyeol juga belum bisa lepas dari penyesalannya. Baru ketika hampir tengah malam tiba Chanyeol beranjak dari taman. Ia berjalan seorang diri dengan kepala tertunduk tanpa mengetahui kemana kedua kakinya akan membawanya pergi. Mendung benar-benar menggelanyut mesra padanya.

Sepanjang jalan, kejadian tempo hari saat ia marah pada Iseul selalu berputar di kepalanya. Persis seperti kaset rusak. Dan itu benar-benar mengganggunya.

Kaki-kakinya membawanya ke Jembatan Hangang yang sepi. Lalu-lalang kendaraan di sampingnya juga jarang. Wajar saja karena sudah lewat tengah malam. Benar-benar suasana yang pas untuk suasana hatinya sekarang ini.

Pandangan Chanyeol mengarah pada langit malam. Sebersit pemikiran dimana dirnya berharap muncul sebuah bintang jatuh muncul. Orang-orang berkata permohonanmu akan terkabul jika kau mengucapkannya saat bintang jatuh muncul, bukan? Chanyeol bisa meminta agar Iseul muncul di hadapannya jadi ia bisa meminta maaf.

Namun saat Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya ke jembatan, Chanyeol tahu ia tidak butuh bintang jatuh lagi. Tidak mungkin Chanyeol salah. Ia tahu betul siapa sosok yang tengah berada di tepian jembatan, menumpukan tangannya pada birai jembatan dengan pandangan lurus ke depan. Entah menuju ke langit malam, sungai yang riaknya tidak terlihat, atau horizon di antaranya.

Orang itu Iseul.

Kaki Chanyeol sudah bergerak berlari sebelum ia menyadarinya. Itu Iseul! Meski jarak mereka cukup jauh, tapi Chanyeol yakin. Ia tidak mungkin salah. Dan seiring jarak mereka berdua yang semakin berkurang, nafas Chanyeol juga semakin menipis. Engahannya mulai muncul.

“I-Iseul!” panggil Chanyeol dengan sisa tenaga yang ia punya.

Nah, Chanyeol tidak salah bukan? Gadis itu menoleh, menatap Chanyeol dengan dua matanya yang membesar tak percaya.

Dada Chanyeol terasa penuh, membuncah dengan perasaan bahagia.

“Heeeeeii, Iseul!” Chanyeol melambaikan tangan. Chanyeol yakin, sekarang ini senyum konyolnya itu muncul.

“Chanyeol…?” desis Iseul.

Grep!

Tanpa menyia-nyiakan apapun, Chanyeol sudah merengkuh Iseul dalam pelukannya. Sebuah pelukan erat yang mengindikasikan bahwa Chanyeol tidak ingin kehilangan Iseul lagi. Sebuah pelukan hangat yang perlahan semakin erat namun juga lembut di saat bersamaan.

“Iseul, Iseul, akhirnya… akhirnya… aku menemukanmu…”

“Ch-Chanyeol?” terkejut dengan pelukan mendadak yang ia terima, Iseul tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

“Maaf, maafkan aku. Aku sudah berlaku kejam padamu. Aku membentakmu. Berkata bahwa kau tidak mengetahui apapun mengenai diriku. Padahal… aku… aku juga tidak tahu apa-apa mengenai dirimu. Maaf! Maafkan aku, Iseul! Maka dari itu, jangan menghilang begitu saja. Kau membuatku khawatir setengah mati, dasar bodoh…”

Seulas senyum perlahan terukir di wajah Iseul. Kemudian tangannya bergerak. Merengkuh Chanyeol, membalas pelukan pria jangkung itu.

Eo, gwaenchana…” katanya pelan.

 

 

“Jadi… kenapa kau menghilang? Kau marah padaku?” Chanyeol membuka topik pembicaraan tengah malam itu dengan hati-hati.

Setelah menumpahkan air mata dalam pelukan tadi (hanya Chanyeol saja yang melakukan itu), mereka berdua mengobrol di tepian Jembatan Hangang.

“Hmm… bagaimana ya?”

Balasan dari Iseul membuat Chanyeol terhenyak. “A-aku sungguh minta maaf!”

“Iya, iya! Sudah, hentikan permintaan maafmu itu. Lama-lama aku bosan mendengarnya.”

Chanyeol mengkeret di tempatnya. “Kau belum jawab pertanyaanku…”

Iseul terdiam sejenak sebelum akhirnya bersuara. “Sebenarnya aku sangat kaget saat kau membentakku tempo hari itu. Aku tahu kau tersiksa, terluka, dan aku rasa aku sudah bisa memahami itu semua. Tapi ternyata tidak. Meski aku juga turut merasakannya, tapi yang kurasa dengan apa yang kau rasa tidaklah sama. Karena aku bukan dirimu.

“Yah, kau memang benar. Aku memang tidak mengetahui apa-apa soalmu. Aku hanya tahu kau adalah adik penyiar favoritku dan memiliki sebuah band yang debutnya harus ditunda. Hanya sebatas itu. Selebihnya, aku tidak tahu.

“Saat itu aku berusaha untuk menghiburmu, sekedar membuatmu tenang dan tidak frustasi. Kau itu kelihatan mengerikan jika sedang down. Tapi yang ada… kau malah marah besar padaku. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkanmu juga. Awalnya aku sangat terkejut dan memaki diriku sendiri karena kebodohanku. “Harusnya aku tidak berkata selancang itu,”. Seperti itu. Aku merasa bersalah padamu. Tapi kemudian aku tersadar kalau aku juga berhak marah padamu!”

“Eh? Apa?!―”

“Iya! Aku berhak! Karena seperti katamu tadi, kau juga tidak tahu apa-apa soal aku ‘kan? Dan kau beraninya berkata seperti itu padaku? Apa? Apa kau melihatku dengan tatapan seperti itu? Kita impas sekarang ini!”

“Ya, ya, ya, kita impas.” Chanyeol mengalah dengan tidak rela. Iseul tertawa kecil karenanya. “Nah, Iseul…” panggil Chanyeol.

“Ya?”

“Kalau begitu… aku juga ingin mengetahui tentang dirimu.”

 

***

 

Siang ini Iseul berjanji pada Chanyeol akan membawanya ke suatu tempat. Tapi ketika mereka menuju ke Korea University Medical Center, antusiasme Chanyeol yang membuncah langsung hilang menguap begitu saja.

“Kenapa kita kemari? Tempat ini bukan tempat yang spesial untukku. Kalau kau ingin menjengukku lalu menertawakanku bersama teman-temanku yang entah sekarang ini ada di sana atau tidak, sebaiknya tidak usah. Hari ini adalah jadwal latihan mereka.” Chanyeol mengomel sepanjang perjalanan, tapi masih patuh berjalan disamping Iseul.

“Che. Siapa juga yang mau menjengukmu?” balas Iseul dengan nada nyinyir dan tampang sok yang dibuat-buat.

“Lalu?”

“Sudah, kau ikut aku saja. Nanti juga kau tahu.”

Rupanya mereka menuju ke kamar Iseul dirawat. Untuk menuju kamar Iseul tidak menghabiskan banyak waktu dari pintu masuk jika dibandingkan dengan kamar Chanyeol. Itu karena kamar Iseul terletak di lantai dua. Kamar paling ujung di lantai itu namun menawarkan pemandangan yang cukup indah dari dalam.

“Aku tidak pernah menyangka sebelumnya jika kau juga dirawat di sini,” gumam Chanyeol, kelihatan terkejut akan satu fakta yang baru baginya.

Iseul menyunggingkan senyum miring. Matanya nampak sedikit kosong karena melihat dirinya masih terbaring koma di ranjang.

“Kalau kau adalah pemain band, maka aku adalah atlet lari.” Iseul mengabaikan ucapan Chanyeol dan mengganti topik pembicaraan.

“A-atlet… lari?” gagap Chanyeol karena perubahan topik yang cukup mendadak. Itu semua karena Chanyeol sibuk mengamati tubuh Iseul yang terbaring koma. Selama ini ia pun Iseul sudah terbiasa melihat dirinya yang koma. Tapi melihat tubuh Iseul yang terbaring koma? Ini yang pertama kali baginya dan benar-benar mengalihkannya.

“Ya,” angguk Iseul, “aku adalah atlet lari nasional. Yah, kau mana tahu hal-hal seperti itu?”

“Oh, diam!” gusar Chanyeol. Karena baginya ucapan Iseul tadi seperti mengejeknya, seperti mencapnya sebagai ‘anak yang tidak tahu apa-apa selain bermain musik’ dan berkonotasi negatif. “Lalu kenapa kau bisa berakhir di sini? Kecelakaan juga? Sama sepertiku? Atau apa?”

Mimik wajah Iseul berubah, menjadi lebih sendu. Memberi indikasi bagi Chanyeol bahwa ia telah menanyakan sesuatu yang amat sensitif dan membuka luka lama. Tapi sudah terlambat. Sebelum Chanyeol sempat meminta maaf atau menyuruh Iseul agar tidak usah menjawab jika tidak mau, Iseul sudah lebih dahulu berkata, “Kanker sumsum tulang belakang,” katanya lirih. Sangat lirih.

“Ap-apa?”

“Kanker sumsum tulang belakang,” ulang Iseul. “Itu adalah penyakit yang kuderita hingga aku… bisa berakhir seperti ini…”

Chanyeol tidak menyela. Ia biarkan jeda itu ada, ia biarkan Iseul menceritakan segalanya sesuka hatinya. Tidak ada paksaan, mengalir begitu saja.

“Semua bermula saat aku kelas empat SD. Kaki-kakiku mulai terasa lemah. Merasa ada yang tidak beres, aku bercerita pada keluargaku. Mereka segera membawaku ke rumah sakit. Dari diagnosa dan hasil uji lab yang keluar beberapa hari setelahnya, aku dan keluargaku tahu jika aku mengidap kanker sumsum tulang belakang.

“Itu pukulan yang sangat berat. Baik bagiku, maupun keluargaku. Tapi kami saling menguatkan. Aku juga tidak mau membuat mereka lebih khawatir, jadi aku berusaha menikmatinya. Sejak saat itu, aku menjadi tergantung pada obat-obatan. Aku juga menjalani pengobatan dan berbagai terapi. Tidak mudah memang. Tapi semua terbayar. Karena saat masuk SMP, dokter menyatakan jika kanker itu sudah hilang.”

Hilang? Jika saat masuk SMP kanker itu sudah hilang, maka itu artinya…

“Kanker itu kembali lagi?”

“Ya, kanker itu kembali lagi,” jawab Iseul. “Kurasa gejalanya mulai muncul di akhir-akhir masa SMP-ku. Lalu saat aku terjatuh dengan keras di garis finish lomba lari maraton hingga pingsan, berdarah, dan dibawa ke rumah sakit lalu mendapat jahitan di kepala, saat itu aku tahu bahwa kanker itu kembali lagi. Perasaanku sudah tidak enak saat dokter hanya ingin bicara dengan orang tuaku. Hal yang terkadang muncul di pikiranku namun selalu kutepis itu benar-benar menjadi kenyataan.

“Tapi aku berusaha untuk kuat. Ini bukan masalah besar untukku. Toh, aku sudah pernah menang melawan kanker ini dulu. Aku pasti bisa melakukannya lagi. Aku yakin itu! Aku terus meyakinkan diriku dan menjalani kehidupan SMA-ku dengan biasa. Meski lagi-lagi aku harus bergantung pada obat dan jadwal terapi sih. Tapi semua berjalan lancar. Aku dapat banyak teman baru, nilai-nilaiku stabil, bahkan karirku sebagai atlet semakin cemerlang. Aku bahkan bisa membawa pulang medali emas untuk Korea.” Senyum Iseul mengembang ketika mengenang saat-saat itu.

“Tapi kali ini aku kalah. Kanker itu lebih ganas menggerogoti tubuhku. Entah apa usahaku yang belum cukup atau penyakit ini yang semakin mengganas, kemudian aku sampai di satu titik dimana kakiku benar-benar tidak bisa bergerak. Tidak peduli sekuat apapun aku mencoba, kakiku tetap tidak mau bergerak. Aku bahkan kembali mendapat luka di kepala karena hal itu. Lalu… aku terpaksa berakhir di kursi roda. Aku juga opname dan semakin sering menjalani berbagai macam pengobatan dan terapi.

“Usahaku berbuah. Yah, aku memang kembali bisa berjalan. Meski untuk menempuh jarak dua meter itu susahnya minta ampun, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali bukan? Tapi itu bukan berita bagus sepenuhnya. Semakin keras aku berusaha, kanker itu juga semakin giat menggerogotiku. Hingga operasi adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkanku. Meski kemungkinan berhasilnya di bawah dua puluh persen, tapi aku tetap melakukannya.” Chanyeol yang mendengarnya terkejut bukan main. “Tapi malam setelah operasi, aku malah koma. Hingga sekarang. Yah, itu saja yang bisa kuceritakan padamu.”

Jeda menggantung.

Iseul masih sibuk dengan pikirannya, dan Chanyeol masih berusaha mencerna semua yang dibeberkan Iseul tadi. Di sisi lain, Chanyeol juga merasa ia semakin dekat dan mengenal Iseul. Dua kali terkena kanker, koma setelah operasi, dan atlet lari adalah beberapa hal penting dari Iseul yang bisa Chanyeol ingat.

Atlet lari? Ah, sekarang Chanyeol mengerti kenapa dulu Iseul berkata jika dia lebih suka berada dalam wujud roh seperti sekarang ini. Pasti pukulan terberat bagi Iseul adalah tidak bisa lari, pikir Chanyeol.

“Yaaahhh…” Iseul menarik nafas panjang, “tapi kurasa aku sudah kalah dari kanker itu.” iseul tersenyum getir di akhir kalimat.

Entah kenapa, Chanyeol merasa gusar mendengarnya. Terlebih saat melihat senyum getir itu.

“Kau belum kalah!” seru Chanyeol keras. Ia tidak perlu khawatir suaranya akan mengganggu bukan? Seruannya membuat Iseul terkejut hingga mematung dan menatapnya nanar. “Jangan… jangan berani-beraninya kau berkata seperti itu, Iseul! Memang benar kanker itu menyebabkan kau mengalami koma, tapi selama jantungmu masih berdetak… itu artinya kau belum kalah! Kenapa kau bisa bersikap begitu pesimis dan sok di saat bersamaan? Itu menyebalkan!”

“Ch-Chanyeol…”

“Kenapa? Kenapa kau begitu pesimis? Apa karena kau tidak bisa berlari?” pertanyaan Chanyeol benar-benar menusuk Iseul. “Kalau itu masalahnya, kau tidak perlu khawatir. Ka-karena aku akan jadi kakimu!”

Iseul terhenyak.

“Kalau nanti saat kau bangun kau masih belum bisa berjalan, aku bersedia untuk menjadi kakimu. Aku akan membawamu kemanapun kau ingin pergi. Bahkan jika saja aku bisa memutar waktu kembali, mempertemukan kita lebih awal, aku akan tetap bersedia untuk jadi kakimu. Tidak peduli kapanpun itu, aku bersedia. Kalau sudah begini, tidak alasan bagimu untuk pesimis ‘kan?”

“Chanyeol…” lirih Iseul. Begitu lirih hingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya. Sementara di dalam pikirannya, terbayang dirinya tengah digendong oleh Chanyeol dan keduanya tertawa-tawa senang. Membayangkan itu, mau tidak mau Iseul tersenyum. “Dasar kau ini. Tapi aku ini cukup berisi lho, kau yakin?”

“Y-yah, siapa takut? Kau pikir aku lemah, hah?”

Iseul tertawa. “Ingat, pria itu pantang menarik kata-katanya lho.”

“Iya, iya, aku tahu kok! Cerewet!”

“Hahahaha. Terima kasih ya?”

“Eh? Apa kau bilang?”

A-ni-ya. Bukan apa-apa.” Iseul tersenyum penuh misteri.

 

***

 

Setelah ‘badai’ yang terjadi di antara Chanyeol dan Iseul, keduanya kembali menjadi dekat. Tidak ada sesuatu yang berjalan mulus untuk segalanya, termasuk persahabatan. Keduanya kembali bermain bersama. Taman kota masih menjadi tempat favorit keduanya.

“Oy, Iseul! Oy, kau dimana sih?” Chanyeol mencari-cari Iseul sambil terus memanggil namanya. “Dasar. Kenapa sih dia suka menghilang tiba-tiba? Katanya hari ini dia setuju ke Hongdae?” gerutu Chanyeol.

Tapi setelah mencari berkeliling sambil berteriak kesana-kemari, Chanyeol memilih untuk mencari dalam diam. Ia merasa dengan membuka mulutnya, tenaganya akan lebih terkuras. Tapi Iseul tidak ditemukan di sudut taman manapun. Kembali, dengan terpaksa, Chanyeol berjalan ke luar taman. Berharap agar Iseul tidak pergi terlalu jauh.

Untungnya apa yang ia harapkan terjadi. Ia menemukan Iseul tidak jauh dari taman. Tapi yang membuat Chanyeol keheranan adalah, Iseul tidak sendiri. Ia nampak tengah berbincang dengan seorang pria. Dan pria tersebut kelihatan seperti manusia biasa. Namun sebelum Chanyeol menyela pembicaraan mereka, pria itu menoleh pada Chanyeol dan nampak berpamitan pada Iseul karena setelahnya ia langsung pergi.

Mengetahui ini, Chanyeol bergegas menghampiri Iseul. “Siapa dia? Dia manusia ya? Aku mendapat firasat dia pergi karena melihatku tadi. Apa yang kalian bicarakan? Penting ya? Dan lagi, kenapa sih kau suka menghilang tiba-tiba begitu? Siapa yang mengusulkan untuk pergi ke Hongdae dan siapa yang menghilang begitu saja sesaat setelah memaksaku untuk buru-buru?”

Iseul menghela nafas mendengar bombardir pertanyaan itu. “Bisa tidak kau bertanya satu-satu dan pelan-pelan?”

“Tidak.”

“Tsk! Dasar!”

“Jadi, mana jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku?”

“Kau ini. Baiklah, akan kujawab. Kau benar, dia bukan roh seperti kita maupun arwah. Dia tidak pergi karena melihatmu, dia pergi karena urusannya denganku sudah selesai. Apa yang kami bicarakan itu tidak penting. Daaaaaaannn! Meski aku menghilang begitu saja, aku tidak lupa akan janjiku itu. Kau tidak usah khawatir.”

Jawaban runtut dari Iseul membuat Chanyeol terperangah.

“Kenapa kau bengong begitu? Ayo! Jadi ke Hongdae tidak?”

Semangat dan kesadaran Chanyeol kembali. “Tentu saja jadi! Kajja!”

“Tapi gendong aku.”

Ucapan Iseul membuat Chanyeol membeku di tempat.

“Apa?” desis Chanyeol dengan tampang bodohnya.

“Gendong aku,” ulang Iseul.

Andwe! Jeolttae andwe! Kau pikir aku ini apa hah?” Chanyeol menolak dengan gusar.

“Lho? Katanya kau mau jadi kakiku? Katanya kapanpun itu kau bersedia jadi kakiku? Apa yang kudengar tempo hari itu cuma khayalan saja ya? Tapi tidak mungkin soalnya terasa nyata sekali. Ya, kenapa kau memandangiku seperti itu? Ingat, pria itu pantang menarik kata-katanya lho.”

Di tempatnya, Chanyeol menggerutu tidak jelas. Lagi-lagi dia termakan ucapannya sendiri. Hatinya menjadi semakin dongkol saat melihat senyum penuh kemenangan terukir di bibir Iseul.

Sepertinya Chanyeol tidak punya pilihan. Dia langsung berjongkok dan menepuk-nepuk punggungnya. “Nih, naiklah.”

“Eh? Kau serius?”

“Iya! Cerewet kau ah! Mau naik atau tidak sih?”

“Tentu saja!” Iseul segera naik di punggung Chanyeol.

“Ya ampun, kau berat juga ya,” keluh Chanyeol begitu ia berdiri.

Iseul terkikik. “’Kan kau sudah kuperingatkan.”

“Dan aku menyesal tidak mengindahkannya.”

“Hahahaha.” Iseul tertawa keras.

“Ampun, beratnya.”

“Hei, hentikan keluhanmu. Kakiku itu tidak pernah protes.”

“Haish! Bisa tidak kau itu diam dan mensyukuri hal ini?”

“Hahahaha, tidak bisa. Habisnya aku senang sekali.”

 

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Araseo : aku mengerti
  • Daedaphaebwa : jawablah

 

A/N        :

Yo! Balik lagi sama Len dan fanfiksi ini. Udah terlantar berapa lama ya ni fanfik? Sebulan lebih ya? XD Duh, maaf ya lagi-lagi terlantar lama. Nggak nyangka chap kali ini makan waktu banyak banget. Makin sibuk plus mood yang naik-turun. Tapi rasanya legaaaaaa banget pas chap ini selesai. Tepuk tangan dulu dong! Mau nyawer Len juga boleh XD

Di chap ini lebih menekankan ke konflik antara Chanyeol sama Iseul. WDYT guys? Konflik dua main cast ini gimana? Udah kerasa belum sih? Kok Len rasa masih ada yang kurang ya? XD Dan nggak kerasa ya, di sini Chanyeol udah sebulan koma, hahaha. Btw, Chanyeol – Iseul shipper mana nih? Mau dong denger suara kalian.

Oh ya, do you have any favorite scene(s) guys for this chapter? Fyi, Len jadi geregetan sendiri pas nulis scene dimana Chanyeol bilang ke Iseul kalo dia mau jadi kakinya Iseul. Soalnya dari doeloe kala Len udah gatel pengen nulis tuh scene. Dan bisa dibilang scene yang terinspirasi dari anime Angel Beat inilah yang menginspirasi Len buat bikin fanfiksi ini. And of course, the story and concept is truly different.

Ah, Len sampai kehilangan kata-kata nih saking senengnya chap ini selesai XD Sekarang saatnya para readers yang bersuara. Silahkan, mau komen apa aja boleh. Mau protes Len juga nggak apa-apa, Len pasrah -_- Len tahu Len salah, kalian yang bener. Len mah salah terus, ngaret terus, ampe readers lumutan nungguin ni fanfik /kayak ada yang nunggu aja/

Daaaaannn, Len juga mau ngucapin terima kasih buat kamuuuu~ iyaaaaaa, kamuuuuu~ yang udah mau ngikutin fanfik ini /bow/ Yang mau temenan ama Len, bisa datang dimari : fanfiction.net atau di facebook

Sorede, see ya next chapter!

21 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 12]”

  1. My 1st fave scene pas d’foo ngjarahin cmilan2 찬열 dg canda2an mrk yg nusuk2 bgt itu, ㅋㅋㅋㅋㅋ hipotesa’ny 세훈 ttg khdpn roh org comma bs tpat sa2ran gt ya, dsr bronis ganteng & pinter kesayangan 누나 😍
    & 2nd, scene sblm chap ini abis, pas 이슬 minta gendong sm 찬열, trus di piggyback gt co~ cweet Len, romance khas drakor bgt! Eciee.. 찬슬 ngdate. Aduh, 민호 apa kbr, kshn dy. Trus kangen jg sm moment 승호 – 은지, udah ada progress apa aja mrk?? Udah ah, saya mao mantengin nex chap / nonton spirit ngdate 👫 /

  2. DEMI APA BIARIN GUE MEGAP-MEGAP BENTAR
    Ini
    Ini
    Ini
    ANJIR LEN OMAYGAT INI ADA GAK SIH YANG LEBIH GEDE DARI KEPSLOK? Beneran deh sumpah deh len kasih semua di sini, sakit sekaligus obat sembuhnya/lah? tadinya aku mau ngedumel aja sama chanyeol yang tetiba sensi gitu ditanyain jadi nyolot kan kzl. Mana iseul kasian kan jadi sasaran marah marah chanyeol. Tapi gabisa nyalahin chan sepenuhnya juga sih, dia udah lama banget ternyata komanya, gak sabar pen pulang ya mas :’)
    Tapi pada akhirnya…
    WAEYOH CHAN HARUS BIKIN AKU MEGAP-MEGAP GEGARA DIA MELUK ISEUL TIBA-TIBA? KENAPA KAMU BERUBAH AGRESIF MAS? KENAPA?/lap ingus/ KENAPA PAKEK BIKIN TERHARU DAN MELTED SENDIRI GEGARA LU BILANG PEN JADI KAKI MAS? KENAPA? GAK CUKUP KAMU NINGGALIN AKU?-oke yang terakhir coret aja.
    Pada akhirnya chan-seul bener bener keliatan saling nyaman HAHA KENAPA GAK DARI DULU WOY/gaklah nid/plak/
    Ini bener-bener penuh emosi intinya sampe aku ikut ikutan emosi dan pen bakar rumah orang/gakgitunid/ bener deh len bener aku terharu banget rasanya ngeliat mereka bersama walau dalam bentuk tak kasat mata/eaaaak/ bawaannya senyam senyum sendiri baca unyunya mereka sambil nahan treak dalem hati ANJIR SEJAK CHANSEUL BENERAN MUNCUL HIDUPKU TETIBA BERWARNA/gak/alay/ sebenernya aku berwarna karna ale-ale/mulai deh gaje/
    Udah ah, gak kuku lama lama, lemes aku lemes liat mereka.

    1. Saoloh Nid, ane nggak bisa bayangin betapa nggak nyantenya lu pas komen XD
      Ada yang lebih gede dari kepslok Nid. Yaitu … cintaku ke kamu /eaaaaa/ XD /dilarung ke pantai selatan/
      Chan emang lagi sensi. Di sini ane sengaja bikin gitu supaya Chanyeol yang nggak pinter-pinter amat tuh nyadar kalo Iseul itu berarti buat dia sebelum Iseul bener-bener pergi /cieeee/

    2. ya habisnya chanseul gitu sih jadi kan jadi kan jadi kan…….
      eaaaak len diem diem suka ngegombal, jadi tau kalok len itu jones jugak/lah?

  3. wuaaanjaaay ini apdeet kapan? tanggal mabelas? apabanget! aku kira ini apdet udaaaaah lama. aku kira ep ep ini udh nyampe chap 13. aku udh lama gk buka exoffi jadi takut ep ep ini update ternyata baru di apdet kmren kmren. dasar ngaret XD . author ngaret XD. gappa kalii yaa len. /bodoamat. ya gini, aku suka bagian chanyeol yang malaah-malah. feel nya dapets bangets kakak. jadhieee akoouhh. soukaahh bangetss. /kenapa jadi gini?. pokoknya aku suka konfliknya ceye ama iseul. btw, kangen eunji wew. suara chanyeol-iseul shipper? wwwoooowwwwwww!!!!!! disinii aaaaa!!!! ceyeeee!!! iseul!!!! wawowoawoaoaojdyeyayayyaayayya!!! . bagian favorite? Bagian the foo lah apa lagi. haha. dari pada makin panjang makin gajelas sayah sudahi liputan dari bjk.tv saya rizka dan rizka melaporkan dari tekape. bayaa muah. cepet ah chp 13 nya. XDXDXD /dibacokLen

    1. Baca komenmu kepalaku serasa digetok palu ama kamu, sambil kamu bilang “Dasar author ngaret! Karet!” XD

  4. Aahhh…akhirnya ff ini update juga:D
    Lama nunggunya, tapi kwbayar deh sama kisahnya yg so sweet…so sweet bangettt…udh tau kn gmn mirisnya kisah iseul? Jgn bentak” ke iseul lagi yeol…
    Keep writing kak, di tunggu updatenya

  5. uuwwaa.. akhirnya chapter 12.. hehe
    chanyeol so sweet..
    semoga aja mereka cepetan sadar.. amiin/ ngarep
    pokoknya semgat terus buat len ya
    aku tunggu next chapternya ^_^

  6. Yeayyyyy ini FF lanjut. Teganya dikau bkn para readers lumyutan menunggyu epep mu kkkk~~~ *alay -_- senenggggggggggg moment Chaseulnya banyakkkkk…. Kpn mereka bangun sihhhh betah banget moga happy ending kakkk ini greget tauuu

  7. Angle beat? Itu anime favorite aku lennnnn… uwaaa… apalagi pas part di lapangan baseball huaaa mewek, keren part pas chanyeol ngomong gitu me iseul juga part favorite berasa deg gimana gitu, so sweet banget, tapi nanti klo semisal mereka sadar apa mereka masih ingat satu.sama lain? Atau malah salah satu dark mereka mati? Atau malah 2 2 nya? AAA andweee… berharap happy ending… semangat ya len

    1. Yg part si gitaris ceweknya itu pergi, itu scene fav aku juga selain yg di lapangan baseball itu. Cuma ada bagian di ni anime yg kerasa kurang.
      Yosh, sankyu 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s