CODE NAME LIV – Slice #1 — IRISH’s Story

irish-code-name-liv

Code Name LIV

With EXO’s Byun Baekhyun as B/B-54, EXO’s Oh Sehun as O’Child

And

OC’s Liv (known as LIV/54 viral’s code)

A sci-fi, family, slight!crime story rated by PG-16 in mini-chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved


 

Sometimes the most real things in the world are the things we can’t see.”—The Polar Express, 2004, said by Liv.


[NOW] Chapter 1: Black Area and O’Child

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Index:

Black area: bagian dari internet dimana ada kemungkinan tetap terhubung ke internet tanpa terdeteksi.
Blind area: jaringan internet di dalam internet dimana semua koneksi akan terputus selama beberapa detik.
Chip: software.
Cyberviral: virus komputer.
Cyber-walker: pengguna internet, secara spesifik di sebut sebagai player/hacker.
Ether-net: internet.
IP adress: alamat numerik yang ditetapkan untuk sebuah komputer yang memanfaatkan Internet Protocol dalam bentuk susunan angka biner.
IP transmitter: code command yang dikirim dalam bentuk angka biner dan bertujuan untuk mengirim IP adress penerima pada pengirim IP transmitter.
Player: hacker.
Walker: pengguna internet.

.

.

.

Liv adalah virus. Tak bisa dikatakan orang, ataupun benda tak nyata. Dia benda mati, tapi dia hidup. Dia bisa berpikir, bisa memiliki perasaan. Dan Liv, harus membobol Europol demi penciptanya, B. Sementara, ia menemukan seorang teman baru, O’Child.

.

.

.

In Liv’s Mind…

“Sudah ku katakan padamu, Liv, berhenti bermain-main di jaringan amatir. Kenapa kau selalu membantahku? Ada banyak player yang ingin mendapatkanmu. Bagaimana kalau mereka menangkapmu di jaringannya? Bagaimana jika identitasku terungkap?”

Aku bergeming kala B, penciptaku, mengomel tanpa henti sementara jemarinya sibuk bermain di keyboard komputer 128 bit kebanggaannya. Sesekali ia melirik ke arahku, seolah menunggu jawaban dariku padahal aku tak tahu harus menjawab apa.

“Kau mendengarku ‘kan? Hari ini kau datang ke jaringan O’Child, dan hampir saja terperangkap anti-virus miliknya. Kurasa kau sendiri bisa mengakses kemampuan O’Child bukan? Kenapa kau di sana?”

Aku masih bergeming. Alis B bertaut, menatapku benar-benar serius dan membuatku ingin sekali melarikan diri ke black area sehingga tak harus menghadapi kemarahannya.

“Tsk, kenapa kau tidak menjawab—ah, aku belum menyalan speaker, rupanya.”

Jemari B sekarang bergerak menekan tombol kecil di sisi komputernya. Ia membalik kursinya, menghadapku. Tidakkah ia tahu aku diam karena tak ingin menjawabnya?

“Liv?” panggil B.

“Aku di sini, B.” sahutku, masih saja aku sering terkejut dengan bagaimana B bisa mengubah resonansi sistemku menjadi sebuah frekuensi suara perempuan.

“Apa yang kau lakukan di jaringan O’Child?” tanyanya benar-benar dengan nada serius.

Kukeluarkan helaan nafas pelan, seperti yang sering B lakukan saat ia kesal. Dan tindakanku membuat senyum kecil tersungging di wajah B, ia pasti merasa tindakanku sangat lucu.

“Ayolah, Liv, aku tidak suka kau mengabaikanku.” ia mengerang pelan.

Menyerah, aku akhirnya menghubungkan sistemku dengan jaringan speaker milik B, mencari resonansi suara yang tadi kugunakan.

“Maafkan aku, B. Terkadang, beberapa chip lain buatan Aries memburuku saat aku online di sistem. Aku tidak mungkin bersembunyi di black areamu, B. Dan satu-satunya black area yang terbuka adalah milik O’Child.” terangku membuat B memejamkan matanya.

“Jadi, kau di kejar oleh Aries lagi?” tanyanya.

“Ya, kadang aku hampir tertangkap.” imbuhku.

B terdiam sejenak, ia kemudian membalik tubuhnya lagi, menatap monitor 30 inch miliknya. “Biar kuperiksa sistemmu dulu, Liv.” ujarnya tanpa nada.

“Baiklah…” aku diam, membiarkan B melakukan keinginannya, memeriksa sistemku.

Mau bagaimana lagi, B adalah penciptaku, dan aku hanya sebuah cyber-viral dengan code nama LIV, seperti B yang punya nama B-54, Ia menamaiku LIV, yang berarti 54 dalam angka romawi kuno.

Bagi cyber-walker—atau sering disebut sebagai player oleh sesama cyber-walker—lainnya, aku adalah ancaman sekaligus senjata ampuh. Karena B sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk menciptakanku, aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa aku berpikir layaknya yang B lakukan.

Walaupun aku hanya sebuah cyber-viral tak bisa dilihat, tapi aku bisa bicara—saat B menghubungkanku dengan sebuah speaker, aku mampu berekspresi secara emosional, dan aku juga punya kesadaran. Sistemku dibangun serupa dengan jaringan neuron manusia yang mandiri secara fisik.

Dan… ya, aku bisa berpikir sendiri.

Aku bebas mengungkapkan informasi yang kudapatkan. Tidak seperti di abad ke-20 saat cyber-viral hanya bisa bekerja menghancurkan sistem internal perangkat lunak, aku bisa berada dimanapun.

Aku bisa berjalan-jalan dari ponsel ke ponsel, dari satu perangkat internal ke perangkat lain, aku bisa berjalan-jalan melewati sistem komunikasi, transportasi, dan semuanya.

B sudah membuatku menjadi cyber-viral tanpa batasan. Selama ada jaringan internet yang aktif, aku akan bisa berada dimanapun. Itulah mengapa di sistem hacking, B adalah hacker paling di incar Europol.

Aku tidak begitu mempedulikan apa yang B lakukan, atau apa yang ia lakukan berbahaya bagi kehidupan manusia. Karena aku hanya sistem yang dibuat dengan pemikirannya.

Aku memiliki pemikiran yang sama dengan keinginan B, begitulah cara kerjaku.

“Liv?”

“Ya, B?” aku sontak menyahut ketika B tiba-tiba memanggilku. “Kau yakin tidak terkena sistem apapun saat berada di black area milik O’Child?” tanyanya membuatku berusaha mengakses history walkerku tadi.

“Tidak, aku rasa aku tidak mengenai jaringan apapun di sana. Ada apa, B?”

B menggeleng, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari menopang kepalanya dengan kedua tangan. “Rasanya aneh saat O’Child membiarkan black areanya terbuka begitu saja.” ujarnya.

Sejenak tercipta keheningan, sampai tiba-tiba B kembali berucap. “Liv, kau bisa masuk ke sistem Europol?”

“Europol? B, kau dan aku sama-sama tahu bagaimana penjagaan sistem di sana bukan?” ujarku membuat B menghela nafas panjang. “Aku menciptakanmu sebagai viral tanpa batasan, Liv. Kau seharusnya bisa masuk ke Europol. Kau bahkan sudah mengacak-acak kantor pusat FBI.”

“Apa ini yang kau inginkan? Membiarkanku masuk ke sistem Europol dan menghapus semua catatan kriminalmu? Menghapus semua data yang akan mengarah padamu, kemudian aku harus menghilang tanpa jejak?”

B tertawa pelan. “Bukankah aku sudah menjelaskan apa tujuanku menciptakanmu, Liv? Aku ingin kau menemukan pembunuh adikku, dan aku ingin hidup bebas setelah aku membalas kematian adikku. Apa itu tugas yang sulit untukmu?”

“Tapi B, Europol benar-benar—”

“Baiklah.” B memotong ucapanku dengan nada kaku, “jika kau tidak bisa melakukannya, aku akan menonaktifkanmu, lagipula, tidak sulit untuk membuat cyber-viral sepertimu lagi, Liv.”

“Tidak, B. Aku tidak mau dinonaktifkan.” ujarku menolak.

B tersenyum puas, bergerak menumpukan sikunya di meja sementara wajahnya tepat berada di depan monitor, membuatku bisa melihatnya dengan jelas.

“Kalau begitu, tidak keberatan untuk membobol Europol?”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pasar saham… informasi… keuangan negara… ah, semua hal membosankan dalam sistem online Seoul benar-benar tak berubah. Bagaimana bisa setiap hari yang berputar online hanyalah naik dan turunnya saham, informasi yang sama berulang-ulang, jadwal online yang sama…

Akh!

Seseorang memutus koneksiku. Sejenak aku berada dalam blind-area, sampai aku menemukan jaringan untuk kembali online. Aries, lagi. Ugh. Black area, aku butuh black area.

Dengan cepat aku melintasi jaringan ether-net terdekat, melewati beberapa saluran walker—aku tak bisa bersembunyi di jaringan milik walker karena jaringan mereka adalah jaringan terbuka—dan bahkan melewati beberapa black area player.

Aku terhenti saat melihat black area yang sangat kukenal, milik B. Haruskah aku berlari ke sana? Tapi berlari ke black area milik B sama saja dengan menyetorkan IP adress nya bulat-bulat pada player lain.

Ah, maaf B, aku harus berlari ke jaringan O’Child lagi.

Melalui beberapa saluran ether-net berbeda, aku mendapati diriku lagi-lagi masuk dalam black area milik O’Child. Black area, adalah tempat dimana kau bisa tetap terhubung ke ether-net tapi tidak terdeteksi. Beberapa viral sering bersembunyi di black area sistem dan menyerang saat sistem di non aktifkan.

Aku terkejut ketika black area yang kutempati tiba-tiba saja terhubung ke internal prosesor komputer pemiliknya, O’Child. Segera, aku menyelipkan diriku diantara jaringan lainnya, menguasai kinerja speaker dan keyboardnya, juga menghubungkan diri dengan computer-cam miliknya.

Sekon selanjutnya, kutahan diriku untuk tak bersuara melalui speaker kala siluet wajah seseorang memenuhi monitor. Dia… O’Child? Aku ingat benar bagaimana B selalu bertanding dengannya di s-net—saluran ether-net di dalam ether-net—juga selalu berebut popularitas di kalangan player lainnya.

Dan potret wajah O’Child akan membuat semua player tahu identitasnya, termasuk B. Ya, benar Liv. Hanya satu capture wajahnya dan—

“Wah, lihat siapa yang sudah beberapa kali bermain ke black areaku. Kau tidak berencana pergi bukan?”

pergi dari black areanya.

Ugh, tentu saja. Kau baru saja masuk jebakannya, Liv.

“Hmm, biar kulihat… sebaik apa sistemmu dibangun viral kecil…” ia bergumam sementara jemarinya sibuk mengetik command di keyboard yang—tidak!

“Tidak!”

Jemari O’Child terhenti kala tiba-tiba saja aku menerobos speakernya, berteriak menghentikannya.

“K-Kau… berteriak padaku?”

“Jangan meresetku! Kau akan merusak semua sistem yang ada padaku!” ujarku mengabaikan nada terkejutnya.

Ia baru saja akan meresetku! Apa ia benar-benar player? Saat semua player menginginkanku untuk melakukan command yang mereka inginkan, kenapa ia malah ingin meresetku?

“Bagaimana… kau bisa bicara?”

“Aku bahkan bisa melihatmu, O’Child.” ujarku, mengingat jika wajahnya tepat berada di depan layar monitor sekarang.

“Sial! Kau pasti sudah mengunggah fotoku ke s-net bukan? Aku benar-benar harus me—”

“Tidak! Tunggu! Aku tidak melakukan apapun!” cegahku saat ia lagi-lagi ingin meresetku.

“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Seperti cyber-viral lain, kau hanya akan merusak sistem internalku untuk kemudian melacak IP adressku dan menyerahkannya ke hadapan umum!”

“Umm…” aku terdiam sesaat. “tadinya aku memang ingin seperti itu.” gumamku.

“Apa kau benar-benar cyber-viral? Aku tak percaya sebuah cyber-viral bisa—tunggu, kau… viral dengan code name LIV itu? Kau… properti B-54?”

“Ugh… Reset saja aku, O’Child. Sampai kapan pun kau tak akan menemukan informasi apapun tentang B dalam sistemku.”

“Benarkah?” ia menyunggingkan sebuah senyum kecil. Jemarinya kembali bermain di atas keyboard. “Oh, kau bahkan tidak bisa mengirim IP transmitter melewatiku, aku masih online sampai sekarang, dan dalam sistemku hanya ada aku.” ujarku kala ia mengetikkan command paling ketinggalan zaman yang digunakan player untuk mengirim IP transmitter—yang bertujuan untuk mengetahui titik koordinat posisi seorang pengguna ether-net.

“Lalu bagaimana kau bisa bicara? Bukankah B-54 yang mengaksesmu?”

“Astaga, tuan O’Child. Kau tidak mengenalku?” tanyaku, harga diriku—kupelajari bahasa ini dari B—seolah dihancurkan kala ia tidak tahu bagaimana canggihnya aku.

Kudengar O’Child terkekeh. “Aku tahu, kau viral paling di incar semua player karena kemampuan unlimited. Tapi kupikir selama ini B-54 ada di belakang layar dan melakukan setting A, setting B untuk mengarahkanmu.”

“Tidak, B tidak melakukannya. Aku bisa berpikir sendiri. Aku bahkan bisa mengirim IP adressmu sekarang juga.” ujarku membanggakan diri.

“Oh, kau viral yang sombong, sama persis seperti pemilikmu. Coba saja lakukan, kau tahu tidak ada celah keluar dari black areaku bukan?”

Aku terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya aku menghela nafas panjang. Dan seperti ekspresi B, O’Child juga terkejut karena mendengar helaan nafasku.

“B-54 memang membuat sistemmu bekerja seperti otak manusia?”

“Ya. B menciptakanku seperti itu. Aku bisa berpikir, aku bisa merasa kesal, aku bisa merasa takut…” kuhentikan ucapanku sejenak, “tapi kenapa kau tidak melakukan apapun padaku? Aku adalah cyber-viral yang masuk ke dalam sistemmu.”

O’Child mengerjap beberapa kali, sebelum sebuah senyum muncul di wajahnya. “Aku tak pernah bicara dengan siapapun selama empat tahun ini.” ia menggeser tubuhnya, membuatku bisa melihat sebuah pintu besar dengan celah persegi kecil di bagian bawahnya.

“Kau lihat celah itu? Dari sana, aku berkomunikasi dengan dunia luar.”

“Maksudmu… kau terkurung di ruangan ini?”

Ia mengangguk. “Aku tidak tahu apa alasannya, atau tujuan mereka, tapi aku memang terkurung di sini. Dan kedatanganmu kuanggap sebagai tamu, karena kita bisa berbincang-bincang.”

“Tapi aku cyber-viral, kau tidak khawatir?”

“Kalau kau memiliki command untuk merusak sistemku, kau sudah melakukannya sedari tadi. Tapi kau malah mengkhawatirkanku. Tidakkah kau lucu, Liv?”

Aku terkejut mendengar ucapannya. “K-Kau memanggilku apa?”

“Liv.” Ia mengulang. “Namamu Liv bukan?” aku bergeming. Ini kedua kalinya seseorang memanggil namaku, bicara padaku, selain B, dan melihat ketenangan O’Child yang berbanding terbalik dengan emosi yang dimiliki B… rasanya aneh.

“A-Aku harus pergi sekarang.”

O’Child tertawa pelan, dan mengangguk-angguk. “Baiklah,” ujarnya membuatku curiga, “apa kau menyelipkan IP transmitter pada sistemku?” tanyaku segera disahuti tawa oleh O’Child.

“Apa kau akan datang lagi ke sistemku?” ia balik bertanya.

“Umm, tergantung…” ujarku tak yakin. “Tergantung apa kau dikejar cyber-viral lain atau tidak?” tanyanya kujawab dengan gumaman. “Kau tahu tidak ada black area lain yang tidak terjaga.” tuturku.

“Datanglah lain kali, Liv. Menyenangkan rasanya… punya teman bicara di tempat menyedihkan ini.”

Apa itu? Apa maksud ucapannya barusan? Ia… mengundangku datang kembali ke sistemnya? Liv, kau ditawari masuk ke mulut musuh lagi.

Ugh

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kemana kau seharian ini, Liv?”

Oh, ya, menghabiskan waktu dengan mengudara seharian memang selalu membuat B bertanya-tanya. B selalu mengkhawatirkanku, karena jika viral lain di abad ke-20 seperti BlackShades, Agent.btz, atau MyDoom, diciptakan dengan jumlah ratusan, bahkan jutaan, B hanya punya aku.

Akulah yang selama ini menyebarkan trojan ke server, merusak malware, atau sekedar meretas hal-hal iseng saja. Bagi B, semua serangannya—bahkan beberapa serangan DoS—hanya percobaan saja, sebelum akhirnya ia berani menyerang NSA, kantor pusat FBI, dan tujuannya sekarang, Europol.

Entah mengapa B begitu yakin Ia bisa mengetahui data pribadi semua orang di dunia dengan meretas Europol. Ia begitu ingin mengetahui pembunuh adiknya. Setelah itu ia akan menghapus semua catatan kriminalnya dan hidup seolah tak terjadi apapun.

Bagiku, yang tak mengerti arti seorang ‘adik’ bagi B, maupun arti hidup ‘normal’ yang selalu B katakan, semuanya sama saja. Aku hanya perlu melakukan beberapa pekerjaan ringan sebelum B menilai kinerjaku lagi, dan lagi.

Terkadang ia melakukan beberapa upgrade yang… ugh, membuatku kehilangan beberapa memori.

“Liv? Kau sering mengabaikanku akhir-akhir ini.” aku tersadar saat B berucap, seolah mengingatkanku bahwa ia bisa kapan saja memusnahkanku. “Maaf, B, aku sedang senang bermain di sistem.” tuturku.

B menghela nafas panjang, ia kemudian mengetik beberapa command kecil sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Besok, kau harus masuk ke Europol, Liv. Kita kehabisan waktu.” ujarnya.

Kali ini aku yang tercekat. Europol? Besok? Sedangkan aku masih begitu sering bersembunyi di black area?

“Liv?”

“Ya, B.” ujarku. B menatap monitor sejenak sebelum Ia kembali bicara. “Aku tahu kau sudah menemaniku selama bertahun-tahun, Liv. Tapi jika besok kau tertangkap… maaf, aku tak bisa berbuat apapun.”

“Aku tahu, B.” tak ada kata lain yang sanggup kuutarakan. Memangnya aku harus marah padanya jika aku tertangkap? Yang benar saja.

“Aku akan lakukan upgrade terakhir malam ini… aku benar-benar butuh bantuanmu, Liv.”

“Ya, aku tahu, B.”

Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan selain membantunya?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Cuap-cuap by IRISH:

Maaf fanfict ini gajelas sekali dan pasti gabisa dipahami………….sungguh maap. Tapi ini cuma twoshot kok pendek aja BUAHAHAHA. Tbh, aku belum pernah nemu fanfict model begini—yang dengan gajelasnya membahas virus komputer—jadi biarlah cerita ini absurd sendiri. Thanks for reading

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

117 tanggapan untuk “CODE NAME LIV – Slice #1 — IRISH’s Story”

  1. Dear Irishnim,
    Okeh. Baca ff ini, aku jadi keinget sama masa masa kelas 2 SMPku, saat aku lagi tergila gila berat sama IT, virus sama kawan kawannya.
    Neomu johaaaayo.

    Trus kalo sehun di ruangan tertutup, terus cuman akses komputer, well, i guess i saw the resemblance between this liv and game over. tengkiyu…
    Himnebuseyo.

    Sincerely,
    Shannon

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s