[Vignette] Under the Rain

luhan.jpg

Under the Rain

Xi Luhan / OC’s

Vignette / AU / Childood / lilComedy / slight!Fluff / School-life / Romance / G

a present by l18hee

I own the plot

-RnR Please-

Satu dua kisah Luna dan Luhan di balik rinai hujan.

Luhan dan Luna tidak begitu dekat jika bukan karena hujan.

Waktu itu mereka masih duduk di taman kanak-kanak. Luna tidak terlalu mengenal Luhan, begitu pula sebaliknya. Sampai suatu ketika keduanya berada di posisi yang sama. Duduk diam di bangku depan kelas seraya menatap butiran bening yang jatuh dari langit. Pagi menjelang siang yang sedikit suram. Kelas sudah selesai sekian menit yang lalu tapi ayah atau ibu belum juga terlihat.

“Luhan, Luna, ayo tunggu di dalam. Di sini dingin.” Bu Guru Cho terlihat begitu cantik hari ini walau raut lelahnya masih ada. Yang pertama menerima uluran tangan Bu Guru Cho adalah Luna. Sedang Luhan justru memajukan bibir dengan tangan bergerak gelisah.

“Ayo Luhan, ibu punya kue di dalam. Luhan dan Luna bisa berbagi kue.”

Masih ada gurat ragu, namun Luhan akhirnya mau mengikuti sang guru dan gadis kecil itu ke dalam kelas.

Bu Guru Cho mengeluarkan kotak makan berisi empat potong kue, “Nah, ayo ambil.”

Luna mengambil satu kue dan langsung memakannya lahap, “Terima kasih Bu Guru. Aku suka sekali kue.” Melihat Luna begitu lahap, Luhan juga mencicipi satu kue, “Enak.” Lirih, namun cukup membuat Bu Guru Cho tersenyum. Apalagi saat Luhan begitu saja mengambil satu kue lagi dan mengulungkannya pada sang guru.

“Luna juga mau lagi.”

Dan potongan terakhir sukses jatuh ke tangan si gadis kecil.

“Nah, kalian tunggu di sini sebentar ya? Bu Guru akan telpon Ayah dan Ibu kalian.” Penuturan Bu Guru Cho membuat Luna berbinar semangat, “Iya, iya, telponkan Papa atau Mama ya Bu.” Bu Guru Cho menyempatkan menepuk sayang kedua pucuk kepala muridnya sebelum beranjak pergi.

Sepeninggal Bu Guru Cho, Luna menatap Luhan yang tak kunjung menghabisan jatah kuenya, “Kamu kenapa?”

Luhan menoleh, menampilkan muka ingin menangis di sana, “Mama dan Papa kerja. Aku tidak bisa pulang.”

Dengan beberapa sisa kue di sekitar bibir, Luna berucap, “Kamu perempuan atau laki-laki sih?”

“La─laki-laki.” Luhan sepenuhnya kaget ditanyai seperti itu. Tapi, toh dia menjawab juga.

Setelah jawaban terdengar, Luna mengusap bibirnya dengan ujung seragam, “Laki-laki nggak nangis. Harusnya perempuan yang nangis.” Dia meraih ransel stroberinya sebelum mengeluarkan sebuah botol minum kecil, “Ini minum saja. Aku sudah tidak haus.”

Luhan masih ragu. Dia tak menerima uluran botol minum si gadis begitu saja. Mimik ingin menangisnya bahkan masih jelas terpeta, “Enggak mau. Kamu saja.” Medapat tolakan, Luna cemberut tentu saja. Dia sudah berencana akan menyusul Bu Guru Cho jika saja suara Luhan tak terdengar lagi, “Tidak ada yang menjemput. Aku nggak mau menginap di sekolah.”

Seketika Luna mengurungkan niatnya untuk beranjak menyusul Bu Guru Cho. Yang ia lakukan justru berdiri dan mengambil tempat duduk tepat di samping Luhan, “Kuemu masih ‘kan?”

Sejenak, Luhan menatap si gadis kecil, “Kau mau?”

Luna mengambil kotak bekal dan menuntun Luhan untuk memasukkan kuenya ke sana.

“Aku akan temani kamu menginap. Kita sudah punya bekal satu kue. Dan botol minumku masih setengah penuh. Jadi─” Gadis itu memberi tatapan penuh keyakinan, “─tidak perlu menangis. Kamu ‘kan laki-laki.”

Bocah kecil yang wajahnya ingin menangis itu perlahan mengangguk. Dia mengusap ujung matanya seraya membuka suara, “Terima kasih ya, Luna. Besok aku kasih kamu permen.”

.

.

.

.

.

“Luhan?”

Sosok Luna berseragam SMP menyapa pandangan Luhan. Lelaki itu sedang sibuk mengibaskan almamaternya yang basah akibat hujan. Padahal ia masih di koridor sekolah. Huh, salahkan Minseok yang bermain seenaknya hingga ia terpaksa berlari di bawah hujan beberapa saat yang lalu.

“Oh, Luna. Belum pulang?”

“Belum dijemput.” Hanya itu dan keduanya kembali diam. Berdiri berdampingan di ujung koridor dan menghadap rinai hujan turun.

Diam-diam Luhan melirik Luna. Mereka tidak begitu dekat lagi semenjak bersekolah di sekolah dasar yang berbeda. Dan dengan ajaibnya kembali bersekolah di sekolah yang sama dua tahun belakangan.

Tadinya Luhan ingin memecah keheningan dengan saling bertanya kabar atau sejenis itu, tapi suara Luna yang lebih dulu terdengar, “Ah, itu Kak Baekhyun.”

Luhan menoleh, sosok lelaki terlihat melambai dari dalam mobil di depan gerbang. Tahu-tahu saja Luhan merasakan sebuah banda menyapa tangannya beriring dengan ucapan tergesa milik Luna, “Pakai ini. Besok kembalikan, ya?”

Dan Luhan hanya bisa terdiam menatap Luna yang berlari menembus hujan menuju mobil Baekhyun.

“Ah, bodoh. Harusnya aku antar dia dulu sampai sana.” Sesal Luhan saat ia menatap lama payung polkadot di tangannya.

.

.

.

“Tidak asyik ah.” Ini mungkin keluhan kesejuta yang keluar dari mulut Luna. Dipandangnya butir-butir hujan yang perlahan turun dari langit kelam. Rencananya mengunjungi café yang baru buka untuk mendapatkan promo gratis hancur sudah. Padahal ini hari terakhir. Dan kata temannya, ada menu kue yang enak di sana.

Huh. Baiklah, ini memang benar-benar menyebalkan.

Luna suka kue, semua tahu itu.

“Luna?”

Yang dipanggil menoleh. Mendapati sosok lelaki dengan headphone menggantung di leher dan stelan seragam SMA yang begitu pas di sana.

“Oh, hai Luhan.”

Mereka begitu saja larut dalam keheningan. Tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya Luhan terkekeh samar. Menarik Luna untuk menolehkan kepala dan menatap heran.

“Aku hanya merasa ini sedikit… lucu?” Luhan mengedik bahu, seolah menjawab sendiri apa yang ia tanyakan. Luna masih tak megerti jadi dia hanya diam.

“Kau pasti ingat.” Si lelaki memasukkan tangan ke kantung celana, “Ini kali ketiga kita terjebak di situasi seperti ini. Saat taman kanak-kanak, di sekolah menengah, dan… sekarang.”

Tak bermaksud menjawab, Luna hanya mengangkat bahu sekilas. Secara tidak langsung menyetujui apa yang Luhan katakan sebelum akhirnya mereka kembali dalam genangan kesunyian.

“Hei.”

Lagi-lagi Luhan yang memecah sunyi.

“Mau ke café baru di sekitar sini? Kudengar ada kue yang enak.”

Kali ini Luna menoleh dengan sepenuh hati. Yang ia dapatai adalah Luhan sedang mengeluarkan sebuah payung. Sejemang kemudian, payung dengan motif polkadot sudah terbuka di atas mereka.

“Oh, astaga Xi Luhan. Kukira payungku sudah kau rusak karna tak kunjung dikembalikan.” Luna terkekeh kecil mengingat itu adalah payung yang ia pinjamkan tahun lalu. Mengizinkan Luhan satu langkah lebih mendekat sebelum akhirnya mereka berjalan bersama.

“Tahu tidak? Aku jadi teringat kejadian waktu di taman kanak-kanak.”

“Emm… yang bagian kau hampir menangis itu?” Lagi, Luna terkekeh. Yah, setidaknya suasana ini tak secanggung sebelumnya. Diam-diam Luhan merasa lega.

“Jangan membuatku mengingatnya, Kim Luna. Kau bahkan menangis betulan saat aku yang lebih dulu pulang.” Giliran Luhan yang terkekeh, “Luhan jahat. Aku tidak mau permenmu.” Dia menirukan ucapan Luna waktu itu dengan nada dibuat-buat. Menghasilkan sebuah pukulan ringan di lengan.

Si pemberi pukulan pura-pura marah, “Ah, aku benci hari itu. Kau bahkan tidak mengucap maaf sama sekali.”

Luhan membuang napas pelan sembari mengumbar senyum samar. Dan di detik selanjutnya Luna bisa merasakan tangannya digenggam erat.

“Maaf yang waktu itu.”

Luna tidak bisa tidak menatap manik teduh Luhan di sana. Membuatnya sedikit memerah sekarang. Ah, sial. Dikibaskannya tangan Luhan, namun genggaman itu masih ada. Dengan sengaja Luhan mengeratkannya.

“Sebagai gantinya kutraktir hari ini.”

“Oh benarkah?”

Menoleh dan mengangguk adalah hal yang Luhan lakukan, “Besok juga. Kalau kau mau sih.”

“Kau serius?”

Sebuah cengiran menghias paras Luhan, “Iya, tapi gandengan lagi ya?” Dan sebuah injakan di kaki sebagai jawaban awal, “Dasar! Lepas, tidak?!” Kembali Luna mengibaskan tangan.

“Aku bercanda, Luna.” Masih dengan tangan menggenggam milik si gadis, Luhan terkekeh pelan.

“Tidak mau tahu! Kau menyebalkan!” Bertubi pukulan bahkan tak bisa menghentikan aksi Luhan yang menjawab tegas dengan seringan, “Tetap tidak akan kulepas. Titik.”

“Xi Luhan!”

Gadis wajah merah itu tak bisa berbuat banyak sekarang.

Oh, ingatkan Luhan untuk memohon Tuhan kembali menurunkan hujan esok hari.

Esoknya lagi.

Dan esoknya lagi.

Dan esoknya esoknya lagi.

Seperti itu terus.

.

.

Agar dia punya alasan untuk menggengam tangan si gadis seperti ini.

.

.

fin!

Ini sebenernya buat ultah Ime kemarin, aku repost di EXOFFI :3

Btw Luhan makin lama makin ganteng../plak

.nida

10 tanggapan untuk “[Vignette] Under the Rain”

  1. huhuuu,,tiap x baca tulisan Nida,,jadi baper gtu,,, dapet bnget feel nya,,krasa klo hujan,,coz aku jg sering menatap hujan,,,tp bawaanya sedih!! apa lagi klo hujanya d barengi langit mendung dan gemuruh petir,,jd takut!! tp klo hujan pas ditemenin Luhan,,itu mahhh ,,,,,,,senangnya!!
    ***suka suka aku suka sekali!!!***

    1. hehe baper eaaaak wkwk kalok hujan petir aku juga takut, kalok gerimis doang dan payungan sama cogan lha itu impian bangat/plak
      haha makasih banyaaaaaaak pokoknya ❤

Tinggalkan Balasan ke luvi87 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s