[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Chapter 4)

cover (1).jpg

The One Person Is You

 

Tittle                           : The One Person Is You (Chapter 4)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kang Rae Mi (OC)

 

Other Cast                :

  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yura (Chanyeol sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

Chapter 1     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/11/exoffi-freelance-chanyeol-the-person-is-you-chapter-1/

Chapter 2     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/16/exoffi-freelance-chanyeol-sehun-kai-the-one-person-is-you-chapter-2/

Chapter 3     : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2015/12/29/exoffi-freelance-chanyeol-the-one-person-is-you-chapter-3/

 

 

~Happy Reading~

 

*Hyojin POV*

 

Hari ini aku malas sekali di rumah Jong In. Bocah itu sejak tadi pagi keluar, katanya mau kencan dengan si ‘Nona Kim’. Sehun sendiri tidak bisa main kesini karena ada urusan soal pendaftarannya ke kampus baru. Dan aku masih belum tahu universitas mana yang akan anak itu masuki.

 

Ck! Apa tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan untuk membunuh rasa bosan?. Jika saja Jong In meninggalkan makanan- setidaknya satu cup ramen- maka aku tidak akan berdiam diri di ruang tamu sambil sesekali berguling di lantai.

 

‘Drrt Drrt’

 

Ada pesan masuk. Aku mengambil ponsel yang ada di atas meja.

 

‘Kenapa kau tidak masuk ke Yonsei hari ini?’

 

Si kakek gila itu lagi!. Dia bertanya kenapa aku tidak masuk kampus saat hari pembuka penerimaan mahasiswa baru. Terserah! Aku sedang malas. Setelah menaruh ponsel ke tempat semula, pintu rumah diketuk berkali-kali. Dengan berat hati aku bangun untuk mencari tahu siapa tamu yang datang. Semoga saja Sehun yang membawa sekotak besar kimchi.

 

“Nona muda, anda harus ke kampus sekarang.”

 

Sial!. Kenapa antek-antek Lee Dae Ryeong bisa tahu rumah Jong In?. Arrgh! Aku lupa kalau pria tua itu punya mata-mata yang ahli.

 

“Tidak terima kasih.”

 

Aku hendak menutup pintu kembali, tapi pria-pria berpakaian hitam ini menarikku paksa. Mereka memasukkanku ke dalam limosin. Di dalam mobil ada dua pelayan wanita yang kemarin mendandaniku. Mau apa lagi mereka?.

 

Salah satu pelayan membuka kado yang tadi dia pangku, “Nona muda, anda harus memakai ini.” ujarnya sembari menunjukan blue dress simpel. Aku menggeleng cepat. Tidak mungkin aku mau memakai pakaian seperti itu lagi. No way!.

 

“Tapi nona, tuan besar meminta anda memakainya.”

 

“Ck! Kubilang tidak ya tidak!” seruku kesal. Pelayan itu menunduk gelisah, aku tahu apa maksudnya. Aku menyambar gaun itu kasar kemudian memasukkannya kedalam tas kertas. “Katakan saja pada Lee Dae Ryeong kalau aku sudah memakainya. Tidak usah takut akan dipecat seperti itu!”

 

Kemudian pelayan itu mendongak dan tersenyum. Aku pura-pura tidak melihat, lebih baik mengalihkan pandangan keluar kaca mobil. Tidak ada untungnya berteman dengan antek-antek Lee Dae Ryeong, yang ada aku terus dimanfaatkan oleh mereka.

 

***

 

Aku turun dari limosin dan menutup pintunya keras sebelum dua pelayan tadi turut keluar juga. Tanpa memperdulikan seruan mereka aku berlari kecil memasuki gedung universitas, tas kertas yang ikut terbawa aku buang ke tempat sampah terdekat. Gila!, masuk jurusan apa saja aku tidak tahu. Kalau sudah begini aku harus bagaimana?.

 

“Nona Lee Hyojin?”

 

Aku menoleh, ternyata pria yang aku kenal yang memanggilku, salah satu anak buah kakek tua itu. Dia tersenyum, kemudian menuntun kemana aku harus pergi. Yah, lumayan lah aku tidak perlu bertanya sana-sini seperti bocah idiot. Kami sampai di salah satu ruang kelas. Aku bingung, berbeda dengan murid baru lain yang dijemur dahulu di lapangan, seorang Lee Hyojin malah bebas memasuki kelas ber-AC tanpa ikut masa orientasi.

 

Pria tadi pamit pergi, aku mencari tempat duduk paling strategis. Yaitu pojok belakang. Tempat seperti ini yang paling asyik digunakan untuk tidur atau malas-malasan. Setelah duduk dengan nyaman, aku membuka amplop putih yang diberikan pria tadi. Isinya tentang aku diterima di universitas Yonsei jurusan hukum… WHAT?. Arrgh mana tahu aku soal hukum?. Tuan Lee itu sudah gila!.

 

Setelah sekitar dua jam aku menunggu sendiri, akhirnya mahasiswa lainnya mulai memasuki kelas. Mereka menatap penuh rasa keterkejutan saat menyadari keberadaanku. Tatapan terkejut itu berubah sinis juga bingung. Aku diam saja, dan lebih memilih tidur. Merasa ada orang lain yang duduk disebelah, aku mendongak.

 

“Sehun?!”

 

Pria tinggi itu tersenyum, “Ya, ini aku. Terkejut?”

 

“Tentu saja bodoh!” Aku memukul belakang kepalanya, “Kau ternyata mendaftar disini?. Hebat! Aku kira akan sendirian disini!”

 

“Kau fikir aku tidak mau bersama sahabatku?, membiarkannya sendirian?. Tidak akan!” Ujarnya sambil menarik rambutku dengan keras.

 

Aku mengaduh kesakitan. Kenapa kelas jadi hening?, ternyata aku dan Sehun menjadi pusat perhatian sejak aku meneriakkan nama Sehun tadi. Kami berdehem lalu menaruh kepala diatas meja sambil melempar senyum, merutuki kebodohan masing-masing.

 

*Author POV*

 

Rae Mi meneguk soda yang Chanyeol berikan. Dia menghela nafas lega karena telah melewati hari pertama dengan baik. Kini dia dan Chanyeol sedang beristirahat di bangku penonton lapangan basket kampus.

 

“Kau tahu, saat bibi Moon bilang kau masuk kualifikasi aku sangat senang!” Chanyeol mulai bercerita.

 

Rae Mi meletakkan kaleng yang sudah kosong disampingnya, “Ya, aku juga tak menyangka soal itu.” Ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari beberapa orang mahasiswa yang sedang bermain basket.

 

“Aku senang akhirnya kita bisa satu kampus!”

 

Tak ada respon dari Rae Mi. Chanyeol melirik gadis itu, mendapati Rae Mi yang memperhatikan tiga pria terkenal di kampus.

 

“Apa kau menyukai mereka?”

 

Rae Mi menoleh lalu menggeleng. Mata bulatnya berkedip cepat menatap Chanyeol yang kini pipinya bersemu merah. Pria itu menggosok leher dan mengalihkan pandangan dari Rae Mi.

 

“Aku ingin bertanya.” Rae Mi kembali melihat tiga pria tadi, “Siapa mereka itu?. Kenapa banyak sekali gadis yang mengerumuni?”

 

“Kenapa?, kau ingin jadi salah satu diantara mereka?” Tanya Chanyeol balik, dengan nada jengkel.

 

“Tidak.” Jawab Rae Mi dengan suara imutnya, “Hanya penasaran.”

 

“Mereka anak konglomerat.”

 

Sebuah suara menginterupsi, mendahului Chanyeol yang hendak menjawab rasa penasaran Rae Mi. Itu Sehun, dia duduk di sebelah Rae Mi sambil menawarkan minuman kaleng, tapi Rae Mi menolak halus karena sudah minum. Gadis itu celingukan, mencari seseorang yang mungkin datang bersama Sehun. Sementara Chanyeol memandang tak suka pada pria yang baru dia lihat itu.

 

“Kalau kau mencari Hyojin, dia sedang disana!” Sehun menunjuk lapangan basket dimana Hyojin sedang berbincang dengan manajer tim. “Dia ingin masuk klub basket.”

 

Chanyeol mendengus, “Percuma, tim itu tidak menerima perempuan.”

 

Rae Mi dan Sehun menoleh pada Chanyeol, “Kenapa?”

 

“Kalian lihat tiga pria itu.” Chanyeol menunjuk tiga pria yang Rae Mi tanyakan tadi. “Mereka anggota inti sekaligus yang paling berkuasa. Mereka menolak adanya wanita karena mereka pikir itu hanya akan mengganggu jalannya tim basket.”

 

“Bagaimana bisa begitu?” Tanya Sehun, masih tidak mengerti.

 

“Tentunya kalian melihat kerumunan mahasiswi disana, mereka pikir wanita yang hendak ikut pastilah hanya penggemar yang tidak tertarik dengan basket tapi ikut klub hanya untuk mendekati tiga pria itu.”

 

Rae Mi menganggukan kepalanya, merasa paham. Tapi ada satu hal lagi yang belum dia ketahui.

 

“Sehun bilang mereka anak konglomerat. Siapa sebenarnya mereka?”

 

“Bang Yongguk, Choi Jun Hong, Kim Himchan. Anak-anak yang orangtuanya punya kuasa besar di Seoul.” Jawab Sehun serius.

 

“Dan kau harus berhati-hati dengan mereka. Tiga orang itu tidak segan-segan mengganggu orang-orang kampus yang tidak memiliki jabatan penting. Kecuali golongan chaebol, mereka akan mengusik sampai orang itu keluar dengan sendirinya. Atau paling parah di keluarkan.”

 

Penjelasan lanjut dari Chanyeol membuat Rae Mi geram dengan tingkah tiga pria itu. Matanya menatap tajam tiga laki-laki yang kini berjalan mendekati Hyojin yang sekarang sibuk berdebat dengan manajer tim.

 

“Gawat!, apa Hyojin akan ada dalam masalah?!”

 

Chanyeol menahan tangan Rae Mi yang hendak turun ke lapangan basket untuk menolong Hyojin. Gadis itu menatap Chanyeol heran.

 

“Kenapa? Kita harus menolong Hyo-”

 

“Aku yakin dia bisa menyelesaikannya sendiri.”

 

Perkataan Sehun membuat Rae Mi semakin tidak mengerti. Sehun berdiri setelah membuang kaleng minuman kesembarang arah. Kemudian pergi entah kemana.

 

“Jika kau turun, akan sia-sia saja. Hyojin tidak akan menjadi obyek bully mereka, tapi justru kau.” Kata Chanyeol, meyakinkan Rae Mi agar tidak ikut terlibat dengan Bang Yongguk.

 

Dengan ragu gadis itu kembali duduk. Pandangannya masih tertuju pada Hyojin yang sudah berhadapan dengan Bang Yongguk dan kedua temannya. Yang bisa Rae Mi lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan Hyojin. Bukannya dia takut untuk melawan, tapi dia sadar akan sesuatu. Dia masih baru di kampus ini, jika dulu dia bisa melawan Yongguk di pinggir kedai, kini situasinya berbeda. Dia tidak ingin di keluarkan dari kampus.

 

***

 

Orang-orang mulai berlarian menuju lapangan basket. Dari kabar beredar, Yongguk si preman kampus hendak memulai aksinya untuk mengganggu murid semester 1. Makanya mereka mau melihat apa yang akan terjadi pada mahasiswa ‘beruntung’ itu.

 

Lapangan basket sudah dikerumuni. Di tengah-tengah lapangan, Yongguk dan dua temannya berhadapan dengan seorang gadis. Dimana gadis itu terlihat tenang, ekspresi wajahnya justru menantang. Orang-orang mulai berbisik mengenai gadis itu, apalagi yang sekelas dengannya.

 

“Kau bilang ingin masuk klub basket?. Tidakkah kau melihat, tidak seorangpun wanita yang ada di klub ini!” ujar Yongguk memecah keheningan diantara mereka. Sebenarnya tidak begitu hening, mengingat banyaknya orang yang bergerombol mengerumuni mereka sambil berbisik tak karuan.

 

“Justru itu yang ingin aku tanyakan. Kenapa wanita tidak boleh masuk klub basket?. Kudengar, banyak yang ingin ikut.” Jawab gadis itu tenang.

 

Salah satu teman Yongguk bernama Jun Hong berkata sinis, “Karena wanita hanya pengganggu!” Membuat wanita-wanita yang ikut berkerumun terkejut dengan kata-kata pria itu.

 

Hyojin -gadis itu- terseyum miring, “Sebaiknya kau tarik kata-kata itu sebelum menyesal.” Ujarnya.

 

“Kenapa? Apa kau hendak berkelahi denganku?. Auuh takuuut. Hahaha.”

 

Hyojin menghampiri pria berambut pirang itu, kemudian mengambil bola basket yang sedari tadi dia bawa. Hyojin men-dribble bola itu mendekati ring lalu memasukkannya kedalam ring dengan mudah. Gadis itu tersenyum puas kemudian berbalik pada tiga pria yang dua diantaranya menatap Hyojin tak percaya.

 

“Jika wanita itu pengganggu, katakan hal tersebut pada IBU kalian!”

 

Perkataan itu seolah menghujam jantung Yongguk. Kalimat yang Hyojin lemparkan seolah menyindir dirinya yang tidak memiliki ibu.

 

“Oh ya?. IBU? Apakah itu yang kau katakan ketika hendak naik ke kasur dengan piyamamu?” Balas Yongguk dengan seringaian.

 

“Mengatakan apa?” Tanya Hyojin bingung. Dia tidak begitu mendengar ejekan yang Yongguk lontarkan barusan. Dia menggaruk pipi, berfikir sebentar lantas mengendikan bahu. “Sumpah aku tidak dengar apa yang kau katakan.” Ujarnya polos.

 

“Ck! Tuli!” Ledek Himchan. Hyojin mendengar itu.

 

“Yak! aku mendengar itu!”

 

“Sudahlah, apa sebenarnya maumu?. Kutekankan sekali lagi, klub basket tidak menerima wanita!” Yongguk menghentikan perdebatan itu.

 

“Ck! Tidak asyik!. Lantas bagaimana dengan mahasiswi yang berprestasi dalam bidang basket?. Jika ikut klub basket akan melatih kemampuannya dan membanggakan kampus!”

 

“Itu tidak penting!. Kau mau pergi atau kau ingin kami memperlakukanmu seperti Joo Hyung?”

 

Wajah kesal Hyojin berubah menjadi seringaian kejam, yang tak kalah kejam dari tatapan tajam Yongguk. Gadis itu mendekati Yongguk, kemudian berbisik pelan yang hanya bisa di dengar oleh Yongguk juga Himchan dan Jun Hong yang ada di dekatnya.

 

“Aku tak yakin kalian berani melakukan itu… pada cucu Lee Dae Ryeong.”

 

Kemudian gadis itu pergi, membelah kerumunan yang tidak mau menghalangi jalannya. Meninggalkan Yongguk yang diam dengan keterkejutannya. Jun Hong menepuk bahu Yongguk tak sabaran.

 

“Hyung, dia bilang dia cucu Lee Dae Ryeong?. Tidak mungkin!”

 

Himchan ikut memasang wajah tak percaya, “Jika itu benar, dia bisa-bisa melaporkan kita pada ayahmu!”

 

Yongguk tidak membalas. Dia mengepalkan tangannya emosi. Memasukkan gadis tadi -yang masih belum dia ketahui namanya- kedalam blacklist kehidupannya.

 

***

 

“Yongguk! Kim Yongguk kau dimana?”

 

Hyoyeon terus meneriaki nama adiknya sambil melihat sekeliling rumah, mencari keberadaan adiknya itu.

 

“Yongguk kau dikamar?”

 

Hyoyeon membuka pintu kamar adiknya dan berhasil menemukan Yongguk yang membaca buku diatas kasur sambil mengenakan earphone. Hyoyeon bisa mendengar suara musik dengan volume begitu keras dari earphone yang Yongguk kenakan. Gadis itu mendekat pada Yongguk dimana pria itu masih belum menyadari keberadaannya. Dia melepas earphone tersebut membuat Yongguk berjingkat.

 

“Apa yang kau lakukan di kamarku?!” Serunya kesal.

 

Hyoyeon hanya tersenyum innocent, “Bisa kau ikut denganku?” Tanya Hyoyeon mengabaikan pertanyaan Yongguk sebelumnya.

 

“Tidak!” Yongguk kembali dengan buku komiknya. Mengacuhkan Hyoyeon.

 

“Oh, ayolah!”

 

Masih tidak ada tanggapan.

 

“Yongguk! Kim Yongguk!”

 

“Namaku Bang Yongguk, camkan itu.”

 

Hyoyeon memandang malas adiknya, “Jika kau tidak ikut, aku akan melaporkanmu pada ayah! TITIK!” Kemudian hyoyeon keluar.

 

Yongguk menutup bukunya kasar dan membuangnya ke bawah kasur. Dia mengacak rambutnya frustasi. Tingkah Hyoyeon yang kekanakan sangat membuatnya risih.

 

“Yah, anggap saja dia itu ayahmu. Tidak denganku.”

 

Yongguk menatap pantulan dirinya di cermin. Menganggap betapa malangnya dia. Hidup sebagai anak haram keluarga Kim membuatnya muak. Sebelum ini dia hidup bersama ibunya, tanpa tahu siapa sang ayah, hidup tanpa kasih sayang seorang ayah tidak membuatnya sedih tau kecewa. Dia justru benci memiliki ayah yang sudah membuang dia dan ibunya.

 

Sampai saat ia berusia sepuluh tahun, seorang pria berpakaian mewah datang dan bilang kalau dia adalah ayah Yongguk. Dia membawa Yongguk pergi dan terpisah dari sang ibu hingga sekarang. Ibunya yang tidak mencegah sama sekali membuat Yongguk membenci wanita itu.

 

Dan fakta kalau dia mempunyai kakak tiri perempuan membuat kebenciannya pada wanita semakin kuat.

 

***

 

Chanyeol merebahkan diri diatas kasur empuknya. Baru hendak menutup mata untuk tidur barang sejenak, ponselnya berbunyi. Segera dia mengambil benda kotak di nakas itu, rupanya ada pesan masuk.

 

‘Coba tebak, aku sedang berada di Lotte World!’

 

Pesan dari Yura, sang kakak. Kakaknya memang aneh, jika dia meminta Chanyeol untuk menebak, kenapa dia malah mengirim pesan yang berisi jawaban atas pertanyaannya sendiri?. Itu tidak penting bagi Chanyeol, yang jelas dia ingin berseru kesal karena sang kakak kini sedang berada di Lotte World tanpa mengajaknya!.

 

Oh, ayolah!. Biar mereka sering bertengkar karena hal sepele, tapi Chanyeol dan Yura cukup rukun. Apalagi Yura hampir tahu Sembilan puluh persen mengenai kehidupan adiknya. Yura adalah tempat Chanyeol berkeluh kesah, orang yang bisa dia ajak bermain kesana kemari sejak kecil hingga sekarang ketika mereka sama-sama sudah dewasa.

 

Dibanding sang ibu yang sudah melahirkannya, atau sang ayah yang sudah mengayomi dan menghidupi mereka selama ini, Yura adalah anggota keluarga terbaik dan paling dia sayangi. Karena walau mereka lebih sering bertengkar, namun setidaknya Yura tidak akan mementingkan bisnis atau lebih sering berada di kantor daripada dirumah seperti kedua orangtuanya.

 

Chanyeol tidak mempermasalahkan itu, dia mengerti bagaimana keadaan orangtuanya. Sangat pengertian.

 

Kembali ponselnya bordering. Kini pesan dari sang kakak disertai foto.

 

‘Coba tebak siapa anak manis ini? ouh, kau pasti terkejut’

 

Mata Chanyeol terbelalak setelah membaca pesan dan melihat foto yang barusan kakaknya kirim. Seorang anak perempuan sekitar lima tahunan, memakai dress merah dengan rambutnya yang pendek diikat dua. Oh, tunggu dulu!. Itu bukan anak perempuan melainkan Chanyeol sendiri!. Pantas pria itu merasa kesal setelah mendapat foto menyebalkan tersebut dari kakaknya.

 

Memang, sejak kecil sang ibu punya obsesi dengan anak perempuan. Ketika Yura lahir, wanita itu ingin sekali mendandani Yura dengan sangat feminim. Tapi yah, Yura bukan gadis kecil yang suka pakaian semacam dress apalagi dia sangat tak acuh terhadap penampilan jadi sang ibu urung melakukan niatnya.

 

Barulah ketika anak keduanya -yaitu Chanyeol- lahir, sang ibu lantas melaksanakan obsesinya yang tergolong gila karena anak keduanya ini adalah laki-laki. Juga karena Chanyeol tidak bisa membantah keinginan sang ibu -berbeda dengan Yura yang sanggup menolak- maka ia harus rela di dandani sebagai gadis kecil sejak usia tiga tahun hingga enam tahun.

 

Chanyeol sendiri yakin sudah menyuruh ibunya untuk menghapus, membuang, atau bahkan membakar seluruh foto memalukan dirinya. Namun sayang, dia sendiri tidak tahu ada berapa foto aib yang ibunya ambil. Apalagi sekarang sang kakak ikut menggodanya dengan foto tersebut.

 

Ponsel Chanyeol lagi-lagi bordering. Sebenarnya dia malas untuk melihat pesan sekaligus foto yang kembali dikirimi oleh Yura, tapi ada rasa penasaran. Pada akhirnya pria tinggi itu mengambil asal ponselnya dan dengan malas membuka isi pesannya.

 

‘Coba tebak lagi siapa gadis manis ini?, yang jelas bukan kau…’

 

Memang foto seorang gadis, tapi bukan dirinya. Gadis lain yang sepertinya Chanyeol kenal, tapi sepertinya juga tidak. Dia ragu-ragu untuk menebak. Mencoba tak acuh, Chanyeol menaruh ponselnya kembali ke nakas kemudian mengganti baju. Dia hendak keluar untuk menghirup udara segar saat pikirannya sedang campur aduk seperti saat ini.

 

Ini baru hari pertama masuk mahasiswa baru di kampus. Tapi ‘calon istri’ nya -dia merasa cukup aneh untuk menyebut Hyojin demikian- sudah membuat masalah besar. Dengan dia menantang Yongguk dan dua anteknya, maka akan sulit untuk hidup tenang di kampus tanpa harus berurusan dengan mereka. Jika Yongguk tahu apa statusnya dengan Hyojin -terlebih menyebar pada Rae Mi dan satu universitas- maka dia juga akan terlibat dengan tiga orang trouble maker itu.

 

“Hyojin sudah gila!, bagaimana bisa dia menantang Bang Yongguk seperti tadi?” Chanyeol bergumam sendiri, kesal dengan sikap berbahaya Hyojin.

 

Dia membuka lemari untuk mengambil jaket kulit pemberian Yura pada ulang tahun ketujuh belasnya. “Lagipula, apa untungnya berurusan dengan Yongguk?. Hyojin adalah gadis paling aneh yang-” Chanyeol tak melanjutkan perkataannya, dia teringat sesuatu.

 

“Tunggu dulu!” Serunya terkejut sendiri. Buru-buru dia menyambar ponsel diatas nakas, kembali membuka pesan paling terakhir dari Yura. Chanyeol mengamati foto gadis kecil berusia sekitar lima tahunan itu sambil mengingat wajah seseorang yang baru-baru ini muncul di kehidupannya.

 

“Tidak mungkin!” Gumamnya ragu sendiri.

 

Dalam keraguannya itu muncul pesan lagi dari Yura. Kali ini benar-benar mengejutkannya.

 

‘Itu calon istrimu, Lee Hyojin. Cantik kan?, setelah ini kau akan tergila-gila padanya adikku sayang’

 

Yura pasti sudah gila!, cantik? Bagi Chanyeol seorang Kang Rae Mi yang sedang malu dan pipinya merah adalah yang paling cantik dari yang tercantik.

 

“Oh apa yang kau pikirkan Chanyeol!”

 

“Tuan muda, Tuan dan nyonya besar menunggu anda di ruang keluarga.”

 

Panggilan dari pelayan rumah membuat Chanyeol mengakhiri pikiran-pikiran anehnya.

 

“Ya, aku akan segera turun.” Balas Chanyeol dan pelayan tersebut melangkah pergi melaksanakan tugasnya yang lain.

 

Chanyeol menyampirkan jaketnya, kemudian turun menemui kedua orangtuanya di ruang keluarga seperti yang pelayannya bilang. Begitu sampai, dia dihadiahi tatapan tak mengenakan dari keduanya. Perasaannya makin tak enak ketika sang ayah memintanya duduk dengan nada bicara yang dingin.

 

“Ada apa?”

 

Sang ayah tak menjawab, dia menyerahkan amplop coklat berukuran sedang. Chanyeol segera membukanya dan mendapati berlembar-lembar foto dirinya sedang bersama Rae Mi. Semua foto itu berisi obyek yang sama, dan ini berarti ayah dan ibunya sedang menyelidiki tentang siapa Rae Mi. Dan itu sangatlah gawat, ayah dan ibunya adalah orang yang sangat perfeksionis. Jika tahu bagaimana latar belakang gadis polos itu, kedua orangtuanya bisa berbahaya untuk Rae Mi.

 

“Siapa dia?, kekasihmu?” Tanya sang ibu dingin.

 

Chanyeol mengambil seluruh foto, tak menjawab pertanyaan sang ibu lebih dahulu. Tuan Park mencekal tangan Chanyeol, menghentikan sementara kegiatannya mengambil foto dirinya dan Rae Mi.

 

“Jika dia memang kekasihmu, kenapa kau tidak bilang dari awal?”

 

“A-aku…”

 

Nyonya Park menginterupsi, “Bagaimana silsilah keluarganya?, apa pekerjaan orangtua gadis itu?, sampai mana pendidikannya?. Chanyeol, ibu harap dia gadis baik-baik dan kau tidak salah-”

 

“Eomma!” seru Chanyeol menghentikan perkataan nyonya Park yang tanpa jeda itu, “Dia gadis baik-baik. Aku tak bisa mengenalkan pada kalian sekarang, tapi kumohon agar kalian tidak mencari tahu sendiri tentangnya.” Pinta Chanyeol serius. Dia belum siap menerima penolakan dari kedua orangtuanya mengenai Rae Mi.

 

“Lantas kenapa kau tidak langsung mengatakannya kepada kami?. Bagaimana jika presdir Lee tahu tentang hal ini?”

 

Emosi Chanyeol naik, dia sedikit tidak percaya sang ayah akan lebih mementingkan respon presdir Lee ketimbang dirinya. Apakah dia hanya alat bisnis?, beruntung hanya dia yang selalu dijodohkan dengan rekan bisnis tuan Park, jika saja sang ayah berani menjodohkan Yura, maka Chanyeol tak akan tinggal diam.

 

“Kuharap kau tidak salah paham pada ayahmu, Chanyeol-ah!” Nyonya Park yang seolah tahu isi hati Chanyeol meluruskan, “Hanya saja kami tak ingin kau dianggap tak bertanggung jawab oleh pihak keluarga Lee. Kau sendiri yang mengiyakan perjodohan itu, kami tak pernah memaksamu.”

 

Tubuh Chanyeol lemas seketika mendengar penuturan sang ibu. Memang benar, Chanyeol sendiri yang menyetujui perjodohan kali ini karena dia anggap Hyojin hanya gadis tomboy yang tak akan jatuh hati padanya. Dengan begitu tak perlu menolak perjodohan yang bisa menurunkan saham keluarga. Chanyeol tahu bagaimana besarnya pengaruh perusahaan presdir Lee terhadap perusahaan ayahnya.

 

“Pikirkan lagi Chanyeol.” Tuan Park berdiri kemudian pergi ke ruang kerjanya disusul sang istri.

 

“Kuharap secepatnya kau mengenalkan gadis itu, mengerti?”

 

Chanyeol mengangguk pasrah. Dia mengambil kunci mobil lamborgini merah milik Yura yang jarang dipakai. Pria itu bergegas menyalakan mesin mobil lantas melaju dengan cepat menuju Namsan Tower, tempat favoritnya saat sedang dalam perasaan yang buruk.

 

 

~TBC~

 

Alhoaaaaa!

Saya datang membawa chapter empaaat~

Sebelumnya saya mau ucapkan selamat tahun baru 2016 buat semuanyaaaa! *maaf telat* semoga segala resolusi dan harapan yang dibuat bisa tercapai amiin…

Penasaran kenapa minggu ini saya kirim ff-nya? *padahal nggak ada yg penasaran*

Itu karena saya lagi bahagia sebab bisa melanjutkan nulis ini ff dan bebas dari penyakit writer’s block apalah itu, juga karena ini awal tahun jadi kasih hadiah ff ini aja untuk para readers yang udah setia nungguin ff ini, neomu-neomu gamsahamnida~

Makanya itu, saya butuh dukungan berupa like+comment para readers-deul supaya saya bisa semangat nulis ff yah walaupun ada yang mau baca udah seneng banget sih. Doakan juga semoga saya punya banyak ide jadi bisa menyelesaikan ff ini lebih cepat dan saya bisa dengan PeDe ngirim ff ini seminggu sekali hehe~

Udahlah gausah lama-lama… RCL Juseyooooo~

15 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Chapter 4)”

  1. Ini kok riweh ya, kayanya kedepannya bakalan complicated banget nih.
    Sayang kan kalo awalnya chanyeol berjuang buat raemi, kalo akhirnya malah jatuh cinta sama hyojin

  2. makin penasarann nih smoga bisa sempet share ff nya seminggu sekali klw 2 minggu skali terlalu lama hehe
    fighting thorr^^

    selalu di buat penasaran sma cerita next chapter nya … can wait ne

Tinggalkan Balasan ke KimIsti Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s