Oneshoot – STAYING IN LOVE

req-intan-stayinginlove

SHIN TAMA

present

STAYING IN LOVE/Chanyeol-Ae Cha (OC)

“cerita ini adalah cerita fiksi, mohon maaf jika ada kesamaa nama OC dan lain-lain. Itu adalah kebetulan, tanpa unsur kesengajaan. Sesungguhnya cerita ini adalah hasil imajinasiku yang liar.”

Thanks to

IRISH ART&DESIGN

Let’s Read…

 

”dua hati yang kosong, akan saling mengisi.”

 

Chanyol membuka rolling door sebuah ruko yang berada di tengah kota.  Terpampang banner di bangunan itu yang bertuliskan ‘Internet cafe Chanyeol’. Usahanya itu sudah berjalan satu tahun lebih, dan hasilnya tidak mengecewakan. Banyak anak remaja sampai orang dewasa yang menggandrungi tempat itu. Tidak heran tempat itu selalu ramai pengujung. Bagi Chanyeol, menjalankan usaha ini sama saja sedang bermain. Karnanya, ia mendapat banyak teman dan pengetahuan. Seakan dunia dalam genggamannya.

“hai Ae-Cha, kemana pangeranmu yang kurus kering kurang gizi itu?” teriak Chanyeol kepada seorang gadis yang baru saja turun dari bus.

Sudah menjadi kegiatan rutin Chanyeol menyapa gadis itu. Sebenarnya bukan menyapa, lebih tepatnya mengejek. Tapi bagi Chanyeol itu adalah cara untuk menyapa Ae-Cha. Ae-Cha adalah seorang pegawai part time di mini market yang bertetanggaan dengan Internet cafe Chanyeol.

“hai juga kuping Yoda, aku malas berdebat denganmu. Besok saja kita lanjutkan.”

Ae-Cha melewati Chanyeol, lalu masuk ke mini market. Sebelah alis Chanyeol terangkat. Heran. Ada apa dengan gadis itu? Tidak biasanya. Biasanya ia selalu menimpali perkataan Chanyeol, bahkan sepatah katapun tidak luput dari ocehan Ae-Cha. Chanyeol sampai ingat betul ejekan yang dilontarkan gadis itu tempo hari ‘yaa kuping yoda, si manusia super hiperaktif. Berhenti mengejek pacarku. Urusi saja gadis SMA yang masih suka merengek itu.’

 

***

 

 

 

yeoboseyo… 

chagiya…mianhae. aku tidak bisa mengantarmu. Ada pekerjaan deadline hari ini. jeongmal mianhae, aku janji akan menjemputmu sore ini.”

ne…gwaenchana.”

Ae-Cha memutus sambungan telfonnya dengan Suho di ujung sana. Ia baru saja mengatakan sebuah kebohongngan. Tidak ada kata ‘iya’ dalam benaknya. Ingin rasanya ia mengatakan ‘tidak’.  Ia tidak merasa baik, padahal kata ‘baik-baik saja’ yang terlontar dari mulutnya. Pria itu seperti siluet semu yang tidak bisa ia rengkuh. ‘apakah aku terlalu egois, karena berfikir seperti ini?  katakan padaku, jika ‘iya’. Maka aku akan mengakhirinya.’ Batinnya.

 

***

 

“ck…dasar Nami. Dia masih SMA tapi sudah pikun.” Dengus Chanyeol ketika melihat ponsel kekasihnya tertinggal di meja kerjanya. Ia meraihnya, lalu membuka isinya karena sedikit penasaran.

“siapa Kris?”  gumam Chanyeol.

Ia mendapati nama itu di kotak masuk pesan di ponsel Nami. Isinya? Chanyeol sangat terkejut saat melihat isi pesan itu. Sebuah pesan yang sangat mesra. ‘Hei, sebenarnya siapa kekasihnya? Aku atau si Kris itu, eoh?’

                Rahang tegas Chanyeol mengatub. Api cemburu kini membakarnya. Bahkan telah mengundang kebencian. Tidak bisa seperti ini ! ia mengambil langkah cepat meninggalkan ruangannya. ‘haruskah aku berpura-pura menutup mata? Kurasa tidak, karena aku memilih untuk berhenti disini.’

 

***

 

Ae-Cha melempar pandangannya keluar jendela bus. Setiap hari, rute inilah yang ia lewati. Memandangi objek berkelebatan. Hanya sekilas, namun ia hafal karena terbiasa. Bus berhenti, mengangkut orang-orang yang dengan setia menantinya di halte. Untuk beberapa menit, tidak ada siluet yang berkelebatan dimatanya. Sekarang mereka tampak jelas dan nyata.

Lampu merah menyala. Bus berhenti di perempatan jalan. Ae-Cha benci saat-saat seperti ini. duduk sambil menunggu lampu merah itu berubah menjadi hijau. Dan akhirnya pikiran itu mulai menenggelamkannya lagi. Suho datang di setiap jeda waktunya. Entah itu hanya beberapa menit saja. Pria itu pasti menyelinap kedalam pikirannya. Sungguh, Ae-Cha ingin sekali melupakan pria yang pernah singgah di hatinya itu. Rasanya ia lelah jika mengingat masa dimana ia masih bersama Suho. pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali Suho mengantarnya ke tempat kerja.

Ae-Cha adalah seorang gadis yang berdiri di perapatan jalan dan Suho adalah seorang pria yang duduk di balik kemudi mobilnya. Saat lampu merah menyala, sang pria berhenti dan melirik sang gadis. Kemudian lampu kuning menyala, terjadi klimaks diantara mereka dan keduanya saling berhati-hati . lalu akhirnya, lampu hijau menyala. Itu artinya Suho harus melaju kembali dengan mobilnya. Mungkin seperti itu kisahnya…

Pukul 07:00 am, Ae-Cha tiba di tempat tujuannya. Ia sangat siap untuk bekerja. Bahkan ia bertekad untuk menyibukan diri. Bagaimana pun caranya, asalkan tidak ada jeda. Udara dingin langsung menyeruak ketika ia keluar bus. Harum tanah basah menyambutnya dan rintik-rintik air dari langit membelai rambut panjangnya yang terurai.

“aaaaaa….”

BRUKKK…

Ae-Cha memekik keras ketika tubuhnya mencium tanah. Sial, jalannya licin sekali. seakan enggan untuk ditapaki.

“hai, kenapa kau duduk diisitu? Apakah kau sedang piknik?” tanya Chanyeol yang sudah sampai lebih dulu di rukonya.

pabo, orang waras mana yang berpiknik di cuaca sedingin ini, eoh? Kemarilah, cepat bantu aku berdiri!” Ae-Cha menimpali teriakan pria itu. Kakinya terasa sangat sakit. Mungkin terkilir.

Chanyeol langsung menghampiri gadis malang itu. Sebenarnya, ia tahu bahwa gadis itu terpeleset lalu jatuh. Namun apa boleh buat, ia hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan teleportation, dimana seseorang bisa berpindah tempat dalam sedetik. ia juga melihat adegan dramatis itu terjadi di depan matanya.

“Kajja, bangunlah.” Chanyeol mengulurkan tangan.

Ae-Cha pun menggenggam tangan kekar pria itu. Dan….BRUKKK

“Ahw…” ringis Chanyeol.

Pria itu ikut tersungkur ketika hendak menarik lengan Ae-Cha.”Hahahaha…” Chanyeol tertawa lepas. Ae-Cha tertegun melihat tingkah pria itu. Kenapa? “Aku berniat menolongmu, malah ikut terpeleset dan jatuh. Sekarang siapa yang akan menolong kita?” kata Chanyeol masih terkekeh di sela-sela kalimatnya.

Ae-Cha ikut terkekeh setelah mengdengar penuturan pria itu. Benar juga. Ia baru sadar jika tawa si kuping yoda itu bisa menular. Sedikit melegakan. Batinya bersuara. Chanyeol bangkit dan berjongkok membelakangi gadis itu, lalu berkata “Naiklah.” titah Chanyeol sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dengan susah payah, Ae-Cha merengkuh pundak lebar pria itu.

“Hai, apa yang kau makan? Kenapa badanmu berat sekali? Tidak berbeda dengan sekarung beras.” celoteh Chanyeol.

PLETAKK…

Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Chanyeol. “Jangan banyak alasan untuk tidak menggedongku. Jalan saja kalau kau tidak ingin kusebut ‘pria lemah’. ” dengus Ae-Cha.

Chanyeol meringis setelah menerima perlakukan gadis itu. “Kau yakin, ingin tetap masuk kerja dengan kondisi kaki seperti ini? Ku akan antarkan kau ke rumah sakit, lalu pulang. Bagaimana?” tawarnya.

Shireo! Aku benci aroma rumah sakit. Luka kakiku tidak terlalu parah. Kutempelkan koyo, pasti sembuh. Lagipula, pekerjaanku hanya berdiri dibalik mesin kasir.” Sergah Ae-Cha.

Gadis itu berbohong. Bukan rumah sakit ataupun rumahnya yang membuatnya takut. Jika ia kerumah sakit, lalu pulang ke rumah. Maka ‘jeda’ itu akan menghampirinya kembali. Ae-Cha takut itu.

“Baiklah. Jika itu keinginanmu, aku tidak akan memaksa.” Balas Chanyeol seraya menurunkan gadis itu di depan mini market. “mana kuncinya? Berikan padaku!” lanjutnya. Ae-Cha merogoh tas tangannya. Ia tahu apa yang dimaksud pria itu. Kunci mini market, karena rolling door tempat itu masih tertutup rapat.

“Chanyeol-ah…” panggil seorang gadis berseragam SMA yang ada di tepi jalan.

Chanyeol menoleh. Ck…gadis itu. Gerutunya dalam hati. “pergilah, temui pacarmu itu. Dan terimakasih y.” Kata Ae-Cha sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Chanyeol menurut, walaupun sesungguhnya ia enggan. Ia menghampiri Nami setelah membantu Ae-Cha membuka rolling door.

 

***

 

“mau apa lagi kau menemuiku?” tanya Chanyeol ketus.

“Chanyeol-ah, dengarkan penjelasanku dulu!” rengek Nami.

Penjelasan? Masih berani dia mengatakan itu? Setelah semua bukti terungkap. Sejak pertama bertemu dengan Nami, Chanyeol dengan tulus menyukai gadis itu, bahkan menyayanginya. Semua perhatian Chanyeol diberikan kepada gadis itu. Mengira bahwa Nami merasakan apa yang dirasakan Chanyeol. Tapi dugaan itu salah. Rasa suka, sayang dan perhatian Nami…bukan hanya untuk Chanyeol. Chanyeol seperti orang tolol saat mengetahui itu. Lebih tolol dari seseorang yang mencari jarum di tumpukan jerami.

”pergilah…!” ucap Chanyeol lemah.

jeongmal mianhae, berhentilah mengacuhkan ku, eoh?”

Chanyeol memutar bola matanya. Rahangnya mengatub. Anak SMA yang masih suka merengek?! Ya benar, itu kau Nami. Untuk kali ini Chanyeol sependapat dengan Ae-Cha. Kemarin-kemarin…Chanyeol bersi keras menyangkal julukan itu. Tapi sekarang…kata ‘pantas’ lah yang melintas dipikirannya.

“Taksi!” teriak Chanyeol sambil melambaikan tangannya. Mobil bercat biru itu segera menghampiri Chanyeol. ”silakan pergi.” Lanjutnya setelah ia membuka pintu belakang taksi itu. Nami menggeleng. oh, sungguh bukan itu jawaban yang di inginkan Chanyeol. Nami, mengertilah! “jika kau tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi.” Gertaknya dengan suara yang meninggi.

“jangan! Sekarang Aku mengerti. Kau pasti sangat marah padaku. Melihat wajahku saja, rasanya sulit bagimu. Aku pergi!” balas Nami, lalu masuk kedalam taksi.

Chanyeol memandangi taksi itu. Semakin jauh dan jauh. Kemudian menghilang di tikungan jalan. Itu lebih baik. Rasanya aneh, ia begitu menyukai gadis itu. Dulunya. Setelah itu, ia sangat membenci gadis itu. Apakah perasaan seseorang semudah itu? Berubah lebih cepat daripada lembayung menjadi gelap. “argh…” chanyeol menggeram sambil menendang keras-keras kaleng kosong yang tergeletak ditanah. Bahkan itupun tak cukup.

 

***

 

“tolong bungkus semua ini.” pinta Chanyeol. Ia menumpahkan barang belanjaan-nya di meja kasir. 6 kaleng bir dan 2 bungkus rokok. Ae-Cha yang bertugas sebagai kasir, dengan cekatan menghitung harga barang blanjaan pria itu.

“bukankah kau tidak merokok?” komentar Ae-Cha.

“apa kau pernah dengar, bahwa merokok bisa menghilangkan stres?”

“kudengar memang seperti itu. Lalu?” Respon Ae-Cha yang merasa belum menemukan jawaban dari pertanyaannya.

“lalu cepat bungkus belanjaanku, sebelum aku tambah stres. Arra?”

“apakah gadis kecil itu yang membuatmu stres?” celetuk Ae-Cha.

Chanyeol mendelik. Nami kah? Ah, tidak salah lagi. Hanya Ae-Cha yang menyebut Nami ‘gadis kecil’. Sebenarnya murid SMA, bukan alasan yang logis bagi Ae-Cha untuk menyebutnya ‘gadis kecil’. Hemz…entahlah. Ae-Cha berspekulasi bahwa murid SMA identik dengan ‘gadis kecil’. Mungkin karena sikapnya. Bisa saja.

“Ya, dia menghianatiku.” Ungkap Chanyeol.

Bukan tanpa alasan Ae-Cha menebaknya. Ia yakin ada yang tidak beres antara sejoli itu. Terlihat jelas dari sikap mereka ketika saling bicara di tepi jalan tadi pagi. Nami yang berlinang air mata dan Chanyeol memasang ekspresi paling acuhnya. Apa lagi, jika bukan pertengkaran?

“oh seperti itu.” Balas Ae-Cha singkat.

“aish dasar wanita, seharusnya aku tidak perlu mengatakannya.” Geram Chanyeol yang merasa disepelekan.

Kebanyakan wanita akan merespon dengan dramatisir jika dia mendengar cerita yang menyakitkan ataupun menyenangkan. Namun tidak berlaku untuk Ae-Cha. Dia ibarat air tenang dan sangat dingin. Kalaupun dia mendapat undian satu unit mobil, mungkin dia hanya akan mengatakan ‘oh’.

“semuanya 9500 won. Cepat bayar, lalu hilangkan stres mu.”

“hah, dompetku tertinggal di ruko. Kau saja dulu yang bayar.” Respon Chanyeol lalu melengos begitu saja.

“ck…kau satu-satunya pelanggan yang seperti itu.” Gerutu Ae-Cha.

“Ae-Cha…” panggil Chanyeol yang masuk kembali ke dalam mini market.

wae? Apakah ada yang tertinggal?”

anii, bagaimana keadaan kakimu?” chanyeol malah balik bertanya.

“eoh? Sudah lebih baik.” Jawab Ae-Cha sedikit bingung.

Setelah mendengar jawaban gadis itu, Chanyeol melengos lagi. Ae-Cha tersenyum masam sambil menggeleng lemah. Ada ya pria seperti itu? Di saat dirinya punya banyak masalah, masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain. Pikirnya.

 

***

 

Chanyeol melempar sebuah tongkat dengan panjang 20 cm dan diameter 5 cm. Taz segera berlari mengikuti arah lemparan tongkat itu. “Taz, kau sangat pandai.” Puji Chanyeol sambil mengelus-elus puncak kepala Taz, setelah Taz kembali kepadanya sambil menggigit tongkat itu. Taz adalah hewan peliharaan pemilik toko sepatu yang kebetulan bersebelahan dengan ruko Chanyeol. Ia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Taz, walaupun hanya beberapa menit. Baginya Taz adalah anjing Beagle paling menggemaskan, dengan tinggi 28 cm, berat 10 kg, mata berwarna coklat, telinga panjang dan warna kombinasi yaitu kuning kecoklatan, hitam dan putih.

Sebenarnya kau baik Chanyeol-ah, tapi tidak kasat mata. Karena kau melakukannya dengan cara yang berbeda. Saking baiknya…wanita itu menjadi tidak segan padamu. Sehingga dia bertingkah seenaknya. Batin Ae-Cha seraya memperhatikan Chanyeol dari balik jendela mini market.

“eh…dia datang.” gumam Ae-Cha yang melihat Chanyeol berjalan ke arah mini market.

Pria itu masuk ke mini market, lalu mengambil beberapa kaleng minuman soda.

“hai, kenapa kau menyimpan kembali belanjaanku?” tanya Chanyeol heran. Ae-Cha tak bergeming. Ia mengambil beberapa botol jus buah dan susu, serta roti. “sudah 2 minggu lebih kau selalu meminum soda drink, itu tidak baik untuk kesehatanmu. Minumlah ini.” kata Ae-Cha sambil menyodorkan jus buah dan susu. “roti itu bonus untukmu.” Sambungnya.

Chanyeol tertegun. Ia menyisihkan rasa egoisnya. Dan berfikir bahwa ucapan gadis itu ada benarnya. Soda drink, bir dan rokok. Sudah hampir sebulan ia sering mengonsumsi mereka. Ia lupa dampak buruk yang ditimbulkan mereka, jika saja gadis itu tidak mengingatkannya.

“baiklah, berapa harga semua ini?” kata Chanyeol akhirnya.

“5000 won.”

Pria jangkung itu keluar mini market dengan menjingjing belanjaannya. Beberapa detik kemudian…

“Ae-Cha.” Panggil Chanyeol yang melongok di pintu masuk mini market.

“ya?”

“sepulang kerja, apakah kau ada acara?”

“tidak ada, kenapa?”

“temani aku jalan-jalan ya?!” kata Chanyeol dengan nada bertanya, tapi terselip juga nada yang memaksa.

 

***

 

“yaaa….Chanyeol-ah! Berhenti! Aku tidak ingin ikut denganmu ke neraka.” Teriak Ae-Cha.

“jangan cerewet! Berpeganganlah yang erat.” Balas Chanyeol.

Ae-Cha mempererat tangannya yang melingkar di pinggang pria itu. Sementara Chanyeol terus menarik gas motor 500 cc-nya. Jalan-jalan apanya? Ini namanya kebut-kebutan! Ck…Chanyeol kau menyebalkan. Berani-beraninya kau membuatku senam jantung. Omel Ae-Cha, namun Suaranya tertelan kecepatan angin.

Waktu menunjukan pukul 12, tepatnya lewat tengah malam. chanyeol menginjak tuas rem motornya di tengah Banpo Bridge. Tempat itu dikenal sebagai jembatan yang melintas sepanjang sungai Han di Seoul. hembusan angin malam menelusup, menembus pori-pori, lalu menyerap sampai ke tulang. Namun Chanyeol dan Ae-Cha tak bergeming karenanya. Mereka malah semakin larut dengan malam. berbaur dengan malam, hanya untuk sekedar menyapa.

“hah…tempatnya cocok sekali.” kata Chanyeol sambil berjalan ke bibir jembatan.

“cocok untuk apa?” tanya Ae-Cha, lalu mensejajarkan dirinya dengan Chanyeol.

“untuk menghanyutkanmu…” celetuk Chanyeol.

Mata Ae-Cha membulat. Mulutnya terbuka, hendak mengoceh.

“HAHAHAHA….” tawa Chanyeol pecah, yang sukses mencegah omelan gadis itu. “wajahmu berubah pucat seketika, kau takut ya? Tenang saja, aku hanya bercanda.” Sambungnya lagi, lalu memamerkan deretan giginya.

Ae-Cha tersenyum masam. “hah…aku tau. Itu adalah kebiasaan permanenmu.” Dengusnya. Ae-Cha melempar pandangannya ke sungai, dimana ia temukan riakan air yang mengalir mengikuti arus. Ingin rasanya ia menjadi bagian dari air itu. Yang tahu kemana harus mengalir, menerjang badai tanpa takut terbentur jangkar.

“aku sudah melupakan rasa sayangku kepada Nami. Tapi rasa benci ku padanya masih ada. Rasanya mengganjal dan aku kehabisan cara untuk menghilangkannya.” Suara berat Chanyeol menarik Ae-Cha dari lamunannya yang semakin dalam.

“ternyata pisau dapur-ku lebih tajam dari otakmu ya.” Kata Ae-Cha sambil memicingkan matanya. “Sebenarnya masih banyak cara, hanya saja kau yang mudah menyerah untuk menemukan caranya. Mau ku tunjukan salah satunya?”sambungnya lagi.

Alis Chanyeol terangkat. Marah karena ia dibandingkan dengan pisau dapur? Atau penasaran dengan cara yang ingin ditunjukkan gadis itu?

Ae-Cha menghirup napas dalam-dalam, lalu bersiap menumpahkan suara paling kerasnya…”suho-ah, aku membencimu. Kau tega sekali melukaiku dengan cara seperti ini!!!” teriaknya ke udara. Napasnya tersengal-sengal. Namun itu bukan masalah untuknya. Yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa lega di hatinya. “cobalah.” Katanya sambil tersenyum. “oh iya, satu lagi…jangan tanya kenapa aku membenci Suho.yang jelas, aku tidak bersamanya lagi. Jadi mulai detik ini, kau berhenti mengejeknya. Karena aku tidak berurusan lagi dengannya. Arra?”

 

“HAAAI…AE-CHA SI YEOJA CEREWET…” teriak Chanyeol terputus.

Ae-Cha mematung sambil menatap lekat pria itu ketika mendengar teriakan itu. Dengan tatapan yang mengatakan ‘apa maksudmu?’

“AKU MENYAYANGIMU…” teriak Chanyeol lagi.

Napas Chanyeol memburu. Senyumnya mengembang. Sekarang ia merasa lebih baik. Walaupun hanya gadis itu yang mendengarnya, ia merasa sudah meneriakannya kepada dunia. Dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan.

Mengenai Nami? Chanyeol berhasil melenyapkan nama dan lukisan gadis itu dari pikirian dan hatinya. Ae-Cha adalah alasannya. Gadis itu telah meleburkan Nami dari kehidupan Chanyeol.

Awalnya Chanyeol menganggap Nami seperti bulan yang bersinar paling terang di tengah kegelapan. yang selalu ia kagumi dan dambakan. Itu hanya awalnya, karena pada akhirnya…bulan itu tidak nampak kala pagi menjelang. Bulan bukanlah yang paling indah. Tapi bintang-lah segalanya. mungkin,  ia hanya secercah cahaya yang berkelip di malam hari. Namun ia akan tetap bercahaya sepanjang hari. Tanpa takut cahaya itu redup. ‘you  are my star Ae-Cha’  Chanyeol.

 

“YAAA…PARK CHANYEOL SI KUPING YODA YANG MENYEBALKAN…AKU JUGA MENYAYANGIMU…” Ae-Cha balas berteriak.

Ae-Cha tidak tahu sejak kapan perasaannya ‘berawal’. Dan ia tidak ingin tahu. Ia takut perasaan itu ‘berakhir’. Jadi tetaplah seperti ini. biarkan arus yang mengantarkannya ke muara.

 

~THE END~

3 tanggapan untuk “Oneshoot – STAYING IN LOVE”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s