Love is Like a Snowflake ~ Nidhyun

heart-love-promise-you-and-i-Favim.com-258686

Title     : Love is Like a Snowflake

Genre  : Romance, fluff

Main Cast: Ariel Lau, Lu Han

Length : Ficlet

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

***

Ariel Lau kembali mengaduk isi mug nya, teh manis panas. Seperti sore-sore lainnya, sama seperti ketika ia remaja dulu, duduk di tepi jendela sambil menikmati teh manis panas, menonton hujan deras yang turun dan menari-nari menuju tanah, menggoda mata Ariel untuk terus memperhatikannya. Ada musik halus yang mengalun di telinga Ariel, ia tidak terlalu ingat kapan lagu ini keluar dulu. ia hanya ingat ia mendownload lagu ini karena jatuh hati pada suara halus gadis yang sedang bernyayi itu, judulnya I Have To Forget You. Soundtrack sebuah drama korea yang terlalu…menyedihkan.

“Namanya Wendy, Wendy Son. Saat itu dia belum resmi debut, baru sebagai trainee, Rookie dari agensi terbesar di Korea,” Ariel menjauhkan bibir gelas di tangannya dan menatap laki-laki itu serius, laki-laki yang menjadi teman lamanya.

“Dia anggota Red Velvet, kan?” senyum cerah itu tertarik dikedua sudut bibir Ariel. Ia sebenarnya tidak terlalu merasa nyaman dengan kedatangan tiba-tiba laki-laki itu, tapi seperti bernostalgia, ia seperti kembali terlempar pada masa lalunya. Laki-laki itu selalu tahu isi pikirannya, membuatnya selalu nyaman membicarakan apapun.

Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian memutar kepalanya ke arah Ariel, “Kau sangat membenci Seulgi saat itu. Tidak masuk akal tahu,” ledeknya. Ia pun kembali memutar bola matanya ke arah jendela, mengikuti arah pandang Ariel.

“Itu masa lalu, kok,” sangkal Ariel sebelum kembali meneguk teh manisnya yang suhunya mulai turun, “Sekaranga ku tidak lagi membenci siapa pun. Setelah kupikir-pikir itu konyol…”

“Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional…” laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil, “Tapi kau selalu berhasil mengendalikan dirimu. Kau hebat.”

Ariel mengangguk pelan, paham kemana arah pembicaraan ini berlangsung, “Kenapa datang lagi? aku baik-baik saja tanpamu, kok.”

Laki-laki itu hanya mengedikkan bahunya cuek, “Tidak tahu. Tiba-tiba aku ingin mengunjungimu, apalagi saat hujan begini. Hujan itu selalu menggambarkan dirimu,” laki-laki itu kembali tersenyum.

“Aku sudah lama tidak membuat puisi hujan. Menurutmu, apa aku harus mengenang pertemuan kita saat hujan seperti ini?” Ariel mengangkat bahunya dan sedikit memajukan tubuhnya, menurutnya ini penawaran bagus. Membuat puisi untuk teman lamanya.

Laki-laki itu mengibaskan tangannya, “Sok baik sekali. Padahal kau tidak menginginkanku…”

“Shim Chang Min!”

“Oppa…” ralatnya sambil sedikit memelototiku, “Katamu aku lebih tua darimu, tapi kau tidak pernah sedikitpun mencoba menghormatiku. Menyebalkan.”

“Biar saja. Dulu juga aku tidak pernah memanggilmu begitu.”

“Baiklah. Terserah padamu. Jadi, apa yang membuatmu murung kali ini?”

Ariel memundurkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya yang terasa lelah itu ke sandaran kursi di belakangnya. Ia memang tengah banyak pikiran belakangan ini, pekerjaan yang terbengkalai, soal kesehatannya yang membuatnya sulit berkonsentrasi, juga…soal Luhan.

Ya. terutama soal laki-laki yang telah mengikatnya 3 bulan lalu. bahkan, setiap mata bisa melihat sebuah cincin melingkar di salah stau jarinya, bukti bahwa ia memang telah diikat oleh seseorang.

“Kupikir, untuk 3 bulan pertama ini, kami akan baik-baik saja…” Ariel mulai berbicara dengan suara beratnya. ia tidak menangis. Tapi ia merasakan gemuruh luar biasa di dadanya. Selalu seperti ini tiap kali ia membahas masalahnya…

Terutama pada dirinya sendiri.

“Pertengkaran bisa terjadi pada siapa saja, kok,” kata Changmin cuek sambil tetap memandangi hujan. Tidak seperti dulu, Changmin biasanya akan mendekati Ariel dan merangkul gadis itu…

Ariel terdiam. Ia tahu. Tanpa diberitahu ia tahu pertengkaran itu bisa terjadi pada siapa saja, ia dengan Whitney, Henry, Clinton, dan semua orang yang ada dalam hidupnya tak terkecuali Luhan. tapi ini pertama kalinya mereka bertengkar…sampai Luhan dan Ariel saling berdiam diri saat bertatapan. Itu buruk, bukan?

“Apa menurutmu aku terlalu manja padanya?” tanya Ariel sambil menaruh gelasnya di atas meja.

“Sedikit. Lebih cocok disebut…posesif.Kkau tahu, kan, kau memang agak posesif.”

Ariel mengangguk pelan. Meskipun nada Changmin begitu menyebalkan di telinga Ariel, tapi ia tidak akan menyangkal uacapan Changmin itu salah. Ariel memang posesif, tapi ia tidak tahu ternyata ia seperti itu pada Luhan.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Tapi jangan suruh aku minta maaf duluan padanya…” Ariel langsung menunjukkan telunjuknya di hadapan Changmin yang langsung ditepis Changmin.

“Kenapa tidak? Hobimu minta maaf. Membuat 100 surat maaf saja pernah kau lakukan, kenapa kau tidak lakukan itu untuk Luhan, huh?”

Ariel mendesah pelan. Benar juga. Ia memang seperti itu. Tapi…entahlah, ia agak gengsi kali ini.

“Kau tahu tidak? Sebenarnya, pertengkaran kami kemarin membuatku sedikit malu terhadapnya,” Ariel mulai angkat suara lagi. tanngannya mulai meraih bantal yang ada di hadapannya, “Dia cukup tampan, baik, perhatian, pintar, dan bisa melakukan apapun. Dan aku?”

Kali ini Changmin tertarik untuk menoleh ke arah Ariel, sedikit menegakkan bahunya untuk mendengarkan kelanjutan ucapan Ariel.

“Aku tidak cantik, aku tidak pintar, aku menyebalkan, aku posesif, dan aku sakit…kau tahu kekuranganku terlalu banyak.”

Changmin mendesah pelan. Ia pun mendekati Ariel dan menarik tangan Ariel, menggenggamnya erat. Mau tak mau Ariel menjatuhkan tatapan matanya ke arah Changmin.

“Kau dulu selalu mengatakan…kau mencintai seseorang bukan karena kelebihan atau pun kekurangan yang dimiliki olehnya, karena kelebihanmu mencintai kekurangannya, dan kekurangannya menjadi kelebihanmu. Jika itu bisa berlaku untukmu, kenapa itu tidak berlaku untuknya padamu, huh?”

Ariel terdiam. Ia tidak ingat dan tidak benar-benar yakin apakah ia benar-benar pernah berkata begitu atau tidak. Tapi…entahlah. ia bisa melakukan itu karena ia memang mencintai. Ia yang memiliki cinta untuk orang itu…bukan posisi yang dicintai tanpa tahu bagaimana cara orang itu mencintainya. Atau malah, sebenarnya tidak ada cinta untuknya.

“Berhenti berpikiran bodoh! Untuk apa susah-susah dia menikahimu jika dia tidak mencintaimu!” kata Changmin sambil menoyor kepala Ariel.

“Yak! Jangan menoyor kepalaku!”

“Tapi aku benar, kan?”

Ariel mendesah pelan, “Lagipula mana kutahu dia benar-benar seperti itu. Menjadikan kekuranganku sebagai kelebihannya dan kekuranganku dicintai oleh kelebihannya.”

“Kenapa tidak Ariel Lau yang bodoh!”

“Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh!”

“Setiap orang tahu kau bodoh. Sangat bodoh. Dan menyebalkan.”

Ariel mendesis pelan dan menarik gelas teh nya. Dingin. Air nya sudah dingin dan ini menambah rusak mood nya hari ini. Ia pun menarik gelasnya dan segera bangkit, ia berjalan menuju counter dapur untuk mengambil air panas dan kembali menuangkannya ke dalam gelas teh nya.

“Dasar tea holic!” kata Changmin yang sudah duduk di samping Ariel.

“Biar saja! Bukan urusanmu!” ketus Ariel sambil menarik gelasnya, menyentuh bibir gelas itu dengan bibirnya. Dan sialnya, justru rasa hambar yang menyentuh lidahnya.

“Tidak manis!” kesalnya. Tangannya pun terulur menuju toples gula di depannya. Namun belum sempat tangannya berhasil menggapai toples itu, pergerakan tangan Ariel langsung terhenti saat sebuah tangan melingkar di lehernya.

Luhan. ini tangan Luhan.

“Berhenti makan gula banyak-banyak. Kau terlalu sering makan gula belakangan ini. Tidak baik untuk kesehatanmu,” ucap Luhan sambil menjauhkan toples gula itu.

Ariel pun menoleh ke arah samping kanannya, tepat ke arah tempat duduk yang tadi diduduki si menyebalkan Changmin. Dia sudah tak lagi di sana, dia pergi. Entah sesuatu yang bagus atau bukan.

Luhan yang tahu kemana arah pandang mata Ariel, hanya bisa tersenyum kecil…juga sedih. Semua salahnya. Ia yang membuat Ariel lagi-lagi seperti ini. Ia pun mengecup kepala Ariel dan mengambil kursi yang tadi di duduki Changmin, sengaja duduk di sana seolah ia tidak tahu apapun.

“Kau…pulang lebih cepat?” tanya Ariel kaku. Rasanya aneh sekali saat harus tiba-tiba berbicara biasa saja pada Luhan setelah mereka berteriak keras 2 hari yang lalu.

Luhan tidak menjawab, ia hanya menarik gelas teh milik Ariel dan meneguk isinya, “Aku…minta maaf.”

Ariel membelalakkan matanya. Hey, kenapa tiba-tiba laki-laki bermata rusa itu malah meminta maaf padanya?

“Aku salah. Soal dua hari yang lalu, maaf. Aku memang kekanakan,” kata Luhan lagi. ia pun menoleh ke arah Ariel yang masih terlihat linglung. Ini membuat rasa bersalahnya semakin besar…

“Aku janji. Aku tidak akan melakukan itu lagi. kau boleh menghukumku, apa pun itu jika seandainya kau mendapati aku kurang ajar lagi seperti itu.”

“Tapi…”

“Kau tidak minum obatmu, ya? Kau lupa apa yang dokter katakan? Kau tidak perlu melakukannya untukmu, tapi untukku. Bagaimana jika besok kita konsultasi? Aku ada jam bebas.”

“Tapi…”

“Bagaimana jika kau istirahat lebih cepat? Ayo! Biasanya kau sangat suka sekali tidur,” Luhan pun menarik lengan Ariel dan membawanya ke tempat tidur. Seperti biasa, perempuan itu tidak akan banyak melawan jika dia paham Luhan tahu apa yang terjadi pada gadis itu…

Tidak lupa, Luhan juga memberikan obat itu untuk Ariel. Hal yang sellau membuat Luhan khawatir, gadis itu akan menghindari obatnya jika mood nya sedang rusak.

“Sekarang tidurlah. Aku harus menyelesaikan sesuatu, hmm?” Luhan pun mengusap kepala Ariel sebelum beranjak, namun tepat ketika ia berdiri, Ariel menahan tangan laki-laki itu.

“Maaf…merepotkanmu.”

“Hei…sudah kewajibanku. Juga sudah menjadi hak mu, jangan sok sungkan begitu.”

Ariel mengangguk mengerti, kemudian membiarkan tangan Luhan lepas dari genggamannya dan berjalan menuuju daun pintu yang langsung menelannya.

 

***

 

“Dia terlalu banyak pikiran saja. Ini bisa terjadi sewaktu-waktu. Maka dari itu Anda harus memperhatikannya,” ucap dokter di hadapan Luhan. Ariel tidak di sana. Perempuan itu sudah menghilang dan tenggelam bersama halaman rumah sakit yang menurutnya sangat cocok untuknya mencari inspirasi.

“Dan ada satu kabar baik,” dokter yang bergelut daam bidang kejiwaan itu sedikit menarik kedua sudut bibirnya cerah, “Selamat. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah.”

 

***

 

Luhan diam memperhatikan Ariel yang sedang tenggelam dengan gadgetnya. Selalu seperti itu tiap kali ia membaca komentar para pembaca novelnya. Selalu lupa dengan situasi dan berbagai macam gangguan di sekitarnya.

Luhan mendesah pelan. Ia terlalu senang, sepertinya di tiap hembusan napas yang bekerja ada kebahagiaan yang silih berganti mengisi rongga dadanya. Ia tidak peduli dengan penyakit yang dialami gadis itu. Ia juga tidak peduli meskipun dunia memandang sebelah mata padanya…ia berjanji ia akan menjadi satu-satunya yang membelanya, yang berada disamping gadis itu dan menjaga gadis itu di belakangnya.

Dan ia tidak akan membiarkan orang yang hidup dalam bayangan Ariel datang kembali pada Ariel, seperti kemarin…

“Bukan hanya kau yang bisa mencintaiku seperti itu Ariel Lau. Kelebihanku juga mencintai kekuranganmu, dan kekuranganku juga menjadikan kekuranganmu sebagai kelebihanku.”

‘Luhan!” Ariel mengangkat tangannya, melambai ke arah Luhan yang tertangkap basah tengah melamun…atau malah gadis itu tidak sadar sama sekali.

“Kau kenapa? Kenapa malah diam disini?” tanya Ariel sambils edikit memukul lengan Luhan pelan, cara bercanda yang sempat tidak disukai Luhan. tapia khirnya ia terbiasa juga.

“Ayo pulang. Aku lapar…”

“Kau tidak ingin mendengar apa pun? Aku punya kabar bagus…”

Ariel menautkan alisnya bingung. Kabar baik apa? Ia bisa berhenti minum obat? Ia sembuh total? Oh, mustahil…

“Kau akan menjadi calon ibu, dari anakku…Ariel Lau.”

 

=END=

20150201 PM1030

12 tanggapan untuk “Love is Like a Snowflake ~ Nidhyun”

  1. Hai penulis, salken yak aku saras, mau komen ttg cerita kamu mnurut pandanganku..

    Title (2/5)
    Love is like snowflake. Langsung keinget junsu. Aku pribadi suka sama lagunya. Aku kira ini bakalan jafi songfic ternyata ngga ya.. Trus judul sama isinya rada ga nyambung juga. Mungkin ada alasan tersendiri mengapa memberi judul ini but i dont got it.

    Poster (4/5)
    Pemilihan gambarnya pas sih aku suka. Terus kalimat di gambarnya juga menggambarkann ceritanya banget. Gooood!

    Plot, flow (3/5)
    Jalan ceritanya runtut, awalnya ga sadar kalo ariel gila. Tapi walaupun ga dijelasin secara gamblang ttg kondisi ariel, pembaca bisa menebak2 siapa channgmin itu.

    Characterization (3/5)
    Lebih condong ke Luhan menurutku karakterisasinya. Dia sayang istrinya apa adanya. Sabar ngadepin ariel. Soalnya klo dri ariel sendiri karakternya masih ambigu karna dia rada gelok..

    Spelling, diksi (3/5)

    Diksinya rada berat tapi enak dibaca. Aku suka.
    Terus typo-nya ada, sebagian besar di dialog sih ..
    Aku ambil contoh satu ya, “Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional…” laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil,

    Kalau sehabis dialog menggunakan kata kerja, yang harus digunakan setelah dialog adalah huruf kapital, dan sebelum tanda petik penutup itu menggunakan tanda baca koma. Tapi kalau setelah dialog menggunakan kata selain kata kerja, huruf awalnya kapital. Jadi seperti ini,
    “Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional…” Laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil,

    Overall (8/10)
    Dari segi cerita bagus. Diksi bagus dan pejukisan rapi. Udah si iti aja.. Keep writing buat penulisnya…

  2. Hai hai hai, Chang Nidhyun. Terima kasih atas suguhan ceritanya ya. :3

    Sharing yuk. Aku ada saran yang harus kamu pikirkan dan pelajari. Tapi aku ambil sebagian aja ya. Karena banyak, jadinya takut kalo ngga pas dan malah komentarnya kepotong. Kan eman. :3

    Seperti sore-sore lainnya, sama seperti ketika ia remaja dulu, = coba salah satu kata “seperti” dihilangkan terus diganti dengan “layaknya” atau “bagai” atau “bak”. Biar kesannya luas gitu lho kalau diksinya beragam. :3

    keluar dulu. ia hanya ingat ia mendownload lagu ini karena jatuh hati pada suara halus gadis yang sedang bernyayi itu, = keluar dulu. Ia hanya ingat ia men-download (kata download tolong di-italic yah) lagu ini karena jatuh hati pada suara halus gadis yang sedang bernyayi itu,

    Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian memutar kepalanya ke arah Ariel, “Kau sangat membenci Seulgi saat itu. Tidak masuk akal tahu,” ledeknya. = Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian memutar kepalanya ke arah Ariel. “Kau sangat membenci Seulgi saat itu. Tidak masuk akal tahu,” ledeknya.

    “Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional…” laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil, “Tapi kau selalu berhasil mengendalikan dirimu. Kau hebat.” = “Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional… .” Laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil. “Tapi kau selalu berhasil mengendalikan dirimu. Kau hebat.”

    Dan banyak banget kasus EYD pada penulisan berdialog kayak gini. Jadi kalimat penjelas sebelum maupun sesudah dialog, jika merupakan penjelas dialog-nya bukan penjelas tindakan, maka diberi tanda koma (kalo dalam bentuk pernyataan). Kalau menjelaskan tingkah si tokoh, memakai tanda titik (kalo dalam bentuk pernyataan).

    Dan kasus yang kedua adalah elipsis (…). Ini kasusnya (…) di tengah kalimat. Jika di akhir kalimat menjadi (….). Contoh: “Maksudku … bukan begitu ….” boleh juga begini, “Maksudku… bukan begitu….”
    Tapi suka-suka penulisnya mau diberi spasi atau enggak. :3

    Tangannya pun terulur menuju toples gula di depannya. = dalam KBBI “stoples”, fyi. :3

    Ngomong2, si Chang Min itu temen tapi udah meninggal terus si OC jadi punya sakit jiwa, atau si OC udah punya sakit jiwa dari dulu, terus dia membentuk bayangan Chang Min sendiri? Aku masih penasaran. O.o

    Terus ceritanya dirata kanan-kiri ya kalau mau nge-post, biar tambah rapih. :3

    Lalu, soal judul … kenapa harus “Cinta seperti Butiran Salju”?
    Di saat menurutku dalam cerita ini ditekankan bahwa “Kelebihanku juga mencintai kekuranganmu, dan kekuranganku juga menjadikan kekuranganmu sebagai kelebihanku”
    Kalau misalnya ada pengandaian, bisa diungkap di akhir cerita kan? Misal: Cinta itu seperti butiran salju yang begini, begini dan begini. Seperti Cinta Luhan yang begini, begini dan begini kepada Ariel. Jadi jelas kan? Dan maaf, aku ngga bisa kasih opsi untuk judulnya. Karena aku ngga ngerti keinginan penulis kayak gimana. :3

    Cukup untuk sharingnya. Kutekankan lagi, apa yang aku tulis di atas, bisa diambil bisa juga diabaikan. Tergantung penulis. Semangat yah!! ^^

    Salam kasih,
    WhitePingu95

    1. Hallo ^^ pertama tama makasih banyak buat kritik dan sarannya ^^ boleh aku bahas juga beberapa gak? Hehe

      “Seperti sore-sore lainnya, sama seperti ketika ia remaja dulu, = coba salah satu kata “seperti” dihilangkan terus diganti dengan “layaknya” atau “bagai” atau “bak”. Biar kesannya luas gitu lho kalau diksinya beragam. :3”
      Menurut aku, cerita itu nggak harus melulu yang diksinya semanis diksi puisi. Kecuali kalau drabble atau monolog, atau kalau di genre tertentu, aku biasanya bakalan pilih diksi diksi gitu, tergantung isi ceritanya. Makin mendayu dayu, atau ditaruh di satu POV, baru dikasih kayak gitu diksinya. Cuma khusus untuk cerita ini aku emang sengaja nggak terlalu di…apain ya namanya? Ya diperluas gitulah diksinya. Aku emamg sengaja bikin ff ini simpel gini aja, karena momennya emang “simpel” hehe…

      Terus…yang masalah titik titik juga, di pelatihan Kampus Fiksi yang diadain Divapress, rektornya (?) Bilang kalau titik titik disitu bisa tiga maupun empat (kalau di akhir kalimat) kecuali kalau di tengah 😆 maaf kalau salah juga, karena aku ngikutin apa kata si ayah rektor waktu itu hehe, atau mungkin aku yang salah juga 😆

      Terus, kenapa dikasih judul “Love is like a snowflake”, judul ini terinspirasi dari judul lagunya Junsu, judulnya sama kayak gitu. Dan Junsu bilang, ini penggambaran perasaan Song Joong Ki (di drama Imnocent man) ke Moon Chae Woon. Dimana, katanya Joongki bisa megang saljunya, tapi pas digenggam malah cair (artinya gak bisa digenggam), perasaan Joongki ke Chaewoon kata Junsu juga bgitu.

      Tapi karena aku suka salju, makna kias si salju ini aku ubah : saljunya bukan cuma untuk digenggam kok, tapi biat dirasain. Bukan cuma dinginnya, tapi semua tentang winter yang ada saljunya. Artinya ‘semua momen yang berkaitan kayak salju’. 😆

      Aku emang sengaja nggak ngejelasin dari isi cerita ke judul, juga alasan kenapa nggak dijelasi Ariel ini kenapa 😆 biar readers aja yang bikin pendapatnya sendiri ^^

      Thank u ^^

      Nah begotulah…thank u very much ^^

    2. Duh suka Innocent Man juga ya?
      Ooo gitu, soalnya aku sendiri kalo cerita simpel pun pakenya diksi beragam sih. Biar ngga ada pengulangan. Tapi selera juga sih, tergantung yang nulis. XD
      Yang elipsis itu ya? Aku lupa udah komen apa aja btw :v
      Dan baru ngeuh kalo Love is Like a Snowflake itu judul lagu. Padahal aku suka nonton Innocent Man dulu :’v
      Oke, nambah pengetahuan lagi. XD

  3. Duh baca ff ini bikin aku keinget sama luhan.
    Tapi baca ff ini bikin aku bisa nginget jaman luhan masih di exo.
    Baca ff ini bikin aku terbawa alurnya sampe enggak sadar kalo ff ini udah abis, huhuhu enggak kerasa udh sampe ending ff.
    Pokoknya disarankan untuk membaca ff ini wkwk :))

  4. WOAH AKU SUKA FFNYA♥ karakternya Ariel leh ugha wkwk

    Aku mau kasih saran nih thor, di kalimat tadi aku nemu kata “mug nya”, “teh nya” menurutku lebih bagus ‘nya’ digabung aja, soalnya kan dia nyatain kepemilikan.

    Terus yg kata “mendownload” itu kan bahasa asing ya, di italic aja, atoga kalo mau yg lebih ke indo(?)an pake kata “mengunduh”. Dan tadi aku liat pas bagian “–terlalu…menyedihkan” ini gatau typo apa sengaja ga spasi setelah titik2 tadi mueheeee

    Saran aja sih thor kalo kata bahasa asing dikasih italic, kayak td aku nemu ‘rookie’, ‘trainee’, ‘mood’ dll. Ada typo beberapa tapi gapapa, saya sama sekali gak terganggu kecuali hampir semua typo wkwk

    Buat kata “kan” juga, dari yg pernah saya baca, harus dikasih tanda petik (‘) dulu kayak; “Tapi aku benar, ‘kan?”

    Kalo buat ceritanya aku lumayan tertarik, cuma masih bingung Ariel punya penyakit apa. Semacam halusinasi bkn si? Wkwk changmin itu beneran ada apa burem(?) apa cuma halusinasi soalnya tadi Luhan kek tbtb sedih liat arah pandangannya Ariel mueheee

    Juga kan judulnya love is like a snowflake, cuma kok aku ga nemuin kata salju atau gak ada setting lagi bersalju. Mungkin semacam kiasan kali ya, cuma ada bagusnya diperjelas aja dalem ficnya biar kayak ada kaitannya gituuuu

    Endingnya oke, karena saya adalah pendukung tim ‘Hepi Ending’ jadi saya suka fic ini♥

    1. Hai Farah ^^ pertama thanks banget saran dan juga kritik yang kamu kasih hehe ^^ btw, yang titik titik itu sengaja gak dispasi karena kalo di spasi titiknya harus empat. Dan kalu dikasih titiknya empat, berarti misah kalimat, tapi ini aku buat masih dalam satu kalimat hehe…Setau saya sih gitu… 😆

      Terus, kenapa dikasih judul “Love is like a snowflake”, judul ini terinspirasi dari judul lagunya Junsu, judulnya sama kayak gitu. Dan Junsu bilang, ini penggambaran perasaan Song Joong Ki (di drama Imnocent man) ke Moon Chae Woon. Dimana, katanya Joongki bisa megang saljunya, tapi pas digenggam malah cair (artinya gak bisa digenggam), perasaan Joongki ke Chaewoon kata Junsu juga bgitu.

      Tapi karena aku suka salju, makna kias si salju ini aku ubah : saljunya bukan untuk digenggam kok, tapi biat dirasain. Bukan cuma dinginnya, tapi semua tentang winter yang ada saljunya.

      Nah begotulah…thank u very much ^^

    2. Haiii kak! Wah aku baru dapet notifnya ini mueheeeeee

      Iyasih guruku soalnya pernah bilang kalo titik-titik itu katanya sama aja kayak ada bagian yang kosong gitu makanya kadang aku kalo bikin fic jarang pake titik2 banyak heee

      Woaahhh aku makanya gangerti kalo gak dikasih tau ini wkwkwk tapi keseluruhan ceritanya aku sukaaa wkwk

      Semangat terus yaaa kak!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s