When Kim Nana was Crying

Untitled-1 copy

When Kim Nana was Crying

Keyo’s Present

Oneshoot

Park Chanyeol | Kim Nana (OC) | Byun Baekhyun | and others

Romance | School life | failed comedy

A.N : FF pertama di 2016 !!!! Ini ceritanya waktu aku curhat sama temen cowok masalah baper dan dia jawab kek gini.-.

Jadi ceritanya aku berpihak sama cowok buat kali ini kkk~

So happy reading~

Warning: I own the plot and OC. Chan and Baek are belong to God, their family and their management.

 

 

 

Seoul High School rooftop, 10th December 2016, 04:10 pm

“….aku…menyukaimu, Chanyeol” Chanyeol terkejut. Ia sungguh tertegun dengan keberanian gadis ini. Tapi menyatakan perasaannya langsung? Ini bukan berani. Ini nekad!!

“Terimakasih, tapi maafkan aku…” kata maaf Chanyeol sukses membuat warna kemerahan dipipi gadis itu menghilang seiring dengan tatapan bulatnya.

“…aku tidak bisa,”

“…aku…”

Gadis itu hancur. Chanyeol sempat melihat matanya yang berkaca sebelum akhirnya gadis itu menjauh.

Untuk kesekian kalinya, Park Chanyeol. Membuat sungai di pipi anak gadis orang. Hanya dengan kata maafnya yang belum ia jelaskan.

===

Chanyeol sadar ada yang salah. Dari pertama ia menampakkan diri di gerbang sekolahnya sampai sekarang ia duduk dibangkunya. Puluhan, tidak….mungkin semua. Semua gadis disekolah ini menatapnya. Chanyeol mengerti. Ia tahu ia memang cukup populer. Ia tahu ia cukup tampan. Tapi apakah sekarang menatap seseorang dengan tajam itu sedang menjadi tren?

“Hoi, Yeol!!”

Suara nyaring itu. Tidak dapat dipungkiri Chanyeol mengenal sangat suara khasnya. Chanyeol melihat kearah pintu kelasnya. Kearah Baekhyun yang sekarang sudah berjalan cepat kearahnya.

“Baekhyun, aku –“

“Ssssttt……jangan banyak bicara dan sekarang jelaskan apa yang terjadi!!” laki-laki imut didepannya menatapnya menuntut. Dan Chanyeol? Ia membalas tatapan Baekhyun dengan tatapan bingung. Seharusnya dia yang diberi penjelasan. Bukan yang menjelaskan. Telinga laki-laki ini pasti dengan sigap mencari informasi kesegala arah sedari pagi. Jadi tidak mungkin tidak ada berita yang ia lewatkan.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa semua perempuan menatapku begitu?” Chanyeol mengendikkan dagunya kearah segerombolan gadis yang –lagi- menatapnya. Kali ini tatapannya berbeda. Rasa benci dicampur rasa jijik.

Baekhyun mengikuti arah dagu Chanyeol kemudian menggeleng tidak percaya.

“Kau ingat Nana?”Chanyeol mengerutkan keningnya disusul kepalanya yang menggeleng. Namanya terasa tidak asing tapi agak samar di otak Chanyeol.

Dan lagi, Baekhyun memutar bola matanya tanda kesal.

“KIM NANA!!! GADIS YANG KAU TOLAK TEMPO HARI, DI ATAS GEDUNG SEKOLAH, DENGAN LATAR MATAHARI TERBENAM DIANTARA HEMBUSAN ANGIN MUSIM DINGIN. JAM 4 SORE SAMPAI JAM 4.30 WAKTU KOREA SELATAN!!!!”

Chanyeol membentuk huruf ‘O’ dengan mulutnya. Sekarang ia ingat. Gadis mungil mirip boneka yang waktu itu menyatakan perasaannya. Dan coba tebak, suara Baekhyun sukses memancing orang-orang yang menatap Chanyeol bertambah.

“Jadi?”

“Jadi? Jadi apa?”

Mereka berdua hening, saling tatap dengan pertanyaan yang menggantung. Bergantian mengedipkan mata dalam diam. Sampai akhirnya Chanyeol sadar melakukan sesuatu yang bodoh.

“Maksudku, jadi apa yang membuat mereka menatapku begitu?”

“Masih tidak mengerti?”

Chanyeol mengangguk polos, karena memang ia tidak tahu apa-apa. Chanyeol tidak merasa melakukan apa-apa.

“Si Nana yang cantik itu. Kau membuatnya menangis. Kau tahu sebanyak apa temannya?”

“Memang kenapa? Aku juga punya teman. Aku punya kau, aku punya Kai, aku punya Suho Hyung –“

“Bodoh!!” Baekhyun menghentikan Chanyeol yang berbicara dengan pukulan ‘ringan’ di kepala Chanyeol dengan buku Biologi. Baekhyun mendekatkan kepalanya ketelinga Chanyeol. Membuat rambut halus ditangan Chanyeol berdiri karena Baekhyun juga menghembuskan nafas di telinganya.

“Mereka berencana melakukan penyerangan,”

“Penyerangan?”

“Iya. Aku tidak tahu persisnya kapan. Tapi aku yakin dalam waktu dekat ini. Dan kau tahu? Teman-teman Nana, semuanya atlet,”

Chanyeol diam. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit “Kurasa aku harus menelpon Zitao,”

===

“Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk –“

Chanyeol menggeram. Ini panggilan kesekian dan Zitao belum bisa dihubungi. Ada dua kemungkinan, orang itu sedang sakit dirumah, atau dia meninggalkan ponselnya dirumah. Ia butuh Zitao. Dia adalah pertahanan satu-satunya yang Chanyeol punya jika nanti dia diserang tiba-tiba. Dan sekarang, disaat Chanyeol benar-benar membutuhkannya, orang itu menghilang. Tidak, bukan orang itu saja, bahkan Baekhyun dan Kai juga ikut-ikutan menghilang. Atau mungkin, sengaja menghilang.

“Baiklah, aku ke kelasnya saja,” Chanyeol memberanikan diri keluar dari kelasnya setelah hampir seharian berlindung dikelasnya. Dia harus berani, ia mempersiapkan rencana terbaik diotaknya sebelum ia melangkah keluar. Jika nanti dia bertemu sebelum sampai dikelas Zitao, dia akan lari, melawan, atau mencoba jalan damai.

Langkah pertama, Chanyeol memperhatikan sekitar. Semua normal dan Chanyeol mulai percaya diri melangkah ke kelas Zitao.

“Sepertinya Baekhyun salah informasi. Hahaha…”

“Hey, Park Chanyeol,”

Chanyeol berhenti melangkah. Tepat dibelokkan terakhir menuju kelas Zitao. Suara itu, terdengar biasa saja. Tapi bagi Chanyeol, ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dengan gerakkan perlahan dia membalikkan tubuhnya. Disana, ia melihat sekumpulan gadis berpakaian olahraga yang tersenyum sinis kearahnya. Dan sayangnya, rencana Chanyeol untuk lari gagal karena kakinya mendadak lemas.

“Kau harus tanggung jawab,”

Chanyeol tahu kemana arah pembicaraan ini. Baekhyun tidak salah informasi. Ia memang akan diserang, dan inilah saatnya.

“Untuk apa?” Chanyeol menatap sengit salah seorang gadis yang tadi berbicara masalah tanggung jawab padanya.

“Jangan pura-pura bodoh! Kau tahu ‘kan apa yang kau lakukan pada Nana? Dasar laki-laki kurang ajar!” Kali ini gadis dengan seragam baseball yang berbicara. Chanyeol mengelus dadanya. Gadis ini luar biasa, dalam satu kali bicara sudah mengatainya dua kali. Bodoh dan kurangajar.

Chanyeol menarik nafasnya dalam-dalam. Masalah ini harus diluruskan. Cara kedua, jalan damai.

“Hufttt.. Baik sekarang biarkan aku menjelaskan semuanya –“

“TIDAK PERLU! NANA SUDAH MENJELASKANNYA! KAU JAHAT! DAN ITU SUDAH TIDAK PERLU DIJELASKAN LAGI!” bertambah lagi cacian untuk Chanyeol.

“Kau, seharusnya tidak kasar pada wanita! Apa begitu caramu memperlakukan Noona dan ibumu?” sekarang giliran gadis ekor kuda yang berbicara dengan mata berapi-api. Chanyeol tersentak. Sedikit tersinggung karena gadis ini menyinggung ibu dan noonanya

“Aku tidak kasar pada Nana! Aku hanya – “

“Kalau kau tidak kasar, lalu kenapa Nana menangis?”

Lagi, Chanyeol menarik nafasnya dalam-dalam. Perlu kesabaraan lebih untuk menghadapi gadis-gadis yang secara serempak salah paham ini.Sebesar itukah pengaruh Kim Nana?

“Itu mungkin karena Nana terlalu lembut,”

“KAU MENGATAI NANA LEMAH?!”

Chanyeol menepuk dahinya dengan telapak tangannya. Chanyeol tidak boleh salah bicara lagi. Salah sedikit, dia akan mati konyol karena di hajar gerombolan gadis yang dipenuhi dendam dalam keadaan salah paham.

“Baiklah. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku yang bodoh, kurang ajar, dan jahat ini sudah menyakiti hati seorang gadis cantik yang baik hati dan lemah lembut. Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan?” Chanyeol memilih rencana selanjutnya. Mengalah. Sebelum gadis dengan seragam Taekwondo dibelakang sana berbicara dengan ‘caranya’.

“Seharusnya kau tidak membuatnya jatuh hati. Kalau kau hanya akan membuatnya sakit hati dan meninggalkannya. Kalau kau memang tidak menyukainya, seharusnya jangan dekati dia, biarkan dia bahagia tanpamu. Bahagia dengan caranya. Jangan membuat wanita menangis dengan mudah. Kalian laki-laki memang semuanya sama! Mendekati seorang gadis hingga kami menyukai kalian lalu membuang kami ketika kami sudah menyukai kalian,”

Chanyeol hampir tertawa terbahak-bahak. Cara gadis berponi itu menyampaikan opininya sangat menakjubkan. Dia berbicara seolah-olah Chanyeol dan para kaum laki-laki didunia ini adalah kesalahan terbesar. Dan bumbu airmatanya membuat semua kata-katanya terdengar menusuk dan terasa benar. Tapi Chanyeol, menolak semua pernyataannya.

“Bolehkah aku bicara sekarang? Tapi berjanjilah kalian tidak akan memotongnya seperti sebelum-sebelumnya,” mereka diam. Chanyeol anggap diam itu artinya iya.

“…Kim Nana, dia gadis yang baik, sungguh. Aku pasti akan menerimanya kalau saja tidak ada gadis lain dihatiku….”

“JADI KAU MENGKHIANATI GADIS LAIN JUGA?!” Chanyeol terkejut hingga mundur beberapa langkah dengan tangan didepan dada. Sigadis dengan seragam Taekwondo itu akhirnya berbicara juga. Bahkan dia sudah berjalan menerobos teman-temannya untuk mendekati Chanyeol. Tidak sadar kalau dia mendorong teman-temannya sendiri.

“Tidak..tidak..bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasanku. Kalian sudah berjanji untuk mendengarkan penjelasanku,” Akhirnya gadis itu berhenti setelah si ekor kuda menarik tangannya. Chanyeol bernafas lega kemudian melanjutkan ceritanya.

“Aku tidak mengkhianati siapapun. Aku memang menyimpan satu nama dihatiku. Dan jika aku menerima Kim Nana, itu berarti aku mengkhianati gadis ini……..” Chanyeol mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan fotonya dan seorang gadis cantik yang menjadi lockscreen ponselnya.

“Namanya Yuri, gadis Jepang. Hanya wajahnya dan namanya yang selalu aku ingat dan aku fikirkan. Dia tidak pernah terlihat bersamaku karena sekarang dia dirumah sakit. Dia sedang koma. Jadi dia harus benar-benar dirawat disana sampai sadar kembali. Sebenarnya aku yang salah. Kalau saja saat itu aku mengendarai motorku dengan sungguh-sungguh, dia pasti ada disini sekarang….” Chanyeol menjeda ceritanya. Matanya berkabut dan dadanya sesak hanya karena mengingat saat-saat terbodoh dalam hidupnya.

“….sebenarnya aku hampir mengatakan itu pada Nana. Kalau saja dia tidak pergi lebih dulu dan mengabaikan penjelasanku,” Chanyeol melihat satu celah di gerombolan gadis-gadis itu. Chanyeol baru sadar Nana ada diantara gerombolan itu ketika tadi gadis dengan seragam Taekwondo menyisir barisan mereka. Nana menunduk, tidak berani menatap Chanyeol yang bahkan tidak menunjukkan tatapan bencinya.
“Dan kau, nona manis berponi. Aku tidak bermaksud membuat Nana atau gadis manapun menyukaiku. Aku hanya, yahh…kau tahu? Beginilah caraku berteman. Aku akan berusaha mendekati siapapun. Aku akan tersenyum pada siapapun. Aku akan ramah pada siapapun. Aku akan berusaha menolong siapapun. Aku akan menyenangkan siapapun dengan pujian. Karena aku hanya ingin berteman…”

 

“….hakmu untuk jatuh cinta. Terserah padamu untuk menyukai siapapun. Tapi aku dan laki-laki manapun juga punya hak yang sama untuk bersikap baik, karena ibu dan Noonaku mengajarkanku untuk menjadi baik, bukan bersikap kasar. Tapi jika pada akhirnya kalian jatuh cinta pada laki-laki yang jahat, jangan hanya salahkan kami. Salahkan juga dirimu yang tidak mengunci hatimu baik-baik. Karena pada dasarnya, laki-laki memang suka menebarkan pesona untuk menambah rasa percaya dirinya. Kalian sendiri yang mensalah artikan kebaikan kami….”

Mereka diam. Chanyeol tertawa dalam hatinya. Sepertinya Chanyeol akan memenangkan perdebatan. Karena Chanyeol selalu menang.

“….oh iya, tidak semua laki-laki sama. Kau dapat kesimpulan darimana itu? Kalau memang semua laki-laki sama, aku pasti akan meninggalkan Yuri begitu aku tahu Yuri tidak bisa bergerak dan terus-terusan tidur selama satu tahun ini. Aku sadar banyak gadis yang lebih cantik disekitarku. Mudah saja bagiku untuk memilih satu diantara mereka dan Nana adalah salah satunya. Tapi aku tidak, aku masih disampingnya, aku masih mencintainya, bahkan aku mengunci hatiku hanya untuk namanya,”

Mereka menunduk dalam. Chanyeol berhasil membalikkan kata-kata mereka. Dan dia tidak membutuhkan Zitao untuk menjadi benteng pertahanan.

“Baiklah, kurasa cukup. Aku duluan,” mereka tidak mengejar. Hanya menatap dalam diam Chanyeol yang berjalan menjauh dengan perasaan lega.

Chanyeol rasa cukup. Iya sudah menjelaskan semuanya pada gadis-gadis ini. Ia merasa lega. Meski dengan bayaran dia harus menahan airmatanya selama berbicara tentang Yuri. Chanyeol mengeluarkan lagi ponselnya. Memperhatikan seksama lockscreen ponselnya dan mengelus-ngelus pipi putih Yuri didalam foto.

“Yuri, coba lihat aku keren ‘kan tadi? Aku mengalahkan mereka dengan lemah lembut,”

“Jangan marah, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku ‘kan hanya mencintaimu,”

“..musim panas nanti, saat aku kesana, kau harus sudah bangun ya, janji?” Suara Chanyeol berubah serak. Dadanya sesak. Tapi ia berusaha menutup air matanya dengan senyuman.

“…..aku mencintaimu, Yuri. Selalu…”

 

 

=END=

 

FF apa ini ?!!! /Banting Laptop

makasih yang udah baca sampe akhir..

jangan lupa jejaknya dibawah. maafkan author karena cerita yang absurd dan gak jelas

XOXO

 

8 tanggapan untuk “When Kim Nana was Crying”

Tinggalkan Balasan ke shinersb Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s