Aku Hanya Ingin Dia Kembali

aku-hanya-ingin-dia-kembali

AKU HANYA INGIN DIA KEMBALI

Cast: Park Chanyeol, William (OC)

Author: Christabel Senja

A special thanks goes to Eunike for creating such a simple yet classy fanfiction poster 🙂

▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬ ▬▬ ▬

***

“Aku ingin kau datang menonton, menyemangati aku.”

“Kali ini saja, ku mohon …”

Aku benar-benar tidak percaya, permohonan tersebut merupakan permohonan William yang terakhir kali, sebelum waktu mengubah semuanya. William tak lagi menampakkan batang hidungnya. Sahabatku itu hilang, entah kemana. Aku sungguh merindukan sosoknya yang jahil dan keras kepala.

***

Selamat malam— Ah, atau mungkin sebaiknya aku ucapkan selamat pagi, ya? Kedua jarum jam tengah bertemu melepas rindu di angka tiga kala aku menggoreskan tinta di atas kertas lusuh ini. Tidak, aku tidak sedang duduk di teras dengan kepala menengadah menatap rembulan di langit. Aku tengah mendudukkan diri di atas bukit yang tingginya hanya beberapa meter di atas permukaan tanah. Bermodalkan pensil dan buku catatan kecil dengan kertas yang lusuh, aku kembali melanjutkan menggoreskan tinta di sana; menulis kisah hidup yang menyenangkan sekaligus menyakitkan di masa lampau. Suasana cukup sepi, hanya ditemani jangkrik yang saling bertegur sapa menggunakan bahasa yang bahkan aku tidak mengerti. Langit pun sepi, tidak ada bintang yang bertabur di atas sana; menemani rembulan yang merasa kesepian. Indra pendengaranku juga tidak menangkap suara hiruk pikuk kendaraan yang biasa terdengar kala siang hari.

Tidak sedikit orang yang berkata kalau pukul tiga pagi adalah saat dimana setiap orang yang masih terjaga merasa kesepian. Well− hal itu memang sebenarnya terjadi, ada bukti nyatanya malah. Tapi, tidak untuk kali ini. Kedua lazuardiku menatap kerlip yang berasal dari lampu di setiap rumah dengan seulas senyum terpampang di wajah. Mengingat kenangan yang paling indah dalam hidup tidak selamanya membuat rasa sedih muncul dalam hati. Terkadang, justru kenangan tersebut yang sering berhasil melengkungkan seulas senyum di wajah.

“Park Chanyeol!” Suara bariton yang agaknya cukup berat membuyarkan lamunanku. Aku lantas menolehkan kepala ke belakang. Tubuhku seakan-akan beku, tidak dapat merasakan apapun. Mati rasa. Aku mengusap mata berulang kali, berusaha meyakinkan diri kalau apa yang ada di hadapanku sekarang adalah nyata, bukan halusinasi semata.

 

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

 

5 Desember 2013

“Bisa tidak kau diam barang semenit saja?” Aku menyipitkan mata, melemparkan pandangan kesal ke arah William yang tengah memukulkan ujung stik drum ke tengah-tengah Floor Tom —bagian drum yang berada di samping Snare— dengan volume suara yang berhasil menguasai ruangan berukuran 5 x 5 meter. Sedangkan yang dipandang bersikap acuh tak acuh; terus memukulkan ujung stik drum ke bagian-bagian drum secara bergantian. William adalah sahabat seperjuangan yang aku kenal sejak kelas 6 SD. Tidak jarang kami mengalami masalah atau pengalaman hidup yang sama. Kami memiliki selera bacaan, dan makanan yang sama. Dari sekian banyak kesamaan antara kami berdua, hanya satu yang berbada. Apalagi kalau bukan soal hobi? Lelaki yang memiliki lazuardi berwarna cokelat terang tersebut sangat senang bermain drum. Sedangkan aku, aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap alat musik yang besarnya memenuhi kamar itu. Hobiku adalah menulis. Berbeda jauh, ‘kan?

William pun akhirnya menoleh, menatap aku dari kejauhan dengan cengiran lebar di wajahnya. “Makanya, belajar drum juga, dong!” Serunya yang lantas membuatku mengalihkan pandangan. Lelaki itu tidak pernah lelah membujuk diriku untuk ikut bermain drum. Tapi, tetap saja. Semua bujukan itu sia-sia, selalu aku abaikan.

Helaan napas keluar dari bilah bibirnya, Ia meletakkan stik drumnya ke atas meja lalu mendudukkan diri di sebelahku. “Minggu depan, aku akan mengikuti Kompetisi Drum di Music School of Korea.” Rentetan kata itu terlontar dari bilah bibirnya, kedua lazuardinya menatap lurus ke depan.

Kedua alisku bertaut mendengarnya. “Lalu? Bukankah itu yang kau tunggu-tunggu selama ini?”

Kini, pandangannya ia alihkan ke arahku; menatapku dengan serius. Aku lantas tertawa dan melayangkan tinju pelan di lengan kanannya. “Jangan menatapku seperti itu. Nanti kalau kau jatuh cinta padaku ‘kan bahaya.”

William tidak tertawa, padangannya pun masih sama. “Aku ingin kau datang menonton, menyemangati aku.” Katanya dengan volume suara yang amat pelan. Sahabatku yang satu itu tahu, kalau aku paling anti dengan pertunjukan band. Hanya karena suara drum yang mengganggu gendang telingaku. Dan sekarang, ia ingin aku datang menonton saat ia mengikuti kompetisi drum. Yang benar saja!

“Kali ini saja, ku mohon …” Pintanya dengan sorot mata memohon. Menatapnya seperti itu justru mengundang gelak tawaku. “Kau seperti anak anjing kelaparan yang meminta makanan pada majikannya, tahu.” Sayangnya, William tidak ikut tertawa. Pandangannya kembali lurus ke depan.

 

.

.

.

 

12 Desember 2014

Author’s POV

Chanyeol tengah berbaring di atas ranjang, kedua tangannya diletakkan di belakang kepala; guna mengganti bantal untuk menyangga kepalanya. Kedua lazuardinya menatap langit-langit kamar yang penuh dengan sticker berbagai bentuk yang dapat menyala dalam gelap. Pikirannya kosong. Ia bahkan tidak ingat sama sekali kalau hari ini adalah hari yang paling penting bagi sahabat seperjuangannya.

 

Sedangkan di tempat lain…

“Lima menit lagi aku turun!” Lima kata tersebut terlontar dari bibir William. Lelaki tersebut tengah mempersiapkan dirinya untuk kompetisi drum hari ini. Ia terlihat gusar, berulang kali menggosokkan kedua telapak tangan. Sesuai dengan ucapannya tadi, lima menit kemudian William sudah ada di ujung anak tangga dengan pakaiannya yang serba hitam, seperti orang yang ingin pergi ke acara pemakaman.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, William pun melangkah masuk; mendudukkan dirinya di jok mobil bagian depan. Tangan kanannya merogoh benda pipih di dalam kantong celananya, dengan ragu menekan nomor Chanyeol; berpikir dua kali untuk menghubungi sahabatnya itu, bertanya apakah Chanyeol akan datang atau tidak. Setelah yakin dengan keputusannya, William menghubungi sahabatnya lewat benda pipih yang didekatkan pada telinga kanan. Tidak dijawab. Pikiran negatif mulai memenuhi benaknya. Sudah berkali-kali lelaki itu mencoba menghubungi Chanyeol, tapi tetap saja, tidak ada jawaban.

Sudah setengah jam lamanya kedua kelopak mata Chanyeol tertutup; ia masih dalam posisinya setengah jam yang lalu. Ponselnya yang terletak di atas nakas bergetar berulang kali, tanpa ada suara ringtone yang terdengar. Chanyeol tidak tahu kalau William menghubunginya. Ia bahkan tidak ingat akan apa yang harus dilakukannya hari ini.

William menghela napas panjang, semuanya sia-sia. Percuma menghubungi Chanyeol berulang kali, tidak akan dijawab. Percuma mengundang Chanyeol untuk datang melihat, karena dia tidak akan datang. Percuma mengharapkan, karena harapannya tidak akan terpenuhi.

Pikiran tersebut terus berputar dalam benaknya, membuat fokus William pecah menjadi dua. Dari arah berlawanan, sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan penuh. William yang sadar, lantas memutar setirnya ke kanan, menghindar dari mobil sedan berwarna hitam tersebut. Ya, William berhasil menghindar dari mobil tersebut, tetapi mobilnya malah kehilangan keseimbangan dan jatuh ke daratan yang lebih rendah di bagian kanan jalan. Sejak saat itu, William tidak pernah muncul di hadapan Chanyeol.

Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi pada tanggal 12 Desember 2014 itu. Chanyeol tidak pernah tahu. Yang Ia tahu, hanyalah William yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Chanyeol.

 

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

 

15 Desember 2015

“Sudah lama aku tidak melihatmu,” Ujar William memecah keheningan. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Apa lelaki yang duduk di sampingku nyata? Atau hanya khayalanku semata? Lagi-lagi, William bersuara. Tawanya yang khas mengusik indra pendengaranku. Aku merasakan sesuatu mendarat di lengan kanan. “Kau merindukanku, ‘kan?” Kali ini, William melontarkan kalimat tanya.

Aku masih saja diam, tak bersuara. Kedua lazuardiku menatap figur lelaki dengan surai hitam berantakan di sampingku. “A-aku− Apa kau suka bermain drum?” Hanya kalimat tanya yang terlontar dari bilah bibirku. Sial, mengapa aku jadi bodoh begini?

Tawa William berhenti, Ia menatapku lekat. Anggukan kecil pun terlaksana. “Iya, dulu.” Hening kembali menyelimuti kami berdua. Aku dapat melihat William memeluk kedua lututnya yang tertekuk. “Tapi, sahabatku benci sekali dengan drum. Padahal, hampir setiap hari Ia melihat aku bermain dengan drum kesayanganku.”

Sejenak, aku diam, tak bergerak sedikit pun. Kedua lazuardiku masih menatap lazuardi milik William, mencari kebohongan di sana. Tapi, nihil. Aku tidak menemukannya. “Kau … Benar-benar William? Kau … Benar-benar mengenalku?”

William lagi-lagi melayangkan tinju ke lengan kananku, “Hei! Kau sudah melupakan aku, ya?” Tanpa sadar, kedua sudut bibirku terangkat, membentuk seulas senyum. Ya, lelaki itu benar-benar William. Tidak salah lagi. “Kau pergi ke mana saja, sih?!” Tanyaku sedikit kesal, sambil mengalihkan pandangan.

Yang ditanya hanya tertawa. Alih-alih menjawab, William malah bangkit berdiri dan menarik tanganku. “Ayo makan Ramen, mengulang kebiasaan kita yang dulu.” Ujarnya sambil tersenyum.

 

.

.

.

Aku senang, dapat kembali melihat passion yang ada di balik lazuardinya saar memegang stik drum dan memukulkannya ke bagian-bagian drum. Aku senang, dapat kembali mendengar suara tawa William. Aku senang, semuanya dapat kembali seperti dulu. Aku senang, sahabatku kembali.

Aku minta maaf, Will. Sekarang aku tidak akan mengeluh saat menemanimu bermain drum. Aku janji.

****

Author’s Note:

Halo! Penulisan dan pembuatan fanfic ini bisa dibilang cukup buru-buru, makanya agak nggak jelas dan kurang greget 8′) 

Kalau ada kesalahan dalam pemilihan kata, mohon maklumi, ya. Lain kali, aku bakal nulis yang lebih baik lagi. Makasih udah mau meluangkan waktu buat baca : D Semoga harimu menyenangkan!

3 tanggapan untuk “Aku Hanya Ingin Dia Kembali”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s