[EXOFFI FREELANCE] Climax (Chapter 1)

climax.png

[1ST] CLIMAX

 

Author : Kaihwa♪|

Main Cast : Kim Jong In [EXO] & Michelle Lee [OC] |

Additional Cast : Oh Sehun [EXO], Kim Yeri [Red Velvet] |
Genre : Angst, Dark-Romance |

Length : Short Chaptered |

Rating : PG-17! |

Disclaimer : DON’T BASH! DON’T PLAGIAT! THIS PURE MY IDEA!

Pernah di publish di SAYKOREANFF

Credit Poster : Babyglam@IndoFanfictionArt

.

.

.

 

‘Jong, can we meet today?’

 

‘i don’t have time, sorry.

Michelle mendesah sebal melihat sebuah pesan baru masuk, selalu saja seperti ini. Gadis bermarga Lee itu melihat kesekitar lagi, kantor sudah mulai sepi dan langit kelam masih terus bergulir. Dengan berat hati ia menarik tas selempang tipis yang tergetak di meja.

 

Terus saja seperti ini, terpaksa ia pulang sendiri hari ini.

 

Michelle,” Jong In?

 

Yah, maaf hari ini aku belum bisa mengirim naskah-nya, hehe. Kau tahu kan? Aku sedang mengurus acaranya, jadi ya begitulah.” Ternyata takdir saja tidak mengijinkannya bertemu dengan Jong In, telinganya terlalu jarang mendengar suara pria itu, sampai-sampai tidak bisa membedakannya dengan suara Sehun—salah satu staff yang menjadi temannya di kantor.

 

Michelle mengangguk canggung sambil melenguh saat Sehun merangkulnya dijalanan macam ini, ayolah, Sehun akan menikah setelah ini, apa kata orang jika seorang keluarganya melihat dia dan Sehun seperti ini?

 

Pria itu mengerti, “Kau akan pulang?”

 

Gadis itu mengangguk-ngangguk saja, “Bagaimana jika pulang bersama?” tambah Sehun akrab.

 

Mata bulatnya terkejut, Sehun yang mengerti langsung berucap “Ahh, Tunanganku juga ikut.”

 

“Tak perlu, aku bisa naik bis saja.” Tolak Michelle pelan, bagaimana pun ia tidak bisa menjadi seorang cabai disela-sela gigi—maksudnya ya pengganggu seorang pasangan. Begini-begini dia juga punya kekasih kok.

 

Sehun mengerutkan keningnya “Kau yakin?” Gadis satu itu mengulum senyum tipis.

 

Toh, buktinya karena tidak kuat berlari di pukul 10 malam, Michelle harus ketinggalan bis terakhir, dengan terpaksa subway lagi. Dia menuruni tangga menuju kereta bawah tanah/ subway terdekat. Begitu memasuki subway dia menemukan tuan Kim yang katanya sudah menjalin hubungan 6 tahun dengannya masih menunduk di kursi sudut, dia tertidur pulas sekali.

 

Ternyata arti ‘i don’t have time. Sorry’ adalah dia ingin tidur sepuas-puasnya, padahal Michelle hanya ingin mengajak minum di kaki lima tapi pangerannya itu hanya terlalu lelah. Maafkan Michelle yang sudah berpikir jauh. Setelah mengambil posisi disebelah lelaki itu, Michelle tidak bisa tidak mengulum senyum karena melihat lelaki itu mendengkur, bahkan menguap lebar didepannya tanpa sadar jika Michelle berada disampingnya.

 

Michelle mencintai apa adanya lelaki itu, jadi dia tidak marah walau mulutnya bau pizza busuk sekalipun. 20 menit berlalu, subway berhenti, Jong In melangkah keluar dengan mata setengah terbuka, dia tidak peduli lagi dengan tas punggungnya yang kancingnya terbuka lebar, toh tak ada barang berarti kecuali buku lagunya. Dia memang Producer Musik, tapi Jong In selalu suka jika menggunakan transportasi umum ketimbang yang pribadi.

 

Gadis itu tetap mengikutinya, “Jong, how are you?” Buktinya mata lelaki itu membulat setelah mendengar suara Michelle yang sudah bosan.

 

I have to go now,” dia menjawab kelabakan seraya berjalan cepat.

 

As always.” Lelaki itu berhenti, rasa lelah dan kantuk langsung hilang saja. Dia tahu betul gadisnya sedang berusaha tidak meluncurkan air matanya.

 

“Kau kan memang selalu sibuk.” Tambah Michelle dengan suara serak, dia tidak kuat lagi. Kakinya baru saja melangkah, tapi

 

“pulanglah.” Pinta Jong In dingin, dia tidak berbalik sekali pun, padahal Michelle berharap jika pria itu berbalik dan menerjang tubuhnya ya sekedar peluk ia sebentar saja.

 

Produser Kim.”

 

“i’m pregnant.Suara itu kecil dan lirih tapi Jong In sempat menangkapnya, jantung bahkan siap lepas.

 

“Bisa saja itu bukan anakku.” Jong In kemudian berlari sekencang-kencangnya, jauh dari ekspetasi Michelle, lelaki itu bahkan tidak ingin melihat wajahnya. Apa hubungan ini sudah begini saja?

 

“Aku hanya melakukannya denganmu..” tapi Jong In tak akan pernah mendengar ini, karena Michelle terlalu takut memberitahunya.

 

***

 

“hoek.. hoek hoek.. “ Michelle melihat pantulan wajahnya di cermin, sungguh memprihatinkan. Pucat pasi dengan nafas tersengal-sengal, air matanya mengalir begitu saja.

 

Ceritanya klimaks. Jong In dan Michelle pertama kali bertemu saat Jong In mendapat sebuah pekerjaan membuat lagu dan sebuah MV untuk sebuah boyband barudan Michelle adalah seorang staff  baru dirumah produksi yang sama, semenjak itu (didukung) intensitas pertemuan yang dominan membuat keduanya jatuh cinta dan kemudian menjalin sebuah hubungan.

 

Tapi suatu hari ibu Michelle sakit keras, butuh uang ratusan juta won untuk biaya operasinya, Michelle hanya staff biasa gajinya 10 tahun bekerja saja tak ada cukup untuk mencapai angka segitu cara satu-satunya ialah menerima tawaran Ceo Kim untuk menikah dengannya—yang tak lain adalah ayah Jong In sendiri. Jong In begitu kecewa, pagi dimana Michelle memberi tahukan semuanya. Sejak sebulan lalu pernikahan itu berlangsung, Jong In mulai mengundurkan diri dari kantor ayahnya dan pergi dari rumah.

 

Michelle tahu betul, ia selalu menolak setiap Ceo Kim Jong Won memintanya untuk melakukan ‘itu’. Dia pernah melakukannya dengan Jong In, hanya Jong In, tepatnya sebelum pernikahan itu dilangsungkan.

 

“Siapa yang melakukannya?” Michelle langsung berbalik mendengar suar a berat yang tiap hari selalu memeluknya posesif. Keringat dingin meluncur begitu saja.

 

“Anak siapa itu?” tanyanya lebih tajam, Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan nama Jong In, pria itu terlalu berharga untuk disakiti. Michelle tidak bisa mundur lagi, tubuhnya sudah menabrak tembok kamar mandi ketika mendapati Kim Jong Won berada didepannya.

 

.

.

.

.

.

“Tolong pertimbangkan lagi permintaan member, Produser Kim.” Pinta seorang pria berkepala 3 itu dengan datar.

 

“Aku akan berbuat sebisaku.” Jong In mengulas senyum tipis seraya menutup pintunya lagi. Pekerjaannya sangat banyak dan dia sangat stres. Bisakah Manager dari girlband yang katanya baru debut itu bersikap biasa saja, jika tidak suka bilang saja jangan mencaci maki karyanya! Siapa suruh dia diberi konsep lagu penuh aegyo macam itu? Dia juga lelaki-_-

 

Kring!

 

Bisakah tidak menggangguku?!” Dia bertanya penuh putus asa mendengar tponselnya bergetar seperti itu? Bahkan sampai mau jatuh-.-

 

Jong In­a, kau dimana..” Sehun langsung berseru,

 

“Aku sedang di kantor, wae?” Jong In menjawab dengan datar, pertanyaan Oh Sehun memang selalu tidak berbobot. Bisa kau bayangkan? Ini masih jam 12 siang, tentu saja dia masih di kantor kan? Apalagi nada suaranya bimbang, antara ingin bertanya atau ingin memberi pernyataan.

 

“Michelle… dia..” Dengan malas Jong In hampir saja membanting ponsel itu, entah karena apa hatinya seperti berkedut hebat. “Jika kau menyebutnya lagi, akan ku cekik kau!”

 

“Ayahmu.. Michelle.. di-a…” Jong In memegang dada kirinya yang terasa nyeri saat mendengar ke-2 orang itu disebut, orang yang dulu begitu ia cintai setelah ia kehilangan ibu kandungnya, orang yang dulu ia kagumi.. itu dulu.

 

“……”

 

Jong In tidak peduli lagi dengan kursinya yang terbalik karena baru ditendangnya serta ponselnya yang sudah jatuh dan tak berbentuk. Dia hanya ingin mengetahui jika belahan jiwanya tidak kenapa-napa.

 

.

.

Ayahmu berniat untuk membunuh Michelle setelah tahu jika ia hamil. Mereka tak pernah melakukannya, demi tuhan, dia mengucapkan namamu berulang kali…”

.

.

 

Lelaki itu berlari kencang sekali menuruni tangga, tidak ada waktu menunggu lift sialan itu.  Jong In menuruni tangga darurat karena terlalu panik. Mobilnya bahkan sempat menabrak apapun selama diperjalanan, benyok tercipta di hampir semua bagian mobil, dahinya hingga lecet menabrak kemudi tapi tak menghentikannya.

 

“Oh Sehun! Apa yang terjadi padanya?!” Jong In menabrak Sehun pertama kali sampai di rumah sakit, lebih tepatnya di depan ruang inap Michelle.

 

“dia..” belum siap Sehun menyambung kata-kata yang membentuk kalimat (?) untuk dijelaskan, Jong In menerobos masuk kedalam ruangan bernuansa serba putih. Gadis itu masih bersandar pada bantal di kasur dengan raut polos yang menatap kosong kearah langit-langit ruangan itu. Seorang perawat yang masih membenarkan jarum infus hingga terkejut.

 

“Michelle..” panggilnya lirih, nyaris tak terdengar. Mata gadis itu terlihat kosong tanpa ekspresi apapun saat melihatnya. Apa dia begitu marah padaku?

 

You… okay?” ayolah Kim Jong In pertanyaan apa itu? Kau tidak lihat luka dibagian dahinya yang tertutup perban itu?

 

“kau.. siapa?”

 

“Ada yang ingin aku bicarakan, Jong Ina.” Entah dari mana datangnya, Sehun buru-buru menarik Jong In keluar setelah bibirnya berubah kaku setelah mendengar Michelle bertanya itu padanya.

 

“Dia.. kenapa?”

 

“Dia mengalami trauma berat di kepala.”

 

“Jadi..”

 

to be continued or END?…

 

 

Author’s Note :

Gimana? Dapat angst-nya? Nggak ya? Wkwkwkwkwk sorry la, baru belajar bikin angst jadi ya gitu2. Sorry buat keanehan ff ini. Pas liat Apology – iKon langsung dapat ide aja eaakk tapi gak sama la sama MV itu hehehehe

 

Regards, Kaihwa

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Climax (Chapter 1)”

  1. omgggggggg nikahhh ama bapaknyaaa kaiiiiii,,,,,,,, keterlaluannnnn,,,,,,,,
    Tbc lahhhh chingu ,… Konfliknyaaa dapettt nihhhhh

    Jadiiiiiiiiiiiiiiiiiii michelle amnesiaaaaaaaaaaaaaaaaa waaaaaaaaaaaaaaaa
    Andwaeeeeeeeeeeee ;(

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s