The Precious One

CYMERA_20160104_080746

Title                       : The Precious One

Author                  : dosamonim

Length                  : Oneshot

Genre                   : Romance, AU, Marriage Life

Rating                   : PG-15

Main cast             : Do Kyungsoo, Han Rayoung (OC)

Additional Cast  : EXO, Jung Mijung (OC)

Disclaimer           : I just own the story. The characters claimed by theirself. Don’t sue me.

Author’s Note   : FF ini bukan spin off atau sequel dari Let’s Get Married! Jangan bingung ya hehe.. FF ini belum pernah dipublish dimana pun selain disini. Happy reading ^^

 

***

 

Joheun achim, Rayoung-ah. (Selamat pagi, Rayoung.)” sapa Mijung berusia ketika melihat Rayoung memasuki ruang kerjanya dengan enggan. “Wajahmu pucat sekali, kau sakit?” tanya gadis yang merupakan sahabat Rayoung sekaligus asistennya dalam menjalankan bridal shop miliknya.

Rayoung hanya menghela napas dan meletakkan kepalanya di meja. Rasanya Rayoung enggan sekali datang ke bridal shop itu karena kondisi tubuhnya yang tidak fit dalam beberapa hari terakhir. “Entahlah, aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhku. Badanku terasa pegal semua dan….” belum sempat Rayoung melanjutkan kalimatnya, ia sudah melesat ke toilet.

 

Hooeek… Rayoung memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa air. Rayoung belum memakan apa pun sejak pagi karena perutnya yang terasa mual sejak ia membuka matanya. Tubuhnya terasa lemas, tangannya pun memegang wastafel dengan sangat kuat untuk menopang tubuhnya.

 

Mijung pun datang menghampirinya dengan segelas air mineral di tangannya. “Minumlah ini dulu.” Mijung menyodorkan gelas berisi air mineral itu kepada Rayoung. Mijung pun menatap sahabatnya sejak SMA itu dengan penuh rasa cemas. Ia belum pernah melihat Rayoung dalam keadaan sekacau itu.

 

Wajah Rayoung terlihat sangat pucat, peluh membasahi wajah dan lehernya, serta giginya bergemeletuk seperti orang kedinginan. “Kita ke dokter saja ya? Keadaanmu sudah kacau sekali. Aku akan mengantarmu, atau kau ingin aku menelpon Kyungsoo oppa?” tanya Mijung seraya menekan layar sentuh ponselnya, berniat menghubungi Kyungsoo.

 

Rayoung menggeleng. “Nan gwaenchana. Mungkin ini karena aku belum sarapan. Kau tidak usah khawatir, Mijung-ah.” Rayoung tersenyum, mencoba meyakinkan sahabatnya kalau dirinya baik-baik saja.

 

Mijung hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Rayoung. “Kalau begitu, sekarang kau duduk saja di kursimu. Aku akan membelikan sarapan untukmu.”

 

Gomawo, Mijung-ah.” senyum Rayoung, ia pun menyandarkan kepalanya ke kursi kerjanya seraya menutup matanya sejenak. Rasa pusing di kepalanya terasa semakin menjadi ketika ponselnya berdering. “Yoboseyo?

 

“Kau sudah di kantor, sayang?”

 

Rayoung tersenyum saat mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya. Pria yang selalu saja berhasil membuat darahnya berdesir tiap kali mendengarkan suaranya. Pria yang selalu berhasil membuat Rayoung jatuh cinta lagi dan lagi kepadanya. Pria yang sejak setahun lalu sudah bersumpah untuk selalu mencintai kekurangannya dan menerima ia apa adanya. Mendengar suaranya, seolah berhasil membuat rasa sakitnya menghilang entah kemana.

 

“Aku sudah di kantorku. Wae, oppa?” tanya Rayoung seraya menyalakan laptop miliknya. “Kita ‘kan baru berpisah sekitar sejam yang lalu.”

 

“Justru karena itulah, aku sudah merindukanmu.” jawab pria yang bernama Do Kyungsoo itu dari seberang line telepon.

 

“Astaga oppa, sejak kapan kau jadi cheesy begitu?” Rayoung menggelengkan kepalanya heran.

 

“Entahlah, mungkin sejak aku menikah denganmu.” jawab Kyungsoo asal.

 

“Jika kau menelponku hanya untuk menggombal seperti ini, aku akan menutup telponnya sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kau harusnya memberi contoh yang baik untuk anak buahmu dengan rajin bekerja, oppa. Bukan dengan menggombali istrinya lewat telepon seperti yang kau lakukan sekarang ini.” jelas wanita berusia 27 tahun itu panjang lebar.

 

“Galak sekali, aku kan hanya merindukanmu. Baiklah Nyonya Do yang cerewet, aku akan menutup teleponnya sekarang. Sampai bertemu nanti siang.”

 

YAK! OPPA! Kau bilang apa barusan?! Siapa yang cerewet, hah?!”

 

Nado saranghae.” Klik. Kyungsoo menutup teleponnya, meninggalkan Rayoung yang masih kesal dengan ucapan suaminya.

 

Rayoung meletakkan ponselnya diatas meja kerjanya. Ia berdiri dari kursinya untuk mengambil arsip desain gaun pengantin untuk kliennya. Rasa sakit kembali menyerang kepala Rayoung. Belum sempat Rayoung mengambil arsip itu, pandangannya terasa menggelap hingga akhirnya ia terjatuh tidak sadarkan diri.

 

“Rayoung-ah, aku membelikanmu….” Mijung terkejut saat melihat Rayoung yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. “Astaga, Han Rayoung!!” jerit Mijung yang kemudian berlari menghampiri Rayoung. Mijung menepuk-nepuk pipi Rayoung berusaha untuk menyadarkannya. Para pegawai disana langsung mendatangi ruangan Rayoung setelah mendengar jeritan Mijung. Mereka pun langsung membawa Rayoung ke rumah sakit yang berjarak tidak jauh dari bridal shop itu.

 

Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menangani Rayoung. Sementara Mijung menghubungi Kyungsoo menggunakan ponsel milik Rayoung. “Hey sayang, kenapa? Pasti kau merindukanku ‘kan? Pasti kau tidak bisa lama-lama terpisah denganku, iya ‘kan?” tanya Kyungsoo sambil menyengir membayangkan wajah Rayoung yang cemberut karena tidak suka mendengar ucapannya yang terdengar cheesy.

 

“Oppa, ini Mijung. Rayoung sekarang ada di rumah sakit Hangook.”

 

“Apa?! Memangnya apa yang terjadi? Apa dia terluka? Bagaimana bisa dia terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” Kyungsoo langsung memberondong Hanbi dengan banyak pertanyaan. Jantung Kyungsoo langsung berdetak dengan cepat, ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada wanita tercintanya itu.

 

“Tadi Rayoung pingsan di ruangannya. Dokter belum selesai memeriksa Rayoung, jadi aku juga belum tahu bagaimana kondisi Rayoung. Lebih baik kau segera kesini, oppa.”

 

“Baiklah, aku akan segera kesana.” Kyungsoo langsung menutup teleponnya dan melesat menuju parkiran. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Yang ada di pikirannya sekarang adalah ia harus melihat keadaan istri tercintanya dengan mata kepalanya sendiri.

 

***

 

Rayoung mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menoleh ke sekelilingnya. Ia berada di  sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Bau desinfektan yang memenuhi ruangan itu membuat Rayoung sadar bahwa dirinya berada di rumah sakit. Ia juga menyadari bahwa dirinya mengenakan seragam pasien rumah sakit.

 

Apa yang terjadi? Seingatku tadi aku berada di kantor, pikir Rayoung. Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Kyungsoo masuk dengan membawa sebuah kantong plastik yang berisi beberapa buah kardus kecil. “Oppa..” suara serak Rayoung membuat Kyungsoo tersadar kalau istrinya sudah bangun.

 

“Sayang, kau sudah bangun?” Kyungsoo menghampiri Rayoung dan menyodorkan segelas air putih pada Rayoung “Ini, minumlah.”

 

Rayoung menerima dan langsung meneguknya sampai habis. “Apa yang terjadi, oppa? Kenapa aku ada disini? Jam berapa ini?”

 

“Kau tadi pingsan, sayang. Dan sekarang sudah jam enam sore.”

 

“Apa?! Astaga, aku ‘kan ada janji dengan klienku jam dua belas siang. Bagaimana ini, oppa? Kenapa aku bisa pingsan selama itu sih? Apa Mijung menggantikanku un─”

 

“Ssst.. Sayang.” Kyungsoo meletakkan telunjuknya di bibir Rayoung. “Ada yang jauh lebih penting dari janjimu itu.” Kyungsoo tersenyum seraya meletakkan tangannya ke perut rata istrinya. “Dia, dia jauh lebih penting, sayang.”

 

“M-maksud oppa? Aku.. aku hamil?” tanya Rayoung tidak percaya, matanya berbinar menatap suaminya dengan penuh harap.

 

Kyungsoo mengangguk. “Iya sayang, kita akan menjadi orangtua. Terima kasih karena kau telah membuat hari ini menjadi hari yang paling bahagia di dalam hidupku. Saranghae, Han Rayoung. Jeongmal saranghae.” Kyungsoo mengecup bibir istrinya sekilas yang dibalas oleh pelukan erat dari istrinya.

 

Nado saranghae, oppa.”

 

***

 

Hooeek..

 

Ini adalah minggu ketiga kehamilan Rayoung dan morning sickness masih menyiksanya. Masih ada dua bulan lagi sampai ia melewati masa-masa morning sickness. Kyungsoo hanya bisa menatap istrinya iba seraya tangan kanannya memijat kening Rayoung dan tangan kirinya menopang tubuh Rayoung.

 

Hooeek…

 

Tidak ada yang Rayoung keluarkan, hanya air yang keluar dari mulutnya karena ia belum makan apapun. Rasa mual membuatnya enggan untuk menelan apapun. Wajah Rayoung terlihat pucat dan membuat Kyungsoo begitu khawatir pada istrinya.

 

“Sayang, kau harus makan. Kalau perutmu kosong, bagaimana dengan anak kita? Kau makan ya, aku akan membuatkan makanan kesukaanmu.” bujuk Kyungsoo, tangannya mengelus punggung Rayoung perlahan.

 

“Bagaimana dengan pasta? Atau lasagna? Atau kau ingin aku menelpon ibumu dan memintanya memasak untukmu? Kau ingin makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu.”

 

Rayoung berbalik menghadap Kyungsoo. “Entahlah oppa, aku tidak ingin makan apapun. Perutku mual sekali rasanya. Kenapa hamil itu susah dan melelahkan, oppa?” tanya Rayoung sambil menahan tangis. Perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh Rayoung, membuatnya menjadi mudah menangis.

 

Kyungsoo langsung merengkuh Rayoung ke pelukannya saat melihat mata Rayoung yang berkaca-kaca. “Sayang, kau harus kuat demi anak kita. Kumohon, bertahanlah untuk dua bulan ke depan. Aku yakin, anak kita juga tidak ingin menyusahkanmu seperti ini. Kau pasti bisa melewati ini, aku akan selalu ada disampingmu.”

 

“Janji?” Rayoung melepaskan pelukan Kyungsoo dan menyodorkan kelingkingnya. “Kau mau berjanji kalau kau akan selalu ada disampingku meskipun nantinya aku akan menjadi gemuk dan tidak sekurus sekarang ini? Kau mau berjanji untuk selalu disampingku meskipun aku tidak seksi lagi?”

 

Kyungsoo terkekeh dan mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rayoung. “Aku janji, sayang. Lagipula…., kau memang tidak pernah seksi kok. Lihat saja, kau rata begitu.” ledek Kyungsoo yang langsung dihadiahi oleh sebuah jitakan dari Rayoung.

 

Yak! Appo! (Hey! Sakit!)” ringis Kyungsoo, pria itu mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh istrinya.

 

“Aku apa, oppa? Coba ulangi lagi.” pinta Rayoung, tangannya mengepal, bersiap memberikan Kyungsoo jitakan lagi.

 

“Kau seksi, sayang.”

 

Good!” Rayoung menjawil hidung Kyungsoo sambil tersenyum puas. “Sekarang aku mau mandi, hari ini aku ada janji menemani Mijung mencari hadiah untuk Sehun.”

 

“Lalu?”

 

“Oppa keluar, aku mau mandi.”

 

“Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?” tanya Kyungsoo yang berhasil membuatnya mendapat ‘hadiah’ lagi dari Rayoung. “Yak! Han Rayoung! Kenapa kau menjitakku lagi?! Aku kan tidak meledekmu.” protes Kyungsoo.

 

“Itu hadiah dari anak kita, oppa. Sudahlah, keluar sana. Aku mau mandi. Mijung pasti sudah berangkat kesini. Lebih baik kau mandi sekarang, nanti kau terlambat ke kantor, oppa.” Rayoung mendorong Kyungsoo pelan agar pria itu keluar dari kamar mandi, lalu ia segera mengunci pintunya sebelum Kyungsoo mengacaukan niatnya untuk hanya sekedar mandi.

 

“Sayang, aku ingin mandi bersamamu.” Kyungsoo mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang dikunci oleh Rayoung. “Sa─”

 

Yak! Oppa! Kalau kau masih berisik, kau tidak akan kuperbolehkan menyentuhku selama 9 bulan ke depan.” ancam Rayoung yang berhasil membuat Kyungsoo menutup mulutnya rapat-rapat.

 

***

 

“Oppa! Kyungsoo oppa!!” Rayoung mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang sedang terlelap di sampingnya. “Oppa, irreona! (Oppa, bangunlah!)”

 

Kyungsoo menggeliat sejenak. “Aish, ada apa sayang?” Kyungsoo mengerjapkan matanya sebelum membuka mata. Terlihat istrinya yang sedang duduk menyandar ke headboard tempat tidur sambil memegangi perutnya. “Ada apa? Apa perutmu sakit?” tanya Kyungsoo seraya mengelus perut Rayoung yang masih terlihat rata karena usia kandungannya yang baru menginjak 3 bulan.

 

Rayoung menggeleng pelan. “Aniya. Hanya saja…, tiba-tiba aku ingin makan es krim.”

 

Mworago?” Kyungsoo menatap jam digital yang terletak di atas nakas. “Kau ingin makan es krim jam segini?” Kyungsoo menatap Rayoung tidak percaya.

 

Rayoung mengangguk. “Ne, oppa. Aku ingin makan es krim stroberi tapi di kulkas hanya ada es krim vanilla. Belikan aku es krim stroberi ya..”

 

“Ini sudah tengah malam, sayang. Besok pagi saja ya.. Besok aku akan membelikanmu es krim stroberi yang banyak. Sekarang lebih baik kita tidur saja lagi.” Kyungsoo menarik selimutnya dan memejamkan matanya lagi.

 

Oppa! Irreona!” seru Rayoung, berusaha membangunkan Kyungsoo lagi. “Bangunlah, oppa! Anak kita ingin es krim stroberi!”

 

Meskipun Rayoung sudah berseru seperti itu, tetap tidak ada respon dari Kyungsoo.

 

“Ya sudah, aku akan membelinya sendiri saja.” Rayoung menyibakkan selimutnya dan berniat beranjak dari tempat tidur mereka.

 

Arrasseo.” Kyungsoo akhirnya membuka matanya. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya yang tengah hamil pergi keluar saat tengah malam. “Sayang, kembalilah ke tempat tidur. Aku saja yang membelikan es krim stroberi untukmu.” Kyungsoo bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil jaket, dompet dan juga kunci mobilnya kemudian keluar dari rumahnya.

 

Rayoung memutuskan untuk menunggu Kyungsoo di ruang keluarga sambil menonton televisi. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada suaminya yang harus keluar dan membelikannya es krim stroberi saat tengah malam begini. Padahal Rayoung tahu kalau Kyungsoo pasti sedang lelah karena pekerjaan di kantornya yang menumpuk.

 

Rayoung mengelus perutnya lembut, mengajak bayi yang ada di dalamnya untuk berbicara. “Aegi-ya.., lain kali jangan ingin makan es krim jam segini ya.. Kasihan appamu kalau harus terbangun jam segini.”

 

Setengah jam kemudian, Kyungsoo kembali dengan kantong plastik yang berisi beberapa cup es krim stroberi di dalamnya. “Sayang, maaf kalau aku lama. Di minimarket depan, tidak ada es krim stroberi. Jadi, aku harus mencari ke minimarket lain dan untunglah aku menemu—“ ucapan Kyungsoo terhenti saat ia melihat Rayoung yang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.

 

Kyungsoo menghela napas lalu menghampiri istri tercintanya itu. “Apa aku terlalu lama mencari es krimnya, hm?” Tangan Kyungsoo mengelus perut istrinya dengan lembut. “Aegi-ya, apa kau masih ingin es krim stroberinya? Eommamu sudah mengantuk, besok saja ya makan es krimnya.”

 

Kyungsoo meletakkan es krim stroberinya ke dalam freezer kemudian menghampiri Rayoung dan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar. Kyungsoo merebahkan Rayoung di atas tempat tidurnya. Ia pun menyelimuti istrinya itu lalu mengecup keningnya. “Jalja. Sleep well. Mimpikan aku, sayang.”

 

***

 

“Oppa.” panggil Rayoung seraya duduk di sofa ruang keluarga, di samping suaminya yang sedang fokus menatap layar laptop dipangkuannya.

 

“Hem?” tanya Kyungsoo acuh tak acuh, pria itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Hari itu adalah hari Minggu, namun Kyungsoo tetap bekerja karena deadline pekerjaannya adalah malam ini.

 

“Oppa, berhentilah sebentar. Temani aku ke cake shop di depan sana, aku ingin makan ice cream cake.” ajak Rayoung, tangannya menarik-narik ujung kaus yang Kyungsoo kenakan.

 

Mata Kyungsoo tetap terfokus pada layar laptopnya, tidak mempedulikan kausnya yang ditarik-tarik oleh istrinya. “Aku sedang sibuk, sayang. Kenapa kau tidak menyuruh Kim ahjumma saja untuk membelikanmu?”

 

“Aku sudah menyuruh Kim ahjumma pulang, oppa. Aku tidak mengerti kenapa kau menyuruhnya datang kesini. Aku bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Lagipula aku tidak enak hati dengan eommamu, aku takut beliau menyangka aku adalah menantu yang malas.” ujar Rayoung sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit karena usia kandungannya yang sudah masuk bulan kelima.

 

“Eomma yang mengirim Kim ahjumma kesini. Beliau takut kau terlalu lelah jika mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Ingat sayang, kau sedang mengandung. Kau tidak boleh terlalu lelah. Memangnya kau sanggup mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri? Sementara kau saja masih disibukkan dengan bridal shopmu itu.” jelas Kyungsoo panjang lebar.

 

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan berbalik menatap Rayoung yang sejak tadi duduk disampingnya, tangan Kyungsoo mengusap kepala Rayoung lembut dan mencium puncak kepala istrinya. “Aku dan eomma tidak ingin terjadi sesuatu denganmu dan juga anak kita, sayang.”

 

Rayoung pun memeluk tubuh suaminya itu sambil menghirup wangi tubuh suaminya. Rayoung suka dengan keadaan seperti ini karena ia akan merasa aman dan nyaman didalam rengkuhan Kyungsoo. “Oppa, apa kau sudah memikirkan nama untuk anak kita?”

 

“Tentu saja. Sejak dokter memberitahukanku bahwa kau hamil, aku langsung mencari nama untuk anak kita.”

 

“Siapa namanya, oppa?” tanya Rayoung penasaran.

 

“Hyunjin, jika dia laki-laki. Artinya precious.” jawab Kyungsoo, tangannya masih mengelus perut istrinya.

 

“Kalau perempuan?”

 

“Sojung, artinya precious juga. Aku memilih nama itu karena dia sangat berarti untuk kita.” jelas Kyungsoo “Apa kau suka namanya? Atau kau punya nama sendiri untuknya?”

 

Rayoung menggeleng sambil tersenyum. “Pakai nama darimu saja, oppa. Kau kan ayahnya.” Kepala Rayoung menyandar ke bahu Kyungsoo. “Besok kau akan menemaniku untuk USG ‘kan, oppa?”

 

Kyungsoo mengangguk. “Tentu saja, sayang. Aku ‘kan sudah berjanji untuk selalu menemanimu ke dokter, sesibuk apapun aku. Tidak mungkin aku akan melewatkan kesempatan untuk mengetahui jenis kelamin anak kita.”

 

“Memangnya kau ingin anak kita laki-laki atau perempuan?”

 

Tangan Kyungsoo meraih tangan Rayoung, menggenggamnya halus dan mengelusnya perlahan. “Apapun jenis kelaminnya, yang penting ia sehat. Kalau perempuan, ia akan cantik sepertimu. Kalau laki-laki, tentu saja akan tampan sepertiku.”

 

Rayoung terkekeh dan memukul dada Kyungsoo pelan. “Kau terlalu percaya diri, oppa. Memangnya kata siapa kau itu tampan?”

 

“Semua orang dunia ini tahu akan hal itu, sayang.” ujar Kyungsoo bangga, sementara Rayoung hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suaminya.

 

Saranghae.” ucap Kyungsoo, sebelum ia mendaratkan bibirnya di bibir mungil istrinya dan menciumnya dengan lembut.

 

Nado.” balas Rayoung setelah Kyungsoo menyudahi ciuman mereka.

 

***

 

Josimhae. (Hati-hati) Pelan-pelan saja, sayang.” ujar Kyungsoo setelah membuka pintu rumah dan menuntun Rayoung masuk ke dalam rumah mereka. Saat ini usia kehamilan Rayoung memasuki usia ketujuh bulan dan mereka baru saja membeli berbagai macam perlengkapan bayi.

 

Gokjongma, oppa. Aku pasti hati-hati kok.” Rayoung mendudukkan tubuhnya di sofa ruang keluarga mereka dengan hati-hati. Ia merasa sangat lelah, setelah seharian berkeliling department store untuk berbelanja perlengkapan bayinya. Apalagi dengan perut besarnya saat ini, kaki dan punggungnya terasa sangat pegal dan nyeri. “Akh!” ringis Rayoung saat ia merasakan bayinya menendang.

 

“Sayang! Kau kenapa?!” Kyungsoo yang sedang meletakkan belanjaan mereka di kamar bayi mereka langsung berlari menghampiri Rayoung ketika mendengar ringisan Rayoung. “Sayang, ada apa? Perutmu sakit? Apa kau sudah kontraksi?”

 

Aniya, oppa. Nan gwaenchana.” Rayoung tersenyum menenangkan Kyungsoo yang mulai panik. “Tadi bayi kita menendang dengan sangat kencang. Tapi itu wajar kok. Mungkin karena aku sedang lelah, jadinya terasa sedikit sakit.”

 

Kyungsoo menarik napas lega. “Syukurlah, kupikir kau sudah merasa kontraksi dan akan melahirkan.”

 

Rayoung terkekeh. “Belum oppa, usia kandunganku ‘kan baru tujuh bulan. Masih ada dua bulan lagi, kau tenang saja.”

 

Kyungsoo mengelus perut besar istrinya. “Aegi-ya, kau jangan nakal. Jangan menendang perut eommamu terlalu kencang. Kasihan eommamu sedang lelah.”

Ne, appa.” jawab Rayoung dengan suara yang dibuat-buat menyerupai suara anak kecil, yang akhirnya membuat mereka berdua tertawa.

 

“Kakimu pasti pegal, sini, biar aku memijat kakimu.” Kyungsoo mengambil kaki Rayoung dan meletakkannya di pangkuannya.

 

“Tidak apa-apa, oppa. Nanti juga pegalnya hilang sendiri. Kau sendiri juga pasti lelah.”

 

Aniya, aku mau memijat kakimu.” Kyungsoo bersikeras, ia pun memijat kaki Rayoung dengan lembut dan penuh kehati-hatian.

 

Gomawo, oppa.” ujar Rayoung, ia merasa bersyukur memiliki Kyungsoo yang begitu mencintainya. “Terima kasih untuk semuanya, aku benar-benar wanita yang paling beruntung karena bisa menjadi istrimu, oppa.”

 

“Aku juga pria yang paling beruntung karena memiliki istri sepertimu, sayang. Saranghae.”

 

Nado.” balas Rayoung, ia pun bergerak memeluk Kyungsoo, sementara pria itu mencium keningnya.

 

***

 

Tok..tok..tok terdengar suara pintu ruangan Rayoung diketuk. “Masuk.” sahut Rayoung yang matanya tetap fokus melihat-lihat desain gaun pengantin yang baru dikirim oleh Mijung.

 

Rayoung-ah! Na wasso! (Rayoung! Aku datang!)”

 

Rayoung mendongak ketika mendengar suara berisik yang familiar di telinganya. “Baekhyun oppa? Kau sudah kembali dari Paris?”

 

Baekhyun mengangguk dan duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. “Dimana Kyungsoo? Dia tidak menjemputmu? Astaga, aku jadi menyesal melepaskanmu untuknya.” canda Baekhyun.

 

Rayoung beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di samping Baekhyun dengan hati-hati karena usia kandungannya yang telah menginjak usia 9 bulan. “Aish, oppa! Kalau Kyungsoo oppa mendengar ucapanmu tadi, dia pasti tambah sensi padamu.”

 

Baekhyun terkekeh. “Aku hanya bercanda. Lagipula kau dan Kyungsoo ‘kan tahu kalau aku ini sudah punya kekasih dan kami akan menikah bulan depan.” Pria yang berusia 4 tahun lebih tua dari Rayoung itu pun meletakkan sebuah undangan di meja yang berada di hadapan mereka.

 

“Benarkah? Selamat oppa!” Rayoung menjabat tangan Baekhyun kegirangan, dan disaat itu pula Kyungsoo masuk ke dalam ruangan Rayoung. Matanya membesar ketika melihat Rayoung yang sedang memegang tangan Baekhyun.

 

“Sayang? Baekhyun hyung? Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Kyungsoo penuh selidik. Rayoung langsung melepas tangan Baekhyun dan tersenyum canggung ke arah Kyungsoo.

 

“Hey, oppa.” sapa Rayoung canggung. “Kapan kau sampai? Kupikir kau terjebak macet.”

 

Yak! Do Kyungsoo! Kau tidak ingin memeluk hyungmu ini? Kita ‘kan sudah lama sekali tidak bertemu.” Baekhyun menghampiri Kyungsoo dan menepuk bahu Kyungsoo. “Aku tidak menyangka kalau sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Chukkae! Aku turut berbahagia.”

 

Kyungsoo mengangguk singkat. “Gomawo hyung. Kau apa kabar? Kapan kembali dari Paris?”

 

“Aku baik, aku baru tiba kemarin sore.”

 

“Kau sudah bertemu dengan yang lain?” tanya Kyungsoo sambil mengingat-ingat apakah diantara sahabatnya ada yang pernah membicarakan kalau Baekhyun akan kembali ke Korea.

 

“Aku baru bertemu dengan Chanyeol. Dia dan istrinya yang menjemputku kemarin. Sekarang, aku mau bertemu dengan Suho hyung karena urusanku dengan Rayoung sudah selesai.”

 

“Urusan apa?” tanya Kyungsoo penasaran, ia melirik ke arah istrinya yang sejak tadi hanya tersenyum canggung.

 

“Ra-ha-si-a.” Baekhyun terkekeh puas. “Nanti kau juga akan tahu, Kyungsoo-ya. Kalau begitu, aku pamit sekarang. Rayoung-ah, jangan ceritakan urusan kita ya biar Kyungsoo penasaran. Na kanda! (Aku pergi!)” pamit Baekhyun yang langsung menghilang di balik pintu ruangan Rayoung.

 

“Kau dan Baekhyun ada urusan apa sih?” tanya Kyungsoo dengan segera setelah Baekhyun menutup pintu ruangan Rayoung.

 

Rayoung terkekeh melihat tingkah suaminya. Rayoung selalu merasa Kyungsoo menggemaskan saat sedang cemburu. “Kau cemburu, oppa?”

 

Aniya.” jawab Kyungsoo singkat.

 

Jinjja?” Rayoung memastikan, matanya menatap mata Kyungsoo lekat-lekat.

 

Fine! Aku cemburu, sangat cemburu. Pria mana yang tidak cemburu saat melihat istrinya berduaan dengan mantan kekasihnya?” tanya Kyungsoo retoris. “Sebenarnya untuk apa sih Baekhyun hyung datang kesini?”

 

Mianhae oppa.” bisik Rayoung, seraya berusaha memeluk Kyungsoo meskipun terhalang oleh perut besarnya. “Baekhyun oppa datang hanya untuk memberikan undangan pernikahannya. Dia akan menikah bulan depan dengan kekasihnya. Jadi, kau tidak boleh cemburu dan sensi lagi dengan Baekhyun oppa.”

 

Kyungsoo tersenyum manis kepada istrinya, wanita yang amat ia cintai, wanita yang sebentar lagi akan memberikannya kebahagiaan yang tiada tara dan wanita yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. “Arrasseo. Aku tidak akan cemburu dan sensi lagi dengan Baekhyun hyung. I love you, Han Rayoung.”

 

Love you too.” sebuah kecupan manis pun mendarat di bibir Rayoung. “Eng.., oppa….”

 

“Hm?”

 

“Perutku sakit, kurasa aku akan segera melahirkan.” ujar Rayoung, matanya terpejam menahan rasa sakit yang mulai menyerang perutnya.

 

Mworago?!

 

***

 

“Selamat Tuan dan Nyonya, bayi kalian laki-laki.” dokter yang membantu persalinan Rayoung itu memberikan seorang bayi laki-laki mungil ke dalam gendongan Kyungsoo dengan hati-hati.

 

Kyungsoo pun menerima bayi laki-laki itu dengan sangat hati-hati. “Terima kasih, sayang. Terima kasih karena kau sudah memberikanku seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.” Kyungsoo mengecup kening Rayoung, sementara Rayoung hanya membalasnya dengan senyuman.  Ia terlalu lelah untuk membalas kata-kata Kyungsoo. Yang ia butuhkan sekarang adalah istirahat. Tubuhnya terasa lelah sekali.

 

Rayoung terbangun dari tidur lelapnya dan mendapati kamar rawatnya dipenuhi oleh keluarganya. Terlihat ibunya dan ibu Kyungsoo sedang sibuk mengagumi putra mereka yang sedang terbaring di dalam boks bayi. Kyungsoo yang sedang mengobrol dengan ayah mertuanya menyadari kalau istrinya sudah terbangun, ia pun menghampiri Rayoung. “Sayang, kau sudah bangun?”

 

“Oppa, aku ingin melihat putra kita.” pinta Rayoung, Kyungsoo pun mengambil putra mereka dari dalam boks bayi dan memberikannya pada Rayoung. Wanita itu langsung menerima putranya dan menciuminya dengan penuh kasih sayang “Matanya besar seperti matamu, oppa. Bibirnya juga, ia persis sepertimu.” Rayoung terkekeh memandangi wajah putranya yang sebagian besar menurun dari Kyungsoo.

 

“Kyungsoo-ya, Rayoung-ah, apa kalian sudah memberikan nama untuk putra kalian?” tanya ayah Kyungsoo sambil memperhatikan cucu pertamanya yang berada di dalam gendongan Rayoung.

 

“Sudah, appa.” jawab Kyungsoo, tangannya mengelus kepala putranya dengan hati-hati.

 

“Siapa namanya?” kali ini giliran ayah Rayoung yang bertanya.

 

“Do Hyunjin.” jawab Kyungsoo.

 

“Namanya terdengar bagus. Apa artinya?” tanya ibu Rayoung.

 

The precious one. For me and Rayoung.

 

The End

Halo ^^ Sekali lagi mau ngingetin FF ini gak ada hubungannya sama Let’s Get Married! Nama karakternya aja yang sama hahaha Gimana ceritanya? Aku gak tahu sih ini pantes atau engga dikategorikan sebagai cerita fluff hehehe Anyway, don’t forget to comment 🙂 Oh iya kalo mau kenalan sama author bisa follow @dosamonim hehehe mention aja, nanti di follback kok hihihi

26 tanggapan untuk “The Precious One”

  1. sebenernya ff kaka ini keren bgt. mulai dari genre, castnya ampe alurnya aku suka. tpi mungkin mood aku nya lagi ancur bgt gegara si kyungprett kissing scane T.T jdinya ga nge feel. pliss jgn bully aku :’) tpi gegara ff ini jga mood aku sdikit terobati. thanks ka (y)

    di tunggu lanjutan chapter let’s get married 🙂 …

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s