[EXOFFI FREELANCE] Baekhyun’s Comic (Chapter 1)

DiBaek’s

Baekhyun’s Comic ( Chapter 1 )

Cast : Han Di Yan ( MC ), Byun Baekhyun ( MC) and others.

Rating Teenager

Length Chaptered

Genre : Comedy, School Life, Romance.

15614_1026727310674033_8711533106599727485_n.jpg

Disclaimer : FF ini hanya untuk hiburan semata murni buatan saya. Mungkin sedikit gaje tapi silahkan di baca dulu. Jangan lupa komen nya untuk masukan nya.

Maaf kalo ada typo nya, Happy Reading~ 

 Sore hari di sekolah. Suasana sekolah sudah sedikit sepi.—Dikamar mandi sekolah. Di-Yan sedang mempersiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada lelaki yang dia sukai. Di-Yan mematikan air yang menyala lalu melihat dirinya di balik kaca. Ia membenarkan ikat rambut dan pakaian nya lalu menarik nafas yang dalam dan menghembuskan nya.”Baiklah! Han Di-Yan siap bertempur!” Di-Yan berbicara kepada dirinya sendiri di balik kaca. Lalu ia pergi ke kelas 2-B. Di-Yan membuka pintu kelas. Didalam kelas berdiri seorang lelaki yang ia sukai sedang menunggu. Lelaki itu menoleh ke arah Di-Yan. Di-Yan langsung ngeblush merah. Di-Yan perlahan demi perlahan menghampiri lelaki itu. “B-B-B-Baekhyun-ssi!” Di-Yan berbicara berbatah-batah.”A-Aku selalu menjadi fans mu!”

“……” Baekhyun memperhatikan Di-Yan tidak mengerti.

“Ah…” Di-Yan sadar bahwa dia salah mengucapkan nya “(Seharusnya aku bilang ‘aku ingin menjadi pacarmu’!” ucap suara hati Di-Yan “U-um…um…”

“Ah!” Baekhyun mulai mengerti. Lalu ia mengambil sebuah spidol dan mencoret sebuah bingkai kertas.

“Hmm?” Di-Yan tidak mengerti.

“Silahkan” Baekhyun memberikan bingkai kertas yang sudah ia tanda tangani kepada Di-Yan.—Di-Yan menerima nya lalu melihat bingkai kertas itu. Disitu tertulis tanda tangan Baekhyun dan di dekatnya ada tulisan ‘Untuk Di-Yan-ssi. Terima kasih untuk semuanya’.—Muka Di-Yan berubah menjadi tidak mengerti. Ternyata Baekhyun salah mengartikan maksud Di-Yan. Suasana di kelas pun menjadi sangat hening.

“(Han Di-Yan, umur 16 tahun. Aku menembak laki-laki yang aku sukai, dan mendapatkan tanda tangannya. Tunggu sebentar. Emang sih aku bilang fans beratnya, tapi…)” Di-Yan menoleh melihat ke arah Baekhyun. “…bukan itu yang aku maksud…um, aku selalu ingin bersamamu, Baekhyun! ya seperti itulah…” Di-Yan mengucapkan nya kembali dengan nada sangat malu. Muka Di-Yan memerah malu.

“Selalu bersamaku?” tanya Baekhyun.

“(aih. Apa yang aku katakan?! Padahal tinggal bilang suka saja! Gimana nih?!)” Di-Yan malu setengah mati.

“Kalau begitu, sekarang mau main kerumah ku?” ucap Baekhyun lugu menawarkan kepada Di-Yan.

***

Di-Yan dan Baekhyun pergi bersama ke rumah Baekhyun.

“(Jadi Baekhyun-ah tinggal disini…)” Di-Yan berdiri di depan apartemen Baekhyun lalu mengikuti nya masuk.—Di-Yan duduk di ruang makan. Sedangkan Baekhyun menyiapkan sesuatu di dapur.

“Aku tertolong…akhir-akhir ini aku tidak bisa mengajak siapapun” Baekhyun sedang mencuci gelas di dapur.

“(Apakah dia selalu membawa wanita kesini?)” ucap dalam hati Di-Yan terkejut.—Ia menoleh kekanan-kekiri memperhatikan ruangan Baekhyun secara detail sembari tersenyum-senyum.”(Waah~ jadi ini kamarnya Baekhyun-ah ya…Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku berada di kamar laki-laki…)” tiba-tiba Di-yan terlihat panik “(Kamar laki-laki? Huwaa aku mengikutinya tanpa dipikir-pikir dulu…Kayaknya pulang aja, deh. Tapi, wanita lain mungkin akan datang kesini kan. Aku tidak mau itu)” Di-Yan menunduk.

“Silahkan” Baekhyun memberikan air teh kepada Di-Yan.

“B-Baekhyun-ah…A-Aku akan berjuang!” muka Di-Yan memerah.

“Kalau begitu bisakah kau mewarnai bagian itu?” Baekhyun memberikan kertas yang berisi komik buatan nya.

“(huh?)” Di-Yan mengedip kedip kan matanya terdiam tidak mengerti.

“Yang rapih” ucap Baekhyun lugu. –Di-Yan jadi mengerjakannya. “Ini juga” Baekhyun memberikan kertas lagi.—Waktu sudah menunjukan pukul 19.48. “Oh, bagus juga, Di-Yan” Baekhyun melihat hasil kerja Di-Yan dan Di-Yan masih mengerjakan kertas yang lain karna banyak.—Waktu sudah menunjukan pukul 20.31. “Mau istirahat dulu?”Baekhyun membawakan Di-Yan minuman.—Tidak lama kemudian Di-Yan pulang karna sudah malam. Baekhyun mengantarnya sampai kedepan stasiun kereta. Di-Yan penasaran apa maksud dari Baekhyun menyuruhnya untuk mewarnai komik itu dan Baekhyun memberitaukan pekerjaannya.

“Eh?! Baekhyun-ssi kau seorang seniman komik?” Di-Yan terkejut.

“Eh? Kamu menghabiskan empat jam mewarnainya, dan kamu tidak tahu?” ucap Baekhyun lugu.

***

Di jalan pulang, Di-Yan memeluk bingkai kertas tanda tangan Baekhyun sembari tersenyum senang. “Baekhyun-ssi orang yang hebat ya…” Di-Yan memandangi bingkai tersebut. “Bahkan dia punya tanda tangan…Um, ‘B-y-u-n’ Oh, Byun Baekki!” Di-Yan membaca tanda tangan tersebut “Hmm? Nama ini sepertinya aku pernah lihat…Byun Baekki…Byun Baekki…” Di-Yan mencoba mengingat-ngingat nya “Byun…Byun Baekki?!” Di-Yan berhenti di depan pagar rumahnya karna teringat dengan nama itu. Lalu ia berlari masuk kedalam rumah langsung menuju ke kamarnya. Di-Yan ngos-ngos an tetapi tetap mencari majalah bulanan di kamarnya “Ah” Di-Yan menemukan nya. Ia langsung membuka majalah itu di bagian komik. Dan ia menemukan komik buatan Byun Baekki.”HAAAA! BYUN BAEKKI?!” teriak Di-Yan tidak percaya.

***

Di sekolah. Pada jam istirahat Di-Yan berjalan di lorong sembari membaca komik di dalam majalan bulanan.

“(Byun Baekki…Penggambaran penjiwaannya yang peka dan gambarannya yang indah membuatnya menjadi penulis yang populer)” Di-Yan membaca majalah bulanan hasil interview tentang Byun Baekki dan tidak sengaja melewati kelas Baekhyun. Di-Yan berhenti sejenak untuk melihat Baekhyun.

“Kecoa! Ada kecoa! Awas! Matiin dong!” teriak anak laki-laki di dalam kelas Baekhyun yang ketakutan karna ada kecoa di atas meja.“Jangan bercanda! Hanya orang bodoh yang bisa mendekati—“ ucap salah satu anak laki-laki yang juga ketakutan karna kecoa itu.—Baekhyun memukul kecoa itu dengan sepatunya dengan lugu nya. “AAA!”  semua anak-anak laki-laki itu terkejut langsung berpelukan.—Di-Yan yang melihat kelakuan Baekhyun tidak menyangka bahwa Baekhyun lah yang membuat komik romantis.

“(Karyanya menggambarkan isi hati seorang wanita, dan bahkan mewakili apa yang wanita rasakan)”Di-Yan lanjut membaca majalah bulanan lalu menoleh ke arah Baekhyun.

“Hei…Bra-mu kelihatan. Lebih baik pake jaket saja” ucap Baekhyun sembari menunjuk ke arah seorang wanita anak kelasnya yang tidak sengaja lewat di depan nya.

“Hah? Kenapa kau blak-blak an sekali? Punya sopan santun gak sih?!” ucap wanita itu kesal dan mukanya memerah malu.—Di-Yan yang melihatnya semakin tidak percaya. Tiba-tiba Baekhyun melihat Di-Yan lalu menghampirinya.

“Itu, apakah itu edisi bulan ini?” Baekhyun menunjuk majalah yang di pegang oleh Di-Yan.

“Ah, Mm-hm” Di-Yan mengangguk lalu memberikan majalah itu kepada Baekhyun untuk dilihat.

“Aah…ketika aku di wawancarai disini, kopi yang aku minum terlalu pahit. Apa ya? Espresso? Memberikan Espresso kepada siswa SMA…” Baekhyun bercerita tentang kejadian nya saat di wawancarai sembari melihat majalah.—Di-Yan terdiam tersenyum senang memandangi Baekhyun yang sedang bercerita.

“Ketika aku bertemu dengan mereka, mereka sangat kasar padaku…” lanjut Baekhyun bercerita tetap melihat majalah.

“(Jadi Baekhyun-ah beneran Byun Baekki…)” Di-Yan tersenyum memandangi Baekhyun.

“Mereka menatapku dan berkata, ‘Eh? Dengar-dengar kalau kamu itu seorang siswa SMA’ Karena aku muda bukan berarti aku ini gadis yang cantik!” Baekhyun lanjut bercerita tetap melihat majalah dengan nada sedikit kesal karna orang-orang di interview kemaren.

“B-Byun Baekki…” Di-Yan memanggil Baekhyun karna hanya ingin.

“Ya?” Baekhyun menoleh ke arah Di-Yan.

“Byun Baekki!” ulang Di-Yan menyebut nama samaran Baekhyun.

“Ya?” Baekhyun menjawab lagi.

“Byun Baekki! Byun Baekki!” Di-Yan mengulangnya lagi berbunga-bunga.

“Ya?” Baekhyun berbalik ke arah Di-Yan “Aneh sekali kalau di panggil itu di sekolah…” Baekhyun menggaruk-garuk kepala nya.

“Eh? Jangan-jangan yang lain tidak tau?” tanya Di-Yan penasaran.

“Benar…Hampir semua orang di kelasku tidak tau” jawab Baekhyun lugu.

“Jadi itu maksudnya…(…jadi itu maksudnya aku ini spesial?)” Di-Yan tersenyum bahagia.

“Walaupun aku memberitahunya, mereka tidak akan percaya” ucap Baekhyun datar dan lugu sembari memegang majalah di tangan nya.

“Baekhyun-ah…” kebahagiaan Di-Yan hanya sekejap saja.

“Malah aku terkena ceramah oleh mereka” ucap Baekhyun datar dan lugu sembari memegang majalah di tangan nya.

“Benar juga…” Di-Yan teringat kelakuan saat di kelasnya tadi.

“Oh, iya. Terima kasih untuk kemarin. Apa tidak apa-apa tidak menghadiri ekskul senimu?” Baekhyun berterimakasih sekaligus khawatir tentang kegiatan ekskul Di-Yan.

“E-Eh?K-Kamu tau ekskul yang aku ikuti?” Di-Yan terdengar sedikit senang.

“Mataku selalu tertuju padamu” Baekhyun mengucapkan nya dengan senyum percaya diri.

“E-Eh? Pa-Padaku?” Di-Yan grogi.

“Hehe aku berfikir siapa lagi yang bisa mewarnai poster itu dengan rapihnya…” Baekhyun pernah melihat poster di mading.

“(Dia mengincar bakatku?)” ucap Di-Yan dalam hati sedikit kecewa.

***

Di rumah Baekhyun, Di-Yan kembali membantu Baekhyun dalam mewarnai komiknya.—Baekhyun membawakan minuman untuk Di-Yan.

“Sudah kuduga, kamu benar-benar hebat, Di-Yan” Baekhyun duduk di sebrang kursi Di-Yan.

“Hehehe” Di-Yan tertawa senang.

“Berkatmu, kali ini aku bisa menyerahkan nya lebih awal” ucap Baekhyun.

“Ngomong-ngomong, Baekhyun-ah, aku pernah melihatmu di sekolah dalam keadaan babak belur…” Di-Yan mengingat saat Baekhyun datang kesekolah dalam keadaan seperti babak belur.

Ingatan Di-Yan saat itu.

“H-Hei, Baekhyun…Kau tidak apa-apa?” seorang teman Baekhyun bertanya kepada Baekhyun. Tetapi tidak di hiraukan oleh Baekhyun.

“Apa yang sudah terjadi?” satu lagi teman Baekhyun bertanya kepada nya. Tetap tidak di hiraukan oleh Baekhyun dan juga muka Baekhyun yang terlihat sedikit kesal.

“Dia babak belur. Moodnya sedang jelek” satu lagi teman Baekhyun yang takut melihat Baekhyun pada saat itu.

Kembali pada saat sekarang.

“Jadi itu semua karna di kejar deadline ya…Kukira kalau kamu itu seorang preman gitu, dan kamu habis berkelahi” Di-Yan tertawa.

“Preman yang terus mengincar lehernya…serem juga” Baekhyun memegang dagunya berfikir. “Tapi orang biasa yang sebenarnya seorang preman mungkin itu ide bagus. Sip, alur yang bagus” Baekhyun mengangguk mendapat ide.

“Oh, apakah mereka diam-diam merokok dan minum alkohol?” Di-Yan penasaran sekaligus senang.

“Tidak, karna ini komik remaja. Untuk menjaga citranya, rokok diganti dengan coklat, dan alkohol diganti dengan jus” Baekhyun menunjukan hasil gambar yang bar dibuatnya.

“Enggak gitu juga kali!” Di-Yan melihat hasil gambar yang baru dibuat Baekhyun.

“Jika kita melanggar hukum komik, kita akan mendapatkan masalah” Baekhyun menyilangkan kedua tangan nya membentuk huruf X.

“Oh begitu…gawat juga,ya” Di-Yan baru mengerti dan Baekhyun mengangguk.—Di-Yan melihat kertas hasil gambaran Baekhyun. “Ah!” Di-Yan mengambilnya. “Apakah ini mengarah ke adegan cinta-cinta an yang jadul itu, Byun Baekki?” Di-Yan terlihat senang dan matanya berbinar-binar.

“Eh?Maksudnya?” Baekhyun tidak mengerti.

“Ya maksudnya adegan sepedalah! Wanitanya merasakan kehangatan punggung laki-lakinya sambil berkata ‘Dimana aku harus pegangan’ tangan nya gemetar karna deg-degan…” ucap Di-Yan berbinar-binar sembari membayangkan nya.

“Sebenarnya, sekarang bersepeda seperti itu melanggar lalu lintas” Baekhyun kembali menyilangkan kedua tangan nya membentuk huruf X.

“Maaf” Di-Yan terlihat kecewa.

“Karena sekarang tidak boleh berboncengan, kalau mereka pulang bersama sambil membawa sepeda…” Baekhyun mulai menggambar “…beginilah kelihatan nya” Baekhyun menggambar laki-laki dan perempuan sedang jalan pulang bersama, dan laki-laki itu menggiring sepedanya agar mereka bisa jalan bersama.

“Hmm, rasanya kurang anggun gitu, tapi ya mau bagaimana lagi” Di-Yan memberi komentar.

“Terus, kalau ini?” Baekhyun menggambar seorang laki-laki yang mengendarai sepeda dengan cepatnya dan dibelakang nya ada sang wanita yang berlari mengikuti lelaki dengan cepatnya juga.

“Kurang ajar! Laki-laki itu kurang ajar banget!” Di-Yan memberi komentar.

“Atau begini” Baekhyun menggambar seorang wanita yang sedang mengendarai sepeda dengan pelan nya dan di sebelahnya ada seorang lelaki yang sedang berjalan memegang tali yang terikat di sepedan, ia menuntun nya layaknya seperti kuda.

“Ah, rasanya seperti menuntun kuda” Di-Yan memberi komentar.

“Hmm…” Baekhyun dan Di-Yan berfikir.

“Memikirkan cerita selanjutnya untuk komik remaja susah juga, ya” ucap Di-Yan masih berfikir.—Baekhyun memperhatikan Di-Yan.

***

Pada jam pulang sekolah. Baekhyun menghampiri Di-Yan ke kelasnya.

“Di-Yan, ayo kita pulang bersama?” Baekhyun mengajak pulang Di-Yan.

“Aku mau! Ayo pulang!” Di-Yan langsung menjawabnya dengan semangat.

“Hari ini aku bawa sepeda, jadi kamu bisa naik di belakangku” ucap Baekhyun sembari berjalan di lorong menuju tempat parkir.

“Eh? (Eh?!)” Di-Yan ngeblush dan mengikuti Baekhyun dari belakang.—Sesampainya di parkiran, Di-Yan masih grogi deg-degan dan mukanya memerah sembari memandangi Baekhyun dari belakang. “(Ap-apa maksudnya ini? Apakah dia menyadari kalau aku merasa iri kemarin, jadi dia sampai segitunya? Gimana ini? Aku deg-degan nih)” Di-Yan tersenyum senang.

“Di-Yan” Baekhyun memanggil Di-Yan.

“Y-Ya?” Di-Yan menoleh ke arah Baekhyun.

“Jadi ini. Naiklah bersamaku dan katakan apa yang kamu rasakan” ucap Baekhyun kepada Di-Yan.

“Huh?” Di-Yan tidak mengerti.

“Sepeda roda empat” Baekhyun menunjukan sepeda yang dia bawa.

“(Untuk berdua?)” Di-Yan melihat sepeda yang Baekhyun bawa.—Lalu mereka menaiki sepeda itu. Baekhyun di kursi depan dan Di-Yan di kursi belakang. Baekhyun berpose keren saat menaiki sepeda itu.Di-Yan dan Baekhyun menggayuhkan sepedanya—Beberapa murid yang tidak sengaja mereka lewati melihat mereka dengan tatapan aneh. Termasuk Di-Yan yang kecewa karna berbeda dari bayangan nya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Baekhyun kepada Di-Yan.

“Sedikit adem” jawab Di-Yan dengan muka sedih.

“Sip, selanjutnya kita belok kanan” Baekhyun memberikan komando.

“Baik” Di-Yan mengikuti komando Baekhyun.—Mereka menggayuh sepedanya dengan cepat.

“Selanjutnya kita akan melewati tikungan” Baekhyun kembali memberikan komando.

“Baik” Di-Yan menjawab nya lagi.—Di sepanjang jalan, setiap orang yang mereka lewati pasti melihat mereka dengan tatapan aneh.

“Apakah kalau begini perasaan cinta akan muncul?” tanya Baekhyun lagi kepada Di-Yan

“Menurutku…rasa kepercayaan akan muncul kalau begini” jawab Di-Yan malas.

“Jadi begitu…” Baekhyun memberhentikan sepeda “Seharusnya orang di belakang tidak usah mengayuh” Baekhyun menoleh ke belakang sembari memberi saran.

“Ah! Jadi begitu! Kalau begitu aku akan duduk diam saja” Di-Yan mengikuti saran Baekhyun.—Baekhyun mengayuh sepeda sendiri dengan cepatnya. Sedangkan Di-Yan duduk debelakang tidak melakukan apa-apa dengan posisi seperti di bonceng tetapi tidak benar-benar di bonceng dengan ekspresi yang mengenaskan.—Lalu Baekhyun pun memberhentikan sepeda.

“Aku merasa sangat bersalah karna aku tidak melakukan apa-apa! Aku ikut mengayuh saja!” Di-Yan memasang muka sedih.

“Hmm…” Baekhyun berfikir “Kalau begitu, setidaknya kamu coba berpegangan padaku, dan rasakan sensasinya” Baekhyun memberikan saran.—Di-Yan pun sekarang ikut mengayuh tetapi dengan tangan memegang baju Baekhyun. Di-Yan semakin memasang ekpresi mengenaskan.

***

Sesampainya di apartemen Baekhyun.

“Untuk saat ini…aku menggambar sesuai dengan kejadian hari ini. Menurut mu bagaimana?” Baekhyun menyerahkan hasil gambarnya kepada Di-Yan.

“(Payah amat)” ucap Di-Yan dalam hati sembari memasang ekpresi menyedihkan.

“Kenapa, Di-Yan?” Baekhyun melihat Di-Yan.

“Ya, entah kenapa…aku tidak merasakan daya tarik dari tokoh utamanya…” Di-Yan mengkomen nya sembari memasang ekpresi menyedihkan.

“Jadi begitu. Daya tariknya kurang” Baekhyun mengangguk dan mencoba menggambar lagi dengan alur yang lebih menarik. Setelah itu Baekhyun menunjukan nya lagi kepada Di-Yan untuk meminta pendapat darinya. Di-Yan membaca komik Baekhyun dengan alur cerita yang berbeda.

Isi komiknya.

“Karena cuman ada tiga, tiga orang yang pertama duduk di belakangku” ucap pemeran utama nya.—Dua orang wanita memperebutkan tempat duduk di belakang pemeran utamanya.

“Enyahlah! Hari ini aku duduk disini!” ucap salah satu wanita itu.

“Enak saja! Bangku ini punyaku” ucap wanita satunya lagi.

“Aku meluangkan bangku kedua untukmu. Spesial untukmu” Pemeran utama menunjuk heroine nya.

“Aku…” heroine itu terdiam.

“Eh?” peran utamanya bingung.

“Sudah banyak orang yang duduk disitu, iya kan? Aku tidak mau itu!” Heroine nya pun lari.

“Terus akhirnya gimana?” Di-Yan penasaran dengan akhir cerita tersebut.

“Semua bangkunya telah diambil”ucap Baekhyun memberitahu akhir cerita tersebut.

***

“(Tapi pada akhirnya, editornya menyuruhnya untuk berhenti bermain-main…dan jadi beginilah)” Di-Yan membuka majalah bulanan pada bagian komik buatan Baekhyun.

Isi komiknya :

“Ka-kamu boleh pulang duluan…” ucap heroine itu malu-malu.

“Tidak, ini sudah gelap aku akan mengantarmu. Dengan berjalan, aku bisa bersamamu sedikit lama” peran utama nya tersenyum kepada heroine nya.

“(Kuharap waktu terus berhenti…)” isi hati heroine tersebut.

“Haa~Komik Byun Baekki edisi bulan ini bagus sekali!” ucap salah satu anak perempuan di kelas Di-Yan pada saat sedang membaca majalah edisi bulan ini.

“Adegan sepedanya bagus juga…Iya kan, Di-Yan?” salah satu anak perempuan di kelas Di-Yan juga setuju.

“Eh? Y-ya” Di-Yan sedikit terkejut.

***

Pada jam pulang, Baekhyun sedang berjalan di tempat parkiran. Tiba-tiba datang sebuah sepeda beroda empat seperti yang di bawa Baekhyun sebelumnya, menghampirinya dan berhenti di depan nya.

“Hei! Baekhyun-ah! Mau ikut? Bangku ini khusus untukmu” Di-Yan memperagakan peran utama dalam komik Baekhyun. “Hey! Hei, hei…Baekhyun-ah!”Di-Yan melambaikan tangannya terlihat senang.

“(Dia menyukainya?)” Baekhyun memperhatikan Di-Yan yang terlihat sangat senang.—Ia pun menuruti Di-Yan.—Sesampainya di apartemen Baekhyun, mereka mulai mengerjakan komik Baekhyun lagi. Secara tidak sengaja Di-Yan pun membaca komik-komik buatan Baekhyun. Muka Di-Yan memerah karna tidak menyangka komik-komik romantis itu adalah buatan Baekhyun.

“Di-Yan, kenapa?” Baekhyun memperhatikan Di-Yan.

“Oh! Tidak…Baekhyun-ah kenapa kamu menggambar komik remaja?” Di-Yan bertanya dengan wajah tersenyum penasaran.

“Hmm…”  Baekhyun berfikir “Nah, karna itu hobi, jadi aku melakukan nya” jawab Baekhyun lugu.

“Memang sih, tapi kalo soal cerita…aku pasti tidak bisa menulisnya. Mungkin ini karna perbedaan pengalaman cinta kita masing-masing” Di-Yan menundukan kepalanya.

“Kupikir kamu tidak usah tergesa-gesa” ucap Baekhyun memberi saran.

“Eh?” Di-Yan tidak mengerti lalu menoleh ke arah Baekhyun.

“Aku juga belum pernah merasakan cinta pertama!” jawab Baekhyun dengan ekpresi tersenyum dan berbunga-bunga.

“(Benar-benar, sebenarnya mengapa kau mengambar komik remaja?)” ucap Di-Yan kesal dalam hati.

“Tapi aku mendapat banyak saran tentang cinta dari para perempuan loh. Apakah kamu ada seseorang yang kamu suka, Di-Yan?” tanya Baekhyun kepada Di-Yan dengan lugunya.

“Eh?A-A-Aku?I-Itu…” muka Di-Yan memerah malu karna orang yang dia sukai ada di depan nya. “Se-sejak awal, aku tertarik padanya karna dia tidak terlalu tinggi dan terlihat lucu sekali…Aku menembaknya, tapi dia tidak menyadarinya…Tapi karena itu, aku jadi sering berbicara dengannya. Tapi sepertinya dia menganggapku seseorang yang membuatnya merasa nyaman…” Di-Yan tersenyum senang sembari menatap Baekhyun.

“Apa bagusnya laki-laki seperti itu?” ucap Baekhyun datar dan lugu kepada Di-Yan.—Di-Yan langsung menyesal menceritakan nya padanya.

***

Pagi hari dijalan menuju kesekolah. Di-Yan tidak sengaja melihat Baekhyun sedang berdiri melihat seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Lalu kucing itu meloncat ke arah Baekhyun dan menabrak wajah Baekhyun.

“Guhh” Baekhyun terjatuh dan mencoba melepaskan cakaran kucing itu dari wajahnya.

“(Baekhyun-ah)” Di-Yan terkejut khawatir melihat Baekhyun.—Kucing itu lepas dari wajah Baekhyun lalu Baekhyun mengangkatnya ke arah langit. Mata Di-Yan berbinar-binar melihat Baekhyun yang mengangkat kucing itu ke atas. Dan teringat pada saat Di-Yan bertemu Baekhyun pertama kalinya awal mula Di-Yan jatuh cinta kepada Baekhyun. Baekhyun melakukan hal yang sama kepada Di-Yan seperti kepada kucing itu yaitu mengangkatnya ke arah langit.”(Benar juga, Aku…masih belum mengatakan apa yang aku rasakan. Aku akan menembaknya sekali lagi!) Di-Yan memasang wajah serius lalu menghampiri Baekhyun. “Baekhyun-ah!”

“Uh…” Baekhyun menoleh ke arah Di-Yan.”Di-Yan…Ada apa?” Baekhyun bertanya kepada Di-Yan.

“A-Aku…uh..m…uh, u-um…u-um…” Di-Yan gugup membuat ia susah mengatakan nya “Uh…um…” Di-Yan menarik nafas dan melepaskan nya.—Baekhyun masih menunggu apa yang ingin dikatakan Di-Yan. “U-um…” Di-Yan menelan ludahnya saking gugupnya dan jantungnya berdegup kencang. Lalu Di-Yan menarik nafas dalam-dalam dan mengatakan…”Penggemar beratmu!” itulah kata-kata yang keluar dari mulut Di-Yan.

“Iya, iya” Baekhyun membuat tanda tangan lagi di bingkai kertas baru nya. “Silakan” Baekhyun memberikan tanda tangan itu lagi.—Di-Yan menerima nya perlahan-lahan.

“Hore…hihi..hi..aha..ha..Senangnya…aku mendapatkan tanda tangan yang kedua…hihi…hore…”Di-Yan benar-benar galau dan dia menangis antara bahagia dan tidak.

***

Di Sekolah pada pagi hari, Di-Yan sedang berjalan dilorong. Tiba-tiba Baekhyun memanggil Di-Yan.

“Di-Yan” Baekhyun memanggil Di-Yan.

“Huh?” Di-Yan menoleh ke belakang. “Baekhyun-ah…” Di-Yan berbalik ke arah Baekhyun.

“Hari ini, Chaenyol akan ikut membantu juga. Tetapi dia laki-laki, gapapa?” Baekhyun bertanya terdahulu kepada Di-Yan.

“Chaenyol? Siapa itu?” Di-Yan bertanya balik.

“Dia pemuda yang baik, perhatian dan murah hati. Dilubuk hatiku, aku memanggilnya Chanchan” Baekhyun memberikan ciri-ciri Sehun.

“whaa (jadi dia orangnya menenangkan ya?)” Bayangan Di-Yan tentang Sehun sudah muncul.

“Pagi, Baekhyun!” Seorang laki-laki mengucapkan selamat pagi kepada Baekhyun dan menghampirinya.

“Uh?” Di-Yan melihat lelaki itu menghampiri Baekhyun.—Baekhyun berbalik ke arah lelaki yang sedang mendengarkan lagu menggunakan headset biru di telinga nya dengan volume yang sampai terdengar oleh Di-Yan dan rambutnya berwarna merah.

“Oh? Siapa boncel itu?” Lelaki itu memandang Di-Yan dengan tatapan seram.

“Ini Chaenyol-ah”  Baekhyun memperkenalkan Chaenyol kepada Di-Yan.

“Pembohong” bayangan Di-Yan tentang Chaenyol hancur lebur karna tidak sesuai seperti yang dikatakan Baekhyun.

*bersambung

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Baekhyun’s Comic (Chapter 1)”

  1. Kok aku kayak ngrasa ceritanya mirip kek salah satu anime jepang ya ? maaf klo salah, g maksud nyinggung ya …
    eh itu chanyeol apa sehun yg mo bantuin ngrjain komiknya soalnya di bagian akhir bikin bingung nama cast pembantunya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s