[Chapter 7: Broke?] Emergency Love

Emergency2

Shuu’s present

[Chapter 7: Broke? ] Emergency Love

Main Cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet] | Suho [EXO]

Support cast:

Im Yoona [Girls’ Generation] | Jessica Jung [Girls’ Generation]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama | Family

Rating:

PG-15

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory | Heartbeat |Beginning | With You | Broke?

Desclaimer:
Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada! Langsung checkidot sayang!

Luhan sedang mengendarai mobilnya sedangkan Irene disamping berceloteh tanpa celah. Luhan sesekali tersenyum bahkan tertawa untuk Irene. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Jadwal hari ini tidak terllau padat. Mereka hanya memeriksa di bangsal anak lalu kembali bertugas di UGD pada siang hari seperti biasa.

“Lu, sudah menghias pohon natal? Natal sebentar lagi!” kata Irene yang nampaknya antusias dengan natal yang akan terselenggara.

“Masih seminggu lagi. Aku belum beli pohon natal.” Kata Luhan.

“Ayo beli! Aku ingin mengihias pohon natal.” Kata Irene. Matanya berbinar, ia sangat bersemangat rupanya.

“Sekarang?” tanya Luhan.

“Iya kapan lagi?”

“Baiklah nona.” Kata Luhan.

Kemudian mereka memutar tujuan menjadi menuju sebuah pusat perbelanjan di pusat kota. Hari ini tentu saja ramai, karena beberapa minggu lagi akan tiba natal. Sebagaian orang berbelanja pakaian baru atau kado natal untuk orang terdekat mereka.

Suasana pusat perbelanjaan seperti yang diduga sebelumnya, yaitu ramai. Tetapi tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini sudah cukup malam. Irene terlihat sudah memilih-milih pernak-pernik natal seperti bola-bola natal, dan hiasan berbentuk rusa kutub yang dapat di pasang di pohon natal.

“Bagus yang mana? Emas atau perak?” tanya Irene sambil menunjukkan kedua hiasan phon natal berbentuk bola.

“Beli saja keduanya, belilah yang banyak. Aku mau beli pohon natal yang besar.” Kata Luhan.

“Benarkah?” kata Irene dengan mata yang berbinar.

“Tentu saja. tema kuserahkan padamu.” Kata Luhan sambil melenggang pergi meinggalkan Irene dan menuju kumpulan pohon natal sintetis di ujung ruangan.

Irene-pun kembali menyibukkan diri membeli pernak-pernik natal dan memasukkannya pada keranjang belanja yang di tentengnya. Ia juga terlihat memilih gantungan pintu berbentuk seperti donat berukuran kecil. Juga terlihat memasukkan hiasan sinterklas, snowflakes, lampu-lampu kecil, serta pita berwarna emas dan perak ke dalam keranjang belanjanya.

Tak lama kemudian Luhan kembali. Dan membantu Irene memilih pernak-pernik natal. Menyusuri lorong ke lorong. Mengambil beberapa kaos kaki yang akan menjadi penghias serta topi sinterklas.

Irene dan Luhan sedang duduk-duduk sambil membuka belanjaan mereka tadi. ada banyak hiasan natal yang ia beli, beberapa Luhan mengambilnya dari gudang bekas tahun lalu. Terlihat banyak hiasan reindeer, bola natal, snowflakes, sinterklas, stick permen, kaos kaki, pita panjang, lampu, topi santa, serta tak ketinggalan bintang yang akan diletakkan di puncak pohon natal.

Pohon natal yang Luhan beli ternyata tinggi sekali, melebihi tinggi Irene. Beberapa waktu lalu pekerja pusat perbelanjaan tersebut mengantarnya ke apartemen Luhan. Karena, mobilnya tak muat untuk meletakkan pohon natal sebesar itu. terlihat Irene sangat antusias dengan pohon natal yang dibeli Luhan.

“Aku tak menyangka kau akan membeli sebesar itu. Apakah itu tak terlalu berlebihan?” tanya Irene sambil membuka kemasan gantungan pintu.

“Kurasa tidak. Aku ingin natal ini lebih berkesan.” Jawab Luhan. Kemudian Irene mengangguk memahami perkataan Luhan. “Kau akan menghias seperti apa?” tanya Luhan kemudian.

“Eummm…, aku ingin membuatnya emas dan perak bagaimana?” kata Irene. “Tapi aku akan memberi hiasan khas natal lainnya. Aku membeli reindeer, lampu, ini santa!, tongkat permen!” kata Irene menunjukkan barang-barang yang ia beli kepada Luhan.

“Apa kau tak menghias pohon natal di rumahmu?” tanya Luhan sambil bermain hiasan reindeer di tanganya.

“Ahhhh… eomma sudah mempersiapkannya sejak akhir bulan yang lalu. Aku tak bisa membantunya karena aku sibuk bekerja. Ia dibantu bibi di rumah.” Kata Irene sambil mencari sesuatu di kantong plastik.

“Ohhhhh… begitu. Kegiatan eomma di rumah apa?” kata Luhan seperti ingin tahu.

“Dapat!” kata Irene setelah menemukan pita emas yang dibelinya. “Eomma? Ia mengurusi yayasan sosial yang berpusat di Jepang. Ayahku dulu kan dokter, ia bekerjasama dengan rekannya untuk membuat yayasan sosial yang sekarang diambil alih oleh eomma sejak Appa meninggal 2 tahun lalu.” Kata Irene.

“Oooo.. begitu.” Kata Luhan.

“Tapi, dia juga sama seperti wanita yang lainnya. Ia juga terkadang pergi bersama temannya sekedar berbelanja kebutuhan rumah tangga atau arisan.” Kata Irene sambil memelankan suaranya yang terdengar seperti bisikan.

Luhan terkekeh pelan lalu mengacak rambut Irene dengan lembut.

“Kajja ayo menghias!” kata Irene sambil berdiri. “Kajja!” kata Irene, kali ini sambil memegang tangan Luhan sambil menggoyangkannya. Kemudian Luhanpun dengan terkekeh bangkit dari duduknya.

Pohon natal yang Luhan beli di letakkan di samping TV, dan membuat nakas yang tadinya di sana dipindahkan sementara di ruangan yang lainnya. Tepatnya pohon natal tersebut di letakkan di sudut ruangan merapat ke tembok yang menjadi penyekat ruang tengah dan beranda.

Mereka kemudian mulai menghias pohon natal tersebut. Bagian bawah bagian Irene sedangkan bangian yang atas untuk Luhan. Mereka memulainya dengan memasang bola-bola natal dan hiasan reindeer. Di lanjutkan dengan memasang gantungan sinterklas kecil di beberapa bagian dan tongkat permen.

“Ini pasang dimana?” tanya Luhan sambil memegang beberapa hiasan snowflakes di tangannya.

“Dimana? Letakkan saja secara abstrak itu akan terlihat bagus.” Kata Irene masih sambil menata lampu-lampu berwarna-warni mengelilingi pohon.

“Perlu bantuan?” tanya Luhan yang melihat Irene mulai kesulitan memasang lampu tersebut karena ia harus berjinjit.

“Tentu saja. pohon ini terlalu tinggi Tuan Xi.” Kata Irene sambil menyerahkan gulungan lampu warna-warni tersebut kepada Luhan.

“Bukan pohonnya yang tinggi, tapi badanmu saja yang pendek.” Kata Luhan sambil memasang lampu tersebut. Sedangkan Irene langsung memukul Luhan sambil mencibirnya. Luhan mengaduh pelan lalu melanjutkan kegiatannya lagi.

“Rasakan.” kata Irene sambil melipat tangannya di dada. Diam-diam Luhan terkekeh melihat Irene yang sedang mengerucutkan bibirnya. Kemudian Irene mengambil hiasan bintang yang masih tergeletak di lantai. “Siapa yang memasangnya?” tanya Irene.

“Kau” kata Luhan pendek.

“Kau mau mengejekku pendek lagi? Aku tidak sam-“ belum sempat Irene menyelesaikan perkataannya Luhan sudah menggendongnya dan membuatnya jauh lebih tinggi

“Wow… wow…. Xi!”kata Irene yang panik karena ia takut jatuh. “Kita ini bukan team cheerleader Xi!” kata Irene sambil melihat ke bawah. Luhan sedang mengangkatnya seperti team cheerleader yaitu mengangkat kakinya.

“Pasangkan saja sebelum kita jatuh ke lantai yang keras itu Bae!” kata Luhan.

“Baiklah baiklah… kata Irene lalu memasangkan hiasan bintang itu di puncak pohon natal. Akhirnya pekerjaan mereka selesai juga. Luhan lalu menurunkan Irene. “Uwa cantik sekali.” Gumam Irene.

Luhan di samping Irene sambil berkacak pinggang mengamati pohon natal yang telah mereka hias. Tak lama kemudian Luhan tersadar kalau ia belum mencolokkan kabel lampu dengan stop kontak.

“Bae! Lampunya belum dinyalakan.” Kata Luhan sambil menggaruk tengkuknya.

“Sana nyalakan.” Kata Irene. Lampu pun kemudian dinyalakan. Sungguh indah sekali pohon natal yang mereka hias. Lampu-lampu tersebut memancarkan cahaya yang berbeda-beda ada yang hijau, merah, kuning, biru.

Mereka minum teh bersama dengan duduk berhadapan di meja yang ada di ruang tengah. Mereka duduk di atas karpet berbulu sambil bergurau. Luhan menyesap tehnya dan Irene terlihat bertopang dagu dengan sebelah tangannya sambil mengamati Luhan.

“Wae?” tanya Luhan kepada Irene.

Irene menyipit dan berdecak, “Kumismu dan jenggotmu perlu di cukur Xi!” kata Irene.

“Besok saja, aku akan melakukannya.” Kata Luhan kemudian menopang dagunya sama seperti yang dilakukan Irene.

“Tidak bisa. Itu merusak pemandangan.” Kata Irene sambil menyipit lagi. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang meninggalkan Luhan menuju kamar Luhan.

Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa pencukur jenggot dan krim pencukur di tangannya. Luhan terkesiap sebentar lalu melotot ke arah Irene mengisyaratkan apa yang akan di lakukan Irene.

“Sini akan kubantu.” Kata Irene sambil menggoyangkan kedua tangannya yang memegang krim pencukur dan pencukur.

“Aku bisa sendiri.” Kata Luhan sambil menyeruput tehnya lagi.

“Eyyy…, tawaranku tidak datang dua kali. Kau mau menyiakannya?” tanya Irene. ia lalu berkeliling melihat sekitar sepertinya ia mencari sebuah ide. Apa kalian tahu sesuatu?

“Cari apa?” tanya Luhan melihat Irene yang kebingungan.

Irene menggaruk kepalanya kemudian menjawab, “Jika aku beritahu, pasti kau akan mengejekku.” Kata Irene memandang Luhan dengan ogah-ogahan.

“Memangnya apa? Aku janji tak akan mengejekmu!” kata Luhan bersungguh-sungguh.

“Yakso?” tanya Irene sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Luhan.

“Yaksohalge!” kata Luhan bersungguh-sungguh.

“Jika aku duduk di karpet, aku akan jauh lebih tinggi darimu. Aku butuh kursi kecil.” Kata Irene sambil nyengir.

Luhan terbahak sambil memegang perutnya, “Aku tahu caranya, duduklah.” Kata Luhan sambil menyingkirkan cangkir teh yang ada di atas meja. Ia menepuk meja dihadapannya dan memberi tanda kepada Irene bahwa ia boleh mendudukinya.

“Boleh?” tanya Irene ragu.

“Duduk saja apa susahnya?” kata Luhan lalu menarik Irene yang membuat Irene sukses duduk di atas meja dan Luhan duduk di karpet. Mereka duduk berhadapan.

“Eummm…. baiklah. Kau harus membayarku. Ottae? Dengan Jjajang boleh.” Kata Irene sambil mengeluarkan krim dagu ke tangannya.

“Itu gampang. Itu urusan belakang.” Kata Luhan lalu menyodorkan wajahnya ke Irene. Irene lalu mulai mengoleskan krim pencukur ke wajah Luhan.

Ia melipat kakinya di atas meja supaya lebih nyaman. kemudian baru melanjutkan meratakan krim pencukur di wajah Luhan. “Ho…ho…ho! Santa Lu!” kata Irene sambil terkikik melihat Luhan yang sudah seperti sinterklas dengan kumis dan jenggot putih yang dihasilkan oleh krim pencukur yang Irene oleskan.

“Benarkah?” kata Luhan sambil meunjukkan ekspresi bingungnya. Irene lalu meraih topi santa yang mereka beli tadi. Ia meraihnya dari karpet.

“Pakailah!” kata Irene sambil menyerahkan topi santa. Dan ia kemudian memakai topi santa yang lainnya. “Dimana ya?” ia terlihat merogoh saku celananya. “Dapat!” kata Irene setelah mendapatkan ponselnya. “Kita harus berfoto Santa Lu!” kata Irene sambil memencet layar ponselnya dengan acak.

“Baiklah baiklah” kata Luhan sambil memutar bola matanya. Ia sudah memakai topi santa tersebut. Sangat manis bukan?

Mereka lalu tersenyum ke arah kamera. Irene mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah kamera. “Hana… Dul… Settt…” Ckrekkk fotopun telah diambil oleh Irene. “Kyeopta! Aku akan menjadikannya screen saver.” Kata Irene.

Lalu tak berselang lama Irene melanjutkan tugasnya membantu Luhan mencukur kumisnya. Dengan pelan ia mencukur kumis Luhan. Sangat hati-hati tak ingin Luhan terluka sedikitpun. Sedangkan Luhan sedang menatap Irene. Sepertinya ia ingin memuaskan diri untuk menatap Irene. Bukankah begitu?

“Sudah! Eummm… bagaimana?” tanya Irene sambil menangkup pipi Luhan yang sekarang bersih dari kumis. Ia tersenyum sambil menatap Luhan.

Chuuu~~~ Singkat, tapi Irene bisa merasakannya.

“Eoh?” kata Irene kaget.

Luhan mencium singkat bibir Irene. Hanya sepersekian detik saja tetapi membuat jantung Irene berdegup kencang seperti ingin lepas dari tempatnya. Irene terbelalak sambil memandang Luhan. Wajahnya memerah seperti kue beras. Sedangkan Luhan menatapnya sambil tersenyum kepada Irene. Seperti tak punya salah.

Hari ini Irene datang terpisah dengan Luhan. Canggung karena kejadian kemarin? Bukan! Bukan itu alasan intinya. Alasannya membawa mobil sendiri karena ia kasihan kepada mobilnya yang sudah lama tak keluar dari garasi. Tadi pagi Irene meminta Luhan tak menjemputnya dan mengatakan ia akan membawa mobil sendiri.

Ia sudah berganti baju dengan setelan dokter dan jas putihnya. Rambutnya juga terlihat rapi ia arahkan ke atas membentuk sebuah bulatan kecil. Ia berjalan di lorong sambil melakukan gerakan-gerakan aneh, atau yang biasa Irene sebut dengan senam pagi.

“Oh, Luhan!” gumamnya, ia melihat Luhan yang sedang berjalan membawa papan berisi riwayat pasien, sepertinya ia akan menuju UGD. Sepertinya Luhan kurang tidur, terlihat Luhan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ia terlihat resah, ada apa sebenarnya? Irene mengendap-endap mengikuti Luhan dari belakang. Ia berlari kecil berusaha tidak menimbulkan suara. Untungnya ia memakai sandal karet yang menguntungkan untuknya karena tak akan menimbulkan suara.

Apa kalian tahu? Akhir-akhir ini Irene melihat Luhan seperti orang kurang tidur. Jika ia sendirian tanpa Irene. Ia akan menatap kosong semuanya, murung. Dan jika Irene datang, wajahnya berubah menjadi cerah dan kembali menunjukkan senyumnya. Apakah itu perasaan Irene saja?

Cup~ Irene mencium pipi Luhan singkat. Ia lalu mengambil posisi di depan Luhan. Berdiri sambil menahan rasa malunya. Ia harus menghentikan pipinya yang memerah saat ini. Karena bagaimanapun juga Luhan juga mencuri ciumannya bukan? Luhan terpaku dengan perilaku Irene saat ini. Terlihat kaget, tetapi beberapa detik kemudian menunjukkan ekpresi yang jauh beda. Malahan, Irene dibuat malu oleh sikapnya sendiri.

“Kau mulai berani kepadaku, Bae?” tanya Luhan sambil tersenyum menggoda Irene.

“A-anio, k-kau juga menciumku kemarin!” Kata Irene sambil mengelak.

“Kau harus menerima hukumannya!” kata Luhan kemudian menangkup pipi Irene dengan kedua tangannya yang dingin tetapi berkeringat. Irene melihat tangan Luhan yang mennagkup kedua pipinya. Membuat pipinya makin memerah.

Chu~ lagi, Luhan mencium bibir Irene singkat! Irene terkesiap saat itu. Matanya membulat sempurna. Ia memandang Luhan dengan tatapan tajam. Ia sampai-sampai lupa akan bernafas. Oh Tuhan! Apa yang sedang Luhan lakukan sebenarnya?

“Eoh?” lagi lagi hanya itu yang keluar dari mulut Irene. Bodohnya. Tetapi beberapa detik kemudian Luhan berlari kecil sambil menjulurkan lidahnya kepada Irene. Irene terpaku untuk sejenak.

“Ya! Kau!” Irene berlari mengejar Luhan yang berlari menuju ruang UGD.

“Awas Kau! Jinjja! Michigaesseo!” kata Irene sambil mengejar Luhan.

Irene menghentikan langkahnya saat mendapati Luhan yang sedang berbincang dengan beberapa perawat genit. Iya, selalu saja perawat-perawat itu menggoda Luhan. Membuatnya geram, diam-diam giginya bergemeletuk di rongga mulutnya. Menahan amarahnya.

“Dasar perawat genit.” Gumam Irene. Irene juga sering mendapatkan gossip buruk dari perawat-perawat genit di rumah sakit ini. Tak jarang menyebut Irene genit. Tapi lihatlah sebenarnya siapa yang genit? Luhan atau dirinya? Kalian tahu kan Luhan selalu memeluknya duluan atau mencium pipinya, melingkarkan lengannya di pinggang Irene yang membuatnya jengah untuk menolak.

Ia lalu membalikkan badan dengan perasaan yang masih tak karuan. Lalu sebuah suara menginterupsinya. Iya, Luhan memanggilnya. Kemudian iapun membalikkan badannya. Dan melemparkan tatapan –Apa ada yang harus dibicarakan?-

“Kemarilah! Kau sudah siap dengan jadwal operasi perdana kita?” tanya Luhan sambil melambaikan tangan kepada Irene. sedangkan perawat-perawat genit itu berbisik-bisik sepertinya membicarakan sesuatu yang buruk lagi tentang dirinya. Terlihat dari kilatan mata perawat-perawat tersebut, mereka tak suka dengan Irene.

“Kenapa memangnya? Jika aku mendekat akan membuat kupingku panas.” Kata Irene to the point. Dan seperti dugaannnya perawat tu terlihat mencibir Irene. Luhan hanya terkekeh ringan.

“Kemarilah!” kata Luhan. Nada biacaranya terlihat serius. Dengan ogah-ogahan Irene menghampiri Luhan dan ketiga perawat tersebut dengan langkah gontai.

“Mworago?” kata Irene sambil memandang Luhan. Tatapan tak suka sungguh terukir disana. Membuat Luhan gemas dengan tingkah kekanakan Irene. ia lalu mengalungkan lengannya di leher Irene. Iya! Dia mengalungkannya di depan perawat-perawat tersebut. Betapa senangnya! Kemudian Luhan menatap Irene lekat sambil tersenyum.

Entah apa itu, pasti ketiga perawat itu sedang berbisik-bisik dan terlihat beberapa kaliamt tidak terima. Kelihatannya Luhan ingin mengatakan ke seluruh penjuru rumah sakit kalau Irene itu miliknya! Iya, milik Luhan! Apa perlu di tegaskan lagi? Irene milik Luhan (titik)

Kali ini Irene dan Luhan berada di ruangan pribadi Jung Uisa. Kalian tentunya masih ingat dia kan? Dia dalah kepala dari ruang UGD. Dia memanggil Luhan dan Irene karena membicarakan tentang apa yang telah Luhan sebut dia atas lagi. Kalian tak perlu scroll ke atas, aku akan memberitahu kalian. Jung Uisa membicarakan operasi perdana Luhan dan Irene. Disana Luhan dan Irene ikut serta dalam pelaksanaannya. Kenapa Luhan dan Irene alasan yang cukup klasik, mereka sudah mempunyai chemistri dan mereka adalah dokter yang cukup baik perkembangannya dibandingkan dokter baru yang lain.

“Baiklah, kalian boleh bersiap siap.”

“Ne.” Jawab Luhan dan Irene bebarengan.

“Operasi akan dilaksanakan 20 menit lagi. Aku harap kalian segera menuju ruang operasi. Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat.” Kata Jung Uisa sambil melihat jam tangannya.

“Ne!” awab mereka lagi. Ini sebenarnya rumah sakit atau pelatihan wajib militer? Terdengar kaku sekali. Juga Jung Uisa terlihat dingin sekali. Senyuman jarang ditampakkannya. Apakah dia sakit gigi? Entahlah, Luhan rasa begitu.

“Baiklah kalian bisa pergi.” Kata Jung Uisa.

Irene dan Luhan sudah berada di runag operasi entah kenapa ruangan operasi itu sangat mencekam. Mereka tak sendirian tentunya, mereka bersama beberapa dokter spesialis, Dokter Jung, serta beberapa perawat senior sedang mengelilingi pasien penderita kelainan jantung. Kali ini mereka ditugaskan untuk mendampingi operasi transplantasi jantung.

“Lee Hyunra Agassi. Setelah saya memakaikan masker ini anda di harap menghitung sampai 10.” Kata perawat Jang kepada si pasien. Perawat Jang lalu memakaikan masker tersebut kepada pasien tersebut. kemudian, si pasien mulai berhitung.

“1…2…3………..” Tak berapa lama setelah itu, si pasien mulai terlele\ap karena obat bius yang tadinya telah di campurkan ke oksigen yang di hirup.

“Baiklah, semua sudah siap?” tanya Nam Uisa, ia adalah dokter senior yang amat sangat berpengalaman disini. Irene rasa ia mengenalnya, bukankah ia dulu sering datang ke rumah Irene saat ayahnya masih hidup? Iya, dulu ayah Irene juga bekerja disini sebagai dokter spesialis bedah sama seperti dirinya ini.

“Ne! Siap!” jawab semua orang tak terkecuali.

“Denyut jantungnya 98, tekanan darahnya 110. Semua sudah normal untuk melakukan operasi!” kata Dokter Lee, dia salah satu dokter spisialis jantung yang terkenal di rumah sakit ini, Lee Hyunra Agassi adalah pasiennya.

“Baiklah kita akan melakukan pembedahan secera vertikal. Dokter Jung?” kata Dokter Nam.

“Ah.. ne. Luhan dari ruang UGD yang akan melakukannya.” Kata Dokter Jung.

Terlihat Luhan gugup dengan tugasnya, tetapi Irene memegang bahu Luhan meyakinkan Luhan bahwa Luhan pasti bisa. Irene tersenyum walaupun tertutup masker. Tetapi Luhan bisa melihatnya. Terlihat Luhan yang berpeluh.

Apakah Luhan baik-baik saja? Irene masih memikirkan itu.

Irene lalu menempatkan posisi sesuai rencana. Ia menghilangkan pikiran buruk dari otaknya tentang Luhan. Ia yakin Luhan baik-baik saja.

“Pisau?” kata Luhan yang sudah mengambil posisi di tempatnya. Ia menyodorkan tangannya kepada Irene yang bertugas untuk mengambilkan alat-alat bedah.

Irene menyerahkannya kepada Luhan. Tangan Luhan terlihat bergetar saat menerimanya. Keringatpun mengucur deras dari dahi Luhan. Apa Irene saja yang melihat perbedaan dari Luhan? Tanganya bergetar hebat saat memegang pisau bedah. Tangannya masih diudara. Matanya terlihat mengerjap beberapa kali. Irene semakin khawatir dengan apa yang sedang berlangsung.

Trangg…. Pisau bedah itu sukses menghantam lantai ruang operasi yang dingin. Entah kenapa rasanya waktu berjalan lebih lambat. Pandangan Luhan berputar seperti ingin mati. Tangannya bergetar, wajahnya memucat, seluruh badannya mati rasa, jantungnya berdegup kencang.

“Kau kenapa?” tanya Irene sambil mencengkeram lengan Luhan.

“Mian.” Satu kata meluncur dari mulut Luhan dengan susah payah.

“Xi Luhan kau keluarlah. Kau sedang sakit. Kau tidak bisa melanjutkannya.” Kata Dokter Lee kepada Luhan semua orang di situ mengangguk setuju. Kecuali Irene, dia mematung mengkhawatirkan keadaan Luhan.

“Irene, kau yang menggantikannya.” Kata Dokter Jung.

“N-NE!” kata Irene tergagap. Irena memandang kepergian Luhan dari ruang operasi dengan langkah yang berat. Seluruh tubuhnya masih bergetar dan ia melihat keringat Luhan yang mengucur di dahinya. Luhan terlihat melepas masker yang dipakainya. Ia yakin ada yang salah dengan Luhan lebih dari yang semua orang perkirakan.

Irene mengambil posisi Luhan kemudian menghembuskan nafas perlahan mencoba untuk konsentrasi. “Pisau,” kata Irene matanya kini terfokus dengan objek bedah di matanya.

Dengan hati-hati dan perlahan. Irene mulai menyayatkan pisau bedah tersebut ke permukaan kulit pasien. Dan membuat darah segar menyeruak tak karuan dari sana. Jangan khawatir, prosesnya memang seperti itu. Irene tahu benar akan hal itu.

Irene menyelesaikan sayatannya dengan sempurna. “Scapel,” kata Irene. lalu perawat Goo memberinya scapel persis apa yang di minta Irene.

Kemudian ia menggunakannya untuk menahan permukaan kulit pasien supaya terbuka dengan benar, untuk memudahkan proses trasplantasi.

Krakkkk… terdengar suara permukaan kulit yang melebar setelah di tahan dengan scapel. Kemudian Irene mundur dari posisinya di gantikan doter lain yang akan melakukan transplantasi.

“Irene, tugasmu selesai. Kau boleh menemui Luhan. Pastikan dia baik-baik saja.” kata Dokter Jung. Irene mengangguk.

Kemudian, Irene melenggang meninggalkan ruang operasi yang kedaannya masih tegang.

Irene dengan terburu-buru keluar dari ruang operasi sambil melepaskan masker yang tadinya masih tersemat di wajahnya dengan apik. Ia terlihat kebingungan, menengok ke sana kemari, seperti sedang mencari seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan Xi Luhan.

Demi Tuhan! Saat ini ia khawatir sekali dengan keadaan Xi Luhan. Xi Luhan tadinya akan melakukan pembedahan pada pasien transplantasi jantung. Entah kenapa, saat memegang pisau bedah, keringat dingin meluncur dari dahi menuju pipinya, tangannya bergetar hebat sehingga membuat pisau yang ia bawa jatuh ke lantai. Terpaksa, Dokter Jung menyuruh Luhan yang terlihat tidak enak badan untuk beristirahat. Dan akhirnya Irene yang melakukan pembedahan itu.

Saat ini Irene sedang berlari kecil dan sedikit melongok ke setiap lorong yang ia lewati. Berharap ia menemukan Xi Luhan. Bahkan, saking khawatirnya ia sampai tak mengganti bajunya yang terdapat percikan darah di beberapa sudutnya.

Beberapa saat kemudian ia menemukan Xi Luhan sedang terduduk dengan melipat lutut di depan ruang ganti. Matanya terlihat menerawang jauh dan terlihat ekspresi kegelisahan muncul disana. Wajahnya masih pucat seperti tadi.

“Sunbae…” kata Irene lembut sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Luhan. “Gwencanhayo? Ada apa denganmu? Apa kau merasa tak enak badan?” tanya Irene lalu menggenggam tangan Luhan. Saat Irene menggenggamnya terasa begitu dingin dan berkeringat.

”Irene, hidup ini memang selalu tak adil bukan?” kata Luhan sambil menerawang jauh. Irene tertegun mendengarnya, sehingga matanya membulat sempurna.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan sunbae?” tanya Irene sambil memandang lurus manik mata coklat Luhan. Tak sedikitpun Luhan membalas tatapan itu.

“Hidup ini memang selalu tak adil bukan? Seperti halnya dirimu dulu yang menyukaiku saat kita masih satu sekolah. Tapi aku waktu itu mengabaikannya karena tak paham dengan apa yang semua kau lakukan padaku. Kau merasa tak adil bukan?” kali ini memandang mata Irene.

Kali ini Irene memilih untuk diam dan memanfaatkan waktu yang ada untuk mencerna kata-kata yang barusan Luhan ucapkan. Mata Irene mencari jawaban dari mata Luhan yang sedang menatapnya lurus.

”Apa kau tahu? Aku dulu mempunyai kekasih saat masih duduk di sekolah menengah atas. Gadis itu selalu saja ada di benakku, walaupun aku berusaha tak memikirkannya. Gadis itu mempunyai senyum yang indah, sampai sekarangpun jika membayangkan dia tersenyum kepadaku aku pasti akan tersenyum dengan sendirinya,”

“Maaf, tidak seharusnya aku mendengarkan ceritamu. Itu merupakan privasimu.” Kata Irene lalu bangkit berdiri. ia kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh dari Luhan.

“Apa kau tahu?” kata Luhan dengan nada yang meninggi. Irene saat itu juga langsung menghentikan langkahnya. “Setelah beratus-ratus jam kita lewati bersama, dia mengatakan padaku ia sedang mencari donor jantung. Dia mengalami kelainan jantung, dan kondisinya saat itu melemah. Tetapi saat itu aku sungguh orang yang bodoh, tidak mengetahui bahwa dirinya menunjukkan tanda-tanda orang sakit. Dia masih tersenyum manis kepadaku.”

Tangan Irene mendingin mendengar cerita itu, tangannya juga berkeringat. Ia masih berdiri membelakangi Luhan yang sedang terduduk di sudut lorong.tangannya mengepal di samping bandannya yang membuat buku-buku jarinya memutih.

“Sebelum ia mendapatkan donor jantung tersebut. Tuhan mengambilnya dariku, saat itu aku merasa hancur dan tak punya tujuan hidup lagi. Waktu itu aku sudah memulai kuliahku di Fakultas Seni Musik di Korean University. Kau tahu kan aku menyukai musik, bahkan saat aku masih sekolah menengah pertama? Saat melihat Jihye menderita dan merintih seperti itu, aku semakin banyak berpikir untuk mengubah masa depanku. Dan pada saat Tuhan mengambilnya dariku, aku merubah nasibku. Sekarang aku disini, dihadapanmu dengan memakai jas dokter. Sampai saat inipun aku tak bisa berpaling darinya. Akhir-akhir ini dia selalu datang dimimpiku, membuatku tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini aku juga tidak tidur, karena aku takut dia akan fatang ke mimpiku. Bagaimanapun juga kau saat ini yang ada di hatiku.”

Sungguh saat ini Irene ingin berlari dan mencari tempat sembunyi. Keringat dinginpun mengucur dari pelipis Irene. Tangannya mengepal kuat di samping badannya.

“Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Jika terus seperti ini aku akan semakin merasa bersalah kau tahu? Aku muak dengan diriku sendiri. Saat kau kembali padaku sambil menenteng high heels mu aku merasa ada yang kembali padaku setelah sekian lama pergi. Setelah kau menjadi milikku entah kenapa yang sudah pergi malah kembali padaku dan melekat begitu saja dalam benakku. Maafkan aku sungguh. Aku merasa bersalah padamu. Kau boleh saja menganggap kita putus, aku serahkan kepadamu sekarang. Atau kau mungkin menganggap hubungan kita tak pernah ada. Aku tidak apa. Aku sungguh tidak apa Bae.” Kata Luhan bergetar.

“Kau boleh menyalahkanku Bae. Aku pantas mendapatkannya. Bagaimana bisa aku berhubungan denganmu tetapi memikirkan orang lain?” Kata Luhan sambil bergetar.

“Geumanhae! Aku tak menyalahkan dirimu. Tetapi, aku menyalahkan diriku sendiri karena sudah bodoh. Satu kali mungkin itu kesalahanmu, tetapi jika berkali-kali seperti ini aku berarti yang bodoh karena mau di sakiti lagi. Aku katakan berkali-kali disini, aku juga ingat masa lalu. Kau mengabaikkanku di masa lalu. Itu mungkinmembuatku kenyang.” Kata Irene dengan susah payah.

Jika seperti ini Luhan semakin bersalah. Sungguh dia tak mau seperti ini. Sungguh ia lelaki brengsek. Saat itu juga Irene mulai berjalan meninggalkan Luhan dengan langkah yang terseok-seok. Meninggalkan Luhan yang mematung dan masih bersumpah serapah pada dirinya sendiri. Tak ada isakan yang keluar dari mulut Irene. tetapi, Luhan melihatnya bergetar. ‘Mian’ hanya itu yang dapat di ucapkannya.

Terlalu sakit untuk menangis. Jiwanya sudah hancur. Terasa perkataan Luhan tersebut menggema di telinga Irene. mendengung-dengung sampai Irene pusing. ia tetap berjalan tak tentu arah. Dia bodoh.

Udara malam menusuk tulang membuat Irene yang sedang menyetir bergetar. Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil, tangannya berkeringat dingin, ia masih belum bisa menerima kenyataan, seakan tak bisa menopang beban berat ini. Apa kalian pernah mengalami hal seperti ini? Dimana ketika seseorang yang kau dambakan menawarkan diri sebagai gantungan impianmu. Dan dia memberikan harapan manis dan kau terlanjur jatuh kepadanya semakin dalam. Dan suatu saat orang itu memberikan impianmu kembali dan lari dengan tanggung jawabnya. Irene merasakannya, ia sedang merasakannya.

Dengan kasar dan dengan hati membuncah Irene membelokkan setir mobilnya menuju warung tenda pinggir jalan. Tangannya bergetar hebat, seluruh tubuhnya bergetar. Kenapa udara ini tak bersahabat dengannya? seakan mengejeknya karena mencintai terlalu dalam.

Dengan langkah gontai ia keluar dari mobilnya. Menutupnya kasar dan berjalan tertatih menuju warung tenda. Entah setan apa yang menuntunnya kesini. Ia tahu ibunya akan marah setengah mati mengetahui ini. Tapi sungguh ia tak sanggup menahan ini.

Setelah menaruh tasnya dengan sembarangan ia menjatuhkan pantatnya di kursi plastik. Warung tenda itu terlihat sepi hanya ada beberapa pelanggan dan seorang Ahjumma yang melayani.

“Ahjumma 1 botol soju juseyo!” teriaknya dengan suara serak.

“Ne. Agassi.” Jawab Ahjumma itu.

Irene masih duduk di tempatnya. Matanya memandang menerawang. Tak lama kemudian, Ahjumma itu meletakkan satu botol soju dan sebuah gelas kecil di hadapannya.

Dengan tangan yang bergetar ia mencoba meraih botol soju tersebut. Tetapi, tangannya terhenti di udara. Ia ragu untuk meminumnya. Jika kalian masih ingat yang dikatakan Yoona. Irene tak pernah menyentuh benda beralkhohol sebelumnya. Lebih tepatnya Ayahnya melarangnya dengan berbagai macam alasan. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya kemudian mendengus pelan. Seakan desahan itu akan membawa semua hal yang membuat dadanya sesak pergi.

Kemudian ia merogoh saku mantel sebelah kiri mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Kemudian ia berusaha mengetik pesan dengan tangan gemetaran kepada seseorang, sepertinya Yoona.

‘Kumohon datanglah ke warung tenda didekat rumah sakit. Sungguh aku membutuhkanmu Yoong.’

Kemudian dengan sekuat tenaga ia menekan tombol send.

Sesaat kemudian, ia langsung menyambar botol soju tersebut dan menuangkannya kedalam gelas kecil. Kemudian menegaknya dengan buas, ia merasakan tenggorokannya serasa terbakar. Tidak terlalu buruk untuknya saat ini. Walaupun pahit, pada akhirnya manis walaupun sedikit. Ia kemudian tersenyum simpul menertawai dirinya sendiri.

Untuk saat ini entah kenapa ia tidak bisa menangis untuk melepaskan semua beban yang ada di dadanya. Ia hanya mampu menertawai dirinya sendiri. Begitu bodoh, sampai sampai ia menyumpahi dirinya sendiri bagai orang bodoh. Sungguh bodoh jatuh kepada orang yang tak pernah benar-benar mencintainya. Sungguh bodoh menantikan orang yang tak pernah mencintainya dengan setulus hati. Itu yang sedang di pikirannya. Apa kalian juga berpikir kalau Luhan tak benar-benar mencintai Irene?

Lagi, ia menuangkan soju ke dalam gelas kecil lalu menenggaknya. Pening ia rasakan, padahal ia hanya meminum 2 gelas kecil rasanya sudah pusing sekali. Ia hanya bisa memandang menerawang jauh.

Kepalanya berat sekali, ia lalu meletakkan kepalanya di meja. Menahan pening yang tak tertahankan. Ia memejamkan matanya sambil meremas tangannya. Keringat dinginpun mulai membanjiri wajahnya. Sesaat kemudian ia melantur menyebutkan nama Yoona.

“Yoongi-ya? Eodiga? Wae? Wae ireohke? Wae neomu appa?” ia merintih sendiri. Ia sungguh ingin mennagis, tetapi ia tak bisa. Hanya, ia merasakan sesak serta jantungnya serasa teriris. “Yoongi-ya? Yoong!”

Ia terus saja meracau nama Yoona. Seperti orang gila yang tak punya rumah, ia bingung akan semua ini. Menangis tak bisa, hanya bisa merutukki diri sendiri. Marah? Entah kenapa ia tak marah kepada Luhan. Tetapi ia marah kepada diri sendiri yang terlalu bodoh. Terlalu bodoh karena jatuh kepada orang yang tak pernah mencintainya. Bodoh!

Beberapa puluh menit berlalu, ia masih disini masih sambil meremas tangannya yang berpeluh. Terus merapalkan nama Yoona. Terus merutukki dirinya sendiri, menyumpahi diri sendiri. Meremas tangannya sendiri sampai buku-buku tangannya memutih.

Sebuah tangan meremas pundaknya. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menengok ke belakang. Memastikan siapa yang tengah memegang pundaknya. “Yoongi-ya….,” suara beratnya membuat Yoona tertegun.
Cepat-cepat Yoona langsung mengambil posisi duduk di hadapan Irene. “Wae? kenapa kau minum ini? Jika eomma tahu-“

“Diamlah, aku hanya merasa frustasi dengan semua ini. Kenapa saat kita patah hati bukan hati kita yang sakit? Kenapa jantungku yang sakit kenapa? Kenapa?” kata Irene menatap mata Yoona lurus.

“Irene…. ada apa? Ceritakan padaku semua yang terjadi.”

“Dia memutuskanku karena cinta dimasa lalunya. Kurasa itu cukup untuk kukatakan. Aku ingin menangis tapi tak bisa.” Kata Irene sambil tersenyum simpul. Ia lalu memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, berusaha membuatnya tidak sesak lagi. Dan sekali lagi ia menuangkan soju dalam gelasnya lalu menenggaknya.

“Irene, jangan seperti ini-“ kata Yoona serak. Matanya berkaca-kaca melihat adiknya yang sudah kacau.

“Kumohon. Hanya kali ini saja, biarkan aku mengingkari janjiku pada Appa. Kumohon, aku juga bingung apa yang sedang kulakukan.” Jawab Irene sambil mendesah kasar.

“Kita harus pulang sekarang Bae!” kata Yoona, sekarang nadanya muali meninggi.

“Biarkan aku! Aku ingin begini untuk kali ini saja.” kata Irene meninggi lalu pelan. Ia kemudian menyambar botol soju dan menenggaknya sekaligus secara bersamaan.

“Bae!” teriak Yoona.

“Ahhhh… melegakan. Rasanya enak juga. Ayo kita pulang,” kata Irene sambil berdiri dari tempatnya. Ia lalu berjalan dengan tertatih. Karena sudah mabuk.

Yoona mengikutinya dari belakang sebelum akhirnya menghambur memeluk irene karena hampir jatuh terduduk di trotoar. Ia lalu menuntun Irene ke mobilnya.

“Kami pulang!” kata Irene di depan pintu sambil dipapah Yoona. Yoona terisak dalam diam, ia menangisi nasib adiknya ini yang begitu malang. Siapalah itu yang membuat adiknya seperti ini, Brengsek!

Eomma Irene keluar menghampiri mereka berdua. “Irene!” bentak Eomma.

“Eoh? Eomma? Eomma kenapa eomma Irene sangat cantik? Ahh… eomma, Irene belum cerita? Aku merasakan apa itu sakit hati eomma. Sakit ya? Kenapa aku tak bisa menangis? Ingin rasanya menangis.” Lantur Irene. ucapannya tak jelas.

Plaaakkkkk….

Irene memegang pipi kirinya yang ditampar oleh eommanya. Ia terdiam mematung sebelum akhirnya tersenyum, perih.

“Eomma menamparku?” kata Irene menatap eommanya dengan tatapan kosong. “Eomma menamparku? Kenapa aku tidak merasakan sakit? Kenapa jantungku yang sakit? Ada apa eomma?” kata Irene sambil memukul-mukul dadanya yang sesak. Ia lalu jatuh terduduk dilantai sambil menangis. Akhirnya, ia dapat menangis. Ia berharap dengan ini ia merasakan lega.

“Yoona! Bisa kau jelaskan semua ini?” tanya Eomma Irene dengan nada tinggi. Ia terlihat marah dengan kelakuan Irene.

Yoona terisak, ia sudah mendengar semua cerita Irene di mobil. Tanpa sadar Irene menceritakannya. Tak ada satupun yang terlewat. Semua ia ceritakan. Yoona menutup mulutnya dan terisak. Ia tak bisa mengatakan apapun, ia merasakan semua yang dirasakan Irene. Yoona merasakannya.
Tanpa basa-basi, eomma Irene menyeret anaknya itu menuju kamar mandi. Mencengkeram lengan Irene kuat. Sedangkan Irene bagai idiot tak membantah, dan hanya menuruti yang dilakukan eommanya. Yoona dibelakang mengikuti Irene.

“Eomma! Kumohon kau apakan Irene?” isak Yoona.

“Dia harus mendapatkan pelajaran karena sudah mengingkari janjinya kepada Appanya.” Kata Eomma Irene masih mencengkeram kuat lengan Irene. mungkin didalam sama lengannya sudah lecet.

“Eomma, jangan lakukan itu. Irene… irene!” Yoona tak mampu menjelaskan semuanya. Ia merutkki diri sendiri.

Eomma Irene melempar tubuh anaknya dilantai kamar mandi. Irene terus menggigil kedinginan. Tangannya bergetar, seluruh tubuhnya bergetar Hebat. Dengan cekatan eomma Irene menyalakan shower dan akhirnyapun tubuhnya basah kuyup.

Yoona saat itu juga langsung menghambur memeluk Irene. Ia menangis memeluk Irene. Air dari shower itu terus mengguyur mereka berdua. Irene menangis sambil memukul-mukul dadanya dengan kuat, Yoona terus memeluk tubuh mungil adiknya penuh kasih.

“Eomma! Hentikan! Eomma! Kasihanilah Irene, apa eomma tahu. Pria yang ditunggu Irene selama 10 tahun itu menyampakkkan Irene begitu saja? eomma!” pinta Yoona. Yoona menangis. Irenepun meraung dipelukannya.

Saat itu juga eomma langsung menghentikan air yang mengalir di shower itu. Eomma Irene langsung menghampiri anak-anaknya dan memeluknya.

“Kalian bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” rutuk eommanya. Ia memukul punggung Irene masih sambil memeluk Irene dan Yoona. Merekapun terus menangis bersama di kamar mandi.

Pagi menjelang, sinar matahari yang tak terlalu menyilaukan tetapi sukses membuat Irene mengerjapkan matanya. Ia menggeliat sebentar kemudian memegang dahinya. Demam. Irene demam tinggi. Irene melihat sekitar tempat tidurnya sudah tak ada siapa-siapa. Sebelumnya ia tidur di temani Yoona dan Eomma-nya.

Ia melihat jam di atas nakas kemudian mendesah kasar. Karena ini sudah jam 10 lebih. Dia terlambat bekerja. Ia merasakan kepalanya pusing seperti di pukul dengan martil secara beruntun. Ia merasakan perutnya yang mual kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya –sebenarnya ini bukan tempat tidur siapapun, karena ini adalah kamar tamu- kemudian dengan lari kecil ia menuju kamar mandi di samping dapur.

Uhhh…. wekssss…. Irene memuntahkan soju yang kemarin sempat ia tenggak dan makanan yang belum sempat ia cerna kemarin. Ia lemas dan terduduk di samping closed tempat ia memuntahkan isi perutnya. Dahinya mengalirkan bulir keringat.

Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat serta wajahnya memucat. Setelah sekian lama ia duduk di samping closed sambil mengumpulkan semua energi yang masih tersisa, ia bangkit dari duduknya menuju dapur.
Irene mengambil yoghurt dari dalam kulkas kemudian berjalan menuju ruang tengah. Dia duduk di sofa sambil memeluk lututnya, sesekali ia menyesap yoghurt itu. matanya menatap kosong, kemudian munculah bulir alirmata dari kedua bola matanya yang bersinar.

Ia masih mengingat kejadian kemarin, saat Luhan mengatakan semuanya pada Irene. Ia masih ingat itu semua, padahal otaknya menolak untuk memikirkan semua kejadian kemarin. Ia menangis dalam diam sambil meremas botol yoghurt.

Sebuah suara memanggil Irene dari arah dapur, “Irene… nanti malam kau harus ikut eomma. Eomma hanya menginginkan hal yang terbaik untukmu, jadi eomma boleh egois kan?”

Kemudian kembali terdengar bunyi pisau yang mangantam talenan dari arah dapur, serta suara kompor menyala dan air mendidih. Dengan mengumpulkan kekuatannya dan berusaha membuat suaranya tak serak ia menjawab. “N-Ne, eomma pantas melakukan apapun yang eomma mau. Aku sekarang menyerahkan smeuanya padamu.” Kata Irene yang putus asa.

“Kau ingat perjodohan yang eomma katakan dulu? Eomma saat itu mungkin bercanda, tetapi tidak untuk sekarang. Kurasa aku perlu melaksanakannya. Biarkan eomma mengatur hidupmu untuk kali ini saja.” kata Eomma Irene, pembicaraan ini mulai serius. Irene mennagis semakin deras sambil masih memeluk lututnya.

“Lakukan apapun yang kau mau. Aku sudah putus asa.” Kata Irene membuat suaranya tidak serak namun gagal.

“Yoona sedang mengambil baju dari perusahannya untuk kau. Dia akan kembali sebentar lagi, Kita akan pergi nanti sore. Teman ayah bebrapa hari lalu menanyakan perjodohan ini. Ibu menjawabnya akan memberitahunya untuk beberapa hari ke depan pada saat itu. tadi pagi ibu menelpon Kim Ahjussi dan ia menyetujui jika kita ke rumahnya nanti.” Kata Eomma Irene. kalian pasti tahu dibalik kalimatnya yang tenang, menyimpan semua rasa bersalah kepada Irene karena sudah lancang mengatur hidupnya. Tetapi naluri seorang ibu tak bisa di biarkan begitu saja. Seorang ibu yang tak ingin melihat anaknya terluka.

“Eummm..” jawab Irene yang belum tentu di dengar oleh eommanya yang sedang memasak di dapur.

Mereka sudah berada di mobil. Seorang sopir pribadi keluarga mereka mengantar mereka yang sudah rapi sekali. Yoona menggunakan dress berwarna peach selutut yang duduk di depan. Sementara Eomma Irene dan Irene duduk di belakang.

Irene begitu cantik hari ini. Yoona yang melakukan semua ini, membubuhkan make up sederhana di wajah Irene. Berbeda dari yang sebelumnya, yaitu Irene yang hanya memakai BB crem dan lip tint saja. Kini Irene nampak santik dengan dress hitam dengan bagian bwahnya mengembang sampai ke bawah lutut. Serta rambutnya yang cantik dengan di kepang ke samping. Serta kalung cantik menghias lehernya. Jarang sekali Irene memakai pakaian seperti ini. Mungkin ia pernah memakainya saat menghadiri pernikahan atau acara penting lainnya.

Sesekali Yoona yang berada di kursi depan memerhatikan Irene yang duduk di belakang lewat kaca yang terpasang di atas dashboard mobil. Yoona merasa sepupu cantiknya itu seperti boneka coppelia. Boneka dari kayu yang amat rapuh dan cara kerjanya di gerakkan oleh seseorang. Ia tak pernah melihat Irene yang patah hati seperti itu. irene lebih terlihat seperti mayat berjalan.

Ia terlihat seperti biasanya, tapi sinar di wajahnya itu meredup. Ia masih seperti biasanya yang selalu tertawa. Tetapi saat ia sendirian ia melihat Irene yang murung. Ia masih tertawa seperti biasanya. Tetapi tawa itu tak memperlihatkan matanya yang bersinar seperti dulu. Tak manampakkan senyumnya yang cerah walaupun caranya tersenyum masih sama seperti itu.

Tak beberapa lama kemudian, mereka tibalah di sebuah rumah yang sangat besar. Dengan halaman yang luas serta pintu gerbang yang besar nan tinggi. Irene ingat kalau ia pernah ke sini sebelumnya tapi itu sudah lama sekali. Sepertinya saat itu ayahnya yang mengajaknya karena akan mengambil sebuah dokumen.

Mereka lalu di turunkan di depan bangunan utama. Mereka di sambut oleh pelayan-pelayan dengan berpakaian rapi dan mengantar mereka ke dalam rumah.

Irene melihat bangunan rumah ini sangatlah besar, atapnya tinggi. Ia masih tak percaya apakah ia benar-benar akan dijodohkan dnegan anak dari pemilik rumah sebesar ini? Ia berjalan berdampingan dengan Yoona. Sedangkan eommanya sedikit lebih jauh di depan.

Ia tahu saat ini ia harus menerapkan ilmunya saat ia disekolahkan di sebuah sekolah kepribadian saat sekolah menengah dahulu. Ia harap semua akan berjalan lancar, dan ia berharap perjodohan ini dapat terselenggara. Biarlah buku kenangan usang berumur 12 tahun itu tertutup rapat. Ia sekarang telah membeli sebuah buku baru yang lebih modern.

Tak lama kemudian sepasang suami istri setengah baya menghambur ke arah ibu Irene. Irene memaksakan senyumnya dan Yoona terlihat benar-benar tersenyum saat merasakan kehangatan yang di berikan keluarga ini.

Ia ingat wanita setengah baya itu adalah teman eomma Irene. Irene pernah mengantar eomma menemui temannya itu. dan berbincang sedikit dengannya, ia merupakan istri yang baik menurut pengamatan Irene. ia terkesiap untuk sesaat saat ia mengingat jika wanita ini yang memasukkannya di Jinan Internasional Hospital. Ia ingat juga jika wanita ini istri dari pemilik Jinan Internasional Hospital. Berarti ia akan menikah dengan pewaris Jinan Internasional Hospital tempatnya bekerja.

“Silahkan duduk.” Kata pria paruh baya yang ia ingat dengan nama Kim Ahjussi itu.

Mereka dengan hampir bersamaan duduk di meja makan keluarga Kim itu. Suasananya begitu hangat, tetapi Irene belum mengucapkan sepatah kata-pun.

“Kau lebih cantik daripada beberapa bulan lalu saat kita bertemu.” Kata Nyonya Kim. Irene meatapnya kemudian tersenyum.

“Sepertinya anak kita nanti akan serasi sekali saat berdiri berdampingan di altar.” Kata Kim Ahjussi kepada eoma Irene.

“Kurasa juga seperti itu. aku harap anakmu lebih baik dari dirimu itu.” kata Eomma Irene sambil tertawa. Semua orang di situ tertawa termasuk Yoona dan Irene. Memang, keluarga Irene dan Keluarga Kim menjalin hubungan dekat. Tetapi Irene belum pernah melihat anak mereka, karena seingat Irene anak mereka dulu sempat kuliah di Belanda.

“Eyyy, cantik aku belum tahu namamu. Sudah punya kekasih belum?” tanya Kim Ahjussi kepada Yoona.

Yoona terbelalak kaget kemudian menjawab, “Ne. Namaku Yoona. Aku sudah memiliki kekasih, dia pemimpin grup Hyundai.” Kata Yoona dengna malu-malu.

“Choi Siwon?” tanya Nyonya Kim sambil membelalakkan matanya. Yoona menjawab ‘ya’ denngan malu-malu.

“Kudengar dia saat ini sedang wamil. Lalu sekarang kau bagaimana?” tanya Kim Ahjussi.

“Iya, aku harus menunggu 2 tahun lagi.” Kata Yoona sambil tersenyum.
“Si Kiho itu ingin anaknya cepat-cepat memegang kendali perusahaan. Katanya menikmati masa tua. Tetapi saat ini anaknya wamil dia lagi yang akan mengurusnya.” Kata Kim Ahjussi kemudian terbahak.

Kemudian tak kecuali Irene disitu terrtawa. Irene mulai merasakan kehangatan keluarga itu. ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan tak apa dengan perjodohan ini.

“Anak itu kemana sebenarnya? Beberapa waktu lalu ia baru pulang. Kelihatannya ia asyik bekerja di rumah sakit sampai lupa jika aku menyuruhnya pulang lebih awal. Dia baru bekerja tadi. kau tak masuk ya? Jika kau masuk pasti kau sudah tahu bagaimana tampangnya yang menyebalkan itu.” kata Nyonya Kim sambil melongok ke arah tangga melingkar yang menghubungkan lantai 1 degan lantai 2.

Kemudian Kim Ahjussi menyuruh salah satu pelayannya untuk memanggil putranya yang sedang berganti pakaian di atas. Pelayan itu berbalik untuk memanggil putra Kim Ahjussi untuk bergabung dengan keluarga Irene.
Belum sampai pelayan itu berjalan 100 meter. Seorang lelaki dengan setelan jas rapinya dan sepatu yang mengkilat turun dari tangga lalu menghampiri mereka semua yang duduk di meja makan. Irene mengamati lelaki itu dari atas sampai bawah.

“Annyeonghaseyo, Kim Junmyeon imnida.” Kata lelaki tu sambil tersenyum kepada Irene, Yoona dan Eomma Irene. kemudian membungkuk memberi salam.

Irene mengakui bahwa lelaki itu snagat tampan. Ia tetapi belum merasakan sesuatu yang berhasil mencuri hatinya untuk saat ini. Ia dalam hati meringis, karena belum bisa jatuh cinta dengan lelaki calon suaminya itu. Tetapi ia berjanji dan bertekad untuk berusaha mencintainya dengan seluruh hidupnya.

-TBC-

Huhehehehehhe….. akhirnya jadi gini ceritanya /ditimpuk riders maupun siders/ Yang dijodohkan sama Irene akhirnya terungkap kan setelah sekian lama anda semua menunggu? makasih ya udah mau nungguin kisah cinta mereka. Ini chap terpanjang sepanjang masa yaitu lebih dari 6000 word. Semuanya jadi terungkap kan? Ini mau happy ending atau sad ending nih? aku udah punya gambaran dari akhir mereka. Aku udah punya gambaran sad ending maupun yang happy ending, kalian mintanya yang apa nih hehehe… Oh iya Selamat Natal dan Tahun Baru bagi kalian semua yang merayakan!  Selalu ditunggu komentar dari kalian, karena penulis sama dengan pengemis komentar dari pembaca! Selamat Liburan Panjang juga ya!

24 tanggapan untuk “[Chapter 7: Broke?] Emergency Love”

  1. Maaf baru baca ni ff ngebut dari chapter 1 sampe chapter 7, dan komen baru di ff ini. Ini ff bagus banget tapi lebih bagus kalo endingnya irene sama luhan, walaupun sakit bacanya tapi mereka berdua masih cocok menerutku, ditunggu thor next chap. Fighting thor !!

  2. Aishh luhan minta diapain nih? Enak bgt ngomong ke irene kek gitu,gregettt jadinya thor T.T
    Irene dijodohin sama suho? Wah cast utamanya nnti berubah dong wkwk udah gak luhan-irene 😂 gapapalah yang penting engga diPHP in lagi waks *sok tau* Next ya penasaran, jan lama2 juga 😀

    1. Timpuk aja Luhan pake sepatu timpuk T^T Luhan jahat banget ya T^T Ok ok nextnya habis tahun baru ya. Ini mau ada reborn author soalnya. makasih udah baca dan komentar!

  3. Dan–, putus. Ternyata Luhan masih kebayang sama masa lalu, yang saat ini malah ketimpa sama masa lalunya~
    Dan…
    Nahlo Irene-nya jadi dijodohin kan. Lu, nyesel itu belakangan loh. Tapi Irene belum menunjukkan ketertarikan sih, dan kayanya bakal susah kan?
    Jadi penasaran gimana kedepannya… Ditunggu ya^^

    1. Iya dia dihantui sama bayang-bayang pacarnya itu. Mungkin dia merasa bersalah kali ya karena nggak bisa nyelametin pacarnya dulu jadi waktu sama Irene dia masih di selimuti rasa bersalahnya.

      Ntar Lu nyeselnya waktu chap berikutnya. Next Chapternya habis tahun baru ya soalnya mau ada reborn author di tunggu aja ya!

  4. Walah.. jadinya luhan sama irene hubungannya gak jelas gini.. malah irene sekarang dijodohkan lagi sama suho.. walah walah.. ceritanya makin seru thor.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

    1. walah…. ceritanya makin mirip sinetron indonesia berbelit belit hehehehe… ditunggu habis tahun baru ya soalnya ini mau ada reborn author! makasih udah baca dan komentar!

  5. Jiaaahhhh si authornim
    Awal-awal fluff abis, Ehhh malah putus *timpuk luhan pake sepatu*
    Happy ending dong authornim *awas aja nggak*
    Tapi berharapnya jalan luhan untuk mendapatkan irene kembali agak susah *penggemar beat genre hurt-comfort*
    Dan mas JM sudah kamu sama chorong saja sana *surong selalu selamanya dimana-mana* haha :p
    *dan selalu nganggep kalo irene suho itu semacam besties atau twins*
    Tapi terserah authornim sih suhonya mau diapain (?)
    Polonia harus happy ending *nyengir bareng chanyeol*
    Semangat selalu authornim buat melanjutkan ceritanya
    Dan selamat liburan Panjang dan tahun baru authornim ^^

    1. Jiahhhhh… kak timpuk Luhannya jangan kenceng-kenceng. Happy ending oke oke di tampung sarannya.

      Eyyy..Chorong nggak sama siapa2, Chorong sma aku kok *plakkk

      Tenang banyak yang mau kok sama suho, staff EXOFFI aja banyak yang mau kok *kedip mata*

      Ok ok. Btw aku libuan cuman hibernasi aja di rumah wkwkwkwk…

      makasih udah mau baca dan komentar!

    1. Semua pertanyaan kamu bakal dikupas habis di Chapter 8. Ditunggu aja ya. Mungkin setelah tahun baru soalnya ini mau ada reborn author! semangat buat nunggu ya!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s