[EXOFFI FREELANCE] Space Betweenn Our Fingers (Chapter 4)

5c309479-3d28-4873-b2df-8f93d40cc63d

Tittle/judul fanfic : Spaces Between Our Fingers

Author : aeri

Length : Chaptered (Chapter 4)

Genre : Romance, Friendship,

Rating : 12

Main cast : a) Park Chanyeol b) Kim Hejin

Additional Cast : Kim Jongin

Disclaimer : Cerita ini adalah fiktif belaka kalau ada kesamaan karakter atau jalan cerita merupakan

hal yang tidak sengaja. Belum pernah dipublish di web lain dan baru pertama kali mengirim dan buat

Alasan hilangnya Chanyeol selama beberapa hari terakhir akhirnya terjawab sudah.

Chanyeol diterima di audisi salah satu agensi sehingga dia harus menjalani training setiap

hari hingga pulang larut malam. Chanyeol sudah menyiapkan mental disemprot habis-

habisan oleh Hejin karena dia menghilang, namun ternyata Hejin tidak marah sama sekali.

 

Park Chanyeol

“Gomawo, ternyata kamu tidak marah. Padahal aku sudah menyiapkan mental kamu omelin

hari ini, hahaha.”

“Ya! Kenapa aku harus marah kalau ternyata alasannya ini, aku pasti juga akan ikut senang.

Dan kau akan mentraktirku makanan mahal, kan? Jadi bagaimana aku bisa marah.” (Aku

tersenyum sangat lebar)

“Siapa bilang aku akan mentraktirmu makanan mahal? Aku akan mentraktirmu tteubokki.”

12

Dia berusaha memasukan apa saja ke mulut kecilnya.

Lega sekali rasanya, melihat mulut kecil yang aku kira bakal ngomel seharian karena aku

terus membatalkan janji dan menghilang selama beberapa hari, malah lebih sibuk mengunyah

semua makanan yang ada di depannya hingga belepotan.

“Ya! Bagaimana kamu bisa terus mengunyah daritadi? Kau tidak takut gemuk seperti gadis-

gadis lainnya?”

“Hasss… Kau tidak ikhlas mentraktirku ya?”

“Aku hanya tidak percaya, gadis yang makannya sepertimu masih bisa memiliki badan

sekecil ini.”

“Sudah diam saja lah, siapkan saja uangmu untuk membayar ini semua.”

“Habis ini jalan-jalan dulu, ya? Jangan langsung pulang ke rumah, nanti biar aku antar.”

“Ne! Ne! Hari ini kamu bebas lah mau minta apa.”

“Manis ya kamu kalau udah ditraktir.”

“Ayo, jalan!”

m

Sesampainya di depan rumah Hejin.

“Jangan lupa catetin pelajarannya ya?”

“Aku pasti catet, tapi mau minjeminnya ke kamu itu lihat entar kamu bakal traktir aku apa.”

“Ya! Oh iya, kalau aku lagi gak sekolah, berangkat dan pulangnya bareng Jongin aja.”

“Haha, ada apa denganmu? Menyuruhku berangkat dan pulangnya bareng Jongin Oppa?

Bukannya selama ini kamu selalu sebal?”

“Ya! Aku ini khawatir denganmu. Kamu kan tidak punya teman lagi selain aku. Aku tidak

mau kamu berangkat dan pulang sendiri, takut kalau nanti terjadi apa-apa di jalan.”

“Aigooo…manis sekali temanku ini. (sambil mengacak-acak rambutku) Ya! Aku masih

punya banyak teman lain selain kamu, dan aku bukan anak kecil lagi.”

“Hasss… Jongin pasti juga suka jadi ojek pribadimu kan? Ya sudah, aku pulang dulu.”

“Oh! Gomawo. Kalau kau sedang lelah dengan trainingmu, ada aku, ingatlah.”

“Oh! Ar-aso, annyeong.”

m1

Kim Hejin

“Jadi kamu mau cerita apa?”

“Nanti saja, selesaikan dulu makannya.”

“Kabar gembira kan pastinya?”

“Oh.”

“Aku hari ini tidak bisa… Emm.. bagaimana kalau weekend ini?”

“Mau ke mana memang?”

“Traktiran kan?”

“Traktiran apa?”

“Katamu kabar gembira? Pasti ada acara lanjutannya setelahnya? Makan-makan? Ya kan?”

“Ya! Kenapa makan terus yang ada di otakmu. Jangan salahkan aku kalau aku juga sama

denganmu.”

“Ya! Itu beda…”

“Beda dari mananya?”

Kriiiiiiiing

“Yah… sudah masuk, makananku belum habis.”

“Kamu tidak jadi cerita lagi dong.”

“Bantu habisin makananku dulu.”

“Oh.”

Heran, kenapa setiap aku mau cerita dengannya tentang summer schoolku ke Chanyeol selalu

saja ada halangannya. Padahal minggu depan aku sudah mau berangkat, tapi aku belum

sedikit pun ke Chanyeol. Dia berjanji malam ini akan mampir ke rumahku setelah pulang

training. Kita lihat saja nanti. Aku ragu, pasti pulangnya dia tengah malam.

m3

Aku terbangun karena suara telpon yang tidak berhenti daritadi. Aku lihat layar

handphoneku, ternyata Chanyeol.

Park Chanyeol

Aku tau Hejin pasti sudah tidur kalau aku ke rumahnya jam segini. Tapi aku tidak punya

pilihan lagi. Aku sangat terkejut dengan pesan yang Hejin kirim. Aku tidak menyangka cerita

yang selama ini ingin dia sampaikan ternyata tentang keberangkatannya ke Paris. Aku sangat

menyesal selama ini aku tidak pernah memberi waktu dia untuk bercerita. Aku sangat senang

mendengar berita ini, tapi kepergiannya terlalu mendadak untukku. Bagaimana pun malam

ini aku harus bertemu Hejin.

m4

“Yeoboseyo?”

“Maafkan aku membangunkanmu. Aku di depan rumahmu sekarang. Bisa kau keluar

sebentar?”

“Oh! Jamkkan.”

“Oh!”

Mianhae, Hejin-a.

Kim Hejin

“Mau ke mana kau Hejin tengah malam begini?” (Appa yang masih belum tidur, kaget

melihatku yang masih setengah sadar berjalan keluar)

“Di luar ada Chanyeol, Appa. Kami mau mengobrol sebentar.”

“…” (Appa masih dengan muka binggung, diam saja membiarkan aku lewat menemui

Chanyeol yang sudah menunggu di luar)

“Chanyeol-a.”

“… (Dia tiba-tiba langsung memelukku) Chughae! (Setelah diam lama) Kenapa kau baru

memberitahuku saat minggu depan kamu sudah berangkat? (Tiba-tiba dia melepaskan

pelukkannya begitu saja, sambil menatapku dengan mata bundarnya seperti mau lepas)”

m5

“Kita ngobrol di taman samping saja.”

“Kau tau sendiri, aku sudah ingin menceritakan ini sejak lama. Tapi belum ada waktu yang

tepat. Karena tidak ada waktu lagi, jadi aku terpaksa memberitaumu lewat pesan malam ini.”

“Hmmm *sigh*… Mianhae.”

“Wae?”

“Aku selalu tidak punya waktu untuk mendengarkan ceritamu. Harusnya kita lebih sering

main bersama akhir-akhir ini, sebelum kamu berangkat ke Paris. Tapi aku tidak bisa.”

“Ya! Ya! Wae? (Aku tertawa) Aku hanya di Paris empat sampai lima bulan saja paling lama.

Sudahlah, kau fokus dengan training-mu dulu.”

“Ar-aso. Tapi tetap saja…”

“Sudah…sudah. Kau pasti capek, pulanglah, istirahat.”

“Kamu kapan berangkatnya? Kita harus buat farewell dulu. Kau juga belum menceritakan

lengkapnya bagaimana.”

“Aku berangkat Sabtu pagi.”

“Hmmm…*deep sigh*”

“Haha, sudahlah, tidak usah sesedih ini.”

“Aku tidak sedih, aku sangat senang.”

“Apa sekarang ekspresi muka senang sudah ganti menjadi seperti wajahmu saat ini?” (Aku

mengodanya, yang jelas-jelas sedang melipat mukannya)

m6

“Ini hanya terlalu cepat saja menurutku. Aku belum siap kamu pergi. Aku akan mengantarmu

ke bandara nanti.”

“Oh.” (Aku tersenyum melihat mukanya yang manyun dan tampak sangat lelah)

“Boleh aku memelukmu?”

“…”

Author

Sabtu pagi, di rumah Hejin sedang sangat sibuk memasukan barang-barang yang akan dibawa

Hejin. Sedangkan Hejin sedang sibuk berbicara dengan ponselnya.

“Oppa, kau benar-benar tidak akan mengantarku ke bandara?”

“Aku tidak suka perpisahan. Aku tidak suka berpisah denganmu. Aku tidak suka kamu pergi

ke Paris. Aku tidak suka kehilanganmu. Aku tidak suka mengantar kepergianmu. Jeongmal

sirh-eo, Hejin-a. Mianhae.”

“Oppaaa….” (Hejin terisak)

m7

Jongin sudah berada di bandara sebelum Hejin menelponnya. Dia sangat tidak menyukai

perpisahan, tapi dia ingin melihat wajah Hejin untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-

benar pergi. Perasaannya sangat tidak karuan, dia sangat membenci kepergian Hejin hari ini.

Kim Hejin

Aku benar-benar merasa tidak karuan, di suatu sisi aku merasa sangat bahagia, akhirnya hari

yang kutunggu-tunggu selama ini, datang juga. Tapi di suatu sisi, aku merasa sangat sedih,

Jongin Oppa sangat tidak menyukai kepergianku dari awal aku memberitaunya. Dia menjadi

sangat dingin akhir-akhir ini. Walaupun aku jelaskan kalau ini adalah cita-cita yang selama

ini aku terus impikan, dia tetap mengatakan berkali-kali kalau dia tidak suka dengan

kepergianku ini. Dia memang tidak memintaku untuk tetap tinggal, tapi dia terus meminta

maaf dan mengatakan kalau dia tidak suka dengan kepergianku ini. Dan hari ini dia tidak

akan mengantarku ke bandara. Oh iya, aku lupa memberitahu Chanyeol kalau aku sudah

berangkat ke bandara, katanya dia akan menyusul.

m8

Park Chanyeol

Aku ingat hari ini Hejin akan berangkat. Aku sangat ingin mengantarnya ke bandara, tapi aku

masih harus mengikuti training, dan aku tidak tahu ini kan selesai jam berapa. Aku sangat

panik saat hari makin siang.

m9

Dia sudah berangkat dan aku masih ada satu sesi latihan lagi. Damn!

“Yeoboseyo?”

“Tunggu aku, Hejin-a. Aku akan segera ke sana. Kumohon tunggu aku.”

“Ya! Kau tidak per…”

Tut…tut…tut

Kim Hejin

“Hasss…dasar! Matiin telpon seenaknya sendiri.”

m10

Dia tidak membalas pesanku lagi.

Kim Jongin

Aku melihat kedatangan Hejin dari kejauhan. Aku terlalu takut untuk mendekat. Aku takut

dia benar-benar pergi.

“Hejin-a, hati-hati di jalan. Aku tidak suka kamu pergi. Aku tidak suka berpisah denganmu.”

m11

Kim Hejin

“Kim Hejin!” (terdengar dari jauh seseorang berteriak)

Aku menoleh ke arah seseorang yang memanggil namaku dengan sangat keras, hingga

membuat orang di sekelilingku juga ikut menoleh ke arahnya.

m12

Aku tersenyum melihat mukanya.

“Aigooo… sudah ku bilang, gwaenchanh-a…”

“Biarkan aku mengatur nafasku sebentar.”

“Aku sudah harus naik ke pesawat sekarang. Sampai ketemu lagi ya…”

“Jamkkan-man. *deep sigh* Tetap tunggu aku ya.”

“Mwoseun soriya? Harusnya aku yang bilang begitu.” (Aku tidak paham dengan kata-kata

randomnya)

“Tunggu aku, Hejin-a. Pastikan kau kembali dan tetap menungguku.”

“…” (Hejin masih kebinggungan dengan kata-kata Chanyeol)

“Hati-hati di sana ya. Aku pasti sangat merindukanmu. See you…” (dia mengacak-acak

rambutku)

“Oh! Annyeong! Semangat dengan training-mu. Aku tunggu emailmu ya.”

“Oh! Annyeong.”

mm13

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Space Betweenn Our Fingers (Chapter 4)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s