BYAKTA -Kimiham.Ann.Kimsymp-

124 poster kolab

BYAKTA

oneshoot // romance angst // teen // Park Chanyeol (EXO) – Jung Sena (OC)

 .

present by

kimsympkimihamanneandreas

 .

 .

“Ketika ia mencintai kabut.”

.

***

 .

Ckrik

 .

Seperti biasa, Sena selalu melakukan kebiasaannya saat duduk di halte, memotret seseorang diam-diam. Entah sudah keberapa kalinya Sena memotret lelaki yang duduk pada ujung halte di sana.

 

Sena tersenyum sembari menatap lekat-lekat hasil jepretannya. Menampakkan seorang lelaki yang sedang duduk tegap menunggu bis tujuannya datang. Lelaki yang tak pernah tersenyum dan selalu memasang wajah dingin dan kakunya.

 

Ya, Sena tahu semuanya. Semuanya tentang lelaki berwajah kaku itu, Park Chanyeol.

 

o O o

.

Awal bulan Desember sudah datang, menjadi kewajiban semua orang untuk menyiapkan mantel dari yang paling tebal sampai yang hanya sebatas mantel biasa.

Seorang gadis yang tengah berjalan dengan tenang dengan mantel yang lumayan tebal, berjalan memasuki lorong yang menuju arah kelasnya.

 

Koridor masih nampak sepi, dikarenakan gadis ini datang terlalu pagi.

 

Gadis itu, Sena, menaruh tasnya lalu ia duduk di bangku ke tiga dari belakang. Membaca novel di pagi hari adalah kebiasaannya. Terkadang ia menyeruput susu coklat hangat –jika ia tak lupa untuk membelinya saat ia melewati supermarket ketika berjalan menuju sekolah. Suasana yang dingin ditambah heningnya kelas membuat Sena menghidupi tokoh ‘aku’ dalam novel yang ia baca.

 

Cukup lama Sena membaca, mungkin sekitar setengah jam. Ia menutup novelnya lalu beralih menatap jendela kelas melihat beberapa siswa berlalu lalang melewati kelasnya sambil bercengkrama. Manik matanya menangkap kepala seseorang yang berjalan sambil mendongakkan kepalanya angkuh. Seorang murid laki-laki dari kelas sebelah.

 

Orang itu,

 

Park Chanyeol.

 

Entah sejak kapan Sena menyukainya. Yang Sena ingat hanya ia selalu memotret laki-laki itu secara diam-diam, dan memajang foto-foto hasil jepretannya itu di dalam kamar yang sudah dibingkai apik.

 

Sebenarnya Sena ingin dekat dengan Chanyeol, lelaki kaku itu, tapi Sena belum memiliki keberanian untuk itu. Jadi untuk sementara, memandang wajah Chanyeol lewat foto-foto jepretannya saja cudah cukup untuk membuat Sena tersenyum bahagia..

 

o O o

 

Sena berjalan masuk ke dalam kelas Seulgi, sepupunya, dan duduk di samping gadis manis itu lalu melontar pertanyaan dengan ceria, “Bagaimana jika ia berada di dalam kelas?”

 

Seulgi tersenyum melihat Sena yang berani masuk ke dalam kelasnya, bahkan duduk di sampingnya. Seulgi tahu hal ini berani dilakukan Sena karena Park Chanyeol, laki-laki kaku yang disukainya itu, sedang tidak ada di dalam kelas.

 

“Chanyeol, ya? Hm… Seperti biasa ia hanya diam saja, menjawab pertanyaan guru dengan benar, dan ia juga jarang tersenyum. Eh? Mungkin tidak pernah! Aku tidak pernah melihatnya tersenyum, dia anak yang super pendiam dan menarik diri.” tutur Seulgi mememberitahu kebiasaan Chanyeol.

 

Sena menyunggingkan senyum semangat, bahkan hanya dengan mendengar sedikit fakta tentang Chanyeol membuat hatinya berdebar kencang.

 

“Kau menyukainya, kan? Aku sudah tahu sejak lama, Sena. Bahkan jika kau mencoba membohongiku. Aku tahu kau diam-diam memperhatikannya, kan..” kata Seulgi dengan nada menggoda.

 

Sena melirik jam tangannya lalu berbicara tanpa memperdulikan pertanyaan sepupunya, “Baiklah. Terima kasih informasinya, saudara sepupuku yang manis. Aku akan lebih sering-sering mampir ke sini dan berbincang denganmu.”

 

Lalu Sena berjalan keluar dari kelas Seulgi setelah melambai-lambaikan tangannya pada Seulgi.

 

“Hm. Baiklah. Sampai jumpa!” ucap Seulgi setengah malas.

 

Jika saja Sena mau jujur pada Seulgi tentang perasaannya untuk Chanyeol, dengan senang hati Seulgi pasti akan membantu menyatukan mereka. Seulgi menghela napas kala mengingat karakter Sena yang tertutup itu.

 

o O o

 

Chanyeol menatap punggung gadis yang sekarang sudah duduk di kursi kosong di depannya. Ia merasa sedikit aneh dengan gadis itu. Dia baru saja masuk ke kelas, dan tidak ada satu orang pun yang menyapanya. Guru Yoon pun hanya sibuk menulis materinya di papan tulis. Tapi, Chanyeol juga tidak terlalu peduli. Mungkin ia pikir, gadis itu senasib dengan dirinya, sama-sama dihindari.

 

Namun, ada suatu rasa yang menggelitik dadanya, membuat Chanyeol menepuk pelan pundak gadis yang duduk di depannya itu, bermaksud mengenalkan dirinya.

 

“Hey,” sapa Chanyeol.

 

Gadis itu menoleh, menatap seseorang yang baru saja menepuk pundaknya.

 

“H-hai. Na-namaku Park Chanyeol. Apakah kau murid baru di kelas ini?” ucap Chanyeol sambil tersenyum dan berusaha menyusun kalimat perkenalan santai.

 

“Hai. Namaku Jung Sena. Iya dan senang berkenalan denganmu, Chanyeol-ssi”

 

Ada sesuatu yang berdetak saat Sena memperlihatkan senyum manisnya pada Chanyeol, degupan jantungnya. Chanyeol tak bisa mengontrol degup jantungnya saat melihat wajah Sena.

 

Sena tersenyum sesaat kala ia melihat ekspresi Chanyeol, lalu ia berbalik badan dan mulai konsentrasi dengan pelajaran yang diberikan Guru Yoon.

 

Selesai menulis catatan di papan tulis, Guru Yoon melihat daftar absen kelas, “Apakah hari ini Seulgi tidak masuk?”

 

Ne, Seonsangnim. Hari ini Seulgi tidak masuk sekolah.” jawab ketua kelas.

 

“Apakah ada keterangan?” tanya Guru Yoon lagi. Guru Yoon memandang ke seluruh kelas namun tidak ada yang menjawab pertanyaannya. “Baiklah, nanti saya akan menelponnya. Kalian silahkan lanjutkan mencatat.”

 

o O o

 

Bel berbunyi menandakan jam istirahat sudah datang, semua murid berhamburan keluar, sebagian menuju kantin dan sebagian lagi bermain di lapangan atau sekedar berbincang di koridor. Sedangkan Chanyeol masih duduk tenang di kursinya, mengambil tas yang ada di sampingnya dan mengeluarkan kotak bekal makanan dari sana.

 

Itu memang rutinitas yang biasa dilakukannya. Chanyeol tidak biasa pergi ke kantin bersama teman-teman. Atau bermain futsal di lapangan, juga sekedar bercengkrama di koridor bersama murid lain. Chanyeol biasa untuk makan sendirian di dalam kelas seperti ini.

 

Namun hari ini ada yang tidak biasa. Hari ini Chanyeol tidak sendirian.

Gadis murid baru yang duduk di depannya ini, yang tadi menyebutkan namanya sebagai Jung Sena, juga tidak keluar dari dalam kelas. Ia hanya duduk diam di kursinya. Lagi-lagi kegiatan ‘diam’ gadis itu menggelitik rasa ingin tahu Chanyeol dan membuat Chanyeol menyapanya.

 

“Kau tak pergi ke kantin?” tanya Chanyeol.

 

Sena menoleh ke belakang saat mendengar suara Chanyeol lalu menggeleng, “Tidak. Aku tak bisa berada dalam keramaian.”

 

Chanyeol mengangguk, ternyata gadis yang ada di hadapannya ini mirip dengan dirinya, sama-sama tidak suka berada dalam keramaian. Sama-sama sendirian dan tidak memiliki seorang pun teman.

Mungkin Chanyeol bisa mengajak Sena berteman. Bukankah biasanya orang yang memiliki sifat yang mirip dapat berteman dengan baik?

 

Chanyeol lalu menyodorkan kotak bekal pada Sena, “Kau mau?”

 

Sena tersenyum dan mengambil salah satu sandwich isi tuna yang ada di dalam kotak bekal milik Chanyeol, “Dengan senang hati.”

 

Chanyeol tersenyum saat melihat Sena mengigit sandwich isi tuna miliknya, dan senyumnya makin melebar saat Sena tersenyum manis dan mengatakan sandwich buatannya itu enak.

 

Chanyeol dan Sena masih tetap berbincang walaupun kotak bekal milik Chanyeol sudah kosong, obrolan mereka terhenti saat bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi.

Sena kembali berbalik badan dan mengikuti pelajaran yang kali ini diberikan oleh Guru Kim.

 

Chanyeol berusaha fokus pada pelajaran yang diberikan, namun manik matanya berkali menatap punggung Sena yang duduk di depannya. Menatap Sena dalam jangka waktu yang lama tak ayal membuat Chanyeol berpikir.

 

Wajah cantik, senyum yang manis, dan ramah, tentu menjadi semua tipe wanita yang disukai laki-laki, termasuk Chanyeol – mungkin. Namun mengapa gadis manis ini sendirian dan tidak mempunyai teman? Mengapa ia seperti dianggap tak ada? Apa yang salah dengannya?

 

o O o

 

Pagi hari yang dingin, semalaman salju turun dengan deras membuat lapangan sekolah berubah warna seperti selimut putih. Chanyeol berjalan dengan tenang di dalam koridor, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantelnya dan menyembunyikan sedikit wajahnya dibalik syal tebal yang membalut lehernya. Chanyeol membuka pintu kelasnya dan sebersit senyum ringan mengulum di bibirnya kala ia melihat Sena sudah duduk manis di kursinya.

 

Chanyeol meletakkan tasnya, duduk dengan tenang di kursinya lalu menepuk pundak Sena hingga membuat gadis yang sedang melamun itu terlonjak sedikit karena kaget lalu menoleh menatap Chanyeol.

 

Chanyeol tersenyum lebar saat ia melihat mata Sena membulat. “Apakah kau kaget? Maaf aku hanya bermaksud menyapamu, hehe.. Kau datang pagi sekali, sekolah masih sangat sepi.” sapa Chanyeol.

 

“Ah, tidak, aku tidak kaget. Ya, aku suka datang pagi ke sekolah, karena aku suka keheningan seperti ini.” jawab Sena ringan sambil tersenyum.

 

Lagi-lagi senyum samar Sena yang terlihat mengintip dibalik syal tebalnya menular ke Chanyeol dan membuat laki-laki itu melebarkan senyumnya kembali.

 

o O o

 

“Sudahlah, Seulgi-ya” ujar Shinhye, teman Seulgi, sambil menepuk pelan punggung Seulgi menenangkan Seulgi untuk menghentikan isak tangisnya.

 

“Kau tidak perlu menangisinya seperti itu. Kau tahu ‘kan tidak baik menangisi seseorang seperti itu?”

 

“Kau tidak tahu, Shinhye-ya! Di-di-a,”

 

Shinhye kembali mengambilkan tissue di dalam tasnya lalu memberikannya pada Seulgi. “Pakailah. Orang-orang melihatmu”

 

Dengan gerakan cepat, Seulgi mengambil selembat tissue pemberian Shinhye lalu menutupi mukanya yang memerah karena menangis hampir sepuluh menit-mungkin.

 

Shinhye mendesah pelan. Ia melirik sebentar ke arah Chanyeol yang sedang tersenyum-senyum sendiri.

 

Menjijikkan, batin Shinhye melihat Chanyeol yang kini seolah berbicara pada seseorang di depannya.

 

“Kurasa kita harus mengeluarkannya dari sini karena ia bertambah gila setiap harinya,” gumam Shinhye menatap Chanyeol menyedihkan.

 

o O o

 

“Baiklah, bentuklah kelompok beranggota dua orang dan kerjakan tugas akhir minggu ini dengan kelompok kalian. Tugas dikumpulkan minggu depan lewat ketua kelas. Kelas dibubarkan, selamat siang.” tutur Guru Yoon sebelum menutup kelas terakhir hari itu.

 

Sepeninggal Guru Yoon, kebisingan tiba-tiba melanda seisi kelas, guna mencari teman kelompok untuk mengerjakan tugas akhir minggu. Namun, seperti yang sudah diperkirakan Chanyeol, tidak ada seorangpun yang menghampiri Chanyeol dan mengajaknya berkelompok bersama. Hal ini sudah biasa terjadi pada dirinya. Namun juga tak ada satu orang pun yang menghampiri Sena untuk mengajaknya berkelompok. Mengapa semua murid di kelas ini juga menghiraukan Sena seperti dirinya?

 

Chanyeol menatap sekeliling kelasnya, maniknya menatap satu per satu murid yang mulai keluar dari kelas karena sudah menemukan kelompok tugas akhir minggunya. Kebisingan di kelas pun sudah mulai berkurang karena kelas sudah mulai sepi, lalu Chanyeol menatap Sena yang masih duduk tenang di depannya. Mungkin kali ini ia akan mengajak Sena untuk berkelompok bersama, semoga Sena mau.

 

Chanyeol menepuk pundak Sena ringan, sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Chanyeol untuk melakukan hal itu, dan Sena menoleh menatap Chanyeol.

 

“Apakah kau mau mengerjakan tugas akhir Minggu bersamaku?” tanya Chanyeol.

 

Sena menebarkan senyum manis lalu menjawab, “Tentu saja.”

 

Chanyeol ikut tersenyum kala mendengar jawaban Sena, Chanyeol senang. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Chanyeol memiliki partner untuk mengerjakan tugas kelompok.

 

“Dimana kita akan mengerjakan tugas itu?” tanya Chanyeol.

 

“Di sini saja. Dua jam lagi. Pukul tiga sore.” jawab Sena.

 

“Mengapa harus dua jam lagi?” tanya Chanyeol sekali lagi.

 

“Tidak apa-apa. Kau bisa pulang dulu lalu kembali ke sini nanti.”

 

Hmm.. Baiklah kalau begitu, aku akan pergi sebentar ke perpustakaan untuk mencari materi dan akan kembali ke sini dua jam lagi.” jawab Chanyeol sebelum pergi meninggalkan Sena.

 

o O o

 

Dua jam berlalu, sekolah sudah sepi karena ini adalah akhir pekan. Chanyeol berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, dan tertegun sejenak kala mendapati Sena tidak ada di dalam kelas. Apakah gadis itu terlambat? Atau dia lupa?

 

Chanyeol memutuskan untuk menunggu Sena, ia duduk di kursinya dan menopang dagunya di atas meja. Samar-samar ia melihat sebuah lipatan kertas di dalam laci meja milik Sena.

 

Chanyeol mengambil kertas motif bunga-bunga yang ada di dalam laci milik Sena itu dan membacanya. “Apa ini?” gumamnya.

 

______________________________________________

Hai.

Chanyeol, kau membaca surat ini kan?

 

Pergilah ke kafe di ujung jalan.

Kau hanya perlu berjalan beberapa langkah dari situ,

lalu belok kiri.

 

Ikuti kata hatimu.

Cepat pergi ke sana.

Aku harus memberitahu sesuatu kepadamu.

______________________________________________

 

Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung. Apa ini sebuah teka-teki yang biasa ia lihat di film detektif? Apakah surat ini ditulis oleh Sena ataukah hanya sebuah kebetulan namanya tertera pada kertas surat ini?

 

Sesaat keraguan menggerayang di pikiran Chanyeol, namun akhirnya ia menepis itu semua dan berjalan ke halte di depan sekolahnya, dibandingkan berjalan kaki Chanyeol lebih memilih naik bis untuk menempuh waktu tercepat menuju kafe yang dimaksud oleh surat itu. Surat yang kini ada di dalam genggaman tangannya.

 

Tok tok tok

 

Chanyeol mengetuk pelan sebuah pintu rumah sederhana. Rumah yang berada tidak jauh setelah Chanyeol berbelok kiri beberapa langkah dari kafe di ujung jalan. Rumah yang tampak sepi.

 

Sebelum itu ia merapikan seragamnya yang sedikit kusut, ia menyeka bulir-bulir keringat di dahinya, lalu merapikan sedikit rambutnya. Berharap ini rumah yang benar, yang dimaksud dalam surat yang masih ada dalam genggamannya, dan Chanyeol berharap yang akan membukakan pintu untuknya adalah Sena.

 

“Maaf, dengan siapa?” terdengar suara yang asing dari dalam rumah.

 

“Chanyeol, teman dekat Sena.” jawab Chanyeol.

 

Sejujurnya, Chanyeol merasa ragu saat ia mengucapkan ‘teman dekat’. Chanyeol tidak pernah benar-benar mengerti definisi kata ‘teman dekat’. Ia juga tak tahu, Sena menganggap dirinyanya seperti apa, apakah itu teman dekat, sekedar teman, atau hanya murid laki-laki yang tidak memiliki teman.

 

Mendengar nama Sena disebut, pintu kayu yang sebelumnya diketuk Chanyeol perlahan membuka, dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya, “Silahkan masuk..” kata wanita itu ramah sembari melangkah ke samping membiarkan Chanyeol masuk.

 

Chanyeol membungkkukan tubuhnya memberi salam kemudian ia melangkah masuk.

 

Sesaat setelah ia masuk, Chanyeol yakin jika rumah sederhana yang ia kunjungi ini adalah rumah Sena, terlihat dari beberapa foto Sena dan keluarganya dibingkai, dipajang di dinding berwarna putih yang warnanya mulai memudar. Mata Chanyeol kali ini beralih, melihat beberapa buket bunga tertata rapi di sisi sudut ruang tamu. Terlintas di pikirannya, untuk apa bunga sebanyak itu dibiarkan begitu saja tergeletak di atas lantai? Entahlah, Chanyeol tidak ingin tahu lebih karena tujuannya kemari bukan untuk bertanya tentang bunga melainkan untuk bertemu Sena.

 

Lalu Chanyeol mulai membuka suara setelah terjadi keheningan cukup lama, “Bibi.. hari ini saya dan Sena ada tugas kelompok. Apa Sena ada di rumah?”

 

Seketika wanita paruh baya itu menunjukkan raut sedih di wajahnya ketika nama ‘Sena’ disebut, nama anaknya.

 

“Bibi.. apa Sena ada di rumah?” ulang Chanyeol sekali lagi lebih keras setelah tidak ada jawaban dari wanita di depannya.

 

Ibu memejamkan matanya dan menutup wajah dengan kedua tangannya, “Sena? Dia pergi,” ucap Ibu lirih teredam oleh tangannya sendiri.

 

Chanyeol menatap wanita yang ia yakini sebagai ibunya Sena ini lekat-lakat sembari ia menaikkan kedua alisnya heran, kenapa Sena pergi di saat mereka sudah membuat janji?

 

“Bolehkah bibi memberi tahuku Sena pergi ke mana?”

 

Ibu menurunkan kedua tangan dari wajahnya, lalu tanpa ia perintah butiran-butiran air bening keluar begitu saja dari kedua matanya yang nampak memancarkan kesedihan. Lalu ibu menggunakan maniknya yang sendu menatap wajah Chanyeol lekat-lekat.

 

“Ikutlah denganku,” ibu menghela nafas panjang lalu ia menggunakan kakinya yang letih untuk melangkah diikuti Chanyeol dibelakanganya yang hanya bisa menurut.

 

Tak selang waktu yang lama, ternyata Chanyeol dibawa oleh ibu ke sebuah kamar bernuasa seperti milik seorang gadis yang catnya berwarna merah muda. Dan Chanyeol seketika itu juga terkejut ketika melihat di dinding warna merah muda itu banyak di temukan foto-foto dirinya. Seolah tidak mengerti, Chanyeol menolehkan kepalanya menghadap ibu, meminta penjelasan.

 

“Kurasa foto-foto ini adalah dirimu. Sena sangat suka memotret dirimu dari kejauhan.”

 

“Ya, itu aku. Apa kamar ini milik Sena? Lalu dia ada di mana?” entah karena apa tiba-tiba dada Chanyeol terasa sesak. Lalu ia memberanikan diri mulai melangkah lebih dalam lagi ke kamar Sena.

 

“Apa kau tidak tahu jika Sena meninggal satu bulan yang lalu?” tanya ibu dengan suaranya terdengar bergetar dan serak menyayat mendengaran Chanyeol.

 

Tubuh Chanyeol menegang dan detik selanjutnya ia terjatuh begitu saja ke lantai sembari memegang dadanya yang semakin sesak dan sakit. “Bibi jangan bercanda, dua jam lalu aku masih bertemu dengan Sena. Dia masih hidup.”

 

“Sena sudah meninggal. Haruskah kutunjukkan makamnya sekarang juga?” suara ibu semakin bergetar dan air matanya pun jatuh semakin sering membelai kedua pipinya.

 

Chanyeol mendengar suara ibu Sena seolah angin lalu karena ia sungguh-sungguh tidak percaya jika Sena sudah meninggal. Lalu gadis yang mengaku Sena padanya waktu itu siapa?

 

“Dia sudah meninggal. Sena-ku sudah meninggal.” Ucap ibu sekali lagi sembari mendudukkan diri di lantai di samping Chanyeol. Lalu ia mengangkat tangannya ke punggung Chanyeol dan membelainya. Ibu benar-benar mengerti rasa kehilangan.

 

Pandangan Chanyeol memburam tidak jelas karena di kantung matanya ia mencoba menahan desakan air beningnya untuk tidak keluar, namun sayang usahanya sia-sia. Air matanya tumpah begitu saja dan mengalir deras kedua pipinya yang tegas.

 

“Sena..”

 

Chanyeol mengangkat kepalanya sembari memperhatikan foto-foto dirinya di dinding kamar Sena. Walaupun ia baru mengenal dan baru dekat dengan Sena, Chanyeol tidak menampik jika ia sangat kehilangannya dan Chanyeol belum bisa menerima kepergiannya.

 

“Akkkkhhhh….” teriak Chanyeol di antara tangisannya. “Aku mencintai kabut, kabut yang sangat cantik, Jung Sena.”

 

o O o

 

Satu bulan yang lalu…

 

Pukul tiga sore di musim dingin. Salju sudah menumpuk, namun Sena tetap memilih untuk duduk di bangku halte lalu mengeluarkan smartphonenya. Dengan segera ia menekan aplikasi kamera, lalu memotret seseorang dalam kejauhan.

 

Saat kameranya menangkap kacamata milik Chanyeol terjatuh, dengan segera ia memasukkan smartphonenya ke dalam saku seragam lalu berlari tanpa memperdulikan arus lalu lintas.

 

Brakk

 

Bunyi yang terdengar ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Sena dan membuat tubuh mungilnya terpental beberapa meter sebelum akhirnya mendarat di atas aspal.

 

Pandangan Sena menggelap sesaat dan kegelapan serasa berputar-putar di balik kelopak matanya. Ia ingin mengucapkan sebuah kata namun sangat sulit keluar dari bibirnya karena Sena mulai tidak bisa bernafas ditambah rasa sakit menghantam di seluruh sendi dan tulangnya. Ia benar-benar kesakitan hingga akhirnya tidak lama kemudian Sena memejamkan matanya dan dipastikan ia tidak pernah bisa membukanya lagi.

 

 

-The End-

.

Authors Note:

Ehem, uhuk. Tes tes na deul se~

Aku mewakili Kimiham a.k.a Hamham dan Kimsymp a.k.a Rani ngepost hasil kolab kami.. *nyalain petasan*

Kalo boleh cerita /gak boleh – biarin tetep mau cerita – plak/

Kolab kami termasuk lancar seperti jalan tol, dan aku pribadi senang berkolab sama dua mahluk unyu ini.. Dari pemilihan tema dan proses menulis, kami gak pernah berantem atau jambak-jambakan /yakali, kelompok lain juga gak gitu :v/

IntinyaMahKucintahKalianPokoknyahMwahmwah.. Buakakaka~

Makasih juga buat readers yang baca hasil kolab kami dan maapkeun kalo kolab-an kami kurang memuaskan..

Maka dari itu kami menanti (?) komen + saran dari kalian hihihi..

Dan Kamsahamnida.. *bow bertiga*

 

17 tanggapan untuk “BYAKTA -Kimiham.Ann.Kimsymp-”

  1. Chanyeol telat bgt nyadarnya. Cewenya udh is dead baru mulai suka. Biasany cowo diem, cool gt kan populer malah tampang chanyeol sangat memenuhi kriteria, tp aku bosen kl dia populer terus (derita cogan) jd aku suka idenya kak. Alurnya juga bagus walau rada bingung d awal td tp di akhir cerita terjawab jg. Ditunggu karya2 selanjutnua ya kak ^^ Semangaaaat!

    1. iyah begitulah.. penyesalan memang selalu datang belakangan.. uhuk. wkwk..

      itu dia, justru karena chanyeol terlalu sering jadi ganteng (ya emang ganteng sih, mau diapain wkwk), jadi kali ini chanyeol kami nistakan.. maapin yak yeol wkwkwk..
      makasiiiihhh.. >.<

  2. Huuuuuwwwwwwaaaaaaa Chanyeol ku kasian /peluk chanyeol/ udah yeol ama aku aja :3 /abikan/

    Dari pas Sena satu kelas ama Chanyeol itu aku udh mulai bingung, ‘katanya Chanyeol dikelas sebelah, lah kok ini satu kelas?’
    Dari situ aku udh ngira bakal sad ending T.T apalagi pas bagian awal udh dikasih kode “Ketika ia mencintai kabut.” T.T

    Oke piks aku jadi baper T.T

  3. JADI WAKTU SENA NEMUIN SEULGI, ITU WAKTU SENA MASIH HIDUP? DAN WAKTU CHANYEOL LIAT SENA ITU CUMAN BAYANGAN? ATAU SEULGI BAYANGIN SENA YANG DATENG KE KELASNYA???

    AYOLAH KAK, AKU BACA TIGA FF SEKALIGUS DAN DUA DIANTARANYA MEMBERIKAN MISTERI. AYOLAH BERITAHU AKU, YANG SEBENARNY *ALAY AMAT BAHASANYA *MAAPKEUN DAKU 😀

    KUKIRA MAH BAKALAN HAPPY, TERNYATA SAD. GOOD JOB, KETIGA SAD ENDING SEMUA.

    TAPI, FF NYA BUAGUS (Y) 😉

    1. duh serangan kepslok dari arra..
      wkwkwkwk..

      iyaaah..
      yang awal awal itu, yg sena memperhatikan chanyeol di halte, sena dateng kepagian, sena ke kelas seulgi itu sena belum mati ceritanya..
      pas uda chanyeol liat sena masuk kelas tapi gak ada yang meratiin itu, itu baru deh sena nya udah jadi hantu hiii..
      wkwkwkwk..

      epepnya emang gak pake waktu per abis bintang tiga kali.. wkwkwkwk..

      hahahaha..
      exoffi collab in sad mungkin ini temanya wkwkwk..
      makasih aarrrraaaaaa…

  4. kaaa anne, ka hamham, ka rani. kolabnyaa bagus. ada kemistri (?) diantara kelian. lagi pada kolab ya?? wew. ep epnya nyesek uh~ kesian ceye baru pnya temen eh ternyata hantu. mening sama aku aja *tuuing* kamu juga gk tau dari jauh aku suka motret kamu. eum?. btw, itu seulgi nanginya dikelas ya? kesian ih. nyesek ihh bacanya. huuaaaaaaaaa 😥 nangis dipojokan. kapan kapan kapan ya? *auah* intinya kolab kalian para kaka kaka ini bagus ko. baguuus buangeett aahh ahahaaha (?) kapan kapan jangan kalap ya? papai *tebak kiss* *muntahsemua*

    1. ada kemistri diantara kami kah? uhuy.. mungkin kami jodoh.. /eh wkwkwk

      iyah ceye nya kasian, tapi udah aku hibur kok, kamu tenang aja wkkw..

      wuaaaa gak nyangka epepnya dibilang bagus banget hihihihi..
      makasih yah rizkaaaaa..
      papai.. *ambil kissnya* wkwk

    1. sena yang ketemu sama chanyeol itu bukan manusia, itu hantu.. hehe.. kluenya pas si seulgi nangis, sinhye liat chanyeol senyum-senyum sendiri.. itu karena mereka gakbisa liat sena sedangkang chanyeol bisa liat sena.. gitu.. hehe

      makasih udah komen yaaa.. >.<

    2. oooh.. jadi awalnya itu sena masih manusia.. sampe yg dia nemuin seulgi.. pas abis bintang tiga terus chanyeol liat sena masuk ke kelas tanpa ada yang memperdulikan itu, nah itu sena baru hantu di situ.. hehe..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s