[Chapter 6: With You] Emergency Love

emergency_love_shuu

Shuu’s present

[Chapter 6: With You] Emergency Love

Cover by:

L J S @ Indo Fanfictions Arts

Main cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet]

Support cast:

Im Yoona [Girls’ Generation]

Guest Star:

Choi Siwon [Super Junior]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama | Family

Rating:

PG-13

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory | Heartbeat | Beginning | With You

Desclaimer:

Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada! Oh, ya kunjungi blog pribadi aku di http://www.allaboutfangirl.wordpress.com Langsung checkidot sayang!

PS: Jika kalian membuka ini di PC, akan ada lagunya ^^ di beberapa chapter ke depan bakalan ada lagunya, lagunya juga di buat berbeda di setiap chapter, di sesuaikan dengan suasana ^^

 Hari ini terasa panjang bukan? Terasa amat panjang, seakan detik melambat setiap jamnya. Tetapi Irene bersyukur karenanya. Karena, ia merasa bahwa Luhan lama berada di sampingnya. Ternyata bahagia sesederhana itu bukan? Untuk memikirkan hal burukpun tak sempat karena ada seseorang yang membuatnya bahagia dan selalu tersenyum hanya karena menatap wajahnya.

Mereka bergandengan tangan, menyingkap daun-daun yang menguning dan kering terbawa angin. Melihat wajahnya saja membuat senyum Irene berkembang, selalu. Mereka berpandangan kemudian tersenyum. Membuat dada mereka terasa ringan.

“Mau makan apa?” tanya Luhan kepada Irene yang berjalan di sampingnya.

“Terserah. Aku ingin yang berkuah dan panas.” Kata Irene.

“Baiklah. Sup kimchi! Kami datang!” kata Luhan.

Suara riuh rendah mendominasi kedai kecil di gang sempit sekitar area rumah sakit. Irene dan Luhan terlihat duduk di bagian dalam ruangan. Wajah mereka terlihat berseri-seri, memandang satu sama lain dengan tersenyum. Kemudian tertawa karena salah satu dari mereka melemparkan guyonan –yang mungkin hanya bagi mereka saja lucu- Kemudian percakapan tak terucap dari keduanya. Terlihat Irene sedang iseng mendengar percakapan orang yang duduk di sebelah mereka.

“Cih-“

“Wae?!?” tanya Luhan. Ia terlihat kaget melihat Irene begitu.

“A-ani. Bukan dirimu.” Kata Irene. “Aku sedang menguping orang sebelah.” Kata Irene sambil mendekatkan tubuhnya ke Luhan dan tangannya seperti orang yang tengah berbisik.

“Apa kata pasangan muda itu?” kata Luhan setengah berbisik dan terlihat penasaran.

Irene kemudian mendekatkan kursinya supaya lebih mudah untuk berbicara dengan suara kecil. Kemudian, Luhan mengikuti apa yang dilakukan Irene. pembicaraan mereka lalu berubah menjadi serius. Wajah mereka terlihat serius –tentu saja di buat-buat-

“Aku mendengar bahwa yang lelaki mengatakan bahwa kekasihnya memiliki wajah yang bersinar seperti bulan.” Kata Irene yang terlihat serius.

Dengan setengah berbisik Luhan menjawab, “Lalu apa masalahnya?”

“Menurutku itu sebuah hinaan.” Jawab Irene sambil menyipitkan matanya.

“Hinaan maksudmu? Itu sebuah pujian, kau tahu?”

“Heyyy, itu sebuah hinaan. Kau tak tahu bahwa permukaan bulan itu bolong-bolong? Sama saja yang lelaki mengatakan bahwa wajah kekasihnya sudah tak asli lagi. Dia pasti sudah melakukan banyak operasi plastik” kata Irene di buat-buat untuk serius.

1) Orang korea banyak yang melakukan operasi plastik. Dan dengan kasat mata wajah asli dan tak asli itu tidak ada perbedaan. Tetapi jika di cermati lagi, wajah operasi plastik terlihat banyak lubang bekas jarum.

Saat itu Luhan langsung tertawa terbahak sampai memukul meja. Irene melihat Luhan yang tertawa menjadi tertular virus-nya. Membuatnya tertawa sampai mengeluarkan air mata.

“Ada-ada saja.” kata Luhan sambil mengusap air matanya.

“Aku tidak suka dirayu seperti itu. Geli rasanya” kata Irene sambil bergidik ngeri.

“Tadinya aku akan mencoba merayumu. Benar kau tak suka di rayu?” tanya Luhan menggoda Irene.

“YA! YA! Jangan lakukan! Stop it! Stop it!” kata Irene sambil mengarahkan telapak tangannya di dada.

Kring…. Kring…. Kring... telepon Irene berbunyi. Membuat kegiatan Luhan menggoda Irene harus tertunda. Ierene cepat-cepat mengangkat teleponnya.

“Wae?” tanya Irene Irene ogah-ogahan.

Tak bebeapa lama kemudian pelayan membawakah makanan mereka. Irene tetap fokus dengan kegiatannya. Sedangkan Luhan yang meladeni pelayan. Kemudian Irene tersenyum kepada pelayan, sebelum pelayan itu mereka.

“Jinjja? Baiklah ku tunggu kalian di kedai. Aku akan alamatnya melalui pesan. Ottae?” tanya Irene.

“Baiklah, baiklah.” Kemudian dia menutup sambungan teleponnya.

“Siapa?” tanya Luhan.

“Jangan khawatir, Yoongie eonni meminta untuk bertemu dneganku. Dia ingin mengambil mobilku yang ada di basement. Berhari-hari soulmateku itu tak pulang ke rumah.” Jawab Irene.

“Soulmate? Siapa yang kau sebut soulmate?” tanya Luhan sambil mengangkat salah satu alisnya.

“Oh…, mobilku. Dia belum pulang berhari-hari. Kasihan dia kedinginan di basement.”

Luhan lalu menyendok kuah sup kimchi kemudian meng-o perkataan Irene. “Lalu?”

“Lalu apa? Oh ya kau tidak keberatan kan kalau mereka bergabung dengan kita?” tanya Irene sedikit merasa khawatir jika Luhan tidak menginginkan kehadiran Yoona yang nantinya akan membikin rusuh acara ‘kencan’ mereka.

“Tentu saja tidak.” Kata Luhan lalu menyuap makanannya kedalam mulut. “Mereka? memangnya dia akan datang bersama siapa?” tanya Luhan.

“Bersama pacarnya. Aku juga belum tahu siapa pacarnya.” Kata Irene, lalu mengambil sumpit di sebelah mangkuknya.

Luhan mengambil mangkuk itu. Ia lalu memisahkan ayam panggang dari tulangnya kemudian menaruhnya di atas mangkuk Irene. “Oh, bukannya kau sangat dekat dengannya?” kata Luhan kemudian meletakkan mangkuk itu kembali ke hadapan Irene.

Irene yang sedari meletakkan sumpit di kedua pipinya menerima mangkuk itu kemudian melahapnya. Luhan lalu mengambil salah satu mangkuk kosong kemudian mengisinya dengan sup kimchi kemudian di letakkan disamping mangkuk Irene.

“Makan yang banyak, Bae! Jika kau gembul aku akan senang. Karena nanti hanya aku saja yang akan menyukaimu.” Kata Luhan kemudian mengelus puncak kepala Irene engan lembut, kemudian memamerkan senyum terbaikkanya.

“Eyyy…., apakah itu sebuah bentuk rayuan?” kata Irene sambil menyipit.

“Kurasa begitu.” Kata Luhan sambil mengamati Irene yang sedang makan.

“Kurasa itu lebih seperti hinaan.” Kata Irene kemudian tersenyum kecut. Luhan tertawa renyah, kemudian melanjutkan makannya.

“Semua pujian atau rayuan dimatamu semua itu hinaan.” Kata Luhan terkekeh geli mendengarnya.

“Hahahaha… kurasa juga begitu.” Jawab Irene lalu menyengir kepada Luhan. “Bagaimana dengan lukamu? Tidak ada sesuatu yang… eum.. tidak apa kan?” tanya Irene, ia masih merasa tak enak.

“Jangan khawatir, tidak apa-apa. Aku hanya perlu mengganti perbannya setiap harinya.” Kata Luhan sambil mengelus puncak kepala Irene.

“Heyyy…. kalian apa kabar?” kata Yoona yang tiba-tiba sudah di depan meja mereka.

Irene lalu menangkap sesosok mahkluk di samping Yoona. Pria tinggi nan tegap serta lesung pipinya. Membuat Irene keheranan.

“Eyyy…. Jangan melihatnya seperti itu!” titah Yoona kepada Irene. Irene mengerjap-ngerjapkan matanya karena orang dihadapannya ini adalah melebihi ekspetasinya.

“Kenalkan, aku Choi Siwon. Kekasih Yoona.” Kata pria yang mengaku sebagai Siwon itu kepada Luhan dan Irene. Ia lalu membungkuk memberi salam. Kemudian dibalas oleh Irene dan Luhan.

“Kau ini dasar!” kata Irene kepada Yoona. Kemudian Luhan mempersilahkan mereka untuk duduk di meja yang sedari tadi Luhan dan Irene tempati.

“Bagaimana hubungan kalian. Kenapa kau tidak memberitahuku Yoong?” tanya Irene sedikit mengancam. “Tak baik jika menyembunyikan pria seperti ini.” Kata Irene sambil melirik Siwon yang duduk di sebelah Yoona. Tadi, Irene menggeser duduknya di sebelah Luhan setelah mereka datang.

“Oh jadi ini pacarmu Yoon?” kata Luhan penuh selidik. Yang ditanya malah mengendikkan bahu.

“Tanyakan saja padanya.” kata Yoona sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangan.

“Ya! Ya! Ya! Kenapa aku. Kan itu urusanmu dengan Irene. kata Siwon sambil mengangkat tangannya di depan dada tanda ia tak tahu menahu. Kemudian Siwon menjitak kepala Yoona, memeberikan hukuman rupanya.

Luhan dan Irene hanya terkikik geli melihat Yoona memelototi Siwon dan Siwon juga balik memelototi Yoona. Pasangan ini sungguh gila.

“Tapi dia jahat padaku.” Kata Yoona sambil menunjuk Siwon.

“Jahat apa? Aku tak jahat padamu.” Kata Siwon.

“Kau akan berangkat wamil beberapa minggu lagi. Aku harus menunggu 2 tahun?” gerutu Yoona.

“Pergi liburan saja. berdua. Ke Pulau Jeju atau ke Busan?” kata Luhan memberi saran. Ierene menganguk-angguk menyetujui saran dari Luhan.

“Bagaimana mau liburan? Jika dia sibuk dengan perusahaannya?” omel Yoona.

“Hei, aku akan usahakan. Aku ini yang punya, jadi aku bisa lakukan apapun semauku.” Kata Siwon sambil melirik ke arah Yoona. Kemudian ia mengacak puncak kepala Yoona.

“Kalian tak memesan makanan?” tanya Irene kepada Yoona dan Siwon. “Oh ya, waktu makan siang kita hampir berakhir. Kita harus segera kembali ke rumah sakit.” Kata Irene kepada Luhan.

“Habiskan makananmu dulu.” Kata Luhan kepada Irene. kemudian Irene menjawab dengan menganggukan kepalanya.

Hari-hari berlanjut seperti biasanya. Seperti biasanya, setiap hari Irene menunggu Luhan di depan pintu sambil bermain ponsel. Kemudian jika ada deru mobil Luhan ia akan berjingkat dan segera berlari menemuinya. Kemudian bekerja di bangsal anak bersama. Dilanjutkan dengan makan siang kalau tidak ada pasien darurat. Jika malam telah larut mereka akan pulang bersama. Seperti itu terus.

Hari ini kebetulan mereka ada janji untuk makan malam di apartemen Luhan. Ini hari Sabtu, jadi mereka sedang libur. Irene telah di depan apartemen Luhan sambil menenteng sebuah paperbag di tangannya. Kemudian ia memencet tombol untuk memasukkan kode yang telah di berikan Luhan sebelumnya.

Pip.

Seorang wanita berambut blonde sedang berdiri di depan pintu apartemen. Oa terlihat memakai rok pendek berwarna keki serta sweater putih. Tak ketinggalan mentel coklat tua se lutut dan ankle boots hitamnya menjadi pilihan di udara yang sedang dinginnya ini. siapa lagi kalau bukan Irene.

Bunyi tanda pintu telah terbuka. Irene lalu masuk ke apartemen Luhan dan meletakkan paperbag tersebut di atas pantri setelah mengganti ankle bootsnya dengan sandal rumahan berwarna pink. Beberapa hari lalu memang Irene sempat datang ke sini untuk bersantai. Dan Luhan membelikannya sandal rumahan bergambar Korilakkuma sepasang dengan milik Luhan yang bergambar Rilakkuma.

Ia kemudian mengambil celemek yang terletak di laci dan mulai memakainya. Terlihat ia sibuk mengeluarkan beberapa sayuran dalam paper bag. Kemudian ia mencuci tomat dalam air mengalir dan memotongnya menjadi beberapa bagian kecil.

Terdengar bunyi sayup-sayup pisau yang menghantam talenan. Kemudian Irene meletakkan irisan tomat dan parseli yang ia potong di atas piring.

“Bae,” kata seseorang sambil memeluknya dari belakang. Irene lalu mematung di tempatnya. Merasakan bau shampoo dan rambut Luhan yang basah menyentuh permukaan kulitnya.

“Wae?” tanya Irene. “Lepaskan aku, dingin.” Kata Irene sambil mengusap pipinya yang terkena air dari rambut Luhan.

“Kau akan memasak untukku?” tanya Luhan kepada Irene. kemudian Irene membalikkan badannya menghadap Luhan.

“Ani. Sudah kuberitahu kan aku tidak bisa memasak. Aku hnaya memotong tomat, hanya membantu saja.” kata Irene yang mulai naik darah.

Luhan terlihat tersenyum simpul kemudian berkata, “Baiklah. Pasta kan?”

“Keringkan dulu rambutmu.” Perintah Irene. Kemudian Irene melepaskan tangan Luhan yang masih memegang pingggangnya menuju pantri. Disana ada handuk yang kemungkinan besar di letakkan Luhan setelah keluar dari kamar mandi.

Irene mengacak rambut Luhan dengan handuk yang di pegangnya. “Jangan kasar nona. Kau mau melepaskan kepalaku dari leherku, eoh?”

“Aishhhh… sudah selesai. Sana pergi.” Kata Irene sambil menyampirkan handuk ke tangan Luhan. Irene lalu kembali ke aktivitasnya memotong bawang bombay.

Tetapi Luhan malah kembali memeluk Irene lagi. Membenamkan wajahnya ke bahu Irene. irene memutar bola matanya tanda pasrah dengan kelakuan Luhan yang manja hari ini. Kemudian Luhan mengeluarkan karet rambut dari dalam saku celananya. Kemudian mengumpulkan rambut Irene kebelakang lalu menguncirnya ke atas.

“Yeppo,” puji Luhan lalu memandang wajah Irene lekat. “Aku mencintaimu.” Kata Luhan membenamkan wajahnya lagi ke bahu Irene.

“Aku juga.” Jawab Irene lalu menggenggam tangan Luhan yang berada di pinggangnya.

“Aku tak ingin meninggalkanmu.” Kata Luhan lagi.

“Aku juga.” Jawab Irene singkat. Kemudian Luhan membalikkan tubuh Irene kemudian memeluknya lagi. Irene membenamkan wajahnya di dada Luhan kemudian membalas pelukan Luhan.

Luhan berharap, sampai kapanpun selagi dia bisa ia akan tetap menjaga Irene dengan hatinya. Melebihi ia menjaga diri sendiri, melebihi ia mencintai diri sendiri. Bagaimanapun juga Luhan merasa Irene adalah anugerah yang indah untuknya.

Irene duduk di kursi tinggi di pantri. Memandang Luhan yang sedang memakai celemek sambil mengaduk saos pasta di teflon. Bau harum sudah menyeruak diselingi udara musim dingin yang hilir mudik masuk ke dalam ruangan. Irene menggosok-gosok lengannya karena udara dingin menusuk tulangnya.

Luhan terlihat serius memasak, menambahkan merica serta garam ke dalam masakkannya. Bau saos pasta yang menyeruak membuat perut Irene meronta ingin segera memakannya. Tak lama kemudian Luhan menaruh piring berisi pasta di hadapan Irene.

“Uwaaaa…. kelihatannya enak.” Kata Irene sambil mengambil garpu.

“Cobalah,” kata Luhan kemudian. Irene mencobanya, kemudian mengangguk-angguk bahwa rasanya enak.

“Aku suka.” Kata Irene sambil tersenyum manis.

“Lebih suka aku atau pasta ini?” tanya Luhan.

“Lebih suka……………. KAU!” jawab Irene lalu melanjutkan makannya dengan lahapnya.

“Wae? Kenapa aku?” tanya Luhan sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan. Sambil mengamati Irene makan.

“Aku suka kau karena bisa membuat pasta ini. Jika aku lebih suka pasta dia tak akan membuatmu untukku.’ Kata Irene yang membuat Luhan terkekeh geli.

“duduklah.” Kata Irene sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.
“Arraseo nona.” Kata Luhan lalu duduk di sebelah Irene.

Mereka makan pasta bersama sambil bersenda gurau. Bergurau tentang papaun yang mereka mau. Seperti ini rasanya juga bahagia. Merasa saling memiliki. Dapat berbagi dan bercerita. Dapat menerima dan memberi. Dapat menghibur dan dihibur. Menyenangkan.

Mereka duduk di sofa panjang yang sudah di pindahkan yang awalnya berada menghadap tv kini sudah diputar 90 derajat menghadap balkon memandang suasana kota Seoul dari lantai 15. Gemerlap lampu gedung mempercantik kota Seoul di malam hari.

“Sini ku ganti perbanmu.” Kata Irene kepada Luhan yang asyik memakan sisa pasta yang tadi ia buat.

“Ambil saja kota P3K-nya di laci dekat televisi.” Kata Luhan yang masih asyik mengunyah sambil menikmati pemandangan.

Irene lalu berdiri untuk mengambil kotak P3K-nya. Ia menceri-cari dan bergumam dimanakah kotaknya. Dan! Gotcha! Ia menemukannya. Ia lalu membawa kotak tersebut ke sofa. Irene lalu membukanya isinya lengkap tak terlewatkan satupun.

“Sudah makannya Tuan?” kata Irene.

“Ne. Nona.” Kata Luhan memutar matanya.

“Buka bajumu!” titah Irene.

“Eyyy, kau seperti tante-tante penggoda.” Kata Luhan lalu memegang badannya. Irene lalu memutar bola matanya kemudian memberikan kode lewat matanya kalo Luhan segera melepas bajunya. “Baiklah-baiklah, nona. Aku tahu.” Kata Luhan kemudian membuka bajunya.

Irene lalu membuka perban yang tertempel di punggung Luhan.lukanya terlihat sudah baik-baik saja. hanya menunggu beberapa hari lagi akan sembuh walaupun belum sembuh sempurna. Ini adalah perban yang Irene pasang kemarin. Ia melepasnya perlahan. Kemudian membersihkan luka Luhan.

Dengan hati-hati Irene memasangkan perban yang baru ke luka Luhan. “Sudah.” Kata Irene. “Pakai bajumu, udara sedang dingin. Jangan sampai kau sakit.” Kata Irene kepada Luhan.

“Baik, nona.” Jawab Luhan kepada Irene. kemudian ia mengacak rambut Irene dengan lembut. Luhan duduk menghadap Irene kemudian melipat kakinya di atas sofa. “Mau coklat panas? Atau air jahe?” tanya Luhan kepada Irene.

“Boleh. Yang panas ya?” kata Irene sambil tersenyum.

“Baiklah. Tunggu aku beberapa menit. Jangan kemana-mana” kata Luhan yang sudah memakai bajunya kemudian bangkit dari duduknya. Ia lalu berjalan menuju dapur.

Irene berdiri lalu berjalan menuju beranda apartemen Luhan. Membuka pintu kaca yang membatasi ruang TV dengan beranda Luhan. Membuat derit kentara menyapa indera pendengaran. Angin bertiup membuat anak rambut Irene menghalangi pandangannya. Di luar gemerlap kota sedap dipandang mata membuat Irene tak henti-hentinya mengaguminya.

Ia menyandarkan tubuhnya di pagar bembatas. Menikmati semilir angin yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia melipat tangannya di dada lalu menggosok-gosokkan telapak tangannya di lengannya membuatnya terasa hangat.

Dari dapur terdengar sayup-sayup suara teko yang mendengung. Serta suara sendok yang berdentuman dengan cangkir. Irene masih menikmati udara kota Seoul yang dingin. Seseklai menengok ke arah dapur menunggu kehadiran Luhan.

Apa kalian tahu? Di rumah ia selalu merindukan Luhan. Walaupun baru bertemu ia merindukkannya. Bahkan saat ini saja ia sudah rindu.

Ia masih ingat kata-kata Luhan tentang hubungan mereka yang ia katakan beberapa hari lalu. Ia mengatakan bahwa tidak perlu yang namanya mengutarakan komitmen seperti itu. atau kalian bisa menyebutnya Luhan menembak Irene. Mereka bukan anak kecil yang perlu komitmen seperti itu

Kata-kata ‘aku mencintaimu’, mereka rasa sudah bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi. Kata-kata itu sudah bisa menjelaskan bagaimana hubungan mereka saat ini.

Irene merasakan hangat di tubuhnya, Luhan memeluknya lalu memeberikan secangkir coklat panas kepadanya. Ia lalu menggenggap coklat panas itu untuk membuat tangannya terasa hangat. Ada yang berbeda dari yang sebelumnya. Sebuah selimut bermotif snowflakes membalut mereka berdua. Terasa sangat hangat.

“Jangan berdiri disini dengan pakaian tipis seperti ini. Kakimu menggigil, kau itu pakai rok pendek saat ini.” Kata Luhan setengah berbisik di telinga Irene.

Ia kemudian menyandarkan badannya ke badan Luhan. “Sekarang aku hangat.” Kata Irene lalu menggengam tangan Luhan yang melingkar di badannya.

“Aku mencintaimu.” Kata Irene kepada Luhan.

“Aku tahu. Aku lebih.” Kata Luhan kemudian mengecup pipi Irene singkat. Luhan lalu mengeratkan balutan selimut yang melingkar di tubuh mereka. sesekali Irene dan Luhan menyesap coklat panas mereka sambil membicarakan hal-hal menarik hari itu.

“Suatu saat berlibur bersama. Ottae?” tanya Luhan kepada Irene.

“Kemana? Apakah kita akan mengambil cuti?”

“Kurasa begitu. Kemana? Kemana ya? Jepang? Universal Studio terlihat meyenangkan.” Kata Luhan sambil berpikir.

“Terserah. Asalkan ada kau aku mau kemanapun.” Jawab Irene.

“Untuk saat ini kita hanya bisa berkeliling kota Seoul. Besok aku shift pagi. Siang jalan-jalan bagaimana?” tanya Luhan kepada Irene.

“Sudah kubilang. Jika ada kau aku mau pergi kemanapun.” Jawab Irene.

Mereka melanjutkan perbincangan mereka. Membicarakan hal-hal menyenangkan. Sampai tak terasa sudah bepuluh-puluh menit mereka berdiri disini. Menikmati malam yang dihiasi bintang yang berkerlap kerlip.

“Bae, sudah larut. Tidak pulang?” tanya Luhan di telinga Irene.

“Aku tak mau pergi. Aku mau disini saja. bersamamu.” Jawab Irene. ia lalu mengendurkan tangan Luhan yang berada di badannya kemudian berbalik badan dan memeluknya dengan erat.

“Aku beranji tak akan meninggalkanmu sendirian.” Gumam Luhan kepada Irene.

“Jangan berjanji. Cukup berusaha. Aku tahu kau tak akan meinggalkanku.” Kata Irene masih memeluk Luhan erat. Entah kenapa ia begitu emosional kali ini. Ia merasa aneh dengan diri sendiri.

Tak lama setelahnya. Salju pertama turun menjadi kenangan yang tak akan pernag mereka lupakan. Apa kalian tahu berdoa saat salju pertama turun dapat mengabulkan permintaan? Saat itu Luhan berharap untuk tidak pernah lelah untuk berusaha tetap bersama Irene. Irene berharap kalau mereka akan tetap seperti ini sampai kapanpun.

-TBC-

Wahhh…. wahhh… wahhh… ini bikinnya sama baper-baper like this. Ini semua bonus buat kalian dari mereka. ini adegan sweet mereka. entah kenapa aku bikin jadi kayak gini. Jadi co cwit gimana gitu. Hehehehe….. di tunggu selalu untuk komentarnya. Di part selanjutnya aku pengennya 2 chap di gabung jadi 1 chap gimana? di tunggu komennya loh ya!

25 tanggapan untuk “[Chapter 6: With You] Emergency Love”

  1. Apa bagian akhirnya memang sebuah awalan untuk mengarah ke bagian ‘masalah’?
    Soalnya ngerasa ada yang aneh gitu.
    Tapi chapter ini puas-puasin so sweet so sweet-an ya mereka berdua ini :3

    1. Kok komentarnya pada curiga kalo di Chap selanjutnya bakal ada masalah sih? iya ada masalah ku bocorin dikit tapi jan pada kasih tahu, kamu tahu nggak Irene dihamilin sama kucing tetangga sebelah kekekeke… canda doang kok…..

      Ciyeeee…. jan baper tapi ya. yang is aja sampe baper sendiri hehehe… makasih udah baca FF abalku ini!

    1. ih maap jadi bikin nungguin ciye yang nungguin ciyeeeee /blush/ Ok Ok ini udah di bikin greget! Si Irene dihamilin sama kucing tetangga sebelah! hehehe canda makasih udah baca dan komentar!

    1. Amayya~ /nyanyi unfair di pojokan?/ /plak/ Amin deh di aminin aja ya ^^… nest Chapter tunggu aja deh pokoknya kekekeke… makasih udah baca dan komentar di FF abalku ini ^^

    1. heh jangan senyum-senyum ntar dikira orang gila loh…. Iya mereka co cwit co cwitan mumpung nggak ada yang ganggu hehehehe… Iya ku gabung aja ya. makasih udah baca dan komentar uwo!

    1. Big problem? apa ya? Aku juga penasaran nih jadinya. tunggu chapeter selanjutnya ya! rajin rajin komen juga ^^ makasih udah baca dan komentar di FF abalku ini!

  2. Oalaaaaaaahhhh, Pacar mbak rusa mas kuda Toh
    LuBae sweet banget, *overdose* *kemudian terkapar*
    Mas Lu segeralah Lamar mbak Bae
    Tapi
    Perasaan agak ga enak nih pas baca bagian akhir
    Kayak the calm before the storm #ciailah *semoga ga kejadian*
    Mau digabung atau nggak
    Can hardly wait for the next chapter 😀
    Fighting authornim *emotikon mengepalkan tangan*

    1. Iya ternyata mas kuda bin tajir pacarnya mbak rusa. Luhan Irene nagh so sweet celalue hehehe…. Lamar melamar ntar aja ya, ikut sama authornya kan hehehe…. Ini OTW chap 7nya udah 40 persen hehehe….

      Bagian akhir kenapa nggak enak nih? The calm before the strom? mungkin di Seoul ada badai salju ya hahahahah….. amit amit dulu dong biar gak kejadian hahaha
      Ok ok tunggu aja ya next chapter. kalo nggak ada halangan bakal di post hari Kamis di tunggu aja! makasih udah baca dan komentar!

    1. Iya nih mereka so sweet sampe bikin aku baper hiks…. Jangan sampe nggak tau mau komen apalagi dong T^T makasih udah mau baca dan koemnetar di FFku yang abal-abal ini!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s