D-Day

D-Day

D-Day

A special oneshoot by tissakkamjong, I R I S H & selviakim collaboration

Cast by EXO’s Kim Min Seok a.k.a Minseok and anneandreas’s OC Reen

An angst, romance, and hurt story rated by PG-16

[Disclaimer] Ff ini merupakan ff kolaborasi murni pertama dari kami, dimohon untuk tidak copypaste. Cast bukanlah milik kita, disini kita hanya berimajinasi dengan ide kita sendiri.

Poster by Kimiham

[warning typo(s)]

HAPPY READING

-All Minseok POV-

d-day pembatas

[D-10Day]

 

“Minseok.” Langkahku terhenti begitu ayah memanggilku dari arah ruang tamu. Aku yang tadinya berniat keatas—lantai dua, kamarku—terpaksa harus menghampiri ayah.

 

“Kenapa, Yah?” Aku bertanya pada ayah, lalu memandangi ibu yang juga berada disebelah ayah, ada apa ini? Sepertinya serius sekali?

 

“Duduklah dulu.” Ibu yang dari tadi diam saja, akhirnya menyuruhku duduk. Aku pun duduk di sofa kosong—di seberang sofa tempat ayah ibu duduk.

 

“Kami sepakat akan menjodohkanmu.” Ayah mengucapkan kata-kata itu dan menatapku dengan serius, kata-kata yang membuat tubuhku bergetar seketika, kata-kata yang membuat lidahku kelu seketika, kalimat singkat yang menyerang tubuhku dan membuat otakku berfikir dengan keras.

 

APA?! HAH?!

 

MENJODOHKANKU?!

 

“Menjodohkanku?! Maksudnya aku akan dijodohkan dengan wanita lain! Tidak ayah! Tidak! Aku tidak mau! Ayah dan ibu tahu aku sudah punya Reen! Dia kekasihku yang sangat kucintai! Aku tidak akan mau berpisah dengan Reen! Apapun alasa—”

 

“Tenang dulu, Minseok-ah.” Ibu berusaha menenangkanku, tapi aku sungguh bisa merasakan emosiku naik sampai ke ubun-ubun! Aku tidak bisa tenang! Perjodohan? Yang benar saja. Memangnya ini zaman peperangan?!

 

“Ada hal baik tentang perjodohan ini, nak. Gadis yang akan dijodohkan denganmu, adalah anak dari partner ayah, Reen, kekasihmu sendiri.” Ayah dengan bijak berucap, seolah penolakan tegasku tadi tidak—tunggu. Reen? Reen kekasihku?

 

Aku menetralkan hatiku, mencerna kata-kata ayah barusan. “Siapa ayah bilang? Reen?” ulangku lebih tenang. Ayah menjawabku dengan sebuah senyum dan anggukan. Dadaku bergetar tanpa sadar. Mendengar wanita yang akan dijodohkan denganku ialah Reen, membuat perasaan kagetku tadi perlahan berkurang, bergantikan dengan gembira yang mendominasi.

 

Jadi ayah akan menjodohkanku dengan kekasihku sendiri?

 

“J-Jadi… aku dijodohkan dengan Reen? Reen kekasihku ‘kan? Bukan Reen yang lainnya? Ayah tidak bercanda ‘kan? Bu ini bukan mimpi ‘kan?” Agaknya aku mulai meracau, sungguh, apa aku sekarang berhalusinasi? Bagaimana bisa aku melihat ratusan kupu-kupu berterbangan di sekitarku? Dan… Ah… Bagaimana bisa ini terjadi? Sungguh?

 

“Ya, Minseok-ah…” Ibu dengan lembut berucap. “Kami akan menjodohkanmu dengan Reen, kekasihmu sendiri.” Sambungnya seolah memancing keyakinanku. Membuat sikap shock, kecewa, sedihku tadi hilang seketika. Aku ingin berjingkrak-jingkrak karena terlalu senang, tapi teringat bahwa aku ini lelaki dewasa, tidak mungkin aku bersikap begitu bukan?

 

Neuron di wajahku juga agaknya mengalami gangguan, bagaimana bisa aku tak berhenti tersenyum? Dijodohkan dengan Reen sungguh membuatku sangat senang sekali, lagipula mana ada sih lelaki diluar sana tidak bahagia jika dirinya dijodohkan dengan kekasihnya sendiri? Sungguh, aku tak menyangka ternyata aku dan Reen bisa sampai jenjang serius seperti ini.

 

Ayah dan ibu hanya bisa berpandangan lalu bergeleng-geleng—melihatku yang sejak tadi tersenyum—alih-alih meneruskan tindakanku, aku menghampiri ayah dan ibu, memeluk keduanya, erat. Dadaku sesak, membayangkan beberapa lama lagi aku akan berpisah dengan mereka dan membina sebuah rumah tangga bersama gadis yang kukasihi.

 

“Aku senang sekali, terima kasih banyak, Yah, Bu.”

d-day pembatas

[D-7Day]

 

“Reen-ah.” Ucapku kepada seorang gadis yang kupanggil Reen, yang tengah duduk di bawah pohon bersamaku. Ralat, aku berbaring di pahanya.

 

“Ada apa, Minseok Oppa?” Tanya Reen sambil menundukan kepalanya untuk menatapku, ya, Reen memang satu tahun lebih muda daripadaku, dan aku sungguh senang tiap kali silabel ‘Oppa’ yang diucapkan Reen dengan sopran merdunya menyapa runguku.

 

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanyaku pada Reen, alisnya bertaut, aku tahu pertanyaan semacam ini membuatnya bingung dan heran.

 

“Tentu saja. Wae geurae? Apakah kau tidak percaya denganku Oppa?” Tanyanya dengan nada khawatir dalam suaranya.

 

“Tentu saja aku percaya.” Jawabku, menampilkan sebuah senyum kepadanya. “Tapi, jika kau di jodohkan oleh kedua orang tuamu, bagaimana?” Sambungku dengan masih mengukir senyum yang sama di wajahku.

 

Oppa, kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangimu dan tidak mau kehilanganmu. Tapi… jika kedua orang tuaku yang memutuskan… kurasa… aku…” Reen terhenti, tampak berdebat dengan benaknya sendiri, Ia menatapku dengan curiga. “Kenapa Oppa tiba-tiba bertanya seperti ini?” Tanya Reen membuat ku langsung kembali terduduk di sampingnya. Kemudian aku memegang kedua tangannya.

 

“Aku hanya ingin tahu pemikiranmu. Lagipula, kau tahu aku juga mencintaimu, Reen-ah. Kita berdua tidak akan terpisah. Kecuali kematian yang memisahkan kita.” Ucapku yang hampir membuatnya merasa terharu dan langsung memeluk ku. Dan aku pun membalas pelukannya dengan masih menampilkan senyumanku, senyum yang tidak terlihat oleh Reen.

 

“Ya, Oppa. Kecuali kematian…”

d-day pembatas

[D-6Day]

 

TOK! TOK!

 

Aku mengetuk pintu rumah Reen. Aku dan Reen berencana akan pergi ke Namsan Tower hari ini, sekedar untuk berjalan-jalan menghabiskan akhir pekan kami.

 

Tak lama menunggu, pintu pun terbuka, menampakkan perempuan yang sudah berumur di depan pintu itu.

 

Annyeonghaseo, Eomonim.” Ucapku sambil membungkukkan badanku.

 

“Oh, Minseok. Masuk lah. Sebentar lagi, Reen pasti akan turun.” Ucap wanita yang tak lain adalah Ibunya Reen sambil memberikan celah untukku masuk.

 

Aku merajut langkah menuju ke ruang tengah dimana di sana ada Ayahnya Reen dan adiknya, Kyungsoo.

 

Annyeonghaseo, Abeoji.” Ucapku membungkuk kepadanya, di jawabnya dengan anggukan kepala dan senyuman, lalu kembali sibuk dengan korannya.

 

Aku lantas mengalihkan pandang ke arah Kyungsoo. “Kyungsoo-ya. Bagaimana kegiatanmu di kampus?” Ucapku, sementara ibu Reen sudah kembali ke dapur.

 

“Duduklah hyung, kau sendiri tahu bukan bagaimana kesibukan mahasiswa di kampus,” Kyungsoo melempar senyum padaku, yang kujawab dengan tawa pelan sembari aku duduk di kursi kosong yang ada di ruang tengah.

 

“Minseok, apakah kau sudah mengatakan hal itu pada Reen?” Tanya Ayahnya kepadaku.

 

“Belum. Rencananya, aku akan memberitahunya sebagai kejutan. Karena sebentar lagi ulang tahunnya.” Jawabku disertai senyuman, membayangkan kejutan yang akan kuberikan untuk Reen.

 

“Minseok hyung, jagalah noona ku satu-satunya dengan baik. Jika tidak, aku tidak akan memaafkan mu.” Ucap Kyungsoo kepadaku, memberikan nada ancaman yang sudah kuketahui hanya candaan semata.

 

“Kyungsoo, dia pasti akan menjaga Reen dengan baik.” Sahut Ayahnya kepada Kyungsoo, aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ayahnya Reen.

 

“Aku tahu. Aku hanya memperingatinya, Ayah.” Kata Kyungsoo kepada Ayahnya.

 

“Aku pasti akan menjaganya.” Ucapku sambil tertawa.

 

Kami baru saja akan membuka konversasi lain disaat terdengar langkah kaki menuruni tangga.

 

“Minseok-ah! Kau sudah datang dari tadi? Aku sudah siap.” Ucap Reen kepadaku, senyum cerah terukir di wajahnya, wajah gadis yang bagiku adalah gadis paling sempurna di dunia setelah Ibu.

 

“Astaga, Reen-ah, kenapa kau berdandan secantik ini? Bagaimana jika ada pria lain yang melihatmu? Abeoji…” Aku merengut, seolah mengadukan kecantikan Reen—yang sebenarnya di mataku Ia selalu terlihat cantik—pada Ayahnya.

 

“Ya! Oppa! Sudah, ayo kita berangkat.” Reen langsung menyahut ketika mendengar suara tawa Ayahnya, dan juga Kyungsoo yang menatap geli tindakan kekanakkan kami berdua, Reen tersipu malu, jemarinya segera memberiku isyarat untuk berdiri dan mengikutinya ke ruang depan.

 

Appa, Kyungsoo-ya, aku dan Minseok berangkat dulu.” Lanjut Reen lalu membungkuk kan badannya bersamaan denganku.

 

Kami sangat menikmati semuanya yang ada di Namsan ini. Kami melakukan banyak hal. Seperti menulis di gembok cinta. Aku menuliskan namaku dan Reen. Tidak lupa juga, aku menuliskan tentang keluargaku. Begitupula dengan Reen. Aku terus berjalan berdampingan dengan Reen hingga berhenti disebuah kedai es krim

 

“Minseok Oppa,” Ucap seseorang sambil duduk di sampingku serta memberikan es krim ke arahku.

 

“Oh, gomawo Reen-ah.” Ucapku padanya. Lalu kami berdua mulai menikmati eskrim sembari sesekali saling melempar canda dan tawa, melanjutkan kesenangan kami yang begitu meluap. Usai menghabiskan eskrim milik kami masing-masing, Reen akhirnya mengajakku pulang.

 

Kami berjalan di sekitar kompleks perumahan Reen. Karena hari sudah malam, aku mengantarnya sampai ke rumah. Bukan karena aku takut Reen tidak bisa menjaga diri, hanya saja, aku merasa memiliki tanggung jawab atas Reen. Bagaimanapun, Ia adalah calon istriku bukan? Yah, walaupun Ia belum mengetahuinya.

 

Oppa.” ucap Reen kepadaku ketika kami sudah tiba di depan rumahnya.

 

“Ada apa, Reen-ah?” Ujarku menatapnya. “Apakah aku boleh bertanya?” Tanya Reen membuat alisku bertaut. Ada apa gerangan? Kenapa ekspresi Reen tampak begitu serius?

 

“Apa itu?” Tanyaku khawatir, apa sesuatu yang buruk terjadi padanya? Atau mungkin—

 

“Sebentar lagi aku berulang tahun. Hadiah apa yang akan kau berikan?”

 

Sejenak aku terdiam. Terperangah karena hal yang membuat ekspresi Reen begitu serius adalah masalah sepele seperti ini. Aku mengulum senyum, mendekatkan wajahku padanya, menatap sepasang iris gelapnya sembari tersenyum simpul.

 

“Tunggu saja pada hari ulang tahunmu, Reen-ah.” Kataku membuat Reen menatap bingung. “Kenapa harus menunggu hari ulang tahunku? Tidak bisakah aku mengetahuinya sekarang?” Tanyanya dengan wajah yang lucu, lalu segera kujawab dengan gelengan tegas.

 

“Aku akan memberitahumu ketika hari itu tiba, Reen-ah.” Ucapku lalu menjauhkan tubuhku darinya, terlalu lama berada di dekat Reen, menghirup aroma lembut peach yang menjadi aroma parfum favoritnya selalu membuat jantungku melompat tak karuan.

 

“Masuk lah, Reen-ah. Udaranya sudah dingin.” Sambungku lagi kepadanya, lalu mengusap rambutnya dengan gemas.

 

Menyerah, Reen akhirnya mengangguk pasrah. Ia tersenyum padaku sembari melingkarkan lengannya di tubuhku, cukup erat.

 

“Berhati-hatilah di jalan, Oppa…” Ia melepaskan lengannya, lalu berbalik badan dan masuk kedalam rumahnya.

d-day pembatas

[D-3Day]

 

Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Reen. Dan aku sudah meminta bantuan keluarga Reen, dan juga keluargaku sendiri untuk menyiapkan kejutan ini. Ya, hari ini, orang tua Reen memberitahunya kabar tentang Ia yang dijodohkan—beruntungnya, mereka setuju untuk tidak memberitahu Reen bahwa pria yang akan dijodohkan dengannya adalah aku. Aku mulai memikirkan bagaimana nanti ekspresinya saat ia tahu bahwa aku adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.

 

Kabar yang kudengar dari Kyungsoo, Reen benar-benar tidak ingin menerima perjodohannya, tapi Ia sendiri tak bisa menolak karena itu adalah keputusan kedua orang tuanya.

 

Agaknya, rencanaku memang berhasil. Karena sekarang, aku duduk di sudut café favorit kami, menyeruput segelas americano sementara menunggu Reen yang tadi mengirimiku pesan singkat meminta ingin bertemu.

 

Aku tahu Reen gadis yang kuat, jadi aku tidak khawatir akan melihatnya datang dengan sebuah tangis histeris atau sepasang mata yang sembap karena terlalu lama menangis. Bagiku, memang kebiasaan Reen ini buruk, karena kebiasaannya menyimpan masalah sendiri sungguh tidak membuatku merasa nyaman.

 

Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur mencintainya dan semua kekurangannya adalah karunia indah bagiku. Mengingat aku selalu bisa menerka apa yang mengganjal hatinya, kurasa aku bisa memahami saat ketika Reen berusaha keras menyembunyikan masalahnya.

 

Oppa sudah menunggu dari tadi?”

 

Atensiku beralih kala mendengar sopran yang sangat kukenali. Aku menoleh, menatap Reen sejenak—benar ucapanku, Ia tampak baik-baik saja walaupun ekspresinya sangat muram—sebelum aku menggeleng.

 

“Tidak, setidaknya americano ini belum habis.” Gurauku tapi tidak di sahutinya, Reen memilih duduk di kursi kosong di seberangku, menatap segelas cappucino yang ada di hadapannya dengan kaku—aku memang sengaja sudah memesan minuman favoritnya itu agar aktingku hari ini terlihat alami.

 

“Kenapa, Reen-ah?” Tanyaku padanya memulai konversasi.

 

Ia mendongak sejenak, sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke gelas cappucino, jemarinya bermain di tepian gelas, sementara kudengar Ia dengan intens menarik dan menghembuskan nafas panjang.

 

“Ada yang ingin kubicarakan, Oppa.” Reen akhirnya berucap setelah lama diam.

 

“Hmm, bicaralah, Reen-ah. Aku akan mendengarkanmu.” Kataku lembut, menjauhkan americano-ku dan meraih tangan kiri Reen yang bebas, menggenggam jemarinya dengan lembut.

 

Reen kembali bergeming, membuatku segera memancingnya, seperti biasanya. “Reen-ah… Ceritakan saja padaku, kau tahu aku selalu mendengarkanmu bukan?”

 

Aku sedikit tersentak saat mendengar isakan lolos dari bibir Reen. Aku tidak menduga Ia akan membuang rasa malunya untuk ketahuan menangis di depan umum. Tangisannya mulai terdengar, lalu ia perlahan menyekanya.

 

“O-Oppa…” Suara Reen gemetar karena meredam tangis. “Reen-ah. Ada apa denganmu?” Tanyaku dengan nada serius, kutatap wajahnya yang merah itu.

 

“Aku… Aku… Di jodohkan… Oppa…”

 

Sejenak aku bergeming. Reen ku yang setegar batu karang akhirnya runtuh. Selama bertahun-tahun kami menjalani hubungan, aku tak pernah melihat Reen ku membiarkan setetes likuidpun lolos dari matanya saat kami berada di tempat umum.

 

Tapi kali ini?

 

Bahkan kerah kemejanya sudah lumayan basah karena air matanya yang terus berjatuhan.

 

Oppa… Aku sangat mencintai Oppa. Aku tidak ingin pisah dengan Oppa. Aku… Aku sudah jelaskan pada Ayah dan Ibu semuanya. Tapi mereka tetap saja tidak mendengarku… Mereka tetap bersikeras bahwa aku harus tetap dijodohkan.”

 

Aku terdiam sejenak. “Kapan kalian akan menikah?” Tanyaku membuat Reen menatap muram, seolah tak percaya kalimat itu akan keluar dari bibirku.

 

“A-Aku tidak tahu… Ayah dan Ibu bilang bahwa kami akan bertemu beberapa hari lagi. Oppa ak—”

 

“Sudahlah, Reen-ah. Bukankah semuanya sudah jelas?” Aku cepat-cepat memotong ucapan Reen.

 

“A-Apa Oppa?” Ia mengulang, sedikit terkejut. Tapi aku meneruskan. “Kau tidak mungkin menolak keputusan kedua orang tuamu. Orang tua tidak boleh kau lawan. Antara orang tuamu dan aku, tetaplah lebih penting orang tuamu. Kau tetap harus menuruti mereka. Dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang… hubungan kita—”

 

“Tidak Oppa.” Kali ini Reen memotong ucapanku, suaranya bergetar menahan tangis. “Oppa tahu ‘kan aku sangat menyayangi Oppa? Oppa tahu ‘kan aku sangat tidak ingin kehilangan Oppa? Kenapa Oppa bicara seperti ini seolah hubungan kita akan berakhir?” Tanyanya dengan nada menuntut.

 

Aku tersenyum lembut. “Reen-ah, kuberitahu, saling mencintai bukan berarti harus memiliki.”

 

Mendengar perkataanku, tatapan Reen melebar. Bibirnya terbuka ingin mengeluarkan penolakan tapi tak ada satu kata yang keluar. Kurasa Ia benar-benar berpikir hubungan kami akan berakhir.

 

“L-Lalu… Oppa akan membiarkanku menikah begitu saja dengan seseorang yang bahkan tidak kukenal?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Reen. Pertanyaan yang ia pikir mungkin akan membuatku tetap mempertahankannya.

 

Butuh beberapa detik bagiku untuk merangkai kalimat di dalam otakku. “Reen, kau sendiri yang bilang bukan? Kau tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuamu. Kau juga tahu bagaimana aku mencintaimu. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Melawan orang tuamu? Atau bahkan berteriak di depan pria itu bahwa kau adalah milikku? Aku hanya akan mempermalukanmu saja, Reen-ah.”

 

“Ta-Tapi Oppa…” Pintanya dengan bibir bergetar.

 

“Tidak apa, Reen-ah. Kita masih bisa berteman bukan? Kita masih bisa saling menghubungi, tak usah khawatir.”

 

Reen menghembuskan nafasnya, ia memejamkan matanya sebentar. Dan ia mulai percaya bahwa hubungan kami akan berakhir.

d-day pembatas

[D-Day]

 

“Astaga, apa ini benar-benar Minseok?”

 

Aku menoleh pada Ibu yang tersenyum menatapku dengan setelan tuxedo yang disiapkan beliau sejak beberapa hari lalu, sementara Ayah hanya menatap sekilas dan mengangguk, tanda bahwa Ia menyukai penampilanku.

 

Heran sekali kenapa Ayah terlihat lebih sibuk, padahal akulah yang seharusnya tidak bisa tenang, aku yang akan menikah, bukan?

 

“Ibu, terima kasih.” Aku mendatanginya, memeluknya beberapa saat, sesak kurasakan saat aku sadar bahwa aku sebentar lagi akan benar-benar menjadi seorang pria, yang harus bertanggung jawab atas keluarga kecilku, bersama Reen.

 

Ah, mengingat Reen. Aku begitu merindukannya. Kami bahkan belum bertemu sejak tiga hari lalu. Ya, Reen memang mengajakku bertemu, tapi aku menolaknya dengan alasan bahwa Ia bukan milikku lagi.

 

“Sama-sama, nak. Ibu senang melihatmu bahagia seperti ini. Ayo, kita harus bergegas ke kediaman keluarga Do.”

 

Aku melepaskan pelukanku, seraya mengangguk pada Ibu. Sekali lagi kuperhatikan penampilanku, sekaligus membayangkan bagaimana reaksi Reen saat tahu akulah calon suaminya. Kusadari sedari tadi bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Hari ini benar-benar hari yang bahagia.

 

Aku meraih ponselku, mengetik sebuah pesan singkat pada Reen, ya, hanya pesan basa-basi bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya dan nanti aku akan memberikan kado untuknya.

 

Heran sekali karena tidak ada balasan dari Reen, biasanya Ia selalu merespon pesanku dengan cepat. Apa Ia juga di sibukkan dengan persiapan di rumahnya? Aku menyimpan lagi ponselku ditempatnya, mungkin saja Reen sedang sibuk mempersiapkan dirinya, jadi Ia tidak sempat membuka ponselnya.

d-day pembatas

Akhirnya kami sampai di kediaman keluarga Do dengan mengendarai mobil keluarga kami. Memang, tidak ada acara mewah yang kami siapkan, karena tujuan pertemuan keluarga hari ini hanya untuk saling mengenal keluarga satu sama lain.

 

Kyungsoo sudah berdiri di ujung pintu saat kami datang, menyambut dengan senyuman hangat, dan Ia bahkan merangkulku. Hari ini memang bukan hari bahagia untukku dan Reen saja, tapi untuk keluarga kami juga.

 

“Aku sudah menunggu hari ini.” Ujarnya setelah melepaskan rangkulannya, lalu tersenyum lebar padaku.

 

“Kau tahu aku menunggu hari ini lebih darimu, Kyungsoo-ya.”

 

“Ayo masuk, hyung.” Ia membungkuk sopan pada kedua orang tuaku, dan Ibu malah sudah cukup akrab dengan Kyungsoo karena Ia pernah beberapa kali datang ke rumah.

 

Aigoo, Kyungsoo, kau sudah tumbuh sebesar ini.” Gurau Ibu sembari mengacak-acak rambut Kyungsoo lembut, seolah Kyungsoo adalah anak berusia tujuh tahun.

 

Aku hanya menggeleng pelan melihat bagaimana Ibu dan Kyungsoo bisa sangat dekat. Sementara Ayah memilih masuk dan menemui Ayahnya Reen. Ayah tentu sudah mengenal Ayahnya Reen dengan baik, karena beliau adalah partner kerja Ayah.

 

Dadaku berdesir kala melihat keluarga kami begitu akrab. Sungguh sebuah pertanda baik bagi hubungan seriusku dan Reen. Senyumku pun mulai terukir.

 

Eomonim, dimana Reen?” Tanyaku menyadari bahwa gadis cantik yang kurindu-rindu belum tampak di ruang keluarga.

 

“Ah, Minseok. Reen masih di kamarnya. Tadi kutinggalkan karena dia bilang ingin mencoba pakaiannya sendiri. Kau bisa ke atas dan menyusulnya.” Eomonim mengedipkan sebelah matanya padaku dan tersenyum kecil, sementara Ia melanjutkan perbincangan kecilnya dengan Ibuku.

 

Tanpa ragu, aku melangkahkan kakiku menapaki anak tangga menuju lantai dua rumah Reen. Aku ingat kamarnya berada di ujung lorong, dengan pintu berwarna biru yang penuh dengan stiker stitch, tokoh kartun favoritnya.

 

TOK! TOK!

 

Aku mengetuk pintu kamar Reen, menunggu jawabannya karena aku tak mungkin memanggilnya bukan? Ia tidak tahu jika akulah yang akan datang.

 

Karena tak ada jawaban, aku mengetuk pintu kamarnya lagi.

 

TOK! TOK!

 

“Reen-ssi.” Kali ini aku mencoba memanggilnya, dengan suara sedikit dibuat-buat agar tidak kentara bahwa ini adalah aku.

 

Sebuah senyum terukir saat aku membayangkan ekspresi Reen ketika Ia melihatku berdiri di depan pintunya dan—ah, kenapa Ia tak kunjung membuka pintu? Dan bahkan tidak terdengar suara apapun dari dalam. Tidak mungkin kan kalau ia tertidur?

 

Tanpa basa-basi, kuberanikan tanganku meraih gagang pintu kamarnya, menggerakannya kebawah, membuka pintunya dengan perlahan dan—

 

“R-Reen?”

 

Lututku terasa lemas, sangat lemas. Aku ambruk ke lantai, tapi kepalaku menengadah seolah memastikan apa yang tengah kupandang.

 

Tidak… Pandanganku tidak salah bukan? Apa ini hanya bayanganku saja? Tidak. Mana mungkin Reen melakukan ini. Reen adalah anak yang baik. Mana mungkin tindakan ini ia lakukan.

 

Aku mencoba berdiri, dan menghampirinya. Lehernya… Lehernya terikat tali tambang tebal yang membuat tubuhnya tergantung di bawah kusen tinggi pintu kamar mandinya, dengan kepalanya yang tertunduk tanpa ekspresi dan—

 

“REEN-YA! REEN-YA!!!”

 

Aku mengambil kursi di ruangan Reen yang tergeletak asal, aku menaiki bangku itu, merengkuh tubuh Reen, dan mencoba melepaskan tali tambang yang sudah membuat wajahnya sangat pucat.

 

“Minseok?! Ada ap—MINSEOK-AH APA YANG TERJADI PADA REEN?!”

 

Aku tidak menghiraukan panggilan Ayah. Keluargaku dan keluarga Reen menghambur kedalam. Mereka mengerubungiku yang masih merengkuh tubuh tak bernyawa Reen. Semuanya berlalu dengan cepat dalam pandanganku, saat Eomonim menangis dengan keras dan membuatku menyesal atas semua kejutan ini.

 

Kudengar tangis Ibuku, dan teriakan Kyungsoo, kurasakan Ibu merengkuh tubuhku erat dengan tangisan, Ayahku dan Ayahnya Reen sibuk menelepon rumah sakit, tapi satu-satunya yang hanya diam adalah aku. Aku hanya bisa diam. Memandangi tubuh pucat Reen yang kucintai, sudah tidak bernyawa.

 

Kenapa ini harus terjadi? Ini tidak ada didalam scenario kejutanku. Seharusnya Reen sekarang sedang terkejut dengan senang karena aku adalah calon suaminya, seharusnya sekarang aku sedang memasangkan cincin dijemarinya. Tapi… Tapi… Kenapa malah ini yang terjadi?

 

Badanku kaku, memandangi tubuh Reen yang dibalut gaun putih dengan rambutnya yang terurai itu cukup membuat dadaku sesak. Pandanganku mulai menjalar kala melihat sebuah surat kecil dekat kasurnya.

 

Benar. Kini semua sudah jelas. Semuanya. Karena kejutanku, kejutan yang kukira akan sukses, kejutan yang kukira akan berjalan dengan lancar—ternyata malah membawa bencana yang besar. Menyesal. Pikiran itu mulai membayang-bayangi otakku. Kejutan ini.

 

“ARRRRRRGGGGHHHHHH!” Aku menyumpahi diriku sendiri.

 

Reen.

 

Reen-ah.

 

Reen telah meninggalkanku. Hanya karena kejutan ‘spesial’ dariku.

d-day pembatas

—Author POV—

[EPILOG]

 

Untuk Ibu.

Ibu, Reen sangat sayang pada Ibu, Reen juga tidak akan pernah melawan kehendak Ibu. Aku tahu ini salah, Bu. Aku tahu ini bukan yang Ibu inginkan. Tapi untuk kali ini saja, kumohon, biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Selama ini aku tidak pernah melawan Ibu bukan? Maaf Bu, Reen kali ini harus melawan Ibu. Reen tidak bisa menikah dengan siapapun selain Minseok Oppa. Maafkan Reen, Bu… Reen sangat sayang pada Ibu.

 

Untuk Ayah.

Ayah, tolong jangan marah pada Reen, dan jangan membenci Reen. Aku takut, Yah. Aku sangat takut melawan keinginan Ayah dan Ibu sehingga aku memilih jalan ini. Aku tahu Tuhan pasti membenciku, tapi aku tidak punya pilihan lain, Yah. Maaf, untuk kali ini saja… biarkan aku memilih jalan yang benar untukku sendiri, Yah. Ayah tahu bagaimana aku menjalani bertahun-tahun dengan lelaki pilihanku. Jadi… jika aku tidak bisa bersama lelaki pilihan Ayah, lebih baik jika aku tidak bersama dengan siapapun… Ayah… Tolong jangan membenciku.

 

Untuk Kyungsoo.

Kyungsoo-ya. Jaga Ibu dan Ayah. Kau satu-satunya harapan mereka sekarang. Jangan membangkang seperti yang aku lakukan. Maafkan noona, Kyungsoo-ya, tapi kau juga tahu bagaimana hubungan noona dengan Minseok hyung-mu ‘kan? Noona benar-benar tidak bisa hidup tanpanya, Kyungsoo-ya. Maaf, noona harus meninggalkanmu sendirian. Tapi jangan khawatir Kyungsoo-ya, noona pergi bukan karena noona ingin meninggalkanmu. Walaupun noona sudah tidak ada, noona akan terus menyayangimu. Jaga dirimu baik-baik, Kyungsoo-ya

 

Untuk Calon Suamiku.

Maaf, aku tidak bisa menikah denganmu. Dan maaf juga karena kita tidak sempat berkenalan dengan cara yang lebih baik daripada sebuah perpisahan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana kau menganggap perjodohan ini, tapi bagiku, perjodohan ini adalah kutukan, dan aku tidak menginginkannya. Kuharap kau mengerti, jika kita bersama, tidak akan ada yang bahagia, aku yakin, kau juga punya gadis yang kau cintai, begitu juga denganku. Maafkan aku. Semoga kau hidup berbahagia tanpa perjodohan ini.

 

Untuk Pria yang Paling Kucintai.

Oppa, aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan padamu. Aku tahu mungkin bagi Oppa, perpisahan ini tidak ada artinya, mungkin juga Oppa tidak mencintaiku sebanyak aku mencintai Oppa. Tapi aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa Oppa. Maaf Oppa, aku tak bisa menunggu kejutan ulang tahun darimu… Maaf, karena aku yang memberimu kejutan dengan cara seperti ini, Oppa. Oppa, kau boleh mencintai wanita lain, tapi bagiku, hanya Oppa satu-satunya pria yang kucintai. Jadi Oppa, jangan merasa bersalah karena kematianku. Aku melakukannya dengan suka rela, demi kebahagiaanku sendiri. Tidakkah Oppa memiliki harapan yang sama denganku? Oppa, jaga dirimu baik-baik… hiduplah berbahagia walau aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku mencintaimu Oppa, aku sangat mencintaimu. Andai saja… lelaki yang dijodohkan denganku adalah Oppa… mungkin aku tidak akan mengakhiri hidupku dengan menyedihkan. Aku pasti tidak akan melakukan ini, jika saja calonku adalah Oppa. Tapi nyatanya? Kita tidak bisa lari dari kenyataan ini Oppa, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu.

 

 

“Reen-ah? Kenapa kau datang di pagi buta seperti ini?”

 

Kyungsoo menatap sedih pria berbalut pakaian bernuansa biru muda itu dengan tatapan sedih. Dari tadi pagi, pria itu selalu tersenyum menatap pintu. Sudah hampir delapan bulan berlalu sejak kematian saudarinya, tapi sampai saat ini pria itu malah menghabiskan waktunya di rumah sakit.

 

Hyung, noona sudah—”

 

“Kyungsoo, apa kau membawa makanan? Kurasa Reen lapar. Lihat? Dia menatap kita berdua dengan kesal.” Pria yang tak lain adalah Minseok itu tertawa geli, bersikap seolah Reen yang dibicarakannya ada di ruangan yang sama dengan mereka. Ia mulai meraba-raba lemari disamping pintu yang ia kira adalah Reen.

 

Diam-diam, Kyungsoo menghela nafas, menatap muram ke arah Minseok, lalu mendekati Minseok dengan sedih.

 

“Seharusnya, tidak pernah ada kejutan apapun, hyung, seharusnya jujur saja pada noona, seharusnya kita tidak usah melakukan kejutan itu dan semuanya pasti tidak akan berakhir seperti ini. Cepat sembuh hyung, aku mencintaimu.” Kyungsoo menatap Minseok dengan sedih, lalu keluar meninggalkannya.

 

“Kyungsoo­-ya, kenapa kau meninggalkanku kami berdua? Tidak lihatkah bahwa Reen sedang ingin bersamamu juga?”

d-day pembatas

Author note:

YAAAAA Sebelumnya makasih banyak udah baca ff hasil kami bertiga, maaf banget kalo banyak typo bertebaran hehe.

Tidak lupa ff ini kita persembahkan untuk kak Anne! Happy birthday kak Anne! Gimana cita-cita kak Anne lihat Umin jadi gila udah tercapai kan? Hahaha semoga suka ya kak Anne, sorry bgt sad ending hahaha soalnya kak Anne suka kan yang berbau sad?

Dan buat para readers tercinta, jangan lupa like, komen, dan sharenya. Ditunggu kritik dan sarannya, don’t be a silent reader guys! Thanks sudah baca! Love! (tissakkamjong, I R I S H, selviakim)

18 tanggapan untuk “D-Day”

  1. Oke piks, ini ketiga kalinya aku baper karna ff heboh2an TT TT
    Sudah ke tebak akhirnya bakal sad ending dari kata “Ya, Oppa. Kecuali kematian…” TT
    Awalnya bikin terbang ke awang2, tapi akhirnya bagai ke tusuk belati Jleb banget TT

  2. KALIAN SUKSES BUAT JANTUNG AKU DAG DIG DUG WAKTU MALEM MINGGU. UDAH SENENG DARI AWAL SAMPE TENGAH. WAKTU MINSEOK NGANTERIN REEN PULANG. ABIS ITU WAKTU SI MINSEOK PAKE TUXEDO, AKU UDAH MULAI KETAR KETIR. JANGAN JANGAN SAD ENDING. NYATANYA BENER -_-

    WALAUPUN SERING BUAT FF AKHIRNYY SAD, TAPI KALAU BACA, RASANYA BEDA. POKOKNYA SUSKES BUAT AKU DAG DIG DUG SER 😀

    BUAT TISSA, SELVIA, SAMA KAK IRISH, KALIAN HEBAT. SUKSES NGERJAIN READERS -_-

    DAN MAAF, CAPSLOCK LAGI KENA INJEK SEMUT. HEHEH 😀

  3. TUUHHHH KAAANNNNN YANG AKU TAKUTIN BENERAN KEJADIAN KAAANNN….

    Aku bisa bayangin gimana nyeselnya minseok. Huaaaa…. yang sabar yaa seokie ku sayaanggg…. puk puk puk tayang tayang tayanggg….

  4. DAN KALIAN MEMBUAT REEN MATI BUNUH DIRI.
    *JALAN PELANPELAN, AMBIL TAMBANG*

    WAAAAAAAAAA…
    HEBOHHEBOHANNYA MASA KADO BUAT AKOOOOHHH..
    SINI SINI BARIS, MO KUCIUM SATUSATU..
    *CIUM TISSA*
    *CIUM WUSE*
    *CIUM IRISEU*

    HARI INI KUMERASA DAPET BANYAK SEKALI KADOOOO,, PADAHAL AKU UDAH TUA.. *CORET KATA “TUA”*
    MAACIIIIWWWWW…
    SESUNGGUHNYA PAS BACA AWALNYA TERLALU FLUFF, KUSEMPAT CURIGA KALIAN AKAN MENJATUHKAN HATIKU PADA AKHIRNYA, DAN BENAR SAJA. KUSUDAH CENGAR CENGIR UMINNYA TIDURAN DI PAHA REEN, REENNYA BUNUH DIRI.
    TAPI UMINNYA JADI GILA. MANTAP.
    KUSUKA UMIN JADI GILA KALO DITINGGAL SAMA REEN.
    *SAYA PSIKOPAT*
    WKWKWKWKWKWKW

    AH SYUDAAAAH..
    INIH KEREEEENNN..
    UNTUNG KUBUKAN JURI HEBOHHEBOHAN YA..
    SOALNYA INI PENILAIAN SUBJEKTIF BANGET KALO DARI AKU WKWKWKWKWK..
    MWAHMWAH..
    KUCINTAKALIAN DAN SEMANGAAAAAAATTTT~

    1. WHOAHAHAHA KAKNE MAU IKUT BUNUH DIRI JUGA? /SODORIN TALI TAMBANG/
      CIHUUUUYYYYY SAMASAMA KAKNEEEEE SUKAKDEH KL KAKNE SUKAK HAHAHAHA /PELUK CIUM/
      LAH KAN EMANG KAKNE UDAH TUA /eh/ GAKKOK KAKNE MASIH 14TAHUN KOK HAHA PENGENNYA YG ROMANTIS TERUS KALI2 DIBIKIN ROMANTIS TAPI EKSTRIM YAGAK WKWK SEDIH KITA MAH DICURIGAIN MULU SAMA KAKNE WKWK
      WKWK GIMANA PUAS KAH? HAHA MAKASIH SYUDAH BACA KAKNEEEE WISH U ALL THE BEST YAAAA KAK MUAHHHHH

    2. ENGGAK, BUKAN BUAT BUNUH DIRI TAMBANGNYA, MAU KUPAKE BUAT SUMUR :V

      MWAHMWAH WKWKWKWKW..
      KUSELALU SUKA LIAT UMIN DIPAIRING SAMA REEN – KYUNGRIN DALAM GENRE APAPUN BUAKAKAKAKAK..

      IYAH, AKU MASIH 14 TAUN. FIX. CATAT YA. 14 TAHUN.

      BUAKAKAKAKKA KUCURIGA KALIAN GAK AKAN MEMBUATKU TERBANG SAMPAI AKHIR HAHAHAHAHAHAA..

      SYUKAK AKU SYUKAAAKK..
      MAACIIIWW TISSAAA MWAAAAAHH

  5. Ping-balik: D-Day | tissakkamjong

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s