Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 11]

tfam

Ketika sang atlet lari dan drummer sebuah band yang belum debut dipertemukan dengan cara tidak terduga dan masing-masing mulai memiliki rasa. | Waktu boleh saja berlalu, tapi cinta akan tetap tinggal | “Sunbae, gumawo…” | “Aku… aku janji akan lebih mengenalmu.” | “The best love story is when you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time”― Anonymous

Len K present… Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

Previous chapters, click here (TFAM 1-10)

.

.

Chapter 11

.

                “Haaahhhh…” helaan itu kembali keluar dari mulut Chanyeol.

Duduk di bangku taman seorang diri di pagi hari dimana taman masih sangat sepi karena tidak ada pengunjung memberi efek mengantuk dan bosan pada pemuda dalam wujud roh itu. Awal hari Chanyeol bisa saja terasa lebih ramai dan hidup jika saja Iseul ada di dekatnya. Tapi hari ini berbeda. Iseul tidak ada bersamanya.

Oke, Chanyeol dan Iseul memang makin dekat. Tapi bukan berarti mereka akan berdua dimanapun dan kapanpun. Ada kalanya mereka berdua tidak bersama-sama seperti saat ini. Bagaimanapun juga mereka mempunyai urusan masing-masing.

Tapi itulah yang membuat Chanyeol merasa ada yang kurang jika dia tidak mendengar suara Iseul atau melihat sosoknya sehari saja. Yah, meski sekarang ini Chanyeol sudah mulai terbiasa menjumpai bermacam-macam arwah dan berinteraksi dengan mereka―dengan rasa takut dan was-was yang masih membayangi, tapi bagi Chanyeol, berinteraksi dengan mereka itu sangat berbeda dengan menghabiskan waktu bersama Iseul meski mereka hanya berdiam diri.

Tidak mampu menahan rasa bosan dan suntuk, Chanyeol memilih untuk berjalan-jalan di taman. Matahari yang belum mau menampakkan diri, taman yang sunyi senyap, semua itu memberi sensasi tersendiri bagi Chanyeol. Seperti ada rasa damai dan menenangkan yang ia rasakan.

Chanyeol terus berjalan dan berjalan hingga ia tiba di kawasan taman yang penuh dengan bunga warna-warni. Sebagian sudah mekar dan sebagian belum. Tapi itu tidak mengurangi keindahan yang ditawarkan oleh taman.

Chanyeol berhenti dan mengamati bunga-bunga aneka warna tersebut. Fokusnya bukanlah warna-warni mahkota bunga, melainkan titik-titik embun yang masih betah bertengger di dedaunan dan atau bunga-bunga di sana. Ingatannya kemudian melayang pada seseorang.

 


 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelavhasta

Chapter 11 ― Koi no Yokan

 


 

 

“Kau ini dari mana saja sebenarnya?” Chanyeol segera melompat dari pagar taman begitu melihat Iseul mendekat.

Reaksi yang cukup berlebihan bagi Iseul tapi tidak bagi Chanyeol. Maklum saja, Iseul sudah menghilang selama tiga hari dan itu sudah cukup membuat Chanyeol khawatir. Berbagai macam spekulasi berkembang biak dengan liar seperti amuba di pikirannya. Seperti bagaimana jika Iseul terjebak di dunia roh? Bagaimana jika Iseul diculik oleh seseorang dengan kemampuan spiritual? Bagaimana jika Iseul sudah tidak koma lagi? Sampai bagaimana jika Iseul benar-benar pergi?

“Hanya jalan-jalan. Aku bosan,” jawab Iseul enteng.

“Apa?! Jalan-jalan?! Kenapa kau hanya jalan-jalan sendiri? Kenapa kau tidak mengajakku? Kau pikir aku tidak bosan di sini? Hah?” berondong Chanyeol dengan pertanyaan.

“Karena jika aku mengajakmu suasananya akan menjadi rusak. Kau itu berisik, sangat berisik. Sedangkan aku tengah menginginkan situasi yang tenang.”

“Kejamnya!” rengekan Chanyeol hanya dibalas juluran lidah oleh Iseul.

“Tapi… sebentar lagi taman akan ramai ya? Ditambah, sekarang memasuki akhir pekan.”

“Hah?” Chanyeol sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan Iseul. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan topik mereka barusan; Chanyeol yang marah karena tidak diajak jalan-jalan oleh Iseul. Namun walaupun begitu Chanyeol tetap menyahut, “Y-ya, begitulah. Memangnya kenapa?”

Senyum jahil Iseul terbentuk. “Ayo kita berolahraga!”

“H-HAH?”

 

 

Usulan yang dilontarkan Iseul tadi bukan isapan jempol belaka. Iseul benar-benar berolahraga dan memaksa Chanyeol untuk ikut berolahraga. Tentu Chanyeol menolak. Tapi lama-kelamaan Chanyeol luluh juga. Dan akhirnya dua roh itu merasuki tubuh seseorang agar mereka bisa berolahraga.

Iseul merasuki tubuh seorang perempuan muda yang usianya sekitar di awal dua puluhan. Sementara Chanyeol juga memilih perempuan muda sebagai targetnya. Hal ini tentu mendapat kecaman dari Iseul. Iseul hanya takut Chanyeol melakukan hal-hal tidak senonoh pada tubuh wanita itu. Tapi setelah Chanyeol meyakinkan Iseul bahwa ia akan jadi apa yang disebut sebagai anak baik, Iseul membiarkan Chanyeol.

Keduanya lalu jogging bersama menggunakan tubuh dua wanita muda. Olahraga yang awalnya hanyalah jogging menikmati pagi akhir pekan dan suasana pagi hari berubah menjadi lomba lari beberapa saat kemudian. Semua ini disebabkan oleh Chanyeol yang mengejek Iseul bahwa Iseul tidak akan bisa berlari secepat dirinya.

Iseul sebagai atlet lari yang mulai terkenal seantero negeri tidak mungkin menerima ejekan Chanyeol mentah-mentah. Hingga akhirnya Iseul menantang Chanyeol dalam perlombaan lari mengelilingi taman. Yah, hasilnya tentu sudah bisa ditebak. Iseul menjadi pemenangnya dan Chanyeol adalah orang yang kalah setelah ia sempat menyombongkan dirinya sendiri. Benar-benar kelihatan menyedihkan.

Dan setelah lomba kekanakan itu selesai, mereka beristirahat. Duduk meluruskan kaki di rerumputan taman sambil menormalkan sistem respirasi mereka.

“Senangnya! Sudah lama aku tidak berlari sekencang itu dan begitu bersemangat!” Iseul mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Kau… larimu… sungguh… gila!” berbeda dengan Iseul, stamina Chanyeol masih belum pulih. Nafasnya masih berat dan terengah-engah. Entah ini karena dirinya yang tidak begitu sering olahraga atau tubuh wanita yang ia rasuki ini tidak kuat.

“Itu tadi belum seberapa. Aku bisa berlari lebih cepat dari yang tadi. Hanya saja tubuh perempuan ini tidak begitu kuat. Kentara sekali ia jarang olahraga.” Iseul memberi komentar seraya menelisik tubuh yang ia rasuki.

Chanyeol hanya bisa membelalakkan matanya mendengar ucapan Iseul. Lebih cepat dari yang tadi? GILA! Ada satu pelajaran yang bisa Chanyeol petik pada hari ini. Yaitu, jangan pernah menantang Iseul untuk lomba lari.

“Ah, badan perempuan ini jadi banyak berkeringat dan tidak nyaman. Ya ampun, apa dia memakai terlalu banyak lotion? Kurasa aku akan membersihkan badan ini,” kata Chanyeol.

Alarm di kepala Iseul meraung. “Mworago!? Ya! Cepat keluar dari tubuh perempuan itu atau kau ingin berbagi tubuh itu denganku? Ingat, aku bisa menendangmu keluar dengan mudah lho.”

Dibentak seperti tadi cukup membuat Chanyeol berjengit. Sungguh, ia tidak ingin mengulangi pengalaman berbagi tubuh dengan Iseul apalagi sampai diusir keluar. Karena rasanya begitu sakit! Dan dengan bersungut-sungut, Chanyeol membalas, “Hanya bercanda. Serius sekali kau ini. Tidak menyenangkan.”

“Oh, maaf jika aku orangnya tidak menyenangkan,” Iseul balas mencibir.

Kini Chanyeol menyesali ucapannya. Baginya, Iseul adalah orang yang menyenangkan dengan proporsi menyebalkan yang beda tipis.

“Ayo, kita tinggalkan dua wanita ini,” ajak Iseul.

“O-oh. Baiklah.”

Keduanya kemudian keluar dari tubuh dua perempuan tadi dan kembali berjalan-jalan santai. Meninggalkan dua perempuan yang tadi mereka rasuki kini saling menatap heran dan kebingungan sebelum akhirnya sama-sama minta maaf dan kembali ke aktifitas masing-masing. Ekspresi bingung bercampur heran tadi jadi hiburan tersendiri bagi Chanyeol dan Iseul.

Setelah berjauhan selama tiga hari, ada banyak bahan pembicaraan yang bisa mereka berdua bicarakan di pagi yang cerah ini. Bahan perbincangan yang lebih banyak dari biasanya. Tentu Chanyeol adalah orang yang paling banyak bicara disertai sikap hyper-nya itu. Pemuda jangkung itu bercerita mengenai dirinya yang sudah lebih baik menghadapi ketakutannya jika bertemu dengan arwah lain yang menyeramkan, bagaimana merasuki tubuh seseorang menjadi lebih mudah dan ia makin terbiasa, dan lainnya.

Iseul menjadi pendengar yang baik. Ia menyimak cerita-cerita Chanyeol, tertawa jika ada hal lucu yang menggelitiknya dan akan tertawa lebih keras jika hal itu benar-benar konyol, balas bertanya, memberi respon atas cerita-cerita Chanyeol dan bercerita tentang jalan-jalan tiga harinya serta cerita-cerita lainnya ketika diminta Chanyeol.

Asyik mengobrol membawa keduanya berada di salah satu sudut taman dimana di hadapan mereka terhampar berbagai macam bunga pancarona. Rumput hijau yang membentang terlihat seperti permadani yang lembut. Beberapa keluarga atau individu yang bermain di sana juga jadi aksesoris tersendiri. Daripada duduk di bangku taman, kini keduanya lebih memilih untuk duduk di rerumputan.

“Hei, Iseul.”

“Apa?”

Pandangan Chanyeol menerawang jauh ke depan. “Namamu itu, Iseul… artinya adalah embun, bukan?”

Iseul mengangguk. “Ya. Memangnya kenapa?”

Ani. Hanya memastikan. Beberapa hari yang lalu saat aku berjalan-jalan di taman dan tidak sengaja melihat embun tiba-tiba aku teringat padamu.”

Iseul terbahak. “Ya ampun. Apa kau sedang sakit? Kau tahu, aku sama sekali tidak tersanjung mengetahui kau mengingat diriku dengan cara yang… melankolis seperti itu.”

Chanyeol ikut terbahak. “Yah, aku memang sakit hingga bisa mengingatmu seperti itu. Aigo, kurasa ada yang tidak beres dengan otakku. Eh tapi ngomong-ngomong menurutku namamu tidak begitu cocok denganmu. Embun itu menyejukkan. Sementara kau… kerjamu hanya memanas-manasiku saja.”

“Oh, begitu? Maaf jika tidak sesuai ekspektasimu. Mungkin aku adalah embun bagi orang lain, bukan dirimu.” Iseul menyombongkan diri. “Dan namamu, Chanyeol…”

“Ya?”

“Artinya adalah kebahagiaan yang bersinar. Iya ‘kan?”

“Kau benar. Jauh lebih bermakna daripada punyamu ‘kan?”

“Tapi bagiku namamu itu juga tidak cocok denganmu. Kebahagiaan yang bersinar apanya? Kau sama sekali tidak menebar kebahagiaan. Melainkan kesusahan. Dan apa yang bersinar darimu? Tidak ada. Sinar temarampun tidak ada padamu, kau benar-benar padam. Ah, dan lagi, kata bersinar itu juga tidak cocok. Harusnya diganti dengan kata ‘berisik’. Kegelapan yang berisik. Yah, kurasa itu lebih tepat melekat padamu,” balas Iseul.

Mworago? Seenaknya saja kau mengatakan aku ini tidak bersinar dan menebar kesusahan. Ingat, suatu hari nanti, kau akan berterima kasih padaku. Dan suatu hari nanti aku akan benar-benar bersinar. Ketika aku sudah debut, aku akan semakin bersinar di bawah lampu sorot dan kilatan blitz! Dan saat itu terjadi, kau sudah akan menjadi fans-ku dan band-ku!”

“Che. Percaya diri sekali kau. Dan untuk apa aku harus berterima kasih padamu? Untuk semua kesusahan yang melibatkan aku selama ini? Harusnya kau yang berterima kasih padaku atas semua hal yang sudah kuajarkan padamu. Bayangkan jika kau tidak bertemu denganku, mau jadi apa kau hah?”

Chanyeol merasa terpojok. “Ji-jika aku tidak bertemu denganmu aku… aku tentu saja akan tetap menjadi arwah!”

“Ya, arwah yang ketakutan dengan bangsanya sendiri dan payah.”

“Haish! Kau ini!”

“Apa?” balas Iseul sengau.

Chanyeol nampak berpikir sejenak. “Tapi tetap saja kau harus berterima kasih padaku.”

“Hah? Untuk apa?”

“Ya-yah, walaupun aku menyusahkanmu… tapi… tapi… pada akhirnya kau selalu tertawa melihat kekonyolanku. Dengan kata lain, aku menyusahkanmu sekaligus menghiburmu,” kata Chanyeol malu-malu sambil memalingkan wajah ke arah lain.

Mendengarnya, Iseul terpaku. Tapi kemudian, Iseul tertawa keras. Keras sekali hingga Chanyeol terkaget-kaget dibuatnya.

“Kau… kenapa?” tanya Chanyeol. Tidak mungkin Iseul kehilangan kewarasannya bukan? tapi jika Iseul tertawa sekeras dan seaneh ini…

“Hahahaha. Ti-tidak. Hahaha. Bukan apa-apa. Hahahaha.”

“Lalu kenapa kau tertawa?”

Iseul masih tertawa meski tidak sekeras tadi dan berusaha menjawab dengan jelas. “Karena ucapanmu tadi.”

“Hah?”

“Karena kau benar. Selain menyusahkanku, kau juga menghiburku dengan kekonyolan―serta kemesuman―mu itu. Hahahahaha. Rasanya seperti melempar satu batu dan mendapat dua burung sekaligus.” Begitu kalimatnya berakhir, tawa Iseul kembali mengeras karena melihat ekspresi konyol Chanyeol.

Tapi sungguh di luar dugaan, Chanyeol kemudian juga ikut tertawa dengan keras. Tawa mereka memang tidak bisa didengar sebagian besar manusia, tapi bagi mereka, tawa mereka sudah cukup untuk memenuhi masing-masing.

 

Nama yang berarti embun, tawa dan senyum yang hangat seperti mentari pagi, juga pribadi hangat dan menyenangkan. Benar-benar manifestasi musim semi yang sempurna…

 

                Semua tingkah laku konyolnya, juga senyum seperti matahari di musim panas… Ah, dia benar-benar sosok musim panas.

 

***

 

Hari Minggu kali ini, Chanyeol dan Iseul memutuskan untuk berjalan-jalan di kawasan Hongdae yang semakin ramai dan padat di akhir pekan. Meski baik Chanyeol maupun Iseul sudah tidak asing lagi dengan salah satu tempat tersohor di Korea ini, rasanya tetap saja berbeda ketika kau bisa berjalan-jalan sesukamu tanpa bisa terlihat dengan orang lain.

Selain itu, rasanya juga berbeda ketika kau bisa makan gratis tanpa harus membayar. Makan gratis? Ya, caranya mudah saja. Chanyeol dan Iseul hanya tinggal merasuki tubuh seseorang dan makan sepuasnya setelah itu mereka tinggal meninggalkan tubuh orang itu yang kebingungan kenapa ia bisa makan sebanyak itu atau harus membayar banyak. Terdengar menyenangkan memang, walau itu tidak terpuji.

“Ya ampun, lain kali kita harus mencoba untuk masuk ke café-café mahal dan restoran mewah untuk menikmati makanannya. Makan malam mewah di restoran juga boleh. Ide yang brilian sekali, bukan? Bukankah begitu, Iseul?” tanya Chanyeol yang begitu antusias akan gagasannya.

“Heish, itu namanya kriminalitas. Benar-benar cocok dengan mukamu yang seperti seorang kriminal ya?”

“Hei! Enak saja kau mengatakan wajah tampan ini sebagai muka kriminal! Saat kau mengetahui ada berapa banyak perempuan yang histeris melihatku, kau pasti akan terkejut.”

“Tidak akan.”

“Terserah! Lagipula bagian mananya yang kau sebut dengan kriminalitas? Pada dasarnya kita tidak mencuri makanan mereka. Memang, saat kita merasuki mereka kita merasa kenyang. Tapi saat kita pergi dari tubuh mereka, kita tidak merasa kenyang. Justru merekalah yang merasa kenyang.”

YA!” seruan keras dari Iseul yang dibarengi dengan pukulan di rusuk Chanyeol cukup membuat pemuda bertubuh tinggi itu mengaduh kesakitan dan melancarkan seruan protes.

Walau keributan terjadi di antara keduanya, tidak lama kemudian mereka sudah bisa tertawa karena hal lain atau mengobrol biasa. Benar-benar perubahan yang sangat drastis.

“Hei, sepertinya di sana ada pertunjukkan yang menarik. Ayo kesana!”

“Chan-Chanyeol!” tanpa menunggu persetujuan dari Iseul, Chanyeol sudah menarik tangan Iseul dan menembus―dalam artian sebenarnya―kerumunan yang ada.

Di siang hari seperti ini memang street performer tidak sebanyak saat malam hari. Tapi tetap saja ada cukup banyak street performer yang beraksi di Hongdae. Beberapa dari mereka bahkan berhasil menarik perhatian massa karena penampilannya.

Chanyeol lalu membawa Iseul berada di dekat para pemain band itu. Tentu tidak ada yang menyadari keberadaan mereka karena mereka arwah. Tidak lama kemudian, sebuah intro dari lagu baru dimainkan.

“Aku tahu lagu ini!” Chanyeol berseru kegirangan.

Dan Iseul hanya bisa diam karena ia benar-benar tidak tahu lagu siapa yang mulai dimainkan ini. Dirinya hanya diam dan tidak seantusias Chanyeol.

“Kau tahu lagu ini?” tanya Chanyeol.

“Hah? Tidak,” jawab Iseul singkat.

“Ini lagu milik Arkarna. Judulnya So Little Time.”

“Oh.” Hanya respon singkat itu yang ditunjukkan oleh Iseul. Gadis itu membuat penilaiannya sendiri di dalam hati. Lagunya bagus, melodi yang lincah dan menyenangkan.

“Ayo menari!” ajak Chanyeol yang sudah lebih dulu larut dalam alunan melodi ketika lagu semakin mendekati reffrain.

“Ap-apa?!” Iseul terkejut bukan main.

“Menari! Bukankah lagu ini sangat enak jika digunakan untuk menari?”

“I-iya, kau benar. Tapi… menari di hadapan umum seperti ini?”

Chanyeol berhenti menari dan memutar kedua bola matanya. “Oh, lihat siapa yang lupa akan wujudnya sekarang ini. Nona Cha Iseul, kuharap kau tidak melupakan fakta jika sekarang ini kita berada dalam bentuk arwah. Orang-orang tidak bisa melihat kita. Jadi untuk apa kau ragu-ragu dan malu? Ayolah, kapan lagi kau bisa melakukan hal menyenangkan ini dalam hidupmu?”

Dalam hati Iseul merutuki dirinya sendiri. Yah, yang dikatakan Chanyeol memang benar. Tidak akan ada yang bisa melihat mereka. Tapi tetap saja, bagi Iseul. Ia masih merasa gamang.

“Kau terlalu lama berpikir! Ayo!”

“Chanyeol!” lagi, Iseul kembali berseru karena tarikan paksa Chanyeol yang membawanya ke tengah-tengah band itu.

“Ayo!”

Chanyeol sudah kembali menari sesukanya dan Iseul masih bertahan dalam kegamangannya. Iseul melihat ke arah penonton. Mereka benar-benar tidak mempedulikan keberadaan satu pemuda betubuh jangkung yang kini tengah menggila. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang mempunyai kemampuan indra keenam?

“Cha Iseul!” Chanyeol kembali memangil Iseul untuk menggila bersamanya.

Masa bodoh! You only live once! Dan Iseul sudah bergabung bersama Chanyeol.

“Hei, gerakanmu tidak buruk juga!” komentar Chanyeol.

Iseul tertawa mendengarnya. Keduanya terus menari sesuka mereka dengan senyuman menghiasi wajah. Sesekali keduanya menciptakan gerakan duet seperti Iseul yang berputar dalam genggaman tangan Chanyeol, serta berusaha menyinkronkan gerakan mereka.

Siang hari ini menjadi siang yang penuh tawa bagi Chanyeol dan Iseul. Dan deretan kata dalam lagu yang menjadi pengiring tarian mereka kini juga merupakan harapan dari seorang Park Chanyeol.

 

 

Seharian sudah Chanyeol dan Iseul menggila di Hongdae. Malampun telah tiba. Memang, tadi Chanyeol sempat mengusulkan untuk ‘makan malam mewah’. Tapi usulan itu tidak terlaksana malam ini karena dirinya dan Iseul lebih memilih untuk bersantai di atap sebuah gedung.

Menikmati malam ditemani angin semilir juga kerlip cahaya lampu kota di bawah, dengan berbagai macam suara sebagai BGM mereka, serta langit yang kelihatan tidak berbintang karena light pollution. Suasana di atas gedung itu cukup tenang. Bahkan Chanyeol yang biasanya berisik kini lebih memilih untuk berdiam diri.

“Iseul.” Chanyeol akhirnya angkat suara.

“Ya, ada apa?”

“Besok… aku ingin melihat tubuhku.”

“Kenapa tidak sekarang saja?”

“Karena… bukankah biasanya jam besuk sudah habis di jam sekarang?” senyum tipis nan getir nampak di wajah Chanyeol.

Iseul mengulum senyum maklum. “Kau benar.”

 

***

 

“Chanyeol.” Suara Iseul yang lirih tidak tenggelam di tengah riuh-rendah salah satu lorong rumah sakit Korea University Medical Center.

“Apa?” balas yang dipanggil dengan nada santai.

“Katamu kau sudah terbiasa dan tidak takut lagi dengan arwah lain….”

“Ya, itu benar adanya. Kenapa memang?”

“Kalau memang itu faktanya… kenapa kau terus berjalan di belakangku sambil memegangi bahuku seperti anak kecil?!” sembur Iseul dengan keras.

Mendengar teguran keras dari Iseul, buru-buru Chanyeol melepaskan tangannya dari bahu Iseul. “Hei kau, jangan terlalu percaya diri ya? A-aku tidak sengaja memegang bahumu kok!” elak Chanyeol.

“Ha! Geot.ji.mal! Lihat tanganmu!” Iseul berbalik dan menyambar tangan Chanyeol, “tanganmu bergetar. Tandanya kau ketakutan.”

“Apanya? Siapa yang ketakutan? Siapa? Cih, jangan sok tahu!”

Iseul berdecak. Kenapa Chanyeol begitu kekanak-kanakan? Bersikap sok berani padahal nyatanya ketakutan setengah mati. Apa begitu sulit untuk jujur pada diri sendiri? Dan lagi, Chanyeol bukan pembohong ulung. Dia terlalu mudah dibaca.

“Nah, lalu…” Iseul berkacak pinggang, “kenapa kau selalu berjalan di belakangku, hm?”

Chanyeol kelihatan kelabakan. “Y-ya… itu… itu… kau memang tidak tahu?”

“Apa?”

“Sebagai seorang lelaki sejati, aku ini sangat mendukung serta mengaplikasikan slogan ‘Ladies first’,” kilah Chanyeol.

Iseul memutar kedua bola matanya malas. Alasan yang benar-benar konyol. “Tidak usah banyak alasan, Chanyeol. Kau itu seperti buku yang terbuka, mudah dibaca. Katamu kau sudah terbiasa dan tidak takut dengan arwah, tapi mana buktinya?”

Skakmat bagi Chanyeol. Sangat sulit untuk menang debat dari Iseul. Ditambah, dipandangi secara intens oleh Iseul membuat Chanyeol makin salah tingkah. Yah, kalau saja yang memandanginya itu Sandara Park 2NE1 dengan tatapan mematikanpun Chanyeol tidak akan keberatan. Tapi Iseul ‘kan bukan Sandara 2NE1.

Akhirnya, Chanyeolpun mengalah dan mengaku, “Well, sudah terbiasa dan tidak takut bukan berarti aku benar-benar sudah terbiasa dan benar-benar tidak takut bukan?” Chanyeol membela diri disertai cengiran lebar.

“Ya ampun, kau ini benar-benar…” keluhan Iseul hanya ditanggapi cekikikan oleh Chanyeol. “Oh! Ya ampun Chanyeol, di belakangmu ada korban kecelakaan yang hampir seluruh wajahnya rusak dan dia tengah menatapmu!”

Jeritan ketakutan Chanyeol dibarengi dengan gerakan cepat Chanyeol yang langsung bersembunyi di balik badan Iseul yang lebih pendek darinya. Namun ketika Chanyeol memberanikan diri untuk membuka matanya, tidak ada apa-apa di hadapannya―yang tadinya adalah belakangnya. Justru, indra pendengaran Chanyeol mendengar tawa puas yang familiar.

Ya, Iseul sudah berhasil mengerjainya untuk yang kesekian kalinya.

“Cha Iseul!” bentak Chanyeol geram. Mukanya sudah semerah kepiting rebus dan menjalar hingga telinga besarnya.

“Hahahahaha. Mwo?” di sela tawanya Iseul kembali mengejek Chanyeol menggunakan mimik wajahnya.

“Haish! Neo jinjja! Bercandamu itu tidak lucu tahu! Bagaimana jika aku jantungan? Bagaimana jika aku benar-benar mati kali ini?”

“Tenanglah Tuan Park. Itu semua tidak mungkin terjadi, percayalah padaku,” kata Iseul masih dengan senyum mengejeknya.

“Percaya padamu itu sama saja dengan menggadaikan keselamatan hidupku.”

“Heish, tapi kenyataannya kau masih mempercayaiku sampai saat ini bukan?”

Skakmat yang kedua kalinya untuk Chanyeol. Iseul selalu berhasil membuatnya tidak berkutik dan Chanyeol tidak menyukai hal satu ini. Chanyeol memilih untuk diam tidak menjawab apapun atau menanggapi ucapan Iseul barusan.

“Oke, jadi di mana kamarmu?” Iseul mengalihkan topik pembicaraan ke tujuan awal mereka datang ke rumah sakit ini.

Chanyeol kembali tersenyum. Tapi senyumnya membawa firasat tidak enak pada Iseul. “Kalau itu… aku… tidak tahu.” Senyum Chanyeol semakin lebar saja.

Mworago?! Tidak tahu?! Ya! Neo micheosseo?!―”

“Wajar saja aku tidak tahu Iseeeeuuuuuulll! Bukankah saat aku terbangun, saat kau menemukanku, aku berada di atap rumah sakit? Lalu saat pertama kali kita mencoba mencari tubuhku, aku langsung ketakutan dan memohon untuk pergi?” Chanyeol memotong omelan Iseul sebelum omelan itu menjadi semakin panjang.

Kali ini giliran Iseul yang dibuat tidak berkutik oleh Chanyeol. Ucapan Chanyeol seratus persen benar.

Helaan nafas singkat keluar dari mulut Iseul. “Oke, kau benar. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita akan menemukan kamarmu? Korea University Medical Center ini luas sekali. Tidak mungkin bukan, kita menjelajah dari satu kamar ke kamar lain, lantai demi lantai.”

“Padahal aku mau mengusulkan hal itu tadi…”

“Hei, jangan konyol. Jadi sekarang bagaimana?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Molla.”

Ya! Bertanggung jawablah sedikit! Kita ini kemari karena ingin melihat dirimu yang sebenarnya. Setidaknya tunjukkanlah sedikit rasa antusias atau usaha dalam mencarinya!” Chanyeol langsung mengkeret dibentak seperti itu oleh Iseul.

Ketika dua arwah itu tengah berpikir, sepasang perawat wanita berhenti di depan vending machine tidak jauh dari mereka dan mengobrol.

“Sungguh sayang debut The FOO harus ditunda karena salah satu personil mereka kecelakaan dan koma. Padahal aku sangat menantikan debut mereka,” kata salah satu perawat.

Mendengar nama band-nya disebut-sebut, mau tak mau Chanyeol makin menajamkan telinganya dan mendekati dua perawat itu.

“Hei! Kau mau macam-macam dengan para perawat itu ya?” tegur Iseul.

“Ssstt!” Chanyeol meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. “Jangan berpikiran negatif terlebih dahulu. Justru aku ingin mencari informasi mengenai kamarku.”

“Kau benar. Kalau tidak salah… drummer mereka ‘kan? Dia belum sadar sampai sekarang ya?”

“Iya, sungguh malang.”

“Oh ya, bukankah drummer The FOO itu dirawat disini? Dia dirawat di kamar nomor berapa memangnya?”

“Di kamar nomor 271 di lantai delapan. Kamarnya begitu penuh dengan bingkisan dari para fans. Setiap hari pasti selalu ada kiriman untuk dia. Bahkan ada yang pernah mengirim karangan bunga yang begitu besar…”

Chanyeol menyeringai. Informasi sudah didapatkan.

 

 

Berbekal informasi dari obrolan dua perawat tadi, Chanyeol dan Iseul berhasil menemukan kamar Chanyeol tanpa kesusahan. Mereka kini tinggal beberapa langkah lagi sebelum berada tepat di depan kamar Chanyeol.

“Kalau saja tadi kita tidak bertemu dua perawat tadi, mungkin aku sudah berlari ke lobi dan merasuki salah satu pegawai di sana untuk menemukan kamarku,” jelas Chanyeol yang niatannya sudah urung lebih dulu.

“Yah, dan mungkin kau akan keasyikan merasuki slah satu pegawai cantik di sana dan berbuat macam-macam,” sambung Iseul.

“Oy! Iseul! Berhenti membuatku terlihat seperti orang mesum tak bermoral!” Chanyeol mengerang, setengah memohon pada Iseul. Iseul sendiri hanya bersikap acuh tak acuh, membuat Chanyeol menghela nafas dan menggelengkan kepalanya secara bersamaan. “Ya ampun, kau ini benar-benar menyebalkan…”

“Kau sudah siap?” tanya Iseul kala langkah mereka berdua terhenti di depan sebuah kamar.

Di pintu kamar terdapat angka 271 yang berwarna emas. Chanyeol menelan ludahnya. Degup jantungnya semakin menggila. Entah kenapa ia merasa tegang, juga aneh. Ya, aneh. Bukankah rasanya aneh ketika kau akan menengok dirimu sendiri yang tengah terbaring sakit?

Chanyeol juga tidak dapat melihat ke dalam kamar tempat ia dirawat. Sekotak kaca persegi panjang yang buram dan dipasang vertical di pintu tidak memberinya akses untuk melihat ke dalam.

“Hei, Chanyeol.”

“O-oh, ya. Aku sudah siap.”

Keduanya tanpa membuka pintu, melainkan menembusnya, sudah memasuki kamar tersebut. Untuk sesaat Chanyeol merasa nafasnya terhenti. Suasana di kamar itu begitu sunyi. Hanya ada bunyi alat monitor detak jantung di sana yang menjadi penanda bahwa Chanyeol masih hidup walau dalam keadaan koma.

Sementara di ranjang, tubuh Chanyeol terbaring. Ada infus yang menghunus pembuluh nadi tangan kirinya. Di meja samping ranjang, ada rangkaian bunga yang masih segar. Serta ada banyak bingkisan di kamar tersebut―yang sudah pasti berasal dari kerabat, teman, dan penggemar Chanyeol. Chanyeol melangkah mendekati dirinya yang koma.

Rasanya aneh. Benar-benar aneh. Melihat dirimu sendiri yang terbaring tak berdaya bukanlah suatu hal yang lumrah. Jika biasanya Chanyeol melihat dirinya melalui pantulan cemin, kini Chanyeol tidak membutuhkan itu.

“Rasanya aneh melihatku terbaring di sini,” komentar Chanyeol.

“Begitulah.” Iseul tidak berkomentar banyak. Ia sendiri ingin memberi Chanyeol sedikit waktu. Harus Iseul akui suasana sekarang ini menjadi sedikit sendu.

“Ya ampun, andai aja jika aku bisa merasuki tubuhku sendiri dan kembali sadar…. Aku… aku sudah membuat semuanya khawatir. Ayah, ibu, noona, juga teman-temanku. Ah, mereka pasti bersedih. Andai saja aku tidak koma, mungkin aku sudah debut sekarang ini.” Sisi Chanyeol yang seperti ini baru pertama kali Iseul lihat dan itu membuatnya terkejut.

Siapa yang menyangka jika sosok yang seperti pengejawantahan musim panas itu juga bisa menjadi melankolis seperti sekarang ini?

Suara pintu yang digeser membuat Chanyeol yang berwujud arwah dan Iseul mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Ada empat pemuda bergerombol di sana dan berhenti sejenak.

Chingudeul…” mata Chanyeol berkaca-kaca.

Tanpa diberi tahupun Iseul sudah bisa tahu jika keempat pemuda itu adalah teman-teman Chanyeol. Iseul sendiri cukup kaget melihat bagaimana keempat teman Chanyeol terpaku begitu di ambang pintu.

Chingudeul kalian―”

Aigo, Tiang Listrik itu masih belum bangun juga?” seorang dengan garis dagu yang tegas dan jakun yang cukup besar serta suara melengking tinggi serta memakain kacamata bersuara. Dari nadanya terdengar begitu nyinyir hingga Iseul terpana dibuatnya karena kaget.

Keempat pemuda itu mendekat. Menaruh tas mereka di sofa yang ada di sana dan duduk di sana dengan nyamannya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan tubuh Chanyeol yang terbaring koma di ranjang sana.

“Seperti yang kau lihat Jongdae, Chanyeol masih belum bangun.” Kali ini pemuda dengan bibir penuh bertampang linglung menyahut. Dari dia Iseul tahu jika pemuda berkacamata tadi bernama Jongdae.

Jongdae? Kenapa aku jadi teringat sesuatu ya?

“Haish, dia betah sekali tidur. Apa aku harus membuatnya tidur untuk selama-lamanya?” pemuda berkulit tan mengatakan hal itu seakan ucapannya bukanlah sesuatu yang gawat.

Dan kali ini Iseul harus mati-matian menahan tawanya.

“Jangan. Kita belum menyiapkan upacara pemakamannya bukan? Kita juga tidak tahu model pemakaman apa yang diinginkan Chanyeol. Apa dia ingin yang sederhana, atau mewah, atau harus diliput oleh media? Selain itu aku juga belum mempunyai cukup uang untuk melayat.” Pemuda tinggi berkulit putih dengan philtrum panjang menyambung ucapan pemuda berkulit tan tadi.

“Oh, Sehun benar.”

Sementara keempat temannya terus mengobrol, Chanyeol dalam wujud arwah membeku di tempat. Iseul melirik Chanyeol sekilas lalu tersenyum licik, “Mereka pasti bersedih, hm? Hahahahahaha.” Iseul terbahak di akhir kalimat.

Warna merah kembali menjalari wajah Chanyeol. Dengan langkahnya yang lebar, arwah Chanyeol sudah berada di tengah-tengah keempat temannya. Tepatnya, di atas meja. “Di-diam kau, Iseul! Aarrrgghhh! Jadi begini kelakuan kalian selama aku koma?! Dasar bocah-bocah sialan!”

Tawa Iseul masih belum berhenti.

“Eh tapi ngomong-ngomong, aku seperti melihat coklat asli Belgia kemarin. Coklat itu masih ada di sini tidak ya?” Jongdae langsung berdiri menuju tumpukan hadiah dan mencari-cari coklat Belgia yang ia maksud.

“Apa?” lirih Chanyeol yang masih bingung.

“Oohh! Masih ada! Masih ada!” Jongdae mengangkat tinggi-tinggi coklat Belgia tersebut sebelum membukanya. “Wah, ini pasti enak. Heol! Ini benar-benar enak! Aku tidak bohong, kalian harus coba!”

Sekejap saja coklat itu sudah berpindah tempat ke perut empat pemuda tadi.

“Woi! Apa yang kalian lakukan dengan coklatku?! Kenapa kalian memakannya?! Itu coklat untukku yang diberikan oleh para penggemarku dengan penuh cinta! Bukan untuk kalian, Saekkiah!”

Tapi percuma saja Chanyeol mau protes sekeras apapun. Suaranya tidak bisa didengar oleh keempat kawannya. Jangankan suara, keberadaannya saja tidak kasat mata.

 

 

Pada akhirnya kamar Chanyeol kembali tenang. Chanyeol sudah menyerah untuk meneriakkan protesnya pada teman-temannya yang mengabaikannya, memakan makanan yang seharusnya untuknya, dan melontarkan lelucon-lelucon yang membuat Chanyeol meradang. Teman-teman Chanyeol juga sudah kembali ketika Yixing mengingatkan mereka bahwa mereka ada latihan nanti malam di studio manajemen.

Sepanjang kunjungan teman-teman Chanyeol itu, Iseul juga terbahak puas. Gadis itu sama sekali tidak ada niatan untuk membantu Chanyeol merasa lebih baik. Yah, sejak awal memang selalu begitu. Membuat Chanyeol merasa lebih buruk seakan-akan sudah menjadi bakat alam Iseul. Dan Chanyeol tentu hanya bisa semakin mengerucutkan bibirnya seraya menyumpah serapahi teman-temannya dan Iseul. Hal yang membuat gelak tawa Iseul semakin menggila.

“Aku suka teman-temanmu. Sungguh,” komentar Iseul, “kurasa aku bisa berteman baik dengan mereka. Atau berkomplot dengan mereka dalam menistakan dirimu. Itu ide yang bagus! Hei, besok kalau kita berdua sudah sadar, kenalkan aku pada mereka ya?”

Chanyeol mengerang dengan keras tanpa takut mengganggu sekitar. Toh di kamar ini hanya terbaring ‘dirinya’ yang koma. “Tidak akan! Demi langit dan bumi! Aku.tidak.akan.pernah.membiarkan.hal.itu.ter-ja-di!” penekanan Chanyeol dalam tiap kata semakin menjadi.

“Kalau begitu aku akan berusaha sendiri.”

“Hah! Ya, berusahalah dalam mimpimu. Asal kau tahu saja, besok saat kau sadar, aku dan band-ku sudah menjadi rookie paling panas tahun ini. Kami sudah berada di luar jangkauanmu tahu!”

“Percaya diri sekali kau. Memangnya itu sudah pasti?”

“Apanya?”

“Kau yang sadar lebih dulu dariku. Ingat Chanyeol, tidak ada yang tahu kapan kita akan sadar. Siapa yang lebih dulu di antara kita, kita tidak tahu. Itu masih menjadi misteri.”

“Kalau begitu ayo taruhan!”

“Taruhan?” alis Iseul menyatu karena penasaran.

“Iya!” angguk Chanyeol. “Taruhan. Kalau aku yang sadar lebih dulu, maka… maka… maka kau harus menjadi fans band-ku, terutamanya aku. Kau harus jadi fansite-ku. Bagaimana?”

“Lalu kalau aku yang sadar lebih dulu?” Iseul menyahut Chanyeol dengan pertanyaan dan seringai yang bagi Chanyeol sungguh menyebalkan.

“Maka kau boleh berkenalan dengan teman-temanku.”

“Ide bagus! Aku setuju!” keduanya lalu berjabat tangan sebagai tanda setuju. “Dengan begini aku bisa memanas-manasi Eunji.”

“Apa? Memanas-manasi Eunji?” Chanyeol memasang mimik bodoh.

Iseul membenahi posisi duduknya yang berada di samping Chanyeol. Matanya lurus menatap tubuh Chanyeol yang terbaring koma di tempat tidur. “Iya. Jung Eunji, dia sahabatku. Atlet panahan yang mengikrarkan dirinya sebagai fans berat The FOO, band-mu.” Telunjuk Iseul tertuju pada Chanyeol.

“Oh ya?” Chanyeol merubah duduknya menjadi bersila menghadap Iseul dengan penuh antusias. “Benarkah dia fans band­-ku? Siapa? Siapa anggota favoritnya? Itu pasti aku bukan?”

“Dia itu sangat maniak terhadap band-mu. Tidak terhitung lagi berapa kali dia menangis atau menjadi histeris seperti pasien sakit jiwa yang obatnya habis karena kalian. Dan jangan terlalu percaya diri Chanyeol. Dia sama sekali bukan fans-mu―”

“APA? TIDAK MUNGKIN!”

“Dia adalah fans dari vokalis kalian. Siapa namanya? Jongdae? Jongdae? Ya, seingatku namanya itu. Kalau aku mengatakan dia mencintai si Jongdae itu melebihi cintanya pada dirinya sendiri kurasa itu masuk akal, tidak berlebihan.”

Chanyeol terhenyak mendengar fakta mengejutkan―baginya―itu. “Apa?! Kenapa Jongdae? Kenapa harus dia? Yang dia punya hanyalah suaranya yang melengking tinggi dan kadang begitu berisik tak ubahnya seperti bebek-bebek di peternakan. Aku ini jauh lebih tampan darinya! Harusnya dia menjadi fans­-ku! Ditambah aku ini adalah instrumentalis handal yang menguasai tiga alat musik. Piano, gitar, dan drum. Suaraku juga jauh lebih seksi. Lihat bukan? Aku adalah paket lengkap seorang idol dan pria idaman!”

Ya, Pabo-ya, kau tidak bisa memaksakan selera seseorang,” cibir Iseul. “Kau ini juga terlalu percaya diri. Di antara kau dan teman-temanmu, aku sangat sangat sangat sangat tidak setuju untuk melabeli dirimu sebagai anggota paling tampan. Yang patut menyandang gelar itu adalah temanmu yang sama-sama berbadan tinggi dan mempunyai kulit yang saaaaaaaangat putih! Philtrum-nya juga panjang, dan kalau dia diam dia kelihatan saaaaaaaaaangat cool!”

Sepanjang Iseul berdeskripsi, ingatan Chanyeol melayang-layang. Menyesuaikan ciri-ciri yang dipaparkan Iseul dengan teman-temannya. Yang berbadan tinggi dan berkulit putih itu ‘kan…

“Maksudmu Sehun?!”

Iseul berjengit kecil karena kaget dengan seruan tiba-tiba Chanyeol. “Ya-yah, aku tidak tahu namanya. Tapi kurasa dia orangnya.”

“Kenapa harus dia? Aku, yang jelas-jelas punya banyak kelebihan dan ada di dekatmu kenapa tidak terpilih? Kenapa? Kenapa?”

“Kau tidak bisa memaksakan selera seseorang, Bodoh.” Iseul mengulangi perkataannya.

Baru saja mereka akan memulai babak baru debat kusir mereka, seorang wanita cantik bertubuh semampai masuk ke kamar Chanyeol. Melihat wanita itu berjalan masuk dan duduk di samping tempat tidur Chanyeol membuat Iseul terpana.

“Tunggu! Dia Park Yoora yang penyiar berita itu ‘kan? Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa kau bisa mengenalnya?” Iseul bertanya beruntun.

Seulas seringai penuh kemenangan dan dibumbui sedikit kesombongan tercipta di bibir Chanyeol. “Ya, dia Park Yoora yang penyiar berita itu dan dia adalah… pacarku.”

“Apa?! Pacarmu?! Tidak mungkin. Kau pasti berbohong!”

“Aku tidak berbohong!”

“Mana mungkin dia adalah pacarmu?” balas Iseul sengit.

“Tentu saja mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”

“Aku tidak percaya.”

“Kau tidak percaya?”

“Tidak!”

“Kau harus percaya, Iseul. Park Yoora itu adalah―”

“Hai adikku. Bagaimana kabarmu hari ini?” suara Yoora tidak begitu lantang tapi mampu membuat diam dua arwah yang tengah berseteru di sana. “Hari ini aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Sangat melelahkan, tapi…”

“Ha!” kini seringai penuh kemenangan yang angkuh berpindah pada Iseul. “Dia bukan pacarmu. Dia adalah kakakmu.”

Chanyeol dengan terpaksa harus menelan pil pahit kekalahan.

“Dasar. Hahahaha.” Tawa Iseul kembali lagi. “Wah, wah, aku tidak menyangka jika Park Yoora adalah kakakmu. Besok kalau kau sudah sadar tolong sampaikan salamku untuknya, oke? Katakan ia mendapat salam dari salah satu penggemarnya.”

“Ka-kau penggemar kakakku?” mata Chanyeol membulat sempurna.

“Begitulah faktanya,” aku Iseul. “Karena dia aku berpikir untuk menjadikan penyiar berita sebagai salah satu pilihan profesiku.”

Percakapan keduanya terhenti di situ karena keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Selain itu, mereka berdua juga asyik menikmati scene yang ada di depan mata mereka. Dimana seorang kakak yang terlihat tulus menyanyangi adiknya. Membuat Iseul teringat pada kakaknya, Chisoo.

Dan membuat Chanyeol kembali tersadar bahwa meski kakaknya sering menjahilinya tapi sebenarnya kakaknya sangat menyanyanginya.

“Hei, Iseul.”

“Apa?”

“Apa… aku boleh melihatmu?”

“Kau sudah melihatku sekarang.”

“Tsk! Bukan itu maksudku. Maksudku, apa aku boleh mengunjungimu di kamar tempat kau dirawat? Kau tahu aku juga penasaran.”

Iseul tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Justru ia hanya tersenyum getir tanpa menoleh pada Chanyeol. Dan Chanyeol tahu bahwa itu artinya ‘tidak’.

“Tapi Chanyeol…”

“Hm?”

“Kau lebih memilih berada dalam wujud kita sekarang ini atau kembali?”

Chanyeol kelihatan berpikir. “Wujud kita yang sekarang ini memang memberi beberapa kelebihan dan keuntungan, cukup menyenangkan, aku juga cukup menikmatinya. Tapi tentu saja aku ingin kembali. Kalau aku terus-terusan berada dalam wujud ini, bisa-bisa aku batal debut!”

“Begitu ya? Kalau aku berbeda darimu. Aku lebih memilih berada dalam wujud kita yang sekarang ini.”

“Hah? Apa kau sudah gila?!” Chanyeol terlonjak hingga berdiri saking kagetnya. “Apa kau tidak memikirkan perasaan orang-orang terdekatmu yang sekarang ini mencemaskanmu?”

Iseul tersenyum kikuk.

“Dasar aneh.” Chanyeol berpaling pergi.

“Kau mau kemana?”

“Keluar. Rasanya risih dan menggelikan melihat noona-ku yang seperti itu sekarang.”

“Aku ikut!”

 

― Lanjut? ―

 

Glossary              :

  • Koi no Yokan : (bahasa Jepang) frase cinta yang serupa-tapi-tak-sama dengan love at the first sight. Ditulis 恋の予感 (こいのよかん), mengandung unsur ‘koi’ (恋) yang merupakan kata lain dari ‘cinta’ tapi lebih mengarah ke hasrat dan daya tarik seksual. Sedangkan ‘ai’ (愛) yang juga berarti cinta lebih mengarah ke cinta sejati. Semua cinta dimulai dari ‘koi’, namun hanya beberapa yang menjadi ‘ai’. Bahkan ada istilah “Koi selalu menginginkan, Ai selalu mencintai.”. Singkatnya, koi no yokan adalah sebuah perasaan terhadap seseorang yang baru ditemui , bahwa kelak di masa depan, ada hubungan istimewa antara kita dan orang itu.
  • Philtrum : bagian atas bibir yang menjadi pemisah antara hidung dan bibir atas.
  • Light Pollution : suatu keadaan dimana bintang-bintang tidak terlihat di langit karena cahaya lampu kota yang amat terang. Biasanya terjadi di kota-kota besar.
  • Mworago : apa katamu?
  • Ani : tidak (bentuk singkat, informal)
  • Geotjimal : bohong
  • Mwo : apa (informal)
  • Neo jinjja : kau ini benar-benar (biasanya kalo lagi kesel)
  • Neo micheosseo : apa kau gila? (micheo: gila)
  • Molla : tidak tahu (informal)
  • Chingudeul : teman-teman (chingu: teman, –deul: bentuk jamak)
  • Aigo : ya ampun

 

A/N        :

Hai! Len balik lagi sama lanjutan TFAM. Wow, nggak nyangka udah sampe chap 11! :O Dan nggak nyangka juga Len masih ngaret apdetnya XD Maaf, maaf. Dan makasih buat kalian yang masih setia sama fanfiksi ini walau nunggunya ampe lumutan, kkkk. Sekarang udah pada kelar UAS-nya ‘kan? Pas banget Len publish ni fic. Semoga terhibur!

Gimana nih buat chapter 11? Len emang sengaja milih judul ‘koi no yokan’ buat judulnya. Berasa pas aja gitu sama hubungan Chanyeol – Iseul. Perasaan mereka emang masih blur. Yah namanya juga masih PDKT XD

Len juga pilih lagunya Arkarna – So Little Time karena menurut Len itu cocok banget! Coba deh kalian dengerin lagunya, cari liriknya (dan terjemahannya kalo diperlukan), terus resapi. Lagunya tuh bener-bener mewakili perasaan dan keinginan Chanyeol.

The FOO juga muncul meski secuil. Tapi semoga ramenya udah cukup ya?

Yah, bau-bau ending semakin tercium menguat. Semoga kalian nggak bosen buat ngikutin sampe akhir. Nggak lebih dari lima chap udah tamat kok 🙂

Oke, segitu dulu. See ya next chapter!

22 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 11]”

  1. Nah, tu dy scene yg aku nanti2 kan 😃 찬열 liat klakuan 4 sohib’ny yg ngjarahin bingkisan di kmr dy dirawat 😂 hadooh.. tega bgt dah xan, candaan’ny mnusuk ht 💘 tanda cinta lho itu, remember bullying is love, motto/tagline’ny d’foo, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Tau sih knapa 이슬 ga mo balik ke badan skt’ny yg dah ga bs jln, pa lg lari 😢 tp kan kshn klrg, shbt & 민호, so jgn gt ya, cpt sadar ya 이슬, btw, qt sm-an bias’ny 세훈 😘
    Oh, jd fave mmbr’ny 은지 tu Chen ya.
    Itu di previous eps yg 은지 & 민호 jengukin, crita2 ke 이슬 di kmr’ny, 이슬 tau/dengerin ga?
    Mksh Len udah jlasin arti nama 2 main casts qt. Hikmah saya br bc ni ff hr ini dr eps 1 smp dah mo end gini, ga pk acara nunggu2 apdet smp lumutan pa lg smp berkerak 😂 lngsng nex2 aja

  2. CHAN-SEUL OMAYAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!! OTOKEH CHANYEOL CIMIW BINGGO MINTA DICUBIT TERUS DICEMPLUNGIN GOT! BISA BISA NYA JADI ORANG NARSIS BANGET KANG YAAMPUN MANA GANTENG LAGI AAAKKK dan dan dan dan dan KENAPA AKU MIKIRNYA MEREKA PEDEKATENYA UNYUK BANGET ITU CEM KENCAN YAAMVOOON KAN AKU NGILER KAN AKU MIMISAN KAN AKU SENENG SENDIRI/sendiri :’) ketauan jomblonya :’)/
    Eiya, pas ‘kurasa aku akan membersihkan badan ini’ rasanya tu… WOY ANJIR LU YEOL ENAK BENER JADI LAKI MAIN BERSIH BERSIHIN BADAN ORANG, TENDANG AJA SEUL, TENDANG!/plak
    /tolong matikan kepslok saya/ aku gak kuku banget bayangin chan sama iseul joget joget gaje gitu, untung deh mereka kagak keliatan ya :v terus terus terus CHANYEOL YAAMPUN KAMU UNYU UNYU MINTA TENDANG YHA gengsinya saoloh banget, bilangnya kagak takut. Ih udah tiang listrik, suara macho, eee masih aja takut hantu :v tapi tenang mas, aku mengerti kamu kok/lalu dibuang/
    Btw chanyeol ternyata statusya masih jomblo ya, aku sampe lupa (sama kek aku ternyata/mulai deh), dia saking jonesnya ngaku-ngakuin yoora jadi pacarnya HAHA GAK LAKU YA MAS/dibuang lagi/ terus dengan pe-de-nya ngira eunji ngefan sama dia. Aku puas banget ngakak bayangin ‘APA? TIDAK MUNGKIN!’-nya chanyeol. Anjir kalok aku jadi iseul udah tak ketawain di depan telinganya sehari semalam. HAHAHA AKU AJA PILIH SEHUN MAS/tolong jangan dibuang/
    Edan aku muter muter ngomongnya ahaha gak aturan banget SALAHKAN CHAN-SEUL YANG UNYUK! SALAHKAN DESKRIPSI TENTANG SEHUN YANG BIKIN GUA MIMISAN DI TEMPAT! SALAHKAN MEREKA! SALAHKAN LEN! AKU GAK SALAH!/plakplak/ btw aku suka banget istilah (?) koi no yokan-nya :’) nyess gitu rasanya, ashek.

    1. SAOLOH NID, ANE NGAKAK BACA KOMENMU SAMPE NGGAK TAHU HARUS BALES APA DAN GIMANA XD XD XD
      Yakali Chanyeol mau bilang kalo doi takut setan. Nak, cowok itu pengen keliatan seterong di hadapan cewek, apalagi yang doi taksir /eaaaaa/
      Yeeee Chan ama elu juga jonesan elu /baca delusi lu soal Sehun di komentar/ XD /diinjek/
      Kok ane yang salah sih? -_-

  3. lanjut dong kak,,, ehmmm tapi sebelumnya aku perknlkn diri dlu, aku reader lama tapi bru bisa komen skarng krna ad gngguan, lupakan ttg itu.
    cepet2 dilanjut yh… pngin bca tngkh2 gla.a chen,kai,sehun ma chanyeol lagi…
    semangat terus buat authornya 힘네!!!

  4. akhirnyaaa dilanjut juga nih, rindu sangat lah 😀
    tapi bingung mau komentar apa kurang greget kata aku di part ini, mianhae ne? 🙂
    tapi selalu setia nunggu tiap part nya. hwaiting author :* nya

    1. Aku juga ngerasa feel-nya kurang sih. Yah, sibuk banget soalnya. Pikiran pecah kemana-mana. Sorry. Tapi aku usahain biar greget lagi

  5. akhirnyaaaaa…
    ya ampun Len.. kemana saja dirimu ini???
    kenapa fanfic ini baru nongol sekarang??
    tp gpp lah.. yg penting di update
    chanyeol ama iseul kpan ya sadar?
    trus nanti kalo sadar mereka berdua tetep inget apa lupa? kayak drama korea itu lo lennnn
    apa mereka gk bakal sadar?/jangan sampek gk sadar , pokoknya harus sadar
    Kpan sadarnyaaaa

    1. Aku kemana? Ke hatimuuuuuuu #eaaa /ditampar/
      Lagi sibuk akunya, hahahaha
      Kapan sadar? Ikutin aja terus ni fic XD

  6. yaaaah chanyeol sama iseul beda pendapat…
    gimana mau ketemu di dunia asli…
    ceritanya makin seru ka…
    ditunggu updatenya…
    semangat nulisnya ka…

  7. waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………… Chanyeol jatuh cinta ke Iseul yeeyyyyyy… apasih/? haha sorry say aku terlalu bahagia, sumpah kocak banget apalagi yg bagian Chanyeol membeku akibat guyonan temen2nya wkwkwk sumvah jahat banget, kebayang muka syoknya Park Chanyeol waktu itu hahahahaha… duh Iseul kenapa gk mau balik ke tubuhnya? kenapa dia gk mau sadar? apa karena masalah2 sebelumnya yg udah timbul? atau dia sebenernya hanya ingin menghindari orang2 di sekitarnya? atau atau atau… ah sudahlah dari awal Iseul emang penuh misteri, biarlah penulisnya yg menentukan apa yg akan terjadi di episode selanjutnya… fighting chingu… !!!

    1. Cieee yg terlalu bahagia cieee XD
      Kalo Iseul yg belum balik itu karena emang belum waktunya dia balik. Di chap sebelumnya juga Iseul udah bilang ke Chanyeol kalopun mereka coba masuk ke tubuh mereka, mereka tetep nggak bisa bangun karena emang belum waktunya bangun

  8. awwwwwww…. riliss chapter11!!! aku udh ijooo leen.. ijoo tuaa.. aku udh lumutaaan. aaa:v the foo pea amaaat.. paliiiiing suka scene nya the foo. duh aku jadi fans nyaa juga niih.. The FOO!! The FOO!! . ayey!! ohh kangen minho. disini namanya minhoo jga kan? tuh kan len lama update sii.. jadi lupaa. yaa aku kangen kedia. bukan ke len wue/menjulurkan lidah/ . tapi makasiii leen akhirnya apdet jugaaa.. chapter ini rameee seruu.. chanyeol peanya gada abis abisnya. yaa makin kesini makin seruuu.. segitu ajaa lah komennya. udh malem.. babay muach. cepet apdetya. /digetoklen

    1. /cengo baca komen/
      selak ijo mas, selak ijo /woyyyyy!/ ditendang/
      Hikseu, jadi kamu nggak rindu aku? Oke, aku juga nggak /lah?/
      Maklum, makin kesini makin sibuk. Jadi terpaksa fic-fic laen terbengkalai :”)

Tinggalkan Balasan ke miranda Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s