[EXOFFI FREELANCE] If Clause (Chapter 1)

118c859e-0fdf-4642-a8fb-5b046623774f

Title : [PCY’s EX Series] #1 If Clause

Author : deera

Cast : Park Chanyeol (EXO), Kim Jongdae (EXO), Lee Seonmul (OC)

Genre : Comedy, bitter-romance, AU

Rating : General

Length : Multichapter

Disclaimer : Tidak ada fiksi yang original. Bisa saja kisah itu datang dari masa lalumu,

curhatan sahabatmu, kejadian yang kau temui pagi ini di jalan, atau kelak akan membuatmu

bergumam, “Ini aku banget!”

Selamat tenggelam dalam setiap cerita!

.

.

.

‘Bercerita soal…, mantan pacar?’

.

.

.

Ujian akhir sekolah berakhir. Aku memutuskan untuk masuk sekolah menengah atas yang

letaknya cukup jauh dari rumah. Dari yang biasanya pergi sekolah dengan berjalan kaki, atau

sekali-kali bawa sepeda, kini aku harus berangkat sepagi mungkin untuk bisa sampai di sekolah

tidak terlambat.

Tidak banyak teman satu sekolah dulu yang juga mendaftar ke sekolah ini. Baru beberapa saja

yang nampaknya tidak asing. Beda dengan sekolah yang posisinya persis di depan sekolah

lamaku…, that’s why. Bahkan Rim-ah juga bersekolah di sana. Sedikit banyak aku menyesal.

Sedikit banyak juga mungkin aku menganggap bahwa takdirnya memang seperti ini. Mungkin

aku harus bertemu dengan seorang supermodel cantik yang bersekolah di sini—dua tingkat di

atasku

Ya. Dua tingkat di atasku. Dia cantik, tinggi semampai, rambutnya jatuh panjang melewati bahu

berwarna hitam legam, kulitnya seperti sawo pucat, dan aku menyukainya. Dua hari masuk

sekolah ini, dia sudah menyita seluruh perhatianku. Tidak peduli sudah berapa kali aku terkena

hukuman push-up karena ketahuan ngelamun dan tidak fokus saat masa orientasi karena tiba-

tiba saja dia melintas. Dia adalah pemandangan yang tidak boleh sedetik pun dilewatikan. Dia

seperti oase di masa-masa menuju-dewasaku.

Seperti yang sudah kuduga, tidak mudah untuk mendapatkan si supermodel. Aku harus siap

bersaing dengan sesama namja—dan tentu saja para sunbaenim—seantero sekolah. Dan aku

masih terlalu junior untuk sekedar menjadi pacarnya di dalam mimpi.

Sadar betul akan hal itu, aku sempat berpikir untuk berhenti. Baru satu yeoja yang menarik

perhatianku. Masih ada ratusan yang lain di sini yang bisa kulirik…, mungkin. Aku sempat

sekilas memperhatikan Ari-ya, teman sekelasku. Tiap pagi di-drop di depan sekolah dan siang

hari pulang naik bis bersama teman-temannya. Dia pakai kawat gigi yang saat itu sedang tidak

tren. Aneh memang melihat dia dan entah kenapa kecenderunganku memang melihat yeoja

yang berbeda dari yang lain (aku tidak akan akan mengatakan kalau Rim-ah aneh. Dia beda. Ari-

ya juga gitu). Tapi tunggu, kalau aku tetap pada formula yang sama, apa yang aku alami bersama

Rim-ah bisa saja terulang. Kalau Rim-ah dulu dicubit karena dia gemuk, aku tidak akan pernah

mau lihat kawat gigi Ari-ya ditarik paksa menggunakan tang oleh orang-orang itu.

Memang tidak mungkin…, dan hey! Park Chanyeol! Kau tidak setenar dulu! Di sekolah ini, para

namja sunbaenim memiliki paras di atas rata-rata. Lalu siapa kau, Park Chanyeol? Aku merutuki

diri sendiri karena kepercayaandirianku yang terkadang tidak pada tempatnya yang benar.

Kalau begitu, aku akan mencari yeoja yang tetap kelihatan berbeda tapi kemungkinan orang lain

untuk menyeakitinya itu hampir tidak ada. Sialnya, pilihanku kembali jatuh untuk si

supermodel. Selain dia sangat terkenal satu sekolahan—bahkan banyak sekolah lain, aku yakin

pasti semua yeoja minder dengan kecantikannya, so tidak akan ada yang berani macam-macam

sembarangan melabraknya.

Lagipula, di dalam hati kecil, aku masih ingin bertahan. Aku ingin merasakan sensasinya

mengejar gadis yang kusukai. Memperjuangkan perasaanku agar tidak hanya sepihak. Biarpun

banyak rintangan dan pertentangan, aku berusaha untuk tetap jalan. Memantapkan hati dan

keyakinan.

Hal pertama yang ingin kulakukan adalah supaya dia melihatku. Melihat dalam arti dia tahu

kalau ada aku, di sini. Ada aku di sekolah ini. Berarti aku harus eksis. Kalau mengatasnamakan

siswa berprestasi, aku agak sangsi dengan kemampuan otakku yang standar dan biasa-biasa

saja ini. Kalau mengandalkan ketampanan, aku pasti kalah.

Waktu itu, sedang gencar perekrutan siswa baru untuk terlibat di kegiatan ekstrakulikuler.

Berbagai macam kegiatan mulai promo ke kelas-kelas dan membagikan formulir pendaftaran.

Hari itu, giliran kegiatan olahraga taekwondo masuk ke kelasku. Seorang sunbae dengan badan

tinggi dan tapi agak kurus membawa segepok kertas pendaftaran. Rambutnya ikal, agak

gondrong hingga jatuh melewati telinganya. Tapi mendengar beberapa yeoja membicarakan

dirinya, bisa kusimpulkan kalau menurut yeoja, sunbaenim ini cukup tampan.

“Ada yang berminat bergabung? Latihannya setiap hari Sabtu jam enam sampai delapan di

lapangan sekolah,” katanya dengan pembawaan santai.

“Sunbaenim, bolehkan aku bertanya?”

Sekarang semua orang melihatku. Aku harus mulai menunjukkan diri biarpun baru di tingkat

kelas. Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi supaya hyung itu bisa melihatku. Dan orang-orang

juga.

“Silakan.”

“Apa pentingnya kegiatan ini? Apakah hanya mengisi waktu luang? Atau untuk melindungi diri?

Atau bagaimana?”

Dia senyum. “Barusan kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri.”

Seisi kelas hening. Ada beberapa suara menahan tawa. Di saat aku berusaha tampil di depan

orang, yang muncul adalah sisi kebodohanku. Banting stir, “Oh, jadi hanya itu saja, Sunbaenim?

Bagaimana kalau kau membuat suatu promo yang lebih menarik, untuk mengajak kami. Aku

lihat, sunbae datang kemari sendirian. Kalau kegiatan lain—misalnya sepak bola—tadi mereka

datang hampir dua puluh orang.”

Wajahnya berubah keras. Gawat, aku menyidirnya sepertinya. Dia melipat tangan di depan

dada. Sekarang obrolan semi serius tampaknya akan dimulai.

“Kalau kau ingin bilang kegiatan ini sedikit peminat, memang iya. Aku tidak tertarik untuk

merekrut banyak orang tapi tidak serius. Toh, kalau sedkit itu menguntungkan: lebih fokus

latihan, kejuaraan sebagai atlet tunggal, dan kalau menang, aku akan mendapat 90% dari

hadiahnya tanpa terkecuali.”

Tanpa pikir panjang, aku menghampirinya dan mengambil formulir. Tanganku menggantung di

udara untuk menjabat tangannya. “Namaku Park Chanyeol. Mohon bimbinganmu, Sunbaenim.”

Dia menatapku. “Kalau tujuanmu hanya itu, sebaiknya kau tidak bergabung. Sama aja kau tidak

serius.”

“Bukankah itu sama denganmu, Sunbae?”

Dia tertawa. “Kim Jongdae, imnida. Kau akan kubuat menderita telah masuk dalam kegiatanku,

Park Chanyeol.”

***

Latihan pertama taekwondo, aku datang terlambat. Padahal hanya lewat sepuluh menit dari jam

enam, aku dihukum berjalan jongkok keliling lapangan sebanyak dua kali putaran. Di saat yang

lain sedang megap-megap buka mulut untuk latihan pernapasan, kakiku kram gara-gara

hukuman itu. Atau mungkin sebenarnya mereka sedang menahan tawa melihatku berjalan

jongkok seperti bebek.

“Ya! Park Chanyeol!” Jongdae sunbae memanggilku. Dia mengacungkan tangan dan

menggerakannya seolah menyuruhku menghampirinya.

Dengan wajah sumringah, aku langsung bangkit dan setengah berlari ke arahnya. Tiba-tiba dia

berteriak, “Siapa yang menyuruhmu lari? Jalan jongkok!”

Di waktu senggang, aku sering sharing dengan Jongdae sunbae tentang pengalamannya

menjalani taekwondo selama tiga tahun di sini. Banyak sekali kejuaraan yang sudah diikutinya

dan sebagian besar dimenanginya. Awalnya, ia berniat menjadi atlet anggar. Seperti yang kau

tahu, peminat anggar sangat—teramat sangat bahkan—sedikit.

Lihatlah kepada hal-hal yang tidak diperhatikan orang, begitu prinsip Jongdae sunbae. Itu juga

yang membuatnya memilih taekwondo.

Kim Jongdae adalah sosok bijak kedua setelah Appa yang kukenal sampai saat itu.

.

.

.

Aku tiba di gerbang depan tepat jam setengah tujuh. Sebuah sedan hitam meluncur tepat di

hadapanku yang masih terdiam di depan plang sekolah. Sekelebat wajah terlihat dari kaca

depan. Pintu dibuka. Seorang yeoja dengan rambut kuncir kudanya turun dari mobil.

Si supermodel.

Ternyata, lebih tinggi aku sedikit daripada dia. Saat bersisian, aku bisa menghirup aroma yang

lembut sekali di hidungku. Dia berjalan seolah di situ tidak ada aku. Dia benar-benar tidak

melihatku.

.

.

.

Hari itu, beberapa orang masuk ke kelas. Mereka bilang, kalau mereka adalah anak-anak

jurnalistik yang sedang mebuat buletin bulanan yang ditempel di papan besar di beberapa titik

koridor sekolah. Mereka sedang membuat artikel perdana mereka di kepengurusan yang baru.

Ada satu kolom yang dinamai ‘Titip Salam’ yang bisa kita isi dengan menulis pesan yang ingin

kita sampaikan pada seseorang di atas selembar kertas, kemudian dimasukkan dalam kotak

yang diletakan di setiap kelas.

“Kau mengirimkan pesan kepada siapa, Chanyeol-ah?” tanya Myungsoo, teman sekelas yang

duduk di sebelahku.

Aku tersenyum simpul. “Kalau kau untuk siapa, Myungsoo-ya?” Bola panas itu kulempar balik

padanya.

Dengan mata berbinar, dia mantap menjawab, “Anak kelas sebelah. Aku menyukainya sejak

pertama masuk kemari.”

“Huwaaa!” aku sungguhan takjub.

Kami kembali menulis di atas kertas warna-warni sambil senyum-senyum sendiri kala

membaca ulang apa yang tertera di sana. Hanya satu orang yang saat ini bisa membuatku

melakukan banyak hal bodoh.

Bahkan namamu berarti hadiah. The finest present I’ve ever had from universe in life.

Lee Seonmul

Deretan huruf itu sukses bikin Seonmul terdiam begitu lama di depan mading saat artikel itu

muncul. Ternyata tidak semua pesan ditampilkan. Bahkan, pesan Myungsoo untuk yeoja yang

ditaksirnya pun tidak ada. Sedangkan pesanku muncul, tepat di bawah pesan seseorang untuk

Jongdae sunbaenim. Aku tidak sengaja melihat Seonmul di depan papan buletin itu di hari Senin

siang saat jam istirahat. Teman-temannya sibuk menebak siapa yang menulis pesan itu

untuknya. Sedang dirinya hanya diam dan…, tersenyum. The finest present form universe in life.

Senyumnya….

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] If Clause (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s