[Chapter 5: Beginning] Emergency Love

emergency_love_shuu

Shuu’s present

[Chapter 5: ] Emergency Love

Cover by:

L J S @ Indo Fanfictions Arts

Main cast:

Xi Luhan [EXO] | Irene Bae [Red Velvet]

Support cast:

Im Yoona [Girls’ Generation] | Lay [EXO] | Kim Jonghyun [Shinee] | Park Chorong [A Pink]

Genre:

failed Comedy | Romance | Drama | Family

Rating:

PG-13

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory | Heartbeat | Beginning

Desclaimer:

Please, DON’T BASH or PLAGIAT. RCL juseyo! Warning! Typo kayaknya ada, tapi di usahain gak ada! Oh, ya kunjungi blog pribadi aku di http://www.allaboutfangirl.wordpress.com


Udara malam sangat dingin membuat semua orang yang berada di luar rumah harus merapatkan mantel mereka masing-masing. Sebagai isolator yang menghambat suhu mereka keluar dengan cepat. Irene dan Luhan masih duduk di bangku panjang di atap rumah sakit. Udara malam tak menghambat mereka untuk tetap berada disini.

Terlihat Luhan yang sedang mengucapkan sesuatu, kemudian Irene terlihat mamatung dengan perkataan Luhan. Pipinya memerah, tak tahu karena udara yang dingin ataukah menahan malunya yang sudah mencapai ubun-ubun.

Luhan menatap wajah Irene yang masih kaget itu kemudian mengecup singkat pipi Irene. lalu menunjukkan senyum terbaiknya kepada Irene. Rasanya, Irene saat ini tengah terbang ke angkasa dan sedang tidur-tiduran di atas awan yang empuk seperti kapuk. Kemudian Luhan meletakkan kepalanya di bahu Irene, lalu ia terlihat memejamkan matanya.

“Jangan bergerak. Tetaplah seperti ini sebentar saja.”

Irene tetap mematung ditempatnya tak tahu harus bicara apalagi. Ini membuatnya ingin lari sekarang juga karena sungguh rasanya malu sekali.

“Eum-kk-kau, bagaimana kau bisa tahu… maksudku… eum-“

“Soal itu… bagaimana ya menjeaskannya. Sebenarnya aku sudah tahu semenjak kita masih sekolah menengah pertama dulu. Dan apa kau tahu saat itu aku hanya menganggap perasaanmu sebagai perasaan anak kecil. Kau selalu memerhatikanku dari kejahuan, awalnya merasa tidak enak. Tetapi wajah polosmu waktu itu membuatku tertawa dalam hati.” kata Luhan masih menyenderkan kepalanya di bahu Irene, ia sesekali tersenyum mengingat masa-masa itu.

“Lalu sejak kapan kau menyukaiku?” tanya Irene polos.

“Sejak kapan?” kali ini Luhan mengangkat kepalanya dan memandang Irene lekat. Irene mengangguk samar. “Sejak kapan? Semenjak kau datang kembali dihadapanku sambil menenteng high heels-mu. Dan melotot kepadaku.” Kata Luhan sambil terkekeh.

Saat itu juga seluruh wajah Irene berubah menjadi semerah tomat. Dia sampai-sampai menutup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.

Wae? Wae? Wae?” tanya Luhan sambil mengarahkan wajahnya ke depan wajah Irene. terlihat lucu sekali ketika Luhan menggoda Irene seperti ini.

“Sudahlah… lupakan.” Kata Irene sambil meletakkan telapak tangannya diwajah Luhan. Untuk menutupi wajah Luhan yang lucu, membuat pipinya semakin memerah.

“Kenapa dilupakan? Itu sangat memorable.” Kata Luhan. “Aku suka kau yang sekarang.” Tambahnya sambil meletakkan lengannya pada pundak Irene. “Kau malu? Kau malu? Malu? Malu?” kata Luhan bertubi membuat Irene harus menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Luhan.

Hari semakin malam, Luhan memaksa Irene untuk mengantarkannya sampai ke rumahnya. Dengan alasan tidak ingin Irene kenapa-kenapa jika menyetir mobil sendirian dengan keadaan fisik yang belum stabil. Mereka saat ini sedag berjalan di lorong setelah menuruni tangga.

Hyung!” sapa Lay dari kejauhan. Kemudian, ia terlihat berlari kecil menghampiri Luhan dan Irene yang sedang berjalan berdampingan.

Mwo?” tanya Luhan datar.
Aissshhhh… punggungmu tidak apa, kan? Kau membuat kami khawatir.

Setelah melakukan pembedahan untuk mengambil peluru dipunggungmu kau langsung bergegas ke kamar Irene.” kata Lay sambil menggerutu.

Saat itu juga mata Irene membulat, “Mwo? Kau tertembak? Bagaimana kau tidak apa? Mana yang terluka? Sudah diberi obat? Sudah dibalut perban dengan benar? Bagaimana kau tidak mengatakannya padaku? Kau ini seharusnya! Aishhh… jinjja!” kata Irene dengan wajah sebalnya. Sungguh saat ini ia merasa khawatir tujuh turunan

Lay terlihat terkekeh melihat Irene yang sangat khawatir. “Tampaknya ada new couple di rumah sakit ini. Tahu tidak? Kau menjadi perbincangan hangat semua suster-suster yang ada di sini.” Kata Lay sambil berlalu meninggalkan Luhan dan Irene yang masih berdebat tentang luka Luhan yang harus di ini itu.

Yakkkk!!! Pergi yang jauh.” Kata Irene kepada Lay.

Arraseo!” kata Lay sambil berbalik badan.

Tinggalah mereka berdua disini. Irene masih saja mengomeli Luhan. “Sudahlah, aku tidak apa. Sebaiknya kita pulang.” Kata Luhan sambil memegang tangan Irene yang masih dipundak Luhan.

Saat tiba dirumah dan mengganti sepatunya dengan sandal rumahan, Irene tetap saja masih mengembangkan senyumnya pipinya juga masih merah. Apa ini akibat flunya yang parah sampai ia pingsan tadi?

“Irene!” teriak Yoona dari dalam rumah. “Kau kenapa terlambat pulang? Siapa tadi yang mengantarmu pulang?” Yoona tahu kalau itu bukan mobil Irene yang ia dengar tadi. Karena bagaimanapun juga ia sangat hapal dengan deru suara mobil Irene dan ia hapal jika Irene selalu langsung memarkirkan mobilnya ke garasi.

Irene tidak mengindahkan Yoona yang tengah mengomel akibat ia pulang malam. Ia tetap saja berjalan sambil menunjukkan senyumnya sambil menatap kosong semua yang ada. Seperti orang gila? Tentu saja!

“Irene!” bentak Yoona yang sedang duduk di sofa setelah melihat sepupunya ini hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

Aigooo……” gerutu Yoona.

Lalu Irene meletakkan sling bagnya sembarangan, tepatnya di samping meja yang terletak di samping sofa yang Yoona duduki.

“Irene! kau kenapa? Kenapa wajahmu?” kata Yoona yang mulai khawatir dengan tingkah konyol Irene.

“Ahhh… naega? Wae?” tanya Irene sambil menunjuk dirinya sendiri. 1…. 2…. 3….. “HUAAAAAAAAA!!!!!!!” Irene langsung berteriak sekencang kencangnya.

Pasti anjing tetangga merasa terganggu dengan bunyi ultrasonik yang Irene keluarkan. Saat Irene teriak terdengarlah di atap rumah ada bunyi benda jatuh. Yoona yakin itu adalah bunyi kucing jatuh karena kaget mendengar suara gaib Irene. Yoona-pun menutup kedua telinganya kerena mendengar suara melengking Irene.

Wae? Wae? Wae? Apa jangan-jangan kau bertemu Ketua?” kata Yoona sekali lagi.

“Apa Ketua? Siapa?” tanya Irene kebingungan.

“Oh…. berarti kau belum bertemu degannya.” Kata Yoona. “Sudah lupakan.” Kata Yoona sambil mengibaskan tangannya. Terlihat Irene masih kebingungan. “Ceritalah, apa yang terjadi?” tanya Yoona sambil menyilangkan kakinya ke atas sofa seolah siap mendengar dongeng Irene sampai pagi.

“Apa kau tahu?” kata Irene sambil melotot kegirangan. Kali ini ia mengambil posisi duduk di karpet dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Siapa yang mengantarku pulang?” kata Irene, wajahnya sudah meledak-ledak dan bersemu merah. Yoona kali ini menggeleng. “XI LUHAN! AYAYAYYAYAYAYAYAY” kata Irene kegiragan sambil menggerakan tangannya ke udara.

“Benarkah? HUAAAAAA!!!!!” teriak Yoona yang setengah tidak percaya kepada sepupunya ini. “Cukhae Bae!” kata Yoona sambil high five dengan Irene berkali-kali.

Dari kamar atas terdengarlah teriakan, “Ya! Anak-anak jangan menganggu ibu yang sedang memakai masker. Bisa membuat eomma keriput nantinya!” tegur eomma Irene.

Yoona lalu meletakkan telunjuknya dibibirnya dan mendesis, memberi kode kepada Irene supaya mempelankan suara mereka yang seperti tak tahu adab.

“Bagaimana, bagaimana ceritanya? Katakan padaku aku mau mendengarnya.” Kata Yoona sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Irene.

“Ceritanya sangat panjaaaaaanggggg….” kata Irene, matanya menyiratkan bahwa ia benar-benar bahagia.

“Coba ceritakan detailnya seperti apa.” Kata Yoona, matanya Yoona juga terlihat berbinar. Melihat adik sepupunya seperti ini rasanya ia juga ikut bahagia.

Dari sinipun cerita mengenai Luhan dan Irene pun dimulai. Irene menceritakan semua yang ia alami hari ini. Tak ada satu detailpun yang terlewatkan. Menurutnya Yoona itu adalah kakak sepupu yang sangat sempurna dimatanya tak hanya cantik dan cerdas, Yoona mampu menemani Irene disaat seperti apapun. Irene dan Yoona dapat bertukar cerita setiap harinya. Bahkan seringkali mereka bercerita sampai pagi hari. Walaupun tak jarang mereka berseteru satu sama lain gara-gara hal sepele seperti kotak susu kosong yang Irene selipkan diantara ranjang dan kasur yang membuat kamar mereka jadi bau busuk. Atau baju Yoona yang berserakan membuat Irene jengkel. Dan banyak hal lainya yang terkadang membuat hubungan mereka menjadi tegang.

Aigooooo….., aku cemburu sekali padamu.” Kata Yoona. Membayangkannya saja membuat Yoona tersenyum sendiri. Ia tak membayangkan jika Luhan rela tertembak demi Irene. “Lalu lukanya bagaimana?” tanya Yoona.

“Setelah menggendongku ke ruang rawat, dia langsung pergi bersama Lay ke ruang operasi untuk mengambil peluru yang masih bersarang di punggungnya. Setelah selesai, dia kembali lagi ke kamarku. Saat itu aku masih pingsan. Untuk kali pertama dalam hidupku aku pingsan! Dan ternyata lama sekali aku pingsan lebih dari 5 jam.” Kata Irene sambil terkikik geli.

“Mwo? Kau membiarkan orang terluka sendirian begitu? Jinjja!” kata Yoona.

“Aku kan tak tahu.” Kata Irene membela dirinya sendiri. “Lalu bagaimana dengan pacarmu?” tanya Irene kepada Yoona.

Aisshhhh…jangan bahas dia. Membuatku mengingatnya, membuat dadaku sesak.” Kata Yoona sambil menggenggam dadanya.

“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Irene.

“Dia sudah daftar wajib militer. Dan beberapa minggu ke depan ia sudah akan masuk camp militer. Aku sedih, terkadang aku tak yakin akan bisa menunggunya 2 tahun kedepan. Tapi aku harus berusaha.” Kata Yoona sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Kau harus mengenalkan namjachingu-mu kepada kami Yoong.” Kata Irene.

“Ah…. kau saja yang terlalu sibuk dengan hidupmu. Eomma pernah bertemu dengannya sebelumnya.” Kata Yoona kemudian.

“Benarkah? Lalu apa katanya kemudian?” tanya Irene penasaran.

“Eomma? Setelah bertemu dengannya satu pertanyaan khas eomma langsung keluar darinya.” Kata Yoona lalu menaikkan kedua alisnya.

“KAYA ATAU TIDAK” kata mereka serempak yang membuat mereka tertawa bersama.

Ya perbincangan ini terus berlanjut. Seperti yang dikatakan tadi, perbincangan ini terus berlanjut sampai pagi hari. Teus membicarakan hal yang menurut mereka menarik. Dari harga sepatu yang naik hingga variant lip balm terbaru tak terlewatkan. Lalu perbincangan berbelok arah ke restoran cepat saji dipinggir jalan yang ternyata pemiliknya adalah teman namja chingu Yoona.

Matahari bersinar sangat cerah, membuat suasana hati Irene membaik dari waktu ke waktu. Sekarang ia sedang duduk di tangga yang menghubungkan pintu rumah Irene dengan taman. Ia sedang menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan Luhan. Luhan bilang ia akan menjemputnya hari ini. Alasannya masih seperti kemarin, khawatir dengan keselamatan Irene.

Ia sekarang sedang asyik memainkan ponselnya, sambil berharap ada pesan masuk dari Luhan. Senyum manis tak henti-hentinya ia lukiskan di wajahnya. Semilir angin sesekali membuat rambut blonde Irene tertiup angin.

Tin…. Tin….

Terdengarlah suara klakson mobil dari arah gerbang. Irene langsung terlonjak kaget. Setelah melihat mobil Luhan berhenti di depan rumahnya, ia dengan sekali hentakan langsung berdiri dan cepat-cepat menuruni tangga.

Senyumnya masih tak bisa lepas dari wajahnya. Beberapa detik kemudian Irene sudah berdiri di depan mobil Luhan. Ia terlihat melambaikan tangannya ke arah kaca tempat Luhan mengemudi. Luhan lalu menurunkan kaca lalu tersenyum kepada Irene.

“Annyeong!” kata Irene sambil tersenyum manis. “Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?” kata Irene sambil sedikit membungkukkan badannya, berusaha mensejajarkan dengan mobil Luhan.

“Jangan tanyakan itu. bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau aku tidur harus miring terus?” kata Luhan sambil menunjukkan wajah yang dibuat-buat sebal.

Aishhhhh….” kata Irene sebal lalu sepersekian detik kemudian tertawa.

Kajja!” kata Luhan.

Aye-aye captain!” kata Irene sambil memberi hormat kepada Luhan.

Aigooo, neomu giyowo!” kata Luhan sambil mengacak rambut Irene yang terikat kebelakang.

Saat ini mereka berdua tengah duduk bersama yang lain di ruang kerja mereka. Candaan dan gaurauan mereka terus saja menghiasi. Saat ini Luhan dan Irene yang menjadi bulan-bulanan. Jika hari-hari sebelumnya yang menjadi topik pem-bully-an adalah Lay karena tingkah bodohnya atau Chorong karena bicaranya blak-blakan, sekarang gilirian Irene dan Luhan yang terkena imbasnya.

“Wahhh… wah…. wah…. kita mendapatkan pasangan baru di ruang UGD.” Kata Jonghyun yang memulai.

“Benar… benar, kurasa ini kisah lama baru bersemi saat dewasa.” Kata Chorong menambahkan. Bagaimanapun juga Chorong, Lay dan Jonghyun tahu bahwa Luhan dan Irene satu sekolah saat sekolah menengah pertama dulu.

Aigoooo… apa yang kalain bicarakan?” kata Luhan sambil mendecak kesal. Sedangkan Irene hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada. Sesekali ia memutar kursinya ke kanan dan ke kiri.

“Bagaimanapun juga kalian harus mentraktir kita. Setuju?!?” kata Lay yang menginterupsi. Kemudian terdengarlah sorak-sorai dari yang lain menandai bahwa perjanjian sepihak itu di setujui.

“Jangan di dengarkan omongan busuk mereka.” kata Luhan sambil melemparkan sebotol yoghurt dari dalam laci kepada Irene. dengan sigap Irene menangkapnya.

Geurom. Aku tak akan mendengarkan mereka.” kata Irene sambil menutup kedua telinganya.

Aigooo…. kalian tidak boleh pelit begitu. Bagaimanapun pasangat yang telah resmi harus di rayakan.” Kata Chorong. “Bagaimana kalo ayam dengan bir?” tanya Chorong kepada yang lainnya.

“Tentu saja!!! itu ide bagus.” Kata Jonghyun yang di beri anggukan mantap oleh Lay.

“Ya! Ya! Ya! Irene tak bisa meminum minuman seperti itu.” kata Luhan.

Mwo?!? Noona? Kau tak bisa minum bir?” tanya Lay.

“Aku belum pernah meminumnya. Karena ayahku tak mengizinkannya. Jadi selama ini aku hanya minum air jahe.” Kata Irene sambil nyengir kuda.

Yang lain hanya mendecak heran dengan pengakuan Irene yang menurut mereka aneh.

“Sudah sudah. Untuk perayaan besok besok saja. sekarang jadwal kita bagaimana?” tanya Luhan.

“Seperti biasa. Kau dan Irene akan memeriksa bangsal anak. Aku tetap di UGD dan sisanya di tim pengembangan obat baru.” Kata Jonghyun sambil menyesap kopi panasnya.

Mereka semua hanya mengangguk mengerti dengan semua ucapan Jonghyun.

Luhan dan Irene berada di salah satu ruang pemeriksaan di UGD. Karena Irene bersikukuh untuk merawat luka jahit di punggung Luhan yang belum sembuh. Dengan sangat hati-hati dan telaten Irene membersihkan luka yang ada di unggung Luhan sebelum kemudian di balut perban baru lagi.

Mian,” kata Irene setelah selesai membalut luka Luhan dnegan kain kasa steril.

“Untuk apa?” kata Luhan sambil menarik Irene supaya berada di hadapannya.

“Membuatmu terluka seperti ini. Seherusnya kau jangan melakukan itu.” kata Irene.

Aigoo, jangan bicara seperti itu. kau membuatku semakin bersalah. Sudahlah tak usah cemaskan aku. Dimana senyummu?” kata Luhan sambil mencubit pipi Irene dengan lembut.

Mian,” kata Irene lagi.

Aishhhh…” ucap Luhan. “Jangan merasa bersalah seperti itu.” jawabnya kemudian.

Seperti yang lalu, Irene dan Luhan selalu senang jika mengunjungi gadis kecil ini. Kalian masih ingat Song Nara? Pasien dari bangsal anak di kamar 309? Dia dari hari ke hari menunjukkan keadaan yang mulai stabil. Saat ini Nara juga tambah semangat untuk melahap supnya. Tapi berbeda dengan hari ini. Nara terlihat tak bersemangat.

“Song Nara!” sapa Irene dari ambang pintu. Nara yang tengah melahap nasinya langsung melambaikan tangan ke arah Luhan dan Irene sambil mununjukkan senyum terbaiknya.

Oppa! Eonni!” sapa Nara. Ia menunjukkan eye smile yang begitu manis.

“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Irene sambil duduk di bibir ranjang. Ia melihat Nara yang sama sekali belum menyentuh supnya. Kemudian terdnegarlah isakan-isakan kecil dari mulut mungil Nara.

“Oh… wae?” tanya Luhan yang mulai panik. Dan Irene saking paniknya hanya bisa mematung sambil berusaha menenangkan Nara dengan menepuk-nepuk punggung Nara.

“Uljima Nara-ya. Wae geuraeyo/ jangan membuatku khawatir seperti ini.” Kata Irene yang mulai panik.

“Justru kalian berdua yang membuat Nara panik!” kata Nara dengan suara serak tapi berusaha berteriak.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Luhan yang tak mengerti.

“Aku dengar dari suster, kalian di sandera paman gangster itu ya? Katanya Oppa tertembak. Aku khawatir sampai gila! Aku ingin menemui kalian, tapi suster tidak mengijinkanku. Kalian sungguh membuatku khawatir! Nappeun saramieyo!” kata Nara sesenggukan.

“Ah… mianhae. Nara-ya!” kata Irene lalu langsung menghambur memeluk Nara. Luhan tersneyum melihat Nara yang tak di snagkanya perhatian kepada mereka.

“Hiks…. hiks…… jangan begitu lagi, eoh? Kalian membuatku gila.” Kata Nara sambil mencengkeram jas Irene kuat.

Ne. Nara, uri yakso!” kata Luhan sambil membelai puncak kepala Nara yang memakai kupluk.

“Hmmm… bagaimana kalau sebagai permintaan maaf kita. Nara akan mewujudkan impian Nara sebagai penyanyi. Nanti Luhan Oppa akan mengirimu dengan piano. Tapi, Nara harus mengajak teman-teman Nara untuk pergi ke gereja di ujung lorong, eottae?” tawar Irene.

Mwo? Naega? Wae?” kata Luhan. Lalu Irene menyikut Luhan untuk menuruti kata-katanya.

Jinjja? Ok! Ok!” kata Nara yang telah kegirangan bukan main.

“Baiklah Eonni dan Luhan Oppa akan bersiap-siap. Begitu juga Nara, eottae?” tanya Irene.

“Ok!” kata Nara girang.

Sedangkan di tempat lain Irene sedang sibuk membersihkan grand piano putih yang terletak di samping altar. Saat memasuki gereja ini sangatlah lengang. Grand piano ini semula hanya ditutup oleh kain putih berdebu. Tak ada yang merawat, karena jarang yang bisa memainka piano.

\
Luhan terlihat sedang duduk di bangku panjang sambil mengamati Irene yang sedang membersihkan grand piano tersebut. “Ya! Apa kau yakin dengan ini? Sudah lama sekali aku tak bermain piano.” Kata Luhan yang terlihat gelisah.

“Tenang saja, aku akan melihatmu paling depan dan memberimu semangat!” kata Irene sambil mengepalkan tangannya di udara.
“Hahh… dasar kau!” gerutu Luhan kesal.

Tak lama kemudian setelah percakapan singkat mereka berkahir. Terdengar pintu terbuka dan kemudian menderit. Setelah itu munculah Nara dan kaumnya yang segera menghambur ke kursi panjang yang terletak di depan altar. Terdengar begitu riuh rendah. Sekitar 15 anak yang datang. Mereka terlihat begitu natusias dengan acara kecil-kecilan ini.

“Anak-anak jangan berebut dan jangan gaduh ya. Ini gereja” kata Luhan lembut.

Ne.” Jawab mereka kompak. Tak lama setelah itu mereka telah duduk rapi di kursi panjang seolah tak sabar melihat kawan mereka bernyanyi.

Kemudian Nara terlihat menghampiri Irene yang tengah berdiri di samping grand piano besar. “Nara sudah siap?” tanya Irene.

Nara menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk mantap kepada Irene. “Baiklah, sunbae! Nara siap!” kata Irene ke Luhan yang masih duduk di kursi panjang. Dengan langkah yang dipaksakan, Luhan berjalan gontai menuju piano tersebut. Kemudian ia duduk di atas kursi lalu menghembuskan nafasnya kasar. Luhan juga tak kalah gugupnya dnegan Nara! Kemudian Irene mengacak rambut Luhan pelan sebelum kahirnya mengambil posisi duduk di paling depan.

Terlihat Nara yang ceria sedang berdiri disamping grand piano. Kemudian Nara mendekat ke Luhan dan membisikkan sesuatu. Luhan-pun mengangguk dan beberapa detik kemudian jari-jari Luhan bermain di atas tuts piano dengan lincah tetapi mengeluarkan dentingan yang sangat lembut.

Lalu Nara-pun bernyanyi, Irene mengetahui lagu ini. Soundtrack dari Bethoven Virus yang dinyanyikan penyanyi yang sangat berbakat yaitu Insooni yang berjudul Goose’s Dream.

Aku, aku mempunyai mimpi

Meskipun terbuang dan terkoyak bahkan tersobek
Mimpi itu tersimpan bersama harta terpendam dalam hatiku

Mungkin suatu saat seseorang
Tanpa sepengetahuanku berkeinginan mengejek
di belakangku ketika aku menangis
Aku harus bertahan dan bersabar demi hari itu

Mereka selalu berkata “Jangan khawatir”
‘mimpi yang kosong disebut dengan mimpi beracun’
Seperti buku yang bercerita tentang akhir dunia yang sudah tak bisa diraih lagi Inilah yang disebut kenyataan

Benar, aku aku memiliki mimpi
Aku percaya pada mimpi itu, jagalah aku
Aku berdiri di depan dinding berhati dingin yang disebut takdir
Aku dapat menghadapinya dengan tegar

Karena suatu hari nanti aku akan melewati dinding itu
Aku dapat terbang setinggi langit
Meskipun dunia ini keras ia tidak dapat mengikatku
Karena di akhir hidupku, pada hari itu aku tersenyum akan bersama-sama

Mereka selalu berkata “Jangan khawatir”
‘mimpi yang kosong disebut dengan mimpi beracun’
Seperti buku yang bercerita tentang akhir dunia yang sudah tak bisa diraih lagi
Inilah yang disebut kenyataan

Benar, aku aku memiliki mimpi
Aku percaya pada mimpi itu, jagalah aku
Aku berdiri di depan dinding berhati dingin yang disebut takdir
Aku dapat menghadapinya dengan tegar
Karena suatu hari nanti aku akan melewati dinding itu
Aku dapat terbang setinggi langit

Meskipun dunia ini keras ia tidak dapat mengikatku
Karena di akhir hidupku, pada hari itu aku akan tersenyum bersama-sama
(Terjemahan lagu Insooni – Goose’s Dream)

-TBC-

Halo akhirnya Chap ini jadi juga walaupun banyak typo karena nggak sempet edit ulang. ditunggu ya komentarnya! tetep ditunggu dari kalian! beri kritik atau saran dong. aku rasa FF ini mulai boring…. sekali lagi ditunggu kritik dan saran kalian. muach!

33 tanggapan untuk “[Chapter 5: Beginning] Emergency Love”

  1. Pengen punya temen cerita kaya Yoona, seru deh kayanya hahaha
    Penasaran, ketua itu siapa??
    Irene Luhan as always, lucuuu dan mereka disini pasangan yang so sweet iya, ngegemesin iya :3

    1. Culik aja si Yoona. ati-ati Yoona udah punya pacar natr kamu dicubit sama pacarnya kekeke! makasih udah baca dan koemntar! ditunggu part selanjutnya ya!

  2. ceritanya nih aku telat baca lanjutan FF ini huaaaa~~ untung iseng iseng nyari ff Red Velvet LOL Semangat lanjutnya yappp,, !! Fighting!!

    1. Eeehhhh… iya aku kupa. Maaf banget nggak ngabarin next chapnya soalnya aku sibuk banget banget….. Ini aja lagi UAS dan 11 hari UASnya dehhhh…. Sorry ya heheehe. Ok ok mungkin akan terlambat postnya. Chap selanjutnya sih belum jadi tapi chap 7 malah udah rampung hebehehe… makasih udah baca dan komentar!

  3. Hei kamuu,bikin ngefly, bikin senyum senyum sendiri
    Trus jd pengen nangis gara gara sosweet
    Nangis gara gara gaada yang gituin :”
    Ditunggu chap selanjutnya ya be
    Tetep semangatt
    Iwel iwel tetap bersamaaaa :*

    1. Masa sih… oh iya aku lupa kamu kan miss baper miss galau miss gajah ya…. Pengen nangis? Iya kan kamu jomblo bangkotan…. Ok ok bundo! Tunggu publish ya! Mungkin telat gara2 UAS kamu kan tahu UAS kita 11 hari :”

      Ok kamu juga semangat buat move on ya!!!! Aku tetep sayang iwel-iwel selalue koq 😑

  4. Ketua yang dibilang yoona itu siapa sih?
    Thor buat luhannya cemburu dong thor><
    Next chapter panjangin lagi ya^^
    Ditunggu kelanjutannya^^

    1. Nahhh… akhirnya nyebut bukan thor nih kasih reward nih /kasih tteokbeokki/ ketua ketua? ntar deh di chap akhir-akhir padahal ini udah chap akhir akhir sih nggak papa deh itu kejutan buat readers. Buat Luhan cemburu? nggak bisa deh kayaknya soalnya si Irene kan nggak pernah deket-deket sama cowok hehehehe.. next chap dipanjangin okelah, oh iya mungkin ada keterlambatan karena aku UAS 13 hari hueeeeeee T.T makasih ya udah baca dan komentar!

    1. iya ihh… mereka juru kunci rumah soalnya. sekalian jurit malem hehehehe….. Iya ya sampe gosip temen yang katanya pacaran sama ini terus putus. Sampe gosipin mbak-mbak kantin yang makanannya berminyak gara-gara dagangan kemarin di jual lagi XD hehehehe makasih ya udah baca dan komentar!

    1. Belom ih… mereka belom resmi. Belom selsai ini itu kelupaan biasanya buat FF oneshoot ini Chaptered dan waktu nulis ngantuk jadi nggak TBC jadi END hehehe…. makasih udah baca dan komentar ^^

    1. Belom ih… belom resmi mereka. Jangan kasih selamat dulu simpen dulu ya. Tetep pantengin kisah Irene dan Luhan selanjutnya!

  5. Udah nungguin nih cerita selanjutnya. Tapi banyak banget typonya jadi suka bingung sendiri bacanya.
    Tambahin alur yang bikin greget donk kaya yang chapter2 sebelumnya. Oh iya bukannya ada yang mau dijodohin sama irene kalau dianya belum ada pacar, kan mereka belum pacaran, jadi siapa tau bisa ditambahin buat bahan ceritanya

    1. Iya maaf ya…. ini udah dibenerin.
      Ahhh… itu itu udah disiapin kok jadi jangan khawatir deh itu dibagian akhir-akhir. Kalo kamu merhatiin ada kode kode kok kemunculan yang dijodohkan sama Irene itu. Makasih idah baca dan komentar ^^

  6. Aduuuhhh ga bisa berbentuk senyum bacanya
    Aih luhaen, nyatakan dong perasaannya, diresmikan (?) gitu
    Dan layrene berantemnya bikin gemes juga
    YOONRENE JUGA ADUHHH MBAK-MBAK KECE
    Pacer Yoona siapa sih?
    Dan sedikit bingung, itu si Nara kan lahap makan tapi nggak makan supnya atau emang nggak makan?
    Semoga next chapternya makin keren deh authornim
    Semangaaaatttt

    1. Iya ih aku jadi gemes sama Yoona Irene aku jadi nggak ngship Lurene lagi deh gara gara Yoona. Ntar di chap selanjutnya bakalan ketauan pacar Yoona. Makasih udah baca dan komentar!

      Makasih reader-nim. Semangat juga buat nungguin update selanjutnya!

  7. Kok jadi pingin nangis ya baca yg bagian akhir2.. bayangin ada anak kecil sakit nyanyi itu beneran jadi sedih sendiri.. tapi baca bagian awalnya jadi senyum2 sendiri.. luhan ma irene udah mulai dekat.. ahh.. ceritanya seruu!! Ditunggu banget next chapnya shuu.. kekeke ^^

    1. Ahhhh… jan nangis dong :” sini sini kupeluk sini sini ada tissu. Ah… masak sih senyum senyum sendiri? Ati ati dikira gila kuberi saran jangan baca di tempat umum bisa dikira gila beneran. Makasih udah baca dan komentar^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s